Selasa, 17 Mei 2016

Puisi: Mentakwil Sebuah Kehilangan




LUKISAN TAMIDUNG

Nyiur dan siwalan menjulang di dada
kulukis Tamidung dengan rindu
kepulangan. diternak kapan beranakpinak

Duh engkau begitu masih yang kumaksud puisi
jatuh berserakan pada kuas dan kanfas
di jantungku
                        namamu berdzikir.

Jogjakarta 2015

Harapan Itu

Karenamu cinta aku ada,
Memetik embun yang tinggal setangkai.
Pada pepucuk harapan pernah
Berdiri putik-putik lelah
Hanya tak semerbak engkau. cinta

Karenamu cinta aku tiba,
Melarung laut yang angkuh berbadai.
Di patahan ombak buih adalah mimpi
Yang kita lepas berdua,
walau harus kucecap asin airmata.

Cinta ...
Telah lahir dari rahim
embun dan badai
Ijinkan kutulis diam-diam
pada partitur yang didendang kutilang
: cinta.

Jogjakarta 2016

Jalan ke Jogja
:dari Ibu

Kenapa tak kau tanam saja tembakau di simpangtiga jalan kepulangan, anakku?
biar berpamor kemarau yang kau sing-sing
dari lengan baju hingga bahu yang lusuh

Tapi lorong sudah berganti musim lalu
naung daun pohon siwalan jadi bangunan
pantai-pantai jadi pantat-pantat
malam
yang asing di mata, kian sudah biasa

Bersiaplah menarung asa cita-cita, anakku
doa yang masih kupelintir ini
adalah engkau yang lahir di gerai hujan berpetir
jaga, seperti bapakmu menanam jalan pada batang padi

Di sana ada harap menunggu perjumpaan
dimana harap yang tak kering dalam lembab cinta
seperih embun yang bertengger atas daun pisang
menitip harap tetap basah seharian

Jalan adalah keinginan yang tak patah, Tuhan.

Jogjakarta 2016

Mentakwil Sebuah Kehilangan (Vietri Yani)

Pada bulan kertas menggantung langit hitam, aku bercerita
tentang patah arah hujan ke tanah kerontang
serupa kisah sumbang kemarau dalam lembar partitur dukana

Vie, kini segala puisi belingsatan mencari diksi
mata pena tak seruncing pandang laki-laki dari balik laut
termasuk milikku, tumpul, serta sunyi

Beberapa gemintang jumpalitan dari dimensi langit kita
yang dahulu pernah digait janur kuning, adalah wajah malam temaram berusaha nyalang
hingga getar batu subuh menyalip paksa doa-doa kita

Vie, kini hijaiah hampir punah, sayang
rindu yang mengaksara pada kaf dan nun pun makin jauh mengesana
dan pulau kecil yang airnya dari mataku
sudah dilarung banyak perahu nelayan lupa bulan
melepas ritual menandai bintang, menjemput ikan

Hingga kita hilang.

Jogjakarta 2016

Biografi Pagi

Gelayut nyamur pada ujung daun-daun
dilukis langit merah cinta
bening tubuh dekat sedekap peluk ibu
yang mengantar aroma bau pagi

Kepak sayap kutilang dahan ke dahan membawa kangen
wajah laut tua yang keriput
tempatku melepas layar sampan
seperti sayap kutilang menuju dada renta

Tapi pagi masih rindu yang tak kunjung mampu
dilukis embun tak panjang dalam semalam
mengukir bagai setiap lekuk wajah ibu dan bapak

Jogjakarta 2016

Biografi Senja

Tumpukan jerami antara pematang sawah itu
kusebut gunung kecil
berputing aku di atasnya uring-uringan
membaca matahari dari celah jemari tangan kiri

Langit barat yang jingga
aku menulisnya dalam lembar sore
begitu juga pada sampul hari yang lain
barat kerap merayuku

Tapi sebentar lagi rajuk pasti datang dari bapak
marah bila kemalaman di sawah
sedang aku tanpa jawab meski satu dua kata
karena bapak lebih tahu, senja lebih lenting dari rotan di tangannya

Jogjakarta 2016
 
Siluet Silam
;Kepada Bapak di Pulau Madura

Buih-buih mengambang pada lapang air laut yang tersisa bayang
Sampan-sampan hanya larung antara sisa kenang yang tenang
Aku kecil riang menahan mimpi pada tulang layang-layang
Bersama panas kemarau dan legam bumi Batang-batang

Antara tembakau dan tenang laut tempat ikan semayam
Bapak ajarkan tentang warna berkulit hitam yang legam
Gerakan cangkul dalam rangkul peluknya menghantam keras tegalanku
Gelaran jala dan hangat keringatnya, menawar semua asin air lautku.

