Gaun yang masih menghuni rapi di tubuhku nampak putihnya
cerah dan indah seperti perasaan hari ini. Mak Sahari juga rapi dengan
jas hitamnya yang patut, terlihat sangat tampan dan gagah duduk sahaja di
sampingku. Menunggu ijab kabul. Tanggal ganda Januari di tahun yang genap,
adalah hari kebahagiaanku dengan Mak Sahari. Tersebab pada hari ini kami
tengah menjalani hajatan pernikahan. Mak Sahari melirikkan bola matanya
yang sipit mengintai diriku yang takdzim di sisinya. Menambah megah suasana
yang aku resapi. Seiring runtuhnya waktu, semakin tambah mekar bunga harapan
untuk bersanding dengan Mak Sahari. Bunga yang tetap kuncup pada
rayuan-rayuan kumbang. Dan Sahari telah menjadi kumbang terhebat yang membuatku
siap merentangkan kelopak dipeluknya.
Matahari menyiram lembut pohon siwalan. Mengintip lewat celah
janur yang terkibas desah angin siang. Kini aku dan Mak Sahari telah
resmi menjadi sepasang suami isteri. Perihal kejadian sakral bakda ijab kabul
tadi. Tubuh menjadi halal disentuhnya. Setidaknya cukup kebahagiaan yang telah
merengkuh romantis tubuhku. Hati girang bergemintang tiada tara. Aku sampaikan
kegirangan ini lewat senyum yang tipis namun mengembang tulus teruntuk suami
tercinta. Shalawat di lantunkan. Sungguh suci suasana ini. Menyulapku sekejap
seperti menjadi layaknya puteri raja.
“Ayo Mar, kudanya sudah siap!” Bibi Sahnatun memanggil aku
yang patuh duduk di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu bersama Mak
Sahari. Kursi bambu terhiaskan bunga-bunga indah. Aroma melati sedap menyengat.
Meratui suasana dan lurus merasuk hidung keramaian tamu undangan.
“Mari Le’
Marwani. Bibi sudah memanggil kita..!!” Mak Sahari mengajakku untuk
beranjak ke arah Bibi Sahnatun. Air wajahnya berbinar. Aku bahagia memilikimu begitu kira-kira makna rona wajah Mak Sahari.
“Iya Mak.” Isyarat untuk menuruti ajakannya. Aku pun berdiri dan Mak
Sahari meraih tanganku untuk digandeng sembari menyuntikkan senyum termanisnya.
Memang tradisi di Desa Tamidung ini untuk orang yang sedang merayakan hari
pernikahan dengan besar-besaran, pasti identik dengan pengantin kuda. Pengantin
kuda adalah pengantin yang di baris mengelilingi kampung dengan menunggangi
kuda dan diiringi musik Saronen. Sampai sejauh ini tradisi pengantin kuda masih
lestari di Pulau Madura, Sumenep pada khususnya. Dan kuda yang digunakan pun
bukan sembarang kuda. Biasanya ada pemilik kuda yang menyewakan. Kudanya adalah
kuda kencak atau kuda serek. Kuda kencak dan kuda serek disewakan dengan harga
empat ratus ribu sampai satu juta setengah. Itu untuk satu pagelaran hajatan
pengantin saja. Arakan kuda akan dimulai dari rumah pengantin dan ke
rumah-rumah guru ngaji di mana tempat pengantin menimba ilmu. Lalu berkeliling
kampung. Balai desa juga tidak luput dari jangkauan arakan kuda yang ditumpangi
oleh pengantin. Jika jarak antar rumah besan, maka arakan kuda serek atau kuda
kencak menuju ke rumah sang besan.
Matahari yang cerah secerah harapanku, semburatya menjadi
saksi kesakralan hari. Aku mencoba menetas-netas titik kebahagiaan yang sedari
dulu tersimpan rapi di benak ini. Menjadi cita-cita yang cukup rahasia. Senja
mengantar siang cahaya matahari ke peraduan. Warna perak di ufuk cakrawala
menandakan malam segera tiba. Namun kebahagiaan yang tengah aku rasakan kini,
masih seperti lahirnya pagi. Dan tak urung senja. Mak Sahari dengan
tubuh yang tegak berdiri di ambang pintu. Menikmati bintang-gemintang yang
tertabur di langit gelap. Desir angin malam tak kalah gairah menyejuk dengan
gigilnya, sebagai penghias kebersaman. Pelukan Mak Sahari dari belakang
juga menambah pekiknya malam yang melahirkan sejarah indah tak terlupakan.
