Rabu, 13 Mei 2015

Surat Kecil Untuk (Pemda) Sumenep




Oleh: Opank-Wardhy
Kami hanya ingin bercerita. Kami adalah penerima beasiswa penuh, yang mengatasnamakan Laskar Pelangi dan Laskar Super Mantap. Kami berasal dari daerah sumenep. Tepat pada tahun 2013 dan 2014 yang lalu, kami diberangkatkan ke Kota Jogjakarta untuk menimbah ilmu di sana. Segenap hati begitu senang, haru, dan tangis bahagia tak suangkan-sungkan pecah dari kami selaku penerima beasiswa. Sebuah hadiah permata yang diberikan oleh bumi Sumenep kepada kami, sampai niat berdusta pun disitu tidak terlintas dari saking tersanjungnya kami. Bahkan berkali-kali, sampai tidak ternominal oleh uang untuk membayar kepada Tuhan, kepada bumi Sumenep, dan kepada pemangku jabatan di Kabupaten Sumenep atas kebahagiaan ini, tak kuasa kami tumpas. Anugerah terindah.
Beasiswa penuh itu diberikan oleh PT.Titis Sampurna. Salah satu perusahaan minyak yang sudah banyak beroprasi di beberapa daerah di Indonesia. Seperti yang dikutip dari media  Kompasiana.com pada hari Senin, 30 September 2013, bahwa Bapak Dicky Achmad Gustyana selaku Presiden Direktur PT. Titis Sampurna, menyatakan ketidak raguannya untuk memberikan sumbangsih pada pembangunan daerah, yang salah satunya adalah pembangunan di bidang pendidikan. Dengan cara memberikan program beasiswa penuh bagi 10 putera-puteri terbaik dari Kabupaten Sumenep untuk menempuh pendidikan sarjana di UP45 Yogyakarta. Mengapa beasiswa penuh itu diberikan kepada kami yang berasal dari daerah Sumenep? Karena PT. Titis Sampurna ingin mengeksplorasi kekayaan alam di daerah Sumenep, yang dalam hal ini adalah Minyak dan Gas (MIGAS). Demi tercapainya pengeksplorasian PT. Titis di Sumenep, dibentuklah sebuah kerjasama dengan pihak BUMD dan Pemerintah Daerah (Pemda) Sumenep, guna menge-golkan proyek berharganya. Sekilas.
Terlepas. Kami pun resmi disekolahkan dengan gratis oleh PT. Titis Sampurna di perguruan tinggi Universitas Proklamasi 45 (UP45) Yogyakarta, yang merupakan salah satu universitas swasta yang bergelut dalam dunia perminyakan, yang ada di Yogyakarta. Tentunya atas sebuah dasar adanya Memorandum of Understanding yang dibuat oleh PT. Titis, Pemda Sumenep, BUMD Sumenep, dan UP45 Yogyakarta.
Kami dibebaskan dari biaya apapun, di antaranya adalah bebas biaya kampus, bebas biaya penginapan atau tempat tinggal, mendapatkan biaya hidup sebesar Rp. 750.000,- per-bulan, dan mendapat fasilitas belajar. Tapi kami tidak boleh memiliki nilai rendah. Kami jangan sibuk mencari kerja. Kami harus fokus kuliah. Itu semua untuk menunjang proses belajar kita, dan itu pula sudah tertampung dalam perjanjian manis beasiswa penuh selama kami mengenyam pendidikan S1. Sungguh lezat suguhan hak yang diberikan pada kami. Sungguh sepantas dengan kewajiban yang harus kami lalui dengan hati suci. Dan pada akhirnya kami tekat melanggar, diantara kami ada yang bekerja demi memacu jantungnya agar tetap berdetak.
Program beasiswa penuh yang sudah berjalan 2 tahun itu, “merupakan putra-putri terbaik Sumenep.” Katanya. Kami merasa daun telinga kami tambah lebar. Ditambah sambutan Bapak Bupati ketika saat hendak melepas kami di halaman gedung PT. Wus Sumenep, menambah gendang telinga kami mengaung bahagia. Semua itu masih terngiang indah sampai saat ini.
Pada saat itulah, kami yakin dengan kami berangkat mengenyam pendidikan khususnya dalam dunia perminyakan, nantinya akan berkontribusi penuh dalam perubahan Sumenep yang lebih maju, khususnya dalam mengelola  hasil Sumber Daya Alam kita sendiri ;Harapan yang tak sekedar impian.
Bulan kembali terhitung yang entah keberapanya terlalui oleh kami selaku penerima beasiswa. Menunggui yang tertulis indah diatas kertas putih perjanjian, tentang hak dan kewajiban. Pada saat itu kami mencoba merenung, menerka sebuah kepastian semu. Tidak ada malam tidak ada siang untuk memanjat doa-doa. Ya, harapan kami adalah beasiswa ini lancar tak tersendat, seperti halnya kami melakoni setiap kewajiban tanpa merasa tersuntik lelah.
Dari perjalanan kami dari Kos Putera menuju kampus UP45, bukanlah sebuah perjalanan dengan jarak tempuh yang dekat bagi seorang pejalan kaki. Di bawah terik matahari, kami injak aspal yang sudah setengah hari terbakar sang surya demi menuju kampus dan memetik ilmu pengetahuannya, yang esok akan kami suapkan untuk Sumenep. Maka lelah kami tepis jauh-jauh. Karena kami sadar, kami terlahir dari rahim petani. Kulit kami telah legam di musim tembakau di tengah tanah kerontang Madura. Semangat kami tidak pernah lapuk di musim hujan.
Tangis yang selanjutnya adalah tangisan perut kami. Bagi kami adalah tangisan paling ikhlas dan tulus. Tangis manja karena lapar tidak makan seharian. Berfikir menjawab soal, membaca buku-buku, berjalan ke Kampus, sungguh bukan hal yang mudah untuk kami lalui dengan perut keroncong. Makan di malam hari harus kuat sampai malam hari lagi. Uang kami yang katanya akan diberikan kepada kami setiap bulan sebagai biaya hidup, tinggal sebuah istilah ditelan usia. Kami tidak mendapatkannya. Biaya kuliah tertunggak jutaan rupiah ke kampus. Tunggakan asrama berbulan-bulan tak terbayar. Tunggakan energi yang menghidupi tubuh tertelan bagai empedu.