Bahkan ketika sore tiba, dan adzan mendirikan maghrib-Nya
Bapak kembali ajarkan satu hal pada kokoh gulungan sarungnya
Hingga langkah kaki menuju langgar pengajian, masih aku bawa aroma tangannya
Qur’an saja lama aku  hatam, maka aku pun hafal cambuk berwarna merah.

Jogjakarta 2016

Rumah Cinta dan Cita-cita




            Sumenep. Di kota itu ia memulai menjadi manusia. Manusia yang orang kebanyakan bilang gila. Dari orangtua, guru, hingga seluruh tetangga. Makna kata gila sendiri, ia, pun masih belum paham. Sebut saja namanya Yatfa, anak pertama dari sepasang suami istri halal. Tahun dua ribu empat belas kemarin, ia berhasil lulus dari pesantren yang cukup ternama di daerahnya. Semenjak di dunia pesantren, Yatfa aktif dalam kamunitas teater. Dan bahkan ia dipilih menjadi ketua sanggar Rela Tanpa Dipaksa.
            Yatfa memiliki bakat yang terpendam. Dari tahun kelulusannya dua ribu empat belas lalu, ia tidak langsung melanjutkan kuliah. Bagi seorang santri adalah kewajiban mengabdikan diri selama satu tahun di pesantren.
            Selama pengabdian, ia banyak melalui rintang. Pertama, setelah Yatfa menyatakan kemauan dan minatnya kuliah di kampus seni kepada orangtuanya, ia, pun langsung diasingkan secara kasih sayang. Ditambah lagi, perkataan guru sekaligus orang terpercaya di pesantrennya yang tidak tanggung-tanggung mengatakan kalau jalan yang ditempuh Yatfa sebenarnya bukan jalan yang benar. Sebagai seorang penyair dan seniman.
            Bermula dari dua permasalahan itulah kisah hidupnya dimulai.
***
            Bulan lima. Tahun dua ribu lima belas. Yatfa sudah selesai menjalankan pengabdian yang diwajibkan di pesantren itu. Kepulangannya ke rumahnya membawa segudang tujuan untuk meminta rida sang orangtua, yang tiada lain agar menguliahkannya di kampus seni, sebagaimana cita-citanya. Sebagai orang seni─aktor teater, Yatfa sangat ingin kuliah di jurusan seni keteateran. Sumenep memang masih kental dengan keseniannya. Banyak generasi-generasi yang selalu terlahir, sebagai pelaku kesenian, setiap tahunnya. Utamanya lahir dari kalangan santri.
            Yatfa mulai bingung, ketika semua yang ia harapkan ternyata tidak membuat orangtuanya—utamanya bapaknya, setuju dan mendukung Yatfa. Penampilan Yatfa yang jauh dari seorang santri, membuat bapaknya tak mau mendukung apa yang telah ia pilih. Memakai kalung dari batu kerikil. Memakai gelang dari akar kayu. Tubuhnya dipenuhi perhiasan-perhiasan layaknya manusia purba. Rambutnya juga panjang. Itulah sosok Yatfa. Ia juga dijuluki si manusia aneh, atau bahkan gila, oleh bapaknya sendiri.
Namun, ia tak mau hanya berhenti berjuang pada titik itu─tidak mendapatkan dukungan dari bapaknya. Pada akhirnya, Yatfa membawa bapaknya ke salah satu guru di pesantren tempat ia menuntut ilmu. Dengan harapan sang bapak dapat cerah hatinya. Artinya menerima keadaan dan cita-cita Yatfa. Kebetulan sang guru yang akan didatangi Yatfa dan bapaknya adalah orang yang dulunya, bahkan sampai sekarang, masih aktif di dunia seni.
            Lagi-lagi. Sang guru yang semula dikiranya akan menjadi sebuah tetes dingin bagi gurun jiwanya, malah sebaliknya─disalahkan bercita-cita jadi orang teater. Yatfa harus pulang membawa bekas luka. Ia mulai beranggapan, bahwa begitu sulit untuk mencari orang yang hatinya sungguh-sungguh ingin merangkul diri dan cita-citanya.
            Kata-kata Sang Kiai masih terngiang sepanjang jalur pikirnya. Ia semula tak mengira, bahwa sang guru akan ikut mengkerdilkan potensi Yatfa. “Kamu mau kuliah di jurusan teater? Mau jadi artis? Mau jadi orang gila?” Ya, kata itu yang masih menyelubung dalam pikiran Yatfa. Ia kini mulai merasa tak memiliki pegangan hidup lagi. Hanya saja, jauh di lubuk hati terdalamnya, Yatfa, masih mampu ingat kalau seorang seniman tak boleh pantang menyerah.
            Bulan enam, di tahun yang sama─dua ribu lima belas, Yatfa mulai mencari jalan keluar agar cita-citanya tercapai. Yatfa merantau ke Jakarta. Di sana ia bekerja menjaga toko─diajak oleh sepupunya sendiri. Empat bulan lamanya laki-laki yang dianggap gila oleh bapaknya itu bekerja menjaga toko.
            Selama Yatfa bekerja menjaga toko, ia ditipu oleh sepupunya sendiri. Uang hasil kerja mereka berdua, diam-diam dikirim ke kampung halaman oleh sepupunya tanpa sepengetahuan Yatfa. Bahkan ketika ia sudah ingin pulang, ternyata Yatfa pun ditinggal sendirian di Jakarta─sepupunya pulang dengan membawa uang hasil kerja mereka berdua. Sehingga untuk bisa pulang ke tanah Sumenep Madura, Yatfa terpaksa harus menjual HP miliknya. Bahkan menurut kabar, kini sepupu Yatfa sudah membeli motor baru di kampung halaman.
