Jumat, 26 Februari 2016

KETIKA AKU HARUS TERHAPUS



Setiap detik yang berganti waktu. Setiap waktu yang harus berlalu. Demikian hati yang harus aku lawan memaksaku untuk berdiam. Semua itu, semakin membuatku tak tahu akan makna adaku dalam waktu. Hingga dari makna tahu sendiri harus terpaksa kubiarkan berlalu lagi setiap saat aku mencari tahu. Banyak sekali yang tidak aku tahu dari arti mendapatkan ketika datang begitu banyak, sementara begitu banyak datang ketika aku mulai mendapatkan. Akankah juga sama dengan kehilangan yang diciptakan oleh jalan berbeda, untuk menghilangkan perbedaan di jalan yang sama? Atau memang begitu kejam menikam kebaikan, sebaliknya kebaikan tiada kira menikam kejam. Tuhan, hati bagaimana yang dapat menerima hati yang memiliki tanpa begitu angkuh dengan masih. Aku di ujung jalan dan ia memaku sekuat urat lehernya pada sejarah sajadah. Ajarkan pula perihal-perihal menahan tabah, agar tabah dapat ku pelajari untuk menahannya.
Awal aku melangkahi kisah ini dengan Aay kekasihku yaitu, tepat di tanggal perkenalan yang juga mempertemukan hati yang putih. Kira-kira sudah satu tahun aku menemukan wajahnya dalam sketsa imajinasi. Dia gadis dalam bayang.
Keberanian mulai tumbuh baru seketika aku kerap memantaunya lewat dinding fesbuk miliknya. Penggalan kata dan kata dalam status yang ditetas dari getar tangannya menarikku lebih angkuh hingga terpental jauh aku ke dalam harapan. Kejadian itu membuat denyut nadi sejenak terhenti ketika Aay, gadis berwajah bulat, berkulit susu, berbibir madu itu menanyai siapa namaku. Aku bilang saja namaku adalah Rindu, dari suasana desa yang pergaulannya selalu dengan sawah pegunungan berbatu serta angin yang damai berderu, juga cericit dan siul kutilang sendu. Di sanalah aku dilahirkan untuk menempuri kehidupan.
Aku mulai pasrah menelanjangi kepribadian sesungguhnya pada diriku. Aay sebagai orang yang jauh di seberang kota, kehidupannya yang berbeda dengan kehidupanku tentu memang tak layak pakai atas seorang aku. Tapi entah kulitku yang jauh gelap dari kulit wajahnya yang tetap segar dengan bias-bias bedak mahal, masih saja terlalu seberani ini.
Banyak yang aku tanyakan tentang Aay dalam percakapan tanpa tatap wajah. Banyak pula yang Aay tanyakan dalam percakapan yang berbatas suara. Aku tidak paham dengan wanita yang baru saja aku kenal, yang sudah memiliki keberanian yang lebih berani dari semua keberanian yang aku beranikan. Ia begitu bugil menceritakan semua petala kejadian dalam hidupnya. Tak ditampik itu pahit atau manis, Aay tetap lancar mengalir dengan kisah-kisah hidupnya kepadaku. Aku yang mulai merasa tertantang dengan apa yang sudah wanita kenalanku sampaikan, gelisah apabila ambigu, diam dan hanya menyaksikan. Kenapa tidak bagiku untuk menyaingi kisah hidup Aay yang sangat miris menyedihkan? Sedang aku pun memiliki sejarah yang aku rasa lebih pedih di hati. Kita pun saling telanjang membagi kisah lalu.
Setiap itu aku dan Aay selalu menuangkan kisah-kisah pribadi. Rasanya waktu yang dimiliki telah berdua. Malam itu aku jauh lebih berani memangkas persahabatan. Aku nyatakan hati pada Aay. Segala pasrah berkumpul dalam benak. Mengabai yang akan terjadi perihal kepedihan.
“Rindu, sebelum kau seberani itu padaku, apakah kau siap menanggung masa lalu tentangku?” Ucapnya lirih di seberang telepon.
Sementara aku yang kejang dalam kamar sendirian tak tentu harus menjawab apa. Berat memang jika harus terkatung dengan masa lalu, sedang untuk menanggung tekanan dan seruan hati ini pun juga cukup jauh lebih berat. Tak ada yang dapat aku akhirkan kecuali dengan, “Iya, aku akan menganggapmu di masa sekarang ini,” ucapku.
Entahlah, sebagai penyandang rasa sayang, hati seketika pun melayang, jauh sekali terbang ke awang-awang. Pernyataan Aay dengan kebahagiaannya yang sangat katanya mendengar pernyataan dariku, telah membuat aku lena. Mulai saat itu panggilan nama dari kita masing-masing sudah tak lagi yang didagingkan oleh kedua orang tua. Ada yang berbeda, penyambutan kata Sayang, tiba-tiba saja pelan dan beralun lembut di gedang telinga, menyusup ke nun jauh di dalam hati sana.
Aku percaya antara jalan yang telah aku sepakati dengan wanita yang saat ini adalah kekasihku, adalah arena pertempuran nafsuh dan rindu. Kelak akan ada yang ditaklukan beriringan dengan salam perpisahan atau keberlanjutan yang sebaliknya dari perkiraan. Sepanjang aku memilin rindu-rindu dan kasih sayang darinya, selama itu pula aku menepis gelisah, berani saja menyemai cinta tanpa paksa.
Usia terus beradu dengan hati. Aku sudah setengah tahun berada di Kota Jogja, menuntut pendidikan. Dan hubungan dengan Aay sudah hampir satu tahun. Selama itu ia menjadi wanita yang malaikat sekali di hati. Dengan seruannya untuk menjadikan aku lelaki bertaqwa tidak tanggung-tanggung, membuat semangat terbakar berkobar-kobar. Aku hanya termangu menangkap indah kebersamaan.
Meski ada walau yang harus aku jauhkan dari fikiran. Seperti halnya cemburu, perasaan demikian menjadi lingkaran yang tak bisa aku lepaskan. Setiap detik ceritanya lahir tentang kekasih yang pernah membuatnya terpikat kelilipan, semua itu membuat aku bertanya tentang siapa posisi aku sebenarnya dalam hati wanita pujaanku. Sudah, jangan dibahas terlalu panjang.
Ketakutan-ketakutan yang begitu lama bersarang, dan sekuat kekuatan aku memalingkannya pada perasaan lain, tapi  tetap saja aku tak bisa membuangnya. Aku rasa ini tak ubahnya kesengajaan yang Aay buat untuk menguji keteguhan hatiku. Hanya saja ujian seperti itu akan melemahkan cinta yang Aay yakini dari diriku.
Ok lah, laki-laki mana di antara kalian pembaca cerita ini yang akan mampu bertahan, kalau di setiap jengkal percakapan dengan sang kekakasih kalian, kalian selalu dicekoki oleh masa lalunya. Bahkan sampai pada suatu ketika aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang kekasihku tanyakan. Bukan karena aku tidak bisa berpikir yang membuat aku tidak bisa menjawab, melainkan karena hati sudah letih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Aay yang berkaitan dengan kekasihnya yang dulu.
Mungkin orang yang aku sayangi masih terlilit oleh kekasihnya yang dulu atau apa aku pun tak tahu. Yang jelas lidah menjadi keluh ketika ingin mempermasalahkan sebuah masalah dalam hatiku. Aku merasa akan menjadi besar jika masalah yang hanya dirasakan hatiku, kemudian aku permasalahkan kepada Aay yang sebenarnya tidak merasa bersalah sama sekali.
