Senin, 01 Juni 2015

PENANDHE’1


            Puluhan sapi berjajar siap dilotreng2. Dibawah kepala matahari dan kerontangnya tanah Madura, Juhari berkumpul dengan banyak orang. Menyaksikan pagelaran lotrengannya sapi. Mata terpana melihat kemolekan tubuh-tubuh sapi betina. Berkalung kuningan, bunga-bunga, dan pernak-pernik berpendar menghias cantik sapi lotreng. Lulur kunyit menambah elok dipandang bulunya yang merah tua. Tubuhnya yang sintal, mengkilap dan wangi. Sapi lotreng  betina sudah melebihi cantiknya wanita Madura.
            “Lihat Ju, sapi Gani lebih cantik dari istriku.” Rahmat membisikkan ditelinga Juhari sambil cengar-cengir lirih karena takut didengar isterinya yang berada di samping Rahmat.
            Penononton tak jenuh walau berjam-jam mematung di pinggir arena. Alunan saronen3 terus mengaung-ngaung dari corongan4 yang dikat di atas pohon kelapa. Sapi gani diarak. Riuh sorak penonton iringi gerak penjung5 penandhe’ yang dimainkan sesuai talu gendang saronen. Juhari menyuntikkan senyum pada gemulai pinggul Susmiati. Susmiati tidak hanya menjadi penandhe’ pada saat ada acara kerapan sapi atau lotrengan saja. Dia juga bergabung dengan salah satu grup najheghe6.
            Saronen terus bertalu. Penonton dibuat terperangah oleh sapi Gani. Kedip matanya yang indah, jalannya yang gemulai, dan manik-maniknya berkilauan menggoda hati. Penggiring dan pemilik sapi bergoyang-goyang sambil menyelipkan uang di lekukan payudara Susmiati. Ada pula yang mengalungkan uangnya di leher penandhe’ cantik itu. Sudah menjadi pemandangan yang tidak enak dipandang bagi Juhari. Runcing mata Juhari menatap nancap di wajah Susmiati yang sibuk menyingkirkan laki-laki di hadapannya.  Senja memungkas siang, tapi petunjukan belum juga selesai. Tinggal sebentar lagi.
            Penontong berhamburan menjuju jalan pulang ke arah rumah masing-masing. Juhari berusaha mencari Susmiati yang hilang ditelan ribuan tubuh penonton. Ia yakin kekasihnya tidak akan meninggalkan dia seorang diri dengan kerinduan, di tengah lapangan. Keyakinan itu selalu berbisik, bahwa Susmiati pun ingin bersua dengannya. Walau sekedar saling bertukar pandang. Akhirnya mata Juhari tertuju pada satu sosok perempuan di bawah pohon siwalan dengan rambut disanggul, layaknya para penandhe’. Perlahan ia mengangkat jemarinya dan mulai bergerak pelan-pelan. Rindu Juhari meleleh setelah menyaksikan senyum yang ikhlas dari Susmiati.
***
            “Benarkah??” Suli terkejut.
            “Aku serius. Katanya mau dinikahkan.” Juhari mempertegas sembari menampakkan wajah yang layu kepada Suli.
            “Perjuangkan Ju. Aku dukung kamu.” Ditepuk bahu Juhari oleh Suli, untuk memberi semangat buat sahabatnya itu. Keduanya terus berdialektika menukar pendapat antara yang satu dengan yang lainnya. Kopi dan rokok menjadi teman setia bagi Juhari dan Suli malam itu.
            Kembalinya kecewa ke dalam kehidupan Juhari, menyiratkan luka mendalam yang dulu juga pernah ia rasakan. Kisah cinta dengan Rahmah terpenggal di ujung luka. Rahmah menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Saat ini Juhari kembali akancmenelan luka dengan sakit yang sama. Namun dia tidak ingin menumpas hikayat cintanya di senja penghujung lotrengan.
