Oleh: Wardi
Saat
usiaku masih sepuluh tahun, aku sering diajak bermain ke sawah oleh Emak.
Tepatnya Emak memotong rumput di tabunan untuk makanan sapi-sapinya dan aku
berlari-lari menangkap belalang kecil. Setiap pulang sekolah, setelah adzan ashar,
itulah waktunya aku dan Emak bermain di sawah. Selain indah menunggu senja ada
banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dari indahnya bermain di sawah. Aku
sangat jarang bermain dengan kawan-kawan yang lain dari saking sudah terlenanya
dengan kenyamanan sawah.
Matahari
siap tumbang di kaki barat. Menorehkan warna jingga yang belum sempurna. Ramai
rombongan kepak sayap burung pipit berpindah dari pohon siwalan yang satu ke
pohon siwalan yang lain. Emak sudah hampir selesai memotong rumput. Besok aku
mau belajar juga mencari makanan sapi seperti yang Emak lakukan.
Pulang
dari sawah menuju rumah, menyusuri hutan rimba yang dinaungi pohon tiras dengan
daunnya yang hijau-hijau. Tapi sore ini hijaunya tidak sempurna, lantaran
pencahayaan matahari yang sudah siap tumbang di kaki cakrawala membuat suasana
lebih suram. Tapi kalau pagi-pagi, suasana ini sangat menawan. Cahaya matahari
menyiram lembut seluruh pepohonan yang ada, dendang siul burung menyulap
rerimbunan menjadi istana kecil suasana desa.
Adzam
berkumandang dari masjid yang tak jauh dari rumah. Usia itu aku masih menjadi
santri yang aktif mengaji. Menyetor bacaan Alqur’an yang Pak Husen ajarkan.
Setelah selesai sholat isya’ berjamaah, biasanya aku dan teman-teman mendapat
bimbingan pelajaran ilmu fiqih. Sebagai anak kampung aku tidak banyak
berkeinginan. Cukuplah menjadi orang yang paham agama dan bisa merawat sapi.
Itu cita-cita dasar.
“Hodri”
Papa menyapa. Dia adalah teman perempuanku. Ternyata dia memberiku kolak nangka
buatan ibunya yang dititipkan untuk keluargaku. Kehidupan di rumah hanya
sederhana. Rumah yang kecil terbuat dari bambu. Hanya ada tiga orang yang
menjadi penghuninya. Aku, Bapak dan Emak. Meski sesederhanaan itu, aku dan
keluarga mampu hidup bahagia. Sebagai anak seorang petani aku banyak bergaul
dengan alam. Dengan sawah. Dengan hewan-hewan. Termasuk belajar membajak sawah.
Bapak
yang menjadi kulih pembajak sawah dengan bayaran dua puluh ribu setengah hari.
Berangkat jam tujuh pagi pulang jam dua belas siang. Bapak membajak sawah
menggunakan sapi betinanya. Bagi orang desa di desaku, sapi adalah emas yang
tidak ternilai harganya. Sapi sangat berharga. Bahkan tidak jarang pertikaian
terjadi hanya karena sapi.
Sapi
menjadi hewan yang multi fungsi. Bukan sekedar sebagai alat pembajak sawah. Di tempatku
Madura, sapi bisa dijadikan penghasilan uang. Bukan seperti lazimnya sapi yang
dijual karena diukur dari mahal harga dagingnya. Sapi betina yang terlatih
sebagai sapi lotreng, ia akan akan menjadi sapi yang mahal. Karena ada lomba khusus
untuk kompetisi sapi lotreng yang merebutkan hadiah puluhan juta.
Untuk
sapi jantan, ada karapan sapi. Sapi yang memiliki lari cukup cepat, harganya
akan mahal juga. Karena untuk kompetisi karapan sapi sering digelar dengan memperebutkan
hadiah puluhan juta rupiah. Sapi memiliki nilai tersendiri, bahkan sebagai
nilai harga diri pemiliknya. Tiga bulan lalu saudara Bapak, Suahmad, mati di
arena karapan. Ia mati bercarok karena merasa dicurangi saat pelepasan sapinya
di garis start oleh Gani.
Juga tidak
jarang dari sekian banyak tetangga yang memiliki sapi, terjadi perselisihan
sesama tetangga pula. Itu semua karena sapinya merasa dilecehkan. Termasuk soal
pembahasan cara merawat sapi, kadang salahsatu pemilik akan sangat kecewa
ketika tubuh sapinya tidak sesintal tubuh sapi sebelah. Dan soal-soal lain yang
berhubungan dengan sapi.
