Jumat, 09 September 2016

Puisi Wardi "UNTUK KAMPUNG KITA DI DUNIANYA"

Kugugat tengkorak di gubuk sederhana
Ketika tempat memetakan warna mata
Selalu membentuk hitungan sama
Dengan benakmu yang pelabuhan membalik masa

Tidakkah langit selalu rubuh
Dan mampus di pangkuan malam?
Tempat dulu kutemukan gerbang salam
Hari kepada perjanjian berdarah
Hidup dalam gigil yang tanpa celah

Kini, kampung kita punya kolam sastra air mata
Menyambut pasukan-pasukan yang berduka
Ia lebih dulu mengembarakan kesulitan
Meladang batu-batu yang terkutuk aroma busuk
Tidak pernah punya rumah untuk sebuah kenangan

Lalu jarak waktu memang sungguh menghakimi
Bagi pahlawan yang melepaskan tawanya di gigir pantai
Hanya peristiwa dari kitab suci yang diberkati
Tak pernah cemas meski kepada puisi
Adalah lukaku yang tak juga pulih

Dan, bila telah tiba pada kesungguhan itu
Maka biarkan aku datang menyusulmu
Membawa sebungkus putus asa
Untuk kampung kita yang barangkali berdosa

Jogjakarta, 2016

Kamis, 08 September 2016

Puisi-Puisi Wardi

PENTAS PAGI

Apakah hanya aku yang diterjang
Bila desaku adalah sketsa kota?
Melihat wajah burung-burung yang murung
Aku belum lupa bagaimana semesta
Pun ragam pengerasan jalan
Yang mengatakan aku cinta perkelahian
Telah terbuka dada-dada kepentingan

Di atas kepalaku yang batu
Ada hujan berlayar di langit biru

Dan di bawah kaki ibu
Terdapat pecahan air mata
Sebab lagu kemarau
Kali ini tenang dari percakapan tembakau

Apakah hanya aku yang diterjang
Bila pagi dipentasi bising mesin dan roda?
Mencoba merangkai kembali matahari
Dan membayangkan hutan
Pandang pun ditingkah pembangunan

Sungai tetap mengarus dari lubang-lubang
Kulit bapak yang terkelupas ke bumi
Keringatnya mencari muara
Atas anak-anak yang melayang di angkasa
Ia berkejaran searah dengan angin laut
Memburu peradaban-peradaban barat

O, betapa bapak hanya menggenggam pasir
Lehernya digantung di ranting cemara rindang
Ketika tambak pun membentang sepanjang Lombang
Anak mereka, menunggu di pantai membawa lapar

Rupanya tak hanya aku yang diterjang
Bila kita bersama yang menyalakan ingatan senja di atas ombak
Maka, mari kita pandangi doa perahu itu
Yang mulai dalam menyebut nama mendung
Yang mulai karam
Ditindih penjajahan tak berujung

Pantai Lombang, 2016

INI AKU

Di sini, kulepas rindu pada jari gadis kemayu
Mengikatkan masa silam yang lama hilang
Dan menyanyikan lagu paling syahdu
Kepada bibir yang saling lumat jantung

Engkau belum juga menua di lumbung kenangan
Semisal melepas ikatan akar yang dianyam
Aku pura-pura mampu melupakan

Di sini, aku pernah terjaring kain kerudung
Keringkan keringat yang menyimpan cinta begitu rapat
Dan rekaman tubuh penunggu yang mematung
Menjelma godaan sebagai isyarat

Ini aku, Dinda
Seorang pendatang yang diusir waktu
Bermimpi mengenai matahari di seberang
Selalu diusir makna-makna yang berpeluh dirimu
Maka, barangkali tiba dewa mengerti kata mati
Berdekatlah denganku beberapa abad
Kita akan merambat pada tumpukan kangen
Serta membuatkan rumah abadi bagi pertemuan

