Jumat, 01 Mei 2015

CERITA HUJAN DI LANGIT JOGJA


Oleh: Wardhy Liela
            Adakah yang mengira tentang hadirnya pagi ketika aku sedang menikmati gulitanya malam ? Demikian seberapa percaya manusia terhadap Maha Kuasa Tuhan ? Ketika seorang gadis terperanjat dengan sebuah kehidupan baru, dan harus bertahan dengan bermacam cara. Dan bila aku pun harus terjatuh pada suatu ranjau dunia. Namun masih tetap berusaha bertahan. “Bermimpilah setinggi langit, maka jika kau terjatuh akan jatuh di antara bintang-bintang.” Saat kedua orang tuaku mewariskan nama Liela, maka pada saat itu aku pun mencoba menanam mimpi yang tidak sengaja. Mimpi yang wajib menjadi nyata. Mimpiku adalah menjadi orang yang berpendidikan. Kehidupan yang aku lalui terlalu kelam. Kekelaman yang terus menguasaiku. Namun, aku terus mencoba menepis letih demi melawan kerasnya hidup.
            Seperti siput yang hendak mengejar singa berlari. Aku terus mengejar mimpi yang rasanya sudah abadi. Aku hidup seorang diri. Guru pertama yang biasanya setia membimbing anaknya kini telah tiada semua. Orang yang melahirkan diriku ke dunia telah tiada setelah berselang satu hari sejak aku melihat kehidupan. Nama ibu ku adalah Rati. Ayah ku pun meninggalkan aku saat aku masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Ia menghadap Yang Maha Kuasa dengan sebuah pelantara jatuh dari pohon siwalan. Pada saat itu Ayah ingin mengambil Bhulerhek untuk dijadikan tikar dan dijual. Ayah sering membuat tikar dari pohon siwalan untuk dijual sebagai penyokong kehidupan material keluarga.
            Sejak kejadian itu pula aku diasuh oleh Salma, saudara kandung Ayah ku. Tante Salma lah yang membiayai kehidupanku termasuk biaya pendidikanku sampai aku selesai sekolah SMA. Akan tetapi setelah aku lulus, Tante memberiku dua pilihan masa depan. Pilihan yang pertama aku harus menikah. Pilihan kedua aku melanjutkan kuliah. Namun jika aku kuliah, aku harus mencari biaya pendidikan sendiri. Akan tetapi kalau aku menikah, Tante siap untuk menanggung biayanya. Lantas di usianya yang semakin menua sudah tidak sanggup untuk membiayai kehidupanku lagi.
            Aku sebagai siswa yang telah dua kali berturut-turut dinobatkan menjadi siswa teladan. Jadi aku memilih untuk kuliah. Aku ikut tes beasiswa penuh yang diadakan oleh salah satu kampus swasta di Jogjakarta. Akhirnya aku pun lolos seleksi. Aku menjadi salah satu peserta penerima beasiswa dari Madura, yang hanya diambil sepuluh orang itu. Awalnya aku merasa berat melepas kampung halaman Madura. Lantaran aku memiliki seseorang uang menjadi pergantungan jiwa. Namanya adalah Muslim.
            Tersebab kedewasaan yang mendasari kebersamaan kami. Maka perpisahan tidak disebut sebuah perpisahan. Kami menyepakatinya dengan sebutan kerinduan. Karena memang benar ini hanya akan menjadi rindu bagiku dan bagi Muslim juga. Kita akan sama-sama merindu dengan begitu lama.
***
            Dua tahun telah gugur tanpa disengaja. Aku tidak pernah pulang ke Madura. Namun bukan lantas aku sudah tidak memiliki rindu. Rinduku pun sudah mengalahkan Himalaya. Aku selalu meneteskan air mata ketika mengenang rindu kepada orang-orang dan kepada tanah asin ku Madura. Aku sangat berharap bisa mengecup nisan kedua orang tua ku. Sayang, aku tidak memiliki uang. HP ku sudah aku jual setengah tahun yang lalu. Program beasiswaku disini tidak lancar. Aku hanya sekedar mendapatkan kuliah gratis dan asrama yang tidak membayar. Untuk biaya hidup yang pernah dijanjikan, terpaksa aku harus mencari sendiri. Karena, aku tidak punya sandaran.
