Selasa, 15 Desember 2015

MANDI TUJUH BULAN



Gaun yang masih menghuni rapi di tubuhku nampak putihnya cerah dan indah seperti perasaan hari ini. Mak Sahari juga rapi dengan jas hitamnya yang patut, terlihat sangat tampan dan gagah duduk sahaja di sampingku. Menunggu ijab kabul. Tanggal ganda Januari di tahun yang genap, adalah hari kebahagiaanku dengan Mak Sahari. Tersebab pada hari ini kami tengah menjalani hajatan pernikahan. Mak Sahari melirikkan bola matanya yang sipit mengintai diriku yang takdzim di sisinya. Menambah megah suasana yang aku resapi. Seiring runtuhnya waktu, semakin tambah mekar bunga harapan untuk bersanding dengan Mak Sahari. Bunga yang tetap kuncup pada rayuan-rayuan kumbang. Dan Sahari telah menjadi kumbang terhebat yang membuatku siap merentangkan kelopak dipeluknya.
Matahari menyiram lembut pohon siwalan. Mengintip lewat celah janur yang terkibas desah angin siang. Kini aku dan Mak Sahari telah resmi menjadi sepasang suami isteri. Perihal kejadian sakral bakda ijab kabul tadi. Tubuh menjadi halal disentuhnya. Setidaknya cukup kebahagiaan yang telah merengkuh romantis tubuhku. Hati girang bergemintang tiada tara. Aku sampaikan kegirangan ini lewat senyum yang tipis namun mengembang tulus teruntuk suami tercinta. Shalawat di lantunkan. Sungguh suci suasana ini. Menyulapku sekejap seperti menjadi layaknya puteri raja.
“Ayo Mar, kudanya sudah siap!” Bibi Sahnatun memanggil aku yang patuh duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu bersama Mak Sahari. Kursi bambu terhiaskan bunga-bunga indah. Aroma melati sedap menyengat. Meratui suasana dan lurus merasuk hidung keramaian tamu undangan.
“Mari  Le’ Marwani. Bibi sudah memanggil kita..!!” Mak Sahari mengajakku untuk beranjak ke arah Bibi Sahnatun. Air wajahnya berbinar. Aku bahagia memilikimu begitu kira-kira makna rona wajah Mak Sahari.
“Iya Mak.” Isyarat untuk menuruti ajakannya. Aku pun berdiri dan Mak Sahari meraih tanganku untuk digandeng sembari menyuntikkan senyum termanisnya. Memang tradisi di Desa Tamidung ini untuk orang yang sedang merayakan hari pernikahan dengan besar-besaran, pasti identik dengan pengantin kuda. Pengantin kuda adalah pengantin yang di baris mengelilingi kampung dengan menunggangi kuda dan diiringi musik Saronen. Sampai sejauh ini tradisi pengantin kuda masih lestari di Pulau Madura, Sumenep pada khususnya. Dan kuda yang digunakan pun bukan sembarang kuda. Biasanya ada pemilik kuda yang menyewakan. Kudanya adalah kuda kencak atau kuda serek. Kuda kencak dan kuda serek disewakan dengan harga empat ratus ribu sampai satu juta setengah. Itu untuk satu pagelaran hajatan pengantin saja. Arakan kuda akan dimulai dari rumah pengantin dan ke rumah-rumah guru ngaji di mana tempat pengantin menimba ilmu. Lalu berkeliling kampung. Balai desa juga tidak luput dari jangkauan arakan kuda yang ditumpangi oleh pengantin. Jika jarak antar rumah besan, maka arakan kuda serek atau kuda kencak menuju ke rumah sang besan.
Matahari yang cerah secerah harapanku, semburatya menjadi saksi kesakralan hari. Aku mencoba menetas-netas titik kebahagiaan yang sedari dulu tersimpan rapi di benak ini. Menjadi cita-cita yang cukup rahasia. Senja mengantar siang cahaya matahari ke peraduan. Warna perak di ufuk cakrawala menandakan malam segera tiba. Namun kebahagiaan yang tengah aku rasakan kini, masih seperti lahirnya pagi. Dan tak urung senja. Mak Sahari dengan tubuh yang tegak berdiri di ambang pintu. Menikmati bintang-gemintang yang tertabur di langit gelap. Desir angin malam tak kalah gairah menyejuk dengan gigilnya, sebagai penghias kebersaman. Pelukan Mak Sahari dari belakang juga menambah pekiknya malam yang melahirkan sejarah indah tak terlupakan. Gemintang kian hinggap dalam hikayat malam pertamaku dengan Mak Sahari. Aku menangis haru. Tersebab cinta aku yakini Tuhan telah ikhlaas kirim lewat sosok indah yang kini telah menjadi bagian dari hidup.