Aku hanya mampu menjadi garis-garis diam di antara lelembaran kertas yang aku tulis. Sejauh ini aku hanya berdoa semoga Tuhan Yang Maha Pencipta mampu menjaga dan terus menanam kesabaran di hatiku.
“Ya Allah, jika ia jodohku perdekatkanlah hamba dengan nya. Jika memang kami ditakdirkan bersama oleh Engkau, ampuni segala kehilafan di hati hamba, dan sirami kebersamaan kami dengan bunga-bunga kebahagiaan, serta mekarkanlah kepercayaan di antara kami agar kecurigaan tak lagi semerbak. Namun jika kami bukan jodoh yang Engkau kehendaki, peliharalah hamba dari kekecewaan, dan ambillah kebahagiaan nya ketika hanya dengan hamba. Engkau yang maha segala, dan hanya kepada-Mu tempat mencurah segala kesah.” Ucapku dalam doa setelah selesai menunaikan sholat maghrib.
Malam kembali datang menyergapku. Seharian Aay tanpa kabar, entah ke mana ia, aku pun tak tahu. Beberapa kali aku sms tidak dibalas. Bahkan aku hubungi nomornya pun tak aktif. Sungguh kabut malamku kali ini. Kekasih yang tanpa kabar membuat jantung ikut berdebar. Padahal malam ini aku sangat membutuhkan kasih sayang dari orang yang aku sayang. Perasaan yang kalang kabut karena banyak sekali tugas di kepala yang belum kelar, dan kini ditambah lagi dengan tugas baru, Aay sudah menghilang tanpa kabar.
Kutilang tengah bersiulan di antara dahan-dahan yang masih gelap. Pagi begitu buta, aku terbangun, samar-samar alam di luar rumah sudah mulai menampakkan dirinya. Aku ambil wudhu’ kemudian menunaikan sholat subuh di rumah. Setelah ritual ibadah selesai, kuambil HP yang sudah ku tinggal semalaman, entah mulai jam berapa aku tertidur, yang jelas sudah lupa.
Atas ketidak sadaran yang sudah aku lalui semalam, ternyata ada tiga pesan singkat dan dua panggilan tak terjawab, semua itu dari Aay. Spontan jemariku pun menari di atas layar HP, ingin menanyakan kemana saja ia semalam.
Sepuluh menit masih tanpa balasan apa-apa dari Aay. Aku mulai tak sabar. Hendak saja aku memanggilnya, ternyata ada satu pesan masuk. Kulihat dan kubaca pesan yang dikirim oleh Dedy. Ya, dia sahabatku yang sudah lama aku kenal. Kepribadiannya sudah juga aku kenal dari dulu. Dia orang yang terkenal jujur menurut akal sehatku.
“Cie, cie, kamu kemaren jalan-jalan kemana aja sama si Aay. Kok kayak romantis gitu makan pentolnya berduaan.” Pesan dari Dedy membuat aku kaget. Seperti ada petir yang menyambar di dada.
Aku hirau pesan singkat yang dikirim oleh Dedy. Secepat kilat jemariku liar mencari tombol-tombol HP untuk kemudian menelepon Aay. Hanya tersambung dan tanpa jawaban. Aku memaksanya lagi hingga tiga kali. Kemudian baru ada jawaban dari Aay.
“Halo, iya kenapa Sayang?” Suaranya masih agak parau.
“Kamu kemarin jalan sama siapa ke warung pentol? Cowok itu siapa kamu? Jujur aja aku nggak bakal marah.” Ucapku dengan nada yang santai dan rendah.
“Ooh... itu si Rifki mantan aku..uups..ada apa Sayang? Kamu tumben kamu menghubungi aku pagi-pagi?” Aay seperti salah tingkah di seberang sana.
“Rifki ya Sayang? Hehe. Ya nggak papa kok, kamu kayaknya emang romantis banget kemarin sama dia. Yaudah ya, aku mau makan, mau mandi dulu. Assalamualaikum..” Kututup telepon tanpa mendengar jawaban atas salamku dari Aay.
Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk memaafkan kekecewaan yang rasanya semakin ingin memenangkan pertarungan dengan kesabaran. Aku harus kuat ketika menghadapi masalah seperti ini, tanpa harus memperdulikan apa yang masih belum ku lihat sendiri. Beberapa jam kemudian hati yang berkeping, aku satukan satu-persatu puingnya yang patah berserakan itu. Aku harus tetap merangkul apa yang akan membuat kebersamaanku dengan Aay menjadi kacau.
Kutukar fikiran yang hancur untuk kembali fokus. Kebiasaan yang biasa aku lakukan ketika menghadapi masalah seperti ini biasanya akan lari ke sawah-sawah untuk mencurahkan kepedihan pada kertas kosong. Mendung tebal yang menjadi membuatku harus mengalah. Tapi bukan berarti aku tidak harus menulis hari ini. Tanpa sawah aku masih punya fesbuk yang kerap aku manfaatkan untuk menuai segala kepedihan.
Beberapa detik menunggu proses internet yang segera menghubungkan HPku ke fesbuk. Dan akhirnya terbukalah fesbukku. Kembali gemuruh menghujam dada. Hampir saja dada meledak, aku tersungkur di pojok kamar sendirian. Ada salah satu akun fesbuk yang menandai foto berduaan dengan Aay. Dia adalah seorang laki-laki dari masa lalunya. Seorang yang baru saja aku cakapkan dengan kekasihku.
Aku berusaha untuk menghampiri dinding profil fesbuk Aay, ternya dia pun juga sedang aktif. Tapi ada yang aneh, foto yang baru saja aku lihat, sudah lenyap dari dinding fesbuk Aay. Aku tahu, kalau kiriman itu disembunyikan oleh Aay dari dindingnya. Petir kembali menyambar. Rasanya sudah menang kekecewaan ini. Aku lihat kesabaran telah lantak.
“Ay, tidak perlu kau tawar lagi wajah cantik yang asin dengan air sungaiku yang keruh. Setidaknya aku paham makna kata tiada dalam ada ketika engkau menghilangkan jejak dalam hidupmu. Seperti nafas yang kulepas dari kantung dada, tersengal aku menyibak cinta yang tulus dan kamu pun abai akan semuanya,” suaraku parau dalam telepon.
“Rindu, maafkan aku yang mungkin saja terlalu karam di masa lalu. Jujur cinta bagiku adalah budaya, ia selalu dibawah oleh tetuah lalu. Aku harap hilangmu bukan semata karena kebaruan, melainkan masa yang terlalu menikam indah di belakang. Aku menyayangi dengan cara sendiri, termasuk harus menghapus engkau saat ketakutan merajai aku yang wanita.”
“Ay, pahami budaya cintamu. Di sini aku tetap untuk sehelai saja. Biar hujan dan musim kemarau kelak membuktikan sendiri akan teduh serta nikmat kekeringan jiwa. Aku cukup mengerti, kalau angin yang engkau telanjangi bukan nafas yang dahulu ditasbih atas sajadah, juga sendiri rintih air matamu yang mengekang malam hilang. Selamat indah sayang...”
Sekian...