            Hening malam menyumpahi tekat yang bulat. Rembulan berpadu pandang dengan bintang. Mereka sesekali melirik pada sosok lelaki yang menikmati sunyi yang sepi. Hatinya kesengsem pada wanita berbibir jeruk saloni7. Juhari tidak sanggup bila harus menelan pil malu lagi dari buah bibir masyarakat yang kompak menggunjing kesendiriannya. Ia akan memenggal leher Gani bila perlu. Baginya cinta tidak harus mengenal anyir darah. Terciut fikiran Juhari mengingat kejadian di pertunjukan lotrengan beberapa minggu lalu. Saat itu Gani berani menyelipkan uang ke lekuk payudara Susmiati. Darah Juhari langsung mendidih pada saat itu. Ditambah sorak penonton yang seakan tertuju pada dirinya. Saronen pun tidak segan-segan mengaung seperti tawon yang terperangkap di gendang telinga Juhari. Hatinya terus bertasbih untuk bisa berbicara dengan Gani. Meneriakkan di telinganya, bahwa dialah yang pantas mendapatkan Susmiati.
            Besok ada pesta pernikahan di desa Juhari. Hiburannya diisi dengan pertunjukan tandhe’ yang ada di bawah naungan najheghe Puteri Kerawitan. Sebuah kelompok musik gendingan yang cukup terkenal di Madura. Susmiati ikut bergabung dengan Puteri Kerawitan. Bercak luka perlu dihapus, setidaknya wajah seorang kekasih yang gemintang mampu menghapusnya. Walau hanya sebagian, pastilah ada redah. Hati Juhari berdengung untuk bisa menemui Susmiati di acara itu.
***
            Kaca di depan matanya menggambarkan sosok Susmiati yang merona sebagai penandhe’. Sejumlah alat solek tertata rapi di meja wanita mungil itu. Semerbak melati di sela-sela rambutnya yang disanggul menguasai ruang hiasnya. Bedak menyulap wajahnya menjadi lebih merona seperti telaga susu. Siapa yang tidak akan  tertarik dengan seorang Susmiati sang penandhe’ bila sudah berdandan matang? Rona wajah penandhe’ itu sudah ranum, dan siap untuk dipandang.
            Seorang penandhe’ seperti Susmiati wajib berdandan secantik mungkin. Karena penandhe’ dalam acara pernikahan akan disuruh menyambut tamu-tamu undangan dengan tarian dan ngijung8. Biasanya kalau tokoh-tokoh besar, seperti Kepala Desa akan mendapat kesempatan untuk ngijhung. Dia akan dibawakan selendang yang dibawa oleh seorang gelandang9 sembari diiringi talu musik gendigan Madura. Karena setiap orang yang mendapatkan kalungan selendang di lehernya, maka dia wajib menemani penandhe’ di atas panggung. Atau kalau tidak bisa ngijung, ia bisa mewakilkan pada orang lain. Namun biasanya harus dibayar. Susmiati juga kadang mewakili seorang gelandang untuk mengalungkan selendang.
            Riuh corongan dengan senandung gending-gending Madura begitu gema. Suasana pagi yang masih suci. Bunga-bunga masih segar memekar. Mentari hangat menyelimuti bumi yang dingin. Juhari menyelipkan harap dalam sahajanya. Lantaran dia ingin mengucapkan kata kepada Susmiati. Kata yang mewakili segala kabar dukanya. Akan dia katakan semua tentang kecemburuan pada pagi yang indah. Akan dia sampaikan keirian hatinya melihat manik-manik di baju Susmiati yang menyungging meleceh. Atau dirinya yang terpasung dengan cinta kepada wanita tandhe’.
            Ia menemui kekasihnya di balik panggung.
“Aku mencintaimu Susmiati.” Kecipak laut tibak-tiba sunyi ketika Juhari mengutarakan perasaannya denga nada yang melas berlinang air mata.
            “Aku juga. Namun akun tidak mau jika celurit memutus urat lehermu.” Derai air mata pun mengalir dari mata Susmiati. Menghanyutkan bedak diwajahnya. Menghapus telaga susu, raut mukanya tampak menjadi layu.
