Selasa, 23 Agustus 2016

JANGAN MAIN-MAIN DENGAN NANIN


Oleh: Wardi

“Kamu semakin hari semakin dekat dengan perempuan hewan itu,” ucap Suhartini, mama Refa.
“Masya Allah, Ma, Nanin itu juga wanita. Dia tidak seburuk yang Mama dengar dari tetangga,” nada lembut Refa kepada mamanya.
“Ah, pokoknya Mama kaga mau tahu. Kamu harus jauhin dia, mama sayang sama kamu, Ref,” nada suara Suhartini semakin tinggi menandai perasaan sayangnya pada Refa.
Refa Nuuran Widiwiguna duduk di kursi yang berbahan pering. Kursi itu dibuat oleh almarhum bapaknya dua tahun silam. Tapi meski sudah berusia sedemikian tua, kursi itu masih gagak memancang keempat kakinya di lantai. Sembari duduk di kursi berbahan pering itu, Refa, terngiang pula pada perkataan mamanya satu tahun lalu. Saat ia akhirnya sungguh dipisahkan dengan Nanin. Refa kini hidup di Bantul Jogjakarta dengan mamanya. Rumah ayahnya yang dulu mereka tempati, di Jember, sudah dijual. Tanah-tanah warisan ayahnya pun ikut dijual oleh Suhartini. Tak ada harta tersisa yang mereka miliki di bumi Jember Jawa Timur, kecuali nisan Sang Ayah dan kenangannya dengan Nanin.
Pernah terbesit di benak Refa untuk pulang ke kampung halamannya dulu, ke Jember, untuk menemui Nanin. Tapi berita di koran pagi itu mencegatnya untuk ke sana. Sebuah berita tentang konflik Ormas Islam terbesar di Indonesia dan Ormas Islam yang baru-baru ini buming. Berita itulah yang berhasil membuatnya urung mengunjungi Jember.
Begitu pula dengan Nanin. Batinnya ingin terbebas. Tapi tidak bisa untuk melakukannya. Semuanya sudah terlanjur. Hampir satu tahun dia menjadi orang yang benar-benar hewan. Indoktrinasi paham agama radikal, sukses membuatnya menjadi wanita garang. Hanya garangnya seperti bara di tumpukan sekam. Bukan hanya Nanin, banyak para remaja perempuan masuk ke dalam paham gelap itu. Sudah setengah tahun Nanin meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Marwati, ibu satu-satunya. Juga meninggalkan semua sanak keluarganya. Bagi Nanin, mereka yang tidak sungguh-sungguh mematuhi Hadis dan Al-qur’an sudah lebih buruk dari setan. Lebih najis dari anjing. Entah, paham apa yang Nanin miliki sekarang, sehingga orang yang melahirkannya pun dikafirkan. Tindakannya begitu radikal.
Pada saat kejadian konflik dua Ormas Islam di Jember itu, Nanin berada di garda terdepan melawan Ormas Islam terbesar di Indonesia. Satu-satunya perempuan yang memiliki keberanian. Bermodal kecantikan. Kelihaian dalam berbicara. Tubuh yang eksotik, menjadi aset utama bagi kelompok radikal itu untuk menarik banyak massa bergabung. Sebagaimana paham radikal, selalu menghalalkan segala cara dalam keinginannya untuk merubah pemahaman sosial atau politik secara drastis, berkedok agama, dengan cara-cara kekerasan. Tidak memiliki peri manusia sama sekali. Untuk menumpasnya, pemerintah selalu gagal. Kecerdikan pola pikir kelompok tersebut membuat kebijakan pemerintah kerap tanggal.
Tindakan kejam Nanin terbukti dengan kekejamannya pada saat sebelum muncul konflik  Ormas tersebut. Nanin diperintah untuk mendekati salah satu tokoh penggerak dari Ormas Islam, sekaligus lawan tanding dari kelompoknya. Nanin berhasil meracuni salah satu Kiai yang sudah sepuh dan terkenal memiliki banyak karomah. Beliau juga dari Jember. Nanin nekat pun seteganya, memasuki pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Lukman--menyamar menjadi santri putri. Menuangkan racun sianida dengan ke dalam teko kopi Sang Kiai, sekaligus pengasuh dari pondok pesantren Al-is’af, yang dianggap membahayakan bagi keberadaan Nanin dan teman-temannya.