Kamis, 11 Februari 2016

TAK SANGGUP SENDIRI




             Apa itu rindu? Bagaimana sebenarnya cara hati merasakan? Apakah semua yang dilakukan atas keyakinan akan menjadi jalan yang mulus tak berintang? Atau adakah rumus untuk menjadi sebuah pembeda keyakinan nurani dan nafsu birahi? Sedang aku sendiri hanya sekedar sosok manusia yang rentan. Tidak jauh berbeda seperti manusia kebanyakan, yang bisa merasa jatuh cinta kapan saja. Dan bahkan rasa sakit dapat saja aku lalui tanpa jadwal dan waktu tibanya. Semua instrumen-instrumen kehidupan memaksaku untuk melaluinya. Ia seakan tidak pernah tahu bagaimana jika luka terlalu pedih untuk seorang aku. Seorang wanita yang hanya bisa pasrah ketika semua yang terjadi bagai diluar prediksi hati. Bahkan kompas kehidupan ikut bingung menentukan arah sekeliling.
            Dalam ruang ini aku mematuhi segala gelisah yang serupa hantu. Bertahun-tahun aku menikmati bukan semakin membuatku berani. Melainkan, semakin menikam ketegaran yang sekuat tenaga terbangun, hingga sebelum menjulang telah runtuh berkeping-keping.
            Sejak pertama aku merelakan waktu untuk membentang jarak bagi hubunganku dengan Liela−kekasih yang mencuri keyakinan hati sejak di bangku SMA dulu. Aku dan Liela sudah dua tahun lamanya memupuk rindu yang tersemai sejak kepergiannya. Ia mengejar pendidikan S1-nya ke luar negeri. Malaysia. Sejauh ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Kita hanya mengobati rindu dengan percakapan-percakapan yang sederhana lewat gagang telefon. Media sosial adalah jembatan lain yang menghubungkan serombongan gelisah ketika gejolaknya merajai hati. Kita selalu yakin terhadap apa yang akan terjadi, bahwa akan menjadi sebuah keindahan yang tertunda. Sebagaimana kata-kata yang Liela ucapkan dengan tulus pada saat terakhir kebersamaan di pantai Lombang. “Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Kita tidak bisa menduga jawaban apa yang akan menjelaskan gelisah pada hari ini. Keindahan dan kesedihan hanya berada pada sejauh mana perasaan mampu membungkusnya. Ketika ia tidak mampu, maka kesedihanlah yang akan hadir sebagai jawaban apa yang kita usahakan. Namun sebaliknya, jika perasaan kita kuat, apapun yang akan kita rasakan akan menjadi sebuah hikmah kebahagiaan” ucapnya sembari memegang jemari tanganku.
            Sejak saat itu air mata menjadi saksi tulus merelakan kekasih pergi untuk mengejar pendidikannya. Liela mengambil jurusan psikologi umum di salah satu universitas ternama di Malaysia. Universitas Putera Malaysia. Liela mendapat program beasiswa di sana. Sedangkan aku hanya kuliah di Kabupaten Sumenep, sang tanah kelahiran. Aku di Universitas Wiraraja mengambil jurusan hukum. Jarak sejauh itu adalah sebuah jarak yang cukup menyulitkan untuk membuang kecemburuan-kecemburuan yang menyerang serupa serangan anak panah yang runcing. Sejauh kekuatan menepis perasaan-perasaan buruk, aku selalu berusaha memalingkan semuanya. Namun belum dapat kita pungkiri dengan banyaknya kesibukan kuliah, kadang juga menuai kecurigaan yang berlebihan. Curiga ditambah curiga selalu melahirkan konflik yang selesai dengan peretengkaran. Hanya saja diujung penyadaran dari salah satu, menjadikan kita saling memaklumi. Maaf menjadi jalan lain demi keabadian sebuah hubungan.
            Pernah pada suatu waktu Liela tidak menghubungiku selama tiga hari. Spontan aku curiga terhadap apa saja yang telah dia lakukan di sana. Dia tidak pernah mengangkat telefon dariku selama itu. Kemarahanku pun tiba di batas sabar. Aku memarahi Liela. Mengabaikan semua penjelasan yang dia berikan kepadaku. Meski Liela bilang kalau dia tengah mendapat banyak tugas dari para dosen yang dari Indonesia. Dia dikejar waktu secepatnya untuk mengerjakan tugas itu. Aku dengan mudah tidak percaya. Fikiranku berkata lain. Aku terus menuntut dia sedang dengan wanita lain, sengaja menghindar dari aku, sudah bosan dengan diriku. Sembarangan saja kalimat yang terlepas tanpa kontrol. Hingga aku berniat menjauhinya. Tangis dan tangis selalu menjadi isi kesunyian kamar. Namun pada kesempatan lain, saat Liela meminta maaf mengakui kesalahannya yang tidak salah. Kita kembali berdamai. Aku menerima maafnya. Hingga hubungan kembali harmonis seperti dahulu.
            Bulan mengambang di antara bintang-bintang. Suaara burung hantu bersahutan di antara janur kelapa.  Aku meratapi dinding kamar yang terasa kosong. Entah apa yang akan terjadi setelah aku kembali bersama dengan Liela. Menjadi sepasang suami isteri. Aku yakin kelak kamar ini akan menjadi kamar sejarah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan pada kamar ini aku juga yakin akan ramai dengan manja anak-anak kami. Duh, sudah terlalu jauh aku menghayal kehidupan. Semenjak aku mencintai Liela, aku memang suka menghayal. Membayangkan tentang kehidupan masa depan. Yang sebenarnya masih tidak jelas akan berbentuk seperti apa terjadinya.
            Sajadah terhampar menjadi alas doa-doa. Rinai air mata berdansa di atasnya. Sejarak ini aku merasa rindu membaur dengan cemburu. Aku ingin merasakan dekapan peluk seorang kekasih. Yang kehangatan-kehangatannya mengantarkan aku pada sebuah arti makna ketenangan. Bukan dengan salam-salam yang sama sekali tanpa tatapan wajah. Dan aku juga tidak prnah merasa bahwa aku akan menjadi seorang yang sungguh-sungguh dibahagiakan oleh Liela. Bahagia yang sungguh dicita-citakan oleh Liela.
            Seperti ada yang aneh memang dengan perasaanku sekarang. Aku terlalu gampang marah sama Liela. Semenjak aku bergabung dengan salah satu organisasi eksternal kampus. Aku memiliki banyak teman. Relasi dengan mereka semakin hari semakin kental. Sedangkan waktuku yang luang untuk Liela hanya sebentar. Malam hari kadang sering aku ketiduran. Meninggalkannya dalam ombrolan. Ditambah banyak kemarahan-kemarahan yang tidak jelas kepadanya. Namun kadang aku memang sering merasa bersalah menghadapi semua kenyataan ini.
***
Waktu berjalan dengan lambannya. Sungguh sangat lama dua tahun ini bagi jiwa yang menunggu. Aku semakin dibuat pusing dengan jelmaan rindu yang manakutkan sekali. Kadang ia berupa binantang buas. Juga tak jarang ketika di dalam mimpi, ia serupa pria tampan yang memaksaku mencintainya. Beberapa kali aku dilamar oleh pemuda desa sini. Para tokoh-tokoh masyarakat yang hadir ke rumah untuk meminangku, tidak satu pun di antara mereka yang aku terima. Hati ini masih terlalu kaku. Sudah teguh untuk mencintai kekasih hati yang sudah lebih dulu meyakini jiwa. Bahwa tidak akan ada bahagia lain sehebat bahagia bersamanya. Bahkan insya Allah, hanya hati Liela yang suci mencintaiku.