Pamekasan, 2016

Puisi-Puisi Wardi

LUKA LAUT

Laut masih biru di mataku
wajah dermaga dan bibir pantai yang sepi
kubaca dengan nada buih

Hatimu dipecah karang
saat bunga-bunga laut hening oleh ombak
kusemai dalam dada
menyerupai cemburu para nelayan
kepada ikan yang menjauhi sauh

Tamidung, 2016

MENANAM BATU

Sore tadi aku menanam batu di bahu ibu
Mencermati peristiwa sehari-hari
Berdialog dengan segala perwujudan dunia
Yang dimengerti burung dan sapi-sapi

Tanah tempat menyimpan kepergian
Juga menghidangkan rumah keabadian

Ketika tak menyangka, yang tumbuh sebagai nasib
Berupa tengkorak yang jelma dari sebuah bukit
Yang mencari jalan sama nuju lipatan gelap

Duh, berlarian burung-burung musim
Meneruskan waktu sebenarnya
Aku, hanya menanam batu
Di antara sungai-sungai matamu
Senyum dan tangis berkelok akal manusia

Kehabisan sawah
Pelebaran jalan raya
Kutanggung sebagai kutukan
Di sebuah rumah di mana aku pernah lahir
Untuk kisah-kisah padi serta kembang jagung
Yang sempat mekar

Tamidung, 2016

BERMAIN HUJAN

Kemarin, hujan memuntahkan tubuhmu
Air mata sejenis gerimis
Gigil di pinggir pantai dan sungai-sungai
Gelombang angin membawa asap bau kemenyan

Aku ziarahi tubuhmu per inci
Hingga kauberlumur bedak lumpur
Bertelanjang dada dengan kutang pita merah
; Cinta berjatuhan di gelembung sampo
Seperti lintah, aku terus menghabisimu
Mendaki ke dua gunung itu

Ah, engkau mengulur bulan di tengah hujan
Tubuh kita berdekatan
Lalu saling jalar seperti akar membuat saluran

Hujan telah reda
Kita bermain lagi di kamar mandi
Membuat risalah
Menyusuri lubang yang sedang engkau diamkan
Dan kutanam manusia di tembok
Di kasur, di pintu-pintu
Sebelum memar lehermu kembali mengering
Bersama lotion paling licin
Aku berhasil mengeruk tanah dengan bayang perempuan

Jepang,
Kota yang gelap kusangka
Wanitanya memataiku di sudut lampu
Sebagai lelaki sakau

Tamidung, 2016

WAJAH YANG MEMBUNGKUK MENUJU MATAMU

Ini tentang percintaan kita di pelupuk mata senja
Juga luka-luka penggantiku yang lebih setia

Jika memang doa yang berulang kita eja
Akulah lelaki yang disiksa
Dipukuli tangan-tangan sepi
Terkelupas kulitku menahan fitnah

Jujur saja ini bukan mengenai kepulangan
Ketika tangan-tangan saling urai
Menenteramkan hati
Tubuhku menghemat detak
Melihatmu ke uatara bersama pria
Melalui pintu gerbang
Yang menyambut jalan dan kendaraan
Lalu lalang, berderu di dadaku

Dan wajahku yang membungkuk menuju matamu
Telah mencium nyinyir getir penantiannya

Pamekasan, 2016

ANASIR RUMAH-RUMAH PASIR
Kepada Ema'-Eppa'

di sebuah malam yang pualam
kita bercerita perihal kematian
taman-taman kehilangan tempat bermain
hilang bunga yang menguntum

aku tak tahu bagaimana cara berguna
membacakan sekian misal yang sempal
sebagai penunggu yang rindu
dan kepergian segera berkuasa
atas kepala-kepala lelaki tua
; tanpa nyawa dan kata-kata

lalu aku berlalu, memahat seikat tatap
menetap dari matamu dari biru pun syahdu
selaksa bunga-bunga surga
yang sempat tumbuh di dadaku

adalah anasir rumah-rumah pasir

Tamidung, 2016

SEBUAH SORE DI PAMEKASAN

Jalanan kembali mengering di mataku
Sedang berkarat termakan rayap
Ritual bus-bus yang bersila di atas patahan rasa

"Sayang, lazuardi melingkar sampai hujan kutemukan begitu asin bergaram."

