;Sebuah Cerpen Untuk Penguasa
Malam itu tiga orang anak muda
sedang tidur pulas di ranjang rumah masing-masing. Dua orang berjenis kelamin
laki-laki. Satu orang berjenis kelamin perempuan. Tidak ada yang tahu tentang mimpi
mereka, selain Tuhan dan dirinya. Tiga anak muda itu bersahabat sudah lama
sekali. Sunahyu yang berambut keriting, berkulit hitam dan bertubuh kerempeng
pendek. Jumahna, bertubuh besar dan tinggi. Ruida, ia sering mengenakan
kerudung dan berkulit agak sedikit bersih.
Suasana kampung pedesaan yang arif,
mendidik karakter sosial mereka dengan pola
tengka1 yang lembut. Pendidikan-pendidikan di sekolah suasta
seperti Madrasah Ibtida’iyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah menyuntikkan
karakter keislaman di jiwa mereka. Bagi mereka kebersamaan adalah sesuatu yang
penting untuk dibangun. Khususnya dalam membangun mimpi-mimpi agar menjadi
nyata. Seperti halnya pepatah yang mengatakan bahwa satu lidi tidak kuat untuk
menyapu sampah yang berserakan, maka ia harus bersatu.
Terlalu banyak mimpi yang mereka
bangun, bak tebaran gemintang di langit malam yang tak terjumlahkan nilainya.
Ketiga sahabat itu sering menikmati malam bersama. Bermain di hamparan halaman
rumah masing-masing dengan bergiliran seperti aturan arisan ibu-ibu. Belajar di
bawah terang cahaya rembulan, membuka lelembaran buku dan menyelipakn ilmunya
di sebagian putaran otak.
Salah satu keinginan yang mereka
coba rajut adalah tentang keinginan untuk kuliah. Kuliah sudah menjadi susunan
teratas dari banyak mimpi mereka. Meski tidak semua mimpi harus dinyatakan oleh
Sunahyu, namun ia merasa mimpinya kali ini untuk selalu bersama dengan Jumahna
dan Ruida, menjadi kewajiban tersendiri untuk dia curhatkan. Ujian akhir
nasioanal di sekolahnya sebentar lagi akan ia lalui. Mereka akan menghadapi
tumpukan pertanyaan yang tertata di atas kertas putih. Mereka harus menjawabnya
dengan baik dan benar. Jika tidak, pastilah hambatan kelululusan akan memenggal
mimpi teratasnya.
Waktu terus berlalu, menuliskan
sejarah disetiap jejaknya. Tidak ada yang mampu menandingi keindahan dari
kebersamaan yang sudah mendarah daging itu. Tiga sahabat itu memiliki sapaan
akrab. Mereka tidak biasa memanggail nama masing-masing. Alasan logis mereka
adalah karena memang ingin lebih akrab. Sapaan khas tersendiri yang tidak boleh
dibagi dengan orang lain. Orang lain tidak boleh sama memanggil julukan akrab
mereka itu. Mereka sangat menjaga sebuah nama julukan dari persahabatannya.
Jumahna dipanggil Karteka. Sunahyu dipanggil Pajjer. Sedang Ruida dipanggil
Kembang karena dia seorang wanita.
***
Ujian akhir sudah mereka selesaikan
dengan baik. Udara dingin mereka hirup dengan tenang, meski tidak terlalu
tenang. Karena pengumuman kelulusan masih tinggal satu minggu lagi akan diumumkan.
Angin membelai wajah daun-daun di pagi muda. Sementara cericit anak burung
merengek kelaparan, menunggui sang induk yang mencarikannya makan diantara
dahan-dahan. Rupanya sang induk burung begitu perhatian. Ia tidak ingin anaknya
mati kelaparan. Betapa arif keluarga burung kecil itu. Sunahyu mulai berkata
dalam hati. Membayangkan betapa nasib keluarganya sangat melarat.
Kemelaratan yang sudah berkian lama
mencekik tenggorokan kehidupan Sunahyu. Salah satu cita-cita terindahnya adalah
untuk menyejaherah-kan keluarganya. Masnyarakat banyak pada umumnya. Maka bila
begitu ia musti harus berilmu. Sunahyu harus bisa kuliah. Ya, kuliah. Memang
itu bukan suaatu hal yang mudah. Orang untuk bisa kuliah harus memiliki banyak
modal yang cukup. Biaya pendidikan tidak mudah untuk mendapat yang gratis.
