Sabtu, 16 Mei 2015

SUARA IBU



Tidak pernah ku dengar suaranya separau malam itu,
Ketika tentang cerita anak Ibu susah di tanah orang
Ikhlas lisannya berucap pada ruang sepi nasib dan pengharapan
Maksud Ibu, agar terhapus duka dari anak perantaunya.
Demikian disela bisu angin dan tanda doa
Aku merasakan tangan Ibu meraba pada pundakku
Seperti ada pesan tidak boleh meyerah yang tersirat

Ibu, dengan segala rindu tertanggal tak berbidang
Jarak karena kelanaku dari yang biasa dekat dengan wajahnya
Menjawab tanda tanya yang berimbang bimbang.
Bila hendak beliau bayar untuk detak langkah penghidupanku
Sungguh jauh sebanding dengan kekar otot tua Ibu dan aku harus berterimakasih.

Maaf dari anak berdosa di dalam doa tidak tertata
Dengan bahasa ngiang bertanyakan apa kabar hujan di sana?
sekedar suara yang menyulap anak perindu
berlalu dalam angan tentang digdaya Ibunya
Tempat reramuan nyawa dan pengharapan bersemedi.
;Tunggu aku Ibu.

Jogjakarta 15

TERAGEDI JARAK



Vie,
Ingatkah saat aku telanjang jujur di depanmu?
Dibanyak wanita yang lain aku melepas malu
Bahkan rahim tempatku lahir
ikut menyaksikan hati yang ku pertontonkan pada Tuhan
Aku tidak merasa malu meski kamu masih belum tentu bersamaku.

Vie,
Malam akan hilang diantara kita segera tiba
Sambut, dan jangan marah
Segala rasa sadar telah aku persiapkan tentang wanita
Kamu sungguh sebagian dari mendung itu
Demikian sering mengaram mimpiku.
;aku kembali luka

Vie,
Betapa ingin ku bunuh rasa bagimu
Seperti yang kau lakukan padaku dengan ganas
Pasti sudah aku kafani hati ini dengan wanita yang lain.


Vie,
Tebas saja dadaku!
Jangan biarkan mata menyaksikan bunga diranjangmu
atau harus mejelaskan kejujuran dengan ujung celuritku
Karena masih akan kujelaskan padamu
kehalalan bukan cukup terjadi di atas angan
Apa lagi hanya jarak pencipta dusta,
Terlalu editis kebersamaan ini Vietri.

