Senin, 14 Maret 2016

Refleksi Pajak Gratis di Sumenep





            Akhir-akhir ini di wilayah Kabupaten Sumenep dirisaukan dengan maraknya penjualan tanah ke tangan orang yang tidak dikenal asal-usulnya. Para pembeli tanah tersebut tidak main-main cara membelinya, ia melalui orang-orang terpecaya, seorang tokoh masyarakat, guna melancarkan cara negosiasi pembelian. Konon, asal tanah besertifikat resmi, berapapun harganya akan dibeli. Pembelian dengan cara yang tidak wajar itu membuat para pemilik tanah mudah menganggukkan kepala, melayangkan tanah miliknya. Seakan tanpa beban sama sekali melepas tanah. Hampir seluruh pesisir pantai timur Sumenep, para pembeli tanah sudah memiliki tanah di sana. Hal demikian membuat para LSM risau tingkat dewa melihat tanah-tanah yang dahulu tempat padi menguning, kini sudah beralih tangan kepada orang yang tidak dikenal itu.
            Yang saya tahu, di dua kecamatan pesisir timur pantai Sumenep saat ini, investor asing tengah membangun tambak udang besar-besaran. Tidak tanggung-tanggung, investornya yang masuk dari orang China. Negara yang membiayai pelaksanaan jembatan suramadu itu, rasanya sudah memiliki lidah yang dapat menyambungkan investasinya ke wilayah Madura dengan mudah. Sementara demografi masyarakat Madura tidak bisa menangkis serangan para investor, khususnya Sumenep yang terbukti banyak tanah-tanah melayang.
            Saya yang sebagai orang Sumenep, memiliki beberapa kecurigaan terhadap kenapa warga pemilik tanah mudah menjual tanahnya. Pertama, tak lain dan tak bukan adalah efek dari jembatan suramadu. Setelah jembatan yang membentang di atas laut yang menghubungkan Surabaya-Madura itu diresmikan, industrialisasi pun sulit ditepis oleh masyarakat Madura. Masyarakat Madura seakan dibuat terkotak-kotak. Kita lihat saja banyak sudah swalayan yang berdempetan dengan pasar tradisional. Secara sosial kemasyaraktan Madura, jelas yang namanya swalayan dan sekawanannya itu sudah bukan cara kebiasaan orang Madura dalam berinteraksi. Sumenep sebagai salah satu daerah yang dialek bahasanya digunakan sebagai dialek bahasa madura secara umum, karena terkenal halus dibanding dengan tiga kabupaten lainnya, juga merasakan hal yang sama.
            Kedua, kekayaan alam di Sumenep. Adalah ketidak mungkinan jika Sumenep tanpa secuil kekayaan alam, lalu para investor itu mau melakukan pembelian tanah di Sumenep seluas-luasnya. Seperti pembangunan Tambak Udang oleh investor dari China, yang dibangun seluas-luasnya di pinggir pantai timur Sumenep. Demikian juga perlu diketahui kalau tanah yang kini dijadikan Tambak Udang tersebut sudah beralih tangan ke entah orang mana, konon orang China juga yang biayai. Seumenep adalah wilayah paling banyak memiliki pulau di antara kabupaten lain di Jawa Timur. Sudah ditemukan beberapa titik Migas, baik yang masih tahap eksplorasi maupun telah eksploitasi. Kekayaan alam di Sumenep yang berlimpah tidak bisa dimanfaatkan oleh pemerintah kepada masyarakat. Kita lihat saja perjanjian PT Titis Sampurna dengan Pemda Sumenep yang sempat membuat nama Sumenep harum seketika. Sebuah perusahaan yang menyediakan seluruh peralatan pengeboran Migas itu memberikan Corporate Social Responsibility (CSR) yang tidak pernah dilakukan oleh beberapa peruasahaan Migas yang sudah beroprasi di Sumenep. Perusahaan PT Titis memberi CSR berupa program yaitu, memberi beasiswa sebanyak sepuluh orang pertahun selama lima tahun (rencananya) kepada anak-anak Sumenep yang kurang mampu. Selama dua tahun antara tahun 2013 dan 2014 itu, PT Titis dan Pemda Sumenep berhasil memberangkatkan 20 peserta beasiswa ke tanah Jogja. Hanya mirisnya karena kelalaian Pemda yang kurang mementingkan kerjasama tersebut, kontrak perjanjian dengan PT Titis putus di tahun 2015 kemarin, dimana tahun peperangan politik di Sumenep berlangsung.