Begitulah yang terjadi di Negara Indonesia.
Sebagai anak kampung, Sunahyu selalu
berdoa dan meminta keikhlasan doa dari kedua orang tuanya agar bisa kuliah.
Sunahyu agak sedikit berbeda dengan teman-temannya yang lain. Suka
memperhatikan sesuatu yang kecil, yang dianggap kurang berharga menurut orang
lain. Entah, sesuatu yang tidak berharga itu selalu dianggap penting untuk
dituangkan dalam sebuah tulisan bagi Sunahyu. Menulis. Itulah kegemaran seorang
Sunahyu sejauh ini. Anak kampung yang lahir dari rahim petani, dengan profesi
yang melangkahi orang tuanya. Melangkahai dalam artian orang tuanya memegang
cangkul, sedang ia memegang pena dengan tinta hitamnya yang tertuang abadi di
atas kertas.
Sebauh anugerah dari Allah, kini ia
mendapat informasi bahwa ada salah satu kampus di Yogyakarta yang ingin mencari
siswa-siswi dari kabupaten Sumenep untuk menempuh pendidikan gratis di
Yogyakarta. Atau lebih pasnya, ada beasiswa yang disediakan bagi siswa-siswi
yang kurang mampu dengan lewat jalur tes dan jalur tulisan. Dengan sebuah
kerjasama pemerintah daerah setempat, salah satu perusahaan minyak dan kampus
tersebut.
Sunahyu mengabarinya kepada Jumahna
dan Ruida tentang adanya program dari salah satu kampus itu. Belas kasih Allah
dan doa orang tua mereka yang tulus akhirnya membawa mereka ke titik
keberhasilan mimpi yang mereka tata. Ketiga sahabat itu akhirnya lolos seleksi,
dan mereka bisa kuliah bersama di salah satu kampus di Jogjakarta. Jumahna dan
Ruida lolos dalam jalur tes. Dan untuk Sunahyu sendiri, ia lolos lewat jalur
tulisan esai yang ia buat. Ada jalur tulisan dengan membuat esai tentang Migas
di Sumenep.
Keluarga Sunahyu akhirnya merayakan
keberhasilan itu dengan tradisi ala Islamisasi Madura. Maklum, Madura memang
terkenal dengan masyarakatnya yang beragama Islam kebanyakan. Tepat pada malam
Senin. Malam dimana Sunahyu pertama melihat dunia. Segerombolan kiai dan tokoh
masyarakat mengaji di rumah Sunahyu. Itu adalah bentuk syukur kepada Tuhan.
Sebuah ritual yang biasa dilakukan oleh masyarakat Madura ketika berhasil
mencapai sesuatu. Atau pada saat mereka merasakan kenikmatan karunia Tuhan.
Malam Rabu adalah malam terakhir
untuk Sunahyu menikmati empuk kasur ranjang di rumahnya. Esok ia akan bergegas.
Ia akan hidup terpisah jauh dengan keluarganya di Madura. Damar Kambheng2 yang berpijar terang menandakan sebuah
ketenangan, dan Isya Allah adalah kebahagiaan. Begitulah masyarakat Madura
meradar sebuah kehidupan lewat Damar
Kambheng.
Keindahan tersirat berbungkus tangis
bahagia. Bimbang pun bukan tidak ada di hati seorang orang tua. Bapak dan Ibu
Sunahyu merasakannya. Sebuah kebimbangan yang tidak bisa dia ikhlaskan saat
melepas putera keduanya mengejar pendidikan segitu jauhnya. Tubuh kecil hitam
kerempeng pemuda desa, rasanya memang masih tidak pantas untuk berkelana sejauh
itu. Sekedar harapan, semoga mampu Sunahyu hidup di kota metropolitan nanti.
***
Setengah tahun sudah kehidupan tiga sahabat
itu di kota Jogja. Karteka, Pajjer, dan Kembang yang perparas cantik, merasa ada
yang berbeda. Mereka merasakan sebuah kepalsuan. Palsunya sebuah surat
perjanjian yang mereka tanda tangani. Entah, ini adalah sebuah ujian yang harus
membuat mereka tabah hati. Cita-citanya untuk belajar hingga kelak menjadi
orang hebat, sementara ini tiba-tiba menjadi semu.