Jogjakarta 17

Jumat, 15 Mei 2015

Surat Pernyataan Akan Bunuh Diri

;Sebuah Cerpen Untuk Penguasa
            Malam itu tiga orang anak muda sedang tidur pulas di ranjang rumah masing-masing. Dua orang berjenis kelamin laki-laki. Satu orang berjenis kelamin perempuan. Tidak ada yang tahu tentang mimpi mereka, selain Tuhan dan dirinya. Tiga anak muda itu bersahabat sudah lama sekali. Sunahyu yang berambut keriting, berkulit hitam dan bertubuh kerempeng pendek. Jumahna, bertubuh besar dan tinggi. Ruida, ia sering mengenakan kerudung dan berkulit agak sedikit bersih.
            Suasana kampung pedesaan yang arif, mendidik karakter sosial mereka dengan pola tengka1 yang lembut. Pendidikan-pendidikan di sekolah suasta seperti Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah menyuntikkan karakter keislaman di jiwa mereka. Bagi mereka kebersamaan adalah sesuatu yang penting untuk dibangun. Khususnya dalam membangun mimpi-mimpi agar menjadi nyata. Seperti halnya pepatah yang mengatakan bahwa satu lidi tidak kuat untuk menyapu sampah yang berserakan, maka ia harus bersatu.
            Terlalu banyak mimpi yang mereka bangun, bak tebaran gemintang di langit malam yang tak terjumlahkan nilainya. Ketiga sahabat itu sering menikmati malam bersama. Bermain di hamparan halaman rumah masing-masing dengan bergiliran seperti aturan arisan ibu-ibu. Belajar di bawah terang cahaya rembulan, membuka lelembaran buku dan menyelipakn ilmunya di sebagian putaran otak.
            Salah satu keinginan yang mereka coba rajut adalah tentang keinginan untuk kuliah. Kuliah sudah menjadi susunan teratas dari banyak mimpi mereka. Meski tidak semua mimpi harus dinyatakan oleh Sunahyu, namun ia merasa mimpinya kali ini untuk selalu bersama dengan Jumahna dan Ruida, menjadi kewajiban tersendiri untuk dia curhatkan. Ujian akhir nasioanal di sekolahnya sebentar lagi akan ia lalui. Mereka akan menghadapi tumpukan pertanyaan yang tertata di atas kertas putih. Mereka harus menjawabnya dengan baik dan benar. Jika tidak, pastilah hambatan kelululusan akan memenggal mimpi teratasnya.
            Waktu terus berlalu, menuliskan sejarah disetiap jejaknya. Tidak ada yang mampu menandingi keindahan dari kebersamaan yang sudah mendarah daging itu. Tiga sahabat itu memiliki sapaan akrab. Mereka tidak biasa memanggail nama masing-masing. Alasan logis mereka adalah karena memang ingin lebih akrab. Sapaan khas tersendiri yang tidak boleh dibagi dengan orang lain. Orang lain tidak boleh sama memanggil julukan akrab mereka itu. Mereka sangat menjaga sebuah nama julukan dari persahabatannya. Jumahna dipanggil Karteka. Sunahyu dipanggil Pajjer. Sedang Ruida dipanggil Kembang karena dia seorang wanita.
***
            Ujian akhir sudah mereka selesaikan dengan baik. Udara dingin mereka hirup dengan tenang, meski tidak terlalu tenang. Karena pengumuman kelulusan masih tinggal satu minggu lagi akan diumumkan. Angin membelai wajah daun-daun di pagi muda. Sementara cericit anak burung merengek kelaparan, menunggui sang induk yang mencarikannya makan diantara dahan-dahan. Rupanya sang induk burung begitu perhatian. Ia tidak ingin anaknya mati kelaparan. Betapa arif keluarga burung kecil itu. Sunahyu mulai berkata dalam hati. Membayangkan betapa nasib keluarganya sangat melarat.
