Tanah Madura sudah empat tahun lalu ia tinggalkan. Semenjak dia keluar dari sekolah Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren ternama di Madura, Azizah langsung berangkat ke Jakarta untuk bekerja menjaga toko. Keadaan ekonomi dalam keluarganya yang kurang mendukung, mengharuskannya merantau, bekerja. Azizah bekerja selama bertahun-tahun. Dan selama itu pula ia tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Kedua orangtuanya sebagai petani atau pekebun. Dua petak tanah, satu-satunya harta milik orangtuanya, dijual untuk memberangkatkan Azizah ke Kota Jakarta. Yang tersisa hanya tanah sangkol (baca: tanah warisan) di sebelah timur rumahnya, yang masih dipertahankan tak dijual.
Kesakralan tanah sangkol masih dijaga
ketat oleh orang Madura untuk tidak dijual. Walau seiring berjalannya waktu ke
arah industrialisasi, kini, tanah sangkol sudah banyak yang terjual. Masyarakat
mengingkari fatwa moyangnya. Keluarga Azizah, Bapak Azizah termasuk yang masih
kuat mempertahankan tuah tanah sangkol yang sakral itu. Masih percaya, kalau
tanah tersebut dijual, akan terjadi petaka yang menimpa ia dan keturunannya
selama tujuh turunan, kelak.
Suasana perkampungan di rumah Azizah
tidak seperti yang kini ia tempati selama empat tahun. Senandung siul
burung-burung ramai mengisi pagi. Malam hari, ada derrik jangkrik dan uhuk
burung hantu. Suasana perkampungan tak pernah sepi dengan orkestra alam. Sedang
saat ini, juga tidak pernah lengang. Hanya bedanya yang menjadi orkestranya
dari deru mesin-mesin. Bising. Bahkan setiap malam minggu, dekat samping toko
tempatnya berjualan ada kedai terbuka. Tempatnya terbuka. Di kedai itu setiap
malam minggu akan ramai dengan suara musik dari pengeras suara. Pengap dengan
sirkulasi udara yang tidak sama dengan di desa. Desa yang kaya akan artistik
pepohonan, sekarang, di tempat ia bekerja, kaya dengan artistik gedung-gedung
megah menjulang langit.
Terbesit di hatinya untuk pulang. Hasil
dari kerjanya sudah dirasa cukup menurut Azizah untuk menjadi modal mencipta
lahan pekerjaan di kampung halamannya. Dia ingin membuat usaha sendiri meski
kecil-kecilan. Dan pulanglah Azizah ke kampung halamannya. Setibanya di desa,
banyak orang yang bermain ke rumah Azizah. Ya, rumahnya sudah bukan gubuk
seperti yang dulu. Kini sudah bergedung, gedungnya bukan lagi memakai dari
anyaman bambu. Berkaca pula. Azizah sudah menjadi lebih berubah setelah empat
tahun menjadi perantauan mencari kerja. Sebagian uang yang dikirimkan kepada
orangtuanya, ternyata dimanfaatkan untuk memperbaiki rumahnya oleh Bapak
Azizah. Wajah Azizah pun lebih cantik. Kulitnya tambah putih. Sudah bukan orang
madura yang celleng seddha’ (baca:
hitam dan pas takaran).
Kepulangan Azizah dari Kota Jakarta
ke Desa Tamidung itu ternyata menyita banyak perhatian pemuda desa. Banyak
pemuda yang tertarik akan kecantikan Azizah kini, yang dahulu kulitnya sedikit
kumuh itu. Termasuk Halili, putra Kiai Husen dari Pondok Pesantren Salafiah di
Desa Tamidung. Kabar-kabar itu segera menjadi pembicaraan sebagian orang
sekampung. Azizah pun mulai menangkap kabar bahwa Halili akan meminangnya. Dan
kedua orangtua Azizah cukup menyambut—memang sudah saatnya sang putri
kesayangannya itu menikah.
