Selasa, 15 Desember 2015

PUISI



DI BALIK KETIAK BUKU-BUKU

Kacamatanya semakin rabunkan huruf kaku
setelah terbelalak dia sudah tak awas─soal lembaran kitab
berbalik wajah menuntun lagi bola matanya
Pada setengah runcing menatap harus lihat
berapa harap rupiah menggodanya, bisik.

Lazimnya membaca, jutaan angka nomor halaman
            dalam buku telah ia hafalkan
Afiliasi ilmu pendidikan memakan tuntas pengetahuan
Sisanya menjadi daftar isi yang ia sediakan
            di balik saku celana
Sementara lipatan dompet tertulis nama “bau ketiak”
Mungkin baru saja tersengal marah, hingga
lupa keringatnya sembunyi ketakutan
kemudian melurus lagi posisi bahunya yang tak sedap di foto
Hanya sebab bau adalah ketiak yang terbukukan sejarah.

Jogjakarta

TANGAN-TANGAN KASAR

Wanita di jilbabnya melukis hijaiyah
            Berserakan kaf dan nun pada kutub perpisahan,
Terpisah seusai pesta rakyat, lalu membawa berkas yang terdiri
dari kertas yang didirikan tepat lurus di ubun-ubunnya.

Terlipat kepada ku.

Tangan-tangan kasar seperti pemukul jagung yang lantak
Biji-bijinya di dalam karung, Terjual ke pasar-pasar yang dimakan lagi
            Dengan bentuk dan rasa lain,
Tanpa sadar kalau agama bukan pamor moralnya

Selama hari petasan masih redam
Menunggu terompet di titik dua belas malam,
Denting waktu akan membawa angka nol penghapusan dosa
Pendeta yang mengajaknya damai ditantang berjilbab
Duh, apa kehendak kekuasaan tidak terpilih?
Mungkin butuh berlembar kertas─untuk diam.

Jogjakarta

SALAH
Pertanyaan yang jangan ditanyakan
Karena lazim salah bersama
            Manusia.

Jogjakarta

BANJIR

Semua banjir mengalir dari sungai
            Ada yang coklat kekuningan
Yang bening seperti embun tertutup
            Ditumbangkan gerak kaku kebijakan
“kuning seperti tai” pembawa acara meremot kasus mata ke satu cerita

Sampah belum pernah bersumpah untuk menimbun banjir
Butuh bendungan politik untuk menimpa hukum yang terbawa lelah
mabuk miras dan judi halal
Sementara guling dan kasur diam terhanyut
;mungkin sebagai alat atau palu gabus yang senyap diketuk

Jogjakarta

KEPALA HUJAN

Seperti air aku berfikir
Menantang materi membuat agama, Kafir
Dan para dosen yang jasnya basah
            Meludahi bangku
tempat duduk dengan keringat
Usai berguling menuntun mahasiswa kehujanan

Belum dibuatkan musim yang lebih gigil dari nimbara’
Sehingga seluruh cucian tuhan membuat marah jajaran malaikat bersujud
Atau jilbab dan serban politik terhanyut banjir jua
Lalu tanggal sembilan menjadi kayu tua
            Selesai ditebang lima tahun lalu
Tanpa dau dan buah berbunga─sebagai kepala

Dan saat berita di televisi menonton  dewan 
            rakyat berperang mewakili kepala suku
yang lupa rimba tempat kemenangan suaranya
Komisi seperti gerimis, Pemilihan menjadi tangis, Umum cipta nepotis
Apa bedanya bila deras redah sejenak
            Menyakitkan kepala di tengah hujan.

