Oleh:
Opank-Wardhy
Kami
hanya ingin bercerita. Kami adalah penerima beasiswa penuh, yang mengatasnamakan Laskar Pelangi dan Laskar Super Mantap. Kami berasal dari daerah
sumenep. Tepat pada tahun 2013 dan 2014 yang lalu, kami diberangkatkan ke Kota
Jogjakarta untuk menimbah ilmu di sana. Segenap hati begitu senang, haru, dan
tangis bahagia tak suangkan-sungkan pecah dari kami selaku penerima beasiswa. Sebuah
hadiah permata yang diberikan oleh bumi Sumenep kepada kami, sampai niat
berdusta pun disitu tidak terlintas dari saking tersanjungnya kami. Bahkan
berkali-kali, sampai tidak ternominal oleh uang untuk membayar kepada Tuhan,
kepada bumi Sumenep, dan kepada pemangku jabatan di Kabupaten Sumenep atas
kebahagiaan ini, tak kuasa kami tumpas. Anugerah terindah.
Beasiswa
penuh itu diberikan oleh PT.Titis Sampurna. Salah satu perusahaan minyak yang
sudah banyak beroprasi di beberapa daerah di Indonesia. Seperti yang dikutip
dari media Kompasiana.com pada hari
Senin, 30 September 2013, bahwa Bapak Dicky Achmad Gustyana selaku Presiden
Direktur PT. Titis Sampurna, menyatakan ketidak raguannya untuk memberikan
sumbangsih pada pembangunan daerah, yang salah satunya adalah pembangunan di
bidang pendidikan. Dengan cara memberikan program beasiswa penuh bagi 10
putera-puteri terbaik dari Kabupaten Sumenep untuk menempuh pendidikan sarjana
di UP45 Yogyakarta. Mengapa beasiswa penuh itu diberikan kepada kami yang berasal
dari daerah Sumenep? Karena PT. Titis Sampurna ingin mengeksplorasi kekayaan
alam di daerah Sumenep, yang dalam hal ini adalah Minyak dan Gas (MIGAS). Demi tercapainya
pengeksplorasian PT. Titis di Sumenep, dibentuklah sebuah kerjasama dengan
pihak BUMD dan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumenep, guna menge-golkan proyek
berharganya. Sekilas.
Terlepas.
Kami pun resmi disekolahkan dengan gratis oleh PT. Titis Sampurna di perguruan
tinggi Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta, yang merupakan salah satu universitas swasta yang bergelut dalam dunia perminyakan, yang ada di Yogyakarta.
Tentunya atas sebuah dasar adanya Memorandum
of Understanding yang dibuat oleh PT. Titis, Pemda Sumenep, BUMD Sumenep,
dan UP45 Yogyakarta.
Kami
dibebaskan dari biaya apapun, di antaranya adalah bebas biaya kampus, bebas
biaya penginapan atau tempat tinggal, mendapatkan biaya hidup sebesar Rp.
750.000,- per-bulan, dan mendapat fasilitas belajar. Tapi kami tidak boleh
memiliki nilai rendah. Kami jangan sibuk mencari kerja. Kami harus fokus
kuliah. Itu semua untuk menunjang proses belajar kita, dan itu pula sudah
tertampung dalam perjanjian manis beasiswa penuh selama kami mengenyam
pendidikan S1. Sungguh lezat suguhan hak yang diberikan pada kami. Sungguh
sepantas dengan kewajiban yang harus kami lalui dengan hati suci. Dan pada
akhirnya kami tekat melanggar, diantara kami ada yang bekerja demi memacu
jantungnya agar tetap berdetak.
Program
beasiswa penuh yang sudah berjalan 2 tahun itu, “merupakan putra-putri terbaik
Sumenep.” Katanya. Kami merasa daun telinga kami tambah lebar. Ditambah
sambutan Bapak Bupati ketika saat hendak melepas kami di halaman gedung PT. Wus
Sumenep, menambah gendang telinga kami mengaung bahagia. Semua itu masih terngiang
indah sampai saat ini.
Pada
saat itulah, kami yakin dengan kami berangkat mengenyam pendidikan khususnya
dalam dunia perminyakan, nantinya akan berkontribusi penuh dalam perubahan Sumenep
yang lebih maju, khususnya dalam mengelola hasil Sumber Daya Alam kita sendiri ;Harapan yang
tak sekedar impian.
