Kamis, 25 Agustus 2016

BULAN REBAH DI HUTAN


Sudah lama aku menunggu kenyataan. Perihal bulan rebah di hutan. Sebagaimana dulu Emak mendapat cerita dari Kakek. Bulan suka rebah di hutan, katanya. Cerita itu bertolak belakang dengan yang disampaikan Bapak. Bapak bilang, Kakek adalah pelaut hebat. Lalu bagaimana Kakek bisa bilang melihat bulan rebah di hutan? Bukankah seorang pelaut hidupnya di laut? Hutan dan laut adalah dua tempat yang berbeda. Kakek pasti tidak suka berada di hutan. Ya, karena dia adalah seorang pelaut.
Bulan rebah di hutan akan mandi cahaya. Mengisi seluruh ceruk, pohon, kolam-kolam, bahkan laut. Itu dalam bayangku tentang bulan rebah di hutan. Ada lagi. Langit kesepian, dan bintang akan mencoba menenangkan. Semua itu menandakan betapa sungguh: langit, bintang, dan bulan adalah kebersamaan yang sama saling membutuhkan. Semua tidak bisa ditinggal satu sama lain. Mereka akan menanggung kesepiannya dengan berat hati. Dan pada saat kejadian bulan meninggalkan langit, juga bintang, pada saat itu bulan mandi air mata di hutan. Kakek mengira adalah embun yang basah di daun-daun, ternyata adalah air mata bulan. Kalau ada yang tahu mengenai air mata bulan, kata Kakek, pasti dia akan suka menangis. Mereka pastilah akan meniru bagaimana indah sesenggukan bulan menangis.
Tapi biasanya bulan tidak akan lama tinggal di hutan. Rebah di hutan. Dia memiliki banyak tanggungan di atas langit. Dia hanya akan berbagi cahaya dengan beberapa benda di bumi yang jarang tersentuh sewaktu keberadaannya di langit. Itu pun bulan hanya akan rebah ke hutan beberapa tahun sekali. Buktinya dari zaman Kakek hingga zamanku saat ini, bulan tidak juga rebah di hutan. Padahal aku begitu ingin melihat bagaimana bulan rebah di hutan. Meski Kakek dan orangtua melarang aku untuk berdoa mendambakan bulan tiba di bumi, 'rebah di hutan', hingga itu membuat aku berdoa semoga bulan turun. Tapi orangtuaku melarang aku berdoa seperti itu, mereka takut. Misal, takut aku sama seperti Kakek. Semenjak Kakek melihat bulan rebah di hutan, pada zaman mudanya dulu, Kakek menjadi orang yang tidak disenangi masyarakat lagi. Kakek menjadi pemain perempuan, Kakek suka membuat perempuan menangis, dan Kakek suka bermalam-malam di warung kopi berbagi cerita, juga berpuisi. Kakek suka menarik perempuan melalui puisi-puisinya. Puisi Kakek menjadi puisi itu sendiri, yang indah di mata perempuan, sebab imajinasinya liar saat melihat semburat cahaya bulan yang rebah di hutan itu. Tapi bukan hanya tentang imajinasi.
Meskipun Kakek suka bermain perempuan menggunakan puisinya, Kakek tetap seorang pelaut yang hebat. Pernah suatu ketika, Kakek dimarahi oleh Nenek gara-gara hasil lautnya sedikit. Dan setelah melihat bulan rebah di hutan itu, Nenek pun tidak lagi marah-marah, dan hasil laut Kakek banyak. Nenek menjadi puas dengan ikan tongkol yang dihasilkan Kakek. Nenek yang masih muda pada saat itu suka mengulumnya dengan liar. Bayangkan, ikan tongkol yang agak kehitaman dan besar itu Nenek menyantapnya dengan semangat. Dengan cara mengulum. Mulut Nenek sampai berliur-liur. Dan sepertinya bulan yang rebah di hutan membuat Kakek  mendapat keberuntungan. Hanya saja, meski demikian, orangtuaku tetap melarang aku berdoa, atau melihat bulan rebah di hutan, jika suatu saat terjadi.