            Setelah Yatfa pulang dan sampai di rumahnya, rumah yang sangat Yatfa cinta, ia bercerita kepada orang tuanya. Dan lagi, pada awalnya tak satu pun ada yang percaya di antara mereka─keluarga Yatfa. Hingga, Iyas sepupu Yatfa, dan Yatfa disidang di balai desa, untuk membuktikan kebenaran serta menegaskan siapa yang salah. Kepulangan Yatfa ke  kampung halaman membawa hutang banyak, karena modal awal toko berkurang. Akibatnya, orangtua Yatfa harus menjual satu-satunya sapi yang dimiliki.
            Gagal sudah untuk tahun itu Yatfa kuliah. Tersebab, kenyataan sudah tak seindah harapan. Padahal Yatfa berharap dengan cara dia bekerja terlebih dahulu, mengumpulkan uang, semata-mata untuk biaya pendaftaran kuliahnya. Begitu banyak rahasia Tuhan untuk menguji ketabahan hati laki-laki yang aneh itu. Ia perlu belajar dari karang nan kering dan tegar.
            Musim kemarau begitu panjang menggigit tanah desa yang berbatu. Beberapa daun pepohonan lantak di-ke tanah. Seorang lelaki yang gigih masih saja tak letih mengejar mimpi-mimpi yang semakin remang. Kepercayaan akan ada hari indah pada esok, masih ditasbih tanpa lelah oleh Yatfa. Untuk mengisi kekosongan hari-harinya, selama beberapa bulan ia menetap di komunitas Masyrakat Seni Pesantren. Komunitas itu adalah salah satu komunitas yang mewadahi kaum santri yang suka berkarya di dunia seni, khususnya yang ada di Kabupaten Sumenep itu.
            Selama Yatfa bergabung dengan teman-teman sedarahnya, ia semakin berpenampilan aneh. Ia jarang pulang. Demi menghindari pemikiran orang-orang di sekitar yang masih tidak sepaham dengannya. Maka, Yatfa, memilih untuk menetap di kantor komunitas tersebut. Tak pulang rindu, pulang malu. Begitulah kini Yatfa dilema rindu pada orangtuanya.
            Selama Yatfa menjadi perantau jalanan, memang tak satu pun keluarganya yang berkeinginan untuk mencari. Itu semua terjadi karena bapak Yatfa terlalu fanatik terhadap agama yang dianutnya─Islam. Menganggap orang yang beragama Islam adalah orang yang selalu bersarung dan memakai kopiah hitam. Entah, apa yang terbesit dalam benak Yatfa sehingga ia begitu kokoh mempertahankan cita-citanya. Yatfa punya pemikiran sendiri sebagai seorang santri yang mencintai seni, meski harus melawan sang bapak sekalipun. Sebenarnya di antara keluarganya, seperti nenek dan kakeknya, begitu juga ibunya, masih sedikit mendukung Yatfa.
            Mungkin benar apa yang dikatakan oleh orang banyak, kalau anak jatuh ke sumur, seorang ibu tidak perlu kebingungan mencari tangga, ia akan langsung menjatuhkan diri ke dalam sumur untuk menolong anaknya. Hanya mungkin tidak berlaku bagi seorang bapak Yatfa. Terbukti dari caranya mengajari kasih sayang terhadap anaknya. Anaknya seakan anjing jinak yang harus ikut apa perintahnya. Kalau tidak bisa tunduk, ia akan menjadi anjing yang begitu menjijikkan.
            Suatu waktu Yatfa tak lagi mampu menampung gelisah hatinya akan rindu pada rumah tercintanya. Ia pun pulang membawa rindu. Memasrahkan diri terhadap apapun yang akan dibicarakan orang-orang di rumahnya. Yang akan keluar dari mulut bapaknya.
            Kini sudah ada yang berubah dengan diri Yatfa. Semua aksesoris yang dulunya lengket di badan Yatfa, yang membuatnya seperti orang aneh atau gila, kini telah dilepasnya. Beberapa hari menetap di rumahnya, sudah miliaran bahagia yang dia dapati. Termasuk ketika menukar sapa dengan orang-orang rumahnya, dengan teman-temannya, dengan segala penjuru suasana desa yang indah.
            Yatfa yang sekarang sudah bersarung. Bahkan ia aktif di masjid sebagai pemanggil orang-orang untuk bersholat. Suara Yatfa begitu merdu.
            Satu bulan lebih sudah Yatfa ada di rumah tercintanya. Cita-citanya yang tahun lalu tanggal, kini kembali disusunnya lagi. Yatfa masih ingin kuliah. Kecanduannya terhadap seni tetap mengikat batin dan jiwanya. Pada suatu malam ia kembali mengatakan kepada orangtuanya—perihal keinginan kuliah di jurusan teater. Orang pertama yang dia ajak bicara adalah bapaknya.
            “Bapak, aku ingin kuliah..” Ucapnya lirih dalam madura penuh santun.
            “Kamu kalau mau kuliah, yang aku takutkan hanya menjadi seorang preman.” Perkataanya begitu dingin. Melebihi dingin malam musim hujan.
            “Kenapa bapak berkata seperti itu? Sebegitu ragunya bapak kepadaku? Sehingga masa depanku pun ikut bapak penggal!” semakin lirih suara Yatfa. Wajahnya begitu sendu.
            “Kamu lihat itu Suli, tetangga kita, dia kuliah jauh-jauh sekarang dia jadi apa? Jadi kuli tani, sama seperti bapakmu ini nak.”
            Rasanya sudah tidak punya kalimat lagi untuk melanjutkan percakapan dengan orantuanya. Malam semakin pekik. Cahaya gemintang semkin sendu dibungkus langit yang berkabut. Hujan akan segera turun menemui dingin suasana keluarga rumah cinta itu. Kedinginan yang akan bertambah dingin. Sekian...