Maka atas dasar kerinduan. Ketulusan cinta. Kesucian hati, aku berani menuaikannya lewat tulisan untuk selalu memberi kehidupan seabadinya atas rasa yang sedang aku miliki saat ini. Sering aku bertukar pesan sebagai bentuk pengungkapan hati yang tengah dirundung asmara. Namun demikian tidak berlangsung lama. Perasaan perlahan mulai memudar kepada kekasih yang tak tersekat waktu walau sebenarnya terkotak oleh jarak. Sejak aku aktif di organisasi eksternal kampus. Betapa tidak terpungkiri adanya bahagia-bahagia yang merangsang nadi penghidupan. Perkenlanku dengan kakak senior bernama Junaidi, sedikit banyak telah merubah bentuk hati yang mulai tidak utuh lagi. Utamanya pada keutuhan hati yang coba aku teguhkan dengan cinta kepada Liela.
Pada saat ini aku menemukan dunia baru. Dunia yang membentuk bahagia tersendiri dalam kalbu. Tidak ada kesibukan yang membuat renggang berkomunikaasi dengan kekasih menjadi hal mengecewakan dan menyakitkan. Melainkan telah menjadi sebuah keinginan yang semakin ingin aku kecap akhir-ahir ini. Tiada aku duga aku akan dilema hal mengindahkan itu. Pada sisi lain aku ingin mempertahankan perasaanku dengan Liela. Namun pada sisi yang lain juga aku seakan tidak percaya dengan kehidupan yang membelenggu serupa hantu-hantu menakutkan itu. Itulah kerinduan yang selalu membuat hati ini resah.
“Sudah lah Rof. Sebaiknya kau ikuti saranku. Kau lupakan saja Liela. Bukankah kamu sering tidak diperhatikan olehnya dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal seperti itu. Kau harus membuka hati yang baru selama dia jauh. Kamu wanita yang cantik. Aku yakin akan banyak laki-laki yang mau menjadi pacarmu. Itu si kak Junaidi.” Ucap Husna kepadaku saat aku mencoba mencurahkan kekalutan jiwa.
Aku belum begitu yakin dengan saran yang ditawarkan sahabatku Husna. Itu semua karena hati ini memang benar masih memiliki rasa dengan Liela. “Kesibukanya kan kerena dia banyak tugas. Bukan kesibukan yang tidak penting kan Na? Gimana ya? Aku bingung, dilema. Apalagi saat kak Junaidi kemarin bilang kalau dia suka sama aku.” Jawabku sembari meneteskan air mata. Aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. Dua laki-laki yang sama menawarkan bahagia kepada diriku. Aku menyandarkan kepala di pundak Husna. Malam dengan langit berkabut menutupi sejajaran bintang-bintang. Bulan tidak terlihat menggantung lagi di atas sana. Kilat membentuk cahaya dengan cepatnya, seperti cahaya lampu kamera wartawan yang sedang mewawancarai seseorang terkena kasus. Mungkin aku diantaranya yang tengah bersidang dengan perasaan. Gemuruh guntur mengeleggar dari balik awan. Sebentar lagi hujan akan turun. Mungkin setelah gerimis ini bosan dengan rintiknya yang tidak membahagiakan bumi.
Sesuai dengan saran sahabatku, Husna. Aku menerima kak Junaidi sebagai pengganti kekosongan hati saat ditingal Liela. Aku mulai menghindar dari Liela. Namun aku tidak berani memutuskan dia. Aku ingin dia yang mengucapkan kalimat sedih itu duluan. Bukan aku. Aku merasa sedikit resah dengan gelutan perasaan ini. Ada rasa yang tidak tega kepada Liela yang telah aku tinggalkan tanpa sebab musabab pasti. Beberapa kali Liela menghubungiku. Maka aku juga tidak pernah menanggapinya. Hingga pada suatu malam. Seminggu setelah aku menghindar dari Liela. Seminggu pula usia jadianku dengan kak Junaidi, tiba-tiba ada sms dari Liela yang tidak terbaca. Ku buka pelan-pelan pesan singkat itu dengan gundahan hati yang sungguh gulana ketakutan dengan keramaian sedih yang akan mengisi.
Rovit kekasihku. Bergetar tangan ini tatkala hendak menuliskan suara hati yang tengah bersedih ini. Lantaran aku sudah mendengar, sudah pula mengetahuinya. Engkau yang sudah tidak akan pantas lagi dengan segenap pengharapan ini. Aku yang sudah haram atas deretan doa-doa sucimu. Sungguh itu adalah maut yang tidak bersayap. Maut yang merangkak menghampiriku dalam negeri kosong ini. Aku di sini sudah tidak memiliki siapa-siapa. Dan kepunyaan yang akan memberiku ruang di negeri sendiri, kini pintunya sudah tertutup untuk laki-laki sepertiku. Aku tidak tahu kepada siapa lagi rangkaian bait puisi akan mengadu, mencari orang untuk menjadi tempat terindahnya bercurah. Dosa apakah yang aku lakukan terhadapmu? Sehingga engkau menjadi sekejam ini. Membunuh segenap harapan yang aku yakini adalah nafas lain kehidupanku sekarang hingga kelak kematian tiba. Apa kau dijodohkan oleh sahabatmu? Jika benar, aku yakin cintamu sungguh tidak suci kepada kekasih barumu. Kamu hanya menjadikannya sebagai sandaran belaka dalam rindu jarak kita. Maka akan sungguh kejam hatimu sebagai wanita Vit. Kamu menganiaya banyak hati, lalu memutilasinya hingga menjadi berkeping-keping. Aku harap Tuhan memaafkan segala dosamu. Aku akan mendoakanmu dari jauh, mantan hati.”
Air mata menetes tak terasa. Hingga basah seluruh pipi yang bergurat duka. Lengang seketika kamarku. Bahagia yang sedari tadi aku tenun dengan berjalan-jalan dengan kak Junaidi, hilang menjadi serpihan kalimat sesal yang menyelubungi seluruh ruangan. Husna yang berdiri diambang pintu, rupanya melihatku dari tadi. Ia mendekat menghampiriku. Berbicara banyak sekali, tapi fikiranku belum menangkap apa yang dia katakan. Sepertinya dia menjadi sosok motivator yang memberiku semangat. Husna menyarankan untuk aku lebih tegar menghadapi keadaan ini. Sebuah keyakinan yang tidak kuduga akan lebih membuat hati terhujam.
“Na, kamu jangan bilang-bilang pada siapapun kejadian ini. Termsuk kepada kak Junaidi. Aku tidak mau semuanya semakin berantakan.” Aku menyampaikan sesuatu kepada Husna yang sudah banyak sekali bicara dari tadi di sampingku.
“Ok. Sebagai sahabat kamu, aku tidak akan bilang pada siapaun kejadian ini. Kamu tenang saja. Sebaiknya kau jelaskan yang sebenarnya kepada Liela sekarang. Balas saja itu sms-nya.” Saran Husna sembari menepuk bahuku memberi semangat dan beranjak pergi dari kamarku, meninggalkan aku sendirian dengan tanda tanya hidup. Betapa aku memang ingin mengatakan yang sesungguhnya kepada Liela. Akan sirna semua ketulusan yang pernah terbangun dalam hidup sedari dahulu. Jemari mulai menari-nari di atas tombol HP. Merangkai beberapa kata sehingga menjadi sebuah bungkusan kalimat indah. Aku tidak ingin ada yang lebih tersinggung dari kalimatku nanti. Walau sebenarnya singgungan sudah menikam keras hati Liela. Ia sudah benar-benar merasa kecewa kepada diriku yang mengabaikannya.