Ini tahun kedua puluh, semenjak aku lahir ke dunia. Aku begitu berharap dapat melihat bulan rebah di hutan. Di usia dua puluh tahun ini aku yang benar-benar sungguh berharap turunnya bulan dari langit. Tidak ada harapan segelisah saat ini dalam mendamba bulan rebah di hutan. Ada beberapa harapan yang ingin aku lakukan jika benar-benar melihat bulan rebah di hutan. Pertama, aku ingin menjadi pemuisi hebat. Aku ingin berimajinasi di dekat bulan. Akan aku lahirkan jutaan puisi yang indah untuk menaklukkan hati Fitri. Dia adalah seorang perempuan yang telah meninggalkan aku. Anak seorang pejabat hebat. Selain itu, Fitri dari golongan darah biru. Aku yang hanya anak pelaut, dan Emak seorang petani, jelas ditolak melamarnya oleh orangtua Fitri. Meski penolakan itu dengan cara, dan alasan lain. Dia kini sudah bertunangan dengan seorang pria, putra Kepala Desanya sendiri. Aku akan membuat puisi hanya untuk Fitri melalui bulan yang rebah di hutan nanti.
Kedua, aku ingin melihat bagaimana reaksi perempuan yang menistakan aku. Aku akan mengisi warung-warung kopi sembari membaca puisi. Akan kubuat meleleh hati perempuan yang beberapa hari ini mengkerdilkan kelaki-lakianku. Bahwa aku bukan seorang laki-laki yang tidak laku. Bahwa aku bukan orang yang menentang pernikahan dengan pura-pura memilih pendidikan. Dan aku tidak lagi ditertawakan di hari lebaran karena masih sendirian. Hanya dengan beberapa puisi indah yang kuhasilkan dari bulan rebah di hutan. Selain itu, akan kubuat banyak perempuan jatuh cinta, lalu akan kupermainkan. Itu, biar juga menjadi suatu tanda: bahwa betapa aku bisa mempermainkan seorang perempuan. Tidak hanya aku yang dipermainkan. Biar perempuan-perempuan kampungan itu tahu kalau sakit hati rasanya lebih sakit daripada sakit gigi.
Tapi kenapa orangtuaku masih melarang aku melihat bulan rebah di hutan? Akankah semua cerita-cerita yang diceritakan Emak, yang datang dari Kakek, itu hanya bohongan? Tapi tidak mungkin. Itu hampir sama dengan cerita yang aku baca di buku beberapa hari lalu. Betapa seorang Sulaiman dalam buku cerita itu ditempatkan sebagai tokoh laki-laki yang sering disakiti oleh perempuan. Sulaiman adalah seorang perantau dari desa. Empat tahun dia hidup di kota. Kuliah di kota. Sebagai seorang lelaki, Sulaiman, tentu memiliki rasa sebagaimana manusia normal. Tapi aku agak tidak senang dengan Sulaiman dalam tokoh buku tersebut. Tidak senang juga dengan penulisnya, yang menjadikan lemah tidak memiliki keinginan balas dendam kepada perempuannya. Dia terlalu lugu. Seperti yang diceritakan dalam buku itu: sewaktu Sulaiman menyatakan cintanya kepada Desi, dia disuruh membeli kipas angin, kompor gas, dan kasur empuk. Semua itu katanya, untuk kepentingan Desi di kosannya. Dengan begitu, Sulaiman manut saja kepada apa yang diminta Desi. Akibatnya, tidak sampai satu bulan, hanya satu minggu dua hari, Sulaiman pacaran dengan Desi, sudah putus. Dan kipas angin, kasur empuk, juga kompor gas, secara otomatis menjadi milik Desi. Aku begitu kesal membaca kisah cinta Sulaiman pada bagian lembar itu. Dan juga kepada beberapa perempuan kota yang selalu membuat Sulaiman sakit hati, dalam cerita buku itu.
Tentang Sulaiman, adalah buku terakhir yang kubaca dari buku tentang kisah cinta yang menyakiti seorang lelaki. Kisah Sulaiman agak sedikit  berbeda dengan kisahku dengan perempuan-perempuan kampung(an) itu. Mereka tidak terlalu materialistis seperti Desi, pacar Sulaiman. Meski ada yang materialistis dari perempuan kampung, itu hanya akibat dari menyebarnya televisi ke seluruh penjuru desa. Dulu di desaku, satu desa hanya ada satu tivi, itu pun yang hanya dua warna—hitam dan putih. Berbeda dengan sekarang, hampir seluruh rumah memiliki benda elektronik itu. Kecuali rumahku yang anti tivi. Bukan berarti aku tidak suka menonton tivi, hanya aku belum siap berbentur dengan modern. Dan belum memiliki uang untuk membelinya. Anis-lah, seorang mantan pacar yang pernah putusin aku hanya karena masalah aku tidak bisa memberi materi yang dia inginkan. Dan tidak ada tivi di rumah. Dari itu Anis, aku golongkan pada perempuan kampungan yang agak matre. Dulu, waktu aku pacaran dengannya, dia meminta aku membelikan HP Nokia 1202. Aku yang tidak punya kerjaan, masih menjadi seorang siswa kelas akhir, otomatis aku tidak bisa membelikannya, Nokia 1202 itu. Anis pun langsung dan meminta putus. Bagi Anis, mungkin hati itu tidak ada apa-apanya. Sama dengan bahan daur ulang. Dia main putus begitu saja. Tak lagi ingin tahu sakit hatiku, waktu itu. Dan itu membuat aku hampir mati gara-gara diputusin Anis. Untung ketahuan tetangga sebelah rumah saat aku mau coba bunuh diri—menceburkan diri ke laut.
