Rabu, 25 November 2015

NOSTALGIA KONFLIK POLITIK SAMPANG ;SEBUAH RENUNGAN SEDERHANA UNTUK POLITIK SUMENEP



            Pertama saya ingin memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala limpahan-Nya senantiasa saya dan pembaca tetap dilindungi. Sebagai umat beragama, maka saya kira bersyukur bukan menjadi sebuah kesalahan yang patut untuk dijadikan suatu acuan masalah. Selanjutnya, mungkin di antara pembaca sudah bisa membaca arah tulisan ini yang adalah tidak lain untuk tahun politik di Sumenep, karena sebagaimana tertera pada judul tulisan di atas.
            Sesuai dengan judul di atas, maka saya ingin mengajak, utamanya para masyarakat yang ikut andil penuh dalam dramatisasi politik, untuk belajar dari konflik politik, kemudian mengaplikasikan seperti apa praktek-praktek politik yang sehat dan demokratis. Mendekati pemilihan kepala daerah yang akan berlangsung pada tanggal 9 Desember mendatang maka saya akan menghadirkan permasalahan politik, guna sebagai renungan. Sebelum kepada soal politik di Sumenep, saya ingin mengajak untuk melihat soal konflik politik yang pernah terjadi pada salah satu daerah di Madura yaitu, daerah Kabupaten Sampang. Madura dengan dunia masyarakat pesantrennya yang familiar, juga pernah tercatat oleh sejarah sebagai salah satu daerah di Negara Indonesia yang pernah mengundang perhatian banyak kalangan, khususnya pada persoalan konflik politik yang pernah terjadi di daerah Kabupaten Sampang.
            Garis besar gambaran sosio-kultural masyarakat Madura dikenal dengan pola kehidupan (utamanya masyarakat desa) tergabung dalam kelompok-kelompok pemukiman kecil. Biasanya kelompok tersebut terletak antara ladang dan persawahan, yang biasa disebut dengan tanean lanjeng (pekarangan panjang). Sebagian besar masyarakat asli Madura pasti sudah cukup akrab dengan istilah tersebut, sehingga saya kira tidak perlu diulas lebih luas di sini. Selain itu, masih berpijak pada tatanan sosio-kultur, masyarakat Madura juga terkenal dengan pengagungannya terhadap kedua orangtua, guru, dan pemerintah. Karena masyarakat Madura yang terkenal dengan ke-NU-an-nya, maka tidak heran lagi apabila pengagungan terhadap guru dicondongkan terhadap sosok kiai. Lantaran hal tersebut merupakan bagian tidak terpisahkan dari tradisi keagamaan masyarakat Madura yang berafeliasi ke Nahdlatul Ulama secara sangat fanatik.
            Maka dari berjalannya sosio-kultur pengagungan terhadap kiai tersebut untuk masyarakat Madura, dijadikan pula sebagai garis pengikat aktivitas politik yang terjadi. Demikian seperti yang terjadi pada aktivitas politik Kabupaten Sampang. Pemilihan Bupati Sampang yang dilangsungkan pada Juli, Tahun 2000, menyusul setelah habisnya masa bakti bupati sebelumnya, yakni Fadhilah Budhiono, yang mulai menduduki posisinya sebagai Bupati Sampang sejak 1995 (Dhurorudhin Mashad dkk., Konflik Antar Elit Politik Lokal Dalam Pemilihan Kepala Daerah,2005). Itu merupakan pemilihan bupati pertama di Sampang dalam suasana multi partai, di mana partai-partai baru bermunculan setelah kejatuhan era Soeharto.
            Namun demikian sedikit partai yang mampu merebut suara di Kabupaten Sampang, dapat dikatakan hanya ada partai yang betul-betul mampu menempatkan dirinya secara dominan yakni, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Meski ada juga beberapa partai yang berdiri, hanya saja tidak mendominasi, ditinjau secara perebutan kursi pada daerah Kabupaten Sampang yang terjadi pada saat itu. Konflik politik tersebut sebenarnya yang ingin saya bahas adalah konflik politik yang pernah menimpa dua kubu partai yang sama-sama bermoral NU, yakin PPP dan PKB.
            Sebagaimana untuk wilayah Ketapang (umumnya wilayah utara Sampang) misalnya, mereka cenderung konsisten mendukung PPP dan bukan PKB yang didirikan Gus Dur, Ketua NU di tingkat Nasional, sekaligus cucu pendiri NU. Itu dikarenakan Kiai Alawy yang menjadi figur panutan masyarakat lokal mendukung PPP dan menentang PKB, maka masyarakat lokal pun akhirnya pro PPP. Sebaliknya, para kiai di belahan selatan Sampang (seperti Omben, Sreseh) umumnya pro PKB, maka masyarakat akhirnya juga menjadi pendukung PKB. Namun pada pesatren Dua Poteh, kiai-nya netral politik sehingga juga berpengaruh kepada kondisi sikap politik masyarakat lokal.
            Pemilihan Bupati Sampang yang dilangsungkan pada 22 Juli 2000 sebenarnya dapat dikatakan merupakan proses pemilihan bupati yang seru dan berimbang, meski sempat tertiup pula kabar adanya praktek politik uang (Pudji Rahardjo, sekretaris DPC PKB Sampang). PKB pada saat itu yang mengandalkan kepemilikan kursi sebanyak 18 orang mengajukan jagoannya (yakni pasangan Kol. Purn Polisi Sanusi dan Fachrurozy) berhadapan dengan dengan calon bupati yang diajukan oleh kubu PPP, yakni pasangan Fadhillah Budhiono dan Said Hidayat, di mana PPP sendiri menguasai 12 kursi DPRD II Sampang. Namun, hasil akhir justeru menunjukkan bahwa calon PKB mengalami kekalahan, dengan perolehan suara amat ketat, di mana duet PKB memperoleh 22 suara, sementara duet PPP memperoleh 23 Suara.