Aku tidak disatukan oleh siapapun. Tidak ada peran orang ketiga dalam kejadian ini. Sahabatku tidak terlibat. Aku menentang hati sendiri, menantang janji-janjiku padamu. Maafkan aku. Namun ini adalah murni pilihan hati untuk menjadikan rindu tidak lagi sesakit yang kerap aku rasa sepanjang waktu. Aku melakukan tindakan seperti ini, karena aku butuh bahu untuk bersandar kala bersedih. Ada jemari yang akan menyeka air mata. Ada pelukan hangat yang akan menjadi selimut dalam dinginku sepanjang malam. Maafkan aku, aku memang telah  mengecewakanmu. Sekali lagi itu semua karena aku tidak bisa tenang dalam jarak ini. Dalam kerinduan yang sering menghujam ganas ulu hati dengan kebingungan-kebingungannya. Aku tidak mau menjadi gila. Maafkan aku...”
Itulah pesan singkat yang aku kirim sebagai balasan pesan sedih kepada Liela. Kekejaman hanya akan menjadi sangat terasa jika seseorang benar-benar mendapat ketulusan dalam hatinya. Jiwanya tersemai dengan bebijian suci. Hanya sayang, demikian yang ingin sekali aku dapati atas hati sendiri, tidak bisa seindah mimpi. Perpisahan akan menjadi sebuah pelajaran. Kesedihan akan menjadi obat penguat agar hati sebisanya tegar dalam segala kondisi. Langkah yang baik atas keyakinan dan doa-doa, sejatinya tetaplah berbuah hikmah. Tidak jauh berbeda dengan kejadian musim. Orang yang mengeluh karena kemarau panjang. Sebagian orang lagi mengeluh karena banjir atas musim hujan yang berhari-hari tanpa redah. Untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia hanya cukup menyediakan rasa syukur. Syukurilah, karena setiap yang telah dikerjakan dengan kesadaran akan menjadi jawaban yang memusakan, walau itu tidak sesuai pilihan.

CATATAN:
Judul cerpen ini dikutip dari potongan bait lagunya Dewi Lestari yang berjudul Malaikat Juga Tahu. Serta merupakan sebagian cerita rindu dari cerpen saya yang berjudul Satu Malam Untuk Rindu. Untuk teman-teman yang suka menulis, saya ajak berkunjung ke blog pribadi saya Emas Pa’ Lekoran. Terimakasih.. :-)

KEMATIAN JUHAR MANIK




            “Kenapa kau tidak hentikan saja Ghan?” Kata Sudar. Seorang sahabat yang tetap lekat dengan aku. Yang kedekatannya selekat tulang dan kulit. Dia yang tahu bagaimana aku seketika telanjang. Mengetahui semua sisi dari diriku. Siapa yang tidak kenal sosok seorang Ghani di Desa Tamidung ini? Seorang laki-laki yang sudah belasan kali menikah. Semua istriku pun adalah para wanita yang masih perawan. Tidak ada wanita yang aku nikahi dari mereka yang sudah pernah menikah. Mereka semua adalah kembang desa yang masih kuncup dan segar-segarnya. Dan siapa pula yang tidak kenal dengan Sudar. Dia adalah orang yang paling dekat dengan ku. Ghani si paling sering menikah. Sudar teman dekat Ghani. Begitu warga menjuluki diriku dan Sudar. Hanya saja Sudar tidak seperti diriku. Dia hanya memiliki satu isteri. Aku dan Sudar menikah bersamaan. Hanya berselang beberapa hari saja. Lebih dulu aku empat hari darinya. Tapi aku sudah pernah memiliki isteri tujuh belas sejauh ini. Sementara Sudar masih dengan Marwani, isteri pertamanya. Bahkan Sudar sudah memiliki satu anak. Maka wajah Sudar dan wajahku pun jauh berbeda. Sudar tampak lebih tua. Keriput dan uban putihnya menghiasi usianya yang sekarang. Sedang aku masih segar tak mengalahkan wajah para pemuda yang berusia delapan belas tahun.
            Riak air laut melantunkan kalam rahasianya. Perahu-perahu berjajar setertibnya. Tampak bergoyang-goyang dari kejauhan di usik ombak laut Bintaro. Seorang gadis dengan kulit menantang cuaca bersih pagi, berjalan di atas hamparan pasir putih bintaro. Kerbai kerudung merah jambunya seperti melambai memanggilku segera mendekat. Sekarang usiaku sudah empat puluh lima tahun. Dan dengan mantan isteri yang sudah sebanyak tujuh belas wanita perawan. Namun tidak juga membuat birahiku puas. Sepertinya wanita itu akan menjadi isteri yang kedelapan belas. Perasaan kembali menjalar menguasai mata dan merangsang urat syaraf. Hingga paling intimnya menasbihkan keinginan.
Ku perkirakan usia gadis yang melintas sepuluh meter di depanku berkisar lima belas tahun. Sungguh akal manusia yang bejat yang ingin menikahi gadis seusia dia. Suara bibir masyarakat pasti akan sedap hinggap di telinga bila demikian benar terjadi. Tapi aku sama sekali menganggap bukan hal yang baru. Demikian sudah menjadi hal biasa bagi ruang dengar ini.
            Langit perak keemasan memungkas waktu siang. Senja mengakhiri di ufuk cakrawala. Bulan sabit segera menggantung di langit. Merayap mengintai langit barat sampai selesai di ujung pagi yang tiba. Waktu sepagi ini, jam 01.30 dini hari, selesai sudah suasana senja dan malam yang tetap beradu. Seperti biasa aku terbangun. Dalam remang hayalan terlintas nama seorang gadis. Yani. Dialah gadis kampung yang masih perawan ting-ting. Dia masih siswa kelas akhir Madrasa Tsanawiyah. Bibir hitamku komat-kamit sembari mengelus-elus botol kecil yang aku genggang dengan jemari. Namanya terlintas pada kalimat sren-asren yang aku baca. Berharap minyak juhar manik malam ini kembali berpihak kepadaku. Dialah rahasia kenapa aku selalu laris untuk wanita perawan di kampung ini. Ketika aku colekkan minyak juhar manik pada sebagian kulit tubuhnya, pastilah si wanita akan kesengsem kepadaku. Malamnya akan terhantui oleh mimpi-mimpi bersamaku.
            Juhar manik dengan aroma khasnya yang hendak merobohkan tiang hidung itu mulai beraksi diantara jari manis tanganku. Sebelum aku bertemu dengan Yani. Ku oleskan juhar manik pada bagian alis mata yang kanan, melanjutkannya ke yang kiri, kemudian membentuk huruf alif menjulang di pertengahan kedua mata. Tepatnya lurus dengan arah hidung. Aku membacakan mantra ampuh. Mantra mahabbah yang diberikan oleh guru pagaran ku dulu. Guru Suto, yang juga sang penemu minyak juhar manik pertama kali. Juhar manik ditemukan ditengah laut oleh guru Suto. Entah bagaimana proses pengambilannya aku juga tidak cukup paham. Hanya yang jelas aku merasakan manfaat yang sungguh membuatku bahagia dengan memiliki juhar manik. Khususnya dalam meraup banyak wanita perawan ke pelukanku. Mereka yang menikah denganku, sebenarnya bukan kehendak nurani hatinya yang suci. Mereka hanya sekedar terbius mantra ampuh yang dimiliki minyak juhar manik.