Le’ Marwani, kenapa kamu menangis?” Lirih suara Mak Sahari, namun terasa menggema hingga memecah hening malam. Membahana di telingaku sebagai pengawal hati yang sahdu. Sungguh, dia laki-laki yang lemah lembut serta bijak dan penuh perhatian.
“Tidak. Aku malah merasa air mata adalah kunang-kunang kebahagiaan karena kamu Mak.” Air mata mengawal serak suara. Terungkap sebagai bukti sumringah hati yang membelitku. Perihal desah dan buaian mesrah angin siap menjadikan pertarungan damai. Mak Sahari mengusap air mataku, lalu menggantinya dingin dengan pelukan hangat. Hingga membuat aku larut dalam rebah di dadanya. Kejadian malam pertama dengan Mak Sahari menggores sejarah hidup indah. Menjadi bingkai pelengkap yang khidmat mengantar riak ranjang. Dipan mendesah tak beraturan.
***
Fajar menyingsing di kaki langit timur. Nyamur pagi bersarang sahaja di pucuk rerumputan. Kicau kutilang dan elang melenguh di langit biru. Terlahir sudah bulan-bulan kebersamaan yang terbina seiring dan sejalan bersama sang suami. Telah mencapai usia tiga bulan dari hari hajatan pernikahanku. Aku adalah janin di luar kandungan, yang selalu membutuhkan perawatan dari sosok Mak Sahari sebagai seorang suami yang terlalu aku cintai. Bukan tidak terjadi perselisihan dalam keluarga kami. Hanya saja pertikaian di antara kami selalau bermuara pada perdamaian. Tidak salah aku memilih Mak Sahari. Pernah suatu waktu aku memarahi Mak Sahari. Kemarahanku tersebab ia yang tidak mau aku suruh membeli gula pasir ke tokoh. Namun secepat itu juga aku menyadari bahwa ketidak mauannya dikarenakan ia benar-benar sungguh letih. Seharian suami bekerja di tegal. Membajak tegalan dengan sapi memang cuku menguras tenaga. Aku paham itu. Dengan nada penyesalan aku mengungkapkan maaf pada Mak Sahari.
“Iya sudah le’.. kamu tidak usah sesedih itu. Aku bisa memahami perasaanmu.” Senyumnya yang mengembang serupa bunga-bunga di taman bermekaran. Elok. Mudah untuk Mak Sahari memaafkan kesalahan. Membuatku serasa tersanjung. Seakan sungkan untuk mengulangi sikap yang tidak sepantas itu. Maka aku lagi-lagi menemukan sosok baik yang bersemayam di kesucian jiwa kelelakiannya. Semua itu cukup menambah besar antusias dalam merenda hidup dengan Mak Sahari selamanya.
Bunga-bunga mekar indah diantara taman-taman yang terhiasi kupu-kupu dan kumbang. Kecipak ombak berdebur di laut pesisir utara. Keramaian aktifitas pelaut berhamburan beradu bersama kegiatan harian para tani tegalan. Pulau Madura dengan masyarakat stereotipnya telah melahirkan instrumen-instrumen hidup. Beragam budaya dan bahasa akur menyatu. Cuaca panas menambah cerah harapan. Semenjak aku merenda keluarga sebagai suami isteri, ada sesuatu yang berbeda pada diriku. Beberapa hari ini aku sering mual-mual. Perubahan hormonal telah membuat aku kesulitan mengontrol sikap. Entah apa yang telah terjadi kepadaku. Hingga Mak Sahari mengajakku ke dukun kandungan di desa terdekat. Siapa tahu aku sudah hamil katanya. Sebagai seorang aku manut saja mengikuti apa yang ia isyaratkan.