Gemintang kian hinggap dalam hikayat malam pertamaku dengan Mak Sahari.
Aku menangis haru. Tersebab cinta aku yakini Tuhan telah ikhlaas kirim lewat sosok
indah yang kini telah menjadi bagian dari hidup.
“Le’ Marwani, kenapa kamu menangis?” Lirih suara Mak
Sahari, namun terasa menggema hingga memecah hening malam. Membahana di
telingaku sebagai pengawal hati yang sahdu. Sungguh, dia laki-laki yang lemah
lembut serta bijak dan penuh perhatian.
“Tidak. Aku malah merasa air mata adalah kunang-kunang
kebahagiaan karena kamu Mak.” Air mata mengawal serak suara. Terungkap
sebagai bukti sumringah hati yang membelitku. Perihal desah dan buaian mesrah
angin siap menjadikan pertarungan damai. Mak Sahari mengusap air mataku,
lalu menggantinya dingin dengan pelukan hangat. Hingga membuat aku larut dalam
rebah di dadanya. Kejadian malam pertama dengan Mak Sahari menggores
sejarah hidup indah. Menjadi bingkai pelengkap yang khidmat mengantar riak
ranjang. Dipan mendesah tak beraturan.
***
Fajar menyingsing di kaki langit timur. Nyamur pagi bersarang
sahaja di pucuk rerumputan. Kicau kutilang dan elang melenguh di langit biru.
Terlahir sudah bulan-bulan kebersamaan yang terbina seiring dan sejalan bersama
sang suami. Telah mencapai usia
tiga bulan dari hari hajatan pernikahanku. Aku adalah janin di luar kandungan,
yang selalu membutuhkan perawatan dari sosok Mak Sahari sebagai seorang
suami yang terlalu aku cintai. Bukan tidak terjadi perselisihan dalam keluarga
kami. Hanya saja pertikaian di antara kami selalau bermuara pada perdamaian.
Tidak salah aku memilih Mak Sahari. Pernah suatu waktu aku memarahi Mak
Sahari. Kemarahanku tersebab ia yang tidak mau aku suruh membeli gula pasir ke
tokoh. Namun secepat itu juga aku menyadari bahwa ketidak mauannya dikarenakan
ia benar-benar sungguh letih. Seharian suami bekerja di tegal. Membajak tegalan
dengan sapi memang cuku menguras tenaga. Aku paham itu. Dengan nada penyesalan
aku mengungkapkan maaf pada Mak Sahari.
“Iya sudah le’.. kamu tidak usah sesedih itu. Aku bisa
memahami perasaanmu.” Senyumnya yang mengembang serupa bunga-bunga di taman
bermekaran. Elok. Mudah untuk Mak Sahari
memaafkan kesalahan. Membuatku serasa tersanjung. Seakan sungkan untuk
mengulangi sikap yang tidak sepantas itu. Maka aku lagi-lagi menemukan sosok
baik yang bersemayam di kesucian jiwa kelelakiannya. Semua itu cukup menambah
besar antusias dalam merenda hidup dengan Mak
Sahari selamanya.
Bunga-bunga mekar indah diantara taman-taman yang terhiasi
kupu-kupu dan kumbang. Kecipak ombak berdebur di laut pesisir utara. Keramaian
aktifitas pelaut berhamburan beradu bersama kegiatan harian para tani tegalan.
Pulau Madura dengan masyarakat stereotipnya telah melahirkan
instrumen-instrumen hidup. Beragam budaya dan bahasa akur menyatu. Cuaca panas
menambah cerah harapan. Semenjak aku merenda keluarga sebagai suami isteri, ada
sesuatu yang berbeda pada diriku. Beberapa hari ini aku sering mual-mual.
Perubahan hormonal telah membuat aku kesulitan mengontrol sikap. Entah apa yang
telah terjadi kepadaku. Hingga Mak Sahari
mengajakku ke dukun kandungan di desa terdekat. Siapa tahu aku sudah hamil
katanya. Sebagai seorang aku manut saja mengikuti apa yang ia isyaratkan.
Berita dari dukun kandungan desa menyublim kebahagiaan. Yang
tersemai antara taman bermunga bahagia. Menurutnya aku tengah hamil satu bulan.
Aku mematung. Desir angin terhenti sejenak. Suasana keliling lengang seketika.