“Jar kamu nggak merasakan hal yang
mencekam ya, dengan adanya beasiswa ini?” Sapa Karteka kepada Pajjer yang
sedang duduk merenung di samping persawahan kampus. Persawahan di samping
kampus mereka telah menjadi tempat spesial.
“Iya kalau aku sih merasa begitu.
Akan tetapi.. entah lah, kita sabar dulu saja Kar. Betul nggak Kem?” Pajjer
mencoba menyuntikkan sebuah motivasi baru ke dalam darah semangat sahabatnya.
Ia tidak ingin nanti persahabatan mereka jadi terberai. Karena sikap Karteka
yang mudah bosan, kerap sekali ingin menyerah dan kembali ke kampung halamannya
saja katanya.
Kembang sendiri tampak merenung.
Seakan ia mengabaikan apa yang dibicarakan oleh sahabatnya. Tapi dia pasti
mendengar. Terlihat dari air wajahnya, bahwa hatinya tengah berkecamuk luka. Tiga
orang yang sama-sama terlahir dari rahim petani. Selama setengah tahun lebih
mereka meminta kiriman kepada orang tuanya yang ada di kampung halaman.
Lantaran uang untuk biaya hidup tidak turun. Mereka mendapat kiriman sebesar
dua ratus ribu per bulan. Sebuah nominal yang cukup sedikit untuk membiayai
kehidupan di Kota Jogja. Kota pendidikan, bukan desa yang relawan. Semuanya
harus serba uang.
Kehidupan yang mereka lalui dengan
uang dua ratus ribu rupiah untuk biaya hidup, dan masih dibagi lagi dengan
biaya ketika ada tugas-tugas, maka rasanya tidak mudah mempertahankan detak
jantung. Sepuluh orang dari Kota Sumenep, hanya mereka yang memang benar-benar
berasal dari keluarga kurang mampu. Ketujuh teman beasiswanya yang lain mungkin
tidak senasib. Hal itu terlihat dari cara mereka makan dan cara mereka
berkumpul. Sunahyu, Jumahna, dan Kembang belum pernah mencicipi kedai-kedai
malam di Jogja ini. Tempat mereka berkumpul adalah di tepi persawahan pada saat
sore hari. Kebiasaan mereka adalah menulis cerita. Cerita peribadi ataupun
cerita orang lain, sebisanya, tetap mereka tulis. Berbeda dengan sekawananya
yang tujuh orang yang sama-sama lahir dari perut garam Madura Sumenep. Mererka
adalah anak orang kaya. Tak jarang terlihat ketika mereka berkumpul di
kedai-kedai malam, yang menyediakan
banyak menu masakan enak dan lezat.
Goresan merah di ufuk cakrawala kala
senja, Sunahyu dan dua sahabat sejatinya kembali berkumpul di tepi sawa.
Menyaksikan burung-burung yang bertebangan bebas. Mendengar deru pesawat
terbang memusingkan. Sungguh tidak sama dengan di desa. Bahkan jangan coba
disamakan. Di desa tidak ada yang namanya pesawat dengan bunyinya yang begitu
nyaring. Sawah kota pun masih tidak sama dengan sawah di desa. Sawah kota lebih
terbatas lahannya. Sedang di desa masih sangat lebat dengan pepohonannya yang
rindang dan hijau.
“Aku rindu Desa Tamidung” Sunahyu
tiba-tiba membatin. Ia merasakan sebuah kerinduan akan kampung halamannya. Ia
berfikir tentang burung. Burung yang bisa terbang bebas, burung yang bisa
seenaknya mencari makan dimana saja. Sedang dirinya, kini merasa seperti burung
yang berada di dalam sangkar. Bagaimana burung di dalam sangkar? Ia akan makan
jika ada makanan yang tersedia atau disediakan oleh yang memlihara. Jika tidak,
ia akan memakan kotorannya sendiri supaya tetap bertahan hidup. Oh, nasib
burung di dalam sangkar.!!
