Sudah lama aku menunggu kenyataan. Perihal bulan rebah di hutan. Sebagaimana dulu Emak mendapat cerita dari Kakek. Bulan suka rebah di hutan, katanya. Cerita itu bertolak belakang dengan yang disampaikan Bapak. Bapak bilang, Kakek adalah pelaut hebat. Lalu bagaimana Kakek bisa bilang melihat bulan rebah di hutan? Bukankah seorang pelaut hidupnya di laut? Hutan dan laut adalah dua tempat yang berbeda. Kakek pasti tidak suka berada di hutan. Ya, karena dia adalah seorang pelaut.
Bulan rebah di hutan akan mandi cahaya. Mengisi seluruh ceruk, pohon, kolam-kolam, bahkan laut. Itu dalam bayangku tentang bulan rebah di hutan. Ada lagi. Langit kesepian, dan bintang akan mencoba menenangkan. Semua itu menandakan betapa sungguh: langit, bintang, dan bulan adalah kebersamaan yang sama saling membutuhkan. Semua tidak bisa ditinggal satu sama lain. Mereka akan menanggung kesepiannya dengan berat hati. Dan pada saat kejadian bulan meninggalkan langit, juga bintang, pada saat itu bulan mandi air mata di hutan. Kakek mengira adalah embun yang basah di daun-daun, ternyata adalah air mata bulan. Kalau ada yang tahu mengenai air mata bulan, kata Kakek, pasti dia akan suka menangis. Mereka pastilah akan meniru bagaimana indah sesenggukan bulan menangis.
Tapi biasanya bulan tidak akan lama tinggal di hutan. Rebah di hutan. Dia memiliki banyak tanggungan di atas langit. Dia hanya akan berbagi cahaya dengan beberapa benda di bumi yang jarang tersentuh sewaktu keberadaannya di langit. Itu pun bulan hanya akan rebah ke hutan beberapa tahun sekali. Buktinya dari zaman Kakek hingga zamanku saat ini, bulan tidak juga rebah di hutan. Padahal aku begitu ingin melihat bagaimana bulan rebah di hutan. Meski Kakek dan orangtua melarang aku untuk berdoa mendambakan bulan tiba di bumi, 'rebah di hutan', hingga itu membuat aku berdoa semoga bulan turun. Tapi orangtuaku melarang aku berdoa seperti itu, mereka takut. Misal, takut aku sama seperti Kakek. Semenjak Kakek melihat bulan rebah di hutan, pada zaman mudanya dulu, Kakek menjadi orang yang tidak disenangi masyarakat lagi. Kakek menjadi pemain perempuan, Kakek suka membuat perempuan menangis, dan Kakek suka bermalam-malam di warung kopi berbagi cerita, juga berpuisi. Kakek suka menarik perempuan melalui puisi-puisinya. Puisi Kakek menjadi puisi itu sendiri, yang indah di mata perempuan, sebab imajinasinya liar saat melihat semburat cahaya bulan yang rebah di hutan itu. Tapi bukan hanya tentang imajinasi.
Meskipun Kakek suka bermain perempuan menggunakan puisinya, Kakek tetap seorang pelaut yang hebat. Pernah suatu ketika, Kakek dimarahi oleh Nenek gara-gara hasil lautnya sedikit. Dan setelah melihat bulan rebah di hutan itu, Nenek pun tidak lagi marah-marah, dan hasil laut Kakek banyak. Nenek menjadi puas dengan ikan tongkol yang dihasilkan Kakek. Nenek yang masih muda pada saat itu suka mengulumnya dengan liar. Bayangkan, ikan tongkol yang agak kehitaman dan besar itu Nenek menyantapnya dengan semangat. Dengan cara mengulum. Mulut Nenek sampai berliur-liur. Dan sepertinya bulan yang rebah di hutan membuat Kakek mendapat keberuntungan. Hanya saja, meski demikian, orangtuaku tetap melarang aku berdoa, atau melihat bulan rebah di hutan, jika suatu saat terjadi.