Jogjakarta

BERHITUNG

1 tidak aku sebutkan namanya
2 akan ada pasal selanjutnya
3 kumandang adzan
4 nyanyian rohani
5 keadilan yang dipertanyakan

Jogjakarta
KE HORMAT HORMATAN

Visual menampakkan diri berbaju merah
Di tengah bayi berkumis uban
Kopyah dan Alqur’an basi di dalam kulkas
Entah apa itu hormat yang kehormatannya dinamakan dewan

Di balik jendela kabar berita rakyat mengintip
            Sosok koruptor mencari makan
Membalik telapak tangan di atas
Menagih kepalsuan sebagai telanjang tanpa salah

Sedang pada jendela berbeda, redaksi kabar
            Perihal yang sama timpang membenarkan
Bibir dan lidahnya terpintal menegur segudang kebohongan
Tapi mata masyarakat lebih tertutup kabut hujan bulan pilkada
Yang tertukar alasa “dia kan bekerja”.


Jogjakarta
PASIR

Usahanya menggenggang lepas. kakinya dijilat ombak
berjingkrakan
            dan menghindar lebih jauh.
Laut lepas tepat di dada penunggang kuda
Membentuk ikan, lengkap serta badai kemaraunya

Tidak pada buritan kapal yang baling-balingnya berputar melotre siapa yang menang
Untuk bugil pada kecipak, lalu merebah bagai genit dingin
yang jumpalitan seperti tempias hujan di cekung talapak tangan

Redam gemuruh laut, lengang dengan kilat sejenak
Memutar kaset kusut
Melintasi otak pemikir ;sekilas laut
            Yang bermulut pasir.
Dan dua kepala bergelimpangan tertimbun pemilu
Pinggir pantai─Tahun. lalu?