Sungguh betapa bahagia diriku mendengarnya. Tiada tara sebagai tandingan
bahagia untuk kalimat pengungkap sebahagia demikian. Bahkan serasa tiada ibarat
yang mampu aku jadikan umpama semenjak pernyataan dari si dukun kandungan. Bola
mata terbugkus air. Mata segera berlinang, cairannya menetes bagai sahajanya
nyamur pagi buta yang singgah di pucuk dedaunan hati. Mendamaikan hari-hariku
dalam rindu. Rindu yang menyegera untuk menimang sang buah hati. Sujud syukur
terhatur ikhlas kepada sang Khaliq. Doa-doa suci pun ku tasbihkan disetiap
waktunya kepada Allah SWT. Mengharap kebelasan-Nya memberkahi semua yang
terjadi dan yang akan terjadi. Aku dan Mak Sahari menumpahakan seluruh
kebahagiaan tanpa sisa, dengan syukur yang tulus.
“Le’ Marwani aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya
kita berhasil juga. Dan kita akan segera menjadi bapak dan ibu.” Ucap Mak
Sahari sembari mendekap kepalaku di dadanya. Wajah sumringah terus menantang
kesedihan yang hendak hinggap serupa serangga kecil yang berputar-putar
mengelilingi damar conglet yang melekat santun di tabir yang terbuat dari
anyaman bambu.
“Iya mak, Allah mendengar doa kita.” Ucapku lirih yang tak mampu menahan
bendungan air mata. Airnya mengalir bermuara antara bibir dan seluruh pipi.
“Nah, sekarang kamu harus istirahat dan olah raga yang
teratur.” Nasehat
perhatiannya terlihat lagi yang beralaskan ketulusan. Mak Sahari meski orang desa dan jauh dari kota, pengetahuannya dan
keperduliannya terhadap kesehatan fisik tidak kalah dengan dokter di rumah
sakit kota sana. Dia laki-laki progresif versi orang tani di Desa Tamidung ini.
“Oy..! Ternyata sebentar lagi aku sudah mau punya cucu.”
Sergah Emak yang sedari tadi senyum-senyum menyaksikan bahagia antara aku dan Mak Sahari. Emak yang pada akhirnya
angkat bicara juga, tidak lupa memberiku
nasehat agar menjaga baik-baik janin dalam kandunganku.
“Enggih Emak.”
Jawabku singkat namun khidmat penuh rasa takdzim kepada orangtua. Hari semakin
menua. Panas matahari semakin menambah gerah penghuni rumah di sepanjang
perkampungan. Madura memang panas karena posisinya dikelilingi oleh lautan. Aku
dan Mak Sahari harus memberi kesempatan mata mengatupkan kelopaknya.
Sekedar memetik ketenangan dari tubuh yang mulai tak tahan menahan panas
disiang hari. Mega-ega kelabu mulai terbingkai di pelupuk mata.
Mengaalahkan cahaya sang mentari. Dan kami tidur siang.
***
Kumbang-kumbang mulai mengintai bunga yang merindukannya.
Seperti diriku yang tengah damai menikmati rindu. Nun jauh dalam bayang-bayang,
kerinduan membentuk gelisah segera terlahirnya anak dari janin yang aku
kandung. Mak Sahari tersenyum memandangiku yang sembari mengelus-elus
perut buncitku. Tersenyum dan berbicara sendiri dengan janin yang di dalamnya.
Sebenarnya aku tahu maksud dari Mak Sahari. Itulah tengara bahwa dia jua
merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Adalah kerinduan segera
lahirya anak kami.
“Mak, sini ..!” Aku memanggil Mak Sahari yang
berdiri di pintu kamar. “Ayolah sini” Sergahku agar Mak Sahari lebih cepat melangkah menghampiri ku.
“Iya Le’..!” Sambil menghimpit batang rokok yang nyala
di kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. Kemudian ia menghampiriku dan duduk di sampingku. Aku ingin
mengajaknya berbicara. Karena sudah lama aku tidak menanyakan hal-hal yang
terjadi di tegal. Apakah tembakaunya sudah besar. Kekurangan pupuk. Sudah siap
dijual dan berbagai macamnya. Karena hampir dua bulan aku sudah tidak ke tegal.
Itu pun intrupsi Mak Sahari yang
melarangku ke tegal.