            Kemelaratan yang sudah berkian lama mencekik tenggorokan kehidupan Sunahyu. Salah satu cita-cita terindahnya adalah untuk menyejaherah-kan keluarganya. Masnyarakat banyak pada umumnya. Maka bila begitu ia musti harus berilmu. Sunahyu harus bisa kuliah. Ya, kuliah. Memang itu bukan suaatu hal yang mudah. Orang untuk bisa kuliah harus memiliki banyak modal yang cukup. Biaya pendidikan tidak mudah untuk mendapat yang gratis. Begitulah yang terjadi di Negara Indonesia.
            Sebagai anak kampung, Sunahyu selalu berdoa dan meminta keikhlasan doa dari kedua orang tuanya agar bisa kuliah. Sunahyu agak sedikit berbeda dengan teman-temannya yang lain. Suka memperhatikan sesuatu yang kecil, yang dianggap kurang berharga menurut orang lain. Entah, sesuatu yang tidak berharga itu selalu dianggap penting untuk dituangkan dalam sebuah tulisan bagi Sunahyu. Menulis. Itulah kegemaran seorang Sunahyu sejauh ini. Anak kampung yang lahir dari rahim petani, dengan profesi yang melangkahi orang tuanya. Melangkahai dalam artian orang tuanya memegang cangkul, sedang ia memegang pena dengan tinta hitamnya yang tertuang abadi di atas kertas.
            Sebauh anugerah dari Allah, kini ia mendapat informasi bahwa ada salah satu kampus di Yogyakarta yang ingin mencari siswa-siswi dari kabupaten Sumenep untuk menempuh pendidikan gratis di Yogyakarta. Atau lebih pasnya, ada beasiswa yang disediakan bagi siswa-siswi yang kurang mampu dengan lewat jalur tes dan jalur tulisan. Dengan sebuah kerjasama pemerintah daerah setempat, salah satu perusahaan minyak dan kampus tersebut.
            Sunahyu mengabarinya kepada Jumahna dan Ruida tentang adanya program dari salah satu kampus itu. Belas kasih Allah dan doa orang tua mereka yang tulus akhirnya membawa mereka ke titik keberhasilan mimpi yang mereka tata. Ketiga sahabat itu akhirnya lolos seleksi, dan mereka bisa kuliah bersama di salah satu kampus di Jogjakarta. Jumahna dan Ruida lolos dalam jalur tes. Dan untuk Sunahyu sendiri, ia lolos lewat jalur tulisan esai yang ia buat. Ada jalur tulisan dengan membuat esai tentang Migas di Sumenep.
            Keluarga Sunahyu akhirnya merayakan keberhasilan itu dengan tradisi ala Islamisasi Madura. Maklum, Madura memang terkenal dengan masyarakatnya yang beragama Islam kebanyakan. Tepat pada malam Senin. Malam dimana Sunahyu pertama melihat dunia. Segerombolan kiai dan tokoh masyarakat mengaji di rumah Sunahyu. Itu adalah bentuk syukur kepada Tuhan. Sebuah ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat Madura ketika berhasil mencapai sesuatu. Atau pada saat mereka merasakan kenikmatan karunia Tuhan.
            Malam Rabu adalah malam terakhir untuk Sunahyu menikmati empuk kasur ranjang di rumahnya. Esok ia akan bergegas. Ia akan hidup terpisah jauh dengan keluarganya di Madura. Damar Kambheng2 yang berpijar terang menandakan sebuah ketenangan, dan Isya Allah adalah kebahagiaan. Begitulah masyarakat Madura meradar sebuah kehidupan lewat Damar Kambheng.
            Keindahan tersirat berbungkus tangis bahagia. Bimbang pun bukan tidak ada di hati seorang orang tua. Bapak dan Ibu Sunahyu merasakannya. Sebuah kebimbangan yang tidak bisa dia ikhlaskan saat melepas putera keduanya mengejar pendidikan segitu jauhnya. Tubuh kecil hitam kerempeng pemuda desa, rasanya memang masih tidak pantas untuk berkelana sejauh itu. Sekedar harapan, semoga mampu Sunahyu hidup di kota metropolitan nanti.