            “Jika Hanya dengan ujung celurit aku bisa mendapatkanmu, akan aku lakukan.” Sembari menyeka rasa takut di wajah Susmiati yang mengalir.
            Ucapan juhari menjadi oksigen yang dihirup dan dikeluarkan sejak saat itu. Dadanya kembang kempis menerka sulit mencari keindahan. Lantaran jantungya, hanya siap berdetak bila ia merenda kasih dengan Susmiati.
            Gemerincing gelang kaki dan irama gendingan menggiring ritme jalan Susmiati. Perlahan dia hilang dari hadapannya.  Juhari merapikan janji dan harus kembali menyemai luka. Dia belajar mengalirkan darah, hanya karena gara-gara wanita. Kesedihan dari citanya telah melahirkan carok sebagai bukti kelakian-lakian dari buah bibir masyarakat. Dagingya yang terbuat dari garam sudah terlalu asin. Pulau yang menyusuinya dengan air laut sudah tidak dapat dinikmati. Kini ia sudah hidup dengan nafas yang berbeda. Sekian !



Catatan:
1.      penandhe’: Berasal dari bahasa Madura. Asal katanya tandhe’, sedang tandhe’ adalah wanita yang bisa menari dan bisa menembang. Penandhe’ adalah seorang yang menjadi tandhe’.
2.      Lotrengan: adalah kebudayaan masyarakat Madura. Atau sering dikenal dengan sebutan sapi sonok, dimana dua ekor sapi dihias secantik ungkin. Biasanya acara lotrengan dilakukan setelah selesai panen tembakau, sebelum menanam padi.
3.      Saronen: Adalah alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi acara kerapan sapi ataupun sapi sonok.
4.      Corongan: Bahasa Madura untuk alat pengeras suara.
5.      Penjhung: Bahasa Madura dari Selendang
6.      Najeghe: Grup musik gendingan yang didalamnya di isi oleh para tandhe’.
7.      jeruk saloni: Ungkapan kecantikan terhadap seorang wanita ketika hanya melihat bibirnya. Bibir jeruk Saloni arti bahasa Indonesianya adalah “Bibirnya seperti irisan jeruk”.
8.      Ngijung: Artinya sama dengan nembang atau bernyani. Namun menggunakan bahasa Madura sya’irnya.

9.      Gelandang: Seorang yang ditugas oleh tuan rumah ketika mengundang najeghe untuk mencari tamu-tamu undangan yang hadir yang bisa nembang.

Untuk Wanitaku Yang Jauh

;Laki-laki Agustusmu
            “Masih banyak yang belum aku lupakan perjumpaan-perjumpaan denganmu, wahai wanita. Ku awali dari perasaan yang pertama. Aku mengenalmu bukan secara tiba-tiba. Aku sengaja mengenalkanmu pada tubuh kerdilku. Dari kamu wanita ku yang pertama yang seumuran denganku, lebih tua kamu sedikit, sih. Tapi bagiku itu tidak masalah.Keakraban dibangku MTs., tanpa terasa membuat aku dan kamu semakin dekat. Kau sering membujukku dengan pandangan matamu yang indah. Sikapku diusia yang masih polos tidak berwarna, telah berkata lain tentang keindahan wajahmu. Aku mabuk. Aku lupa segalanya tentang yang aku punya, dan tentang siapa sebenarnya diriku. Aku telah berani mencintaimu dengan apa adanya. Ada kecantikanmu. Ada kekayaanmu. Dan ada segalanya yang aku butuhkan dari dirimu. Wanita itu adalah kamu Hikmah Tullaili.”