FITRI



           
Fitri masih berjalan di antara lorong bimbang dengan miliaran kenangan yang menggenang. Lidahnya menahan kecut perpisahan hampir setiap bulan. Bulan pertama ia kehilangan seorang nenek dari ibunya. Bulan kedua dia kehilangan adiknya. Bulan ketiga dia kehilangan ibu kandungnya. Dan bulan ini, kesatria hidupnya—ayahnya. Tuhan mengambil satu per satu orang yang disayang di dalam keluarganya. Mereka berpulang ke rahmatullah meninggalkan luka paling dalam.
            Nenek Marwani, meninggal karena terkena penyakit kencing manis pada bulan Desember 2015 lalu. Diabetes yang menyerang kekebalan tubuhnya selama bertahun-tahun, telah berhasil mengakhiri detak jantungnya. Terngiang oleh Fitri betapa sifat kasih sayang neneknya kepada Fitri yang begitu besar. Ia menyesal belum sempat membayar banyak kebaikan itu. Kebiasaan-kebiasaan Marwani mengajak cucunya ke sawah, bermain dengan capung-capung kala musim penghujan, adalah kenangan paling sulit dilupakan oleh Fitri.
            Sesal yang lain pun datang dari jiwa Fitri, karena dia tidak pernah menemani neneknya lama-lama di kampung. Dia yang bersama ayah, ibu dan adiknya berada di kota, membuat sulit untuk pulang ke kampung, untuk menghabiskan hari dengan nenek Marwani. Maka hari libur selalu menjadi tuntutan bagi Fitri untuk memanja diri dengan kasih sayang yang selalu indah dari sang nenek. Selama neneknya masih hidup, Fitri tidak pernah memilih hari libur ke luar kota atau ke pantai. Dia selalu memilih perkampungan tempat kelahiran ibunya itu. Suasana hijau kampung dengan berpetak ladang memanjang penuh pohon menjulang, membuatnya betah dan tidak ingin pulang.
            Hanya saja, sesal tinggal sesal, neneknya telah pergi dan tak akan pernah kembali. Ia mencoba berusaha mengeluarkan tenang dari sesak yang menghadang. Padat bagi Fitri untuk membelah setiap kejadian indah yang saat ini, atau pun nanti, yang tidak akan terulang lagi. Jiwanya penuh dengan gemulung awan hitam. Hujan landai dari matanya.
###
            Selanjutnya kepergian Rani, adik tercintanya. Berawal dari kejadian yang mengenaskan, Rani meninggal pada saat hari kedua mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolahnya. Hasil autopsi dokter membuktikan tentang penyebab kematian Rani karena terkena hantam benda tumpul pada punggungnya. Hal itu dibuktikan dengan luka memar dan tulang yang retak, hingga mengakibatkan kematian sang adik.
            Belum sembuh luka yang diderita Fitri sejak kepergian nenek kesayangannya sebulan yang lalu, kini berbalut luka lagi dengan harus berberat hati merelakan kepergian Rani. Keluarga Fitri, semakin pusing dengan alasan pihak sekolah yang memungkiri adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh pihak panitia MOS terhadap si Rani. Hati Fitri berubah geram mendengar penjelasan dari pihak sekolah tersebut. Dia membujuk ibunya untuk melapor kepada pihak berwenang, yang dalam hal ini petugas kepolisian. Namun, hasilnya malah semakin lebih menyakitkan. Jaksa penuntut umum dan hakim ketua di dalam persidangan membenarkan pihak sekolah dengan seabruk alat bukti yang kuat.
            Sejak saat kejadian kepergian Rani, ibunya sering sakit-sakitan.  Berdasar penjelasan dokter di rumah sakit, ibu Rumiyati terjangkit penyakit jantung. Fitri semakin dihujani banyak cobaan. Dia tidak tahu harus menumpahkan keluhnya kepada siapa. Sebagai orang yang kepribadiannya cenderung introvet, dia hanya bisa menahan diri di kamar. Ayahnya yang sibuk mengurusi istrinya yang menderita penyakit jantung, sudah agak kurang memperhatikan pendidikan Fitri. Fitri sudah dua minggu tidak masuk sekolah. Kepala sekolah SMA-nya mengirimkan surat peringatan. Ayahnya baru sadar kalau Fitri kini jarang masuk sekolah. Padahal dulu, Arsamin, ayah Firti, selalu menggodoknya menjadi anak yang rajin sekolah. Tapi kali ini dia sudah semakin menurun, karena banyak ditindih kesedihan ketika anak bungsunya meninggal.