***
            Setengah tahun sudah kehidupan tiga sahabat itu di kota Jogja. Karteka, Pajjer, dan Kembang yang perparas cantik, merasa ada yang berbeda. Mereka merasakan sebuah kepalsuan. Palsunya sebuah surat perjanjian yang mereka tanda tangani. Entah, ini adalah sebuah ujian yang harus membuat mereka tabah hati. Cita-citanya untuk belajar hingga kelak menjadi orang hebat, sementara ini tiba-tiba menjadi semu.
            “Jar kamu nggak merasakan hal yang mencekam ya, dengan adanya beasiswa ini?” Sapa Karteka kepada Pajjer yang sedang duduk merenung di samping persawahan kampus. Persawahan di samping kampus mereka telah menjadi tempat spesial.
            “Iya kalau aku sih merasa begitu. Akan tetapi.. entah lah, kita sabar dulu saja Kar. Betul nggak Kem?” Pajjer mencoba menyuntikkan sebuah motivasi baru ke dalam darah semangat sahabatnya. Ia tidak ingin nanti persahabatan mereka jadi terberai. Karena sikap Karteka yang mudah bosan, kerap sekali ingin menyerah dan kembali ke kampung halamannya saja katanya.
            Kembang sendiri tampak merenung. Seakan ia mengabaikan apa yang dibicarakan oleh sahabatnya. Tapi dia pasti mendengar. Terlihat dari air wajahnya, bahwa hatinya tengah berkecamuk luka. Tiga orang yang sama-sama terlahir dari rahim petani. Selama setengah tahun lebih mereka meminta kiriman kepada orang tuanya yang ada di kampung halaman. Lantaran uang untuk biaya hidup tidak turun. Mereka mendapat kiriman sebesar dua ratus ribu per bulan. Sebuah nominal yang cukup sedikit untuk membiayai kehidupan di Kota Jogja. Kota pendidikan, bukan desa yang relawan. Semuanya harus serba uang.
            Kehidupan yang mereka lalui dengan uang dua ratus ribu rupiah untuk biaya hidup, dan masih dibagi lagi dengan biaya ketika ada tugas-tugas, maka rasanya tidak mudah mempertahankan detak jantung. Sepuluh orang dari Kota Sumenep, hanya mereka yang memang benar-benar berasal dari keluarga kurang mampu. Ketujuh teman beasiswanya yang lain mungkin tidak senasib. Hal itu terlihat dari cara mereka makan dan cara mereka berkumpul. Sunahyu, Jumahna, dan Kembang belum pernah mencicipi kedai-kedai malam di Jogja ini. Tempat mereka berkumpul adalah di tepi persawahan pada saat sore hari. Kebiasaan mereka adalah menulis cerita. Cerita peribadi ataupun cerita orang lain, sebisanya, tetap mereka tulis. Berbeda dengan sekawananya yang tujuh orang yang sama-sama lahir dari perut garam Madura Sumenep. Mererka adalah anak orang kaya. Tak jarang terlihat ketika mereka berkumpul di kedai-kedai malam,  yang menyediakan banyak menu masakan enak dan lezat.
            Goresan merah di ufuk cakrawala kala senja, Sunahyu dan dua sahabat sejatinya kembali berkumpul di tepi sawa. Menyaksikan burung-burung yang bertebangan bebas. Mendengar deru pesawat terbang memusingkan. Sungguh tidak sama dengan di desa. Bahkan jangan coba disamakan. Di desa tidak ada yang namanya pesawat dengan bunyinya yang begitu nyaring. Sawah kota pun masih tidak sama dengan sawah di desa. Sawah kota lebih terbatas lahannya. Sedang di desa masih sangat lebat dengan pepohonannya yang rindang dan hijau.
            “Aku rindu Desa Tamidung” Sunahyu tiba-tiba membatin. Ia merasakan sebuah kerinduan akan kampung halamannya. Ia berfikir tentang burung. Burung yang bisa terbang bebas, burung yang bisa seenaknya mencari makan dimana saja. Sedang dirinya, kini merasa seperti burung yang berada di dalam sangkar. Bagaimana burung di dalam sangkar? Ia akan makan jika ada makanan yang tersedia atau disediakan oleh yang memlihara. Jika tidak, ia akan memakan kotorannya sendiri supaya tetap bertahan hidup. Oh, nasib burung di dalam sangkar.!!