            Perbedaan tipis kemenangan Fadhillah menunjukkan ketatnya persaingan, namun sekaligus inilah yang menyulut kontroversi di kemudian hari. Singkat katanya, PKB yang awalnya tidak keberatan dengan ditandatanganinya berita acara hasil pemilihan bupati pada 22 Juli, bahkan tidak terlihat adanya keberatan-keberatan dari kubu PKB. Namun dalam hitungan hari kemudian, PKB seperti berputar seratus delapan puluh derajat tidak terima atas kemenangan hasil suara pemilihan bupati. Maka karena turunnya SK Mendagri dan Otda tertanggal 31 Agustus 2000 yang menunjuk Gubernur Jawa Timur Imam Utomo sebagai Pelaksana Harian (PLH) Bupati Sampang, ribuan massa simpatisan dari PPP akhirnya marah dan turun kejalan. Para massa pendukung Fadhillah, seharusnya pemerintah segera melakukan pelantikan untuk bupati terpilih, bukan sebaliknya mengulur pemilihan Bupati Sampang yang sudah diakukan.
            Pada hari itu juga, gerakan sebaliknya dari massa penentang Fadhillah ganti turun jalan. Aksi balas dendam pun dilakukan oleh massa PKB yang anti-Fadhillah. Yang mengakibatkan suasana kota Sampang pada saat itu tegang dan lumpuh selama tiga hari, 4-6 Desember. Gedung DPRD tanggal 6 September 2000 dibakar, sekitar petang hari. Merupakan puncak kemarahan warga kubu PKB yang dipicu oleh tindakan sejumlah pendukung Fadhillah dan aparat pemerintah dengan tetap mendirikan tenda untuk pelantikan bupati.
            Guna untuk meredam kemarahan massa, maka dilakukan pendekatan kepada para kiai, agar mereka meredam massanya. Sebagaimana yang telah disampaikan di awal bahwa karakter orang Madura yang manut terhadap perintah guru (kiai) akan menjadi menarik jika dicermati dalam konteks politik. Dilihat dari situ terlihat bahwa loyalitas kepada kiai posisinya lebih utama dibanding patuh pada pemerintah (ratuh). Ketika para kiai lokal yang dipatuhi tetap mendukung PPP, maka masyarakat lokal akan mendukung PPP. Ketika kiainya mendukung PKB, mereka akan mendukung PKB. Dan ketika kiainya memilih netral politik, para santri dan masyarakat sekitar juga akan memilih sikap netral politik. Akan menjadi dilema bahkan keterbelahan jika hal seperti ini terjadi, terutama  pada wilayah yang tidak memiliki kiai kharismatis untuk dapat dijadikan panutan.
            Ada tiga golongan kiai yang terbagi saat terjadinya konflik politik di Sampang pada saat itu: Golongan pertama adalah golongan para kiai yang secara terang-terangan dan baik tidak secara terang-terangan mendukung Bupati Fadhillah Budiono, yakni dalam hal ini kiai-kiai yang kebetulan secara geografis terletak pada wilayah Sampang di bagian utara. Gelongan kedua adalah para kiai-kiai PKB, berdomisili di wilayah Sampang bagian selatan. Kiai-kiai di Sampang sebagian berasal dari dua aliran besar yakni, merupakan mantan-mantan pendukung PPP dan sebagian lain merupakan pindahan dari kiai-kiai Golkar. Dari antara kedua golongan kiai-kiai yang berseteru, terdapat di antaranya sekelompok ketiga yang merupakan segelintir kiai yang memilih untuk tidak terlibat dalam dunia politik. Kiai-kiai kelompok ketiga memang cenderung sedikit jumlahnya, namun relatif kuat dan oleh masyarakat ceras kebanyakan justeru lebih dihormati. Tersebab mereka tidak melakukan praktek “menjual agama demi kepentingan politik,” atau “menjual agama demi kedudukan atau iming-iming meterial tertentu”.
            Akibat perundingan dua kubu antara kiai dan elit politik yang melahirkan kejelasan tidak dilantiknya bupati terpilih semakin menjadi masalah yang memanas. Bahkan Kiai Alawy Muhammad seperti dikutip di dalam buku yang di edit Moch Nurhasim Konflik Antar Elit Politik Lokal Dalam Kepemilihan Kepala Daerah (yang mana menjadikan konflik Sampang ini menjadi bagian utama yang tidak terpisahkan di dalam buku tersebut) mengatakan, “Semula Mendagri menyetujui pemilihan itu. Tahu-tahu orang PKB dan kiai-kiainya datang kepada Pak Menteri, sehingga pelantikannya gagal. Itu ‘kan bertentangan dengan UU. Lalu mereka datang ke Kiai Abdurrahman Wahid yang akhirnya menunda pelantikannya. Karena presiden yang memerintah, menterinya ya takut,” ujarnya (hal.56).
            Setidaknya dari konflik pragmatis politik tersebut menjadi sebuah catatan penting bagi para kiai-kiai yang berpolitik di Kabupaten Sumenep pada tahun ini. Karena tidak akan menutup kemungkinan ketika gejala pragmatisme di dalam kontelasi politik di Sumenep kurang mendukung bagi terwujudnya sistem politik yang sehat dan demokratis, akan terlahir berbagai konflik politik yang akan mencemarkan beberapa lembaga yang sebenarnya berdiri suci sebagai lembaga ilmu kegamaan keislaman (Pondok Pesantren).