Dan kisah dengan Anis, berbeda lagi dengan cerita cintaku dengan Fitri. Dia perempuan terakhir yang masih membekaskan rasa sayang di hatiku. Sulit rasanya melupakannya. Aku dan Fitri terputus hanya karena orangtua Fitri memiliki janji, dulu, dengan Kepala Desa bahwa anaknya akan dijodohkan. Itu yang aku tahu. Dan jika tidak dituruti, tentu persahabatan mereka akan terputus juga. Fitri tidak bisa menentang itu semua. Mungkin rasa cinta Fitri juga tidak terlalu besar kepadaku. Sebab, andai aku yang dijodohkan seperti itu, hingga leher dipisah dari badan sekali pun, aku akan tetap memilih Fitri dan tetap memperjuangkannya. Bukan malah menyerah begitu saja, dengan alasan tidak kuasa menentang orangtua. Namun mau bagaimana lagi, semua telah terjadi. Benar lidah memang tidak bertulang. Sekuat apa pun kita berjanji, ujungnya pasti teringkari. Ludah yang jatuh ke tanah, akan dijilat lagi.
Sakit hatilah, pada intinya, yang membuat aku sangat ingin melihat bulan rebah di hutan. Aku ingin tahu bagaimana nantinya jika benar aku melihat bulan yang rebah di hutan. Dan perempuan-perempuan yang mengkhianatiku, menjadi berbalik mencintaiku. Dia akan mengejar-ngejar aku kemana pun aku pergi. Semisal, Fitri akan berpaling dari tunangannya dan mengejar aku. Ya, sebab aku pada saat itu—melihat bulan rebah di hutan, aku telah memiliki jutaan puisi indah, yang ketika dibaca di hadapan perempuan, siapa pun dia, pastilah leleh hatinya. Semakin hari, aku semakin membantin dan merindukan bulan. Tak ada kerjaanku setiap malam, selain menatap bulan yang cahayanya berpendar-pendar. Kadang aku sedih menandai tanggal satu kalender jawa, di mana bulan pada saat itu cahayanya begitu tipis. Tapi aku akan sangat bahagia ketika tanggal lima belas, di mana cahaya bulan pada saat itu benar-benar penuh. Purnama.
Malam ini hujan turun, langit berkabut, aku nangis, sebab bulan tidak tampak. Sebagai penggantinya aku lari ke kamar tengah, kuhampiri sebuah ruang gelap yang tidak ditiduri dan tidak ditempati siapa-siapa. Di sana adalah tempat Kakek menulis, dulu. Banyak buku-buku yang sudah berdebu. Aku mencoba mencari buku puisi milik Kakek yang dihasilkan dari melihat bulan rebah di hutan. Siapa tahu di sana terdapat sebuah kisah tentang bulan dan Kakek ketika berjumpa di hutan. Setelah hampir setengah jam aku mencari dengan penerang celupak di tangan, akhirnya buku itu kutemukan. Diam-diam kubawa masuk ke dalam kamar. Aku takut kedua orangtuaku tahu kalau aku membawa buku ini.
