Minggu, 15 Mei 2016

Tanah Cinta Sawah Azizah



            Tanah Madura sudah empat tahun lalu ia tinggalkan. Semenjak dia keluar dari sekolah Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren ternama di Madura, Azizah langsung berangkat ke Jakarta untuk bekerja menjaga toko. Keadaan ekonomi dalam keluarganya yang kurang mendukung, mengharuskannya merantau, bekerja. Azizah bekerja selama bertahun-tahun. Dan selama itu pula ia tidak pernah pulang ke kampung halamannya. Kedua orangtuanya sebagai petani atau pekebun. Dua petak tanah, satu-satunya harta milik orangtuanya, dijual untuk memberangkatkan Azizah ke Kota Jakarta. Yang tersisa hanya tanah sangkol (baca: tanah warisan) di sebelah timur rumahnya, yang masih dipertahankan tak dijual.

            Kesakralan tanah sangkol masih dijaga ketat oleh orang Madura untuk tidak dijual. Walau seiring berjalannya waktu ke arah industrialisasi, kini, tanah sangkol sudah banyak yang terjual. Masyarakat mengingkari fatwa moyangnya. Keluarga Azizah, Bapak Azizah termasuk yang masih kuat mempertahankan tuah tanah sangkol yang sakral itu. Masih percaya, kalau tanah tersebut dijual, akan terjadi petaka yang menimpa ia dan keturunannya selama tujuh turunan, kelak.
            Suasana perkampungan di rumah Azizah tidak seperti yang kini ia tempati selama empat tahun. Senandung siul burung-burung ramai mengisi pagi. Malam hari, ada derrik jangkrik dan uhuk burung hantu. Suasana perkampungan tak pernah sepi dengan orkestra alam. Sedang saat ini, juga tidak pernah lengang. Hanya bedanya yang menjadi orkestranya dari deru mesin-mesin. Bising. Bahkan setiap malam minggu, dekat samping toko tempatnya berjualan ada kedai terbuka. Tempatnya terbuka. Di kedai itu setiap malam minggu akan ramai dengan suara musik dari pengeras suara. Pengap dengan sirkulasi udara yang tidak sama dengan di desa. Desa yang kaya akan artistik pepohonan, sekarang, di tempat ia bekerja, kaya dengan artistik gedung-gedung megah menjulang langit.
            Terbesit di hatinya untuk pulang. Hasil dari kerjanya sudah dirasa cukup menurut Azizah untuk menjadi modal mencipta lahan pekerjaan di kampung halamannya. Dia ingin membuat usaha sendiri meski kecil-kecilan. Dan pulanglah Azizah ke kampung halamannya. Setibanya di desa, banyak orang yang bermain ke rumah Azizah. Ya, rumahnya sudah bukan gubuk seperti yang dulu. Kini sudah bergedung, gedungnya bukan lagi memakai dari anyaman bambu. Berkaca pula. Azizah sudah menjadi lebih berubah setelah empat tahun menjadi perantauan mencari kerja. Sebagian uang yang dikirimkan kepada orangtuanya, ternyata dimanfaatkan untuk memperbaiki rumahnya oleh Bapak Azizah. Wajah Azizah pun lebih cantik. Kulitnya tambah putih. Sudah bukan orang madura yang celleng seddha’ (baca: hitam dan pas takaran).
            Kepulangan Azizah dari Kota Jakarta ke Desa Tamidung itu ternyata menyita banyak perhatian pemuda desa. Banyak pemuda yang tertarik akan kecantikan Azizah kini, yang dahulu kulitnya sedikit kumuh itu. Termasuk Halili, putra Kiai Husen dari Pondok Pesantren Salafiah di Desa Tamidung. Kabar-kabar itu segera menjadi pembicaraan sebagian orang sekampung. Azizah pun mulai menangkap kabar bahwa Halili akan meminangnya. Dan kedua orangtua Azizah cukup menyambut—memang sudah saatnya sang putri kesayangannya itu menikah.