Kiai Lukman akan menjadi senjata yang bisa menumpas kelompok Nanin. Keilmuannya tentang kitab-kitab kuning, kehafalannya tentang Tafsir Al-qur’am dan Tafsir Hadis tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka untuk melancarkan misi indoktrinasi radikalisme agama di Jember, salah satu caranya adalah dengan harus dibunuhnya kiai ulung berilmu itu. Berkat siasat Nanin, Kiai Lukman wafat pada saat itu juga.
“Astaughfirullah ... Ini tidak mungkin,” gerutu Refa saat membaca berita di situs online hapenya. Sebuah berita tentang kematian Kiai Lukman. Ternyata apa yang disampaikan temannya di Jember tidak sengeri apa yang dia baca di berita. Kematian yang tragis.
Kemudia Suhartini datang membawa segelas teh, “Ada apa Ref? Kamu jadi sekarang yang mau ke Jember? Minta temani sama Harun, ya?” menanyakan apa yang menjadi beban raut wajah Refa, sembari menanyakan keinginannya untuk melayat. Sebagai seorang mama, Suhartini, bisa menebak-nebak wajah anaknya. Wajah yang seperti menyimpan pertanyaan. Termasuk tentang Kiai Lukman yang meninggal beberapa hari lalu.
“Iya, ma, aku mau berangkat sebentar lagi,” balas Refa pada mamanya, pendek. Kemudian menyembunyikan koran yang memberitakan Nanin di bawah pahanya.
Jember. Malam itu suasana Pondok Pesantren Al-is’af ramai dengan lalulalang para santri. Biasanya para santri setelah selesai salat isyak di masjid, mereka mengaji kitab kuning, dan baru kemudian kembali ke kamar pondok masing-masing. Hanya saja, tidak pada malam itu. Beberapa malam kegiatan pondok diganti dengan memanjatkan doa-doa untuk mengiring sang pengasuh pondok. Tujuh malam setelah kepergian Kiai Lukman ke Rahmatullah, santri dari berbagai utusan pondok ramai memenuhi halaman pesantren. Mereka berjamaah bertahlil. Refa dan Harun yang ikut membaur dengan masyarakat pesantren, khidmat membaca doa tahlilan.
Hampir tiga jam waktu tersita untuk mengumandangkan doa. Pula untuk mengenang kepergian Kiai Lukman. Refa dan Harun berpamitan kepada para gurunya di Pesantren Al-is’af Jember. Refa adalah alumni Pondok Pesantren itu. Enam tahun dia menjadi santri. Maka wawasan keilmuan agamanya tidak bisa diragukan. Malam terus menyerang. Perjalanan dari pesantren ke rumah nenek Refa sekitar dua kilometer. Refa akan menetap satu dua hari di rumah neneknya. Suasana jalan malam remang dengan lampu penerang jalan, yang rata-rata berkekuatan lima watt. Terlihat beberapa warga yang memenuhi panggilan warung kopi, menatapnya yang berjalan kaki sebagai orang asing di kampung itu. Refa berjalan kaki. Warga desa itu bermain kartu di warung kopi. Lengkap dengan lintingan keretek yang diapit salah satu kedua jemari tangan kanannya.
“Ayo Ref, kita ngopi dulu bentar!”
“Ok, Run. Tapi cari warung kopi yang sepi.”
Sekitar seratus meter dari warung kopi yang ditempati warga main kartu, Refa dan Harun akhirnya menemukan juga warung kopi yang sepi pelanggan. Warung kopi yang ini pun memiliki penerang lampu yang lebih cerah daripada warung kopi yang tadi dia temui. Sembari menyeruput kopi dan memakan beberapa hidang pisang goreng, Refa teringat sesuatu—rumah orang yang dicintainya. Dulu, sebelum dia hidup di Bantul, warung kopi ini masih belum ada. Bahkan wajah penjual kopi ini, seorang ibu-ibu, wajahnya tidak asing bagi Refa. Refa malu mau menanyakan tentang pribadi si ibu penjual kopi. Refa cukup dipenuhi tanya dalam hatinya—penasaran kepada si penjual kopi.
“Oia, Bu, boleh saya menanyakan sesuatu kepada ibu?” sapa Refa mengawali pembicaraan.
“Boleh, Nak, mau menanyakan apa?” suara ibu penjual kopi itu parau. Seperti banyak menanggung beban.
“Tapi maaf sebelumnya kalau saya lancang. Kenapa warung ini tidak seramai warung di selatan itu, ya, Bu? Maaf kalau menyinggung perasaan, saya tidak ada maksud lain,” santun Refa menjaga nada bicara kepada yang lebih tua.