Ini tahun kedua puluh, semenjak aku lahir ke dunia. Aku begitu berharap dapat melihat bulan rebah di hutan. Di usia dua puluh tahun ini aku yang benar-benar sungguh berharap turunnya bulan dari langit. Tidak ada harapan segelisah saat ini dalam mendamba bulan rebah di hutan. Ada beberapa harapan yang ingin aku lakukan jika benar-benar melihat bulan rebah di hutan. Pertama, aku ingin menjadi pemuisi hebat. Aku ingin berimajinasi di dekat bulan. Akan aku lahirkan jutaan puisi yang indah untuk menaklukkan hati Fitri. Dia adalah seorang perempuan yang telah meninggalkan aku. Anak seorang pejabat hebat. Selain itu, Fitri dari golongan darah biru. Aku yang hanya anak pelaut, dan Emak seorang petani, jelas ditolak melamarnya oleh orangtua Fitri. Meski penolakan itu dengan cara, dan alasan lain. Dia kini sudah bertunangan dengan seorang pria, putra Kepala Desanya sendiri. Aku akan membuat puisi hanya untuk Fitri melalui bulan yang rebah di hutan nanti.
Kedua, aku ingin melihat bagaimana reaksi perempuan yang menistakan aku. Aku akan mengisi warung-warung kopi sembari membaca puisi. Akan kubuat meleleh hati perempuan yang beberapa hari ini mengkerdilkan kelaki-lakianku. Bahwa aku bukan seorang laki-laki yang tidak laku. Bahwa aku bukan orang yang menentang pernikahan dengan pura-pura memilih pendidikan. Dan aku tidak lagi ditertawakan di hari lebaran karena masih sendirian. Hanya dengan beberapa puisi indah yang kuhasilkan dari bulan rebah di hutan. Selain itu, akan kubuat banyak perempuan jatuh cinta, lalu akan kupermainkan. Itu, biar juga menjadi suatu tanda: bahwa betapa aku bisa mempermainkan seorang perempuan. Tidak hanya aku yang dipermainkan. Biar perempuan-perempuan kampungan itu tahu kalau sakit hati rasanya lebih sakit daripada sakit gigi.
Tapi kenapa orangtuaku masih melarang aku melihat bulan rebah di hutan? Akankah semua cerita-cerita yang diceritakan Emak, yang datang dari Kakek, itu hanya bohongan? Tapi tidak mungkin. Itu hampir sama dengan cerita yang aku baca di buku beberapa hari lalu. Betapa seorang Sulaiman dalam buku cerita itu ditempatkan sebagai tokoh laki-laki yang sering disakiti oleh perempuan. Sulaiman adalah seorang perantau dari desa. Empat tahun dia hidup di kota. Kuliah di kota. Sebagai seorang lelaki, Sulaiman, tentu memiliki rasa sebagaimana manusia normal. Tapi aku agak tidak senang dengan Sulaiman dalam tokoh buku tersebut. Tidak senang juga dengan penulisnya, yang menjadikan lemah tidak memiliki keinginan balas dendam kepada perempuannya. Dia terlalu lugu. Seperti yang diceritakan dalam buku itu: sewaktu Sulaiman menyatakan cintanya kepada Desi, dia disuruh membeli kipas angin, kompor gas, dan kasur empuk. Semua itu katanya, untuk kepentingan Desi di kosannya. Dengan begitu, Sulaiman manut saja kepada apa yang diminta Desi. Akibatnya, tidak sampai satu bulan, hanya satu minggu dua hari, Sulaiman pacaran dengan Desi, sudah putus. Dan kipas angin, kasur empuk, juga kompor gas, secara otomatis menjadi milik Desi. Aku begitu kesal membaca kisah cinta Sulaiman pada bagian lembar itu. Dan juga kepada beberapa perempuan kota yang selalu membuat Sulaiman sakit hati, dalam cerita buku itu.
Tentang Sulaiman, adalah buku terakhir yang kubaca dari buku tentang kisah cinta yang menyakiti seorang lelaki. Kisah Sulaiman agak sedikit berbeda dengan kisahku dengan perempuan-perempuan kampung(an) itu. Mereka tidak terlalu materialistis seperti Desi, pacar Sulaiman. Meski ada yang materialistis dari perempuan kampung, itu hanya akibat dari menyebarnya televisi ke seluruh penjuru desa. Dulu di desaku, satu desa hanya ada satu tivi, itu pun yang hanya dua warna—hitam dan putih. Berbeda dengan sekarang, hampir seluruh rumah memiliki benda elektronik itu. Kecuali rumahku yang anti tivi. Bukan berarti aku tidak suka menonton tivi, hanya aku belum siap berbentur dengan modern. Dan belum memiliki uang untuk membelinya. Anis-lah, seorang mantan pacar yang pernah putusin aku hanya karena masalah aku tidak bisa memberi materi yang dia inginkan. Dan tidak ada tivi di rumah. Dari itu Anis, aku golongkan pada perempuan kampungan yang agak matre. Dulu, waktu aku pacaran dengannya, dia meminta aku membelikan HP Nokia 1202. Aku yang tidak punya kerjaan, masih menjadi seorang siswa kelas akhir, otomatis aku tidak bisa membelikannya, Nokia 1202 itu. Anis pun langsung dan meminta putus. Bagi Anis, mungkin hati itu tidak ada apa-apanya. Sama dengan bahan daur ulang. Dia main putus begitu saja. Tak lagi ingin tahu sakit hatiku, waktu itu. Dan itu membuat aku hampir mati gara-gara diputusin Anis. Untung ketahuan tetangga sebelah rumah saat aku mau coba bunuh diri—menceburkan diri ke laut.