            Ketika di dalam kos. Kos puteri dan kos putera dipisah jauh. Dan Sunahyu sekamar dengan Jumahna. Mereka tak jarang menghirup aroma mi instan yang dibuat oleh sahabatnya di kamar sebelah. Sungguh aromanya sangat lezat. Ia tidak bisa membelinya, ia hanya menghirup aroma sedap mi instan itu. Ketia dia dikirim oleh orang tuanya, Jumahna dan Sunahyu langsung menyerahkan uang yang seratus lima puluh kepada Bu Sumi. Bu Sumi adalah penjual nasi di warung sebelah. Belas hatinya memang pas untuk menjadi penjual nasi bagi mahasiswa semiskin Jumahna dan Sunahyu. Karena bisa menghutang. Dan membayarnya setelah punya uang. Uang yang lima puluh ribu tadi mereka simpan untuk biaya pribadi yang tidak terduka. Semisal ada tugas dan harus ke warnet. Karena Jumahna dan Sunahyu tidak memiliki laptop sendiri.
            Dengan cara menitipkan uang untuk dibuat makan ke warung sebelah, ternyata menjadi sebuah solusi yang solutif. Karena mereka bisa makan setiap malam di sana. Makanan dengan harga murah, namun bisa mengambil nasi lebih banyak. Sebab yang mahal adalah ikannya. Kebiasaan Sunahyu ketika makan di warung Bu Sumi adalah dengan lauk gorengan tempe. Karena itu lebih murah harganya. Mereka hanya makan setiap malam sekali. Siangnya mereka puasa dengan nasi. Untung masih ada kran air di dapur kosan. Kran itulah yang menjadi pembunuh haus bagi mereka. Jumahna dan Sunahyu sering sekali meminum air kran itu ketika sepulang kampus pada siang-siang hari.
            Perjalanan ke kampus yang harus ditempuh sepuluh menit oleh seorang pejalan kaki. Sungguh bukan sebuah jarak yang dekat bagi manusia dengan perut keroncong kelaparan. Ketika ia tengah berhadapan denga tugas-tugas. Dan terbakarnya tubuh mereka di bawah terik matahari dan tapakan kakinya di atas aspal jalanan yang sejak seharian terbakar panas, juga menjadi penyumbang lelah yang lahirkan rasa lapar. Namun kekuatan cinta untuk Sumenep, telah menyulapnya menjadi orang yang paling kuat. Orang yang tidak mudah lapuk. Sebab tubuh mereka sudah lama terbakar dan legam dikala kemarau musim tembakau di Madura, selalu mereka nikmati.
            Keringat yang mereka cucurkan begitu asin. Bagi Sunahyu, itu adalah keringat suci, bentuk dari sebuah penghormatan terhadap asin garam Madura. Kewajiban menjadi seorang pelajar sebagaimana tertera dalam surat perjanjian, benar-benar mereka lalui dengan baik. Rasa malas sudah mereka tepis jauh-jauh. Ia tidak ingin terganggu semangatnya, hanya karena persoalan finansial belaka. Tidak ada doa yang buruk di benak Sunahyu kepada sang pemangku jabatan di Sumenep, selain pengharapan akan lancarnya beasiswa ini.
***
            Janur kuning tidak akan melengkung begitu saja bila usia belum memfonisnya dengan kejam. Anggota beasiswa penuh yang sama-sama dari Kabupaten Sumenep ini masih rendah rasa solidaritasnya. Kebersamaan hampirtidak ada. Mereka seakan terkotak-kotak. Kebanyakan diantara mereka memilih untuk menyendiri saja di dalam kamar. Mungkin saja diantara mereka tidak tumbuh perasaan sosial yang tinggi, atauapalah istilah baiknya. Keluarga mereka yang kaya-kaya masih mampu untuk menjadi penyublim kehidupan di tengah kemahalan hidup di kota metropolitan Jogja.
            Sejauh keberadaan mereka di kota pendidikan itu hanya sekitar dua kali melakukan protes ke pihak kampus mengenai permasalahan beasiswa. Terlalu sedikit. Itu pun atas dasar pemikiran masing-masing bukan atas keseragaman pemikiran. Manamungkin mau berseragam, sedangkan yang berkumpul saja sangat jarang, nyaris tidak pernah.