            Bulan merangkak pelan di atas langit rumah Azizah. Keramaian terlihat. Beberapa sanak familinya berkumpul menyambut kedatangan Halili dan rombongan yang segera tiba di rumah Azizah. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Tibalah saatnya pembicaraan mengenai lamaran Halili pada Azizah. Bapak Azizah memasrahkan kepada putri kesayangannya untuk menjawab. Menerima atau tidak, tergantung Azizah. Azizah yang mondok selama belasan tahun di Pesantren, dianggap lebih dewasa daripada Bapaknya. Maka saat itu juga, seluruh sanak famili sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Azizah.
            “Sebelum Mas Halili yakin untuk mengkhitbah saya sebagai istri, saya ingin mengatakan beberapa persyaratan. Syarat ini akan bisa menjadi syahnya akad nikah kita, MAs. Pasti Mas Halili sudah lebih paham dari saya, bahwa syarat sahnya pernikahan diatur di dalam Kitab Al-Mughni, juga syarat pra pernikahan ini diperbolehkan dalam Undang-undang Negara kita, yang biasa dikenal dengan istilah perjanjian pra-nikah atau prenuptial agreement. Pertama, saya meminta kepada Mas Halili, jika kelak kita punya anak, saya ingin memasrahkan anak kita ke pesantren. Kedua, bilamana saya tidak diperbolehkan untuk bekerja di luar, belikan saya mesin jahit. Saya akan belajar menjahit, membuat krudung dan hijab untuk dijual. Ketiga, belikan saya beberapa petak sawah, bilamana saya tidak diperbolehkan bekerja jauh. Saya akan bertani. Meneruskan warisan moyang sebagai orang tani, pecinta sawah, pecinta tanah. Jika mujur, kita bisa mempekerjakan orang-orang di sawah kita, itu pun pasti hanya sampai kumandang adzan dzuhur. Biar para pekerja bisa menunaikan kewajibannya. Apabila Mas Halili bersedia memenuhi syarat-syarat tersebut, saya siap menjadi istri Mas Halili,” pinta Azizah dengan cukup panjang lebar. Orang-orang menjadi terperangah dengan penjelasan mutiara desa itu.
            “Iya aku sanggup,” balas Halili diiringi Alhamdulillah dari orang-orang yang berada di tempat itu.
            Proses khitbah berlangsung tenang. Acara pernikahan antara Azizah dan halili akan berlangsung minggu depan, sesuai kesepakatan kedua belah pihak keluarga. Jam sebelas malam. Rumah Azizah sudah mulai lengang. Keluarga Kiai Husen sudah bergegas setengah jam yang lalu. Sementara kerabat-kerabat keluarga Azizah, perlahan mulai berkurang. Kembali ke rumah masing-masing. Semakin menuju pekiknya malam, rumah itu semakin lengang dengan orang-orang, hingga akhirnya tersisa penghuninya saja. Bulan yang merangkak sedari tadi, sudah semakin jauh ke barat. Cahanya membias dari celah-celah janur kelapa. Sementara nyamur semakin kuyupkan dedaunan, membuat dingin suasana malam itu.
###
            Satu minggu sudah sejak malam lamaran. Kini tiba acara akad nikah Azizah dan halili. Pagi masih buta. Batu-batu subuh bergetar gigil. Azizah menjatuhkan keningnya, bersujud pada sajadah. Setelah kepalanya diangkat, sajadah begitu basah dengan doa-doa. Ganjil hati Azizah. Ia merasa takut tidak bisa menjadi seorang istri yang berbakti kepada sang suami. Nanti, setelah matahari terbit. Setelah kicau kutilang usai. Setelah embun terbang dari pucuk rerumputan. Jam sembilan pagi akan berlangsung akad nikahnya dengan Halili. Bergetar hati Azizah menyambut hari bahagia yang sakral itu.
            Matahari sudah semakin naik. Tiga kejadian dalam hidup yang akan dilewati oleh manusia normal: Kelahiran, pernikahan, dan kematian. Dan kini, jam seblian, sudah bagian kedua yang Azizah akan lewati dari perjalanan hidupnya. Orang-orang sudah ramai memenuhi sudut-sudut rumah Azizah. Tembang-tembang sholawat dilantukan menyambut kedatangan pengantin pria. Azizah sudah dihias sejak tadi setelah sholat subuh. Gaun pengantin putih jadi penghias tubuhnya. Tampaklah ia seperti mutiara dari kedalaman laut. Berkilauan. Mutiara yang hangat.