“Le’ gimana ya..?” Air wajah Mak Sahari terlihat bingung. Ia mengawali
pembicaraan terlebih dahulu sebelum pertanyaanku terhatur kepadanya. Dan aku
menahan apa yang ingin aku tanyakan. Biar aku mendengarkan terlebih dulu apa
yang akan suami sampaikan.
“Apanya yang gimana Mak?” Tanya ku dengan raut wajah
bertanya-tanya. Aku penasaran, jangan
menggantung kalimat. Begitu maksud air wajahku.
“Iya kan lima belas hari lagi usia kehamilanmu akan mencapai
tujuh bulan.!” Ucap Mak Sahari. Sebenarnya masih kalimat yang
menggantung.
“iya Mak, kamu benar. Berarti mulai sekarang
kita harus mempersiapkan segala kebutuhannya.” Aku pun memperkuat ucapan Mak
Sahari. Memang di Madura ada sebuah teradisi yang tidak bisa di lewatkan bagi
orang yang sedang mengandung atau hamil.
***
Mataari masih seperti biasa menyiram lembut pohon-pohon
siwalan yang berjajar rapi menaungi perkampungan. Hingga putik sari pada
manyang siwalan lepas berjatuhan ke bumi. Keasrian alam yang hijau. Serta
kemarau menyengat kulit bagi yang tidak biasa. Stereotip masyarakat Madura yang
suka berkumpul menjadi hal istimewah. Maka tidak jarang ditemui tradisi-tradisi
yang mengumpulkan banyak masyrakat atau warga. Seperti halnya pelaksanaan
ritual kandunganku ini. Tersebab dari tradisi yang telah meleluhur. Dan benar-benar
mengakar kuat di jiwa masyarakat. Tradisi itu salah satunya yang masih lestari
adalah pengecekan identitas janin di dalam kandungan agar di pastikan bahwa
bayi itu akan terlahir dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Dan yang
menafsirkan adalah dukun kandungan yang sudah cukup berpengalaman soal
kehamilan, yang ada di desaku. Tamidung.
Orang Madura menyebut tradisi itu Peret Kandung, jika
dibahasa indonesiakan pijat kehamilaan. Tradisi yang berupa ritual itu hanya
dilakukan oleh orang yang sedang hamil. Dan ketika kehamilannya sudah mencapai
usia ketujuh bulan. Namun tradisi itu tidak mendahului sifat Kudrat Tuhan.
Artinya meski dukun yang cakap menangani peret kandung mengatakannya bayi anda
laki-laki atau bayinya perempua, masyarakat tidak seratus persen percaya.
Mereka masih memegang teguh pernyataan wallahu’alam
bisshawab( dan hanya Allah maha mengetahui yang sebenar-benarnya). Anehnya
masyarakat tetap melestarikan tradisi demikian sebagai pengecekan bayi yang
dikandungnya.
Ketika selesai
pemijatan kandungan. Dan sudah dapat dipastikan juga jenis kelamin bayi yang
nantinya akan lahir. Maka pada saat itu juga ada para Kiai yang diundang untuk
mengajikan Surah Maryam dan Surah Yusuf. Dengan dihajatkan supaya janin yang
masih berada di dalam kandungan itu kelak ketika sudah terlahir menjadi manusia
berbudi pekerti baik dan berbakti pada orangtua, serta pada Agama. Setelah
para Kiai selesai mengaji, maka ditiuplah air kum-kuman (air biasa yang di isi
bunga-bunga dan irisan daun pandan) yang sudah di sediakan oleh tuan rumah.
Selain persiapan untuk
itu. Masih banyak sesuatu yang dibutuhkan untuk persiapan mandi tujuh
bulan. Yaitu kelapa bulan. Kelapa bulan adalah kelapa yang kuning dan bentuknya
lebih kecil daripada kelapa biasa. Kelapa ini sulit ditemukan, meski Madura
terkenal dengan banyaknya pohon kelapa. Karena kelapa bulan sulit untuk dapat
bertahan tumbuh. Konon hanya orang-orang tertentu yang bisa menanam pohon
kelapa bulan ini. Untuk pengambilannya pun tidak boleh dijatuhkan ke tanah.
Kelapa bulan itu harus dibawa dari atas oleh pemanjatnya. Sangat tidak
diperboleh dijatuhkan ke tanah. Dengan maksud−− karena kelapa bulan akan
diberikan kepada orang yang sedang hamil, maka takut terjadi ha-hal yang tidak
diinginkan. Kandungannya takut jatuh keguguran.