Dan kisah dengan Anis, berbeda lagi dengan cerita cintaku dengan Fitri. Dia perempuan terakhir yang masih membekaskan rasa sayang di hatiku. Sulit rasanya melupakannya. Aku dan Fitri terputus hanya karena orangtua Fitri memiliki janji, dulu, dengan Kepala Desa bahwa anaknya akan dijodohkan. Itu yang aku tahu. Dan jika tidak dituruti, tentu persahabatan mereka akan terputus juga. Fitri tidak bisa menentang itu semua. Mungkin rasa cinta Fitri juga tidak terlalu besar kepadaku. Sebab, andai aku yang dijodohkan seperti itu, hingga leher dipisah dari badan sekali pun, aku akan tetap memilih Fitri dan tetap memperjuangkannya. Bukan malah menyerah begitu saja, dengan alasan tidak kuasa menentang orangtua. Namun mau bagaimana lagi, semua telah terjadi. Benar lidah memang tidak bertulang. Sekuat apa pun kita berjanji, ujungnya pasti teringkari. Ludah yang jatuh ke tanah, akan dijilat lagi.
Sakit hatilah, pada intinya, yang membuat aku sangat ingin melihat bulan rebah di hutan. Aku ingin tahu bagaimana nantinya jika benar aku melihat bulan yang rebah di hutan. Dan perempuan-perempuan yang mengkhianatiku, menjadi berbalik mencintaiku. Dia akan mengejar-ngejar aku kemana pun aku pergi. Semisal, Fitri akan berpaling dari tunangannya dan mengejar aku. Ya, sebab aku pada saat itu—melihat bulan rebah di hutan, aku telah memiliki jutaan puisi indah, yang ketika dibaca di hadapan perempuan, siapa pun dia, pastilah leleh hatinya. Semakin hari, aku semakin membantin dan merindukan bulan. Tak ada kerjaanku setiap malam, selain menatap bulan yang cahayanya berpendar-pendar. Kadang aku sedih menandai tanggal satu kalender jawa, di mana bulan pada saat itu cahayanya begitu tipis. Tapi aku akan sangat bahagia ketika tanggal lima belas, di mana cahaya bulan pada saat itu benar-benar penuh. Purnama.
Malam ini hujan turun, langit berkabut, aku nangis, sebab bulan tidak tampak. Sebagai penggantinya aku lari ke kamar tengah, kuhampiri sebuah ruang gelap yang tidak ditiduri dan tidak ditempati siapa-siapa. Di sana adalah tempat Kakek menulis, dulu. Banyak buku-buku yang sudah berdebu. Aku mencoba mencari buku puisi milik Kakek yang dihasilkan dari melihat bulan rebah di hutan. Siapa tahu di sana terdapat sebuah kisah tentang bulan dan Kakek ketika berjumpa di hutan. Setelah hampir setengah jam aku mencari dengan penerang celupak di tangan, akhirnya buku itu kutemukan. Diam-diam kubawa masuk ke dalam kamar. Aku takut kedua orangtuaku tahu kalau aku membawa buku ini.
