Kamis, 11 Februari 2016

SANGKAL



Oleh: Wardi
            Entah dari mana aku akan mengisahkan takut seketika banyak orang-orang yang bertanya. Aku masih ingat pahit kejadian masa yang lalu. Saat usia yang hanya mengajariku pahit, manis, tawar dan asin. Setidaknya aku juga masih ingat dengan bekas luka di lengan Bapak. Itu adalah luka saat Bapak bercarok dengan Arsamin. Lengan Bapak tersabit celurit.
            Ceritanya aku tidak tahu pasti. Yang jelas Bapak memperjuangkan martabat anak gadisnya. Yaitu, aku yang saat ini sudah dewasa. Bapak tidak menerima lamaran anak Arsamin yang mau menjadi tunanganku, dengan alasan aku masih terlalu muda. Setelah terjadi perdebatan panjang keduanya, lalu Arsamin memutuskan untuk menantang carok dengan bapak. Ia merasa harga diri keluarganya telah direndahkan oleh Bapak.
            Kejadian lima belas tahun itu yang menjadi hantu untuk keberlanjutan cintaku. Bukan karena Bapak atau Ibu yang tidak menghendaki menantu. Bukan juga soal aku yang tidak menyukai lelaki-lelaki itu. Ini adalah kekelaman masa silam yang mengutuk diriku. Enam kali aku mendapatkan rasa cinta kepada seorang laki-laki. Dan sama sekali semuanya−berakhir menyakitkan. Bahkan tidak luput satu pun dari lelaki yang aku sayangi.
            Laki-laki pertama yang melamarku adalah Zainal. Dia adalah putera Arsamin yang dulu pernah Bapak tolak. Karena pada saat itu usia aku yang masih bau kencur. Dan Bapak juga masih ingin memondokkan aku. Zainal sekarang sudah memiliki anak satu. Dan satunya lagi masih dikandung isterinya. Aku belum merasakan cinta kepada Zainal. Tapi aku baru merasakan kalau sedikit iba dan takut menjauhinya setelah aku dua tahun ada di pondok.
            Setelah aku selesai mengabdi di pondok salafiah, banyak sekali orang yang silih berganti membuat aku jatuh cinta. Termasuk Sunahyu yang menjadi laki-laki kedua yang aku kagumi. Dia adalah anak kepala desa. Aku mengaku memang mengagumi lelaki seusiaku itu. Demikian juga Sunahyu. Kami yang sama-sama menyayangi akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Setelah siap menyatakan iya kepada Sunahyu, orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami. Hingga pada akhirnya untuk menghapus perasaan Sunahyu kepadaku, ayahnya menjodohkannya dengan puteri kepala desa sebelah.
            Laki-laki ketiga adalah Gani. Dia adalah anak seorang belater di kampung sebelah. Tubuhnya gagah. Sifatnya terkenal keras karena pengaruh keluarganya yang keras-keras semua. Gani yang melamarku, serta sudah diterima oleh keluargaku. Aku resmi menjadi calon isteri dari gani. Yang awalnya aku tidak menyukai Gani, pada akhirnya aku mulai mengagumi ketegasan dia membela kaum wanita.
            Hanya saja setelah kita memutuskan untuk menikah tiga bulan lagi dengan Gani, nasib na’as menimpanya. Gani terbunuh saat bercarok melawan Madrus. Gani bercarok karena masalah sapi di arena karapan. Selanjutnya adalah Asrahan, dia adalah laki-laki ke empat yang juga melamarku. Setelah setengah tahun kepergian Gani, hadirnya Asrahan perlahan merubah kesedihanku. Aku banyak mendapat cerita inspirasi dari dia.
            Asrahan yang mengajar di salah satu Madratsah Diniyah di kampung sebelah memang cukup cerdas untuk merubah pola kesedihanku. Tepatnya dia adalah seorang ustad dari santri-santri Madratsah. Aku dan Asrahan langsung memutuskan untuk menikah bulan depan. Sebelum tiba titik bahagia yang sakral, lagi-lagi, calon imamku terkena penyakit jiwa. Asrahan tiba-tiba saja gila. Puluhan tabib dari golongan para kiai dan dukun paranormal didatangkan dari berbagai desa untuk mengobati. Namun Asrahan tidak juga sembuh.
            Delapan bulan sudah Asrahan menderita gangguan kejiwaan. Akhirnya ayah dan ibunya berembuk dengan keluargaku. Mereka memutuskan tali pertunangan, karena anaknya yang mengalami gangguan jiwa itu, sejauh ini tidak juga sembuh-sembuh. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari laki-laki lain yang disepakati juga oleh keluarga Asrahan.