Setiap
sepulang sekolah. Setelah sholat ashar, aku Ibu dan Bapak akan mengambil rumput
buat makan sapi. Sudah lama aku belajar bagaimana memotong rumput dengan baik.
Termasuk cara memberi makan sapi agar sapi lancar BAB. Karena untuk kelancaran
pertumbuhan sapi, sehat atau tidak, bisa dilihat dari bagusnya kotoran yang
keluar dari perut sapi.
Dan
untuk kelancaran semua itu bisa diatur dari caranya sang pemilik memberi makan.
Seperti yang Emak ajarkan pada ku, kalau saat baru musim penghujan, biasanya
rumput akan mengeluarkan pucuk-pucuk baru. Saat tanah pertama menerima air
hujan, biasanya sawah akan tampak indah, karena pucuk rumput yang mulai tumbuh.
Hijau-hijau. Maka jika sapi terlalu banyak memakan rumput yang masih muda
biasanya ia akan sakit perut, kata Emak. Untuk itu pemilik sapi harus
pandai-pandai. Biasanya peternak sapi akan menyimpan rumput kering di bagian angkor (bagian belakang kandang)
sapinya.
Selain
menyimpan rumput atau jerami padi yang dikeringkan guna mengatasi mempermudah
mencari rumput ketika kemarau datang, juga bisa menjadi salah satu antisipasi
sapi sakit perut saat musim rumput muda. Ya, kalau musim kemarau, saat rumput
di sawah-sawah banyak yang kering dan mati, maka pemilik sapi harus pintar-pintar
mencarikan solusi untuk tetap menjaga makanan sapinya tidak berkurang dan sapi tetap
gemuk.
Maka
biasanya kalau bapak akan mengeringkan rumput atau menggantinya dengan
mencarikan daun pisang yang sengaja ditanam di sekitar pekarangan rumah. Ada
juga yang memilih mengalirkan air ke sawahnya agar rumput tetap bisa bertahan
hidup. Tapi biasanya itu hanya dilakukan oleh orang yang memiliki pompa dan
sumber air sendiri. Dan tidak untuk keluargaku. Selain itu, ada juga yang
memilih mencuri. Mereka seakan tidak bersalah mengambil rumput di sawah orang
lain yang bukan miliknya demi kehidupan sapinya.
Perbuatan-purbuatan
seperti itu yang jika ketahuan banyak melahirkan konflik. Maka tak jarang watak
keras kemaduraannya keluar. Hal-hal seperti itu yang Emak pesan kepadaku, agar
aku tidak melakukan.
“Kamu
kalau sudah cakap mencari rumput, jangan sembarangan mengambil rumput di sawah
orang. Jika kamu tidak ketahuan orangnya, bisa jadi kamu terkena Bin Sabin.”
“Iya
Mak. Hodri Insya Allah tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.”
Matahari
pagi menyiram lembut Desa Tamidung. Itulah nama desa yang menjadi tempat
pertumpahan darah kelahiranku. Suasana pagi di Desa Tamidung memang selalu
indah. Apa lagi ditambah dengan cuaca musim penghujan seperti sekarang ini.
Saat semua tumbuhan menghijau, dan embun terbang dari pucuk-pucuknya, menyambut
matahari. Burung-burung kutilang girang mandi di antara sisa air hujan semalam,
di daun-daun siwalan dan daun pisang. Bersiul-siul menambah sejuk suasana pagi.
Hari
Jum’at. Liburan sekolahku adalah hari Jum’at. Begitulah liburan sekolah yang dibawah
naungan Departemen Agama atau tepatnya sekolahku adalah sekolah swasta. Semalam
Bapak sudah menjanjikan bahwa aku akan diajari membajak sawah. Bapak akan
menggarap sawahnya untuk penaburan gabah. Sebelum ditaburi gabah, maka sawah
harus benar-benar diolah atau dibajak dulu tanah liatnya supaya gabah tumbuh
bagus, kata Bapak.
Tentu
tidak ada akan ada yang lebih menyenangkan dari momen hari ini. Aku sudah
semangat mengambil tampar sebagai tali menuntun sapi.