            Langit seakan kelabu menyelimuti duniaku. Aku sudah cukup banyak memiliki hutang kepada teman-teman yang juga dari Madura.  Maka untuk berhutang lagi, aku merasa tidak nyaman. Apa lagi harus meminta kepada Bibi yang ada di Madura, pastilah semakin tidak enak. Meskipun sebenarnya hanya dia keluarga yang sangat menyayangiku. Namun, sekarang ia sudah jatuh bangkrut, ia tidak sekaya dulu lagi.
            Begitu miris kehidupan yang harus aku lalui. Aku harus menempuhnya demi tercapainya sebuah mimpi. Sejak pertengahan semester dua, aku mencoba mencari pekerjaan. Aku merasa terpasung ditengah liberalnya kota Jogja. Bagiku kota Jogja sudah tidak bisa disamakan dengan Madura. Di sini wanita dewasa memakai rok anak SD sudah mengepung mata. Laki-laki dan wanita yang bukan muhrimnya berkeliaran saling bergandeng. Entah, bagaimana harus melawan karang kehidupan yang sepert ini. Maka ku putuskan niat sebisanya untuk menjadi badai dan ombak. Aku tetap berusaha melunakkan karang kehidupan.
            Aku bekerja di sebuah toko dengan mendapat imbalan gaji sebesar satu juta perbulan. Nasib finansialku sudah semakin berubah kearah yang lebih baik. Aku mampu melunasi semua hutang-hutang ku kepada teman-teman yang sudah lama menumpuk. Aku sudah merasa lebih nyaman dan legah bernafas. Saat ini aku sudah sedikit merasa tidak kesulitan lagi mempertahankan detak jantung yang pernah hampir terputus gara-gara tidak makan selama dua hari. Ya, ini adalah kesalahanku yang bermimpi terlalu tinggi.
            Lantaran sebuah cita-cita untuk tetap mengajar pendidikan meski tidak punya biaya, Maka aku seperti sudah masuk ke ranjau kehidupan. Aku sudah terjebak, dilema antara program manis mengatas namakan beasiswa penuh dan keinginanku untuk mengejar pendidikan.
            Bianglala berjuta warna melengkung abadi di ufuk cakrawala. Langit membahasakan hujan pada bumi. Kalimat hati tak sempat terbaca oleh sebagian insan Tuhan. kemarau sudah berlalu. Perubahan musim terjadi bergantian secara setia mewarnai dunia. Ini termasuk perubahan yang terjadi pada diriku pula. Aku sudah lima bulan lebih melepas kerudung yang dahulunya selalu menyantik di wajah. Pun entah keberapa raka’at yang aku tinggalkan disetiap waktu saatnya.
            Madura seperti terkelupas dari tubuhku. Aku memang tidak berdasar beton yang kuat iman untuk menahan arus global liberalis. Pergaulanku dengan rekan kerja sangat menjadi faktor yang nomor satu terjadinya perubahan pada diriku ini. Mereka selalu mengataiku dengan bahasa yang tidak sedap ketika aku memakai rok panjang dan kerudung yang membungkus wajahku. Seperti tidak punya kekuatan untuk melibas gunjingan mereka. Maka aku putuskan untuk melepas pakaian yang menurut mereka terlalu kolot. Sangat sulit memang, menahan dengan kental kebudayaan ditengah bebasnya kota. Aku mulai merasa gengsi bila harus memakai pakaian warisan Madura. Aku sudah mulai belajar bolos. Hal itu terbukti dari jeleknya nilai IP aku.
            Deru kendaraan lalulalang membisingkan kepala. Sementara kerinduan sudah mulai terciut. Perasaan kangen kepada Muslim tiba-tiba saja hadir seberat gunung. Aku sudah lama tidak bersua dengannya. Kerinduan yang menetaskan kegelisahan dan kecurigaan. Aku mulai curiga, karena pastilah Muslim mendapatkan pacar baru di kampusnya di Madura. Entah ini karena apa, aku sudah merasa diriku bukan seorang Liela yang dulu. Mungkin keraguan ini berasal dari karena aku sudah dekat dengan pemuda anak Jakarta itu. Ini adalah bisik hati yang mengaung dikerinduanku pada muslim.