Jogjakarta

BIN SABIN



Oleh: Wardi
            Saat usiaku masih sepuluh tahun, aku sering diajak bermain ke sawah oleh Emak. Tepatnya Emak memotong rumput di tabunan untuk makanan sapi-sapinya dan aku berlari-lari menangkap belalang kecil. Setiap pulang sekolah, setelah adzan ashar, itulah waktunya aku dan Emak bermain di sawah. Selain indah menunggu senja ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dari indahnya bermain di sawah. Aku sangat jarang bermain dengan kawan-kawan yang lain dari saking sudah terlenanya dengan kenyamanan sawah.
            Matahari siap tumbang di kaki barat. Menorehkan warna jingga yang belum sempurna. Ramai rombongan kepak sayap burung pipit berpindah dari pohon siwalan yang satu ke pohon siwalan yang lain. Emak sudah hampir selesai memotong rumput. Besok aku mau belajar juga mencari makanan sapi seperti yang Emak lakukan.
            Pulang dari sawah menuju rumah, menyusuri hutan rimba yang dinaungi pohon tiras dengan daunnya yang hijau-hijau. Tapi sore ini hijaunya tidak sempurna, lantaran pencahayaan matahari yang sudah siap tumbang di kaki cakrawala membuat suasana lebih suram. Tapi kalau pagi-pagi, suasana ini sangat menawan. Cahaya matahari menyiram lembut seluruh pepohonan yang ada, dendang siul burung menyulap rerimbunan menjadi istana kecil suasana desa.
            Adzam berkumandang dari masjid yang tak jauh dari rumah. Usia itu aku masih menjadi santri yang aktif mengaji. Menyetor bacaan Alqur’an yang Pak Husen ajarkan. Setelah selesai sholat isya’ berjamaah, biasanya aku dan teman-teman mendapat bimbingan pelajaran ilmu fiqih. Sebagai anak kampung aku tidak banyak berkeinginan. Cukuplah menjadi orang yang paham agama dan bisa merawat sapi. Itu cita-cita dasar.
            “Hodri” Papa menyapa. Dia adalah teman perempuanku. Ternyata dia memberiku kolak nangka buatan ibunya yang dititipkan untuk keluargaku. Kehidupan di rumah hanya sederhana. Rumah yang kecil terbuat dari bambu. Hanya ada tiga orang yang menjadi penghuninya. Aku, Bapak dan Emak. Meski sesederhanaan itu, aku dan keluarga mampu hidup bahagia. Sebagai anak seorang petani aku banyak bergaul dengan alam. Dengan sawah. Dengan hewan-hewan. Termasuk belajar membajak sawah.
            Bapak yang menjadi kulih pembajak sawah dengan bayaran dua puluh ribu setengah hari. Berangkat jam tujuh pagi pulang jam dua belas siang. Bapak membajak sawah menggunakan sapi betinanya. Bagi orang desa di desaku, sapi adalah emas yang tidak ternilai harganya. Sapi sangat berharga. Bahkan tidak jarang pertikaian terjadi hanya karena sapi.
            Sapi menjadi hewan yang multi fungsi. Bukan sekedar sebagai alat pembajak sawah. Di tempatku Madura, sapi bisa dijadikan penghasilan uang. Bukan seperti lazimnya sapi yang dijual karena diukur dari mahal harga dagingnya. Sapi betina yang terlatih sebagai sapi lotreng, ia akan akan menjadi sapi yang mahal. Karena ada lomba khusus untuk kompetisi sapi lotreng yang merebutkan hadiah puluhan juta.
            Untuk sapi jantan, ada karapan sapi. Sapi yang memiliki lari cukup cepat, harganya akan mahal juga. Karena untuk kompetisi karapan sapi sering digelar dengan memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah. Sapi memiliki nilai tersendiri, bahkan sebagai nilai harga diri pemiliknya. Tiga bulan lalu saudara Bapak, Suahmad, mati di arena karapan. Ia mati bercarok karena merasa dicurangi saat pelepasan sapinya di garis start oleh Gani.