Sore itu tiba di Pamekasan
Aku mencakar punggung trotoar dekat terminal
Memeluk punggung jalan, menanam seribu alamat
Sampai celanaku basah dari gerimis hujan
Jarum jam di pagelangan membusuk di tulang rusuk

O, rindu biru!
Aku gelinjang ke matamu
Waktu-waktu jatuh dalam sekaleng susu
Aku melintas ke dadamu
Meremas malam dari belakang gedungmu

Dari tubuhku yang keluar melebihi pisau
Menjelajah kota tuhan tak bernama
Hanya sebuah wajah elastis
Dan raut agak meringis
Engkau pun habis aku lemas
Sebagai kelebat sajak penanam pisang
Bulan merah saga, dan jadah, tumbuh di perutmu

Aku, sebut kembali namamu
Menyerupai ibu, hujan di rumahku
Menghukumi sore di Pamekasan waktu itu

Tamidung, 2016

SEBUAH SORE DI PAMEKASAN

Jalanan kembali mengering di mataku
Sedang berkarat termakan rayap
Ritual bus-bus yang bersila di atas patahan rasa

"Sayang, lazuardi melingkar sampai hujan kutemukan begitu asin bergaram."

Sore itu tiba di Pamekasan
Aku mencakar punggung trotoar dekat terminal
Memeluk punggung jalan, menanam seribu alamat
Sampai celanaku basah dari gerimis hujan
Jarum jam di pagelangan membusuk di tulang rusuk

O, rindu biru!
Aku gelinjang ke matamu
Waktu-waktu jatuh dalam sekaleng susu
Aku melintas ke dadamu
Meremas malam dari belakang gedungmu

Dari tubuhku yang keluar melebihi pisau
Menjelajah kota tuhan tak bernama
Hanya sebuah wajah elastis
Dan raut agak meringis
Engkau pun habis aku lemas
Sebagai kelebat sajak penanam pisang
Bulan merah saga, dan jadah, tumbuh di perutmu

Aku, sebut kembali namamu
Menyerupai ibu, hujan di rumahku
Menghukumi sore di Pamekasan waktu itu

Tamidung, 2016

Puisi-Puisi Wardi

SEBELUM AKU MAKAN

Landai rasanya ngarai yang bersungai. Ikan-ikan menyepikan dirinya pada bebatuan lintang. Sementara aku masih terbujur di atas sehampar puisi mujur tengah ladang. Orang menyeduh embun dan rerumputan. Siwalan bertanduk matahari di bahu Ibu. Babak belur tanah ini; tempat asal darah tumpah. Juga asal bahagia buncah, tumbuh di sana

dari dada seorang musyafir
aspal hitam yang legam
dahulu aku kumpulkan kerang yang terasing dari malam pualam
selesai pengaspalan jalan
dekat tikungan tanpa penerang

Dan sebelum aku makan jantung pisang serta teri mentah di atas nasi jagung, luka telah menamatkan salah seorang penjuru kampung. Tubuhnya bermandikan darah. Tangannya terlepas dari batas desa dan kota orang-orang bahagia. Bau anyir rupanya memikat hidung gagak. Hidupku yang lungkah di cakar deru hujan. Lidah mengais-ngais sauh yang menjangkar di dada Ibu. Langit turut menampilkan orang-orang senja

dari balik kelopak mata
kembali aku membaca kenyang dan lapar
serta caraku pulang yang membingungkan

dan bila masih belum aku makan,
hadiahi saja aku seiris pandan di atas makam

Tamidung, 2016

PESAN PERTAMA DARI SESEORANG

Aku sengaja mengubah arah pintu rumah menghadap laut
Biar mataku menjelma debur pada gaduh ombak
Dan ketika layar-layar putih mengembang di gelap
Mengingatmu aku sedang ditingkah buih lautan