            Ketiga, dari terhimpitnya ekonomi dan over-nya program pemerintah Sumenep periode pertama. Kita tahu orang Sumenep sudah banyak dimana-mana. Jakarta, Kalimantan, Malaysia, Arab Saudi semua berisi orang Sumenep yang mencari kerja ke daerah sejauh itu. Mereka menjadi perantauan selama bertahun-tahun, membuat rasa kepemilikannya terhadap tanah mengurang. Seperti tetangga saya yang merantau ke Jakarta menjaga toko, sudah lima tahun tidak pulang ke kampung halamannya. Akibatnya, si tetangga saya yang memiliki banyak sawah itu, kini sawahnya dikelolah oleh bapak saya, dan hasil taninya dibagi sesuai kesepakatan. Padahal kalau di Sumenep ada istilah Urunan (baca:madura), suatu kegiatan masyarakat petani dengan saling bantu sesama tetangga ketika tengah menggarap sawah atau ladangnya. Dengan adanya Urunan itulah masyarakat bisa berkumpul. Soal kumpul-kumpul, orang Sumenep paling menyukainya. Hampir seluruh acara-acara besar dilakukan dengan bersama-sama, bahu-membahu. Tapi akan menjadi hilang ketika sawah dan tanah yang dahulunya tempat berkumpul itu menjadi tambak.
            Di sini lah sebenarnya inti permasalahan yang menjadi catatan saya. Sependek pengetahuan saya mengenai program pemerintah yang menggratiskan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) itu sulit dilakukan oleh daerah. Maksud saya bukan tidak bisa untuk diterapkan, hanya saja betapa kaya daerah tersebut yang kemudian menggratiskan PBB-nya atas banyak masyarakat. Selama periode pertama dan sampai sekarang dilantiknya lagi bupati Sumenep yang sama, masyarakat di desa saya tidak membayar pajak. Bayangkan, lima tahun lebih lamanya masyarakat tidak membayar pajak, karena program bupatinya sendiri. Dan akibatnya sekarang warga mulai lemah rasa kepemilikannya terhadap tanah. Membayar pajak itu bukan main-main loh, orang akan diperkuat kepemilikan tanahnya ketika ia membayar pajak dan dibuktikan dengan adanya sertifikat tanah.
            Saya kira, bapak Bupati Sumenep terlalu over dosis dengan kampanye politiknya, menggratiskan pajak. Bukan saya tidak yakin dengan kinerja yang akan dilakukan oleh bupati, hanya saja semua yang terjadi di bawah (di desa) jangan dianggap enteng. Menata kota dan membangun desa itu bukan lantas memusnahkan lahan warga yang dahulunya tempat padi menguning, tempat masyarakat berkumpul, lalu mengizinkan dengan cuma-cuma penjualan tanah. Setidaknya ada usaha dari pemerintah untuk menyadarkan para aparat desa yang bilang, “enak kalau pajak bumi gratis, aku tidak usah mendatangi warga per-rumah untuk menagih pajaknya.” Pertanyaan saya, kok bisa bupati membiar kebebasan sebebasnya kepada aparat desa untuk tidak menagih pajak ke bawah.
            Pajak yang bersifat kontraprestasi dengan tujuan kesejahteraan jangan dipoles secantik itu, dengan alasan biar masyarakat tidak usah ribet mencari uang, ngutang sana-sini buat membayar pajak. Semua kemakmuran pada tubuh masyarakat itu adalah tugas bupati dan segenap bawahannya. Bukan seenaknya mengangguk terhadap apa yang diatur dari provinsi. Daerah juga diberi hak dan kewajiban untuk memakmurkan masyarakatnya dengan. Wallahua’lam..

NB:
Tulisan ini sebenarnya kemarin dimuat di Konten Berita.