Setelah seluruh kebutuhan yang diperlukan rampung. Maka di
laksanakanlah ritual mandi tujuh bulan atau peret kandung−−akrabnya di Madura.
Dalam pelaksanaan mandi tujuh bulan kandunganku pun sudah siap dilaksanakan. Sisa
air kum-kuman yang aku minum dengan Mak Sahari
kini telah dicampur dengan air biasa yang ada di gentong berukurang cukup
besar, yang diletakkan di samping tempat duduk kami. Tempat duduk kami pun
harus lincak bangko (lincak yang modelnya sepintas seperti kursi tapi memanjang
seperti lincak). Tak lupa pula dengan kelapa bulan yang diambil tadi. Kelapa
bulan diletakkan di pangkuanku dan pangkuan Mak Sahari. Di haribaan
tidak sekedar ada kelapa, tapi ada juga telur yang diletakkan pada celah kedua paha
kami. Saat ritual pemandian itu berlangung, maka seluruh keluarga Mak
Sahari dan keluargaku juga wajib ikut memandikan. Begitu juga dengan tetangga
terdekat yang hadir.
Seketika air mengguyur ke seluruh tubuh kami berdua. Lalu
diantara kami diisyaratkan untuk mengusap kelapa bulan yang ada di pangkuan
kami masing-masing. Orang-orang tidak sekedar memandikan kami dengan air. Dari
para keluarga dan kerabat terdekat dengan menggunakan bahasa Madura, mereka
mendoakan kami. Mereka perlu melantunkan doa-doa keselamatan. Usai pemandian, kelapa diambil oleh Emak. Lalu
kami diperintah beranjak untuk berdiri, sehingga telur yang tadi ada di
pangkuan, terjatuh ke tanah. Setelah jatuh aku diperintah harus menginjaknya.
Penjatuhan dan pengginjakan telur yang tadi memiliki sarat makna. Yaitu dengan
pengharapan supaya janin yang akan aku lahirkan semudah telur pecah ketika
dijatuhkan. Sementara harus diinjak, karena untuk menghindari telur yang
terselip doa hitam. Konon para pesantet ketika hendak mengirim penyakit kepada
objek santetan, ia menggunakan telur. Maka diinjaklah untuk menghindari
penyakit-penyakit buatan. Tepatnya menghindari santet itu.
Desau angin mengirama karena janur dan dedaunan bergesekan
dibelainya. Keindahan bertasbih menghias suasana pelaksanaan acara mandi tujuh
bulan kandunganku. Pengeras suara bertalu dengan irama musik sholawat, mengawal
tuntas pelaksanaan acara. Beberapa tamu undangan sudah merapat kembali ke bawah
terop halaman rumah. Ada sebagian yang kebagian tempat duduk di beranda rumah.
Hidangan-hidangan sederhana menjadi pelengkap suasana. Sate kambing dan
beberapa masakan daging hewan lainnya menghias piring-piring siap terlahap
mulut. Aku dan Mak Sahari sudah
berganti baju. Selesai mengeringkan badan. Dan kemudian menemui beberapa tamu
yang hadir. Para tamu yang hadir sebenarnya bukan tamu undangan sebagaimana
yang terjadi pada tradisi kota-kota. Mereka hadir ketika diberi kertas
undangan. Tetapi kalau di Desa Tamidung ini, warga secara sukarelawan hadir.
Mereka hadir tidak dengan tangan kosong. Pasti ada yang dibawa. Lumrahnya
membawa beras, atau gula. Tapi khusus acara mandi tujuh bulan, para warga yang
hadir membawa beras dan peralatan mandi. Seperti sabun mandi, sampo, pasta
gigi, sabun cuci, dan berbagai macamnya. Itu dimaksudkan untuk menambah beban
orang yang akan segera melahirkan. Karena otomatis ketika melahirkan beberapa
pakaian yang bersimbah darah perlu dicuci bersih—apa lagi melahirkannya ke
dukun kandungan bukan ke puskesmas. Sekian..
*Catatan:
1. Mak : Panggilan kepada orang
laki-laki yang lebih tua dengan tinngkatan bahasa Madura yang baik.
Mak berarti kakak atau abang.
2. Le’ :
Berarti adik. Le’ dalam bahasa Madura
berasal dari kata Ale’. Ale’ sendiri dapat digunakan kepada orang laki-laki
ataupun perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.