Berita dari dukun kandungan desa menyublim kebahagiaan. Yang tersemai antara taman bermunga bahagia. Menurutnya aku tengah hamil satu bulan. Aku mematung. Desir angin terhenti sejenak. Suasana keliling lengang seketika. Sungguh betapa bahagia diriku mendengarnya. Tiada tara sebagai tandingan bahagia untuk kalimat pengungkap sebahagia demikian. Bahkan serasa tiada ibarat yang mampu aku jadikan umpama semenjak pernyataan dari si dukun kandungan. Bola mata terbugkus air. Mata segera berlinang, cairannya menetes bagai sahajanya nyamur pagi buta yang singgah di pucuk dedaunan hati. Mendamaikan hari-hariku dalam rindu. Rindu yang menyegera untuk menimang sang buah hati. Sujud syukur terhatur ikhlas kepada sang Khaliq. Doa-doa suci pun ku tasbihkan disetiap waktunya kepada Allah SWT. Mengharap kebelasan-Nya memberkahi semua yang terjadi dan yang akan terjadi. Aku dan Mak Sahari menumpahakan seluruh kebahagiaan tanpa sisa, dengan syukur yang tulus.
Le’ Marwani aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya kita berhasil juga. Dan kita akan segera menjadi bapak dan ibu.” Ucap Mak Sahari sembari mendekap kepalaku di dadanya. Wajah sumringah terus menantang kesedihan yang hendak hinggap serupa serangga kecil yang berputar-putar mengelilingi damar conglet yang melekat santun di tabir yang terbuat dari anyaman bambu.
“Iya mak, Allah mendengar doa kita.” Ucapku lirih yang tak mampu menahan bendungan air mata. Airnya mengalir bermuara antara bibir dan seluruh pipi.
“Nah, sekarang kamu harus istirahat dan olah raga yang teratur.” Nasehat perhatiannya terlihat lagi yang beralaskan ketulusan. Mak Sahari meski orang desa dan jauh dari kota, pengetahuannya dan keperduliannya terhadap kesehatan fisik tidak kalah dengan dokter di rumah sakit kota sana. Dia laki-laki progresif versi orang tani di Desa Tamidung ini.
“Oy..! Ternyata sebentar lagi aku sudah mau punya cucu.” Sergah Emak yang sedari tadi senyum-senyum menyaksikan bahagia antara aku dan Mak Sahari. Emak yang pada akhirnya angkat  bicara juga, tidak lupa memberiku nasehat agar menjaga baik-baik janin dalam kandunganku.
Enggih Emak.” Jawabku singkat namun khidmat penuh rasa takdzim kepada orangtua. Hari semakin menua. Panas matahari semakin menambah gerah penghuni rumah di sepanjang perkampungan. Madura memang panas karena posisinya dikelilingi oleh lautan. Aku dan Mak Sahari harus memberi kesempatan mata mengatupkan kelopaknya. Sekedar memetik ketenangan dari tubuh yang mulai tak tahan menahan panas disiang hari. Mega-ega kelabu mulai terbingkai di pelupuk mata. Mengaalahkan cahaya sang mentari. Dan kami tidur siang.
***
Kumbang-kumbang mulai mengintai bunga yang merindukannya. Seperti diriku yang tengah damai menikmati rindu. Nun jauh dalam bayang-bayang, kerinduan membentuk gelisah segera terlahirnya anak dari janin yang aku kandung. Mak Sahari tersenyum memandangiku yang sembari mengelus-elus perut buncitku. Tersenyum dan berbicara sendiri dengan janin yang di dalamnya. Sebenarnya aku tahu maksud dari Mak Sahari. Itulah tengara bahwa dia jua merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Adalah kerinduan segera lahirya anak kami.
Mak, sini ..!” Aku memanggil Mak Sahari yang berdiri di pintu kamar. “Ayolah sini” Sergahku agar Mak Sahari lebih cepat melangkah menghampiri ku.
“Iya Le’..!” Sambil menghimpit batang rokok yang nyala di kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. Kemudian ia menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku ingin mengajaknya berbicara. Karena sudah lama aku tidak menanyakan hal-hal yang terjadi di tegal. Apakah tembakaunya sudah besar. Kekurangan pupuk. Sudah siap dijual dan berbagai macamnya. Karena hampir dua bulan aku sudah tidak ke tegal. Itu pun intrupsi Mak Sahari yang melarangku ke tegal.