“Ya, dia adalah wanita pertama yang aku titipi rasa. Sampai adat Madura membawa hubunganku lebih jauh dan semakin menakutkan. Bibir masyarakat mengatkan bahwa, aku dan Hikmah katanya berpacaran. Sungguh sebenarnya aku belum begitu paham dengan tuduhan itu. Kata pacaran masih asing dalam putaran otakku kala itu. Bayangkan saja, aku masih duduk di bangku sekolah MTs., itu sederajat dengan SMP. Secara tidak langsung aku tidak akan lama lagi akan dinikahkan. Oh, aku memang mencintai Hikmah saat itu. Tapi jangan sampai dinikahkan. Tubuhku masih kerdil. Orang tuaku sudah sepuh. Keadaanku yang miskin. Oh jangan!”
            “Setahun lebih aku menjalani ikatan tunangan dengan Hikmah. Pada saat itu aku sudah kelas satu SMA. Sedang tunanganku itu tidak melanjutkan sekolahnya, dia mondok di salah satu Pondok Pesantren di Gapura Sumenep. Entah, cinta yang dahulu memang aku akui tumbuh kekar menjulang dalam diriku, tapi secara perlahan menipis dan hendak roboh. Aku tidak kuasa menahannya. Kesenjangan diantara aku dan dia, adalah salah satu faktor lunturnya rasa yang aku miliki. Ditambah lagi dengan sebuah penjelasan Hikmah bahwa ia juga sudah tidak menyayangiku pada saat itu. Dia juga mengatakan bahwa sekarang tengah menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi dengan Firman, laki-laki yang juga teman sekelasku di SMA. Edan pokoknya. Betapa rasanya aku ingin membacok habis-habisan tubuh laki-laki itu. Bagaimanapun tidak, meski aku sudah sedikit tidak menyayangi tunanganku, jika aku menerima penjelasan seperti itu pasti tetaplah aku merasa apa yang namanya cemburu.”
            “Berangkat dari sebuah pernyataan tulus diantara aku dan Hikmah, maka aku simpulkan saja untuk menyudahi perikatan pertunangan ini secara baik-baik. Aku kirimi keluarga Hikmah surat pernyataan pemtusan sebuah hubungan pertunangan yang ku buat sendiri. Itu yang kebanyakan dilakukan masyarakat Madura jika hendak melakukan pemutusan terhadap sebuah hubungan pertunangan. Khususnya di wilayah Sumenep bagian timur. Maka, resmilah aku yang tidak memiliki pasangan hidup. Putus tunangan.”
*Murahannya kelaki-lakianku.!
            “Sebenarnya sebelum pernyataan Hikmah waktu itu, aku tidak langsung memutuskan ikatan pertunanganku dengannya. Aku menunggu waktu yang tepat, agar relasi sosial keluargaku dan kelarga Hikmah nantinya tetap baik-baik saja. Sekitar delapan bulan setelahnya, aku baru memutuskan Hikmah. Waktu delapan bulan itulah, menjadi waktu dimana aku memiliki rasa kebencian yang luar biasa terhadap seorang perempuan. Aku sama sekali tidak percaya kepada para wanita, kecuali Ibu tercinta. Karena bagiku semua wanita akan sama mempermainkan laki-lakinya. Aku bertemu dengan seorang wanita yang buat aku lumayan cantik, dan sederajat dengan keluargaku yang miskin.”
            “Pertemuanku dengan wanita yang ku niati untuk ku jadikan pacar, namanya adalah Siska. Dia orang Batang-batang. Kulitnya yang hitam tidak terlalu putih, hanya lebih hitam kulitku sedikit. Siska menjadi pacarku tidak begitu lama, sekitar satu bulan setengah aku sudah putus dengannya. Aku akui, bahwa sifatku waktu masih dalam tahap pendingingan yang terlalu panas terhadap wanita. Aku putus dan aku kembali berpacaran lagi dengan Megha. Aku lupa nama panjangnya Megha...siapa begitu. Tapi yang jelas aku ditembak duluan sama dia. Hehe.. Besar daun telingaku mengenang kejadian itu. Entah kenapa, dia yang nembak aku duluan dan dia pula yang mutusin aku. Megha pacaran dengan laki-laki lain. Laki-laki itu orang Pamekasan katanya, dan wajahnya lebih jelek dia sedikit dari pada aku dan lebih jelek aku banyak. Betapa hancur hatiku. Jujur aku baru pertama itu mendapat kata putus dari seorang wanita. Kebencianku pun semakin memasuki stadium akhir kepada para wanita.”