            Juga tidak jarang dari sekian banyak tetangga yang memiliki sapi, terjadi perselisihan sesama tetangga pula. Itu semua karena sapinya merasa dilecehkan. Termasuk soal pembahasan cara merawat sapi, kadang salahsatu pemilik akan sangat kecewa ketika tubuh sapinya tidak sesintal tubuh sapi sebelah. Dan soal-soal lain yang berhubungan dengan sapi.
            Setiap sepulang sekolah. Setelah sholat ashar, aku Ibu dan Bapak akan mengambil rumput buat makan sapi. Sudah lama aku belajar bagaimana memotong rumput dengan baik. Termasuk cara memberi makan sapi agar sapi lancar BAB. Karena untuk kelancaran pertumbuhan sapi, sehat atau tidak, bisa dilihat dari bagusnya kotoran yang keluar dari perut sapi.
            Dan untuk kelancaran semua itu bisa diatur dari caranya sang pemilik memberi makan. Seperti yang Emak ajarkan pada ku, kalau saat baru musim penghujan, biasanya rumput akan mengeluarkan pucuk-pucuk baru. Saat tanah pertama menerima air hujan, biasanya sawah akan tampak indah, karena pucuk rumput yang mulai tumbuh. Hijau-hijau. Maka jika sapi terlalu banyak memakan rumput yang masih muda biasanya ia akan sakit perut, kata Emak. Untuk itu pemilik sapi harus pandai-pandai. Biasanya peternak sapi akan menyimpan rumput kering di bagian angkor (bagian belakang kandang) sapinya.
            Selain menyimpan rumput atau jerami padi yang dikeringkan guna mengatasi mempermudah mencari rumput ketika kemarau datang, juga bisa menjadi salah satu antisipasi sapi sakit perut saat musim rumput muda. Ya, kalau musim kemarau, saat rumput di sawah-sawah banyak yang kering dan mati, maka pemilik sapi harus pintar-pintar mencarikan solusi untuk tetap menjaga makanan sapinya tidak berkurang dan sapi tetap gemuk.
            Maka biasanya kalau bapak akan mengeringkan rumput atau menggantinya dengan mencarikan daun pisang yang sengaja ditanam di sekitar pekarangan rumah. Ada juga yang memilih mengalirkan air ke sawahnya agar rumput tetap bisa bertahan hidup. Tapi biasanya itu hanya dilakukan oleh orang yang memiliki pompa dan sumber air sendiri. Dan tidak untuk keluargaku. Selain itu, ada juga yang memilih mencuri. Mereka seakan tidak bersalah mengambil rumput di sawah orang lain yang bukan miliknya demi kehidupan sapinya.
            Perbuatan-purbuatan seperti itu yang jika ketahuan banyak melahirkan konflik. Maka tak jarang watak keras kemaduraannya keluar. Hal-hal seperti itu yang Emak pesan kepadaku, agar aku tidak melakukan.
            “Kamu kalau sudah cakap mencari rumput, jangan sembarangan mengambil rumput di sawah orang. Jika kamu tidak ketahuan orangnya, bisa jadi kamu terkena Bin Sabin.”
            “Iya Mak. Hodri Insya Allah tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.”
            Matahari pagi menyiram lembut Desa Tamidung. Itulah nama desa yang menjadi tempat pertumpahan darah kelahiranku. Suasana pagi di Desa Tamidung memang selalu indah. Apa lagi ditambah dengan cuaca musim penghujan seperti sekarang ini. Saat semua tumbuhan menghijau, dan embun terbang dari pucuk-pucuknya, menyambut matahari. Burung-burung kutilang girang mandi di antara sisa air hujan semalam, di daun-daun siwalan dan daun pisang. Bersiul-siul menambah sejuk suasana pagi.
            Hari Jum’at. Liburan sekolahku adalah hari Jum’at. Begitulah liburan sekolah yang dibawah naungan Departemen Agama atau tepatnya sekolahku adalah sekolah swasta. Semalam Bapak sudah menjanjikan bahwa aku akan diajari membajak sawah. Bapak akan menggarap sawahnya untuk penaburan gabah. Sebelum ditaburi gabah, maka sawah harus benar-benar diolah atau dibajak dulu tanah liatnya supaya gabah tumbuh bagus, kata Bapak.