Kulempar tubuhku ke kasur yang sudah tidak lagi empuk. Usianya sudah terlalu tua. Kapuk di dalamnya sudah semakin liat. Kubuka lembar pertama buku puisi milik Kakek. Kubaca dalam hati. Aku tersenyum, meski bahasa sastra yang digunakan begitu sulit, tapi bagiku itu adalah puisi indah. Puisi adalah indah ketika aku dibuat tidak paham maknanya. Itu menurutku. Setelah hampir di pertengahan lembar-lembar buku itu, hujan semakin deras, tanpa terasa aku membaca buku itu dengan keras. Dan itu di luar alam sadarku. Akibatnya Emak terbangun dan mengetuk-ngetuk pintu. Aku tetap tidak hirau kepada yang mengetuk pintu. Aku tetap saja melanjutkan bacaan puisi demi puisi dari buah tangan Kakek itu. Tangan begitu erat meremas buku. Kudengar pintu didobrak oleh Bapak. Dan Emak memelukku, namun aku tidak merasa ada pelukan di sana. Bapak memukul-mukul aku, namun aku tidak merasa dipukul. Emak kemudian menangis, namun tak ada tangisan bagiku. Bahagia. Hanya bahagia yang dapat kurasa dari bait-bait puisi Kakek.
Sudah satu minggu aku membaca puisi Kakek. Tidak makan tidak minum. Buat apa melakukannya, kalau aku tidak merasa haus dan tidak merasa lapar. Inilah kebahagiaan sesungguhnya, membuat orang lupa makan dan lupa minum. Aku terus menari-nari dengan gerakan yang berubah-ubah menggiring lantunan suara sendiri dalam membaca puisi Kakek. Puisi Kakek tidak pernah mau usai kubaca. Bagaimana mau usai, ketika sampai pada lembar terakhir, aku mengulanginya kembali dari depan. Bapak tidak kuasa melepas buku puisi itu dari tanganku. Seperti dua hari lalu, Bapak memisahkannya dari tanganku, aku langsung sakit. Hatikulah yang paling sakit. Siapa yang tidak sakit hati, ketika bertemu kebahagiaan, kemudian dipisah paksa begitu saja. Melihat sakitku, Bapak tidak tega, maka buku puisi itu dikembalikan. Dan aku kembali membaca puisi itu dengan bahagia.
Hari ke sepuluh aku tidak makan dan tidak minum, hanya membaca puisi. Bapak memanggil seorang Tabib, dia juga seorang penyair. Betapa aku bertambah bahagia ketika mendengar kata-kata Tabib itu, kalau aku disuruh menunggu bulan rebah di hutan. Artinya, itu adalah kesempatan emas untukku, untuk melihat bulan rebah di hutan. Tabib itu bilang, bulan akan rebah di hutan besok malam, tepat tanggal lima belas, purnama, pukul dua belas malam. Mendengar penjelasan Tabib, buku yang kubaca kulepas begitu saja, dan kuhampiri Bapak yang sedang berbincang dengan Tabib.
“Aku ingin menemui bulan rebah di hutan,” Kataku kepada dua orang yang duduk saling tatap itu.
“Iya, Nak, bulan itu juga menunggumu. Hanya pada zaman mudamu ini, Nak Rahman, bulan purnama akan rebah di hutan. Dulu, zaman kakekmu, bulan rebah di hutan pada tanggal tiga, itu berarti cahaya bulan tidak sempurna,” jelas Pak Tabib dalam Madura.
Air mataku tiba-tiba tumpah mendengar penjelasan Tabib, “Benarkah itu, Bib? Betapa aku ingin sekali melihatnya. Kalau begitu, dengan purnamanya bulan yang rebah di hutan, apakah berarti pula keindahan bulan akan lebih indah dari bulan yang dulu kakek lihat di hutan?” tanyaku.
“Iya. Jika kamu membaca puisi kakekmu itu indah dengan posisi bulan tidak sempurna. Nanti puisimu akan lebih indah dari itu. Sebab bulan yang akan kamu lihat cahayanya penuh. Purnama, Nak Rahman. Jangan sampai kaulewatkan.” Tabib itu mengimbuhi bicaranya dengan senyum. Aku semakin tidak sabar menunggu bulan rebah di hutan. Menunggu kelahiran puisi indah. Dan perempuan-perempuan yang siap tergila-gila, dan akan kubuat gila. Bulan rebah di hutan adalah sebuah kebahagiaan dengan segala keindahan menawan. Cahayanya akan mengisi ceruk dan sesuatu yang sulit terjangkau. Bulan akan menangis setiba di hutan, dan tangis itulah yang akan ditiru oleh setiap perempuan. Air mata bulan berbentuk dingin embun. Laki-laki akan merasa sejuk hidup dalam tangis tulus perempuan. Dan setiap bulan rebah di hutan dengan cahaya menawan adalah keindahan jiwa pecinta dalam kisah percintaan. Sekian!