            Kehidupan Sunahyu semakin hari semakin sulit. Kerap iya mencoba mengirim tulisan ke berbagai media cetak yang ada rubrik cerpennya. Sayang tidak ada media yang menerima tulisannya. Itulah sebuah kemirisan hidup yang harus ia jalani dengan tabah. Harapan Sunahyu adalah bagaimana kelak antara dia dan sahabat beasiswanya semua bisa sukses. Ia merasa sangat berhutang budi terhadap kekayaan bumi Sumenep. Itulah doa Sunahyu setiap waktu yang terus ikhlas terpanjat.
            Hati yang selalu menjerit. Perut yang kerap menangis. Bagi sunahyu tangisan perut itulah tangisan paling jujur dan ikhlas. Tangisan tanpa kebohongan. Perutnya mulai lapar, tapi jadwal makan masih belum sampai. Ia menjadwalkan makan hanya tiap malam. Setelah dia selesai shloat Maghrib dan Isya’ dan dilanjut membaca SurahYasin, baru ia bisa mengapusi tangisan perutnya. Ia menghibur perutnya yang sedari tadi menangis kelaparan dengan nasi dan tempe goreng. Sunahyu terbiasa tidak minum di tempat makan, karena airnya harus bayar. Ia pulang ke kos dan menemui kran air yang kesepian mengguinya di dalam dapur. Disitulah tempat minum gratis yang paling Sunahyu minati.
            Kala matahari terus menyengatkan panasnya. Sementara aspal pun meminta ampun karena sudah merasa tidak kuat menahan panas matahari. Sunahyu sendiri pun menganggap suguhan panas seperti itu tidak dapat dipungkiri, bahwa dirinya merasa kegerahan. Jadwal kuliah siang adalah jadwal yang paling dia benci di batin terjujurnnya. Karena dia harus bergelut dengan panas matahari, dia tidak punya uang untuk memanja hausnya dengan es teh atau es jeruk di kantin kampus. Lagi-lagi solusi terbaiknya adalah air kran di kamar mandi. Ya itu pasti suci, anggap saja masih air suci.
            Curhatan teman-temannya yang rupanya sudah mulai singgah di telinga Sunahyu. Termasuk sebuah keluhan dari teman-teman beasiswanya yang sangat jarang bergaul dengan Sunahyu, kini mereka sudah mulai dekat. Bermula dari teguran tegas bapak kos di kos puteri. Seperti yang diceritakan oleh si Kembang Ruida, bahwa kata mereka teman-teman beasiswa yang di kos puteri akan segera di usir. Penyebabnya tidak lain, kerena kos yang katanya digratiskan tidak pernah dibayar. Itu adalah kewajiban tim pemberi beasiswa.
            Sore yang masih suci tak terkotori oleh hati benci. Semua teman-teman beasiswa berkumpul di pinggir sawah. Semua itu di kordinir langsung oleh Sunahyu. Salah satu harapannya adalah menyatukan suara demi terselesaikannya masalah beasiswanya. Lantas Sunahyu memang sangat berharap teman-temannya bersatu agar perut Sunahyu tidak menangis lagi. Semua yang dijanjikan benar-benar terealisasi dengan baik. Bukan sekedar janji-janji. Belum pernah terbayang di benak Sunahyu akan terputusnya program beasiswanya. Jika benar beasiswa itu akan diputus, dan anggota beasiswa akan dibiarkan terlantar. Sungguh itu adalah penipuan yang kontemporer. Atau nanti bisa jadi ada yang mati dari teman-teman beasiswa gara-gara kelaparan, sungguh itu adalah pembunuhan yang editis.
            Kekayaan alam menjadi taruhan hidup dan mati mereka selama menempuh pendidikan di Jogja. Persoalan cinta coba ia singkirkan. Sunahyu juga seorang pemuda yang normal. Ia bisa merasakan perasaan kasih kepada lawan jenisnya. Hanya saja baginya saat ini bukanlah hal yang tepat untuk berkasih-kasih. Ia sadar bahwa dinamika kehidupan juga menyediakan ranjau yang indah dan menarik, sehingga mudah orang masuk ke dalamnya tapi tidak tahu akibatnya. Padahal sudah nanti jelas mereka akan terbunuh.