Kamis, 03 Maret 2016

Kasihani Ina si Nononk



            Kini media digemparkan dengan foto anak kecil yang bertingkah sebagaimana layaknya orang dewasa. Konon, anak itu menurut salah satu media pemberitaan, berasal dari salah satu daerah Jawa Barat. Ina si Nononk, nama akun facebook si pembuat resah pengguna media sosial lain. Bahasa itu(si pembuat resah) saya kutip dari banyaknya teman-teman facebook saya yang mengecam Ina si Nononk. Kecaman itu dimulai dari tersebarnya foto Ina dengan lelaki seusianya di sebuah kamar. Ina dengan si cowok dalam foto di facebooknya sedang tidur berduaan. Berpelukan di atas kasur, dan lain-lain. Tak perlu saya jelaskan tingkah laku si Ina dalam beberapa foto di facebooknya yang dianggap tidak sepantasnya dilakukan oleh anak seusia Ina. Pada salah satu foto yang diunggah pada tahun dua ribu empat belas, menggunakan seragam Sekolah Dasar. Dan media yang memberitakan si Ina tersebut menjelaskan, kalau Ina kini sudah di bangku Sekolah Menengah Pertama.
            Dari kegelisahan para pengguna akun media semacam facebook, saya ingin menyampaikan beberapa penyadaran. Karena menurut hemat saya, kita sebagai pengguna media sosial, menjadi makluk maya, juga harus menerapkan etika kita, sebagaimana hidup di dunia nyata. Ketika saya melihat beberapa orang saling kecam terhadap si Ina, dan bahkan media pemberitaan seperti tanpa ampun untuk tidak memberitakan Ina, maka saya harus menjadi penengah.
            Saya bukan sahabat Ina. Saya juga bukan kenalan Ina. Facebook merupakan media sosial yang sangat ampuh untuk menjadi sebuah panggung dimana orang yang berada di facaebook banyak memiliki peluang untuk terkenal. Hanya saja kadang sang pengguna facebook banyak dengan melakukan tindakan yang tidak wajar, demi ketenaran dirinya. Berkaca kepada kasus Ina, kita harus bisa belajar menyerap baiknya, bukan buruknya. Apalagi pengguna yang berasal dari daerah jauh, yang belum tahu pasti siapa itu si Ina, dengan ceplas-ceplosnya langsung mencaci si Ina. Mendosakan dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kalau seandainya laki-laki yang tidur bersama Ina dalam foto itu adalah suami sah Ina? Bahkan sejauh ini kebebasan berekspresi di media sosial masih belum sungguh-sungguh terkontrol. Orang terlalu mudah mempublikasikan hal-hal tidak wajar yang memancing orang lain untuk berkomentar tidak baik terhadapnya atau bahkan berselisih, dan banyak lagi.
            Apapun alasannya, sekalipun mereka yang mengecam Ina adalah atas nama sanksi sosial di media sosial, bagi saya yang namanya kecaman tetaplah kecaman. Tidak begitu baik dalam pandangan saya. Yang menarik untuk saya jelaskan kepada publik adalah tentang akun facebook Ina. Beberapa jam sebelum saya mengetahui adanya media pemberitaan yang mulai memberitaka Ina, saya sempat memantau akun asli Ina. Dan dari pantauan saya tersebut, saya juga sempat membagikan juga kiriman foto mesum Ina dan lelaki tersebut ke dinding akun facebook saya, dan menandai salah satu teman facebook saya juga. Saya membagika kiriman foto dari facaebook Ina bukan bermaksud mencaci Ina, saya hanya sekedar ingin mengajak sebagian teman facebook saya mengkritisi secara bijak sebagai pengguna facebook. Hanya saja kurang menguntungkan bagi saya. Beberapa komen di kolom komentar menuding sayalah laki-laki yang bersama Ina. Wah, buru-buru saya hapus. Karena menghadapi orang yang baru kemarin mengendali facebook itu sulit. Mereka tidak paham kalau apa yang ada di dinding facebook saya itu hanyalah postingan orang lain yang coba saya bagikan. Itu bukan saya.
            Berselang beberapa jam kemudian, setelah saya selesai menghapus kiriman yang saya bagikan tentang Ina tersebut, tibalah saya melihat koar-koarnya media pemberitaan yang seperti ikutan bernafsuh memberitakan tentang Ina. Atau karena melihat foto gemes Ina, entah. Saat itu pula saya langsung mengetik nama akun facaebook Ina di kolom pencarian facebook dengan terbawa penasaran yang sangat. Sayang, akun facebook Ina yang asli sudah lenyap dari facebook. Entah di non aktif atau apa, saya tidak tahu. Hanya yang menjadi saya tercengang kaget tingkat malaikat, di kolom pencarian facebook terdapat banyak sekali nama Ina si Nononk. Dari yang berbentuk halaman hingga pada akun pengguna. Padahal tadinya saya, saat bertemu dengan facebook Ina, hanya satu nama Ina si Nononk.