Tubuh perempuan kurus itu kini semakin kurus karena jarang makan dan hanya menikmati empuk kasur di kamar. Fitri tidak mengubris kalimat-kalimat dan suara tingi ayahnya. Dia tetap tidak masuk sekolah. Dia memilih berhenti sekolah. Ibunya yang selama sepuluh hari yang lalu dibawa pulang dari rumah sakit, mendengar kabar Fitri yang mendapat surat peringatan dari kepala sekolah, membuat penyakit jantungnya kambuh. Rumiyati akhirnya terpaksa dibawa lagi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif dari dokter. Fitri kembali menangis. Ia merasa segala tindakannya telah membuat ibu kandungnya sakit. Kini dia menjadi gamang dengan segala tindakan yang hendak dilakukan. Wajah Fitri layu. Pucat. Bibirnya kering, seperti terlihat gejala-gejala mau sakit.
            Ceramah demi ceramah dari ayahnya masuk dari kuping kanan dan ke luar ke kuping kiri. Semua yang menjadi pembicaraan dan masukan Arsamin tidak pernah bertahan di kepala Fitri. Dia hampir seperti orang gila. Termenung di samping tempat pembaringan ibunya di kamar rumah sakit.
Jam mengarahkan jarum pendeknya ke angka tiga. Sedang dua jarung yang lain, Fitri tidak begitu memperhatikan. Matanya lebih tertuju pada ibunya yang wajahnya sedikit berbeda. Kulitnya putih, seperti tidak terlihat aliran darah pada urat-urat kecil di balik kulitnya. Fitri memalingkan wajah ke arah ayahnya yang tidur. Ia beranjak membangunkan ayahnya. Setelah Fitri dan Arsamin mendekati wanita yang dijaganya di rumah sakit, dan mencoba mencari detak nadi pada pagelangan tangannya, sudah tidak ada. Lehernya dingin. Tidak ada aroma nafas yang tercium dari kedua lubang hidupnya. Tanda-tanda kehidupan tidak ditemui. Fitri langsung teriak menuju ruangan dokter, memanggil dokter untuk memeriksa kondisi ibunya.
Ibu Fitri meninggal. Dokter tidak bisa menolong nyawanya. Isak tangis mengisi ruangan rumah sakit. Sepagi itu rumah sakit menjadi gaduh. Kabar kematian Rumiyati pun didengar oleh tetangga dan sanak keluarga. Suara mobil ambulan mengantar mayat Rumiyati hingga ke rumahnya. Ini bulan ketiga di mana dalam satu keluarga mencicipi lagi duka kematian. Satu per satu orang kesayangan Fitri dipulangkan oleh Sang Pencipta. Luka-luka Fitri semakin berlipat tebal. Menggunung di jiwanya.
###
Suasana rumah semakin bertambah lengang dengan mengurangnya orang-orang yang menghuni. Rumah Arsamin tampak layu. Bunga-bunga di tamannya meredup. Bahkan cahaya lampu ketika malam hari terlihat seperti remang menanggung kesedihan mendalam. Arsamin murung selama berhari-hari. Kepergian mertua, anak dan istrinya sulit dimaafkan oleh kecamuk jiwanya. Semua kejadian seperti hantu yang menyesak di kantung-kantung dadanya.
Setelah kepergian Rumiyati, Fitri mencoba mengganti posisi ibunya. Dialah yang membersihkan rumah. Mencuci pakaian. Memasak makanan untuk ayahnya. Dunia seperti berbalik tiga ratus enam puluh derajat. Kini Arsamin sulitan mencerna makanan. Dia lebih memilih mengurung diri. Kadang untuk makan saja, dia perlu disuap oleh Fitri. Banyak hal yang ditanggung Arsamin. Kini tubuh kekar kelaki-lakiannya sudah tidak tampak. Semakin hari semakin kurus. Dia lemah. Lebih lemah dari wanita yang jauh lebih muda dari usianya—Fitri. Fitri selalu mencoba memotivasi ayahnya untuk tabah dan kuat menerima semua cobaan.
Pagi selalu menghadirkan matahari. Dengan cahaya hangatnya, ia selalu mencoba memekarkan bunga-bunga. Bahkan tak jarang semburat mentari menerbangkan embun yang berusaha dingin, mebekukan kehidupan makhluk hidup. Kicau kutilang berdendang memaksa hati yang berduka agar bahagia. Pagi itu, hari Minggu, Tanggal 13 Maret 2016. Fitri kedatangan tamu. Lima orang teman SMA Fitri datang bermain ke rumahnya. Dia membawa banyak rindu. Fitri yang terkenal sebagai siswa cerdas, ramah, rajin, telah membuat bekas kenangan paling lekat di kelas. Mereka banyak merasa kehilangan yang tidak didapat dari siswa lain. Termasuk Anam, yang juga merasa banyak kehilangan tanpa Fitri.
Anam adalah orang yang menyukai Fitri. Ia selalu menjadi penyemangat ketika Fitri masih bersekolah di SMA. Hanya saja, di antara keduanya belum mampu membahasakan suka, walau cinta menumpuk segunung dan menyungkupi hati keduanya pada saat itu. Sendu mata Anam runcing ke arah wajah Fitri. Ia seperti menemukan banyak duka yang berpetala di bola mata gadis kurus itu. Seorang gadis yang dia kenal dengan kondisi fisik selalu segar, kini dia temui dengan keadaan layu dan sedikit kumuh karena sudah berbulan-bulan tanpa bedak. Rasa iba Anam ditunjukkan pada jamuan di rumah Fitri. Anam meminta izin pada Fitri untuk menemui ayahnya. Ia langsung memeluk tubuh laki-laki yang sudah tidak berotot dan rambut yang panjang itu dengan serampai sedih pada hatinya. Air mata Anam tumpah. Bendungan di matanya tidak kuasa menahan.
