Minggu, 15 Mei 2016

PENYEBERANGAN



          
  Baru sebulan yang lalu aku tiba di kota keramaian ini. Aku melihat banyak sekali orang-orang berjalan duduk. Tempat duduk yang membawanya berjalan tentu mewah-mewah. Mobil-mobil mereka sangat jauh lebih mewah dari rumahku. Andaikan satu mobil saja yang dijual untuk membeli rumahku, pastilah masih akan banyak sisa uangnya. Adaku di kota ini adalah karena menuntut pendidikan. Meski aku anak orang tani dari desa terpencil, tapi cita-cita untuk mengenyam pendidikan sangat tinggi. Jika ditimbang dengan cita-cita pengendara mobil mewah itu, pastilah lebih tinggi cita-cita yang aku miliki. Aku masuk di Universitas Minyak Tanah Yogyakarta (UMTY). Aku menjadi mahasiswa Fakultas Hukum. Tapi Fakultas hukum rasanya tidak cocok untuk kepribadianku. Fakultas hukum tidak bisa memuaskan aku menjadi seorang aktor teater. Aku orang yang cinta seni, sebagai kritik sosial. Tapi bukan seni politik.
            Kisah dalam cerita kali ini, aku akan mengawali dari sebuah perjalanan hidup yang menakutkan. Jalan raya memang menjadi sesuatu paling menakutkan bagiku. Lalu-lalang kendaraan besar-besar, menakut-nakutiku. Asrama tempatku tinggal, berada di seberang jalan raya. Dahulu pertama aku tiba di sini, bersyukur, karena ada teman yang kebetulan satu jurusan denganku, dan dia bisa membantu aku menyeberangi jalan raya. Atau aku mengikuti langkahnya menyeberang di jalan raya. Menyesuaikan tubuh dengan tubuhnya. Tak ingin lebih maju sedikit, atau lebih tertinggal sedikit. Aku takut.
            Dari ketakutan itulah, aku kerap dikecam sebagai anak kampung yang kolot oleh sebagian teman-teman mahasiswa di kampus. Aku serupa anak kecil. Aku tidak memiliki keberanian. Dan segala cacian rasanya cukup membuat telingaku memerah. Sebagai seorang perempuan yang sendiri di kota yang penuh keramaian ini, aku tidak banyak bicara. Aku tidak meyanggah sekalimat pun dari apa yang mereka tembakkan kepada diriku. Biarlah mereka berbicara sepuasnya. Aku sebagai seorang wanita yang pernah hidup di lingkungan pesantren, dahulunya, masih ingat perihal menjaga akhlaq untuk tidak membalas mencela pada siapapun yang mencela kita.
            Ketakutanku memang tidak lagi sebagaimana awalnya—saat aku membayangkan sendirian menyeberang jalan raya. Dengan adanya Rini teman satu asrama sekaligus satu fakultas itu, telah cukup banyak membantuku. Hanya saja, aku sebagai orang yang menumpang untuk menyeberang di jalan, kerap ikutan prilaku buruknya. Rini yang selalu bolos kuliah karena diajak jalanpacarnya, berakibat kepada aku juga—bolos kuliah. Aku sungguh tidak berani untuk menyeberangi jalan raya itu. Jika Rani kuliah, aku pun juga. Dan sebaliknya. Bahkan pada hal lain yang mengharuskan aku menyeberang jalan raya, selalu kuikuti dirinya.
            Hanya saja, kebersamaanku dengan Rini tidak berlangsung begitu lama. Rini pulang ke kampung halamannya. Ibunya meninggal karena sakit sesuatu. Aku mulai resah. Bagaimana aku bisa kuliah jika Rini tak ada. Aku sudah seminggu tidak masuk kuliah karena takut menyeberang jalan raya. Pernah suatu malam aku mendekati jalan raya itu—hingga pekik malam sekali, tapi kendaraan masih saja ramai. Aku tidak bisa membayangkan tentang semalam ini, tentang kendaraan masih yang ramai sekali. Padahal jika di desaku, waktu semalam ini, jalanan sudah pasti lengang. Jangankan malam, siang pun lengang.