            Maka sebagai renungan bagi kalangan kiai Sumenep, perlu disadari bahwa Nahdlatul Ulama merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat Sumenep. Juga tersebab Sumenep yang tradisi keagamaannya beralifiasi kepada Nahdlatul Ulama secara amat fanatik, dapatlah kiranya konflik politik di Sampang tersebut dijadikan sebagai pembelajaran kepada para kiai yang ikut andil dalam berpolitik, serta masyarakat lokal. Sungguh sangat penting saya kira kepada para tokoh agama untuk lebih memperhatikan keagamaannya daripada hanya menjadikan agama atau pesantren sebagai daya jual kepentingan politik, khususnya para kiai NU. Karena melihat kaderisasi NU pada akhir-akhir ini sudah semakin banyak yang tidak bisa mencermikan bagaimana ke-NU-an-nya. Dan bahkan akan menjadi lebih penting serta beramal, karena dakwah yang akan diterapkan tidak terintimidasi oleh kedudukan atau jabatan semata, yang ampun-ampun hanya sekedar soal finansial saja. Sedikit saya ingin mengutip dari Kiai Mustofa Bisri atau yang lumrah dipanggil Gus Mus, tentang pemimpin yang renda hati, “Keistimewaan orang istimewa terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena pada keistimewaannya itu. Keitimewaan khalifah Allah terutama terletak pada kekuatannya untuk tidak terlena dan terpengaruh oleh kekhalifaannya, mampu menjaga tetap menjadi hamba Allah.” Dari kalimat tersebut dapatlah kita tarik benang merah, bahwa ketika kita menyandang keistimewaan, janganlah sampai terpengaruh terhadap hal-hal yang istimewa (mabuk atau terlena). Karena, sesuatu yang rasanya akan meningkatkan keistimewaan hanya sejatinya cenderung akan membawa kita pada kelemahan kekuatan yang sudah kita miliki. Lebih khususnya pada keistimewaan para kiai, para penguasa, para tokoh masyarakat yang lain di Sumenep, janganlah sampai dengan aktivitas politik pada tahun 2015 ini menjadi lunturnya keistimewaan yang sudah disandang sebagai pamor sosial masyarakat. Wallahu a’lam...

TERORISME ISIS DAN JIHAD SESUNGGUHNYA MUSLIM PANCASILAIS



Perbedaan adalah indah jika kita memandangnya dengan cinta.”

            Siapa sebenarnya Islamic State of Iraq and Al-Syam (ISIS) itu ? ISIS adalah kelanjutan dari kelompok-kelompok garis keras dan ekstrim. Lebih tepatnya adalah organisasi produk politik, dan bukan agama. Namun yang dikenal oleh sebagian pemikir dangkal, ISIS adalah pergerakan garis keras, radikal, yang berkedok agama Islam. ISIS adalah pergerakan ajaran Islam, terlepas dari salah dan benarnya. ISIS sebenarnya lahir dari carut-marut politik di Timur Tengah, khususnya daerah Iraq dan Suriah. ISIS didirikan oleh Abu Musab Al-Zarqawi. Ia pernah ikut bergabung dengan mujahidin Afganistan, berperang melawan Uni Sovyet. Di Afganistan ini, Zarqawi bertemu dengan pimpinan Al-Qaeda Osama pada tahun 2000 untuk membantu kelompoknya bagi jaringan yang bernama Al-Tawhid wal-Jihad dengan tujuan menggulingkan pemerintah Yordania.
            Zarqawi yang kemudian menyatakan Bai’at (janji kesetiaan) dengan Al-Qaeda untuk mendirikan jaringan dengan nama Tanzim Qidat Al-Jihad Fi Bilad Al-Rafidyan atau terkenal dengan sebutan Al-Qaeda in Iraq (AQI). Adapaun sejarah perkembangan ISIS sendiri dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut: Pada tahun 1999-2004 dengan nama gerakan Jamaat Al-tawhid Wa-L-Jihad (JTWJ); Al-Qaedah in the Land of Two Rivers atau Lebih familiar dengan Al-Qaeda in Iraq (AQI) pada tahun 2004-2006; Kemudian, pada tahun 2006 Majlis Shura Al-Mujahidin (MSM); Islamic State of Iraq (ISI) 2006-2013; Islamic State of Iraq and Al-Syam (ISIS) 2013-2014; dan 2014 sampai sekarang Islamic State (IS).
ISIS sangat cerdik mengambil kesempatan disaat terjadi pencemaran kekuasaan, dan terjadi konflik politik di suatu Negara. Biasanya ia akan selalu berusaha mendekat dengan para kritikus atau pemikir kiri kebijakan pemerintah, sehingga dalam cara mereka mengelola kritikan ISIS akan hadir dengan ide-ide manis sebagai bumbu penyedap serupa semangat membara. Maka dari hasutan tersebut tidak jarang seorang warga negara akan menjadi memiliki rasa benci terhadap Negara. Semangat Bela Negara akan memudar sekeatika itu juga.
            Selain mendekati pada saat terjadi suasana keruh seperti disebutkan di atas, biasanya ISIS akan lebih mudah mempengaruhi orang-orang yang hidupnya individual, jarang berinteraksi dengan masyarakat, krisis ekonomi, dan memiliki pemahaman agama yang minim. Maka akan menjadi mudah bagi ISIS untuk membujuk orang-orang yang demikian, untuk masuk bergabung dengan ISIS. Makna Individual itu sebenarnya diperuntukkan kepada orang-orang yang hidupnya sehari-hari hanya bergelut dengan dunia sosial media, seperti dunia internet. Kenapa? Karena ISIS sangat dikenal dengan gerakan teroris yang cukup pandai untuk memanfaatkan media internet, khususnya media sosial sebagai propagandanya. Mereka melakukan penyebaran ideologi melalui pesan online dan propaganda pesan visual untuk menginspirasi individu tersebut. ISIS nampaknya berterima kasih dengan hadirnya media online itu.