Kulempar tubuhku ke kasur yang sudah tidak lagi empuk. Usianya sudah terlalu tua. Kapuk di dalamnya sudah semakin liat. Kubuka lembar pertama buku puisi milik Kakek. Kubaca dalam hati. Aku tersenyum, meski bahasa sastra yang digunakan begitu sulit, tapi bagiku itu adalah puisi indah. Puisi adalah indah ketika aku dibuat tidak paham maknanya. Itu menurutku. Setelah hampir di pertengahan lembar-lembar buku itu, hujan semakin deras, tanpa terasa aku membaca buku itu dengan keras. Dan itu di luar alam sadarku. Akibatnya Emak terbangun dan mengetuk-ngetuk pintu. Aku tetap tidak hirau kepada yang mengetuk pintu. Aku tetap saja melanjutkan bacaan puisi demi puisi dari buah tangan Kakek itu. Tangan begitu erat meremas buku. Kudengar pintu didobrak oleh Bapak. Dan Emak memelukku, namun aku tidak merasa ada pelukan di sana. Bapak memukul-mukul aku, namun aku tidak merasa dipukul. Emak kemudian menangis, namun tak ada tangisan bagiku. Bahagia. Hanya bahagia yang dapat kurasa dari bait-bait puisi Kakek.
Sudah satu minggu aku membaca puisi Kakek. Tidak makan tidak minum. Buat apa melakukannya, kalau aku tidak merasa haus dan tidak merasa lapar. Inilah kebahagiaan sesungguhnya, membuat orang lupa makan dan lupa minum. Aku terus menari-nari dengan gerakan yang berubah-ubah menggiring lantunan suara sendiri dalam membaca puisi Kakek. Puisi Kakek tidak pernah mau usai kubaca. Bagaimana mau usai, ketika sampai pada lembar terakhir, aku mengulanginya kembali dari depan. Bapak tidak kuasa melepas buku puisi itu dari tanganku. Seperti dua hari lalu, Bapak memisahkannya dari tanganku, aku langsung sakit. Hatikulah yang paling sakit. Siapa yang tidak sakit hati, ketika bertemu kebahagiaan, kemudian dipisah paksa begitu saja. Melihat sakitku, Bapak tidak tega, maka buku puisi itu dikembalikan. Dan aku kembali membaca puisi itu dengan bahagia.
Hari ke sepuluh aku tidak makan dan tidak minum, hanya membaca puisi. Bapak memanggil seorang Tabib, dia juga seorang penyair. Betapa aku bertambah bahagia ketika mendengar kata-kata Tabib itu, kalau aku disuruh menunggu bulan rebah di hutan. Artinya, itu adalah kesempatan emas untukku, untuk melihat bulan rebah di hutan. Tabib itu bilang, bulan akan rebah di hutan besok malam, tepat tanggal lima belas, purnama, pukul dua belas malam. Mendengar penjelasan Tabib, buku yang kubaca kulepas begitu saja, dan kuhampiri Bapak yang sedang berbincang dengan Tabib.
“Aku ingin menemui bulan rebah di hutan,” Kataku kepada dua orang yang duduk saling tatap itu.
“Iya, Nak, bulan itu juga menunggumu. Hanya pada zaman mudamu ini, Nak Rahman, bulan purnama akan rebah di hutan. Dulu, zaman kakekmu, bulan rebah di hutan pada tanggal tiga, itu berarti cahaya bulan tidak sempurna,” jelas Pak Tabib dalam Madura.
Air mataku tiba-tiba tumpah mendengar penjelasan Tabib, “Benarkah itu, Bib? Betapa aku ingin sekali melihatnya. Kalau begitu, dengan purnamanya bulan yang rebah di hutan, apakah berarti pula keindahan bulan akan lebih indah dari bulan yang dulu kakek lihat di hutan?” tanyaku.
“Iya. Jika kamu membaca puisi kakekmu itu indah dengan posisi bulan tidak sempurna. Nanti puisimu akan lebih indah dari itu. Sebab bulan yang akan kamu lihat cahayanya penuh. Purnama, Nak Rahman. Jangan sampai kaulewatkan.” Tabib itu mengimbuhi bicaranya dengan senyum. Aku semakin tidak sabar menunggu bulan rebah di hutan. Menunggu kelahiran puisi indah. Dan perempuan-perempuan yang siap tergila-gila, dan akan kubuat gila. Bulan rebah di hutan adalah sebuah kebahagiaan dengan segala keindahan menawan. Cahayanya akan mengisi ceruk dan sesuatu yang sulit terjangkau. Bulan akan menangis setiba di hutan, dan tangis itulah yang akan ditiru oleh setiap perempuan. Air mata bulan berbentuk dingin embun. Laki-laki akan merasa sejuk hidup dalam tangis tulus perempuan. Dan setiap bulan rebah di hutan dengan cahaya menawan adalah keindahan jiwa pecinta dalam kisah percintaan. Sekian!
Sumenep 2016