            Laki-laki ke lima adalah Odi. Dia orang kota yang baru berpindah ke desa ku. Ia ikut ayahnya yang menikah dengan tetangga sebelah. Odi adalah seorang pejabat pemerintahan di kabupaten. Penampilannya selalu tampak segar. Odi baru saja ditinggal oleh isterinya. Setelah ia menikah lima bulan, isterinya meninggal karena terkena seragan jantung. Maka atas usul Kiaji di desaku dan orang tua Odi, akhirnya dia diperkenalkan dengan aku.
            Aku yang hanya keluaran pesantren salafiah tentu canggung saat berhadapan dengannya, yang sudah lulusan S1 di salah satu perguruan tinggi ternama di Kabupaten Sumenep. Pada saat itu Odi bercerita tentang kehidupannya. Termasuk ia yang sudah pernah menikah. Dan jika aku berkenan menerimanya, maka ia akan bersedia untuk menjadi suami yang setia ucapnya. Sebelum aku memutuskan hidup dengan Odi, melirik ke Ibu dan Bapak yang ternyata langsung mengangguk takzim.
            Karena dukungan orang tua dan sanak keluarga akhirnya aku dan Odi akan segera menikah. Rencananya akan dilangsungkan segera mungkin. Namun lagi-lagi. Kutukan apa yang tengah menggeluti diriku. Odi mengalami kecelakaan sewaktu ia ingin pulang dari kota ke rumahnya. Ia meninggal di tempat kejadian, lantaran kepalanya yang pecah akibat benturan dengan aspal. Akhirnya sampai pada laki-laki yang ke enam. Dia adalah Rahmat. Anak seorang dukun yang terkenal sakti mandraguna.
            Aku sudah lelah untuk memilah pasangan hidup. Tanpa fikir panjang aku menerima lamarannya. Aku mau menikah dengan Rahmat seminggu lagi. Kejadian ini sudah satu tahun setelah kepergian Odi. Sebelum aku melangsungkan akad pernikahan dengan Rahmat, ayah Rahmat memberi saran kepada keluarga agar memberi makan setan di samping rumah terlebih dahulu. Maka keluargaku manut saja. Makanan setan itu berupa ayam dan kambing yang sudah diambil bagian dalam tubuhnya. Kemudian kambing dan ayam itu bentuknya harus utuh. Dan bagian dalam tubuhnya yang sudah diambil, diganti dengan jerami.
            Tiga hari menyambut akad nikah, Rahmat malah menjadi gila. Sama seperti kejadian yang menimpa Asrahan. Lima bulan berlalu, Rahmat tidak juga sembuh. Akhirnya keluargnya memutuskan hubungan kami yang terikat bhekal1.
            Aku tidak paham dengan kutukan  ini.
            Sebagai masyarakat Madura, sangat percaya pada sesuatu yang mistis. Termasuk sangkal yang kakek kemarin bilang kepada Ayah.
            Laki-laki ke tujuh adalah Sadik. Aku mengenalinya di pondok dua tahun yang lalu. Dia yang menjadi santri dalem yang mengurus aktivitas dapur, termasuk memasak dan mencuci peralatannya. Sebagai santri yang mendapat kepercayaan dari Kiai, Sadik sangat banyak digemari para santriwati. Meski antara santri puteri dan santri putera tidak pernah bertemu dalam aktivitas belajar, tapi Sadik cukup dikenal di kalangan pondok puteri. Bukan karena ia yang tampan, melainkan juga kecerdasannya.
            Malam itu rembulan bulat di langit hitam. Malam Sabtu. Di rumah ada acara reuni yang mendatangkan pengasuh pondok. Yaitu, Kiai Addur. Beliau adalah pengasuh pesantren, dimana dulu aku memetik ilmunya. Keramaian teman-teman setingkatku didampingi suami dan anak-anak mereka. Tiga jam waktu tersita. Semua tamu undangan lenyap.
            Kiai Addur yang masih bersila di mushollah rumah. Dan Bapak yang ikut mendampingi. Tampak terlihat di sebelah Kiai seorang pemuda yang tidak asing ikut mendampingi. Hanya saja jenggot dan rona wajahnya yang tidak muda lagi, membuat aku lupa sedikit akan siapa namanya. Percaturan suara di mushollah rumah sedikit serius. Meski kadang Kiai Addur menyelingi dengan tawanya yang khas aku kenal.
            Aku dan Ibu terus menguping dari dapur yang hanya terhalang tembok mushollah. “Kalau gitu nikahkan saja Anisa dengan Sadik. Sadik ini sudah puluhan tahun hidup bersamaku Ju.” Suara Kiai serius terhatur kepada Bapak yang mukanya menunduk takzim. Aku paham apa yang mereka bicarakan. Aku  dapat pula menyimpulkan bahwa laki-laki itu adalah Sadik. Aku mau dijodohkan dengan Sadik.
            Perjalanan detik cepat berlalu mengelabuhi menit dan jam yang menetaskan hari. Tanggal lima belas aku akan dinikahkan dengan Sadik. Aku kira kelelahan atas cinta yang tidak berusia ini sudah terlalu pasrah. Beberapa orang ramai di beranda rumah. Ikut meramaikan acara yang akan berlangsung. Seorang wanita desa yang sudah beberapa kali dilamar pria, namun tidak juga kesampaian pada muara bahagia yang diinginkan.