Bagaimana Dengan Kondisi Negara Indonesia Saat Ini?
Akhir-akhir ini kasus yang terjadi di Paris tentang tindakan teroris yang memakan korban seperti yang diberitakan banyak media, telah mengundang banyak perhatian negara di seantero dunia. Indonesia yang terkenal dengan mayoritas penduduk muslimnya tentu juga mencurahkan rasa empatinya yang mendalam. Empati yang sebenarnya mengandung banyak tanda-tanda ketakutan, karena bagaimanapun Indonesia juga pernah mengalami kejadian yang hampir serupa. Hingga terjadi ketegangan dari ketahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu, pada kasus bom di bali yang juga menewaskan banyak nyawa atas kelakuan para teroris.
Maka saat ini yang sangat diresahkan adalah pergerakan kelompok ISIS atau IS. Dari kronologis mengenai pergerakan ISIS di awal, maka sangat tidak menutup kemungkinan akan beranak-pinaknya ISIS dalam tubuh Negara Indonesia pada saat sekarang ini. Pertama, dapat dilihat dari melemahnya bangsa tentang pentingnya bela negara. Keadaan aktivitas perpolitikan yang tidak sehat, akan melahirkan beberapa pergerakan yang serba dihalalkan. Tidak adanya dukungan untuk kebijakan pemerintah, mengkritik tanpa menawarkan solusi yang solutif, juga akan cenderung melahirkan pemikiran buruk yang berlebihan kepada Negara. Sebagaimana kita tahu bahwa bangsa Indonesia dengan kekayaan ras, bahasa, dan keyakinan yang berbeda-beda dapat bertahan subur di Zamrud Khatulistiwa ini.
Namun perang politik atas kepentingan kekuasaan sudah mampu mencerai-beraikan sebagian kekayaan negeri. Seperti terjadinya konflik politik pemilihan kepala daerah di Sampang Madura pada tahun 2000, di mana terjadi pembakaran kantor DPRD oleh salah satu pendukung partai politik pada saat itu. Tragedi 1998, saat digulingkannya Presiden Soeharto oleh kalangan mahasiswa yang melakukan aksi turun jalan secara keras-kerasan. Pergerakan-pergerakan diam yang dituangkan langsung oleh para tangan bangsa lewat pemberitaan media yang simpangsiur memberitakan birokrasi kepemerintahan karena dimentori oleh kepentingan politik. Ditambah lagi, yang masih hangat, adalah mengenai amandemen konstitusi negara kita. Di mana pada dahulunya sebelum diamandemen, dianggap perlu diamandemen, namun setelah diamandemen, dianggap salah karena dihapusnya penerjemahan dari keaslian Undang-Undang Dasar 1945, oleh amandemen. Setidaknya kejadian tersebut sudah dapat menggambarkan bagaimana keruhnya air politik yang mengalir di Negeri ini.
Selanjutnya, dilihat dari pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2015, seperti apa yang terpapar sebelumnya, bahwa ISIS sangat berterima kasih dengan hadirnya media online. Dari apa yang telah dikeluarkan oleh We Are Social, sebuah agensi marketing sosial, mengeluarkan sebuah laporan pada bulan Maret 2015 mengenai pengguna website, mobile, dan media sosial, Indonesia memliki 72,7 juta untuk pengguna aktif internet, 74 juta untuk pengguna aktif media sosial. Adalah medan yang cukup potensial bagi ISIS untuk menyemai benih gerakan kerasnya jika bangsa Indonesia tidak terbentengi dalam menghadang doktrinan radikal IS itu.
Kesenjangan sosial yang juga terjadi pada pola kehidupan sosial masyarakat sangat berpegaruh terlahirnya ketidak pedulian terhadap sesama. Rupanya, kesenjangan sosial ini bisa secara mudah kita lihat, baik dampak dan praktek terjadinya dari kesenjangan itu sendiri di lapanga. Hadirnya sosial masyarakat industri menjadi salah satu contoh. Para pemilik modal bekerjasama dengan pemerintah untuk menanam investasinya di arena kegiatan sosial masyarakat, sehingga terjadi pola hidup masyarakat yang cenderung individualistis. Karena penawaran dengan iming-iming cepat, mudah, instan, masyarakat pun terlena akan pentingnya solidaritas terhadap sesama. Dengan adanya pola-pola pemikiran seperti itu, maka tali nasionalisme secara perlahan akan kendor. Dan kemungkinan besar para penyebar terorisme akan mudah merasuk kedalam jalan pemikiran bangsa Indonesia yang seperti itu.