Ketika di dalam kos. Kos puteri dan
kos putera dipisah jauh. Dan Sunahyu sekamar dengan Jumahna. Mereka tak jarang
menghirup aroma mi instan yang dibuat oleh sahabatnya di kamar sebelah. Sungguh
aromanya sangat lezat. Ia tidak bisa membelinya, ia hanya menghirup aroma sedap
mi instan itu. Ketia dia dikirim oleh orang tuanya, Jumahna dan Sunahyu
langsung menyerahkan uang yang seratus lima puluh kepada Bu Sumi. Bu Sumi
adalah penjual nasi di warung sebelah. Belas hatinya memang pas untuk menjadi
penjual nasi bagi mahasiswa semiskin Jumahna dan Sunahyu. Karena bisa
menghutang. Dan membayarnya setelah punya uang. Uang yang lima puluh ribu tadi
mereka simpan untuk biaya pribadi yang tidak terduka. Semisal ada tugas dan
harus ke warnet. Karena Jumahna dan Sunahyu tidak memiliki laptop sendiri.
Dengan cara menitipkan uang untuk
dibuat makan ke warung sebelah, ternyata menjadi sebuah solusi yang solutif.
Karena mereka bisa makan setiap malam di sana. Makanan dengan harga murah,
namun bisa mengambil nasi lebih banyak. Sebab yang mahal adalah ikannya.
Kebiasaan Sunahyu ketika makan di warung Bu Sumi adalah dengan lauk gorengan
tempe. Karena itu lebih murah harganya. Mereka hanya makan setiap malam sekali.
Siangnya mereka puasa dengan nasi. Untung masih ada kran air di dapur kosan.
Kran itulah yang menjadi pembunuh haus bagi mereka. Jumahna dan Sunahyu sering
sekali meminum air kran itu ketika sepulang kampus pada siang-siang hari.
Perjalanan ke kampus yang harus
ditempuh sepuluh menit oleh seorang pejalan kaki. Sungguh bukan sebuah jarak
yang dekat bagi manusia dengan perut keroncong kelaparan. Ketika ia tengah berhadapan
denga tugas-tugas. Dan terbakarnya tubuh mereka di bawah terik matahari dan
tapakan kakinya di atas aspal jalanan yang sejak seharian terbakar panas, juga
menjadi penyumbang lelah yang lahirkan rasa lapar. Namun kekuatan cinta untuk
Sumenep, telah menyulapnya menjadi orang yang paling kuat. Orang yang tidak
mudah lapuk. Sebab tubuh mereka sudah lama terbakar dan legam dikala kemarau
musim tembakau di Madura, selalu mereka nikmati.
Keringat yang mereka cucurkan begitu
asin. Bagi Sunahyu, itu adalah keringat suci, bentuk dari sebuah penghormatan
terhadap asin garam Madura. Kewajiban menjadi seorang pelajar sebagaimana
tertera dalam surat perjanjian, benar-benar mereka lalui dengan baik. Rasa
malas sudah mereka tepis jauh-jauh. Ia tidak ingin terganggu semangatnya, hanya
karena persoalan finansial belaka. Tidak ada doa yang buruk di benak Sunahyu
kepada sang pemangku jabatan di Sumenep, selain pengharapan akan lancarnya
beasiswa ini.
***
Janur kuning tidak akan melengkung
begitu saja bila usia belum memfonisnya dengan kejam. Anggota beasiswa penuh
yang sama-sama dari Kabupaten Sumenep ini masih rendah rasa solidaritasnya.
Kebersamaan hampirtidak ada. Mereka seakan terkotak-kotak. Kebanyakan diantara
mereka memilih untuk menyendiri saja di dalam kamar. Mungkin saja diantara
mereka tidak tumbuh perasaan sosial yang tinggi, atauapalah istilah baiknya.
Keluarga mereka yang kaya-kaya masih mampu untuk menjadi penyublim kehidupan di
tengah kemahalan hidup di kota metropolitan Jogja.
Sejauh keberadaan mereka di kota
pendidikan itu hanya sekitar dua kali melakukan protes ke pihak kampus mengenai
permasalahan beasiswa. Terlalu sedikit. Itu pun atas dasar pemikiran
masing-masing bukan atas keseragaman pemikiran. Manamungkin mau berseragam,
sedangkan yang berkumpul saja sangat jarang, nyaris tidak pernah.