Le’ gimana ya..?” Air wajah Mak Sahari terlihat bingung. Ia mengawali pembicaraan terlebih dahulu sebelum pertanyaanku terhatur kepadanya. Dan aku menahan apa yang ingin aku tanyakan. Biar aku mendengarkan terlebih dulu apa yang akan suami sampaikan.
“Apanya yang gimana Mak?” Tanya ku dengan raut wajah bertanya-tanya. Aku penasaran, jangan menggantung kalimat. Begitu maksud air wajahku.
“Iya kan lima belas hari lagi usia kehamilanmu akan mencapai tujuh bulan.!” Ucap Mak Sahari. Sebenarnya masih kalimat yang menggantung.
 “iya Mak, kamu benar. Berarti mulai sekarang kita harus mempersiapkan segala kebutuhannya.” Aku pun memperkuat ucapan Mak Sahari. Memang di Madura ada sebuah teradisi yang tidak bisa di lewatkan bagi orang yang sedang mengandung atau hamil.
***
Mataari masih seperti biasa menyiram lembut pohon-pohon siwalan yang berjajar rapi menaungi perkampungan. Hingga putik sari pada manyang siwalan lepas berjatuhan ke bumi. Keasrian alam yang hijau. Serta kemarau menyengat kulit bagi yang tidak biasa. Stereotip masyarakat Madura yang suka berkumpul menjadi hal istimewah. Maka tidak jarang ditemui tradisi-tradisi yang mengumpulkan banyak masyrakat atau warga. Seperti halnya pelaksanaan ritual kandunganku ini. Tersebab dari tradisi yang telah meleluhur. Dan benar-benar mengakar kuat di jiwa masyarakat. Tradisi itu salah satunya yang masih lestari adalah pengecekan identitas janin di dalam kandungan agar di pastikan bahwa bayi itu akan terlahir dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dan yang menafsirkan adalah dukun kandungan yang sudah cukup berpengalaman soal kehamilan, yang ada di desaku. Tamidung.
Orang Madura menyebut tradisi itu Peret Kandung, jika dibahasa indonesiakan pijat kehamilaan. Tradisi yang berupa ritual itu hanya dilakukan oleh orang yang sedang hamil. Dan ketika kehamilannya sudah mencapai usia ketujuh bulan. Namun tradisi itu tidak mendahului sifat Kudrat Tuhan. Artinya meski dukun yang cakap menangani peret kandung mengatakannya bayi anda laki-laki atau bayinya perempua, masyarakat tidak seratus persen percaya. Mereka masih memegang teguh pernyataan wallahu’alam bisshawab( dan hanya Allah maha mengetahui yang sebenar-benarnya). Anehnya masyarakat tetap melestarikan tradisi demikian sebagai pengecekan bayi yang dikandungnya.
 Ketika selesai pemijatan kandungan. Dan sudah dapat dipastikan juga jenis kelamin bayi yang nantinya akan lahir. Maka pada saat itu juga ada para Kiai yang diundang untuk mengajikan Surah Maryam dan Surah Yusuf. Dengan dihajatkan supaya janin yang masih berada di dalam kandungan itu kelak ketika sudah terlahir menjadi manusia berbudi pekerti baik dan berbakti pada orangtua, serta pada Agama.  Setelah para Kiai selesai mengaji, maka ditiuplah air kum-kuman (air biasa yang di isi bunga-bunga dan irisan daun pandan) yang sudah di sediakan oleh tuan rumah.
Selain persiapan untuk  itu. Masih banyak sesuatu yang dibutuhkan untuk persiapan mandi tujuh bulan. Yaitu kelapa bulan. Kelapa bulan adalah kelapa yang kuning dan bentuknya lebih kecil daripada kelapa biasa. Kelapa ini sulit ditemukan, meski Madura terkenal dengan banyaknya pohon kelapa. Karena kelapa bulan sulit untuk dapat bertahan tumbuh. Konon hanya orang-orang tertentu yang bisa menanam pohon kelapa bulan ini. Untuk pengambilannya pun tidak boleh dijatuhkan ke tanah. Kelapa bulan itu harus dibawa dari atas oleh pemanjatnya. Sangat tidak diperboleh dijatuhkan ke tanah. Dengan maksud−− karena kelapa bulan akan diberikan kepada orang yang sedang hamil, maka takut terjadi ha-hal yang tidak diinginkan. Kandungannya takut jatuh keguguran.