            “Aku merasa tidak terima bila aku harus dipermainkan begitu saja oleh wanita. Aku mencari berbagai cara untuk bisa membuat Megha kembali jatuh cinta kepadaku. Aku sering-seringin lewat di depan sekolahnya. Aku kerap sekali melihat dia. Dan tidak jarang pula memberi senyuman termanisnya kepada ku, sampai aku pun menelan senyumnya yang mekar segar dipagi hari itu. Aku pura-pura mencuekinya. Walau tidak bisaaku pungkiri, secara jujur dalam hatiku meriak bahwa aku merasa ada sebuah keindahan yang tersublim dari senyum Megha. Akalku terus berputar, aku terus menjadi iblis. Aku ingin memanas-manasi wanita yang menyakitiku itu. Sebagai seorang laki-laki, maka siapa yang mau jika harga dirinya diinjak-injak. Bagiku, dikhianati seorang wanita yang aku sayang adalah pengkhianatan yang harus diganjar. Ya, itu adalah sifat keiblisanku.”
            “Usahaku untuk memanasi Megha akhirnya berhasil pula. Aku berpacaran dengan saudara sepupu Megha. Hehe. Maklum Megha masih SMP dan aku SMA. Anak seuisia SMP dan SMA masih rentan untuk merasakan sakit hati. Katanya guru biologiku dulu, itu karena mereka memasuki masa-masa puber. Aku sih tidak tahu mengerti apa itu puber. Sebab yang aku tahu hanya ukuran orang yang dewasa yang menurut agama, yaitu balligh. Nama pacarku waktu itu Ayis. Aku pun lupa nama panjangnya, dia rumahnya juga di Batang-batang sama kayak si Megha mantanku. Aku pacaran dengan Ayis hanya sebentar, kira-kira satu bulanan gitu lah.. Ya aku putus lagi. Tapi, kali ini aku dong yang mutusin. Hehe. Bangga-bangga gimana gitu sebenarnya aku. So, masih sayang sih. Hmm.”
            “Masih dalam keiblisanku. Setelah satu minggu yang lalu aku putus dengan Ayis. Aku mulai mengobrak-ngabrik lagi yang ada di hatiku. Aku ingin mencari wanita yang pas dengan cintanya untuk hatiku. Karena aku yakin, dalam nuraniku yang suci pastilah memiliki pintu. Aku berpacaran lagi. Kali ini bukan dengan orang batang-batang. Melainkan dengan orang Kecamatan Gapura. Namanya Laila Turrasidah. Nama-nama mantan pacarku banyak yang islami kecuali si Megha itu. Nah, dengan dialah aku berpacaran cukup lama. Sekitar delapan bulanan deh. Hehe. Lama,kalau dibandingdengan mantan-mantanku yang sebelumnya. Pada saat itu aku sudah tidak memiliki tunangan. Aku sudah merasa bebas mencari wanita yang akan aku jadikan pacar, atau isteriku nanti. Terlalu jauh khayalanku. Akan tetapi, niatku yang baik dan tinggi itu tiba-tiba saja tertumpas oleh kenyataan yang kejam dan membuatku menangis sepanjang hari. Ya, aku laki-laki yang bisa nangis juga. Meski nangisnya diam-diam dan mencari tempat yang sepih untuk menangis. Bukan di dalam kamar. Karena rumahku tidak berkamar. Rumahku yang kecil tidak berkamar. Eh, malah membahas rumah dan keadanku secara provit.”