            Di sini memang aku banyak yang mendekati, rata-rata itu adalah rekan kerjaku. Kepolosan yang menganggun di wajahku sudah menarik beberapa hati laki-laki untuk berdekatan denganku. Namun, bagiku hanya satu orang yang aku anggap baik. Dia adalah Kamil. Dia dari Jakarta. Aku menganggap dia baik, karena dia sedikit lebih tanpan dibanding cowok-cowok yang mendekatiku dari kemarin.
            Kamil sudah banyak menyita hatiku dengan segala perhatiannya kepadaku. Setelah setengah bulan aku dan kamil sering jalan bareng dan selalu berdekatan, kamil pun mulai menyatakan perasaannya kepadaku. Aku tak kuasa dan bergeming. Aku langsung menerima perasaannya, karena aku memang juga merasakan hal yang sama. Begitulah hati seorang wanita bila diberi sebuah perhatian oleh laki-laki. Aku telah berani menghianti cinta pertamaku di Madura. Aku menghianati dengan sebuah ketidak jelasan hubungan. Aku menyembunyi.
            Andai Muslim tahu tentang keadaan ku yang sekarang, pastilah dia akan sangat marah dan membenciku. Dia pasti akan menangis, lantaran hatinya yang tulus sudah terhianati. Muslim akan hancur hatinya berpuing-berpuing. Ia tidak akan bisa menerima kenyataan.
            Namun aku sudah terlalu yakin. Aku tidak juga bersalah dalam hal ini. Aku hanya ingin menyapu sebuah kesepian tanpa kekasih. Bagiku cinta yang tanpa kebersamaan sangat tidak tepat. Aku butuh pelangi untuk mendatangkan hujan, kala terik membakar sunyiku yang sendiri tanpa kekasih. Bagiku, aku dan Muslim telah sama-sama salah. Bahasa hati adalah bahasa yang tanpa bahasa. Hati akan membahasakan dengan kebisuan ketika sudah merasakan sindrom baru yang melebihi rasa sebelumnya. Dia akan tuli dengan sendirinya. Seperti itulah hati sepasang kekasih.
***
            Hujan mengguyur Februari di tengah keramayan kota Jogja. Rintiknya begitu kejam membawa dingin setiap malam.  Malam minggu telah pucat menahan dingin. Tak terasa pekiknya berlalu begitu saja. Aku melipat tangan melingkar di dada. Hanya untuk mengatasi dingin yang jahat ini. Aku lupa tidak membawa jaket. Aku pun tidak meramalkan turunnya hujan malam. Karenanya-lah aku harus tertahan di kontrakan Kamil.
            “Aku buatin kamu teh hangat ya? Kamu pati kedinginan kan… Tunggu.!” Kamil langsung bergegas menuju dapurnya sembari ia menyelimutkan jaket miliknya ke sebagian tubuhku. Suara gelas-gelas beradu, menyiratkan bahwa dia sedang membuat teh.
            Setelah aku meneguk teh yang hangatnya hangat kuku, Tubuhku pun akhirnya sudah merasa lebih hangat. Dingin sudah ada yang lari terpingkal-pingkal karena hangatnya teh yang dibuat oleh seorang kekasih. Dinginnya hujan yang lari, ternyata terganti dengan dingin yang lain. Tatapan mata Kamil yang dingin begitu tenang  aku nikmati. Mataku pun akhirnya tidak kalah dingin untuk membalas kedinginan mata Kamil.
            Aku merasa ada aliran listrik yang mulai menjalar di balik kulitku ketika jemari Kamil menyentuh sebagian leher dan telingaku. Wajahnya semakin dekat ke wajahku. Aku kehilangan daya. Mata mulai aku tutup, memasrahkan apa yang akan terjadi. Aku merasakan bibirnya mulai menyentuh bibirku. Sementara suara pentir diluar beradu gemuruh dengan degup jantungku yang berantakan.
            Kokok ayam bersahutan. Kumandang adzan subuh berlalu begitu saja. Semburat cahaya sang surya membias dari jendela kamar Kamil. Nampak dari dalam kmar aku dan Kamil terlelap. Seperti tidak begitu terpengaruh terik matahari bagiku, sampai aku tidak terbangun. Setelah dering HP ku berbunyi, ada yang menelepon. Aku pun mulai terbangun. Mataku terperangah. Otak mulai mengeja-eja kejadian apa yang terjadi semalam. Kenapa aku bisa telanjang dan tidur dengan seorang pria yang bukan suami ku. Aku mulai mengisak. Air mata jatuh tidak terasa.