Bulan merangkak pelan di atas langit
rumah Azizah. Keramaian terlihat. Beberapa sanak familinya berkumpul menyambut
kedatangan Halili dan rombongan yang segera tiba di rumah Azizah. Jam
menunjukkan pukul delapan malam. Tibalah saatnya pembicaraan mengenai lamaran
Halili pada Azizah. Bapak Azizah memasrahkan kepada putri kesayangannya untuk
menjawab. Menerima atau tidak, tergantung Azizah. Azizah yang mondok selama
belasan tahun di Pesantren, dianggap lebih dewasa daripada Bapaknya. Maka saat
itu juga, seluruh sanak famili sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Bapak
Azizah.
“Sebelum Mas Halili yakin untuk
mengkhitbah saya sebagai istri, saya ingin mengatakan beberapa persyaratan.
Syarat ini akan bisa menjadi syahnya akad nikah kita, MAs. Pasti Mas Halili
sudah lebih paham dari saya, bahwa syarat sahnya pernikahan diatur di dalam
Kitab Al-Mughni, juga syarat pra pernikahan ini diperbolehkan dalam
Undang-undang Negara kita, yang biasa dikenal dengan istilah perjanjian
pra-nikah atau prenuptial agreement. Pertama, saya meminta kepada Mas Halili,
jika kelak kita punya anak, saya ingin memasrahkan anak kita ke pesantren.
Kedua, bilamana saya tidak diperbolehkan untuk bekerja di luar, belikan saya
mesin jahit. Saya akan belajar menjahit, membuat krudung dan hijab untuk dijual.
Ketiga, belikan saya beberapa petak sawah, bilamana saya tidak diperbolehkan
bekerja jauh. Saya akan bertani. Meneruskan warisan moyang sebagai orang tani,
pecinta sawah, pecinta tanah. Jika mujur, kita bisa mempekerjakan orang-orang
di sawah kita, itu pun pasti hanya sampai kumandang adzan dzuhur. Biar para
pekerja bisa menunaikan kewajibannya. Apabila Mas Halili bersedia memenuhi
syarat-syarat tersebut, saya siap menjadi istri Mas Halili,” pinta Azizah
dengan cukup panjang lebar. Orang-orang menjadi terperangah dengan penjelasan
mutiara desa itu.
“Iya aku sanggup,” balas Halili
diiringi Alhamdulillah dari orang-orang yang berada di tempat itu.
Proses khitbah berlangsung tenang.
Acara pernikahan antara Azizah dan halili akan berlangsung minggu depan, sesuai
kesepakatan kedua belah pihak keluarga. Jam sebelas malam. Rumah Azizah sudah
mulai lengang. Keluarga Kiai Husen sudah bergegas setengah jam yang lalu.
Sementara kerabat-kerabat keluarga Azizah, perlahan mulai berkurang. Kembali ke
rumah masing-masing. Semakin menuju pekiknya malam, rumah itu semakin lengang
dengan orang-orang, hingga akhirnya tersisa penghuninya saja. Bulan yang
merangkak sedari tadi, sudah semakin jauh ke barat. Cahanya membias dari
celah-celah janur kelapa. Sementara nyamur semakin kuyupkan dedaunan, membuat
dingin suasana malam itu.
###
Satu minggu sudah sejak malam
lamaran. Kini tiba acara akad nikah Azizah dan halili. Pagi masih buta.
Batu-batu subuh bergetar gigil. Azizah menjatuhkan keningnya, bersujud pada
sajadah. Setelah kepalanya diangkat, sajadah begitu basah dengan doa-doa.
Ganjil hati Azizah. Ia merasa takut tidak bisa menjadi seorang istri yang
berbakti kepada sang suami. Nanti, setelah matahari terbit. Setelah kicau
kutilang usai. Setelah embun terbang dari pucuk rerumputan. Jam sembilan pagi
akan berlangsung akad nikahnya dengan Halili. Bergetar hati Azizah menyambut
hari bahagia yang sakral itu.
Matahari sudah semakin naik. Tiga
kejadian dalam hidup yang akan dilewati oleh manusia normal: Kelahiran,
pernikahan, dan kematian. Dan kini, jam seblian, sudah bagian kedua yang Azizah
akan lewati dari perjalanan hidupnya. Orang-orang sudah ramai memenuhi
sudut-sudut rumah Azizah. Tembang-tembang sholawat dilantukan menyambut
kedatangan pengantin pria. Azizah sudah dihias sejak tadi setelah sholat subuh.