            Juhar manik tidak hanya dapat digunakan kepada perempuan saja. Ia juga dapat meluluh lantahkan kemarahan orang yang memiliki niat jahat kepada sang pemilik. Sudah tiga puluh tahun lebih aku menyembah, meyakini juhar manik. Karena sepanjang itu aku merasa tidak dikecewakan oleh nya. Pernah suatu ketika. Pada saat aku mencalonkan jadi kepala desa di Desa Tamidung. Saat aku terpilih, banyak orang yang memburuku. Para blater yang kebal tubuhnya, tak jarang mengintai leher untuk dipenggal. Berkat juhar manik. Ketika bertemu dengan musuh-musuh politikku, mereka jadi luluh dan memanuti apa yang aku ucapkan.
***
            Derrik jangkrik dan hewan kecil lainnya menjadi orkestra peralaman desa. Seperti piano yang dipetik dengan nada lembut sayapnya. Gerak getar kecepatannya menghasilkan nada yang indah, terkombinasi dengan beberapa pemain musik alam lainnya. Suasana pedesaan yang terpencil menjadikan banyak keunikan dibanding wilayah non desa di sana, yang sudah makmur dan maju. Saat pernikahan pertamaku dengan Sahrati ada nuansa sejarah yang terkait lekat sebagai bayang-bayang kehidupan.
            Usia pada saat itu masih lima belas tahun, aku resmi menjadi suami Sahrati. Aneh. Memang aneh bagi mereka yang tidak menjamah kondisi sosial di tempatku. Aku yang hanya menelan pil pendidikan sampai bangku SD. Selepasnya aku menjadi kuli cangkul di tegalan. Berperang keras dengan tanah Madura yang kerontang. Kulit mengkilap legam terbakar matahari. Selama itu aku mencari makna hidup. Hingga pada akhirnya bertemu dengan sosok sakti bernama Suto. Dialah guru pagaran ku. Berbagai ilmu aku petik darinya. Kekebalan, ilmu hitam, pencak silat, dan berbagai macamnya. Selama kurang lebih lima tahun aku berguru pada Guru Suto. Orang sakti mandraguna di desa sebelah.
            Tak jarang setelah selesai ritual penyerapan ilmu, aku berbincang hangat dengan Guru Suto. Kopi hitam dan rokok lintingan menjadi sahabat akrab kami selama itu. Jatuh suatu ketika aku mencurhatkan sebuah keinginan untuk menikah. Aku kesengsem pada Sahrati. Kembang desa, banyak orang berkicau. Tapi adalah ketidak mungkinan jika aku mampu merenda hidup dengan gadis seperti Sahrati. Seorang kuli cangkul dengan otot kekar, terus menggenggam kayu yang sehari-hari dihantamkan kuat pada tanah kerontang semusim kemarau. Namun hal demikian tidaklah sesulit yang terbayang. Guru Suto memberi sebuah pintu. Pintu yang akan membawa aku menjadi siapa saja. Menjadi apa saja. Menjadi bagaimana yang aku inginkan. Sebelum aku merajuk kembali ke gubuk reot. Tangannya meraup tanganku. Mencegat aku yang segera kembali untuk pulang.
            “Ada yang ingin aku berikan.” Ucapnya lirih dan takdzim. Aku terhenyak sesaat. Membaca lamat-lamat tentang artikulasi kalimat wajah sang Guru.
            “Iya Guru.” Tak banyak kalimat yang mengutara dari diriku. Cukup sederhana sebagaimana aku menjaga kesopanan kepada orang yang banyak menyublim diriku tentang makna menghargai keterbatasan. Keterbatasan dalam berfikir.
            Guru Suto kemudian memerintah diriku untuk membuka baju. Tepatnya hanya tersisa kain sarung kusut yang sudah bertahun-tahun usianya tidak aku ganti. Didudukkanlah aku di atas kursi bambu. Di sampingku terletak gentong yang berisi air yang dicampur bunga tujuh rupa. “Kau akan ku sah-kan malam ini Ghani.”
            Ku lirik bibir Guru Suto yang bergerak-gerak beraturan. Gerakannya sama saja, bibir atas ke bawah, bibir bawahnya ke atas, hingga bertemu sesekali di tengah lubang mulut rentanya. Aku tak paham apa yang guru baca. Kalimatnya terlalu cepat melesat antara getar bibirnya. Tanpa menyahut sekata saja, aku diam menuruti apa yang guru suruhkan. Saat mata hendak terpejam. Aku merasa jasat tertukar. Aku melihat tubuh disayat-sayat dengan celurit oleh sang guru. Tapi tidak ada darah bersimbah pada kejadian itu. Aku hanya terperangah di atas awang-awang. Terakhir aku lihat tubuhku disiram dengan air gentong yang bercampur dengan bunga tujuh rupa. Kemudian aku hilang entah ke mana. Seketika mata terbelalak aku telah menjadi diri sendiri. Tapi aku tidak menemukan guru Suto di sampingku. Kemana dia. Aku tidak tahu. Sesekali aku mencarinya. Memanggilnya. Tapi tidak ada yang aku hasilkan dari segala usaha. Sia-sia. Guru  tetap tidak ada.
            Langit masih dengan warna gelapnya. Purnama yang merayap sudah sedikit menjauh ke barat dari arah pandang. Bintang-gemintang masih utuh bertaburan di langit. Kokok ayam mulai bersahutan di penjuru kampung. Aku pulang menelusuri semak belukar rerimbun hutan. Karena berjam-jam mencari guru Suto yang hilang, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. Remang pagi mulai terasa. Pancaran garis fajar pada kaki langit timur segera menjelma terang dari butanya disepagi ini. Ada yang menggelintur di dadaku. Aku sedikit terusik dengan sesuatu yang sepertinya terikat lekat di leher. Kalung. Juhar manik menggantung sebagai kalungku. Fikiran sedikit menerjang ke arah jauh. Menerka-menerka semampu ingatan. Mencoba memecah beraikan soal benda yang terikat di leher. Ya, ternyata ini kalung minyak juhar manik yang dipakai oleh guru Suto. Dan pada saat itu aku paham kalau kalung minyak juhar manik sah diwariskan kepadaku, sebagai muridnya. Soal penggunaan dan cara memberinya makan aku sudah cukup paham. Semua itu karena guru pernah menjelaskan padaku.
            Minyak sakti itu bukan sekedar benda biasa. Ia adalah jelmaan makhluk halus. Maka perlu ia diberi makan. Dan jangan sampai digunakan pada sesuatu yang kurang berguna. Karena bisa saja dia akan membawa pemiliknya kepada hal-hal yang tidak baik. Jangan sampai kelaparan.
            Juhar manik memang bukan sekedar minyak atau benda. Setiap malam Jum’at legi pada kalender jawa, pemilik wajib membaca sholawat sebanyak minimal seribu kali. Dan jika ada emas, juhar manik juga bisa memakan emas. Makanan juhar manik hanya setiap malam Jum’at legi. Diantara makanannya yang paling gampang adalah dengan membacakan sholawat. Jika selama dua kali pada waktu makannya  tidak diberi makanan, maka juhar manik akan mati. Kematian juhar manik akan lebih bau dari bangkai binatang yang paling bau.