Bapak
yang membawa peralatan membajak sawah nampak tersenyum dibelakangku juga
dibelakang sapi yang aku tuntun. Kebetulan sapi-sapi ini sudah cukup jinak. Ia
mengerti tujuan pemiliknya mau dibawah ke mana. Jadi tidak perlu mengarahkan
dengan terlalu sulit. Sapi yang ada di depan sudah hafal pada jalan menuju
sawah, sedangkan sapi yang di belakang cukup mengikuti kemana aku menarik tali
tamparnya. Sapi dituntun depan belakang, dan aku ada di tengah-tengahnya.
Setiba
di sawah, proses belajarku membajak sawah berjalan cukup sempurna, kata Bapak.
Sampai Bapak yang duduk di pinggir sawah mengacungkan kedua jempolnya, menyuruh
lanjutkan. Sepertinya Bapak memiliki bahasa sendiri untuk mengendalikan sapi.
Bahasa itu bukan bahasa Madura. Aku tidak paham dari mana asal muasal bahasa
itu. Tapi yang jelas itu digunakan oleh orang-orang untuk mengendalikan sapi.
Seperti Lili berarti ke kanan. Jecjhe’ berarti ke kiri. Bhuu berarti
berhenti. Koh berarti kakinya harus
dibenarkan, semisal ada tali yang membelit ke bagian betis sapi. Sungguh itu
semua membuat aku tertarik untuk menjadi pembajak sawah, sebagaimana profesi
yang bapak tekuni bertahun-tahun.
Sepulang
dari sawah, sapi-sapi tidak langsung di masukkan ke dalam kandang, ia harus dimandikan
terlebih dahulu. Saat itu adalah tugas Emak untuk memandikan sapi, karena aku
dan Bapak harus buru-buru pergi ke masjid menunaikan kewajiban. Emak lebih
hebat daripada Bapak kalau soal memandikan sapi. Sifatnya yang telaten akan
benar-benar memanja sapi-sapi itu. Maka tidak heran kalau sapi yang dipelihara
Bapak dan Emak lebih terawat, lebih sehat, dari sapi-sapi tetangga kebanyakan.
Entahlah.
Adzan
ashar berkumandang. Itu berarti aku sekeluarga akan melakukan aktivitas rutin,
yaitu mengambil rumput ke sawah bersama-sama. Matahari indah menyemburat dari
celah-celah janur kelapa. Di sebagian naungnya membentuk lukisan bayang-bayang
pepohonan. Awan berarak berkejaran melintas di atas jauh sana. Aku yang membawa
celurit jahil menyabit daun-daun sembarangan. Hingga Bapak menegurku, jangan
sembarangan tanganmu Hodri, itu nyawa seekor sapi.
Sejauh
ini aku memang sulit menafsirkan bahasa orang tua. Aduh! Nyawa seekor sapi? Hanya setangkai daun kelor yang kecil, aku
membatin. Aku memang tidak biasa membantah terhadap setiap perkataan Bapak. Itu
sangat tidak biasa aku lakukan selama ini.
Mata
kami semua terbelalak saat melihat kondisi rumput di sawah yang sudah kacau.
Ada pencuri yang berani mengambil rumput di sawah kami pada saat itu. Aku menatap wajah Bapak, kecewa. Menatap
wajah Emak, terlipat menahan marah. Aku tidak tahu dengan air wajah sendiri,
yang jelas hati ganjal melihat kenyataan yang telah terjadi. Rumput yang sudah
hijau-hijau dan tumbuh subur di sawah, kini telah teracak-acak tidak teratur.
Sebenarnya
Emak sering bercerita kepadaku kalau di sawah rumputnya sering dicuri orang.
Sudah puluhan kali Emak dan Bapak membiarkan tanpa menegur, karena posisi yang
tidak tahu siapa pencurinya. Aktivitas mengambil rumput berjalan lesu. Lengang
tanpa percakapan yang biasanya tidak sesunyi saat ini. Aku mengerti, maksud
dari diam kedua orang tua adalah bentuk protes diri karena rumput yang telah
dicuri orang.
Akhirnya
hening itu terpecah oleh suara Emak, “Kita harus membuat Bin Sabin saja
sepertinya Ri,” ucapnya kepada Bapak.
“Itu
memang sudah aku rencanakan. Aku ingin tahu siapa pencurinya. Karena tidak
mungkin orang yang jauh. Dia pasti orang yang dekat dengan kita, karena dia
pasti tahu kapan aku akan mengambil rumput ke sawah ini, sehingga dia bebas
mengambil tanpa sepengetahuan kita.”