Kehidupan Sunahyu semakin hari
semakin sulit. Kerap iya mencoba mengirim tulisan ke berbagai media cetak yang
ada rubrik cerpennya. Sayang tidak ada media yang menerima tulisannya. Itulah
sebuah kemirisan hidup yang harus ia jalani dengan tabah. Harapan Sunahyu
adalah bagaimana kelak antara dia dan sahabat beasiswanya semua bisa sukses. Ia
merasa sangat berhutang budi terhadap kekayaan bumi Sumenep. Itulah doa Sunahyu
setiap waktu yang terus ikhlas terpanjat.
Hati yang selalu menjerit. Perut
yang kerap menangis. Bagi sunahyu tangisan perut itulah tangisan paling jujur
dan ikhlas. Tangisan tanpa kebohongan. Perutnya mulai lapar, tapi jadwal makan
masih belum sampai. Ia menjadwalkan makan hanya tiap malam. Setelah dia selesai
shloat Maghrib dan Isya’ dan dilanjut membaca SurahYasin, baru ia bisa
mengapusi tangisan perutnya. Ia menghibur perutnya yang sedari tadi menangis
kelaparan dengan nasi dan tempe goreng. Sunahyu terbiasa tidak minum di tempat
makan, karena airnya harus bayar. Ia pulang ke kos dan menemui kran air yang
kesepian mengguinya di dalam dapur. Disitulah tempat minum gratis yang paling
Sunahyu minati.
Kala matahari terus menyengatkan
panasnya. Sementara aspal pun meminta ampun karena sudah merasa tidak kuat
menahan panas matahari. Sunahyu sendiri pun menganggap suguhan panas seperti
itu tidak dapat dipungkiri, bahwa dirinya merasa kegerahan. Jadwal kuliah siang
adalah jadwal yang paling dia benci di batin terjujurnnya. Karena dia harus
bergelut dengan panas matahari, dia tidak punya uang untuk memanja hausnya
dengan es teh atau es jeruk di kantin kampus. Lagi-lagi solusi terbaiknya
adalah air kran di kamar mandi. Ya itu pasti suci, anggap saja masih air suci.
Curhatan teman-temannya yang rupanya
sudah mulai singgah di telinga Sunahyu. Termasuk sebuah keluhan dari
teman-teman beasiswanya yang sangat jarang bergaul dengan Sunahyu, kini mereka
sudah mulai dekat. Bermula dari teguran tegas bapak kos di kos puteri. Seperti
yang diceritakan oleh si Kembang Ruida, bahwa kata mereka teman-teman beasiswa
yang di kos puteri akan segera di usir. Penyebabnya tidak lain, kerena kos yang
katanya digratiskan tidak pernah dibayar. Itu adalah kewajiban tim pemberi
beasiswa.
Sore yang masih suci tak terkotori
oleh hati benci. Semua teman-teman beasiswa berkumpul di pinggir sawah. Semua
itu di kordinir langsung oleh Sunahyu. Salah satu harapannya adalah menyatukan
suara demi terselesaikannya masalah beasiswanya. Lantas Sunahyu memang sangat
berharap teman-temannya bersatu agar perut Sunahyu tidak menangis lagi. Semua
yang dijanjikan benar-benar terealisasi dengan baik. Bukan sekedar janji-janji.
Belum pernah terbayang di benak Sunahyu akan terputusnya program beasiswanya.
Jika benar beasiswa itu akan diputus, dan anggota beasiswa akan dibiarkan
terlantar. Sungguh itu adalah penipuan yang kontemporer. Atau nanti bisa jadi
ada yang mati dari teman-teman beasiswa gara-gara kelaparan, sungguh itu adalah
pembunuhan yang editis.
Kekayaan alam menjadi taruhan hidup
dan mati mereka selama menempuh pendidikan di Jogja. Persoalan cinta coba ia
singkirkan. Sunahyu juga seorang pemuda yang normal. Ia bisa merasakan perasaan
kasih kepada lawan jenisnya. Hanya saja baginya saat ini bukanlah hal yang
tepat untuk berkasih-kasih. Ia sadar bahwa dinamika kehidupan juga menyediakan
ranjau yang indah dan menarik, sehingga mudah orang masuk ke dalamnya tapi
tidak tahu akibatnya. Padahal sudah nanti jelas mereka akan terbunuh.