            Aku masih tidak percaya bahwa hujan telah menenggelamkan tubuhku dalam dinginnya. Aku telah kehilangan kewanitaanku. Mahkota paling mulia dalam diri wanita sudah terhanyut arus sungai karena hujan semalam begitu deras di tubuhku. Kini aku sudah tidak mampu menahan sedih yang tak berdaya. Derai air mata terus ku usahakan untuk menghanyutkan segala penyesalan. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku pergi meninggalkan kontrakan Kamil tanpa harus memberitahunya. Kamil masih terlelap.
            Jalanan menyiratkan duka atas hilangnya pamor dalam diriku. Pada saat itu aku sangat membenci Kamil. Aku berhenti bekerja, dan aku ganti nomor teleponku. Aku sangat tidak ingin berhubungan lagi dengan laki-laki kotor itu. Namun berfikir dalam tangis, “masih adakah laki-laki bersih yang mau dengan ku.?”
            Hatiku terhantui oleh pertanyaan-pertanyaan batin. Aku tergurat kesedihan yang mendalam. Lantaran dosa pada pada Tuhan, pada agama, pada cintaku, dan pada diriku sendiri. Entah dengan cara bagaimana aku harus menebus dosa terbesar yang sangat dilarang oleh agama ku. Pada saat itu aku pun hilang kendali. Aku hanya terus bertaubat. Aku kembali beribadah seperti dahulu waktu masih berada di bumi Madura.
            Setelah berkian tahun aku menata kehidupan baru. Aku mencoba kembali menjadi masyarakat yang terisolasi. Aku mencoba menghubungi Muslim. Aku ingin tahu kabar dia. Bagaimana dia dengan pacar barunya. Atau mungkin dia sudah menikah, sebagaimana adat Madura pada umumnya yang sangat takut akan persoalan dosa terbesar.
            “Halo.. ini muslim?” Sapaku untuk menanyakan benar atau tidak orang yang aku telepon adalah Muslim.
            “Iya. Aku kenal suara ini, hehe. Pasti Liela kan? Bagaimana kabarmu sayang? Bile molea1? sengko’ kerrong ka be’na2.” Muslim dengan logat maduranya langsung merespon telepon ku. Suaranya mambuat aku bungkam berjuta bahasa. Aku hanya bisa diam. Aku membahasakan dengan air mata.
            Aku tidak menyangka bahwa kekuatan cinta yang dimiliki oleh kekasihku sangat karang sekali. Cintanya benar-benar menjadi purnama yang sempurna. Keinginannya untuk menerangi malamku begitu tulus. Kesetiaan yang dirajut kekasihku selama tiga tahun setengah lamanya, masih terjaga dan tak layu dimakan waktu.
            Hanya saja ketulusan dari sebelah sisi hati, kini telah kusut. Hatiku lapuk menahan rindu. Hatiku tiba-tiba karam di pelabuhan rindu menuju dermaga kebersamaan. Cintaku telah gugur ditelan jarak. Penafsiranku terhadap sang surya yang tidak akan bersinar lagi esok hari, ternyata telah salah. Padahal matahari masih begitu setia, meskipun malam dia selalu menitip cahayanya pada bulan untuk menerangiku. Kehadiran cahaya itu telah aku kelabukan dengan mendung tebal yang menghadirkan hujan malam minggu.

            Kini aku benar-benar dilema. Aku gamang tanpa pondasi. Antara menyakiti Muslim dengan kejujuran, atau membohonginya dengan kenyataan. Aku memasrahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Mengerti. Tersebab hanya Dia yang akan mampu menafsirkan dan memaafkan segala dosa yang telah aku perbuat selama ini. Harapanku adalah, laki-laki yang aku sayang bisa menerima aku apa adanya. Meski wanitanya telah tak bermahkotakan lagi. Aku selalu berdoa, memutar cinta hanya kepada Muslim yang sangat aku sayangi. Tapi aku masih dengan bohongku. Wassalam..

Catatan:
1. Bile molea: Kapan Mau pulang. Berasal dari bahasa Madura.
2. sengko’ kerrong ka be’na: AKu kangen sama kamu. Bahasa Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.