            Tentu tidak ada akan ada yang lebih menyenangkan dari momen hari ini. Aku sudah semangat mengambil tampar sebagai tali menuntun sapi.
            Bapak yang membawa peralatan membajak sawah nampak tersenyum dibelakangku juga dibelakang sapi yang aku tuntun. Kebetulan sapi-sapi ini sudah cukup jinak. Ia mengerti tujuan pemiliknya mau dibawah ke mana. Jadi tidak perlu mengarahkan dengan terlalu sulit. Sapi yang ada di depan sudah hafal pada jalan menuju sawah, sedangkan sapi yang di belakang cukup mengikuti kemana aku menarik tali tamparnya. Sapi dituntun depan belakang, dan aku ada di tengah-tengahnya.
            Setiba di sawah, proses belajarku membajak sawah berjalan cukup sempurna, kata Bapak. Sampai Bapak yang duduk di pinggir sawah mengacungkan kedua jempolnya, menyuruh lanjutkan. Sepertinya Bapak memiliki bahasa sendiri untuk mengendalikan sapi. Bahasa itu bukan bahasa Madura. Aku tidak paham dari mana asal muasal bahasa itu. Tapi yang jelas itu digunakan oleh orang-orang untuk mengendalikan sapi.
            Seperti Lili berarti ke kanan. Jecjhe’ berarti ke kiri. Bhuu berarti berhenti. Koh berarti kakinya harus dibenarkan, semisal ada tali yang membelit ke bagian betis sapi. Sungguh itu semua membuat aku tertarik untuk menjadi pembajak sawah, sebagaimana profesi yang bapak tekuni bertahun-tahun.
            Sepulang dari sawah, sapi-sapi tidak langsung di masukkan ke dalam kandang, ia harus dimandikan terlebih dahulu. Saat itu adalah tugas Emak untuk memandikan sapi, karena aku dan Bapak harus buru-buru pergi ke masjid menunaikan kewajiban. Emak lebih hebat daripada Bapak kalau soal memandikan sapi. Sifatnya yang telaten akan benar-benar memanja sapi-sapi itu. Maka tidak heran kalau sapi yang dipelihara Bapak dan Emak lebih terawat, lebih sehat, dari sapi-sapi tetangga kebanyakan. Entahlah.
            Adzan ashar berkumandang. Itu berarti aku sekeluarga akan melakukan aktivitas rutin, yaitu mengambil rumput ke sawah bersama-sama. Matahari indah menyemburat dari celah-celah janur kelapa. Di sebagian naungnya membentuk lukisan bayang-bayang pepohonan. Awan berarak berkejaran melintas di atas jauh sana. Aku yang membawa celurit jahil menyabit daun-daun sembarangan. Hingga Bapak menegurku, jangan sembarangan tanganmu Hodri, itu nyawa seekor sapi.
            Sejauh ini aku memang sulit menafsirkan bahasa orang tua. Aduh! Nyawa seekor sapi? Hanya setangkai daun kelor yang kecil, aku membatin. Aku memang tidak biasa membantah terhadap setiap perkataan Bapak. Itu sangat tidak biasa aku lakukan selama ini.
            Mata kami semua terbelalak saat melihat kondisi rumput di sawah yang sudah kacau. Ada pencuri yang berani mengambil rumput di sawah kami pada saat  itu. Aku menatap wajah Bapak, kecewa. Menatap wajah Emak, terlipat menahan marah. Aku tidak tahu dengan air wajah sendiri, yang jelas hati ganjal melihat kenyataan yang telah terjadi. Rumput yang sudah hijau-hijau dan tumbuh subur di sawah, kini telah teracak-acak tidak teratur.
            Sebenarnya Emak sering bercerita kepadaku kalau di sawah rumputnya sering dicuri orang. Sudah puluhan kali Emak dan Bapak membiarkan tanpa menegur, karena posisi yang tidak tahu siapa pencurinya. Aktivitas mengambil rumput berjalan lesu. Lengang tanpa percakapan yang biasanya tidak sesunyi saat ini. Aku mengerti, maksud dari diam kedua orang tua adalah bentuk protes diri karena rumput yang telah dicuri orang.
            Akhirnya hening itu terpecah oleh suara Emak, “Kita harus membuat Bin Sabin saja sepertinya Ri,” ucapnya kepada Bapak.