            Aku ingin sekali melepas ketakutan ini. Aku akan memberanikan diri untuk keluar dan menyeberangi jalan raya itu. Selesai mandi. Sudah siap dengan pakaian yang biasa aku kenakan ke kampus. Aku dekati keramaian jalan raya dengan kaki gemetar. Bibir pucat. Entah, siapa yang akan menolong dan membantuku menyeberangi jalan raya nanti. Batinku mulai kecamuk. Langkah kakiku sudah semakin dekat. Ya, aku memang berani mendekat. Tapi itulah, aku hanya mendekat. Tetap tak ada keberanian yang tumbuh dari seorang aku. Wanita kampung yang kolot. Yang tidak berani menyeberangi jalan raya.
            Aku lirik jam tangan. Jarumnya menunjuk pukul delapan pagi. Aku sudah satu jam berdiri di pinggiran jalan. Keringat yang mulai keluar dari sebagian jidat, membuat basah sebagian kerudung yang aku kenakan. Keringat melandai menuju pipi. Sesekali aku menyekanya dengan jemari tangan. Di seberang jalan sana, aku melihat sesosok pria tukang parkir. Ia tidak begitu tua. Menurut perkiraan, dia seusia dengan kakakku. Paling lebih tua penjaga parkir itu tiga tahun.

            Aku memberanikan diri mengangkat tangan. Tanpa malu melambaipadanya. Entah dia mengerti atau tidak. Tampaknya penjaga parkir di depan toko buku itu hanya tercengang. Mungkin pikirnya aku tak memanggilnya. Atau kemungkinan lain yang membuat si penjaga parkir tidak berkenan menghampiriku. Aku pun perlahan mulai jengkel kepadanya. Kesel juga. Kenapa dia tidak mengerti kegelisahan ini. Aku semakin ditindih kebencian-kebencian kepada bising mesin-mesin di jalan raya. Masih bukan kepada si pria penjaga parkir.

            Namun setelah beberapa kali aku melambaikan tangan kepada pria penjaga parkir, akhirnya dia mulai beranjak dari tempat duduknya. Aku yakin dia akan menghapiri aku. Aku membacanya dari air wajah pria itu. Hampir saja dia ingin menyeberangi jalan—untuk menghampiriku. Sayang, pengendara motor datang. Mungkin dia seorang pelanggan toko buku. Akhirnya pria si tukang parkir mengurungkan niatnya untuk menghampiri aku. Ia tampak makin sibuk mengatur susunan motor yang baru saja tiba itu. Pria penjga parkir mengarahkan ke tempat yang tepat. Menjulurkan kartu parkir. Kemudian pria si pemilik motor masuk ke dalam toko buku. Tubuhnya hilang ditelan pintu toko itu. Dan pria si penjaga parkir menyeberangi jalan, menghampiriku.
            “Mbak memanggil saya?” Ucapnya dengan bahasa yang santun.
            “Iya, Mas. Tolong bantu saya menyeberang ya? Mau kan?”
            “Hehe. Nggak salah dengar saya Mbak? Ok lah, ayo.” Aku merasa sedikit tersindir. Apa mungkin seorang wanita yang tidak memiliki keberanian menyeberang jalan raya itu, sebegitu lucunya bagi mereka yang berani? Jujur saja tadinya aku sedikit tidak terima kepada pria yang ingin membantuku ini. Bukan karena apa, dia telah menertawakan aku. Membuatku merasa semakin jengkel. Tapi tangannya langsung meraih tanganku. Dibawanya aku berjalan menyeberang jalan. Aku mengikuti saja. Aku tidak bicara sekata saja. Seperti boneka yang diseretnya tanpa dosa. Tanpa komentar apapun meski tangan dipegangnya.
            “Maaf Mbak.” Pria tukang parkir pun langsung melepaskan tangannya dari tanganku. Aku masih terus beku, hanya melihat sedikit pada bekas tangan yang baru saja dipegangnya. “Soalnya saya tidak bisa lama-lama berdebat dengan Mbak di pinggir jalan sana. Saya masih punya kerjaan. Jadi saya langsung tarik saja tangan Mbak, maaf.” Suaranya seperti ditelan bunyi mesin-mesin. Dengan merasa bersalah ia meminta maaf. Aku tidak mungkin memarahi dia—si penjaga parkir yang menolongku. Di telah berjasa membantuku menyeberangi jalan raya. Keinginan untuk marah pun aku urungkan.
            “Nggak papa Mas. Saya yang mau berterima kasih. Terima kasih Mas.” Aku pun langsung menghindar dari hadapannya. Aku berjalan menuju kampus. Tidak terlalu jauh dari asrama yang aku tempati. Hanya yang membuat lama perjalanan ke kampus adalah ketakutanku  menyeberang jalan.