            “Aku sedih dan mengangis gara-gara Idah itu. Laila Turrasidah, dipanggilnya Idah. Tersebab, setelah aku merasa nyaman dengannya aku malah mendengar sebuah berita yang menyedihkan dan miris. Sebagai laki-laki kecil dan ingin memiliki cinta ini semua terlalu kejam. Idah ternyata sudah memiliki tunangan. Benarnya, aku dijadikan pelampiasan karena dia tidak mau sama tunangannya. Oh, betapa aku akan dibacok sama tunangan Idah kalau sampai ketahuan. Aku pastilah akan dipukuli kalau ketahuan mengganggu hubungannya. Akal pendekku pun memutuskan untuk meninggalkan Idah. Biar rasa ini aku pendam jauh di dalam tanah liat hati kelakian-lakianku.”
            “Bagaimanapun  juga rencana Tuhan memang begitu indah. Gadis yang kuanggap tidak serius kepadaku dan mempermainkanku, si Idah, ternyata dia serius. Dia benar-benar tidak sayang kepada tunangannya. Terbukti dia dua kali menangis ke rumahku di Tamidung. Aku tidak yakin dia menangis karena diputusin aku. Akal liarku berkata, dia menangisi rumahku yang reot dan kumuh. Dia menangisi orang tuaku yang sudah sepuh. Dia menangis karena tidak menyangka orang tuaku yang jelek hitam bagi Idah, akan melahirkan anak setampan diriku dan bermata sipit bagi Idah pula. Ya, kata terkahir itu pernah diucapkan oleh Idah padaku. Dan banyak wanita lain sebenarnya yang bilang kalau mataku sipit kek. Kayak matanya orang Tionghoa kek. Kayak ala-ala korea kek. Tapi sayangnya, badanku pendek dan hitam. Maka, lebih tepatnya aku mirip biawak yang kecapean, sampe matanya sulit dibuka.”
            “Aku mulai menganalisa, mengotak-atik otak warasku. Mencari sebuah jawaban dari berserakannya tanada tanya yang berputar-putar di kepala. Akhirnya aku temukan juga jawabannya untuk menegaskan kepada Idah bahwa aku tidak bisa melanjutakan hubunganku dengannya. Ya, itu aku ambil dari sebuah pengalaman pahitku dulu waktu tunangan. Pastilah Arif, tunangan Idah yang sayang sama Idah akan merasakan sakit hati yang sagat sakit sekali sebagai seorang laki-laki. Perbandingannya, aku saja yang tidak begitu besar memiliki cinta kepada tunanganku dulu merasa sakit hati, apa lagi dia? Makadari itulah aku putuskan untuk menjauhinya. Sangat sulit sih, karena Idah masih tetap ngejar-ngejar aku.”
*Wanita terakhir yang legam dikehangatan doa..
            “Sebenarnya dulu sekali, waktu aku mutusin Idah pertama kalinya. Aku pun langsung mendekati Fitri Yani. Dan tanpa basa-basi pula aku langsung menyatakan cinta kepadanya. Walhasil, aku ditolak. Ah, baru kali ini rasanya aku ditolak wanita. Wajah biawak koreaku sudah tidak mampu menyulap wanita macam Fitri untuk mencintaiku.Ternyata kata menyerah untuk memperjuangkan Fitri,aku tepis jauh sekali dari akal sehatku.”
