Ketika berbicara Madura pasti banyak keunikan yang akan tertuang. Terlepas dari banyaknya pandangan yg mencirikan bahwa (itu) orang Madura, ada satu yang tidak bisa dipisahkan oleh orang (asli) Madura. Setelah saya berteman dengan banyak orang di Jogja yang sama-sama sebagai mahasiswa. Banyak mahasiswa yg menanyakan sambil lalu mereka menyebutkan tentang ciri khas orang Madura, sebagimana mereka ketahui. Baik orang Jogja aslinya ataupun mereka yg berasal dari luar daerah Jogja, juga sering membincangkan Madura ketika berbicara dengan saya sebagi putra Madura asli.
Uniknya dari banyak orang Madura yang mencari nafkah di kota Jogja adalah rata-rata mereka menjadi tukang Pangkas Rambut, dan Penjual Sate. Saya pun tak lepas dari selintingan humor dari mereka ketika berkumpul dengan saya. Mereka sudah tidak sungkan-sungkan lagi mengatakan dihadapan saya "tesatte". Paling tidak dari kata itu saya sudah bersyukur kepada orang Madura yang membawa identitas Sate nya, sampai saya juga ikut merasakan kesenangan yang lain. Meskipun bahasa "tesatte" itu hanya bahasa modifikasi belaka dari pemain-pemain sinetron ditelevisi saja. Pulau Madura dengan jumlah empat kabupaten memiliki bahasa yang beragam. Perkabupaten memiliki logat dan pemaknaan kata yg berbeda. Dari satu kabupaten Sumenep saja, kabupaten paling timur dengan kabupaten yang terbanyak memiliki pulau-pulau kecil di Jawa Timur, per pulau tersaji banyak macam perbedaan bahasa. Salah satu contoh pulau Sapeken yang terletak berdekatan dengan pulau Kangean. Bahasa di sana (ahe') yang dalam bahasa Madura aslinya (Tadhe') dan makna bahasa Indonesianya tidak ada.
Selain bahasa. Masyarakat Madura yang berjiwa perantau itu juga memiliki ke khasan dalam hal busana. Ini saya terinspirasai dari Guru saya di MA Nasy'atul Muta'allimin, Dardiri Zubairi. Beliau mengupas dengan tuntas tentang mode pakaian alan masyarakat Madura. Seperti yang ditulis di blog pribadinya Rampak Naong tentang sarung dan songkok di dalam masyarakat Madura. Nenurut beliau, sarung lebih dari sekedar pakaian. Sarung adalah Madura itu sendiri. Memang benar, bahkan di Madura tempat dimana saya dilahirkan, dibesarkan, dan semoga saya bisa kembali dan mati disana nantinya (tersebab saya masih menjadi salah satu putra Madura perantau), sarung sudah saya kenal sejak saya berumur empat tahun. Saya dibelikan sarung kecil oleh Bapak saya. Pada saat itu masih belum muat untuk ukuran tubuh saya yang sangat kecil. Namun keinginan menanamkan sarung dalam diri saya oleh Bapak saya tidak pupus pada persoalan ukuran sarung yang kebesaran belaka. Beliau menggunting ujung sarung sampai panjangnya sama dengan ukuran badan saya yg kerdil. Saya dipaksa untuk memakai sarung, utamanya pada saat saya mau berangkat ngaji ke surau dekat rumah.
Sarung dalam masyarakat madura memang multifungsi. Seperti halnya masyarakat Eropa yang dengan mode khasnya (celana jin), Madura sendiri punya sarung. "Kenapa harus sarung?" pertanyaan yang dilontarkan oleh teman sekelas juga satu jurusan dengan saya. Spontan dengan jawaban yang saya ketahui, karena Madura adalah pulau Islam Aswaja. Keaswajaan masyarakat Madura tidak bisa dianggap remeh. Karena fanatisme keislamannya yang "rahamatan lil alamin" masih dipegang teguh oleh masyarakat Madura.
Ke-khasan itulah yang saya alami dari teman terdekat dan banyak orang memandang Madura. Pun sebenarnya masih banyak yang tidak terungkap dipermukaan dalam tulisan ini tentang budaya dan kearian orang Madura. Sekedar tinjauan dan penggambaran bahwa Madura bukan masyarakat yang keras, seperti yang sempat menjadi isu dikalangan orang-orang di luar Madura. Hal itu sebenarnya dipicu oleh kejadian Sampit pada beberapa tahun silam. Pembunuhan berencana juga tidak lepas dari terjadinya persangkaan terhadap orang Madura yang keras, dengan mengatas namakan "carok". Menurut saya, kejadian pertumpahan darah seperti yang terjadi di Madura, juga banyak terjadi di semua wilayah di Indonesia. Carok kontemporer itu sudah bukan carok yang pertama lahir dikehidupan masyarakat Madura. Itu sudah lebih kepada pembunuhan berenana kasusnya. Secara tidak langsung itu bukan budaya orang Madura, melainkan budaya semua manusia. Ironinya kenapa harus madura yang menjadi kaca besar mereka ? Lalu wilayah yang lain, yang melakukan tindakan yang sama seperti di Madura itu apa namanya?. Adalah pertanyaan yang saya butuhkan dari masyarakat utamanya yang dari luar Madura.
Sakalangkong..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.