            Awal aku memanfaatkan minyak sakti itu, adalah pada saat ingin memikat hati Sahrati. Seorang gadis perawan, kembang desa, darah biru, bisa-bisanya tergila-gila dengan laki-laki yang jauh dari sempurna sepertiku. Aku menikahi Sahrati dengan menggunakan minyak juhar manik yang aku sentuhkan saat bersalaman dengannya pada saat acara pertunjukan ketoprak topeng di desa sebelah. Kemudian aku melanjutkan dengan mencolekkannya kepada kedua orang tua Sahrati. Sehingga tidak terpungkiri semua anggota keluarganya terpikat hatinya untuk menyegera menikahkan aku.
            Sejak pernikahanku dengan Sahrati, aku seperti menjelma menjadi sosok lelaki yang jauh lebih bermakna di mata warga. Keberhasilanku mengganti kerjaan bapak mertua menghasilkan sebuah rumah yang cukup megah. Ada dua rumah yang terbangun gagah di atas hamparan gersang bumi desa. Ukuran yang megah daripada rumah-rumah warga yang lain. Banyak uang yang mengalir tuntas ke kantongku. Hingga tidak jarang miliaran sanjungan dari masyarakat lain mengibasi sosok diriku. Usia pernikahan yang baru berumur tiga tahun dengan isteri pertamaku, aku mulai merasa tidak nyaman dengan kebersamaan yang terbangun dengan Sahrati. Ketulusan yang pernah tertata rapi dalam hati. Kini menjadi sajian keasinan. Hingga semua yang tersaji oleh isteriku tak cocok bagiku. Pada saat itu, aku memutuskan untuk talak tiga. Harta gonogini tersibak adil. Berantakan.
            Dari kejadian itu aku terbius bahkan teracuni hasrat bejat. Aku menikah berkali-kali. Dan yang demikian tidak terlepas dari keberadaan juhar manik di tanganku. Dunia gelap tanpa pintu, aku terjebak di dalamnya. Persoalan nafsu kepuasan merajai jiwa. Aku tidak paham dan tidak menghiraukan yang sudah resmi menjadi kesenangan tersendiri bagiku. Dan Sudar, termasuk orang yang selalu ada buat aku. Sahabat sejak kecil yang tidak pernah ada gurat lelah untuk menjadi penyedap rasa hambar kehidupan. Wajahnya selalu sumringah, walau sering aku mengabai terhadap apa yang ia sarankan kepada diriku. Tentang kebaikan.
***
            Ilalang menyibak purnama yang sempurna. Lancip tajam pucuknya merobek mesrah pagar ayu seorang wanita. Bahkan mawar, bunga tercantik yang berduri, luluh lantah. Kelopaknya berserakan antara ranjang dan bau kemenyan yang terbakar. Menyengat seluruh pengaruh jiwa. Tersanjung atas kembang-kembang imajinasi minyak sakti juhar manik. Gadis elok berparas muda. Berwajah ranum setengah matang. Si Yani, kini benar telah mendekap patuh dipelukan. Gadis yang aku kisahkan seketika terlibat pandang di hamparan pasir pantai. Dia telah resmi menjadi isteri ke delapan belas ku. Melayani seperti tanpa dosa. Desahan-desahan tidak aku hirau. Seperti hembusan udara yang belum aku syukuri sepanjang menetap hidup di bumi Tuhan ini.
            Jejal keramaian mulut kampung mulai ku dengar. Ramai berdesakan menyulitkan langkah nafas. Hal yang sudah biasa. Toh, mereka jika perlu pinjaman uang saat ditekan hutang dari para rentenir desa, memerlukan bantuan dari aku juga. Mereka kerap membicarakan tentang aku yang tidak menghargai status seorang wanita. Pergeseran zaman di modern ini rupanya mengancam keberadaanku. Para warga yang sudah sedikit cerdas. Terdoktrin oleh pengetahuan masa modern, dan terus mengucil memudarkan status diriku yang lalu mereka nilai sombong. Sungguh kategori yang menjengkelkan hati. Madura yang terkenal kuat menjaga perasaan terhadap seorang isteri atau wanita, rupanya tidak berlaku untukku. Para warga menggugatku untuk tidak memperlakukan wanita dengan keji. Menindas perasaannya.
            Memang siapa yang tidak tahu kalau Madura terkenal dengan tradisi carok. Sebuah penyelesaian masalah dengan menggunakan cara kekerasan. Karena menganggap dengan melakukan pembantaian masalah menjadi usai. Tuntas tak berbekas. Alasan dari para kaum blateran yang suka bercarok adalah jika isterinya diganggu. Tersinggung secara status sosial. Persoalan pamor kelaki-lakian menuntut ketat mereka untuk menjadi keras. Bahkan ketika persoalan isteri diganggu laki-laki lain, seluruh keluarga serentak mendukung untuk bercarok. Namun bukan tidak ada masyarakat Madura yang religius. Bahkan siapa tidak kenal dengan pulau yang tersandang sebagai daerah sentral kepondokpesantrenan itu.  
            Hati yang hangus karena kucilan para warga yang tidak bisa membuatku tenang sejenak. Selalu tegang dengan prinsip apapun. Aku hendak nekat untuk menjadikan mereka sebagai jalang. Dengan uang yang tidak berkurang. Dengan kemampuan ilmu hitam. Amalan-amalan islam yang kultural aku gunakan. Termasuk juhar manik yang terpaksa aku manfaatkan untuk hal-hal terbejat. Menikahi banyak wanita perawan sudah bejat. Tapi akan lebih bejat lagi jika mereka banyak yang terbunuh. Saling membunuh sesama warga. Minyak sakti milikku yang diwarisi guru Suto akan aku gunakan untuk membunuh warga. Sebagaimana multi fungsi minyak itu, dapat menjadi jahat jika yang menggunakannya orang yang jahat. Kandungan minyak juhar manik yang dapat diniatkan terhadap hal-hal buruk akan menjadi tujuan utama untuk menghancurkan kehidupan warga.
            Kemarau panjang melanda musim ini. Tanah-tanah sepanjang pesisir semakin kerontang. Buminya melonggar memanjang selebar telapak kaki, terjadi hampir seluruh tegalan pulau Madura. Kalau diperhatikan lebih lekat seperti baru saja terjadi gempa bumi. Saat seperti inilah masyarakat akan kebingungan mencari air minum. Sumur-sumur banyak yang mengering. Sungai-sungai terhenti mengalir. Sangat sulit sumber air yang bertahan pada situasi serunyam kemarau panjang. Dan kesusahan air itu akan sangat dirasa bagi mereka yang tidak memiliki pompa air sendiri. Mereka harus menimba, menguras tuntas keringat kuning. Hanya ada sumur yang belum sepenuhnya mengering. Adalah sumur manjalin yang  dekat dengan perkampungan tempatku tinggal. Para warga akan merapatkan barisan ke sumur manjalin untuk menimba air.
            Ritual malam mulai aku panjat. Menggelantung asa atas pohon siwalan. Pengharapan gelap, segelap malam ini. Purnama pas-lurus di bubungan rumah. Cahanya tidak membuat bayang-bayang. Ritual kegelapan aku mulai. Munajat kepada sang penguasa kejahatan bertumpah ruah dengan kalimat-kalimat hitam. Aku akan menyihir para warga menggunakan juhar manik. Ku elus lagi botol seksinya juhar manik. Menyeruak aroma harum yang meruntuhkan tiang hidung. Semoga berpihak lagi kepadaku segala keinginan. Selesai sudah penjelmaan siasat yang terselubung antara harum bau minyak juhar manik. Aku dekati Sumur manjalin. Tepat di pinggirnya aku menyatukan konsentrasi. Melihat segala penjuru. Memastikan tidak ada yang mengetahui apa yang akan aku lakukan. Air sumur manjalin sudah teracuni dengan tiga tetes minyak sakti.