Berjihad Menurut Islam dengan Jiwa Pancasila
Jihad, banyak di antara sebagian muslim beranggapan dangkal kalimat tersebut dengan makna yang salah. Dari pemaknaan salah-kaprah itulah yang pada akhirnya dapat melahirkan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan etika agama Islam sesungguhnya, utamanya seperti tindakan saling membunuh dalam keadaan situasi damai. Ada salah satu hadits riwayat Thabrani dijelaskan bahwa Rasulullah S.A.W. perrnah bersabda, “Seseorang tidak akan mendapatkan keutamaan yang melebihi keutamaan ilmu yang dapat memberikan petunjuk kepada pemiliknya atau mengangkatnya dari kehinaan. Dan tidaklah seseorang akan lurus agamanya hingga lurus ilmunya.” Demikian menurut saya bahwa jihad yang sesungguhnya, yang harus benar-benar diutamakan dalam beragama, adalah berjihad dalam mencari ilmu. Sesuai dengan sabda Nabi tersebut, kesempurnaan agama seseorang ditentukan oleh kedalaman pemahaman ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Setidaknya ada tiga anjuran dalam Islam yang benar-benar ditekankan kepada penganutnya dalam kehidupan bersosial yaitu, ilmu, jabatan, dan kekayaan. Di antara ketiga tekanan dalam menjadi muslim yang baik adalah berilmulah yang sungguh-sungguh harus diutamakan, baru selanjutnya jabatan dan kekayaan. Kenapa harus ilmu? Karena seseorang dengan berilmu maka ia akan menjadi bijak ketika memangku jabatan atau berperan sebagai orang penting di dalam tatanan sosial masyarakat. Justeru persoalan finansial menduduki anjuran terakhir bagi seorang muslim untuk megejarnya. Maka dari ilustrasi tersebut dapatlah kita tarik benang pentingnya bahwa ketiganya jelas saling bersangkut satu sama lain. Untuk menjadi seseorang pemimpin (kholifah) ia harus memiliki ilmu pengetahuan yang memadani dulu, dan jangan mengutamakan uang dalam menjalankan roda kepemimpinan. Dari itulah akan menjadi salah jika ada seorang muslim yang hanya karena gara-gara terhimpit persoalan ekonomi, menjadi stres, tidak memiliki pegangan hidup, putus asa hingga menyatakan bergabung dengan kelompok-kelompok keras seperti ISIS yang dalam peraupan anggotanya selalu menawarkan dengan iming-iming uang salah satunya.
Mengutip sedikit dari perkataan salah satu tokoh ulama yang terkenal semangat perjuangannya demi mempertahankan keutuhan NKRI pada jaman dahulu yakni, KH. Hasyim Asy’ari, agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan. Beliau adalah ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki semangat juang gigih dan mendukung penuh terhadap dasar negara Pancasila. Bahkan pesan beliau yang terkenal di dalam kalangan masyarakat NU adalah tentang beban dan tanggung jawab yang disandangkan adalah mengenai jangan sampai ada yang merusak Pancasila, maka jika ada, NU harus bertanggung jawab untuk mencegahnya.
Sesungguhnya berjihad yang sesuai bagi kaum muslim sekaligus sebagai bangsa yang pancasilais adalah mempertahankan, serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Melakukan dakwah agama yang sesuai dengan isi Pancasila. Meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa, sebagai anjuran bagi bangsa Indonesia untuk menganut agama. Sebagaimana pesan Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia mengenai agama yakni, tidak penting apapun agamamu atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tahu apa agamau. Maka kalau melihat dari beberapa pesan tokoh ulama Indonesia itu sangat jelas bermaksud bahwa dengan beragama adalah bentuk dari rasa Nasionalisme kita. Sebagaimana juga firman Allah dalam Al-Qur’an ”Lakum diinukum waliyadiin..” [QS. Al-Kafirun: 6].
Mengenai penanggulangan terorisme yang membuat banyak kalangan menjadi resah dan meruntuhkan ajaran damai juga toleran yang telah lama dirawat oleh para pendakwah Islam di tanah nusantara, tentu sangat dibutuhkan peran Negara untuk melindungi seluruh tumpah darah masyarakat. Sesuai dengan kutipan lirik lagu kebangsaan Indonesia raya, “…bangunlah jiwanya bangunlah badannya utuk Indonesia raya..” dari kutipan lagu kebangsaan tersebut dapat dipelajari bagaimana peran Negara (pemerintah) untuk mengutamakan membangun jiwa, baru kemudian badan (fisik). Karena bangsa yang memiliki semangat jiwa yang rendah akan menjadi mudah bagi bangsa terhasut untuk membenci Negaranya sendiri, sehingga kontak kekerasan fisik menjadi jalan pemberontakannya. Dan ISIS sendiri akan sangat diuntungkan jika berhadapan dengan bangsa yang memiliki jiwa lemah. Semoga tulisan ini menjadi manfaat yang bisa menuntun banyak bangsa di dunia agar memperkokoh jiwa nasionalisme, dan menanamkan jiwa toleransi. Karena perbedaan adalah indah jika kita memandangnya dengan cinta. Wallahua’lam.

Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Dan sekarang menjadi mahasiswa aktif Fakultas Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.

Jumat, 20 November 2015

RAMBUT

Ia memiliki banyak persamaan, bahkan di seluruh tubuh hampir ku temui yang sepadan dengan rambut. Sempat saja tidak berfikir, di antaranya, aku tidak mengatakan dengan kumpulan kata dan bahasa yang sama. Kalau tidak bulu, rambut, untuk mengatakan kapas atau benang aku belum pernah diajari. Emak biasa mengantar aku tidur dengan bercerita tentang diriku, dulu, dulu juga saat masih suka tidur berdua dengan Emak. ;Dulu kepalamu botak, sekarang sudah berambut.
Setidaknya kata demikian masih ngiang di seputaran jalur fikiran sampai titik detik ini.
Bulu, dan rambut, dua kata yang ku lihat bentuknya hampir sama. Dualisme yang menarik dan indah. Sebagai laki-laki, aku banyak memiliki itu, hampir seluruh tubuh yang jangan diceritakan satu-satu.
Karenanya, diri semakin tahu semakin pula tersoal, kenapa Tuhan merahasiakan bulu dan rambut yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan?
Termasuk cara sederhana wanita dengan bulu (rambut) yang menjadikan aku memiliki miliaran ingin, adalah sebab alisnya yang menggambar bulan celurit atas langit keinginan. 