            Dan pada saat itu juga saya menarik kesimpulan, bahwa setelah tersebarnya tindakan Ina di dunia maya, membuat banyak kalangan gereget, menggeretakkann giginya, untuk mencaci prilaku Ina. Tak jarang dari sekian facebook yang bernama sama, dengan menggunakan foto Ina, hadir dengan status di dindingnya yang genit-genit. Padahal tadinya dinding facabook Ina pertama yang saya temui tidak begitu. Bahkan pada salah satu halaman yang juga mengatasnamakan Ina, pada kolom keterangan halaman itu terdapat tulisan “Penghibur.” Jika kita cermati permasalahannya, Ina sudah banyak menerima kecaman. Dari saking tidak puasnya orang-orang yang mengecam Ina si Nononk, sampai disempat-sempatkan untuk membuat akun baru dengan kejelekan-kejelekan ditembakkan pada Ina.
            Maka dari ini saya ingin mengajak sekalian teman-teman pembaca tulisan ini, untuk bersikap subjektif dulu kepada Ina. Kasihan anak kecil itu. Suda dicaci di media, ditambah lagi dengan fitnah-fitnah. Kalau bahasa saya sudah terlalu abnormal sekali bagi seorang manusia banyak, menghakimi manusia lain (si Ina). Lagian, saya yakini orang yang memfitnah Ina, yang membuat Ina sekarang (mungkin) gemetar ketakutan, belum tahu jelas duduk masalahnya bagaimana. Hanya ikut-ikut bau bawang aja, tanpa berpikir lebih jernih dulu. Karena bisa jadi menurut saya, laki-laki tersebut(yang berfoto dengan Ina) adalah suami sah Ina, atau apalah kemungkinan lain yang baik-baik. Hemat saya, tidak elok menghakimi apa yang belum kita ketahui secara jelas. Ketika Ina yang masih seusia itu, kemudian dibuat resah dengan isu-isu media sosial seperti yang kita tahu sekarang ini, akan terganggu psikologisnya dan akan lebih berat cara menyadarkannya. Kita wajib tahu kalau dalam salah satu asas hukum Negeri kita ada yang namanya asas praduga tidak bersalah.
            Kasus tersebut menurut saya adalah pembelajaran paling berharga bagi kita yang sering suka update di facebook, utamanya kalangan muda nih yang maunya lepas kontrol dari pendidikan orang taua. Orang tua, ketika dalam kejadian seperti ini tentu sangat dipertanyakan perannya. Lebih-lebih yang menjadi pertanyaan saya adalah kepada para guru dan lembaga pendidikan, yang maaf saja harus saya katakana telah gagal mendidik generasi bangsa. Meski juga tidak akan tertutupi adanya asumsi, “ semua dikembalikan pada diri sendiri.” Ok lah kalau memang maunya dikembalikan kepada diri sendiri, saya harap diri sendiri bisa memperbaiki, utamanya kepada para pengguna media facebook. Sebab menurut saya lagi, menggunakan facebook bukan sekedar untuk ogal-ogalan, yang statusnya berisi aktivitas tidak penting kita atau sudah familiar dalam sehari-hari. Seperti yang kerap saya temui nih, mau makan aja disampaikan ke facebook, mau berak sekalipun juga disampaikan, bahkan pada hal yang intim, seperti si Ina lakukan juga tak luput dari dipublikasikannya ke facebook.
            Jika facebook dengan keserbaannya menyediakan segala, maka kita harus benar-benar bisa memanfaatkannya ke suatu yang baik. Seperti yang terjadi juga di kalangan orang pintar saat ini. Orang yang sama-sama mengatasnamakan dirinya orang sosialis, politikus, penyair, penulis, dan apalah, tapi juga saling kecam lewat akun sosial medianya yang bernama facebook. Lalu pikir saya, apa lagi si Ina, anak SMP yang anggaplah gampangnya masih perlu dididik, dan banyak peluang untuk sembuh dari penyakit over update-nya ketimbang abang-abang yang saling kecam mengenai ilmunya dengan bahasa “menggoblokkan satu sama lain.” Maka mari kita berpikir secara jernih, jadikan kesalahan sebagai cermin pembelajaran kita untuk lebih dewasa. Tetaplah selalu menjaga ketentraman dalam hidup bersosial di media sosial. Wallahua’lam..