Oleh: Wardhy Liela
Adakah yang
mengira tentang hadirnya pagi ketika aku sedang menikmati gulitanya malam ?
Demikian seberapa percaya manusia terhadap Maha Kuasa Tuhan ? Ketika seorang
gadis terperanjat dengan sebuah kehidupan baru, dan harus bertahan dengan
bermacam cara. Dan bila aku pun harus terjatuh pada suatu ranjau dunia. Namun
masih tetap berusaha bertahan. “Bermimpilah setinggi langit, maka jika kau
terjatuh akan jatuh di antara bintang-bintang.” Saat kedua orang tuaku
mewariskan nama Liela, maka pada saat itu aku pun mencoba menanam mimpi yang
tidak sengaja. Mimpi yang wajib menjadi nyata. Mimpiku adalah menjadi orang
yang berpendidikan. Kehidupan yang aku lalui terlalu kelam. Kekelaman yang terus
menguasaiku. Namun, aku terus mencoba menepis letih demi melawan kerasnya
hidup.
Seperti siput yang
hendak mengejar singa berlari. Aku terus mengejar mimpi yang rasanya sudah
abadi. Aku hidup seorang diri. Guru pertama yang biasanya setia membimbing
anaknya kini telah tiada semua. Orang yang melahirkan diriku ke dunia telah
tiada setelah berselang satu hari sejak aku melihat kehidupan. Nama ibu ku
adalah Rati. Ayah ku pun meninggalkan aku saat aku masih duduk di bangku kelas
tiga sekolah dasar. Ia menghadap Yang Maha Kuasa dengan sebuah pelantara jatuh dari
pohon siwalan. Pada saat itu Ayah ingin mengambil Bhulerhek untuk
dijadikan tikar dan dijual. Ayah sering membuat tikar dari pohon siwalan untuk
dijual sebagai penyokong kehidupan material keluarga.
Sejak kejadian itu
pula aku diasuh oleh Salma, saudara kandung Ayah ku. Tante Salma lah yang
membiayai kehidupanku termasuk biaya pendidikanku sampai aku selesai sekolah
SMA. Akan tetapi setelah aku lulus, Tante memberiku dua pilihan masa depan.
Pilihan yang pertama aku harus menikah. Pilihan kedua aku melanjutkan kuliah.
Namun jika aku kuliah, aku harus mencari biaya pendidikan sendiri. Akan tetapi
kalau aku menikah, Tante siap untuk menanggung biayanya. Lantas di usianya yang
semakin menua sudah tidak sanggup untuk membiayai kehidupanku lagi.
Aku sebagai siswa yang telah dua kali berturut-turut
dinobatkan menjadi siswa teladan. Jadi aku memilih untuk kuliah. Aku ikut tes
beasiswa penuh yang diadakan oleh salah satu kampus swasta di Jogjakarta. Akhirnya
aku pun lolos seleksi. Aku menjadi salah satu peserta penerima beasiswa dari Madura,
yang hanya diambil sepuluh orang itu. Awalnya aku merasa berat melepas kampung halaman
Madura. Lantaran aku memiliki seseorang uang menjadi pergantungan jiwa. Namanya
adalah Muslim.
Tersebab kedewasaan
yang mendasari kebersamaan kami. Maka perpisahan tidak disebut sebuah
perpisahan. Kami menyepakatinya dengan sebutan kerinduan. Karena memang benar
ini hanya akan menjadi rindu bagiku dan bagi Muslim juga. Kita akan sama-sama
merindu dengan begitu lama.
***
Dua tahun telah
gugur tanpa disengaja. Aku tidak pernah pulang ke Madura. Namun bukan lantas
aku sudah tidak memiliki rindu. Rinduku pun sudah mengalahkan Himalaya. Aku selalu
meneteskan air mata ketika mengenang rindu kepada orang-orang dan kepada tanah
asin ku Madura. Aku sangat berharap bisa mengecup nisan kedua orang tua ku. Sayang,
aku tidak memiliki uang. HP ku sudah aku jual setengah tahun yang lalu. Program
beasiswaku disini tidak lancar. Aku hanya sekedar mendapatkan kuliah gratis dan
asrama yang tidak membayar. Untuk biaya hidup yang pernah dijanjikan, terpaksa
aku harus mencari sendiri. Karena, aku tidak punya sandaran.