            “Itu memang sudah aku rencanakan. Aku ingin tahu siapa pencurinya. Karena tidak mungkin orang yang jauh. Dia pasti orang yang dekat dengan kita, karena dia pasti tahu kapan aku akan mengambil rumput ke sawah ini, sehingga dia bebas mengambil tanpa sepengetahuan kita.”
            Lagi-lagi bahasa itu yang terulang. Bin Sabin. Itu adalah bahasa yang pernah Emak ucapkan kepada ku. Hingga sejauh ini otakku ganjal dengan Bin Sabin. “Nama orang itu?” aku memutus tidak sopan pembicaraan kedua orang tua. Serentak mereka menertawakan aku.
            Emak menjelaskan apa itu Bin Sabin. Ternyata ia adalah semacam benda ajaib yang bisa membuat orang gatal-gatal. Bin Sabin diletakkan di sawah, di padang rumput. Jika rumputnya selalu ada yang mencuri, biasanya pemilik sawah akan melindungi rumputnya dengan meletakkan Bin Sabin secara sembunyi. Gatal-gatal yang disebabkan Bin Sabin tidak sekedar gatal-gatal, biasanya kulitnya akan membengkak, melepuh berisi air. Orang di desa sudah bisa menebak dengan sendirinya kalau itu adalah gatal-gatal karena Bin Sabin.
            Malam menabur bintang-gemintangnya. Bulan menyabit di balik janur kelapa. Kunang-kunang berhamburan di persawahan. Derrik jangkrik bersahutan dengan suara kodok ditengah genangan sisa air hujan di sawah. Nun jauh di sana, di langit tenggara, kilat berkedip sejenak membuat cerah alam sekitar. Bapak datang dengan membawa daun gebang yang kering.
            Daun gebang yang Bapak bawa masih lengkap dengan tangkainya. Bentuknya yang seperti kipas itu berarti daun pohon gebang yang masih muda. Ternyata pada saat itu aku juga tahu, kalau untuk membuat Bin Sabin harus dengan daun pohon gebang kecil, yang tingginya baru selutut, dan daun itu harus sudah kering di pohonnya. Bapak membawa itu ke rumah malam-malam.
            Aku yang belum tahu soal apa-apa, hanya diam menatap ke arah Emak yang tampak menyirami daun gebang dengan air yang baru saja dikomat-kamitinya. Kemudian selesai daun gebang dibacakan mantra, disirami air, Emak lalu mengikatnya dengan tiga tali, seperti tali tiga pada kafan mayat. Selanjutnya, adalah tugas Bapak untuk meletakkannya ke sawah yang rumputnya sering dicuri. Malam Bapak terobos dengan keyakinan bahwa malam itu hujan tidak akan turun, lantaran guntur terlalu banyak gemuruhnya.
            Tiga hari setelah pemasangan Bin Sabin oleh Bapak, rupanya tidak sia-sia. Bersamaan dengan rumput di sawah hilang, kakaknya Bapak sendiri terkena gatal-gatal yang persis karena akibat Bin Sabin. Betapa tidak semakin menikam, kalau ternyata yang mencuri rumput di sawah Bapak adalah saudara Bapak sendiri. Ribehnan.
            Bapak tidak menuduh ia pencurinya, juga Emak. Tapi Ribehnan sendiri yang datang ke rumah meminta maaf dan minta dicabut Bin Sabinnya. Ya, orang yang terkena penyakit akibat Bin Sabin, hanya orang yang membuat Bin Sabin itu yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya, Emak dengan murah hati langsung mengambil empat puluh lima buah lidi dan kopyah rabunan, yaitu kopyah yang dibuat dari daun siwalan. Kopyah rabunan bentuknya kerucut ke atas, dan menjadi kopyah untuk membuang sial seseorang.
            Kopyah rabunan yang dipakai oleh Ribehnan, kemudian dijatuhkan oleh Emak dari kepala Ribehnan dengan menggunakan lidi yang Emak pegang di tangan kirinya.
            Bin Sabin masih dipercaya oleh masyarakat pedesaan Madura untuk menjaga tumbuhan atau pertanian di sawahnya. Menjaga pohon kelapa. Menjaga rumput dan berbagai macam tumbuhan yang dirasa perlu dilindungi dari para pencuri. Sekian.