Bulan
kembali terhitung yang entah keberapanya terlalui oleh kami selaku penerima
beasiswa. Menunggui yang tertulis indah diatas kertas putih perjanjian, tentang
hak dan kewajiban. Pada saat itu kami mencoba merenung, menerka sebuah
kepastian semu. Tidak ada malam tidak ada siang untuk memanjat doa-doa. Ya,
harapan kami adalah beasiswa ini lancar tak tersendat, seperti halnya kami
melakoni setiap kewajiban tanpa merasa tersuntik lelah.
Dari
perjalanan kami dari Kos Putera menuju kampus UP45, bukanlah sebuah perjalanan
dengan jarak tempuh yang dekat bagi seorang pejalan kaki. Di bawah terik
matahari, kami injak aspal yang sudah setengah hari terbakar sang surya demi
menuju kampus dan memetik ilmu pengetahuannya, yang esok akan kami suapkan
untuk Sumenep. Maka lelah kami tepis jauh-jauh. Karena kami sadar, kami
terlahir dari rahim petani. Kulit kami telah legam di musim tembakau di tengah
tanah kerontang Madura. Semangat kami tidak pernah lapuk di musim hujan.
Tangis
yang selanjutnya adalah tangisan perut kami. Bagi kami adalah tangisan paling
ikhlas dan tulus. Tangis manja karena lapar tidak makan seharian. Berfikir
menjawab soal, membaca buku-buku, berjalan ke Kampus, sungguh bukan hal yang
mudah untuk kami lalui dengan perut keroncong. Makan di malam hari harus kuat
sampai malam hari lagi. Uang kami yang katanya akan diberikan kepada kami
setiap bulan sebagai biaya hidup, tinggal sebuah istilah ditelan usia. Kami
tidak mendapatkannya. Biaya kuliah tertunggak jutaan rupiah ke kampus.
Tunggakan asrama berbulan-bulan tak terbayar. Tunggakan energi yang menghidupi
tubuh tertelan bagai empedu.
Antara April dan Mei 2015.
Mengaung sebuah visual yang membuat
hati kami terenyuh. Mata kami terperangah, jiwa kami terperanjat menyaksikan
sebuah gambaran-gambaran dan kabar di tengah bara duka perasaan kami. Tak
jarang pemberitaan di negeri ini, Sumenep pada khususnya, menyiarkan
kebahagiaan bahwa Sumenep punya orang yang potensial. Orang yang tampil di
layar televisi di rumah-rumah rakyat Sumenep Madura. Bapak Bupati kami yang terlihat
senyum-senyum di dalam televisi, ikut pula mendukungnya. Pembaca cerita hati kami ini
pasti tahu yang kami maksud.
Lalu
sejenak kami berfikir. Ya, karena berfikir sudah menjadi kewajiban bagi kami,
itu pula tertuang dalam sebuah perjanjian beasiswa bahwa kami wajib berfikir.
Fikiran kami, kini tertuju pada sebuah keirian, itu adalah bahasa teman-teman
di facebook ketika kami mencoba mengutarakannya. Suatu keirian bagi kami,
karena biaya pendidikan tidak dimaksimalkan sebagaimana mestinya. Khususnya
beasiswa kami yang tidak dipecahkan kejelasan dan keberlanjutannya. Bahasa
tidak sopan kami membahasakan bahwa kami merasa terjerumus ke dalam sebuah
tirani kekuasaan perpolitikan. Itulah hasil fikiran kami yang sangat ingin kami
lepas kepada Pemerintah Sumenep, selaku bapak besar kami dan rakyat Sumenep.
Kami tidak menginginkan pembaca berada
dalam posisi kami. Kami tidak punya malu
mengutarakan tangisan hati di publik. Semua itu hanya sedikit cerita yang
menurut kami sangat penting untuk dijadikan pembelajaran saja. Bukan untuk
ditiru. Meski masih banyak lagi yang ingin kami sampaikan, tapi rasanya jiwa
kemaduraan kami telah menghalanginya cukup sampai disini. Tersebab pribahasa Abengkang e tengah lorong(telanjang di
tengah jalan) sudah kami langgar dengan lahirnya cerita kami ini. Yang terakhir
dari prnulis adalah penyampaian maaf kepada Madura, lantaran anak garammu tidak
sekaku pikulan dan tidak selentur benang. Wassalam..
#Jogjakarta 13 Mei
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.