            Setibanya di kampus, ternyata dosen pengajar sudah di dalam kelas. Aku sudah telat lima belas menit. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti di dalam kelas. Pastilah aku akan dimarahi karena keterlambatan ini. Aku pasti akan ditanya, kemana saja seminggu tidak masuk. Atau karena, sudah jarang masuk, tapi saat ini, aku masih telat. Duh, pasti akan serba salah aku di hadapan dosen pembimbingku sendiri. Serta aku tidak mungkin mengeluarkan alasan sebagai orang yang takut menyeberang di jalan raya. Oh, pastilah sangat memalukan.
            “Hey, Rahmah. Kamu kemana saja seminggu tidak masuk kuliah? Beberapa dosen mempertanyakan kamu. Dan kenapa hari ini juga terlambat?” Ya, benar Pak Suseno akan memarahi aku. Mukaku telah berbentuk apa kini, aku tak tahu. Bisik-bisik suara teman-teman kelas, rasanya seperti menggema.
            “Dia takut menyeberang di jalan Pak, hahaha.” Belum juga aku menjawab pertanyaan dosen, Antok sudah celetuk dari tempat duduknya. Aku tidak bisa memberi alasan lagi. Seluruh badan tiba-tiba senyar. Andai aku juga laki-laki seperti Antok, sudah aku lempar dia pakai sepatu. Tapi aku diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Pak Dosen.
            “Benar itu Rahmah?” Pak Dosen.
            “Be ... be ... nar Pak.” Keluh lidahku. Tapi untung Pak Suseno tidak melanjutkan interogasinya kepada aku. Beliau memilih melanjutkan pelajaran. Tapi bisik-bisik teman kelas tetap seperti menggema di telinga, tak padam dalam seketika. Pun kemarahan dariku yang masih sedikit menyala. Kemarahan yang hanya aku pendam dalam hati.
***
            Sudah aku kira. Hari ini memang hari yang sangat sial. Rini pulang kampung. Si penjaga parkir menertawakan ketidak beranianku menyeberang jalan. Diinterogasi dosen. Ditertawakan teman-teman kelas. Telat masuk. Bolpoin hilang, entah jatuh di jalan atau tertinggal di asrama. Aku masuk kuliah rasanya percuma, karena penjelasan Pak Suseno tidak tercatat dalam buku. Entah, pikiranku benar-benar kacau. Selesai kuliah aku tidak langsung pulang. Aku ingin mencari beberapa buku ke perpus dulu. Tapi aku dicegat perasaan. Aku kembali berpikir tentang bagaimana cara aku pulang dan menyeberang jika tidak ada si penjaga parkir tadi. Akhirnya ke perpustakaan aku gagalkan, dan aku lebih memilih pulang.
            Aku sedikit bingung. Setiba di depan toko buku, pria penjaga parkir yang tadi tidak ada. Entah ke mana dia pergi, sehingga tidak ada di tempat parkir. Penjaga parkir sudah bukan dia lagi. Kini yang menjaga malah orang tua yang sudah renta. Perkiraan umurnya adalah empat puluh lima ke atas.
            “Permisi Mbak.” Suara seorang laki-laki tiba-tiba mengagetkan aku dari belakang. Aku menoleh dengan gerakan leher cepat. Rupanya pria penjaga parkir tadi, telah berdiri gagah. Dia sekarang tidak menggunakan baju sebagaimana penjaga parkir. Dia memakai baju dengan rapi. Membawa tas. Memakai sepatu. Penampilannya seperti seorang mahasiswwa. Mataku membeliak tak berkedip menatap. “Halo Mbak,” pria penjaga parkir menghentikan kekagetanku.
            “Eh, iya. Kamu kok tidak menjaga parkir, eh maksudku kok tidak seperti tadi,” aku pun salah tingkah dibuatnya.
            “Saya memang penjaga parkir Mbak, tapi saya juga kuliah. Ada masalah dengan pribadi saya?”
            “Oh tidak Mas.”
            “Ini,” dia menjulurkan bolpoin. “Ini tadi jatuh pas Mbak mau berangkat. Ingin saya mengejar Mbak untuk memberikan bolpoin ini, tapi ada orang yang mau mengambil motornya. Saya harus melayani mereka para pemarkir Mbak. Maaf ya?” Ia melanjutkan menjelaskan. Aku sekali lagi dibuatnya terharu dengan sikap baik pria ini. Lihat, dia selalu meminta maaf. Dia selalu menggunakan kata-kata yang lembut. Tak lupa, dia orang yang profesional, melayani para pemarkir dengan ramah.