            Sepulang dari sumur manjalin. Terseok-seok langkah menyegera sampai ke rumah. Berharap semua berhasil. Sisa malam sudah tuntas menjadi pagi muda. Aku mengatupkan kelopak mata. Secepat itu aku nyenyak. Hilang semua yang aku lihat serta apa yang aku lakukan. Sementara sosok sang guru kembali hadir. Ia menjelma mimpi, tapi kesungguhannya seperti di alam nyata. Girang perasaan karena selama itu aku tidak pernah berjumpa dengan guru. Dan sekarang ia datang. Ada yang aneh dari gurat wajahnya. Setelah ku hampiri lebih dekat, guru menjauh tidak mau menyambar tangan yang aku tawarkan untuk bersalaman.
***
            Semua warga banyak yang mati. Mereka seperti ikan pindang yang baru saja ditangkap oleh para nelayan. Bergelimpangan tidak menentu. Riuh tangis selesai menjadi pelengkap suasana duka. Dari sisa mereka yang belum mati aku coba mengobati. Aku berpura-pura baik hati kepada warga yang memelas meminta bantuanku. Karena memang hanya aku yang tahu penawar racun itu. Racun yang disebabkan minyak juhar manik. Banyak uang mereka yang berhasil aku raup. Bahkan redah pula kicau para warga yang sempat mengusik kehidupan. Tapi ada yang ganjil atas hati. Soal jelmaan sosok guru dalam mimpi yang mencipta gunda-gunda pertanyaan. Dan bahkan ketakutan menetas ribuan miliar, memenuhi jalan-jalan fikiran. Kali ini bahkan lebih membuat aku tersiksa daripada perkataan masyarakat kepada diriku.
            Juhar akan segera manik mati, karena kamu telah banyak menyalah gunakannya. Kau telah memanfaatkan terhadap hal-hal kerusakan. Kau tidak menghargai nyawaku. Aku memberikannya padamu, adalah nyawaku sendiri sebagai gantinya kepada penguasa laut. Dan asal kau ingat Ghani, setelah juhar manik tiada, kau pun akan menyusul. Nyawamu akan melayang. Maka jika kau ingin hidup, amalkan sholawat setiap waktu. Kamu harus melaksanakan lagi sembahyangmu yang lima waktu. Akui pula kesalahanmu kepada banyak warga, bahwa kau telah meracuni mereka. Tapi juhar manik, ia akan tetap mati. Pilihan hidup ada pada dirimu, kini aku sudah tiada. Aku kembalikan pada dirimu, demikian sekedar saran dariku.” Itulah perkataan guru Suto dalam mimpi, yang selalu terngiang sejauh ini.
            Uban sudah mulai tumbuh satu dua. Hendak menguasi rambut hitam di kepala. Aku yang dilema, terpaksa harus menceritakannya kepada Sudar. Aku akan menerima apapun saran dia. Aku mau mendengarkan perkataannya. Sejauh ini Sudar mulai renggang dengan diriku. Semenjak aku kesampingkan pendapatnya yang menyuruh aku berhenti, dan tidak menikahi Yani si gadis muda. Keras tanah akur menyatu dengan kaki yang kasar karena selalu beradu dengan suasana alam panas. Sekemarau ini memang masih terkutuk gersang. Hujan seperti enggan menyapa. Aku menantang keras bumi yang kering untuk menemui Sudar.
            “Aku tidak mau membantumu lagi Ghan. Mending aku ngurus bini dan anak-anakku saja.” Sakit batin ini. Mendengar kalimat yang terlalu asing keluar dari orang terbaik yang aku kenal selama ini. Terlontar pas seperti tombak yang menusuk ulu hati. Sudar mengusirku jauh-jauh. Ia tidak lagi mau bersahabat denganku. Demikian itu memang murni kesalahanku yang sudah menyepelekan penting keberadaannya di hidupku sedari dulu.
            Hari segera menuntaskan aktifitasnya sebagai pencerah pandang dengan senjanya yang kesekian. Kaki langit melukis berat duka yang terpikul. Sendu siul kutilang mencari dahan untuk melindungi tubuhnya dari gelap malam. Anak-anak kampung dengan kopyah nunnya berhamburan mendatangi langgar ngaji. Maghrib memanggil para dermawan tuhan untuk menengadah. Menunaikan ibadahnya, yang aku sudah lama melupakan. Genting rumah yang sendu ku tatap dari jauh. Neon-neon menyala tidak seputih biasanya. Warnanya keperak kuning-kuningan. Ada aroma yang menyegat hidung. Sebuah aroma bau bangkai binantang yang mati sudah beberapa hari. Aku tak paham mengenai apa yang terjadi di sana. Semakin ku mendekati rumah. Semakin kejam pula bau bangkai itu menerobos tidak sopan ke hidungku. Batuk-batuk. Ku lekaskan langkah kaki. Menuju tanpa fikir ulang ke sebuah tempat di ruang rumah. Lemari yang berdiri kokoh setegaknya. Di situlah tempat juhar manik aku simpan. Setelah aku lihat juhar manik sudah tidak di tempatnya. Mata terbelalak selebar-lebarnya. Sementara lengan sibuk bergantian menutupi lubang hidung yang terbelenggu aroma bau bangkai. Juhar manik telah mati. Kematiannya lebih bau dari bangkai binatang.
            Persoalan kematian juharmanik, semakin tak tertanggulangi bendungan keringatku yang resah. Tiada henti se-isya’ ini tubuh yang terus terguyur kecemasan-kecemasan seperti beling-beling runcing yang berarak menusukku. Dan penyesalan melaju tak menghirau besar dosa yang ingin aku sesali. Lengkap sudah ending jalan hidupku. Betapa kini ingin tetirah. Mencari muara keselamatan jiwa yang dipenuhi rerimbun ketakutan berbaur kesenduan. Setelah tubuh merebah pada ranjang yang lengang terbingkai kesedihan mendalam. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an samar-samar ku tangkap. Itu Surah Yasin. Aku ingat dulu saat guru ngaji di langgar kerap membacakan surah itu. Kemudian aku tersadar, bahwa aku sudah tidak di sana. Dan sosok laki-laki tampan berwajah cerah seperti matahari. Matanya bercahaya bulan. Aku menatap takjub. Ia mengajakku berkenalan dan mengatkan kalau namanya adalah Yusuf. Aku tidak mengerti kenapa laki-laki itu menemuiku. Setelah menjelaskan sepanjang-panjangnya, aku baru paham maksud kejadian ini. Aku telah mati. Dan laki-aki yang menemuiku adalah juhar manik yang pernah menjadikanku tampak setampan laki-laki bernama Yusuf. Sekian..

CATATAN:
            Cerpen ini dikutip dari sebuah keberadaan masyarakat Madura yang stereotip kultural. Kentalnya kepercayaan masyarakat desa terhadap hal-hal yang berbau mistis dan kereligiusan menjadi sebuah komponen tak tercerai beraikan, namun tetap akur berupa kesatuan yang harmonis.