LUKISAN TAMIDUNG
Nyiur dan siwalan menjulang di dada
kulukis Tamidung dengan rindu
kepulangan. diternak kapan beranakpinak
Duh engkau begitu masih yang kumaksud puisi
jatuh berserakan pada kuas dan kanfas
di jantungku
namamu berdzikir.
Jogjakarta 2015
Harapan
Itu
Karenamu cinta aku ada,
Memetik embun yang tinggal setangkai.
Pada pepucuk harapan pernah
Berdiri putik-putik lelah
Hanya tak semerbak engkau. cinta
Karenamu cinta aku tiba,
Melarung laut yang angkuh berbadai.
Di patahan ombak buih adalah mimpi
Yang kita lepas berdua,
walau harus kucecap asin airmata.
Cinta ...
Telah lahir dari rahim
embun dan badai
Ijinkan kutulis diam-diam
pada partitur yang didendang kutilang
: cinta.
Jogjakarta 2016
Jalan
ke Jogja
:dari
Ibu
Kenapa tak kau tanam saja tembakau di
simpangtiga jalan kepulangan, anakku?
biar berpamor kemarau yang kau sing-sing
dari lengan baju hingga bahu yang lusuh
Tapi lorong sudah berganti musim lalu
naung daun pohon siwalan jadi bangunan
pantai-pantai jadi pantat-pantat
malam
yang asing di mata, kian sudah biasa
Bersiaplah menarung asa cita-cita,
anakku
doa yang masih kupelintir ini
adalah engkau yang lahir di gerai hujan
berpetir
jaga, seperti bapakmu menanam jalan pada
batang padi
Di sana ada harap menunggu perjumpaan
dimana harap yang tak kering dalam lembab
cinta
seperih embun yang bertengger atas daun
pisang
menitip harap tetap basah seharian
Jalan adalah keinginan yang tak patah,
Tuhan.
Jogjakarta 2016
Mentakwil
Sebuah Kehilangan
(Vietri
Yani)
Pada bulan kertas menggantung langit
hitam, aku bercerita
tentang patah arah hujan ke tanah
kerontang
serupa kisah sumbang kemarau dalam
lembar partitur dukana
Vie, kini segala puisi belingsatan mencari
diksi
mata pena tak seruncing pandang
laki-laki dari balik laut
termasuk milikku, tumpul, serta sunyi
Beberapa gemintang jumpalitan dari
dimensi langit kita
yang dahulu pernah digait janur kuning,
adalah wajah malam temaram berusaha nyalang
hingga getar batu subuh menyalip paksa
doa-doa kita
Vie, kini hijaiah hampir punah, sayang
rindu yang mengaksara pada kaf dan nun
pun makin jauh mengesana
dan pulau kecil yang airnya dari mataku
sudah dilarung banyak perahu nelayan
lupa bulan
melepas ritual menandai bintang,
menjemput ikan
Hingga kita hilang.
Jogjakarta 2016
Biografi
Pagi
Gelayut nyamur pada ujung daun-daun
dilukis langit merah cinta
bening tubuh dekat sedekap peluk ibu
yang mengantar aroma bau pagi
Kepak sayap kutilang dahan ke dahan
membawa kangen
wajah laut tua yang keriput
tempatku melepas layar sampan
seperti sayap kutilang menuju dada renta
Tapi pagi masih rindu yang tak kunjung
mampu
dilukis embun tak panjang dalam semalam
mengukir bagai setiap lekuk wajah ibu
dan bapak
Jogjakarta 2016
Biografi
Senja
Tumpukan jerami antara pematang sawah
itu
kusebut gunung kecil
berputing aku di atasnya uring-uringan
membaca matahari dari celah jemari
tangan kiri
Langit barat yang jingga
aku menulisnya dalam lembar sore
begitu juga pada sampul hari yang lain
barat kerap merayuku
Tapi sebentar lagi rajuk pasti datang
dari bapak
marah bila kemalaman di sawah
sedang aku tanpa jawab meski satu dua
kata
karena bapak lebih tahu, senja lebih
lenting dari rotan di tangannya
Jogjakarta 2016
;Kepada
Bapak di Pulau Madura
Buih-buih mengambang pada lapang air
laut yang tersisa bayang
Sampan-sampan hanya larung antara sisa
kenang yang tenang
Aku kecil riang menahan mimpi pada
tulang layang-layang
Bersama panas kemarau dan legam bumi
Batang-batang
Antara tembakau dan tenang laut tempat
ikan semayam
Bapak ajarkan tentang warna berkulit
hitam yang legam
Gerakan cangkul dalam rangkul peluknya
menghantam keras tegalanku
Gelaran jala dan hangat keringatnya,
menawar semua asin air lautku.
Bahkan ketika sore tiba, dan adzan
mendirikan maghrib-Nya
Bapak kembali ajarkan satu hal pada
kokoh gulungan sarungnya
Hingga langkah kaki menuju langgar
pengajian, masih aku bawa aroma tangannya
Qur’an saja lama aku hatam, maka aku pun hafal cambuk berwarna
merah.
Jogjakarta 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.