Jogjakarta 2015



Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Aktivitasnya selain kuliah adalah menulis. Dan sekarang masih menjadi mahasiswa aktif Fak. Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
             

AYAH, MAAF AKU TERLAMBAT MENULIS



Oleh: Wardi
            Dapur yang lengang, hanya dengan suara kressak daun siwalan yang biasa Ayah anyam menjadi tikar. Elas dan janget terlihat menutup lelah gurat di wajahnya. Ayah sudah dari dulu aku kenal sebagai penganyam tikar daun siwalan. Sebagai seorang yang ulet menekuni profesinya sebagai penganyam tikar, ia tetap komitmen. Sedang Ibu, aku kenal ia sebagai seorang yang cukup sayang terhadap ternak sapinya. Keduanya memang cukup membuat aku merasa terdidik selama berada bersamanya, di dunia ini. Entah kenapa, sebagai anak seorang penganyam tikar, dan peternak sapi, aku tidak begitu cakap menekuni profesi kedua orang tua. Aku lebih senang menulis. Menulis apa saja yang menurut keinginan perlu ditulis.
            Pernah pada suatu malam, di mana rembulan takjub menatap dari atas langit. Terhampar miliaran bintang. Aku duduk bertiga di lincak bangko. Ayah sedang istirahat, jemarinya menghimpit rokok lintingan yang dibungkus dari kulit jagung yang sudah dikeringkan. Sementara Ibu, duduk dengan memutar-mutar tasbih yang dibawanya dari langgar usai sholat isya’.
            Kami bertiga sibuk dengan fikiran masing-masing. Mungkin Ayah memikirkan bagaimana membuat tikar yang bagus sehingga bisa dibeli dengan harga mahal. Sedangkan Ibu, mungkin dia sedang memikirkan keselamatan sapinya yang sedang hamil bulan tua, yang sebentar lagi akan melahirkan. Walau kadang-kadang mereka terlibat dalam pemikiran yang sama, yaitu tentang aku. Aku yang seharusnya dan semoga tidak sama menyandang nasib, sebagaimana nasib mereka.
            Aku tidak pernah mengganggu pembicaraan orang tua, apa lagi melibatkan diriku. Menyimaknya dengan baik-baik, adalah cara sempurna menurutku. Kadang hati merasa iba, karena sejauh ini, seorang Liela belum juga bisa memberi sumbangsi materi kepada orang tua. Aku hanya bermodal tulisan yang bisa dimuat oleh media cetak. Jika kebetulan tidak dimuat, aku akan menjadi terlantar dan merengek lagi meminta uang.
            Usaha Ayah dan Ibu untuk penghidupanku sejauh ini memang tidak akan terbalas hanya dengan aku mencuilkan separuh uang yang aku ambil dari setiap cerpen yang termuat di media. Akan tetapi, ada yang lebih berharga dari pada membalas. Senyum dari Ayah dan Ibu-lah ketika mendengar tulisanku dimuat. Senyum itu bahkan bukan senyum biasa. Ibu dengan wajah tuanya, hilang seketika senyum merekah bagai bunga mawar yang cukup ranum.
            Juga dengan Ayah, ketika dia mendengar bahwa tulisanku termuat di media cetak, ikutlah ia tersenyum. Senyum Ayah, bagiku adalah senyum yang termahal di dunia. Aku tidak bisa membelinya dengan usaha canda dan tawa. Ayah tidak pernah suka anaknya berlawak di depan orang tuanya. Ia akan di cap tidak sopan. Perilaku seorang anak harus selalu sopan, ungkap Ayah. Maka demikian dapat aku lihat dari kedua bibir hitamnya yang sangat susah tersungging senyum. Mahal sekali.
            Akan tetapi, semahal apapun itu senyum Ayah, saat ini aku telah bisa membelinya. Setelah dari dulu aku berusaha membuat Ayah tersenyum dengan mendapat peringkat satu di kelas, membelikan Ayah rokok Gudang Garam Surya, membantu Ayah mengambil daun siwalan, tidak juga membuatnya tersenyum. Duh, mahalnya senyum itu. Akan tetapi, dengan tulisan aku bisa membuat Ayah tersenyum. Entah apa maksud Ayah?.
***
            Pernah pada suatu malam. Saat aktivitas manusia di samping rumah sudah sungguh-sungguh diam. Dan bahkan Ibu saja, sudah satu jam yang lalu terlelap. Malam itu seperti hanya aku dan Ayah yang mengisi malam. Aku dengan hamparan lelembaran buku tulis di atas meja. Ayah dengan tangannya yang sibuk merakit tikar dengan helaian daun siwalan. Tiba-tiba Ayah menghampiriku, hingga membuatku kaget seketika.
            “Lie, karena iqro’ bacalah, maka kau, menulislah. Ayah akan senang melihatmu menulis.” Kalimat Ayah dengan memakai wajah yang masih sama seperti sedia-kala. Aku belum cukup paham kalimat demikian. Hanya saja aku memaknai kalau Ayah senang melihatku belajar malam itu.