Langit seakan
kelabu menyelimuti duniaku. Aku sudah cukup banyak memiliki hutang kepada teman-teman
yang juga dari Madura. Maka untuk
berhutang lagi, aku merasa tidak nyaman. Apa lagi harus meminta kepada Bibi
yang ada di Madura, pastilah semakin tidak enak. Meskipun sebenarnya hanya dia
keluarga yang sangat menyayangiku. Namun, sekarang ia sudah jatuh bangkrut, ia
tidak sekaya dulu lagi.
Begitu miris
kehidupan yang harus aku lalui. Aku harus menempuhnya demi tercapainya sebuah
mimpi. Sejak pertengahan semester dua, aku mencoba mencari pekerjaan. Aku merasa
terpasung ditengah liberalnya kota Jogja. Bagiku kota Jogja sudah tidak bisa
disamakan dengan Madura. Di sini wanita dewasa memakai rok anak SD sudah
mengepung mata. Laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya berkeliaran saling
bergandeng. Entah, bagaimana harus melawan karang kehidupan yang sepert ini. Maka
ku putuskan niat sebisanya untuk menjadi badai dan ombak. Aku tetap berusaha
melunakkan karang kehidupan.
Aku bekerja di
sebuah toko dengan mendapat imbalan gaji sebesar satu juta perbulan. Nasib finansialku
sudah semakin berubah kearah yang lebih baik. Aku mampu melunasi semua hutang-hutang
ku kepada teman-teman yang sudah lama menumpuk. Aku sudah merasa lebih nyaman
dan legah bernafas. Saat ini aku sudah sedikit merasa tidak kesulitan lagi
mempertahankan detak jantung yang pernah hampir terputus gara-gara tidak makan
selama dua hari. Ya, ini adalah kesalahanku yang bermimpi terlalu tinggi.
Lantaran sebuah
cita-cita untuk tetap mengajar pendidikan meski tidak punya biaya, Maka aku
seperti sudah masuk ke ranjau kehidupan. Aku sudah terjebak, dilema antara
program manis mengatas namakan beasiswa penuh dan keinginanku untuk mengejar
pendidikan.
Bianglala berjuta
warna melengkung abadi di ufuk cakrawala. Langit membahasakan hujan pada bumi. Kalimat
hati tak sempat terbaca oleh sebagian insan Tuhan. kemarau sudah berlalu. Perubahan
musim terjadi bergantian secara setia mewarnai dunia. Ini termasuk perubahan
yang terjadi pada diriku pula. Aku sudah lima bulan lebih melepas kerudung yang
dahulunya selalu menyantik di wajah. Pun entah keberapa raka’at yang aku
tinggalkan disetiap waktu saatnya.
Madura seperti
terkelupas dari tubuhku. Aku memang tidak berdasar beton yang kuat iman untuk
menahan arus global liberalis. Pergaulanku dengan rekan kerja sangat menjadi faktor
yang nomor satu terjadinya perubahan pada diriku ini. Mereka selalu mengataiku
dengan bahasa yang tidak sedap ketika aku memakai rok panjang dan kerudung yang
membungkus wajahku. Seperti tidak punya kekuatan untuk melibas gunjingan
mereka. Maka aku putuskan untuk melepas pakaian yang menurut mereka terlalu
kolot. Sangat sulit memang, menahan dengan kental kebudayaan ditengah bebasnya
kota. Aku mulai merasa gengsi bila harus memakai pakaian warisan Madura. Aku
sudah mulai belajar bolos. Hal itu terbukti dari jeleknya nilai IP aku.
Deru kendaraan
lalulalang membisingkan kepala. Sementara kerinduan sudah mulai terciut. Perasaan
kangen kepada Muslim tiba-tiba saja hadir seberat gunung. Aku sudah lama tidak
bersua dengannya. Kerinduan yang menetaskan kegelisahan dan kecurigaan. Aku mulai
curiga, karena pastilah Muslim mendapatkan pacar baru di kampusnya di Madura. Entah
ini karena apa, aku sudah merasa diriku bukan seorang Liela yang dulu. Mungkin keraguan
ini berasal dari karena aku sudah dekat dengan pemuda anak Jakarta itu. Ini adalah
bisik hati yang mengaung dikerinduanku pada muslim.