“Oh, tidak apa-apa, Nak. Warung kopi ibu ini baru. Orang-orang di sini membenci ibu, Nak,” katanya, seperti ada suara yang ditekan dan air mata yang ditahan linangannya.
Nada bicara ibu penjual kopi sepertinya semakin tidak asing di ruang dengar Refa. Dia mulai ingat, kalau ibu itu ternyata adalah ibu kandung Nanin. Tapi Refa tidak melanjutkan pertanyaannya—tentang anak perempuan ibu si penjual kopi. Refa lebih memilih memendamnya. Dia akan lebih sopan jika besok menanyakan kepada Nanin jika bertemu, dengungnya dalam hati.
Kota Jember sudah mulai menampakkan perubahannya. Sudah tidak seperti bagaimana dulu Refa tinggal. Kini banyak bangunan-bangunan toko yang besar. Otonomi daerah benar-benar sukses dimanfaatkan oleh pemerintah setempat. Jember, tanah pertumpahan darah dan makam dari ari-arinya, sudah banyak yang berubah. Masyarakatnya sudah semakin modern. Bahkan mendekati hedonis. Suasana pagi yang sudah tidak lagi harmoni. Pagi Refa disita dengan banyak pertanyaan tentang lengang jalanan. Sudah jarang orang-orang yang sibuk berjamaah mencari rumput ke sawah.
Dan pagi yang mengembun kerinduan-kerinduan. Mengungkit puing-puing ingatan masa lalu tentang seorang perempuan. Dia yang dahulu pernah menjadi pengharapannya untuk merenda bahagia di pelaminan. Tapi sayang, apa yang ia doakan, kini tidak seindah kenyataan. Nanin dinikahkan paksa oleh bapaknya dengan salah satu laki-laki ketua blater terpercaya di desanya. Usia Nanin yang masih kelas dua Madrasah Tsaniwiyah, sudah dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga. Suaminya yang tidak seusia dengannya membuatnya tersiksa. Selain Nanin tidak cinta, dia pun kerap disiksa. Hingga akhirnya perpisahan dengan suami yang tidak dia cintai itu tercapai pada usia ke lima bulan pernikahannya.
Karena Nanin meminta cerai kepada suaminya, ayahnya langsung memberinya imbalan untuk tidak pernah kembali ke pondok. Nanin harus bekerja. Di usianya yang masih haus akan ilmu, membuat Nanin dilema. Nanin masih ingin banyak belajar ilmu agama. Meski dirinya sudah tak perawan, tapi semangatnya sebagai manusia pencari ilmu tetap perawan. Akhirnya, Nanin menemukan pekerjaan di salah satu Kantor Pos di Kecamatan Sumbersari. Dengan caranya bekerja, bapaknya pun berhenti memarahinya.
Suatu ketika, Nanin mendapat pamflet yang disebarkan oleh salah seorang wanita bercadar. Pamfelt itu berwarna hitam. Nanin mencoba membcanya dengan teliti. Singkatnya pamflet itu berisi tentang ajakan mengaji, belajar mendalami ilmu islam, sekaligus dapat menghasilkan uang. Pada saat itulah Nanin merasa apa yang ditawarkan dalam selembaran pamflet itu cocok dengan keinginan dan tuntutan ayahnya. Keingannya untuk mendalami ilmu agama, sekaligus tuntutan ayahnya agar ia menghasilkan uang. Nanin langsung mengundurkan diri dari tempat kerjanya—di Kantor Pos, demi berkonsentrasi di organisasi pengajian yang kini dia ikuti.
Hari ke hari Nanin tampak berubah. Penampilannya yang mulai tertutup. Pakaiannya serba hitam. Dari kerudung, rok, baju dan semacamnya yang bertengger di badannya berwarna hitam. Bukan hanya berubah dari cara berpakaian. Nanin juga berubah secara sikap. Nanin mengkafirkan kedua orangtuanya. Nanin begitu menjadi gadis yang kuat. Dalil-dalil yang Nanin sampaikan kepada orangtuanya yang tidak begitu paham soal agama, membuat bapak-ibunya hanya manggut-manggut nurut. Nanin pergi dari rumahnya. Dia tidak pernah kembali meski sekali, hingga lama sekali. Rumahnya tempat dia menjadi manusia, tiba-tiba menjadi neraka yang jika ia memasukinya akan terbakar putih kulitnya.