Sumenep 2016

Selasa, 23 Agustus 2016

JANGAN MAIN-MAIN DENGAN NANIN


Oleh: Wardi

“Kamu semakin hari semakin dekat dengan perempuan hewan itu,” ucap Suhartini, mama Refa.
“Masya Allah, Ma, Nanin itu juga wanita. Dia tidak seburuk yang Mama dengar dari tetangga,” nada lembut Refa kepada mamanya.
“Ah, pokoknya Mama kaga mau tahu. Kamu harus jauhin dia, mama sayang sama kamu, Ref,” nada suara Suhartini semakin tinggi menandai perasaan sayangnya pada Refa.
Refa Nuuran Widiwiguna duduk di kursi yang berbahan pering. Kursi itu dibuat oleh almarhum bapaknya dua tahun silam. Tapi meski sudah berusia sedemikian tua, kursi itu masih gagak memancang keempat kakinya di lantai. Sembari duduk di kursi berbahan pering itu, Refa, terngiang pula pada perkataan mamanya satu tahun lalu. Saat ia akhirnya sungguh dipisahkan dengan Nanin. Refa kini hidup di Bantul Jogjakarta dengan mamanya. Rumah ayahnya yang dulu mereka tempati, di Jember, sudah dijual. Tanah-tanah warisan ayahnya pun ikut dijual oleh Suhartini. Tak ada harta tersisa yang mereka miliki di bumi Jember Jawa Timur, kecuali nisan Sang Ayah dan kenangannya dengan Nanin.
Pernah terbesit di benak Refa untuk pulang ke kampung halamannya dulu, ke Jember, untuk menemui Nanin. Tapi berita di koran pagi itu mencegatnya untuk ke sana. Sebuah berita tentang konflik Ormas Islam terbesar di Indonesia dan Ormas Islam yang baru-baru ini buming. Berita itulah yang berhasil membuatnya urung mengunjungi Jember.
Begitu pula dengan Nanin. Batinnya ingin terbebas. Tapi tidak bisa untuk melakukannya. Semuanya sudah terlanjur. Hampir satu tahun dia menjadi orang yang benar-benar hewan. Indoktrinasi paham agama radikal, sukses membuatnya menjadi wanita garang. Hanya garangnya seperti bara di tumpukan sekam. Bukan hanya Nanin, banyak para remaja perempuan masuk ke dalam paham gelap itu. Sudah setengah tahun Nanin meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Marwati, ibu satu-satunya. Juga meninggalkan semua sanak keluarganya. Bagi Nanin, mereka yang tidak sungguh-sungguh mematuhi Hadis dan Al-qur’an sudah lebih buruk dari setan. Lebih najis dari anjing. Entah, paham apa yang Nanin miliki sekarang, sehingga orang yang melahirkannya pun dikafirkan. Tindakannya begitu radikal.
Pada saat kejadian konflik dua Ormas Islam di Jember itu, Nanin berada di garda terdepan melawan Ormas Islam terbesar di Indonesia. Satu-satunya perempuan yang memiliki keberanian. Bermodal kecantikan. Kelihaian dalam berbicara. Tubuh yang eksotik, menjadi aset utama bagi kelompok radikal itu untuk menarik banyak massa bergabung. Sebagaimana paham radikal, selalu menghalalkan segala cara dalam keinginannya untuk merubah pemahaman sosial atau politik secara drastis, berkedok agama, dengan cara-cara kekerasan. Tidak memiliki peri manusia sama sekali. Untuk menumpasnya, pemerintah selalu gagal. Kecerdikan pola pikir kelompok tersebut membuat kebijakan pemerintah kerap tanggal.
Tindakan kejam Nanin terbukti dengan kekejamannya pada saat sebelum muncul konflik  Ormas tersebut. Nanin diperintah untuk mendekati salah satu tokoh penggerak dari Ormas Islam, sekaligus lawan tanding dari kelompoknya. Nanin berhasil meracuni salah satu Kiai yang sudah sepuh dan terkenal memiliki banyak karomah. Beliau juga dari Jember. Nanin nekat pun seteganya, memasuki pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Lukman--menyamar menjadi santri putri. Menuangkan racun sianida dengan ke dalam teko kopi Sang Kiai, sekaligus pengasuh dari pondok pesantren Al-is’af, yang dianggap membahayakan bagi keberadaan Nanin dan teman-temannya.