Antara April dan Mei 2015.
            Mengaung sebuah visual yang membuat hati kami terenyuh. Mata kami terperangah, jiwa kami terperanjat menyaksikan sebuah gambaran-gambaran dan kabar di tengah bara duka perasaan kami. Tak jarang pemberitaan di negeri ini, Sumenep pada khususnya, menyiarkan kebahagiaan bahwa Sumenep punya orang yang potensial. Orang yang tampil di layar televisi di rumah-rumah rakyat Sumenep Madura. Bapak Bupati kami yang terlihat senyum-senyum di dalam televisi, ikut pula mendukungnya. Pembaca cerita hati kami ini pasti tahu yang kami maksud.
Lalu sejenak kami berfikir. Ya, karena berfikir sudah menjadi kewajiban bagi kami, itu pula tertuang dalam sebuah perjanjian beasiswa bahwa kami wajib berfikir. Fikiran kami, kini tertuju pada sebuah keirian, itu adalah bahasa teman-teman di facebook ketika kami mencoba mengutarakannya. Suatu keirian bagi kami, karena biaya pendidikan tidak dimaksimalkan sebagaimana mestinya. Khususnya beasiswa kami yang tidak dipecahkan kejelasan dan keberlanjutannya. Bahasa tidak sopan kami membahasakan bahwa kami merasa terjerumus ke dalam sebuah tirani kekuasaan perpolitikan. Itulah hasil fikiran kami yang sangat ingin kami lepas kepada Pemerintah Sumenep, selaku bapak besar kami dan rakyat Sumenep.
            Kami tidak menginginkan pembaca berada dalam posisi kami.  Kami tidak punya malu mengutarakan tangisan hati di publik. Semua itu hanya sedikit cerita yang menurut kami sangat penting untuk dijadikan pembelajaran saja. Bukan untuk ditiru. Meski masih banyak lagi yang ingin kami sampaikan, tapi rasanya jiwa kemaduraan kami telah menghalanginya cukup sampai disini. Tersebab pribahasa Abengkang e tengah lorong(telanjang di tengah jalan) sudah kami langgar dengan lahirnya cerita kami ini. Yang terakhir dari prnulis adalah penyampaian maaf kepada Madura, lantaran anak garammu tidak sekaku pikulan dan tidak selentur benang. Wassalam..
           
            #Jogjakarta 13 Mei

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.