Sabtu, 16 Mei 2015

SUARA IBU



Tidak pernah ku dengar suaranya separau malam itu,
Ketika tentang cerita anak Ibu susah di tanah orang
Ikhlas lisannya berucap pada ruang sepi nasib dan pengharapan
Maksud Ibu, agar terhapus duka dari anak perantaunya.
Demikian disela bisu angin dan tanda doa
Aku merasakan tangan Ibu meraba pada pundakku
Seperti ada pesan tidak boleh meyerah yang tersirat

Ibu, dengan segala rindu tertanggal tak berbidang
Jarak karena kelanaku dari yang biasa dekat dengan wajahnya
Menjawab tanda tanya yang berimbang bimbang.
Bila hendak beliau bayar untuk detak langkah penghidupanku
Sungguh jauh sebanding dengan kekar otot tua Ibu dan aku harus berterimakasih.

Maaf dari anak berdosa di dalam doa tidak tertata
Dengan bahasa ngiang bertanyakan apa kabar hujan di sana?
sekedar suara yang menyulap anak perindu
berlalu dalam angan tentang digdaya Ibunya
Tempat reramuan nyawa dan pengharapan bersemedi.
;Tunggu aku Ibu.

Jogjakarta 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.