            “Ditolak Fitri, rasanya hatiku sakit sekali. Hatiku sudah berpuing, berserakan diantara sesal dan ingin menikmati keindahan cinta. Ternyata aku tidak bisa sendiri, maka aku kembali membangun cinta dengan Idah secara diam-diam. Tidak lama, aku mendapat nasib malang. Jelasnya, aku dimarahi oleh bapak tiri Idah. Dan celakanya Idah nekat mutusin tunangannya. Berarti aku harus cepat-cepat lari dari kehidupan Idah. Ini adalah petaka bagiku. Aku tinggalkan lagi Idah, dan aku fokus kepada ketertarikanku kepada Fitri. Dari saking mengharapnya aku kepada Fitri, keiblisan dalam diriku meningkat dari level lima ke level limaratus. Kerap aku membayangkan bagaimana bila aku menjadi suami Fitri. Menjadi bapak dari anak-anaknya yang nakal. Aku menjadi imamnya dikala solat. Aku menjadi laki-laki pertama yang akan menyingkap rok dan bajunya. Oh, akan tetapi aku tersadar. Mana mungkin bibirku yang kasar dan hitam karena nikotin rokok, akan bisa melumat bibirnya yang begitu merah dan indah licin. Pun kulitnya yang putih seperti terbuat dari lilin, sungguh tidak akan mungkin bersentuhan dengan kulitku yang seperti kulit biawak. Kasar. Aku membayangkan sejauh itu kala hendak tidur, atau lagi sendiri.”
            “Tentang Fitri Yani memang tidak bisa aku hapus begitu saja. Terlalu sering aku memikirkannya. Dari keseringanku memikirkan Fitri, aku mendapatkannya juga. Akhirnya peri cantik itu mau menjadi pacar seekor biawak. Aku sedikit malu. Lah mana mungkin tidak malu, baru kali ini aku tertarik dan segitu gilanya kepada seorang wanita. Sampai setiap selesai sembahyang, nama Fitri selalu terselip dalam doaku. Itu mengabadi dalam aliran darah dan denyut nadi kehidupanku.”
            “Aku bahagia sekali bisa mendapatkan Fitri yang berkulit putih bermata indah dan solehah. Bahasa Arabnya yang bagus, semakin membuatku tertarik untuk membahagiakannya. Aku berharap wanita seperti Fitri cocok menjadiisteridan kontrol diri bagiku. Fitri akan menegur bila aku bertingkah laku yang menyimpang dari agama. Dan tubuhnya yang mungil, sepertinya pas dengan postur badanku yang kecil pula. Karena pastilah akan malu bila aku yang kecil, pendek, nantinya akan memiliki pasangan yang tinggi dan besar. Oh, aku tidak ingin semua itu terjadi. Ya, karena ada Fitri yang sudah membuatku nyaman.”
            “Setelah lama aku menjalin hubungan dengan Fitri, aku tidak pernah bertemu  dengan Fitri sebagaimana layaknya orang pacaran. Bagiku itu tidak begitu penting, asal dia beneran tulus merenda hubungan dengan ku ini. Pernah sekali aku mengajak dia ketemuan. Waktu itu aku cuma ingin pamitan, aku mau berangkat kuliah ke Jogja. Wuih.. anak orang miskin bisa kuliah ke Jogja. Ya, aku dapat beasiswa. Tapi ingat, aku bukan orang yang pintar. Akan tetapi ternyata Fitri tidak mau menemuiku. Ya, aku paham dengan pernyataannya. Dia adalah gadis muslimah yang fanatik sekali terhadap agama. Aku bersyukur punya pacar se sholehah dia. Atau dia tidak mau jika nanti aku menjabati tangannya yang putih dan licin seperti lilin, akan lecet bila bersentuhan dengan tanganku yang kasar seperti kulit buaya sungai. Ya, itu hanya perasaanku yang kacau.”
            “Aku mengutip sebuah perkataan Agus Sunyoto, seorang penulis novel best seller, di dalam novelnya yang berjudul Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kira-kira kalimatnya begini, cinta di dunia ini hanya bersifat nisbi, karena hakikat kesucian dan keabadian cinta dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, betapa seringnya cinta yang menggebu-gebu menjadi luntur bersama merentangnya jarak dan waktu atas orang-orang yang saling mencintai. Kalimat itu sama sekali sangat benar, karena aku pun tengah merasakannya.”