            “Hmm. Iya Mas nggak papa kok. Lagian saya bukan mahasiswa yang rajin, yang apa-apa selalu saya catat.” Aku berusaha lebih ramah dari pria yang berdiri dihadapanku.
            “Nama saya Jamal,” ucapnya sembari menawarkan tangannya dijabatku.
            “Hehe. Saya Rahmah Mas. Salam kenal.” Aku pun membalas juga menjabat tangannya. Jamal adalah pria yang baik. Peduli terhadap wanita. Dan jamal adalah pria yang aku aji keperibadiannya. Seorang mahasiswa yang juga hampir sama denganku. Dia berasal dari desa terpencil. Orang yang juga kurang mampu. Banyak sekali yang Jamal jabarkan kepadaku pada pertemuan itu. Aku tidak langsung pulang ke asrama karena Jamal masih mengajakku untuk diskusi santai di kedai. Ya, waktuku hari ini masih banyak. Dan tidak ada salahnya jika aku sedikit bercerita dengan Jamal, seorang pria yang sekejab sudah mampu menjadi inspirasi bagi aku.
            Aneh memang. Entah kenapa aku merasa sedikit nyaman bercerita dengan teman baruku yang satu ini. Dia memang baru saja aku kenal, tapi rasanya berbicara dengannya aku kehilangan rasa sungkan. Aku merasa tanpa beban mengumbar sebagai seorang penakut menyeberang jalan. Matahari sudah sepenggala di ufuk barat. Langit mewarna jingga. Senja telah tiba. Aku harus segera kembali ke asrama. Pastinya aku meminta bantuan pada Jamal untuk memapah aku menyeberang jalan raya.
            Dalam beberapa menit aku telah tiba di pinggir jalan. Berhasil menyeberang karena bantuan Jamal, pria tukang parkir yang aku kenal pagi tadi.
            “Sudah tidak takut lagi kan?”
            “Iya. Makasih banyak ya, kamu sudah membantu aku menyeberangi jalan ini yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan,” balasku.
            “Iya sudah aku balik ya, kamu hati-hati,” kata Jamal sembari membalikkan badan. Aku pun tidak meragukan pengalamannya menyeberang Jalan. Aku berbalik badan. Beranjak lima meter dari pinggir jalan.
            Praak. “Ahhhh..” Aku membalikkan pandang. Seseorang yang tadinya tidak aku ragukan pengalamannya menyeberang jalan, telah bersimbah darah. Pengendara motor menabrak Jamal. Aku menjerit histeris sembari berlari ke arah posisi Jamal yang tergeletak di tengah jalan raya. Seketika ketakutan terlepas dari pikiranku. Aku berlari dan tidak sadar aku sudah berada di tengah jalan raya, merangkul tubuh Jamal yang tidak sadarkan diri. Kepalanya dipenuhi darah. Beberapa pengendara kendaraan pun ikut turun membantu aku. Jalan raya tidak lagi penuh dengan kendaraan. Kali ini di sekelilingku sudah penuh dengan orang-orang.
            Salah satu pengendara mobil kijang akhirnya meminta orang-orang untuk mengankat tubuh Jamal. Aku hanya mematung. Tubuh jamal di masukkan ke dalam mobil. Ia dibawa ke rumah sakit. Entah rumah sakit mana. Aku hanya meratapi kesalahan-kesalahan yang rasanya menyumbat hati.
***
            Pengalaman menyeberang jalan kini semakin membuat aku takut. Aku tidak tahu cara mengobatinya dengan cara apa, karena bagiku ini tak jauh beda dengan penyakit yang menggerogoti mental seorang aku. Rahmah. Kepergian Jamal, membuat aku semakin takut. Sudah empat hari aku mengurung diri di kamar. Beberapa teman asrama yang lain menghawatirkan kondisi fisikku.
            Entah, sekarang aku tak ubahnya boneka kayu. Ketakutan bertambah berpetala semakin cadas di hatiku. Pikiran berkecamuk melawan ketidak ikhlasan kepada jalan raya yang telah melayangkan seorang yang bagiku sangat berjasa. Jamal. Jika bukan karena aku yang menjadi penakut, sehingga memaksanya untuk membantuku menyeberang jalan, telah membuat nyawanya melayang. Adalah pengorbanan yang dikehendaki Tuhan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menempatkannya di Surga, amin.



Jogjakarta 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.