            Kebersamaan Pajjer dengan Kembang memang tidak dapat terpungkiri, bahwa perasaan cinta yang terselip. Malam Sunahyu yang berbintang, adalah dikarenakan adanya cahaya mata indah yang dimiliki oleh Kembang. Namun ia tak pernah mengungkap akan tumbuhnya hal indah itu. Ia hanya mengungkapkan secara tulus lewat setiap tulisannya yang Pajjer lahirkan setiap malam. Karena memang kebiasaanyalah menulis. Menulis apa saja, meski tak terstruktur dengan baik, yang jelas ada tulisan mengenai hidupnya. Itulah yang tertanam dalam hati Pajjer.
            Secuil harap yang ingin dia buktikan pada hidup, tentang penciptaan dunianya di dalam sebuah karya tulisan. Kelak Sunahyu berharap bisa menyerahkan seluruh dunia yang ia punya kepada orang yang akan menjadi sajadahnya. Pemuda desa yang berpostur pendek, kerempeng, dan berkulit hitam sudah terlalu jauh mengkhayal. Bahkan tentang kehidupan cintanya.
            Tidak ada yang bisa menafsiri akan sebuah cerita dengan ending bahagia atau darah. Bagaikan orang yang sedang merangkai sebuah cerita dengan ending bahagia tapi perasaannya sendiri masih digeluti luka asmara. Permasalahan beasiswa yang belum kelar sejauh ini tidak dapat dipungkiri tidak menjadinya sebuah beban dalam berat otaknya diputar. Bagi Sunahyu permasalahan ini adalah  tuntutan kepada dirinya, bahwa dia harus membunuh dirinya sendiri. Daerahnya tidak boleh ada yang kaya, tidak boleh ada yang berpendidikan. Cukuplah sebuah kekuasaan ditangan yang berkuasa. Suara rakyat diredam dengan politik. Pemuda masa depannya harus diasingkan, biar dia sekarang melarat agar kelak mereka bisa mengkorupsi dengan balas dendam atas penderitaannya semasa belajar.
            Ah. Sudah terlalu jauh Sunahyu membatin lagi. Sampai suara hatinya berserakan tidak jelas. Kebenciannya kepada penguasa yang menandatangi perjanjian beasiswanya, sungguh tiada terkira. Akan tetapi, sebagai seorang pemuda desa yang banyak diajari namanya nasionalis gotong royong, Sunahyu tidak semuda itu terpengaruh.
            Sejauh ini Sunahyu sudah sukses membawa tawa dan kebersamaan diantara kawan-kawannya yang dulu sangat senjang dengan Sunahyu. Perasaannya bahagia, bisa menghibur teman-temannya yang lain.
            “Kamu kocak juga orangnya sebenernya Su. Haha” Selesai melawak ketika berkumpul rutin di pinggir sawa, Ari salah satu kawan beasiswanya menyampaikan satu kalimat yang menjadikan Sunahyu termotivasi.
            “Haha. Kalian ini bisa saja..” Jawab Sunahyu dengan santai-santai saja.
            Malam melukis warna kehidupan. Menulis, itu adalah ritual malam Sunahyu. Dalam fikirannya terlintas sebuah surat. Ia berniat mengirim sebuah surat ke Pemda Sumenep, tapi otaknya kebingunan memberi tema yang tepat. Setelah berkian banyak tanda tanya yang berputar di keningnya, tertangkap satu ide untuk menjadi judul suratnya ke pihak pemberi beasiswa. Sunahyu memberinya judul “Suarat Pernyataan Akan Bunuh Diri”. Terlalu lucu untuk di baca memang. Surat itu tidak berisi pernyataan untuk bunuh diri, melainkan penjelasan bahwa kehidupan mahasiswa yang diberi beasiswa telah menyatakan membunuh dirinya dengan ikhlas. Wassalam..


Catatan:
1. Sebuah istilah bahasa Madura untuk orang yang baik prilakunya.
2. Damar yang dibuat menggunakan alat pembakar dari minyak kelapa dan menggunakan kapas.