Kelap-kelip cahaya lampu perahu itu berkedip malu
Sehampar air pun makin asin di bibirmu
Mungkin Tuhan sedang mengawinkan keindahan alam
Bagi bulat mata kita yang curi pandang memperhatikan keindahan

Di sanalah, aku pendam sebuah surat saudara perempuan
Di setumpak sawah berukuran laut
Menjadi renangan menerima malang
Nasib-nasib dari sengat ekor pari

Tamidung 2016

MENCINTAIMU SEBAGAI BAGIAN HUJAN

"Sebelum pulang, kemaslah mendung di mataku." Katamu kepada kursi kayu. Aku
Duduk di situ, sekali mengakui tentang benci.
Juga mengenai pelangi. Yang berdiri
Memaksa cinta agar pergi. Bersama sayatan cemburu
Di dadaku bukan tak mengadu. Apa lagi engkau
Semalam telah bertandang. Membawa harapan
Ke dalam yang tak berkesudahan. Kunamai
Dirimu. Diriku yang keliru

Kemudian, mencintaimu sebagai bagian hujan. Mengantarkan getar Pameksan
Pada perpisahan yang kita rencanakan. Tanpa puisi
Yang menginginkan seperempat luka
Kembali. Sebab melihatmu
Gerimis menghuni ceruk-ceruk mataku. Mewacanakan kesedihan
Dengan kalimat bergincu.

Aku harus pulang. Sebelum engkau
Tersakiti bijak kata kenang. Akan kurawat
Aroma bedak-bedakmu. Akan kucium
Dalam hening. Akan kurindu
Sebagaimana telah kauajarkan cara keabadian dan kesetiaan.

Pamekasan, 2016

INI AKU

Di sini, kulepas rindu pada jari gadis kemayu
Mengikatkan masa silam yang lama hilang
Dan menyanyikan lagu paling syahdu
Kepada bibir yang saling lumat jantung

Engkau belum juga menua di lumbung kenangan
Semisal melepas ikatan akar yang dianyam
Aku pura-pura mampu melupakan

Di sini, aku pernah terjaring kain kerudung
Keringkan keringat yang menyimpan cinta begitu rapat
Dan rekaman tubuh penunggu yang mematung
Menjelma godaan sebagai isyarat

Ini aku, Dinda
Seorang pendatang yang diusir waktu
Bermimpi mengenai matahari di seberang
Selalu diusir makna-makna yang berpeluh dirimu
Maka, barangkali tiba dewa mengerti kata mati
Berdekatlah denganku beberapa abad
Kita akan merambat pada tumpukan kangen
Serta membuatkan rumah abadi bagi pertemuan

Pamekasan, 2016

PENYAIR

Pada kesibukan mesin dan roda-roda. Penyair menulis
Gelisah tentang anak manusia. Bertukar ode dengan pantai
Yang dahulu hingga kini dibantai. Kekuasaan
Punya suatu cerita abadi. Tapi bagi penyair
Tak akan pernah mengamini. Ia pura-pura
Rendah hati. Dengan menulis puisi sebagai hakikat basa-basi

Pada desa yang berbicara tentang bahtera luka. Hidupnya
Tak ingin lambat atas sisa masa yang menua. Ia tulis melalui selembar laut
Tentang keterasingan yang menjangkar ribuan maut. Ke tubuhnya
Mata penguasa selalu berdiri. Isyarat merenggut
Nasib akan menyelimuti

O, Penyair. Di mana nafsu yang berlipat rindu Itu?  Di sini
Aku hanya melayani waktu. Mengurung kesunyian
Di tahun yang berguguran. Aku rindu puisi yang dimakamkan tanpa nisan. Dan kepalan
Dosa-dosa yang tempo hari. Masih berziarah
Membawa wewangian alam ke dalam diri. Dirimu
Penyair, yang barangkali tak mengenal mati. Tapi
Bila tak saat ini, mungkin nanti.

