Tidak
pernah ku dengar suaranya separau malam itu,
Ketika
tentang cerita anak Ibu susah di tanah orang
Ikhlas
lisannya berucap pada ruang sepi nasib dan pengharapan
Maksud
Ibu, agar terhapus duka dari anak perantaunya.
Demikian
disela bisu angin dan tanda doa
Aku
merasakan tangan Ibu meraba pada pundakku
Seperti
ada pesan tidak boleh meyerah yang tersirat
Ibu,
dengan segala rindu tertanggal tak berbidang
Jarak
karena kelanaku dari yang biasa dekat dengan wajahnya
Menjawab
tanda tanya yang berimbang bimbang.
Bila
hendak beliau bayar untuk detak langkah penghidupanku
Sungguh
jauh sebanding dengan kekar otot tua Ibu dan aku harus berterimakasih.
Maaf
dari anak berdosa di dalam doa tidak tertata
Dengan
bahasa ngiang bertanyakan apa kabar hujan di sana?
sekedar
suara yang menyulap anak perindu
berlalu
dalam angan tentang digdaya Ibunya
Tempat
reramuan nyawa dan pengharapan bersemedi.
;Tunggu
aku Ibu.
Jogjakarta
15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.