Jogja-Madura 2015

Kamis, 12 November 2015

TAK SANGGUP SENDIRI


            Apa itu rindu? Bagaimana sebenarnya cara hati merasakan? Apakah semua yang dilakukan atas keyakinan akan menjadi jalan yang mulus tak berintang? Atau adakah rumus untuk menjadi sebuah pembeda keyakinan nurani dan nafsu birahi? Sedang aku sendiri hanya sekedar sosok manusia yang rentan. Tidak jauh berbeda seperti manusia kebanyakan, yang bisa merasa jatuh cinta kapan saja. Dan bahkan rasa sakit dapat saja aku lalui tanpa jadwal dan waktu tibanya. Semua instrumen-instrumen kehidupan memaksaku untuk melaluinya. Ia seakan tidak pernah tahu bagaimana jika luka terlalu pedih untuk seorang aku. Seorang wanita yang hanya bisa pasrah ketika semua yang terjadi bagai diluar prediksi hati. Bahkan kompas kehidupan ikut bingung menentukan arah sekeliling.
            Dalam ruang ini aku mematuhi segala gelisah yang serupa hantu. Bertahun-tahun aku menikmati bukan semakin membuatku berani. Melainkan, semakin menikam ketegaran yang sekuat tenaga terbangun, hingga sebelum menjulang telah runtuh berkeping-keping.
            Sejak pertama aku merelakan waktu untuk membentang jarak bagi hubunganku dengan Liela−kekasih yang mencuri keyakinan hati sejak di bangku SMA dulu. Aku dan Liela sudah dua tahun lamanya memupuk rindu yang tersemai sejak kepergiannya. Ia mengejar pendidikan S1-nya ke luar negeri. Malaysia. Sejauh ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Kita hanya mengobati rindu dengan percakapan-percakapan yang sederhana lewat gagang telefon. Media sosial adalah jembatan lain yang menghubungkan serombongan gelisah ketika gejolaknya merajai hati. Kita selalu yakin terhadap apa yang akan terjadi, bahwa akan menjadi sebuah keindahan yang tertunda. Sebagaimana kata-kata yang Liela ucapkan dengan tulus pada saat terakhir kebersamaan di pantai Lombang. “Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok. Kita tidak bisa menduga jawaban apa yang akan menjelaskan gelisah pada hari ini. Keindahan dan kesedihan hanya berada pada sejauh mana perasaan mampu membungkusnya. Ketika ia tidak mampu, maka kesedihanlah yang akan hadir sebagai jawaban apa yang kita usahakan. Namun sebaliknya, jika perasaan kita kuat, apapun yang akan kita rasakan akan menjadi sebuah hikmah kebahagiaan” ucapnya sembari memegang jemari tanganku.
            Sejak saat itu air mata menjadi saksi tulus merelakan kekasih pergi untuk mengejar pendidikannya. Liela mengambil jurusan psikologi umum di salah satu universitas ternama di Malaysia. Universitas Putera Malaysia. Liela mendapat program beasiswa di sana. Sedangkan aku hanya kuliah di Kabupaten Sumenep, sang tanah kelahiran. Aku di Universitas Wiraraja mengambil jurusan hukum. Jarak sejauh itu adalah sebuah jarak yang cukup menyulitkan untuk membuang kecemburuan-kecemburuan yang menyerang serupa serangan anak panah yang runcing. Sejauh kekuatan menepis perasaan-perasaan buruk, aku selalu berusaha memalingkan semuanya. Namun belum dapat kita pungkiri dengan banyaknya kesibukan kuliah, kadang juga menuai kecurigaan yang berlebihan. Curiga ditambah curiga selalu melahirkan konflik yang selesai dengan peretengkaran. Hanya saja diujung penyadaran dari salah satu, menjadikan kita saling memaklumi. Maaf menjadi jalan lain demi keabadian sebuah hubungan.
            Pernah pada suatu waktu Liela tidak menghubungiku selama tiga hari. Spontan aku curiga terhadap apa saja yang telah dia lakukan di sana. Dia tidak pernah mengangkat telefon dariku selama itu. Kemarahanku pun tiba di batas sabar. Aku memarahi Liela. Mengabaikan semua penjelasan yang dia berikan kepadaku. Meski Liela bilang kalau dia tengah mendapat banyak tugas dari para dosen yang dari Indonesia. Dia dikejar waktu secepatnya untuk mengerjakan tugas itu. Aku dengan mudah tidak percaya. Fikiranku berkata lain. Aku terus menuntut dia sedang dengan wanita lain, sengaja menghindar dari aku, sudah bosan dengan diriku. Sembarangan saja kalimat yang terlepas tanpa kontrol. Hingga aku berniat menjauhinya. Tangis dan tangis selalu menjadi isi kesunyian kamar. Namun pada kesempatan lain, saat Liela meminta maaf mengakui kesalahannya yang tidak salah. Kita kembali berdamai. Aku menerima maafnya. Hingga hubungan kembali harmonis seperti dahulu.
            Bulan mengambang di antara bintang-bintang. Suaara burung hantu bersahutan di antara janur kelapa.  Aku meratapi dinding kamar yang terasa kosong. Entah apa yang akan terjadi setelah aku kembali bersama dengan Liela. Menjadi sepasang suami isteri. Aku yakin kelak kamar ini akan menjadi kamar sejarah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan pada kamar ini aku juga yakin akan ramai dengan manja anak-anak kami. Duh, sudah terlalu jauh aku menghayal kehidupan. Semenjak aku mencintai Liela, aku memang suka menghayal. Membayangkan tentang kehidupan masa depan. Yang sebenarnya masih tidak jelas akan berbentuk seperti apa terjadinya.
