Selasa, 17 Mei 2016

Puisi: Mentakwil Sebuah Kehilangan




LUKISAN TAMIDUNG

Nyiur dan siwalan menjulang di dada
kulukis Tamidung dengan rindu
kepulangan. diternak kapan beranakpinak

Duh engkau begitu masih yang kumaksud puisi
jatuh berserakan pada kuas dan kanfas
di jantungku
                        namamu berdzikir.

Jogjakarta 2015

Harapan Itu

Karenamu cinta aku ada,
Memetik embun yang tinggal setangkai.
Pada pepucuk harapan pernah
Berdiri putik-putik lelah
Hanya tak semerbak engkau. cinta

Karenamu cinta aku tiba,
Melarung laut yang angkuh berbadai.
Di patahan ombak buih adalah mimpi
Yang kita lepas berdua,
walau harus kucecap asin airmata.

Cinta ...
Telah lahir dari rahim
embun dan badai
Ijinkan kutulis diam-diam
pada partitur yang didendang kutilang
: cinta.

Jogjakarta 2016

Jalan ke Jogja
:dari Ibu

Kenapa tak kau tanam saja tembakau di simpangtiga jalan kepulangan, anakku?
biar berpamor kemarau yang kau sing-sing
dari lengan baju hingga bahu yang lusuh

Tapi lorong sudah berganti musim lalu
naung daun pohon siwalan jadi bangunan
pantai-pantai jadi pantat-pantat
malam
yang asing di mata, kian sudah biasa

Bersiaplah menarung asa cita-cita, anakku
doa yang masih kupelintir ini
adalah engkau yang lahir di gerai hujan berpetir
jaga, seperti bapakmu menanam jalan pada batang padi

Di sana ada harap menunggu perjumpaan
dimana harap yang tak kering dalam lembab cinta
seperih embun yang bertengger atas daun pisang
menitip harap tetap basah seharian

Jalan adalah keinginan yang tak patah, Tuhan.

Jogjakarta 2016

Mentakwil Sebuah Kehilangan (Vietri Yani)

Pada bulan kertas menggantung langit hitam, aku bercerita
tentang patah arah hujan ke tanah kerontang
serupa kisah sumbang kemarau dalam lembar partitur dukana

Vie, kini segala puisi belingsatan mencari diksi
mata pena tak seruncing pandang laki-laki dari balik laut
termasuk milikku, tumpul, serta sunyi

Beberapa gemintang jumpalitan dari dimensi langit kita
yang dahulu pernah digait janur kuning, adalah wajah malam temaram berusaha nyalang
hingga getar batu subuh menyalip paksa doa-doa kita

Vie, kini hijaiah hampir punah, sayang
rindu yang mengaksara pada kaf dan nun pun makin jauh mengesana
dan pulau kecil yang airnya dari mataku
sudah dilarung banyak perahu nelayan lupa bulan
melepas ritual menandai bintang, menjemput ikan

Hingga kita hilang.

Jogjakarta 2016

Biografi Pagi

Gelayut nyamur pada ujung daun-daun
dilukis langit merah cinta
bening tubuh dekat sedekap peluk ibu
yang mengantar aroma bau pagi

Kepak sayap kutilang dahan ke dahan membawa kangen
wajah laut tua yang keriput
tempatku melepas layar sampan
seperti sayap kutilang menuju dada renta

Tapi pagi masih rindu yang tak kunjung mampu
dilukis embun tak panjang dalam semalam
mengukir bagai setiap lekuk wajah ibu dan bapak

Jogjakarta 2016

Biografi Senja

Tumpukan jerami antara pematang sawah itu
kusebut gunung kecil
berputing aku di atasnya uring-uringan
membaca matahari dari celah jemari tangan kiri

Langit barat yang jingga
aku menulisnya dalam lembar sore
begitu juga pada sampul hari yang lain
barat kerap merayuku

Tapi sebentar lagi rajuk pasti datang dari bapak
marah bila kemalaman di sawah
sedang aku tanpa jawab meski satu dua kata
karena bapak lebih tahu, senja lebih lenting dari rotan di tangannya

Jogjakarta 2016
 
Siluet Silam
;Kepada Bapak di Pulau Madura

Buih-buih mengambang pada lapang air laut yang tersisa bayang
Sampan-sampan hanya larung antara sisa kenang yang tenang
Aku kecil riang menahan mimpi pada tulang layang-layang
Bersama panas kemarau dan legam bumi Batang-batang

Antara tembakau dan tenang laut tempat ikan semayam
Bapak ajarkan tentang warna berkulit hitam yang legam
Gerakan cangkul dalam rangkul peluknya menghantam keras tegalanku
Gelaran jala dan hangat keringatnya, menawar semua asin air lautku.

Bahkan ketika sore tiba, dan adzan mendirikan maghrib-Nya
Bapak kembali ajarkan satu hal pada kokoh gulungan sarungnya
Hingga langkah kaki menuju langgar pengajian, masih aku bawa aroma tangannya
Qur’an saja lama aku  hatam, maka aku pun hafal cambuk berwarna merah.

Jogjakarta 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.