Senin, 04 Mei 2015

Dewa Dewakan


Ku sembah kau diam, Kau diamku sembah. Semerbak dupa malam Jum’at membawa tubuh membagi masa lalu, pada warna hampa kehidupan. Doa yang rela dan jiwa yang lara. Oh agama dan agama, tumpah darah kau minum bernaung benderah, putih tulang dan merah darah mu menyebut sekolah-sekolah tak belajar. ;katanya!

Kenanga melekat di telinga, saat kucium harumnya bukan anyir ngeri. Walau dua ribu dua telah tutup hasrat patriot Negara. Babi buta dimana-dimana, mengatasnamakan terseret di Tubuh Tuhan yang semu. Atau kau bukan anak yang menetas dari pancasila. ;terlalu banyak alasan.

Semedi ataupun sembahyang di tubuh ham kita tidak banyak tempat. Lihat saja samuderanya yang terhampar, beribu ikan dan ombak bersatu. Lalu, bagaimana bila disana bergelimpangan? Kepala dipenggal hukum dan hukum memenggal kepala. Sementara masih tak terhitung senyum bangsa yang terhempas atas nama kemerdekaan. Hakim dengan timbangannya melambang sumbang, pun lubang penjara bagi yang miskin tak terhindarkan.

Rakyat lama berkelana, mencari salip, mencari ka’bah atau kiblatnya, mencari berhala dewa, dan menemui Tuhan mereka dibalik kepak garuda. Jangan sampai mereka semua lapuk di samuderamu Indonesia..! Tiangtiang bendera sepanjang jalan terserabut, lantaran bumi pertiwi tidak lagi sekokoh dahulu. Gala bersama memenggal penjajah, kala bersama menggenggam merdeka, dan bersama menunggang garuda. Semua entah berserakannya, kita tanyakan saja pada kita jangan kepada-Nya.


Jogja 05

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.