Kebersamaan Pajjer dengan Kembang
memang tidak dapat terpungkiri, bahwa perasaan cinta yang terselip. Malam
Sunahyu yang berbintang, adalah dikarenakan adanya cahaya mata indah yang
dimiliki oleh Kembang. Namun ia tak pernah mengungkap akan tumbuhnya hal indah
itu. Ia hanya mengungkapkan secara tulus lewat setiap tulisannya yang Pajjer
lahirkan setiap malam. Karena memang kebiasaanyalah menulis. Menulis apa saja,
meski tak terstruktur dengan baik, yang jelas ada tulisan mengenai hidupnya.
Itulah yang tertanam dalam hati Pajjer.
Secuil harap yang ingin dia buktikan
pada hidup, tentang penciptaan dunianya di dalam sebuah karya tulisan. Kelak
Sunahyu berharap bisa menyerahkan seluruh dunia yang ia punya kepada orang yang
akan menjadi sajadahnya. Pemuda desa yang berpostur pendek, kerempeng, dan
berkulit hitam sudah terlalu jauh mengkhayal. Bahkan tentang kehidupan
cintanya.
Tidak ada yang bisa menafsiri akan
sebuah cerita dengan ending bahagia atau darah. Bagaikan orang yang sedang
merangkai sebuah cerita dengan ending bahagia tapi perasaannya sendiri masih
digeluti luka asmara. Permasalahan beasiswa yang belum kelar sejauh ini tidak
dapat dipungkiri tidak menjadinya sebuah beban dalam berat otaknya diputar.
Bagi Sunahyu permasalahan ini adalah
tuntutan kepada dirinya, bahwa dia harus membunuh dirinya sendiri.
Daerahnya tidak boleh ada yang kaya, tidak boleh ada yang berpendidikan.
Cukuplah sebuah kekuasaan ditangan yang berkuasa. Suara rakyat diredam dengan
politik. Pemuda masa depannya harus diasingkan, biar dia sekarang melarat agar
kelak mereka bisa mengkorupsi dengan balas dendam atas penderitaannya semasa
belajar.
Ah. Sudah terlalu jauh Sunahyu
membatin lagi. Sampai suara hatinya berserakan tidak jelas. Kebenciannya kepada
penguasa yang menandatangi perjanjian beasiswanya, sungguh tiada terkira. Akan
tetapi, sebagai seorang pemuda desa yang banyak diajari namanya nasionalis
gotong royong, Sunahyu tidak semuda itu terpengaruh.
Sejauh ini Sunahyu sudah sukses membawa
tawa dan kebersamaan diantara kawan-kawannya yang dulu sangat senjang dengan
Sunahyu. Perasaannya bahagia, bisa menghibur teman-temannya yang lain.
“Kamu kocak juga orangnya sebenernya
Su. Haha” Selesai melawak ketika berkumpul rutin di pinggir sawa, Ari salah
satu kawan beasiswanya menyampaikan satu kalimat yang menjadikan Sunahyu
termotivasi.
“Haha. Kalian ini bisa saja..” Jawab
Sunahyu dengan santai-santai saja.
Malam melukis warna kehidupan.
Menulis, itu adalah ritual malam Sunahyu. Dalam fikirannya terlintas sebuah
surat. Ia berniat mengirim sebuah surat ke Pemda Sumenep, tapi otaknya
kebingunan memberi tema yang tepat. Setelah berkian banyak tanda tanya yang
berputar di keningnya, tertangkap satu ide untuk menjadi judul suratnya ke
pihak pemberi beasiswa. Sunahyu memberinya judul “Suarat Pernyataan Akan Bunuh
Diri”. Terlalu lucu untuk di baca memang. Surat itu tidak berisi pernyataan
untuk bunuh diri, melainkan penjelasan bahwa kehidupan mahasiswa yang diberi
beasiswa telah menyatakan membunuh dirinya dengan ikhlas. Wassalam..
Catatan:
1.
Sebuah istilah bahasa Madura untuk orang yang baik prilakunya.
2.
Damar yang dibuat menggunakan alat pembakar dari minyak kelapa dan menggunakan
kapas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.