            Laki yang dipeluk Anam akhirnya berbicara, “Aku minta tolong kepadamu. Jaga Fitri. Semangati dia,” suaranya terputus. Ia memperbaiki nafas dan kemudian berbicara lagi, “Aku sudah tidak akan lama lagi.”
            Fitri tercengang melihat ayahnya mau bicara. Dari kemarin hanya bisu yang ditemui dari sang ayah oleh Fitri. Air mata Fitri ikut landai, mengiringi irama nada suara yang sudah patah-patah dari laki-laki kurus berkulit putih itu. Kemudian rumah isi tiba-tiba kembali ramai dengan isak tangis. Rupanya kata-kata Arsamin tadi, menjadi kata terakhirnya di atas dunia. Fitri menjerit histeris. Ia kehilangan kendali. Alam penglihatannya tiba-tiba saja gelap. Tidak ada lagi suara yang bisa didengar. Dia hilang entah ke mana.
            Sepuluh jam kemudian Fitri terbangun. Dia sudah berada di antara orang-orang yang memanjtakan doa tahlilan. Di ruang yang lain, dia mendengar lantunan Yasin mengalun. Dia tidak paham apa yang terjadi sebelumnya. Dengan langkah terbata Fitri menghampiri sumber suara pembacaan Surah Yasin. Dan Sulis yang melihat tubuh Fitri terhuyung dengan tangan berusaha memegang tembok, langsung berlari menghentikan bacaan Surah Yasinnya dan merangkul tubuh Fitri. Dan semua kaum perempuan yang membaca Surah Yasin pada ruang itu, satu-satu ikut membantu Sulis.
            “Ada apa ini Lis?” Fitri bertanya dengan suara yang serak.
            “Kamu harus tabah Fit. Ayah kamu sudah tiada,” dengan berat Sulis menyampaikan kejadian yang sesungguhnya, “Kamu harus tabah Fitri,” tangis Sulis akhirnya pecah.
            “Aku tidak mengerti. Duh, Ya Allah!” Fitri menangis.
###
            Sejak kejadian kepergian ayah Fitri, Sulis, teman sekaligus sepupu Fitri meminta izin kepada orangtuanya untuk menemani Fitri di rumahnya. Orangtua Sulis akhirnya mengiyakan apa yang dikehendaki putrinya, asal tetap bersekolah—jangan sampai berhenti. Mulai saat itu keadaan rumah Fitri tidak terlalu lengang. Kesedihan Fitri tidak terlalu larut, karena banyak mendapatkan motivasi dan hiburan dari teman-temannya. Banyak teman-teman dari sekolah Fitri yang dulu bermain ke rumah Fitri. Bahkan sampai ada yang ikut bermalam. Namun meski begitu, kesedihan hati Fitri tidak sepenuhnya tersapu tuntas. Dia masih bisa merasakan. Hanya saja kini dia mencoba menampakkan wajah semringah di depan temannya, utamanya kepada si Anam.
            Anam adalah orang yang paling tidak sudi melihat ada gurat kesedihan pada rona Fitri. Dengan usia semuda itu, telah menanggung banyak asam garam kehidupan. Begitu yang dirasakan pula oleh Anam. Hari demi hari yang dilewati pemuda berwajah bulat itu adalah kelebat wajah Fitri. Kini tidak ada lagi yang bisa dipungkiri dari hatinya yang bergejolak. Dia menyukai wanita kurus yang pernah menjadi teman sekelasnya. Kebersamaan yang ditanam di rumah bertaman bunga itu, membuat perjalanan waktu Anam berkembang bahagia karena ada bunga yang menjerat hatinya.
            Malam beranjak datang menjemput senja. Anam yang didera nelangsa, membuat dia berpikir untuk membawa Fitri ke rumahnya. Malam itu dia mencoba mendiskusikan dengan orangtuanya untuk menerima Fitri dalam keluarganya. Anam berharap kedua orangtuanya, kali ini akan menuruti apa yang ia pinta. Bayangannya terlalu jauh tentang sesuatu bahagia yang jika hidup seatap dengan wanita yang disayanginya kini. Namun sayang, jawaban dari ibu Anam berat. Dia tidak mengizinkan Fitri untuk tinggal seatap dengan keluarganya, kecuali mau menjadi seorang pembantu. Anam marah, dia jelas tidak tega menyaksikan gadis kesayangannya dijadikan pembantu, pelayan di rumahnya. Namun di lain sisi, Anam merasa berat mengingat kehidupan Fitri yang saat ini hanya bergantung kepada sisa uang peninggalan Ayahnya. Tidak akan lama lagi harta itu akan habis. Pikiran Anam berkecamuk.