Refa dan Harun duduk di pinggir jalan. Ada satu masjid yang sepi pengunjung. Tatapan mata Refa tak berkedip ke arah bangunan yang berkubah atasnya. Baru kemudian datang seorang perempuan yang seluruh badannya tertutup dengan kain hitam. Perempuan yang sebenarnya sangat dikenalnya. Nanin. Refa berseru dalam hatinya; Maha Suci Allah. Dia tidak menyangka, bahwa Nanin telah menjadi seorang wanita yang luar biasa. Wanita yang menjaga auratnya dari pandangan pria. Dengan berani Refa mendekatinya dan menyapa.
“Assalamualaikum ....” Sapa Refa sopan.
“Waalaikum salam akhi ....” Balasnya ke-Arab-an. Kemudian disambung dengan wajah semringahnya, “Hei, kamu Refa ‘kan? Apa kabar? Lama kita tidak bertemu.”
“Alhamdulillah sehat zahiron wa batinan ukhti,” Refa mencoba mengkolaborasikan bahasa Indonesia dan Arab yang amburadul, sehingga membuat perempuan yang berdiri di depannya tersenyum semakin semringah.
Setelah keduanya bercerita panjang lebar mengenai senggang waktu yang selama ini menyekat mereka berjumpa, saling tukar nomor hape masing-masing, kemudian mereka memutuskan untuk berpisah dari tempat itu. Refa bahagia bisa berjumpa dengan Nanin. Demikian pula dengan Nanin, yang seperti mendapat kiriman bunga berkuntum-kuntum bahagia dari Tuhan.
Semenjak pertemuan itulah, Nanin dan Refa semakin dekat. Bahkan Refa tidak kembali lagi ke rumah mamanya di Bantul. Refa memilih menetap bersama nenek dari ayahnya itu, di Jember. Berkali-kali mamanya memnghubungi lewat telepon, memaksa Refa untuk pulang. Bahkan, Suhartini, pernah menyuruh Harun untuk mengajak Refa kembali ke Jogja. Tapi usaha Suhartini nihil. Refa sudah bergabung dengan kelompok radikal bersama Nanin.
Malam datang. Sebuah malam yang akan menjadi bukti kecintaan Refa kepada Nanin. Nanin akan menagih setiap kata-kata Refa yang mengatakan, ‘mau melakukan apa saja untuknya.’
“Calon imamku yang baik. Jika sungguh dirimu mencintaiku. Mari lakukan apa yang diperintahkan guru, demi cinta kita,” suara Nanin mengalun syahdu di balik cadar hitamnya. Angin malam semilir. Menambah suasana semakin mesrah.
“Aku akan melakukannya demi kamu Jamila-ku. Tapi izinkanlah aku, sekali saja, mengecup keningmu dengan bismillah. Biar menjadi bukti, bahwa selama hidup di dunia ini,  aku adalah orang yang mencintaimu. Dan bibirku, adalah bibir yang pernah singgah di keningmu.”
“Lakukanlah imamku. Dan tunggulah aku di surga. Kita akan sahid di jalan kebenaran,” ucap Nanin kepada Refa.
Malam semakin pekik. Besok adalah hari peringatan Maulid Nabi. Bupati Jember mengajak para warga untuk menghadiri. Undangan sudah tersebar dua minggu sebelumnya. Dan Refa akan menghadiri acara itu. Refa akan hadir bukan untuk meramaikan, melainkan untuk mengacaukan acara peringatan Maulid Nabi tersebut. Pagi jam 08.45, bom bunuh diri terjadi di masjid Jami’ Jember. Seratus orang tewas. Seratus lima puluh, luka parah. Dan yang selamat tiga ratus lima belas orang. Mereka semua adalah para jamaah yang hadir mengikuti acara Peringatan Maulid Nabi.
Itulah bukti kecintaan Refa kepada Nanin, yang telah terbuktikan dengan kematian. Ia telah meremukkan dirinya dengan bahan peledak bernama bom. Refa sudah entah benar menunggu Nanin di surga, atau justru di neraka, hanya Yang Maha Kuasa yang bisa menjelaskannya. Sedang Nanin, apakah sungguh akan menemuinya di Surga, masih menjadi misteri paling rahasia yang dirahasiakan Tuhan semesta alam. Sekian!

Wardi, lahir di Sumenep Batang-batang 1996. Kini menempuh pendidikan di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Aktif menulis puisi dan cerpen. Antologi cerpennya di Bulan April 2016 “Keajaiban Cinta”.
Penulis dapat dihubungi melalui email: lielawardhy@gmail.com Tlp.: 082302555498

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.