Di sini memang aku
banyak yang mendekati, rata-rata itu adalah rekan kerjaku. Kepolosan yang
menganggun di wajahku sudah menarik beberapa hati laki-laki untuk berdekatan
denganku. Namun, bagiku hanya satu orang yang aku anggap baik. Dia adalah
Kamil. Dia dari Jakarta. Aku menganggap dia baik, karena dia sedikit lebih
tanpan dibanding cowok-cowok yang mendekatiku dari kemarin.
Kamil sudah banyak
menyita hatiku dengan segala perhatiannya kepadaku. Setelah setengah bulan aku
dan kamil sering jalan bareng dan selalu berdekatan, kamil pun mulai menyatakan
perasaannya kepadaku. Aku tak kuasa dan bergeming. Aku langsung menerima
perasaannya, karena aku memang juga merasakan hal yang sama. Begitulah hati
seorang wanita bila diberi sebuah perhatian oleh laki-laki. Aku telah berani
menghianti cinta pertamaku di Madura. Aku menghianati dengan sebuah ketidak
jelasan hubungan. Aku menyembunyi.
Andai Muslim tahu
tentang keadaan ku yang sekarang, pastilah dia akan sangat marah dan membenciku.
Dia pasti akan menangis, lantaran hatinya yang tulus sudah terhianati. Muslim
akan hancur hatinya berpuing-berpuing. Ia tidak akan bisa menerima kenyataan.
Namun aku sudah
terlalu yakin. Aku tidak juga bersalah dalam hal ini. Aku hanya ingin menyapu
sebuah kesepian tanpa kekasih. Bagiku cinta yang tanpa kebersamaan sangat tidak
tepat. Aku butuh pelangi untuk mendatangkan hujan, kala terik membakar sunyiku
yang sendiri tanpa kekasih. Bagiku, aku dan Muslim telah sama-sama salah. Bahasa
hati adalah bahasa yang tanpa bahasa. Hati akan membahasakan dengan kebisuan
ketika sudah merasakan sindrom baru yang melebihi rasa sebelumnya. Dia akan
tuli dengan sendirinya. Seperti itulah hati sepasang kekasih.
***
Hujan mengguyur Februari
di tengah keramayan kota Jogja. Rintiknya begitu kejam membawa dingin setiap
malam. Malam minggu telah pucat menahan
dingin. Tak terasa pekiknya berlalu begitu saja. Aku melipat tangan melingkar
di dada. Hanya untuk mengatasi dingin yang jahat ini. Aku lupa tidak membawa
jaket. Aku pun tidak meramalkan turunnya hujan malam. Karenanya-lah aku harus
tertahan di kontrakan Kamil.
“Aku buatin kamu teh
hangat ya? Kamu pati kedinginan kan… Tunggu.!” Kamil langsung bergegas menuju
dapurnya sembari ia menyelimutkan jaket miliknya ke sebagian tubuhku. Suara gelas-gelas
beradu, menyiratkan bahwa dia sedang membuat teh.
Setelah aku
meneguk teh yang hangatnya hangat kuku, Tubuhku pun akhirnya sudah merasa lebih
hangat. Dingin sudah ada yang lari terpingkal-pingkal karena hangatnya teh yang
dibuat oleh seorang kekasih. Dinginnya hujan yang lari, ternyata terganti
dengan dingin yang lain. Tatapan mata Kamil yang dingin begitu tenang aku nikmati. Mataku pun akhirnya tidak kalah
dingin untuk membalas kedinginan mata Kamil.
Aku merasa ada
aliran listrik yang mulai menjalar di balik kulitku ketika jemari Kamil
menyentuh sebagian leher dan telingaku. Wajahnya semakin dekat ke wajahku. Aku kehilangan
daya. Mata mulai aku tutup, memasrahkan apa yang akan terjadi. Aku merasakan
bibirnya mulai menyentuh bibirku. Sementara suara pentir diluar beradu gemuruh
dengan degup jantungku yang berantakan.
Kokok ayam
bersahutan. Kumandang adzan subuh berlalu begitu saja. Semburat cahaya sang
surya membias dari jendela kamar Kamil. Nampak dari dalam kmar aku dan Kamil
terlelap. Seperti tidak begitu terpengaruh terik matahari bagiku, sampai aku
tidak terbangun. Setelah dering HP ku berbunyi, ada yang menelepon. Aku pun
mulai terbangun. Mataku terperangah. Otak mulai mengeja-eja kejadian apa yang
terjadi semalam. Kenapa aku bisa telanjang dan tidur dengan seorang pria yang
bukan suami ku. Aku mulai mengisak. Air mata jatuh tidak terasa.