Setelah seluruh kebutuhan yang diperlukan rampung. Maka di laksanakanlah ritual mandi tujuh bulan atau peret kandung−−akrabnya di Madura. Dalam pelaksanaan mandi tujuh bulan kandunganku pun sudah siap dilaksanakan. Sisa air kum-kuman yang aku minum dengan Mak Sahari kini telah dicampur dengan air biasa yang ada di gentong berukurang cukup besar, yang diletakkan di samping tempat duduk kami. Tempat duduk kami pun harus lincak bangko (lincak yang modelnya sepintas seperti kursi tapi memanjang seperti lincak). Tak lupa pula dengan kelapa bulan yang diambil tadi. Kelapa bulan diletakkan di pangkuanku dan pangkuan Mak Sahari. Di haribaan tidak sekedar ada kelapa, tapi ada juga  telur yang diletakkan pada celah kedua paha kami. Saat ritual pemandian itu berlangung, maka seluruh keluarga Mak Sahari dan keluargaku juga wajib ikut memandikan. Begitu juga dengan tetangga terdekat yang hadir.
Seketika air mengguyur ke seluruh tubuh kami berdua. Lalu diantara kami diisyaratkan untuk mengusap kelapa bulan yang ada di pangkuan kami masing-masing. Orang-orang tidak sekedar memandikan kami dengan air. Dari para keluarga dan kerabat terdekat dengan menggunakan bahasa Madura, mereka mendoakan kami. Mereka perlu melantunkan doa-doa keselamatan.  Usai pemandian, kelapa diambil oleh Emak. Lalu kami diperintah beranjak untuk berdiri, sehingga telur yang tadi ada di pangkuan, terjatuh ke tanah. Setelah jatuh aku diperintah harus menginjaknya. Penjatuhan dan pengginjakan telur yang tadi memiliki sarat makna. Yaitu dengan pengharapan supaya janin yang akan aku lahirkan semudah telur pecah ketika dijatuhkan. Sementara harus diinjak, karena untuk menghindari telur yang terselip doa hitam. Konon para pesantet ketika hendak mengirim penyakit kepada objek santetan, ia menggunakan telur. Maka diinjaklah untuk menghindari penyakit-penyakit buatan. Tepatnya menghindari santet itu.
Desau angin mengirama karena janur dan dedaunan bergesekan dibelainya. Keindahan bertasbih menghias suasana pelaksanaan acara mandi tujuh bulan kandunganku. Pengeras suara bertalu dengan irama musik sholawat, mengawal tuntas pelaksanaan acara. Beberapa tamu undangan sudah merapat kembali ke bawah terop halaman rumah. Ada sebagian yang kebagian tempat duduk di beranda rumah. Hidangan-hidangan sederhana menjadi pelengkap suasana. Sate kambing dan beberapa masakan daging hewan lainnya menghias piring-piring siap terlahap mulut. Aku dan Mak Sahari sudah berganti baju. Selesai mengeringkan badan. Dan kemudian menemui beberapa tamu yang hadir. Para tamu yang hadir sebenarnya bukan tamu undangan sebagaimana yang terjadi pada tradisi kota-kota. Mereka hadir ketika diberi kertas undangan. Tetapi kalau di Desa Tamidung ini, warga secara sukarelawan hadir. Mereka hadir tidak dengan tangan kosong. Pasti ada yang dibawa. Lumrahnya membawa beras, atau gula. Tapi khusus acara mandi tujuh bulan, para warga yang hadir membawa beras dan peralatan mandi. Seperti sabun mandi, sampo, pasta gigi, sabun cuci, dan berbagai macamnya. Itu dimaksudkan untuk menambah beban orang yang akan segera melahirkan. Karena otomatis ketika melahirkan beberapa pakaian yang bersimbah darah perlu dicuci bersih—apa lagi melahirkannya ke dukun kandungan bukan ke puskesmas. Sekian..

*Catatan:
1. Mak                    : Panggilan kepada orang laki-laki yang lebih tua dengan tinngkatan bahasa Madura                                       yang baik. Mak berarti kakak atau abang.
                2. Le’                      : Berarti adik. Le’ dalam bahasa Madura berasal dari kata Ale’. Ale’ sendiri dapat                                             digunakan kepada orang laki-laki ataupun perempuan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.