Kiai Lukman akan menjadi senjata yang bisa menumpas kelompok Nanin. Keilmuannya tentang kitab-kitab kuning, kehafalannya tentang Tafsir Al-qur’am dan Tafsir Hadis tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka untuk melancarkan misi indoktrinasi radikalisme agama di Jember, salah satu caranya adalah dengan harus dibunuhnya kiai ulung berilmu itu. Berkat siasat Nanin, Kiai Lukman wafat pada saat itu juga.
“Astaughfirullah ... Ini tidak mungkin,” gerutu Refa saat membaca berita di situs online hapenya. Sebuah berita tentang kematian Kiai Lukman. Ternyata apa yang disampaikan temannya di Jember tidak sengeri apa yang dia baca di berita. Kematian yang tragis.
Kemudia Suhartini datang membawa segelas teh, “Ada apa Ref? Kamu jadi sekarang yang mau ke Jember? Minta temani sama Harun, ya?” menanyakan apa yang menjadi beban raut wajah Refa, sembari menanyakan keinginannya untuk melayat. Sebagai seorang mama, Suhartini, bisa menebak-nebak wajah anaknya. Wajah yang seperti menyimpan pertanyaan. Termasuk tentang Kiai Lukman yang meninggal beberapa hari lalu.
“Iya, ma, aku mau berangkat sebentar lagi,” balas Refa pada mamanya, pendek. Kemudian menyembunyikan koran yang memberitakan Nanin di bawah pahanya.
Jember. Malam itu suasana Pondok Pesantren Al-is’af ramai dengan lalulalang para santri. Biasanya para santri setelah selesai salat isyak di masjid, mereka mengaji kitab kuning, dan baru kemudian kembali ke kamar pondok masing-masing. Hanya saja, tidak pada malam itu. Beberapa malam kegiatan pondok diganti dengan memanjatkan doa-doa untuk mengiring sang pengasuh pondok. Tujuh malam setelah kepergian Kiai Lukman ke Rahmatullah, santri dari berbagai utusan pondok ramai memenuhi halaman pesantren. Mereka berjamaah bertahlil. Refa dan Harun yang ikut membaur dengan masyarakat pesantren, khidmat membaca doa tahlilan.
Hampir tiga jam waktu tersita untuk mengumandangkan doa. Pula untuk mengenang kepergian Kiai Lukman. Refa dan Harun berpamitan kepada para gurunya di Pesantren Al-is’af Jember. Refa adalah alumni Pondok Pesantren itu. Enam tahun dia menjadi santri. Maka wawasan keilmuan agamanya tidak bisa diragukan. Malam terus menyerang. Perjalanan dari pesantren ke rumah nenek Refa sekitar dua kilometer. Refa akan menetap satu dua hari di rumah neneknya. Suasana jalan malam remang dengan lampu penerang jalan, yang rata-rata berkekuatan lima watt. Terlihat beberapa warga yang memenuhi panggilan warung kopi, menatapnya yang berjalan kaki sebagai orang asing di kampung itu. Refa berjalan kaki. Warga desa itu bermain kartu di warung kopi. Lengkap dengan lintingan keretek yang diapit salah satu kedua jemari tangan kanannya.
“Ayo Ref, kita ngopi dulu bentar!”
“Ok, Run. Tapi cari warung kopi yang sepi.”
Sekitar seratus meter dari warung kopi yang ditempati warga main kartu, Refa dan Harun akhirnya menemukan juga warung kopi yang sepi pelanggan. Warung kopi yang ini pun memiliki penerang lampu yang lebih cerah daripada warung kopi yang tadi dia temui. Sembari menyeruput kopi dan memakan beberapa hidang pisang goreng, Refa teringat sesuatu—rumah orang yang dicintainya. Dulu, sebelum dia hidup di Bantul, warung kopi ini masih belum ada. Bahkan wajah penjual kopi ini, seorang ibu-ibu, wajahnya tidak asing bagi Refa. Refa malu mau menanyakan tentang pribadi si ibu penjual kopi. Refa cukup dipenuhi tanya dalam hatinya—penasaran kepada si penjual kopi.
“Oia, Bu, boleh saya menanyakan sesuatu kepada ibu?” sapa Refa mengawali pembicaraan.
“Boleh, Nak, mau menanyakan apa?” suara ibu penjual kopi itu parau. Seperti banyak menanggung beban.
“Tapi maaf sebelumnya kalau saya lancang. Kenapa warung ini tidak seramai warung di selatan itu, ya, Bu? Maaf kalau menyinggung perasaan, saya tidak ada maksud lain,” santun Refa menjaga nada bicara kepada yang lebih tua.