            Matahari sempurna tenggelam. Malam  ini akan berlangsung akad pernikahan. Pengantin laki-laki sudah bersila di atas langgar bersama dengan Kiai Addur yang mendampingi. Juga tidak luput keluarga besarku, seperti Bapak, kakak sepupu dan yang lain juga menemui keluarga besar Sadik. Doa terpanjat semoga ini berjalan damai. Tidak ada kendala yang akan terjadi lagi seperti yang terlewatkan dikejadian-kejadian sebelumnya.
            Setelah akad nikah selesai. Aku resmi menjadi isteri sah Sadik.
***
            Satu tahun sudah usia pernikahanku dengan Sadik. Dan sekarang aku tengah mengandung anak dari suamiku. Ternyata, apa yang dikatakan kakek dulu kepada Bapak benar adanya. Bahwa seorang gadis yang menolak lamaran pertama dari seorang pria, dia akan menjadi sangkal. Aku telah sangkal. Beberapa kali aku hendak menikah dengan pria yang aku cintai tidak juga kesampaian. Selalu ada hambatan.
            Maka dengan kebahagiaan yang sudah lama aku tunggu datangnya, kini telah menjelma nyata, akan aku jaga sesempurnanya. Bukan lagi sebuah angan yang dahulu aku kira tidak akan kesampaian. Sangkal yang mengutukku puluhan tahun ternyata sudah Tuhan lepas. Di usia yang mencapai tiga puluh lima tahun ini aku sudah bisa menikah sebagaimana gadis-gadis lain. Sangkal yang membelitku telah lepas.
            Bunga-bunga kebahagiaan semerbak bermekaran di taman hati. Kehidupan bersama suami tercinta benar-benar tidak terpungkiri indahnya. Aku yang lama terkurung dengan buah bibir masyarakat, menyandang sebagai gadis yang tidak payu-payu. Kini sudah usai.
            Tidak lama lagi kebahagiaan yang lain akan tiba. Semoga saja selamat kelahiran anak pertamaku. Dan aku berjanji, tidak akan membuatnya sangkal sebagaimana aku. Bagaimanapun orang yang akan meminta anakku kelak untuk dijadikan menantu, akan aku terima. Setidaknya sangkal cukup aku yang merasakan deritanya. Tidak perlu kepada anak-anakku. Malam masih dengan gelap langitnya. Gemuruh guntur bersahutan di balik langit tenggara yang hitam pekat. Pertanda hujan mau turun.
            Aku dan sanak keluarga baru saja menyelesaikan ibadah sholat isya’. Sebelum beranjak turun menuju beranda langgar, Bapak memanggil aku dan suami yang segera bergegas kembali ke rumah.
            “Nis, Bapak mau bicara.”
            Aku segera memperbaiki posisi duduk agar sempurna. Kembali bertimpu di hadapan beliau dengan takdzim.
            “Bapak minta maaf kepada kamu Nis. Sangkal ini sangat menyakitkan dirimu, bukan? Dan Bapak harap kepada engkau anakku Sadik, jaga Anisa baik-baik. Kelak saat kalian sudah jadi orang tua akan merasakan bagaimana menyandang beban-beban dilema seperti yang aku rasakan.” Bapak memperbaiki songkok hitamnya yang mulai memerah, “Dan jika kalian memiliki anak gadis, dan ada yang ingin meminangnya, jangan ditolak. Alangkah baiknya kalian terima dulu meskipun hati kalian tidak berkenan dengan orang itu. Biarkan hubungan itu berlanjut. Namun jika ditengah perjalanan hubungan kalian dan si besan tidak berjalan sebagaimana harapan kalian dan anakmu, lepas, putuskan. Setidaknya anak kalian tidak menjadi sangkal. Aku sungguh menyesal Nis. Maafkan Bapak.”
            “Iya Bapak. Itu semua, sekarang hanya menjadi kenangan bagi kami. Lagian saat ini kami sudah bahagia, betul kan Mas Sadik?” Aku melirik ke arah suami yang menunduk sedari tadi. Yang dilirik mengangguk pelan.
            Pembicaraan dengan Bapak selesai dengan kedatangan tamu Kiaji. Aku langsung bergegas menuju dapur untuk membuatkan kopi. Sebagaimana ciri khas masyarakat Madura, kopi dan rokok seperti tidak terpisahkan satu sama lain. Kopi dan rokok menjadi jamuan istimewah kepada orang yang bertamu. Demikian juga yang terjadi kepada suamiku. Dia suka menyeruput kopi dan menghisap rokok. Kopi menjadi hidangan utama yang wajib ada setiap paginya. Ketulusan hati ini aku aduk bersama rasa mantap kopi hitamnya.


Jogjakarta 2015
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.