Sering kali kita temui, dalam hal mencintai, adalah pertengkaran yang berujung perpisahan. Bahkan seteleah perpisahan, masing-masing pasangan akan saling berseberangan. Sehingga ia lupa bagaimana harusnya tetap bersikap baik terhadapnya. Kita akan lebih memilih saling jauh dengan alasan sakit hati. Melepas komunikasi yang pada awalnya sangat komunikatif. Itulah dahsyatnya perubahan cinta ke benci. Adakah antara kita tahu, bahwa benci dan cinta perbedaannya begitu tipis? Hari ini kita sayang-sayangan, esok atau lusa kita telah saling hujat dan saling menyalahkan.
Kita tidak bisa memungkiri bahwa salah satu kebutuhan mendasar dan terdalam dari seorang manusia adalah kebutuhan untuk dimengerti, di sayangi, dan bahkan dihormati. Setiap manusia normal akan memiliki harapan atau keinginan tersebut. Namun, keinginan-keinginan itu akan menjadi berseberangan dengan orang lain yang berada dalam lingkungan kita. Keinginan-keinginan yang sama-sama ingin disayangi, dimengerti itu, akan berbenturan. Ya, benturan itulah yang sering kita namai keras kepala. Yang pada awalnya saling sayang karena merasa diemengerti dan disayangi, pada akhirnya terbentur karena keegoisan yang tidak bisa dikontrol. Pada saat itu rasa cinta dalam kemanusiaan kita akan berubah menjadi benci?
Kemudian, dilarangkah kita saling mencintai jika pada akhirnya kita saling benci? Atau, lebih baik saling benci karena esok bisa saja kita saling mencintai? Atau bahkan kedua kemungkinan ini akan dijadikan sebuah tabir alasan dalam mengkhianati? Bukan tidak mungkin itu terjadi di era serba cepat ini. Di mana seruan "Aaaa" yang di dengar telinga akan keluar "Uuu" ketika disampaikan kepada orang lain. Adudomba antara manusia semakin tak terbendung di zaman digital ini. Hingga tak ayal lagi akan apa yang banyak orang katakan, bahwa mendengarkan tidak membutuhkan apa pun kecuali menunggu orang lain berhenti bicara. Sebab dari mendengarlah tutur bahasa kita akan diuji kebaikannya, tentu dalam pendengaran orang lain di hadapan kita.
Maka dari itu, untuk menepis segala kemungkinan akan perasaan kita yang kelak bisa berubah, agar tidak menimbulkan saling benci di antara masing-masing, maka saya memberikan sudut pandang yang saya percayai perlu untuk dibagi. Namun, sebelum itu, saya tak mengharapkan Anda sepenuhnya percaya, justru saya berharap Anda dapat berpikir dalam setiap tindakan yang sekiranya merugikan masing-masing pasangan.
Pertama, kita bisa tunjukkan bahwa sungguh-sungguh sederhana, sama sekali tak berlebihan, bahwa kita menghargai apa yang akan dikatakan pasangan kita. Tindakan ini seperti sederhana namun, kerap banyak pasangan kesulitan dalam hal menjalani sikap ini. Sebab, sebagaimana yang disampaikan di atas bahwa, di zaman serba cepat kata "aaa" tidak perlu menunggu berhari-hari untuk berganti ke kata "uuu".
Kedua, belajarlah menuangkan kemarahan dalam bentuk kata-kata cinta. Ini yang paling sulit. Secara saya pribadi, sulit, ketika tengah marah-marahnya kepada seseorang, namun harus diungkap dengan kata-kata cinta. Tetapi bukan tidak mungkin hal ini bisa dilakukan. Manusia dengan pemilik hati suci akan selalu melakukannya tanpa sadar. Namun, bagi Anda yang kesulitan, saya sarankan kata-kata cinta itu dituang dalam bentuk surat saja. Tepatnya dalam bentuk tulisan. Ungkapkan sakit hati Anda kepada pasangan Anda dengan kata-kata yang indah. Misal saya contohkan begini: "Kasih, kerap kali luka ini menghampiri. Hingga, aku harus mencari pelukmu. Menahannya dalam sangkar dadaku. Luka adalah hal yang paling tidak aku mampu menahan sakitnya. Dan bla bla bla ...." Pokok intinya buatlah kata seindah mungkin.
Ketiga, berhenti curiga sejak dalam pikiran. Poin ketiga ini akan mencakup segala hal yang berkaitan dengan menyakitkan. Apa pun caranya untuk menyakiti, jika yang ketiga ini kita lakukan, niscaya semua akan tampak biasa-biasa saja. Kebanyakan tindakan menyakiti pasangan timbul dari kecurigaan berlebihan. Ya, kata berlebihan inilah yang harus kita jauhi. Mencintai dengan berlebihan atau membenci terlalu berlebihan. Cara sederhananya adalah membunuh segala bentuk kecurigaan sejak dalam pikiran. Orang akan selalu memiliki salah, maka dari itu menerima apa adanya adalah hal yang akan berbuah bahagia. Menerima apa adanya yang dimaksud adalah kita berlaku sepenuhnya atas kejujuran bukan manis kata belaka. Saya yakin, itu semua akan kembali menjadi sesuatu yang baik bagi Anda maupun pasangan Anda.