            Acara akad nikah sudah selesai. Saksi-saki serentak menyatakan sahnya pernikahan. Halili dan Azizah kembali duduk ke pelaminan. Gemuruh jantung Azizah tak kuasa ditahan saat duduk berdua dengan Halili di kursi pelaminan, tentu setelah selesai ijab kabul. Rasanya ada yang ingin membuncah dari bola matanya. Semacam air bahagia yang suci. Azizah menahan sekuatnya, tapi, air itu akhirnya landai juga. Mengalir di antara lekuk wajah dan hidungnya. Azizah menangis.
            “Kamu kenapa Dik Azizah? Apakah pernikahan ini memberatkanmu Dik?” tanya Halili dengan nada yang sutra.
            “Tidak sama sekali Mas. Justru saya sangat bahagia, akhirnya bisa menikah juga. Hanya saja, hati saya takut. Takut tidak bisa menjalankan kewajiban saya sebagai seorang istri nantinya,” sembari menyeka air matanya yang mengalir.
            “Kau tak perlu berberat hati sedemikiannya Dik. Aku suamimu sekarang, bukan orang lain. Tenangkan hati kamu. Insyaallah, pernikahan ini berkah,” masih dengan kata halus dan lembut Sahari menasehati Azizah di pelaminan.
            Acara pernikahan hanya selesai dalam satu hari. Azizah dan Halili telah resmi menjadi sepasang suami istri. Kini ia memulai lembar baru dalam hidupnya. Sesuai dengan kesepakatan sebelum menikah—Sahari membelikan tiga petak sawah untuk Azizah. Juga satu mesin jahit yang menemani kekosongan hari-harinya dalam rumah tangga. Hanya, Azizah yang masih kurang fasih dalam hal jahit-menjahit, maka ia memilih untuk bercocok tanam di sawah saja.
            Musim hujan yang tiba, membuat Azizah bahagia. Ia menyambut hujan dengan rencana akan menanam padi di sawah pemberian suaminya tercinta. Selain padi, dia akan menanam kangkung, demi menghargai tanah. Terbesit dalam pikirnya untuk membudayakan bertani. Lantaran lahan-lahan pertanian milik tetangganya yang sudah ditanami gedung oleh para investor, membuat Azizah ingin memperluas pertanian.
            Azizah teringat pada almarhum saudara kandungnya yang tertua, Dari. Dulu, tepat di sawah yang kini dijadikan swalayan itu, tempatnya bermain mencari kangkung dengan Dari. Kangkung memiliki kenangan yang besar untuk Azizah. Dulu dia menyebut daun kangkung itu adalah daging, dan batangnya adalah tulang kangkung. Tapi kini, kangkung-kangkung yang banyak di sawah itu sudah menjadi kawat-kawat yang menjalar menjadi penguat bangunan. Kangkung yang menjalar di sawah, telah berganti menjadi kawat menjalar di gedung-gedung.
            Kisah cinta Azizah dengan Halili dibingkai indah padi-padi menguning. Semakin tua semakin merunduk. Diperkuat asmara yang terselip di antara cabang batang kangkung. Tak ada hari paling indah bagi mereka bedua, selain menunggu senja di pematang sawahnya. Tempat memilin cinta dengan doa-doa.
            “Mas, kelak, jika kita telah tiada, terpisah oleh kematian, sawah ini akan menjadi sebuah warisan bagi anak-anak kita. Kebahagiaan kita, cinta kita, semua aku pasrah dan tumpahkan di pematang sawah ini padamu.” Azizah menyandarkan kepalannya ke bahu Halili. Senja semakin tembaga. Kutilang sibuk antara dahan-kedahan. Kepak sayapnya serupa memutar takbir atas nama bahagia cinta Allah. Sekian...

Jogjakarta 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.