Sumenep, 2016

PETANI

Kami catat takdir pada ladang padi
Sebab bagi senyum mengawini ilalang
Tak perlu kami tunggu hujan datang

Kami bajak mimpi di bawah langit
Sebab menabur biji iman
Selalu subur bersama manis keringat

Di atas sebidang tanah
Kami semai kekhawatiran melalui doa
Takut tembakau menjadi anak jadah
Bagi kami yang kembali berpesta sengketa

Pun kepada terik matahari
Mata mengorak kerontang kemarau
Kecuali kepada puncak ketenangan
Kami selalu antar pantai dan taman-taman
Penuh peri-peri pandai menari

Sumenep, 2016

PEREMPUANKU (04)

Telah kulipat segala kalimat dalam jarak dekat
Yang kembali menjadi batu
Saat kaumerah muda tiada mati
Mata pun kuanggap keliru menatapmu

Pulanglah, ikut dengan malam
Yang letih menahan perih
Yang terjerat di bibir rekah
Wasiat ibu, menuai di tepi gincu

Perlakukan aku, Dinda
Layaknya kekasih yang engkau madah
Ketika luka-luka bertubi ke dada
Biarkan rinduku dengan sendirinya mengadu
Serupa rejam air mata
Tak akan mampu aku mengeja bahagia

Sekali lagi
Engkau masih kekasih yang bersengketa
Dengan jutaan kisah
Sesaat sebelum
Waktu berulang menghitung jeda doa
Juga tipu daya

Pamekasan, 2016

KITA MESRAH

Yang kutulis adalah huruf-huruf juga
Sejak bercawan keringat dari kurun penantian
Kembali pulang merengkuh rindu yang linglung
Dan sepenggal tanah gersang
Sepadan sendirian dalam janji penantian

Andai pun benar
Aku ruh yang ditiup jibril ke dalam kehidupan
Maka izinkan aku memintal malam
Atau menimbang jawaban diam
Ketika dunia tanpa tanda baca

Hendaknya, kepada yang kita lupa
Ciciplah persembahan surga
Bukan mengenai separuh ruh
Atau senyatanya kata mesrah

Sebab yang akan aku kirim
Menuju telaga kering
Adalah terik api
Seperti surat matahari yang kutemui lagi
Untuk puisiku kali ini

Sumenep, 2016

Puisi-Puisi Wardi

PAGI II

Aku rapal sisa doa semalam, bersama bercak merah ingatan dan memar namamu. Tembakau tak jadi dirajam musim, serupa kita yang berziarah ke dalam pencarian. Lalu, ada yang menemuiku semacam aroma dupa saat rindu menjadi kekasihmu.

Jemputlah, andai pagi terus melipat hujan dan perjumpaan tak kunjung reda di ujung asmara.

Aku bukan pemberani yang kerap memadi sawah-sawah dingin, melumpur tubuhku hingga buah siwalan berjatuhan. Sebab hanya engkau, Adinda, yang semalam padamkan pelita; Sepinya tak pergi pagi ini.