Aku masih tidak
percaya bahwa hujan telah menenggelamkan tubuhku dalam dinginnya. Aku telah
kehilangan kewanitaanku. Mahkota paling mulia dalam diri wanita sudah terhanyut
arus sungai karena hujan semalam begitu deras di tubuhku. Kini aku sudah tidak
mampu menahan sedih yang tak berdaya. Derai air mata terus ku usahakan untuk
menghanyutkan segala penyesalan. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku pergi
meninggalkan kontrakan Kamil tanpa harus memberitahunya. Kamil masih terlelap.
Jalanan menyiratkan
duka atas hilangnya pamor dalam diriku. Pada saat itu aku sangat membenci
Kamil. Aku berhenti bekerja, dan aku ganti nomor teleponku. Aku sangat tidak
ingin berhubungan lagi dengan laki-laki kotor itu. Namun berfikir dalam tangis,
“masih adakah laki-laki bersih yang mau dengan ku.?”
Hatiku terhantui
oleh pertanyaan-pertanyaan batin. Aku tergurat kesedihan yang mendalam. Lantaran
dosa pada pada Tuhan, pada agama, pada cintaku, dan pada diriku sendiri. Entah dengan
cara bagaimana aku harus menebus dosa terbesar yang sangat dilarang oleh agama ku.
Pada saat itu aku pun hilang kendali. Aku hanya terus bertaubat. Aku kembali
beribadah seperti dahulu waktu masih berada di bumi Madura.
Setelah berkian
tahun aku menata kehidupan baru. Aku mencoba kembali menjadi masyarakat yang
terisolasi. Aku mencoba menghubungi Muslim. Aku ingin tahu kabar dia. Bagaimana
dia dengan pacar barunya. Atau mungkin dia sudah menikah, sebagaimana adat
Madura pada umumnya yang sangat takut akan persoalan dosa terbesar.
“Halo.. ini
muslim?” Sapaku untuk menanyakan benar atau tidak orang yang aku telepon adalah
Muslim.
“Iya. Aku kenal
suara ini, hehe. Pasti Liela kan? Bagaimana kabarmu sayang? Bile molea1?
sengko’ kerrong ka be’na2.” Muslim dengan logat maduranya
langsung merespon telepon ku. Suaranya mambuat aku bungkam berjuta bahasa. Aku hanya
bisa diam. Aku membahasakan dengan air mata.
Aku tidak
menyangka bahwa kekuatan cinta yang dimiliki oleh kekasihku sangat karang
sekali. Cintanya benar-benar menjadi purnama yang sempurna. Keinginannya untuk
menerangi malamku begitu tulus. Kesetiaan yang dirajut kekasihku selama tiga
tahun setengah lamanya, masih terjaga dan tak layu dimakan waktu.
Hanya saja ketulusan
dari sebelah sisi hati, kini telah kusut. Hatiku lapuk menahan rindu. Hatiku tiba-tiba
karam di pelabuhan rindu menuju dermaga kebersamaan. Cintaku telah gugur
ditelan jarak. Penafsiranku terhadap sang surya yang tidak akan bersinar lagi
esok hari, ternyata telah salah. Padahal matahari masih begitu setia, meskipun
malam dia selalu menitip cahayanya pada bulan untuk menerangiku. Kehadiran cahaya
itu telah aku kelabukan dengan mendung tebal yang menghadirkan hujan malam
minggu.
Kini aku
benar-benar dilema. Aku gamang tanpa pondasi. Antara menyakiti Muslim dengan
kejujuran, atau membohonginya dengan kenyataan. Aku memasrahkan segalanya
kepada Tuhan Yang Maha Mengerti. Tersebab hanya Dia yang akan mampu menafsirkan
dan memaafkan segala dosa yang telah aku perbuat selama ini. Harapanku adalah,
laki-laki yang aku sayang bisa menerima aku apa adanya. Meski wanitanya telah
tak bermahkotakan lagi. Aku selalu berdoa, memutar cinta hanya kepada Muslim
yang sangat aku sayangi. Tapi aku masih dengan bohongku. Wassalam..
Catatan:
1. Bile molea: Kapan Mau pulang. Berasal dari bahasa Madura.
2. sengko’ kerrong ka be’na: AKu kangen sama kamu. Bahasa Madura.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.