Lagi-lagi
bahasa itu yang terulang. Bin Sabin. Itu adalah bahasa yang pernah Emak ucapkan
kepada ku. Hingga sejauh ini otakku ganjal dengan Bin Sabin. “Nama orang itu?”
aku memutus tidak sopan pembicaraan kedua orang tua. Serentak mereka
menertawakan aku.
Emak
menjelaskan apa itu Bin Sabin. Ternyata ia adalah semacam benda ajaib yang bisa
membuat orang gatal-gatal. Bin Sabin diletakkan di sawah, di padang rumput.
Jika rumputnya selalu ada yang mencuri, biasanya pemilik sawah akan melindungi
rumputnya dengan meletakkan Bin Sabin secara sembunyi. Gatal-gatal yang
disebabkan Bin Sabin tidak sekedar gatal-gatal, biasanya kulitnya akan
membengkak, melepuh berisi air. Orang di desa sudah bisa menebak dengan
sendirinya kalau itu adalah gatal-gatal karena Bin Sabin.
Malam
menabur bintang-gemintangnya. Bulan menyabit di balik janur kelapa.
Kunang-kunang berhamburan di persawahan. Derrik jangkrik bersahutan dengan suara
kodok ditengah genangan sisa air hujan di sawah. Nun jauh di sana, di langit
tenggara, kilat berkedip sejenak membuat cerah alam sekitar. Bapak datang
dengan membawa daun gebang yang kering.
Daun
gebang yang Bapak bawa masih lengkap dengan tangkainya. Bentuknya yang seperti
kipas itu berarti daun pohon gebang yang masih muda. Ternyata pada saat itu aku
juga tahu, kalau untuk membuat Bin Sabin harus dengan daun pohon gebang kecil,
yang tingginya baru selutut, dan daun itu harus sudah kering di pohonnya. Bapak
membawa itu ke rumah malam-malam.
Aku yang
belum tahu soal apa-apa, hanya diam menatap ke arah Emak yang tampak menyirami
daun gebang dengan air yang baru saja dikomat-kamitinya. Kemudian selesai daun
gebang dibacakan mantra, disirami air, Emak lalu mengikatnya dengan tiga tali,
seperti tali tiga pada kafan mayat. Selanjutnya, adalah tugas Bapak untuk
meletakkannya ke sawah yang rumputnya sering dicuri. Malam Bapak terobos dengan
keyakinan bahwa malam itu hujan tidak akan turun, lantaran guntur terlalu
banyak gemuruhnya.
Tiga
hari setelah pemasangan Bin Sabin oleh Bapak, rupanya tidak sia-sia. Bersamaan
dengan rumput di sawah hilang, kakaknya Bapak sendiri terkena gatal-gatal yang
persis karena akibat Bin Sabin. Betapa tidak semakin menikam, kalau ternyata
yang mencuri rumput di sawah Bapak adalah saudara Bapak sendiri. Ribehnan.
Bapak
tidak menuduh ia pencurinya, juga Emak. Tapi Ribehnan sendiri yang datang ke
rumah meminta maaf dan minta dicabut Bin Sabinnya. Ya, orang yang terkena
penyakit akibat Bin Sabin, hanya orang yang membuat Bin Sabin itu yang bisa
menyembuhkannya. Akhirnya, Emak dengan murah hati langsung mengambil empat
puluh lima buah lidi dan kopyah rabunan, yaitu kopyah yang dibuat dari daun
siwalan. Kopyah rabunan bentuknya kerucut ke atas, dan menjadi kopyah untuk
membuang sial seseorang.
Kopyah
rabunan yang dipakai oleh Ribehnan, kemudian dijatuhkan oleh Emak dari kepala
Ribehnan dengan menggunakan lidi yang Emak pegang di tangan kirinya.
Bin
Sabin masih dipercaya oleh masyarakat pedesaan Madura untuk menjaga tumbuhan
atau pertanian di sawahnya. Menjaga pohon kelapa. Menjaga rumput dan berbagai
macam tumbuhan yang dirasa perlu dilindungi dari para pencuri. Sekian.
Jogjakarta 2015
Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Aktivitasnya
selain kuliah adalah menulis. Dan sekarang masih menjadi mahasiswa aktif Fak.
Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.