            Sejak kejadian itu. Saat pertama Ayah menemuiku menulis cerita. Dan kalimat Ayah yang berakhir dicerna, sebagai tombak cita-cita sejak saat itu juga. Aku mulai menulis. Entah bagaima, sejak saat itu aku sudah merasa cinta kepada tulisan. Ratusan kali aku mencari teman untuk menyokong semangatku dalam menulis. Ku mintai mereka pendapat tentang menulis. Di antara mereka, bahkan sangat bervariasi dalam memotivasi diriku.
            “Kalau kamu mau jadi penulis, kamu harus kirim ke media cetak, seperti koran, biar kamu cepat terkenal Lie.” Ucap Junaidi salah satu temanku.
            “Kalau kamu mau jadi penulis Lie, kamu seharusnya juga perlu mendapatkan uang, buatlah tulisanmu menjadi uang, dengan cara menjualnya ke media cetak.” Ucap Ridwan tetanggaku.
            Aku semakin tidak mengerti bagaimana maksud kalimat teman-teman. Aku tidak mengerti karena semua yang mereka katakan tidak sama seperti keinginan dasarku menulis. Sebagaimana aku yang suka membaca. Aku membaca hanya karena aku ingin tahu, apa itu membaca. Dan menulis, apa yang terjadi pada mereka ketika membaca tulisanku?
            Sungguh, bagiku menulis adalah membuat dunia orang yang membacanya, orang yang merasakannya, dan bahkan yang mendengarkannya. Mereka yang membaca setiap tulisanku, mereka akan melebur, akan masuk ke dalam dunia yang aku bangun dengan kata-kata. Juga seperti aku yang menemukan dunia baru. Yaitu, senyum seorang Ayah yang sangat sulit aku temui dalam dunia yang sudah jauh aku lalui.
***
            Matahari menembus tirai pagi. Embun tanpa poles, bening, menawan takzim di pepucuk rumput sawah. Kicau kutilang mengiring desau angin di antara dahan-dahan. Itulah pagi yang sangat bersejarah. Sejarah di mana aku menemukan senyum Ayah pertama kali. Cangkir kopi dan rokok lintingan yang dijepit jemarinya, mengepulkan asap yang cukup beraroma. Suasana pagi yang takjup mengiringi senyumnyaa yang sungguh mahal itu.
            “Ayah bangga sama kamu Lie. Aku terharu membaca cerita dalam tulisanmu ini.” Ayah tersenyum  sambil menjulurkan selembar koran. Tulisan? Aku bertanya sendiri. Tulisan yang mana, aku fikir. Seingatku, sudah beratus-ratus tulisan yang aku kirim pada media cetak koran, yang dibaca oleh Ayah itu. Dan sebanyak pengiriman naskah itu pula aku belum pernah melihat tulisanku dimuat. Aduh, apa lagi senyum Ayah itu.
            Entah kesambet di mana redaksi dan editor media sehingga akhirnya memuat tulisanku. Sehingga Ayahku bisa tersenyum karenanya. Ayah tersenyum bukan soal nominal yang tiba di tanganku. Bahakan pada saat itu memang tidak ada nominal yang aku dapat.
            Cericit burung pipit yang menyenandung di atas ranting kering yang jatuhnya hanya menunggu angin. Padi menguning kemudian menunduk. Persawahan dihias dengan panorama alamiah. Aku tidak tahu dari mana semua harus ku maafkan. Sedang keindahan yang sebenarnya, dan benar-benar aku damba sedari dahulu baru ku kecap sekarang ini. Saat di mana senyum Ayah benar-benar tersungging indah. Kenapa tidak dari dulu aku belajar menulis. Kenapa aku terlambat menulis. Hanya lima bulan aku mendapatkan senyum Ayah. Kini ia telah tiada lagi di sisiku. Perpisahan ini yang tidak membuatku senang.
            Mata meledak mencairkan air mata. Rindu mulai merekah dari lokan-lokan pulau yang terbentang. Semutiara itu doa mengalir untuk senyum kedua orang tua. Aku terlambat menulis. Jujur andaikan sejak pertama masuk SMA aku menulis, mungkin akan lebih banyak waktu yang terluang bersama senyum Ayah yang mahal itu. Kini aku yang menempuh kuliah di luar kota. Jogja. Telah tersudut seluruh kemampuan ini, kemampuanku menulis kalah dengan karya mereka yang sudah lama dikenal oleh media. Mungkinkah Ayah masih tersenyum di sana? Ataukah ia kembali meredupkan senyumnya, karena sejauh ini tulisanku tidak dimuat-muat oleh media cetak di kota ini.
            “Ayah doakan aku agar bisa mengejar keterlambatan ini. Aku sudah berusaha menulis di sini, demi senyum Ayah. Ayah, kumohon jangan bersedih.” Lirihku dalam tarikan doa sepanjang malam kepada Yang Maha Kuasa.

Jogjakarta 2015

Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Pernah belajar di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, sekarang menjadi mahasiswa aktif Fakultas Hukum UP 45 Yogyakarta.