Gaun pengantin putih jadi penghias tubuhnya. Tampaklah ia seperti mutiara dari
kedalaman laut. Berkilauan. Mutiara yang hangat.
Acara akad nikah sudah selesai.
Saksi-saki serentak menyatakan sahnya pernikahan. Halili dan Azizah kembali
duduk ke pelaminan. Gemuruh jantung Azizah tak kuasa ditahan saat duduk berdua
dengan Halili di kursi pelaminan, tentu setelah selesai ijab kabul. Rasanya ada
yang ingin membuncah dari bola matanya. Semacam air bahagia yang suci. Azizah
menahan sekuatnya, tapi, air itu akhirnya landai juga. Mengalir di antara lekuk
wajah dan hidungnya. Azizah menangis.
“Kamu kenapa Dik Azizah? Apakah pernikahan
ini memberatkanmu Dik?” tanya Halili dengan nada yang sutra.
“Tidak sama sekali Mas. Justru saya
sangat bahagia, akhirnya bisa menikah juga. Hanya saja, hati saya takut. Takut
tidak bisa menjalankan kewajiban saya sebagai seorang istri nantinya,” sembari
menyeka air matanya yang mengalir.
“Kau tak perlu berberat hati
sedemikiannya Dik. Aku suamimu sekarang, bukan orang lain. Tenangkan hati kamu.
Insyaallah, pernikahan ini berkah,” masih dengan kata halus dan lembut Sahari
menasehati Azizah di pelaminan.
Acara pernikahan hanya selesai dalam
satu hari. Azizah dan Halili telah resmi menjadi sepasang suami istri. Kini ia
memulai lembar baru dalam hidupnya. Sesuai dengan kesepakatan sebelum
menikah—Sahari membelikan tiga petak sawah untuk Azizah. Juga satu mesin jahit
yang menemani kekosongan hari-harinya dalam rumah tangga. Hanya, Azizah yang
masih kurang fasih dalam hal jahit-menjahit, maka ia memilih untuk bercocok
tanam di sawah saja.
Musim hujan yang tiba, membuat
Azizah bahagia. Ia menyambut hujan dengan rencana akan menanam padi di sawah
pemberian suaminya tercinta. Selain padi, dia akan menanam kangkung, demi
menghargai tanah. Terbesit dalam pikirnya untuk membudayakan bertani. Lantaran
lahan-lahan pertanian milik tetangganya yang sudah ditanami gedung oleh para
investor, membuat Azizah ingin memperluas pertanian.
Azizah teringat pada almarhum
saudara kandungnya yang tertua, Dari. Dulu, tepat di sawah yang kini dijadikan
swalayan itu, tempatnya bermain mencari kangkung dengan Dari. Kangkung memiliki
kenangan yang besar untuk Azizah. Dulu dia menyebut daun kangkung itu adalah
daging, dan batangnya adalah tulang kangkung. Tapi kini, kangkung-kangkung yang
banyak di sawah itu sudah menjadi kawat-kawat yang menjalar menjadi penguat
bangunan. Kangkung yang menjalar di sawah, telah berganti menjadi kawat
menjalar di gedung-gedung.
Kisah cinta Azizah dengan Halili
dibingkai indah padi-padi menguning. Semakin tua semakin merunduk. Diperkuat
asmara yang terselip di antara cabang batang kangkung. Tak ada hari paling
indah bagi mereka bedua, selain menunggu senja di pematang sawahnya. Tempat
memilin cinta dengan doa-doa.
“Mas, kelak, jika kita telah tiada,
terpisah oleh kematian, sawah ini akan menjadi sebuah warisan bagi anak-anak
kita. Kebahagiaan kita, cinta kita, semua aku pasrah dan tumpahkan di pematang
sawah ini padamu.” Azizah menyandarkan kepalannya ke bahu Halili. Senja semakin
tembaga. Kutilang sibuk antara dahan-kedahan. Kepak sayapnya serupa memutar
takbir atas nama bahagia cinta Allah. Sekian...
Jogjakarta
2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.