Oleh: Wardi
Entah
dari mana aku akan mengisahkan takut seketika banyak orang-orang yang bertanya.
Aku masih ingat pahit kejadian masa yang lalu. Saat usia yang hanya mengajariku
pahit, manis, tawar dan asin. Setidaknya aku juga masih ingat dengan bekas luka
di lengan Bapak. Itu adalah luka saat Bapak bercarok dengan Arsamin. Lengan
Bapak tersabit celurit.
Ceritanya
aku tidak tahu pasti. Yang jelas Bapak memperjuangkan martabat anak gadisnya.
Yaitu, aku yang saat ini sudah dewasa. Bapak tidak menerima lamaran anak
Arsamin yang mau menjadi tunanganku, dengan alasan aku masih terlalu muda.
Setelah terjadi perdebatan panjang keduanya, lalu Arsamin memutuskan untuk
menantang carok dengan bapak. Ia merasa harga diri keluarganya telah
direndahkan oleh Bapak.
Kejadian
lima belas tahun itu yang menjadi hantu untuk keberlanjutan cintaku. Bukan
karena Bapak atau Ibu yang tidak menghendaki menantu. Bukan juga soal aku yang
tidak menyukai lelaki-lelaki itu. Ini adalah kekelaman masa silam yang mengutuk
diriku. Enam kali aku mendapatkan rasa cinta kepada seorang laki-laki. Dan sama
sekali semuanya−berakhir menyakitkan. Bahkan tidak luput satu pun dari lelaki
yang aku sayangi.
Laki-laki
pertama yang melamarku adalah Zainal. Dia adalah putera Arsamin yang dulu
pernah Bapak tolak. Karena pada saat itu usia aku yang masih bau kencur. Dan
Bapak juga masih ingin memondokkan aku. Zainal sekarang sudah memiliki anak
satu. Dan satunya lagi masih dikandung isterinya. Aku belum merasakan cinta
kepada Zainal. Tapi aku baru merasakan kalau sedikit iba dan takut menjauhinya
setelah aku dua tahun ada di pondok.
Setelah
aku selesai mengabdi di pondok salafiah, banyak sekali orang yang silih
berganti membuat aku jatuh cinta. Termasuk Sunahyu yang menjadi laki-laki kedua
yang aku kagumi. Dia adalah anak kepala desa. Aku mengaku memang mengagumi
lelaki seusiaku itu. Demikian juga Sunahyu. Kami yang sama-sama menyayangi
akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Setelah siap menyatakan iya kepada
Sunahyu, orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami. Hingga pada akhirnya
untuk menghapus perasaan Sunahyu kepadaku, ayahnya menjodohkannya dengan puteri
kepala desa sebelah.
Laki-laki
ketiga adalah Gani. Dia adalah anak seorang belater di kampung sebelah.
Tubuhnya gagah. Sifatnya terkenal keras karena pengaruh keluarganya yang
keras-keras semua. Gani yang melamarku, serta sudah diterima oleh keluargaku.
Aku resmi menjadi calon isteri dari gani. Yang awalnya aku tidak menyukai Gani,
pada akhirnya aku mulai mengagumi ketegasan dia membela kaum wanita.
Hanya
saja setelah kita memutuskan untuk menikah tiga bulan lagi dengan Gani, nasib
na’as menimpanya. Gani terbunuh saat bercarok melawan Madrus. Gani bercarok
karena masalah sapi di arena karapan. Selanjutnya adalah Asrahan, dia adalah
laki-laki ke empat yang juga melamarku. Setelah setengah tahun kepergian Gani,
hadirnya Asrahan perlahan merubah kesedihanku. Aku banyak mendapat cerita
inspirasi dari dia.
Asrahan
yang mengajar di salah satu Madratsah Diniyah di kampung sebelah memang cukup
cerdas untuk merubah pola kesedihanku. Tepatnya dia adalah seorang ustad dari
santri-santri Madratsah. Aku dan Asrahan langsung memutuskan untuk menikah
bulan depan. Sebelum tiba titik bahagia yang sakral, lagi-lagi, calon imamku
terkena penyakit jiwa. Asrahan tiba-tiba saja gila. Puluhan tabib dari golongan
para kiai dan dukun paranormal didatangkan dari berbagai desa untuk mengobati. Namun
Asrahan tidak juga sembuh.
Delapan
bulan sudah Asrahan menderita gangguan kejiwaan. Akhirnya ayah dan ibunya
berembuk dengan keluargaku. Mereka memutuskan tali pertunangan, karena anaknya
yang mengalami gangguan jiwa itu, sejauh ini tidak juga sembuh-sembuh. Hingga
pada akhirnya aku memutuskan untuk mencari laki-laki lain yang disepakati juga
oleh keluarga Asrahan.
