Ku sembah kau diam, Kau diamku
sembah. Semerbak dupa malam Jum’at membawa tubuh membagi masa lalu, pada warna
hampa kehidupan. Doa yang rela dan jiwa yang lara. Oh agama dan agama, tumpah
darah kau minum bernaung benderah, putih tulang dan merah darah mu menyebut
sekolah-sekolah tak belajar. ;katanya!
Kenanga melekat di telinga, saat
kucium harumnya bukan anyir ngeri. Walau dua ribu dua telah tutup hasrat
patriot Negara. Babi buta dimana-dimana, mengatasnamakan terseret di Tubuh
Tuhan yang semu. Atau kau bukan anak yang menetas dari pancasila. ;terlalu
banyak alasan.
Semedi ataupun sembahyang di tubuh
ham kita tidak banyak tempat. Lihat saja samuderanya yang terhampar, beribu
ikan dan ombak bersatu. Lalu, bagaimana bila disana bergelimpangan? Kepala dipenggal
hukum dan hukum memenggal kepala. Sementara masih tak terhitung senyum bangsa
yang terhempas atas nama kemerdekaan. Hakim dengan timbangannya melambang
sumbang, pun lubang penjara bagi yang miskin tak terhindarkan.
Rakyat lama berkelana, mencari
salip, mencari ka’bah atau kiblatnya, mencari berhala dewa, dan menemui Tuhan
mereka dibalik kepak garuda. Jangan sampai mereka semua lapuk di samuderamu
Indonesia..! Tiangtiang bendera sepanjang jalan terserabut, lantaran bumi
pertiwi tidak lagi sekokoh dahulu. Gala bersama memenggal penjajah, kala
bersama menggenggam merdeka, dan bersama menunggang garuda. Semua entah berserakannya,
kita tanyakan saja pada kita jangan kepada-Nya.
Jogja 05
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.