Sabtu, 20 Januari 2018

Terkadang, dalam tenang malam, atau bahkan ketika hujan turun, aku ingin seperti dirimu. Yang dengan seenaknya bilang menaruh hati padaku. Tetapi, tak satu pun kamu membuktikannya dengan pasti. Sehingga apa yang aku lakukan, seakan hanya aku. Tak ada kamu. Tak ada kita di sana.

Hatiku, seumpama teratai di tengah padang luas yang tandus. Merasakan bagaimana pedihnya menjadi seorang laki-laki. Yang terus-terusan bertahan mencintai, namun kamu hanya membalasnya dengan kata "nanti". Mungkin saja semua yang aku lakukan masih kamu anggap belum seberapa. Masih perlu banyak lagi waktu yang kubuang cuma-cuma. Tanpa kepastian, dan terus kesepian yang disuguhkan. Yang menyakitkan.

Jika pun yang kuperjuangkan untuk melihat senyummu masih tidak ada apa-apanya di matamu, ajari aku cara tidak percaya kepadamu. Biar aku dapat melupakan dengan tenang, apa-apa yang selalu kudapat dari kerling matamu. Biar aku tak hanya jadi kumbang yang terus tersesat di rimba alismu. Sebab, sampai detik ini, aku benar tidak bisa. Cinta yang pernah kuucapkan di masa lalu pada secarik kertas, tetap ingin kusampaikan. Akan kujelaskan betapa dalamnya aku menginginkanmu di hidupku. Walau misal nantinya kamu menilaiku sebagai lelaki rendahan.

Terkadang aku berpikir sudah terlalu ingin. Hingga ingin menjadi dirimu, ingin memiliki sikap mencintai seperti dirimu, tidak lagi kupentingkan. Karena yang aku sadari, cinta yang tulus subur dalam hatiku. Dan kamu akan pasti memetiknya suatu saat nanti. Memberikannya kepada orang lain. Hingga dengan tangis, kucabuti ia secara paksa. Sampai tak ada lagi darah yang mampu berbicara. Walau menjelma melalui warna air mata. Tak akan ada.

Untuk itu, berpikirlah. Mungkin yang sedang kamu nilai tentang aku banyak salahnya. Karena barangkali hal-hal yang aku lukai, memang benar ada sesuatu yang belum kusukai. Dan ingin aku perbaiki bersama-sama. Dengan kata kita yang selalu kuucapkan dalam panjang khayalan.😌

-Wardi-

Dan kali kesekian laut di matamu berdarah. Pada suatu senja aku menampung perahu dari segala arah. Seumpama perasaan hujan tak terhitung lagi jeda kepada pasir yang menjadikannya berulang bimbang. Ternyata dadaku tak sebidang yang aku bilang. Seperti halnya banyak lelaki, aku bisa saja melepaskan sebelum napas mampu kuuraikan. Dengan membaca tempat terindah yang ditimpakan kenangan.


Malam itu, jemariku menjadi sebilah diam. Antara lalu-lalang bus antar kota yang menyampaikan salam, rinduku bertubi menyebutmu dalam remang. Semoga kepergianku bukan satu-satunya tangis yang terus kaupelajari. Tetaplah bersama lampu-lampu itu. Yang menyala meski terbiar.


Sebab aku mencintaimu hingga berita malam sampai sepenuh kekuatan. Dan apa-apa yang kuingat nyaris membuat gila.


-Wardi-