Laki-laki
ke lima adalah Odi. Dia orang kota yang baru berpindah ke desa ku. Ia ikut
ayahnya yang menikah dengan tetangga sebelah. Odi adalah seorang pejabat
pemerintahan di kabupaten. Penampilannya selalu tampak segar. Odi baru saja
ditinggal oleh isterinya. Setelah ia menikah lima bulan, isterinya meninggal
karena terkena seragan jantung. Maka atas usul Kiaji di desaku dan orang tua
Odi, akhirnya dia diperkenalkan dengan aku.
Aku yang
hanya keluaran pesantren salafiah tentu canggung saat berhadapan dengannya,
yang sudah lulusan S1 di salah satu perguruan tinggi ternama di Kabupaten
Sumenep. Pada saat itu Odi bercerita tentang kehidupannya. Termasuk ia yang
sudah pernah menikah. Dan jika aku berkenan menerimanya, maka ia akan bersedia
untuk menjadi suami yang setia ucapnya. Sebelum aku memutuskan hidup dengan
Odi, melirik ke Ibu dan Bapak yang ternyata langsung mengangguk takzim.
Karena
dukungan orang tua dan sanak keluarga akhirnya aku dan Odi akan segera menikah.
Rencananya akan dilangsungkan segera mungkin. Namun lagi-lagi. Kutukan apa yang
tengah menggeluti diriku. Odi mengalami kecelakaan sewaktu ia ingin pulang dari
kota ke rumahnya. Ia meninggal di tempat kejadian, lantaran kepalanya yang
pecah akibat benturan dengan aspal. Akhirnya sampai pada laki-laki yang ke
enam. Dia adalah Rahmat. Anak seorang dukun yang terkenal sakti mandraguna.
Aku
sudah lelah untuk memilah pasangan hidup. Tanpa fikir panjang aku menerima
lamarannya. Aku mau menikah dengan Rahmat seminggu lagi. Kejadian ini sudah
satu tahun setelah kepergian Odi. Sebelum aku melangsungkan akad pernikahan
dengan Rahmat, ayah Rahmat memberi saran kepada keluarga agar memberi makan
setan di samping rumah terlebih dahulu. Maka keluargaku manut saja. Makanan
setan itu berupa ayam dan kambing yang sudah diambil bagian dalam tubuhnya.
Kemudian kambing dan ayam itu bentuknya harus utuh. Dan bagian dalam tubuhnya
yang sudah diambil, diganti dengan jerami.
Tiga
hari menyambut akad nikah, Rahmat malah menjadi gila. Sama seperti kejadian
yang menimpa Asrahan. Lima bulan berlalu, Rahmat tidak juga sembuh. Akhirnya
keluargnya memutuskan hubungan kami yang terikat bhekal1.
Aku
tidak paham dengan kutukan ini.
Sebagai
masyarakat Madura, sangat percaya pada sesuatu yang mistis. Termasuk sangkal
yang kakek kemarin bilang kepada Ayah.
Laki-laki
ke tujuh adalah Sadik. Aku mengenalinya di pondok dua tahun yang lalu. Dia yang
menjadi santri dalem yang mengurus aktivitas dapur, termasuk memasak dan
mencuci peralatannya. Sebagai santri yang mendapat kepercayaan dari Kiai, Sadik
sangat banyak digemari para santriwati. Meski antara santri puteri dan santri
putera tidak pernah bertemu dalam aktivitas belajar, tapi Sadik cukup dikenal
di kalangan pondok puteri. Bukan karena ia yang tampan, melainkan juga
kecerdasannya.
Malam
itu rembulan bulat di langit hitam. Malam Sabtu. Di rumah ada acara reuni yang
mendatangkan pengasuh pondok. Yaitu, Kiai Addur. Beliau adalah pengasuh
pesantren, dimana dulu aku memetik ilmunya. Keramaian teman-teman setingkatku
didampingi suami dan anak-anak mereka. Tiga jam waktu tersita. Semua tamu
undangan lenyap.
Kiai
Addur yang masih bersila di mushollah rumah. Dan Bapak yang ikut mendampingi.
Tampak terlihat di sebelah Kiai seorang pemuda yang tidak asing ikut
mendampingi. Hanya saja jenggot dan rona wajahnya yang tidak muda lagi, membuat
aku lupa sedikit akan siapa namanya. Percaturan suara di mushollah rumah
sedikit serius. Meski kadang Kiai Addur menyelingi dengan tawanya yang khas aku
kenal.
Aku dan
Ibu terus menguping dari dapur yang hanya terhalang tembok mushollah. “Kalau
gitu nikahkan saja Anisa dengan Sadik. Sadik ini sudah puluhan tahun hidup
bersamaku Ju.” Suara Kiai serius terhatur kepada Bapak yang mukanya menunduk
takzim. Aku paham apa yang mereka bicarakan. Aku dapat pula menyimpulkan bahwa laki-laki itu
adalah Sadik. Aku mau dijodohkan dengan Sadik.
Perjalanan
detik cepat berlalu mengelabuhi menit dan jam yang menetaskan hari. Tanggal
lima belas aku akan dinikahkan dengan Sadik. Aku kira kelelahan atas cinta yang
tidak berusia ini sudah terlalu pasrah. Beberapa orang ramai di beranda rumah.