            Sajadah terhampar menjadi alas doa-doa. Rinai air mata berdansa di atasnya. Sejarak ini aku merasa rindu membaur dengan cemburu. Aku ingin merasakan dekapan peluk seorang kekasih. Yang kehangatan-kehangatannya mengantarkan aku pada sebuah arti makna ketenangan. Bukan dengan salam-salam yang sama sekali tanpa tatapan wajah. Dan aku juga tidak prnah merasa bahwa aku akan menjadi seorang yang sungguh-sungguh dibahagiakan oleh Liela. Bahagia yang sungguh dicita-citakan oleh Liela.
            Seperti ada yang aneh memang dengan perasaanku sekarang. Aku terlalu gampang marah sama Liela. Semenjak aku bergabung dengan salah satu organisasi eksternal kampus. Aku memiliki banyak teman. Relasi dengan mereka semakin hari semakin kental. Sedangkan waktuku yang luang untuk Liela hanya sebentar. Malam hari kadang sering aku ketiduran. Meninggalkannya dalam ombrolan. Ditambah banyak kemarahan-kemarahan yang tidak jelas kepadanya. Namun kadang aku memang sering merasa bersalah menghadapi semua kenyataan ini.
***
Waktu berjalan dengan lambannya. Sungguh sangat lama dua tahun ini bagi jiwa yang menunggu. Aku semakin dibuat pusing dengan jelmaan rindu yang manakutkan sekali. Kadang ia berupa binantang buas. Juga tak jarang ketika di dalam mimpi, ia serupa pria tampan yang memaksaku mencintainya. Beberapa kali aku dilamar oleh pemuda desa sini. Para tokoh-tokoh masyarakat yang hadir ke rumah untuk meminangku, tidak satu pun di antara mereka yang aku terima. Hati ini masih terlalu kaku. Sudah teguh untuk mencintai kekasih hati yang sudah lebih dulu meyakini jiwa. Bahwa tidak akan ada bahagia lain sehebat bahagia bersamanya. Bahkan insya Allah, hanya hati Liela yang suci mencintaiku.
Maka atas dasar kerinduan. Ketulusan cinta. Kesucian hati, aku berani menuaikannya lewat tulisan untuk selalu memberi kehidupan seabadinya atas rasa yang sedang aku miliki saat ini. Sering aku bertukar pesan sebagai bentuk pengungkapan hati yang tengah dirundung asmara. Namun demikian tidak berlangsung lama. Perasaan perlahan mulai memudar kepada kekasih yang tak tersekat waktu walau sebenarnya terkotak oleh jarak. Sejak aku aktif di organisasi eksternal kampus. Betapa tidak terpungkiri adanya bahagia-bahagia yang merangsang nadi penghidupan. Perkenlanku dengan kakak senior bernama Junaidi, sedikit banyak telah merubah bentuk hati yang mulai tidak utuh lagi. Utamanya pada keutuhan hati yang coba aku teguhkan dengan cinta kepada Liela.
Pada saat ini aku menemukan dunia baru. Dunia yang membentuk bahagia tersendiri dalam kalbu. Tidak ada kesibukan yang membuat renggang berkomunikaasi dengan kekasih menjadi hal mengecewakan dan menyakitkan. Melainkan telah menjadi sebuah keinginan yang semakin ingin aku kecap akhir-ahir ini. Tiada aku duga aku akan dilema hal mengindahkan itu. Pada sisi lain aku ingin mempertahankan perasaanku dengan Liela. Namun pada sisi yang lain juga aku seakan tidak percaya dengan kehidupan yang membelenggu serupa hantu-hantu menakutkan itu. Itulah kerinduan yang selalu membuat hati ini resah.
“Sudah lah Rof. Sebaiknya kau ikuti saranku. Kau lupakan saja Liela. Bukankah kamu sering tidak diperhatikan olehnya dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal seperti itu. Kau harus membuka hati yang baru selama dia jauh. Kamu wanita yang cantik. Aku yakin akan banyak laki-laki yang mau menjadi pacarmu. Itu si kak Junaidi.” Ucap Husna kepadaku saat aku mencoba mencurahkan kekalutan jiwa.
Aku belum begitu yakin dengan saran yang ditawarkan sahabatku Husna. Itu semua karena hati ini memang benar masih memiliki rasa dengan Liela. “Kesibukanya kan kerena dia banyak tugas. Bukan kesibukan yang tidak penting kan Na? Gimana ya? Aku bingung, dilema. Apalagi saat kak Junaidi kemarin bilang kalau dia suka sama aku.” Jawabku sembari meneteskan air mata. Aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. Dua laki-laki yang sama menawarkan bahagia kepada diriku. Aku menyandarkan kepala di pundak Husna. Malam dengan langit berkabut menutupi sejajaran bintang-bintang. Bulan tidak terlihat menggantung lagi di atas sana. Kilat membentuk cahaya dengan cepatnya, seperti cahaya lampu kamera wartawan yang sedang mewawancarai seseorang terkena kasus. Mungkin aku diantaranya yang tengah bersidang dengan perasaan. Gemuruh guntur mengeleggar dari balik awan. Sebentar lagi hujan akan turun. Mungkin setelah gerimis ini bosan dengan rintiknya yang tidak membahagiakan bumi.
Sesuai dengan saran sahabatku, Husna. Aku menerima kak Junaidi sebagai pengganti kekosongan hati saat ditingal Liela. Aku mulai menghindar dari Liela. Namun aku tidak berani memutuskan dia. Aku ingin dia yang mengucapkan kalimat sedih itu duluan. Bukan aku. Aku merasa sedikit resah dengan gelutan perasaan ini. Ada rasa yang tidak tega kepada Liela yang telah aku tinggalkan tanpa sebab musabab pasti. Beberapa kali Liela menghubungiku. Maka aku juga tidak pernah menanggapinya. Hingga pada suatu malam. Seminggu setelah aku menghindar dari Liela. Seminggu pula usia jadianku dengan kak Junaidi, tiba-tiba ada sms dari Liela yang tidak terbaca. Ku buka pelan-pelan pesan singkat itu dengan gundahan hati yang sungguh gulana ketakutan dengan keramaian sedih yang akan mengisi.