Tamidung, 2016

PESTA MIRAS

Engkau perempuan terakhir
Yang menenggak darahku
Mematikan amarah setiap kali detak
Mencari wajah lain
Selain denyut namamu di bunga dada

Mari tambah lagi, Vi
Seteko miras bau amis
Engkau akan merasakan dunia pesta
Lampu-lampu lamin yang pernak
Aku samarkan dengan gaun pengantin
Setiap kali angin mencurigai
Ismail yang gagal dipenggal

Hahaha

Semua akan mati mengikuti kita
Lebih dahulu sedikit dari aku yang kaugamit
Ke bawah matahari
Yang pohon terbunuh
Serupa terbunuhnya seekor domba

Maka jadikan aku tokoh dalam pewayangan ini
Yang menceritakan seorang nabi berkasih
Supaya aku dapat mencintaimu
Ketika aku tak dapat mencium aroma parfum
Yang perempuan pakai di kedai malam
Bersama semiras darah
Kita akan amis berpesta ria
Melalui desahmu yang pingsan
Cinta, aku coba abadikan

Tamidung, 2016

CAHAYA RENTA DARI SEBUAH PANTAI

di celah cadas waktu. mulutku berlumut. batubatu pantai menyusup tubuh yusuf. aku meniru mimpi di sana. duduk bersila meramal pantai; airnya 'kan berkilau-kilau. hingga yang tidak sebatas air itu menyiram ubunku. menodai cahaya berbaju sobek sebagian.

tibatiba kulihat juga anak cemara terinjak kaki kuda. dalam sebuah jeritan yang bermain di setiap lengking saronen. aku bersiutsiut. setelah malai bunga di keningmu jatuh. di atas pasir yang menganasir sebuah gerimis. kemudian miliar gemi mengurai tulangtulangnya kepada kita.

dan. setelah malam nyalang. pantai itu mengerami tubuhmu. tak ada yang tahu. bulan jatuh. cahaya renta. diasingkan tawa-gelak. tertimbun oleh rimbun cabangcabang cemara udang lombang. bulan. langit. malam itu kembali menemukan sebuah jurang mirip mulut.

Pantai Lombang Sumenep 2016

ANDAI AKU DAPAT MEMINTA

Vi, rupanya Tuhan bersama pohon tua
yang batangnya tertulis sepasang nama
sekaligus setulus doa

Dan aku dalam kamar gelap saat ini
dimana hanya ketukan pintu
dan detak jarum jam
yang menusuk dada
aku cari asal suaranya
kemudian kubuka, oh, jam telah tiada

Andai dapat aku meminta
di embun nan sahaja
pagi ini, namamu kuabadikan
tanganmu kuingat
bagaimana pernah dengan pukulan manja

Tapi, Vi, siapa aku siapa dirimu
Tuhan sembunyi di helai rambutmu
di helai rambut ini anai-anai menyanyi
berkidung elegi
mengawal langkahmu ke sebuah negeri
tempat cintaku dipenggal, di sini

Tamidung, 2016

KUPU-KUPU DI ATAS RUMPUT
:kepada Amir

Aku masih memeras embun di antara kening-kening dingin
Hingga pecahnya mengira sebuah siang lengang di sini
Lalu aku lari seperti anak ayam ditinggal induknya

Entah kepada siapa semalam aku menyapa?
Dalam barisan mimpi yang pagi ini berkecamba kata-kata
Adalah pencarianku yang menganak sungai tanpa muara

Sebelum rumput itu kering di sela baris mimpi yang menjadi batu
Sebuah bunga menjadi tempat kupu bertumpu
Lalu menyusu pada sisa asi yang kuperah dari seorang ibu

Tamidung 2016

KEBERANGKATAN I

Aroma pandan dan kenanga, aku menulismu di atas keranda. Dan puisi pertemuan yang mendadak menikam dengan sekepal kepergian,  aku tak jadi membaca setelah sepi ditandai tubuhmu yang patung. Kertas naskah kehidupan pucat. Memayat aku dalam drama yang kehilangan kesannya.