Ikut meramaikan acara yang akan berlangsung. Seorang wanita desa yang sudah
beberapa kali dilamar pria, namun tidak juga kesampaian pada muara bahagia yang
diinginkan.
Matahari
sempurna tenggelam. Malam ini akan
berlangsung akad pernikahan. Pengantin laki-laki sudah bersila di atas langgar
bersama dengan Kiai Addur yang mendampingi. Juga tidak luput keluarga besarku,
seperti Bapak, kakak sepupu dan yang lain juga menemui keluarga besar Sadik.
Doa terpanjat semoga ini berjalan damai. Tidak ada kendala yang akan terjadi
lagi seperti yang terlewatkan dikejadian-kejadian sebelumnya.
Setelah
akad nikah selesai. Aku resmi menjadi isteri sah Sadik.
***
Satu
tahun sudah usia pernikahanku dengan Sadik. Dan sekarang aku tengah mengandung anak
dari suamiku. Ternyata, apa yang dikatakan kakek dulu kepada Bapak benar
adanya. Bahwa seorang gadis yang menolak lamaran pertama dari seorang pria, dia
akan menjadi sangkal. Aku telah sangkal. Beberapa kali aku hendak menikah
dengan pria yang aku cintai tidak juga kesampaian. Selalu ada hambatan.
Maka
dengan kebahagiaan yang sudah lama aku tunggu datangnya, kini telah menjelma
nyata, akan aku jaga sesempurnanya. Bukan lagi sebuah angan yang dahulu aku
kira tidak akan kesampaian. Sangkal yang mengutukku puluhan tahun ternyata
sudah Tuhan lepas. Di usia yang mencapai tiga puluh lima tahun ini aku sudah
bisa menikah sebagaimana gadis-gadis lain. Sangkal yang membelitku telah lepas.
Bunga-bunga
kebahagiaan semerbak bermekaran di taman hati. Kehidupan bersama suami tercinta
benar-benar tidak terpungkiri indahnya. Aku yang lama terkurung dengan buah
bibir masyarakat, menyandang sebagai gadis yang tidak payu-payu. Kini sudah
usai.
Tidak
lama lagi kebahagiaan yang lain akan tiba. Semoga saja selamat kelahiran anak
pertamaku. Dan aku berjanji, tidak akan membuatnya sangkal sebagaimana aku.
Bagaimanapun orang yang akan meminta anakku kelak untuk dijadikan menantu, akan
aku terima. Setidaknya sangkal cukup aku yang merasakan deritanya. Tidak perlu
kepada anak-anakku. Malam masih dengan gelap langitnya. Gemuruh guntur
bersahutan di balik langit tenggara yang hitam pekat. Pertanda hujan mau turun.
Aku dan
sanak keluarga baru saja menyelesaikan ibadah sholat isya’. Sebelum beranjak
turun menuju beranda langgar, Bapak memanggil aku dan suami yang segera
bergegas kembali ke rumah.
“Nis,
Bapak mau bicara.”
Aku
segera memperbaiki posisi duduk agar sempurna. Kembali bertimpu di hadapan
beliau dengan takdzim.
“Bapak
minta maaf kepada kamu Nis. Sangkal ini sangat menyakitkan dirimu, bukan? Dan
Bapak harap kepada engkau anakku Sadik, jaga Anisa baik-baik. Kelak saat kalian
sudah jadi orang tua akan merasakan bagaimana menyandang beban-beban dilema
seperti yang aku rasakan.” Bapak memperbaiki songkok hitamnya yang mulai memerah,
“Dan jika kalian memiliki anak gadis, dan ada yang ingin meminangnya, jangan
ditolak. Alangkah baiknya kalian terima dulu meskipun hati kalian tidak
berkenan dengan orang itu. Biarkan hubungan itu berlanjut. Namun jika ditengah
perjalanan hubungan kalian dan si besan tidak berjalan sebagaimana harapan
kalian dan anakmu, lepas, putuskan. Setidaknya anak kalian tidak menjadi
sangkal. Aku sungguh menyesal Nis. Maafkan Bapak.”
“Iya
Bapak. Itu semua, sekarang hanya menjadi kenangan bagi kami. Lagian saat ini
kami sudah bahagia, betul kan Mas Sadik?” Aku melirik ke arah suami yang
menunduk sedari tadi. Yang dilirik mengangguk pelan.
Pembicaraan
dengan Bapak selesai dengan kedatangan tamu Kiaji. Aku langsung bergegas menuju
dapur untuk membuatkan kopi. Sebagaimana ciri khas masyarakat Madura, kopi dan
rokok seperti tidak terpisahkan satu sama lain. Kopi dan rokok menjadi jamuan
istimewah kepada orang yang bertamu. Demikian juga yang terjadi kepada suamiku.
Dia suka menyeruput kopi dan menghisap rokok. Kopi menjadi hidangan utama yang
wajib ada setiap paginya. Ketulusan hati ini aku aduk bersama rasa mantap kopi
hitamnya.
Jogjakarta 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.