            Semalaman pemuda yang dilanda rasa cinta tidak dapat tidur. Dia mencoba memecahkan masalah yang dihadapi kehidupan kekasih hatinya. Dia ingin menjadi orang dewasa. Yang punya kerjaan, kemudian menikah dengan Fitri, hidup serumah, menjadi tulang punggung keluarga kecilnya. Hanya saja itu masih tidak mungkin dilakukannya dalam masa saat ini. Dia masih muda. Dia masih takut dengan gertak orangtuanya. Ingin rasanya Anam berteriak, tapi ia urungkan mengingat posisinya tengah berada di dalam kamar, dan di jam yang masih terlalu pagi. Dengan membawa perasaan tidak menentu, Anam akhirnya melelapkan diri. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Berharap, seiring matahari terbit, apa yang menjadi harapannya pun ikut terbit bersamaan.

            “Kring...” suara alarm di samping ranjang Anam berbunyi. Ia melirikkan mata yang masih sulit terbelalak, “Sudah jam delapan,” langsung lari ke kamar mandi dan siap-siap untuk memakai seragam sekolah. Anam sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Tiba di ruang makan, ibu dan ayahnya kaget dan tersenyum. Anam masih tidak mengerti apa yang menjadi bahan tertawaan kedua orangtuanya itu. Setelah menjernihkan pikirannya, baru dia sadar, kalau hari ini adalah hari Minggu. Anam mendesus sebal. Akhirnya dia lari ke kamar dan mengganti baju. Siap-siap mau ke rumah Fitri.
            Setelah melalui ruang makan, Anam dicegat sama ibunya, “Mau ke mana kamu? Kamu mulai sekarang tidak boleh ke mana-mana. Kamu tidak boleh ke rumah Fitri lagi,” sentak ibu Anam.
            “Emang kenapa bu? Aku kan hanya mau main saja ke sana.”
            “Pokoknya ya nggak boleh. Kamu itu laki-laki, di rumah Fitri sudah tidak ada orangtuanya sekarang.”
            Anam paham. Dia membalikkan badan dan masuk ke kamar. Di bukanya jendela yang awalnya masih tertutup  rapi. Anam memandang ke belakang rumah jauh. Gedung-gedung menjulang tinggi. Langit biru. Ia menerbangkan cerita ke kebiruannya. Menumpahkan sakit hatinya yang pagi tadi sudah dibentak keras oleh orangtuanya. Dia banyak bercurhat mengenai luka yang dalam. Hidungnya yang tirus coba disandarkan pada tiang jendela.
###
            Ini adalah pagi ke 130 yang kembali dirasakan sari sedihnya oleh Fitri. Ia mengenag betapa kesedihan yang setiap bulan selalu berturut-turt seperti siklus dalam jiwanya. Dari kepergian neneknya, adiknya, ibunya, ayahnya, dan mungkin Anam juga akan ikut menjauhinya. Sudah satu minggu lebih Anam tidak pernah datang ke rumahnya, yang biasanya selalu menjadi penyemangat hidupnya. Rupanya ketidak hadiran Anam dalam kehidupan Fitri kini, membuat memori kesedihan yang ingin dia hapus kembali lagi merasuk ke seluruh jalur pikran Fitri. Ia mengenang kepergian sang nenek yang mewarisi sikap telaten. Ia mengingat keberadaan Rani yang suka nakal dan manja kepadanya. Ia juga mengingat bagaimana ibu dan bapaknya dulu selalu memberinya semangat. Semua telah menjadi kenang.