“Oh, tidak apa-apa, Nak. Warung kopi ibu ini baru. Orang-orang di sini membenci ibu, Nak,” katanya, seperti ada suara yang ditekan dan air mata yang ditahan linangannya.
Nada bicara ibu penjual kopi sepertinya semakin tidak asing di ruang dengar Refa. Dia mulai ingat, kalau ibu itu ternyata adalah ibu kandung Nanin. Tapi Refa tidak melanjutkan pertanyaannya—tentang anak perempuan ibu si penjual kopi. Refa lebih memilih memendamnya. Dia akan lebih sopan jika besok menanyakan kepada Nanin jika bertemu, dengungnya dalam hati.
Kota Jember sudah mulai menampakkan perubahannya. Sudah tidak seperti bagaimana dulu Refa tinggal. Kini banyak bangunan-bangunan toko yang besar. Otonomi daerah benar-benar sukses dimanfaatkan oleh pemerintah setempat. Jember, tanah pertumpahan darah dan makam dari ari-arinya, sudah banyak yang berubah. Masyarakatnya sudah semakin modern. Bahkan mendekati hedonis. Suasana pagi yang sudah tidak lagi harmoni. Pagi Refa disita dengan banyak pertanyaan tentang lengang jalanan. Sudah jarang orang-orang yang sibuk berjamaah mencari rumput ke sawah.
Dan pagi yang mengembun kerinduan-kerinduan. Mengungkit puing-puing ingatan masa lalu tentang seorang perempuan. Dia yang dahulu pernah menjadi pengharapannya untuk merenda bahagia di pelaminan. Tapi sayang, apa yang ia doakan, kini tidak seindah kenyataan. Nanin dinikahkan paksa oleh bapaknya dengan salah satu laki-laki ketua blater terpercaya di desanya. Usia Nanin yang masih kelas dua Madrasah Tsaniwiyah, sudah dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga. Suaminya yang tidak seusia dengannya membuatnya tersiksa. Selain Nanin tidak cinta, dia pun kerap disiksa. Hingga akhirnya perpisahan dengan suami yang tidak dia cintai itu tercapai pada usia ke lima bulan pernikahannya.
Karena Nanin meminta cerai kepada suaminya, ayahnya langsung memberinya imbalan untuk tidak pernah kembali ke pondok. Nanin harus bekerja. Di usianya yang masih haus akan ilmu, membuat Nanin dilema. Nanin masih ingin banyak belajar ilmu agama. Meski dirinya sudah tak perawan, tapi semangatnya sebagai manusia pencari ilmu tetap perawan. Akhirnya, Nanin menemukan pekerjaan di salah satu Kantor Pos di Kecamatan Sumbersari. Dengan caranya bekerja, bapaknya pun berhenti memarahinya.
Suatu ketika, Nanin mendapat pamflet yang disebarkan oleh salah seorang wanita bercadar. Pamfelt itu berwarna hitam. Nanin mencoba membcanya dengan teliti. Singkatnya pamflet itu berisi tentang ajakan mengaji, belajar mendalami ilmu islam, sekaligus dapat menghasilkan uang. Pada saat itulah Nanin merasa apa yang ditawarkan dalam selembaran pamflet itu cocok dengan keinginan dan tuntutan ayahnya. Keingannya untuk mendalami ilmu agama, sekaligus tuntutan ayahnya agar ia menghasilkan uang. Nanin langsung mengundurkan diri dari tempat kerjanya—di Kantor Pos, demi berkonsentrasi di organisasi pengajian yang kini dia ikuti.
Hari ke hari Nanin tampak berubah. Penampilannya yang mulai tertutup. Pakaiannya serba hitam. Dari kerudung, rok, baju dan semacamnya yang bertengger di badannya berwarna hitam. Bukan hanya berubah dari cara berpakaian. Nanin juga berubah secara sikap. Nanin mengkafirkan kedua orangtuanya. Nanin begitu menjadi gadis yang kuat. Dalil-dalil yang Nanin sampaikan kepada orangtuanya yang tidak begitu paham soal agama, membuat bapak-ibunya hanya manggut-manggut nurut. Nanin pergi dari rumahnya. Dia tidak pernah kembali meski sekali, hingga lama sekali. Rumahnya tempat dia menjadi manusia, tiba-tiba menjadi neraka yang jika ia memasukinya akan terbakar putih kulitnya.