Tamidung, 2016

SI (04)

Laut bisa basah
Langit bisa basah
Saat kotaku gagal menyusun wajahmu
Bahkan kemaluan pun semakin memadamkan diri
Nyenyak dalam tidur malam
Yang bertubi-tubi mengirim dingin

Aku terus berangkat dari sini, Si
Di bawah remang lampu warna senja
Padahal setitik cahayanya memadamkan
Kita saat bermukim di gubuk abadi
Sembari membaca daun yang terjatuh ke bumi

Laut bisa basah
Saat kita tak tahu cara membendung air mata
Keinginan pontang-panting memburu doa
Tumbuh bergiliran
Aroma laun dalam ruangan

Tiba-tiba kita tak saling mengulur pulang, Si
Serupa bunga kenangan yang bergeliat beku
Ke dadaku
Ke dadamu
Yang tak sempat terkabul
Adalah huruf-huruf juga

Sungguh, langit bisa basah
Sebasah lorong samping rumahmu
Memalam aku menuju tujuan
Lalu sesekali terpejam
Ketika kita bertukar senyum yang menikam
Jantungku dalam tidur hening

Tak ada yang pualam, Si
Selain rasa ini
Sampai yang berpuing
Tuhan sungguh memaksum

Tamidung, 2016

RAIB

di sini, di sejarah kematian. aku menghitung jarak. melempar hati ke tepian.

kupahami matamu. pada pucuk-pucuk luka menganga. rasa cinta di beranda rumah. merayu angin. supaya memecah kesepian.

di bagian sisi yang hidup. kutiup detak ombak. suara pasir. gemuruh yang tahu hari lahir. kemudian mengumpulkan sesal dari lajur air mata. segala pun mengalir dan terkembang bersama layar derita.

siapa tertikam jantung sendiri? selain aku. ada ujung gabah menusuk harga--mati. bibir pantai dan bintang terang-redup. menjadi saksi bagi sepasang mata raib. hingga aku terus merangkai waktu, mengisahkan sujud yusuf betapa sunyi.

Tamidung, 2016

DARI LIDAHKU YANG MEMBIARKAN PRASANGKA

Sebaiknya aku wasiatkan bisik sunyi kepada kesepian. Biarkan ia mendua dalam bait puisi cinta yang terluka. Menghitami lara untuk sebidang jantung, yang nestapa mengeja air mata terbata-bata. Sekali engkau senyapkan saling sayang, selalu berharap ada penyair di antara kita. Dan membangun kamar di dadamu-dadaku. Bersama dipan yang berdiri atas luka pecemburu, koyak setelah permainan kuda lumping di atasnya--kita seabad lalu rancu merebut kata. Dan kepulangan, pada akhirnya kekasihku.

Perempuan, tentang cinta, akulah yang kautumbuhkan tunas hasrat, menyamakan percintaan dengan deras hujan. Karena kerontang, senantiasa henyak sekalipun mengerti mengenai musim buta. Karena doa-doa yang terjaga, senantiasa menjadi dosa kepada kita yang engkau dusta. Karena bibir, yang sempat engkau berikan di pojok taman, senantiasa terbaca sebagai sandiwara.

Duh, begitu mahir jemarimu memainkan kabut. Malam itu, lidahmu berputar di mulutku. Ia belajar membaca gelap dari kebiasaan yang terkadang lupa memejam mata. Sehingga siwalan yang berdiri di balik nadi, lancang menyentuh bibirmu. Hingga dingin yang jantungan, terlanjur menikmati beberapa tusuk puisi Tuhan.

Aku kembali menawarkan pagi. Merajut sarang laba-laba dari yang paling intim di tubuh wanita. Angin mulai menutupi kenyataannya dengan selimut penyesalan. Sebagaimana lelaki yang datang kepadamu, ia telah terasing dari ruang dada--tempatnya memeluk dua rahasia. Memasuki sepasang hening dosa, sebagai dukana yang menikmati kesakitan dengan dekapan serupa bulan.

Dan dari lidahku yang membiarkan prasangka, telah wangi menerima kesalahan, melumat tentang basah bibirmu sebagai rindu. Juga menimbang mimpi yang bersamamu.

Jogjakarta, 2016