            Fitri tidak pernah tahu, titik mutakhir bagaimana yang akan menjadi haknya sebagai perempuan yang cukup dilanda jutaan derita. Kehilangan memang adalah pelajaran. Kadang pelajaran tidak bisa dipelajari begitu saja dengan gamblang. Yang memberikan akan terasa lurus-lurus saja, sangat berbeda dengan yang menerima, yang justru menemui kesulitan.
            “Kamu yang sabar Fit. Hidup adalah sebuah pilihan. Sekuat apa engkau tidak memilih, tetaplah itu sebuah pilihan Fit,” Sulis berusaha meneguhkan hati Fitri yang tinggal berpuing.
            “Aku seperti menemukan banyak gelap di antara orang penikmat terang, Lis. Betapa kau tidak tahu harapan mataku yang membeliak. Kau hidup pada benderang. Sedang aku, selalu dikunci gelap pekat.”
            “Engkau masih menyisakan banyak dian yang belum dinyalakan. Kamu bukan terjerat oleh gelap, tapi pikiranmu disibukkan dengan waktu. Sudah engkau tahu bukan, kalau waktu adalah siklus paling misteri. Sampai urat leher manusia lantak, meneriakkan ramalan akan datang, itu tetap sebuah ketidak mungkinan.”
            “Kamu terlalu pintar, Sulis. Semua yang tidak mungkin terjadi, dalam agama kita harus diyakini segala kemungkinannya,” Fitri masih tetap kukuh, semua orang yang berada di sampingnya akan hilang, termasuk Anam.
            “Kemungkinan itu bukan kamu yang memikirkan. Kamu adalah penyesal hari kemarin, penikmat hari ini, dan pendaki hari esok,” sembari memeluk tubuh Fitri, Sulis terus berusaha menjadi saudara yang akan membuat Fitri bahagia.
            Fitri dan Lisa duduk bersama di kursi taman depan rumah yang mereka tempati. Mata mereka mengarah pada pandang yang sama—sekumpulan bunga di taman. Kupu-kupu mengepakkan sayapnya, menghampiri satu dua bunga secara bergiliran. Hanya ada satu bunga mawar biru yang sulit dihinggapi kupu-kupu. Ia ingin menikmati rayunya. Merasakan udara dari kepak sayapnya yang paling syahdu. Tapi begitulah bunga, suaranya selalu terasa diam. Tengadah tangkainya saja yang tetap tegak mengarah langit. Hijau daun-daunnya menutupi sedih pada sela kuntum bunga.
            Sulis terperanjat, disusul Fitri. Ada mobil yang berhenti di depan rumah. Beberapa kali menyalakan klaksonnya, memanggil penghuni rumah segera keluar. Sulis dan Fitri mempercepat langkah menuju asal suara klakson. Sudah berdiri di sana, Anam dan kedua orangtuanya. Anam menjemput Fitri. Ia menjemput gadis pujaannya bukan lagi sebagai seorang pembantu di rumahnya. Keinginan orangtuanya sudah berubah. Fitri mau diangkat sebagai anaknya sendiri. Dengan disambut wajah semringah, Fitri masih belum mengerti. Hatinya memang terpikat dengan Anam, namun bukan lantas dia harus serumah dengan Anam. Ia tetap tidak mau menerima tawaran orangtua Anam. Sulis juga membantu memperkuat alasan Fitri yang tidak enak hati jika harus tinggal serumah dengan orang yang bukan bagian dari saudara orangtuanya.
            Bunga di taman kembali asing bagi mata kupu-kupu. Sedih merambat dengan hadirnya senja. Bunga tidak bisa terbang menyusul tempat lelap kupu-kupu. Mereka menikmati malam dalam ruang dan waktu yang berbeda. Sekian!