Refa dan Harun duduk di pinggir jalan. Ada satu masjid yang sepi pengunjung. Tatapan mata Refa tak berkedip ke arah bangunan yang berkubah atasnya. Baru kemudian datang seorang perempuan yang seluruh badannya tertutup dengan kain hitam. Perempuan yang sebenarnya sangat dikenalnya. Nanin. Refa berseru dalam hatinya; Maha Suci Allah. Dia tidak menyangka, bahwa Nanin telah menjadi seorang wanita yang luar biasa. Wanita yang menjaga auratnya dari pandangan pria. Dengan berani Refa mendekatinya dan menyapa.
“Assalamualaikum ....” Sapa Refa sopan.
“Waalaikum salam akhi ....” Balasnya ke-Arab-an. Kemudian disambung dengan wajah semringahnya, “Hei, kamu Refa ‘kan? Apa kabar? Lama kita tidak bertemu.”
“Alhamdulillah sehat zahiron wa batinan ukhti,” Refa mencoba mengkolaborasikan bahasa Indonesia dan Arab yang amburadul, sehingga membuat perempuan yang berdiri di depannya tersenyum semakin semringah.
Setelah keduanya bercerita panjang lebar mengenai senggang waktu yang selama ini menyekat mereka berjumpa, saling tukar nomor hape masing-masing, kemudian mereka memutuskan untuk berpisah dari tempat itu. Refa bahagia bisa berjumpa dengan Nanin. Demikian pula dengan Nanin, yang seperti mendapat kiriman bunga berkuntum-kuntum bahagia dari Tuhan.
Semenjak pertemuan itulah, Nanin dan Refa semakin dekat. Bahkan Refa tidak kembali lagi ke rumah mamanya di Bantul. Refa memilih menetap bersama nenek dari ayahnya itu, di Jember. Berkali-kali mamanya memnghubungi lewat telepon, memaksa Refa untuk pulang. Bahkan, Suhartini, pernah menyuruh Harun untuk mengajak Refa kembali ke Jogja. Tapi usaha Suhartini nihil. Refa sudah bergabung dengan kelompok radikal bersama Nanin.
Malam datang. Sebuah malam yang akan menjadi bukti kecintaan Refa kepada Nanin. Nanin akan menagih setiap kata-kata Refa yang mengatakan, ‘mau melakukan apa saja untuknya.’
“Calon imamku yang baik. Jika sungguh dirimu mencintaiku. Mari lakukan apa yang diperintahkan guru, demi cinta kita,” suara Nanin mengalun syahdu di balik cadar hitamnya. Angin malam semilir. Menambah suasana semakin mesrah.
“Aku akan melakukannya demi kamu Jamila-ku. Tapi izinkanlah aku, sekali saja, mengecup keningmu dengan bismillah. Biar menjadi bukti, bahwa selama hidup di dunia ini,  aku adalah orang yang mencintaimu. Dan bibirku, adalah bibir yang pernah singgah di keningmu.”
“Lakukanlah imamku. Dan tunggulah aku di surga. Kita akan sahid di jalan kebenaran,” ucap Nanin kepada Refa.
Malam semakin pekik. Besok adalah hari peringatan Maulid Nabi. Bupati Jember mengajak para warga untuk menghadiri. Undangan sudah tersebar dua minggu sebelumnya. Dan Refa akan menghadiri acara itu. Refa akan hadir bukan untuk meramaikan, melainkan untuk mengacaukan acara peringatan Maulid Nabi tersebut. Pagi jam 08.45, bom bunuh diri terjadi di masjid Jami’ Jember. Seratus orang tewas. Seratus lima puluh, luka parah. Dan yang selamat tiga ratus lima belas orang. Mereka semua adalah para jamaah yang hadir mengikuti acara Peringatan Maulid Nabi.
Itulah bukti kecintaan Refa kepada Nanin, yang telah terbuktikan dengan kematian. Ia telah meremukkan dirinya dengan bahan peledak bernama bom. Refa sudah entah benar menunggu Nanin di surga, atau justru di neraka, hanya Yang Maha Kuasa yang bisa menjelaskannya. Sedang Nanin, apakah sungguh akan menemuinya di Surga, masih menjadi misteri paling rahasia yang dirahasiakan Tuhan semesta alam. Sekian!

Wardi, lahir di Sumenep Batang-batang 1996. Kini menempuh pendidikan di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Aktif menulis puisi dan cerpen. Antologi cerpennya di Bulan April 2016 “Keajaiban Cinta”.
Penulis dapat dihubungi melalui email: lielawardhy@gmail.com Tlp.: 082302555498