Rovit kekasihku. Bergetar tangan ini tatkala hendak menuliskan suara hati yang tengah bersedih ini. Lantaran aku sudah mendengar, sudah pula mengetahuinya. Engkau yang sudah tidak akan pantas lagi dengan segenap pengharapan ini. Aku yang sudah haram atas deretan doa-doa sucimu. Sungguh itu adalah maut yang tidak bersayap. Maut yang merangkak menghampiriku dalam negeri kosong ini. Aku di sini sudah tidak memiliki siapa-siapa. Dan kepunyaan yang akan memberiku ruang di negeri sendiri, kini pintunya sudah tertutup untuk laki-laki sepertiku. Aku tidak tahu kepada siapa lagi rangkaian bait puisi akan mengadu, mencari orang untuk menjadi tempat terindahnya bercurah. Dosa apakah yang aku lakukan terhadapmu? Sehingga engkau menjadi sekejam ini. Membunuh segenap harapan yang aku yakini adalah nafas lain kehidupanku sekarang hingga kelak kematian tiba. Apa kau dijodohkan oleh sahabatmu? Jika benar, aku yakin cintamu sungguh tidak suci kepada kekasih barumu. Kamu hanya menjadikannya sebagai sandaran belaka dalam rindu jarak kita. Maka akan sungguh kejam hatimu sebagai wanita Vit. Kamu menganiaya banyak hati, lalu memutilasinya hingga menjadi berkeping-keping. Aku harap Tuhan memaafkan segala dosamu. Aku akan mendoakanmu dari jauh, mantan hati.”
Air mata menetes tak terasa. Hingga basah seluruh pipi yang bergurat duka. Lengang seketika kamarku. Bahagia yang sedari tadi aku tenun dengan berjalan-jalan dengan kak Junaidi, hilang menjadi serpihan kalimat sesal yang menyelubungi seluruh ruangan. Husna yang berdiri diambang pintu, rupanya melihatku dari tadi. Ia mendekat menghampiriku. Berbicara banyak sekali, tapi fikiranku belum menangkap apa yang dia katakan. Sepertinya dia menjadi sosok motivator yang memberiku semangat. Husna menyarankan untuk aku lebih tegar menghadapi keadaan ini. Sebuah keyakinan yang tidak kuduga akan lebih membuat hati terhujam.
“Na, kamu jangan bilang-bilang pada siapapun kejadian ini. Termsuk kepada kak Junaidi. Aku tidak mau semuanya semakin berantakan.” Aku menyampaikan sesuatu kepada Husna yang sudah banyak sekali bicara dari tadi di sampingku.
“Ok. Sebagai sahabat kamu, aku tidak akan bilang pada siapaun kejadian ini. Kamu tenang saja. Sebaiknya kau jelaskan yang sebenarnya kepada Liela sekarang. Balas saja itu sms-nya.” Saran Husna sembari menepuk bahuku memberi semangat dan beranjak pergi dari kamarku, meninggalkan aku sendirian dengan tanda tanya hidup. Betapa aku memang ingin mengatakan yang sesungguhnya kepada Liela. Akan sirna semua ketulusan yang pernah terbangun dalam hidup sedari dahulu. Jemari mulai menari-nari di atas tombol HP. Merangkai beberapa kata sehingga menjadi sebuah bungkusan kalimat indah. Aku tidak ingin ada yang lebih tersinggung dari kalimatku nanti. Walau sebenarnya singgungan sudah menikam keras hati Liela. Ia sudah benar-benar merasa kecewa kepada diriku yang mengabaikannya.
Aku tidak disatukan oleh siapapun. Tidak ada peran orang ketiga dalam kejadian ini. Sahabatku tidak terlibat. Aku menentang hati sendiri, menantang janji-janjiku padamu. Maafkan aku. Namun ini adaah murni pilihan hati untuk menjadikan rindu tidak lagi sesakit yang kerap aku rasa sepanjang waktu. Aku melakukan tindakan seperti ini, karena aku butuh bahu untuk bersandar kala bersedih. Ada jemari yang akan menyeka air mata. Ada pelukan hangat yang akan menjadi selimut dalam dinginku sepanjang malam. Maafkan aku, aku memang telah  mengecewakanmu. Sekali lagi itu semua karena aku tidak bisa tenang dalam jarak ini. Dalam kerinduan yang sering menghujam ganas ulu hati dengan kebingungan-kebingungannya. Aku tidak mau menjadi gila. Maafkan aku...”
Itulah pesan singkat yang aku kirim sebagai balasan pesan sedih kepada Liela. Kekejaman hanya akan menjadi sangat terasa jika seseorang benar-benar mendapat ketulusan dalam hatinya. Jiwanya tersemai dengan bebijian suci. Hanya sayang, demikian yang ingin sekali aku dapati atas hati sendiri, tidak bisa seindah mimpi. Perpisahan akan menjadi sebuah pelajaran. Kesedihan akan menjadi obat penguat agar hati sebisanya tegar dalam segala kondisi. Langkah yang baik atas keyakinan dan doa-doa, sejatinya tetaplah berbuah hikmah. Tidak jauh berbeda dengan kejadian musim. Orang yang mengeluh karena kemarau panjang. Sebagian orang lagi mengeluh karena banjir atas musim hujan yang berhari-hari tanpa redah. Untuk menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia hanya cukup menyediakan rasa syukur. Syukurilah, karena setiap yang telah dikerjakan dengan kesadaran akan menjadi jawaban yang memusakan, walau itu tidak sesuai pilihan.