            “Sejak hubunganku dengan Fitri yang terpisah ruang dan waktu, ternyata telah hancur berserakan. Tapi bukan berarti cintaku luntur. Sejak saat aku meninggalkannya, putus hubungan dengannya, aku sama sekali tidak bisa seganas dulu mencintai wanita lain. Seperti saat-saat aku memacari Siska, Megha, Ayis, dan Idah. Hal itu karena aku merasa dikhiantai oleh Hikmah tunanganku. Padahal alasanku kepada Fitri, tentang kenapa aku meninggalkannya, berangkat dari perasaanku yang merasa dipermainkan jugaoleh Fitri. Itu kataku. Bagi aku Fitri tidak serius. Dia tidak pernah mau diajak ketemuan. Seakan dia menjadikan diriku seperti laki-laki kotor yang lebih kotor dari buaya bila harus ditatapnya langsung. Dia akan merasa sangat ketakukatan. Takut kalau aku sampai memangsanya bila berani ia menemuiku. Sebagai buaya jantan yang ganas, pasti akan mencabik-cabik habis tubuh mungilnya, merusak bibirnya, atau mencakar tangannya.Padahal itu semua terjadi karena rindu. Dan bahkan keseriusanku aku tunjukkan kalau aku siap untuk menyunting Fitri kepada orang tuanya langsung. Nasibku, dia menganggap semua yang aku katakan hanyalah kicau sumbang kutilang kelaparan di pagi hari. Dan kini aku dan Fitri sudah tidak bersama lagi, tapi tidak dengan cinta dan doaku yang masih mengharapkannya. Semoga saja Tuhan tidak punya rahasia lain. Yang nantinya bisa jadi aku berjodoh dengan wanita lain. Aku tidak mungkin menentang Yang Maha Kuasa atas anugerah indah itu. Wallahua’lam..
*Tulisan ini berangkat dari kegelisahan hati yang sejak kemarin merasa resah dengan sebuah kalimat indah yang dikirim oleh seseorang yang mengatakan aku tidak menyanginya. Sehingga dari itu semua aku merasa putus asa. Dan aku meninggalkannya saja, karena merasa usahaku dengan segenap keseriusan sudah aku lakukan. Itu lebih dari cukup. Tapi dia malah mengirimi pesan singkat yang membuat hatiku kembali terenyuh, pesan singktnya berbunyi begini: (Ass.. sms yg tak kau harapkan menghampiri lagi, Km harus mempercayai bahwa “tak ada perhiantan”, Kita sama” merasakan inii L, jngan menyiksa dirimu :’( :-*, jaga diri juga selamat malam...). Itu adalah sms terakhinya yang singgah di HPku, pada tanggal 14/05/2015 Jam 18:05:10.
Dan tulisan ini pun, saya bermaksud ingin mengucapkan terima kasih kepada semua wanita yang pernah mengisi hari-hariku. Karena kalianlah aku bisa menjadi lebih dewasa. Karena kalianlah tulisanku selalu terlahir, imajinasiku menjadi liar. Dan aku berterima kasih atas semua ragam pengelaman pahit dan indah yang pernah kalian berikan kepadaku selama itu. Semoga saja Allah SWT mengampuni dosa kita bersama, termasuk dosaku yang begitu besar kepada kalian. Siapa tahu dihati kalian masih terbesit dendam kepada diriku.Maka aku siap menerimanya, baik itu berupa doa dan tindakan kejam lainnya. Hanya yang jelas, bagi aku kalian semua sudah sangat berarti. Kalianlah yang aku nobatkan menjadi wanita-wanita terbaik nomor dua setelah Ibu yang melahirkna aku.
Benar apa kata orang-orang bijak, bahwa kesuksesan seorang laki-laki ada pada doa wanitanya. Mungkin termasuk Ibu dan pasangan hidup kita. Dan aku yakin, pastilah diantara kalian pernah mendoakan aku meski hanya sebentar dan sedikit untuk kesuksesanku. Aku terus berusaha menjadi sukses, biar aku bisa bahagia berkat doa kalian semua. Siapa akan tahu, kalau doa kalianlah yang dijabah oleh Tuhan. Terima kasih para wanitaku semua,..

Catatan menuju Mei..
Jogjakarta 25 Mei 2015