Oleh: Wardhy Liela
Sepotong Kebersamaan
Ragu
mengulum keberanian,
Ketika cinta hanya terpental pada
sujud tengadahku
rintik hujan tak terhirau, bumi
masih mengerutu
semburat tak pendar, malam tetap
gulita.
Padahal kita telah lama melangkah
menjajaki bukit dan laut sembari
merinai sumbang.
Dan pada ironi yang begitu jujur, kita
masih bukan apa-apa
Jogjakarta
28 April.
“Jamilah” SMS pertama dari nomor baru.
“J.A. JA. M.I.
MI. L.A. LAH.” SMS kedua yang di eja, setelah
pesan pertama Jamilah hiraukan. Ternyata ada keinginan lain. Dia awalnya
mengira pesan yang dikirimi oleh nomor baru yang belum terdaftar di kontak
HP Jamilah, hanya sekedar pesan nyasar. Hatinya begitu saja dihujani penasaran. Keinginannya
sudah kuyup untuk menanyakan “siapa dia pengirim pesan singkat itu?.”
“Iya?” tak perlu waktu lama bagi Jamilah untuk membalasnya. Dengan pertanyaan
itulah dia menitip harap. Joni menyeringai, hatinya sudah merasa bahagia
menerima balasan SMS dari Jamilah. Sifat jamilah yang polos, hanya hijab yang
menghiasi rona indah itu. Jiwa kemuslimahannya mengurung keinginan Jamilah
untuk sembarangan berinteraksi dengan laki-laki. Dia hanya memperlihatkan rasa
cuek-cuek bebek dengan sedatar-datarnya.
Percakapan mereka
berlanjut setelah Joni membalas dengan kalimat indah. Seindah perasaannya.
Jamilah menemukan sesuatu yang magis dari sebuah teks yang hinggap dilayar Handphone miliknya.
Yang menyudahi hanyalah larut malam yang memaksa tubuh mungil itu segera
merebah pada badan kasur yang empuk. Sementara, dengan Joni sendiri tidak kuasa
mengatupkan kelopak mata. Ia ingin malam itu hadir ke dalam mimpi Jamilah. Sekedar
menjaga tidurnya hingga pulas. Joni lancar berbisik pada kesendirian
malam, tentang dia yang menyukai Jamilah. Padahal Joni hanya tertusuk dua kali
panah asmara Jamilah. Tusukan pertama menancap rapi di dada Joni. Saat itu
bertepatan Joni berkunujung ke sekolah Jamilah. Ia berkunjung hanya sekedar
mengikuti seminar. Seminar yang membuat hati Joni bersinar, matanya menjadi
berbinar merasa tersapu oleh cinta samar-samar, namun itu benar. Tusukan kedua
anak panah cinta Jamilah yang dilepas dari busur senyum yang syahdu, menancap
tepat di hati Joni. Laki-laki yang memang sedang dilanda kasmaran pada pemanah
cinta itu, si Jamilah. Dan ia harus kembali menjadi korban di tengah persuaannya dengan
Jamilah di dalam sebuah toko swalayan di Gapura.
Allah Yang Maha
Benar, Maha Kuasa, dan Maha Segala Maha. Maka tidak ada yang tidak mungkin
untuk terjadi, jika Ia berkehendak “jadilah” maka akan jadi sesuatu yang Allah
kehendaki. Begitu pula dengan insan ciptaan-Nya. Mereka akan merasakan cinta
secara tiba-tiba. Kadang tidak perlu pacaran pun, akan menjadi cinta dan
pasangan yang kekal abadi selamanya. Setiap malam Joni hanya menulis. Ya, hanya
sekedar menulis nama gadis mungil yang mengagumkan. Tempat segala semangatnya
tumbuh. Dan seakan sudah menjadi desahan nafas lain bagi Joni.
Malam itu, Joni mulai mengotak-atik akun facebooknya. Ia ingin
mencari tahu tentang Jamilah. Pastilah anak MA Miftahul Uyun itu mpunya akun
facebook. Joni terus mencari. Diketiknya sebuah nama, nama pertama yang ia
ketik adalah JAMILAH. Namun tidak ada yang cocok seperti apa yang dia cari. Joni
melanjutkan, JAMIELAH. Hasilnya pun juga sama, ia tidak menemukan gadis mungil
berbingkai hijab yang Joni cari. Misi itu tak pupus di penghujun lelah, dia pun
terus mencari lagi. Diketik kembali sebuah nama dengan huruf “alay tren terkini”
JAMIELACH. Akhirnya keluar satu akun dengan foto profil lebih cerah dari yang
lain. Kerudung kuning. Gemilap wajahnya Joni kenal, dia adalah Jamilah yang dia
cari.
Joni sebenarnya masih merasa semu. Ia mencoba menyibak rasa ketidak
jelasannya kepada Jamilah yang sudah mulai Joni sadari. Bagaimana tidak, itu
adalah sesuatu yang tidak jelas. Sedang Joni hanya baru dua kali melihat
Jamilah dan hanya baru dua minggu fikirannya menghafal wajah Jamilah. Entah karena
apa, sepih yang meriak disetiap gulitanya malam Joni, hanya nama Jamilah yang
terngiang indah. Hampir semua sudut kamar Joni terhias wajah Jamilah. “Punya
sihir apa wanita itu?” hatinya berbisik menggiring senyumnya yang mulai mekar
di bibir. Malam itu Joni sulit dibedakan dengan orang yang kurang waras
akal. Ia menyisirkan jemarinya ke rambut, berharap tanda tanya yang berputar
dikepala bisa gugur didepan Joni. Sebuah pertanyaan yang tidak tahu harus pada
siapa dia tanyakan. Tentang wanita menggelisahkan.
Akun facebook Jamielach membias bahagia disetiap malam yang Joni
kecup. Dia berharap dengan cengkerama di dunia maya akan menjadi nyata, dan
menyatakan dirinya sebgai jodoh Jamilah. Walau hanya dengan sebuah perckapan publik
disebuah komentar remeh, bagi Joni sudah lebih dari cukup indah.
Joni semakin berani. Ia mencari nomor telepon Jamilah, dirinya
ingin berhubungan lebih akrab lagi. Tidak perlu waktu berhari-hari buat
mendapatkan nomor telepon Jamilah. Seorang kerabat Joni yang bernama Imam
menyulurkan nomor telepon dari pesan singkat yang Joni krim sebelumnya. Joni meminta
pada Imam untuk dicarikan nomor telepon Jamilah. “Terima kasih bro!” SMS Joni
terbang menuju HP Imam.
***
Senin pagi ditafsirkan gerimis. Mendung hitam menebal berarak dari
barat. Wajah sang surya begitu tampak lesuh. Pagi ini sudah jelas dinyatakan
tidak cerah. Suara Guntur bersahutan di balik langit. Bahkan kutilang yang
biasa terbang menghinggapi dahan-dahan, kini sudah tidak dijumpai lagi. Jamilah
tidak ingin kegiatan aktif masuk ke sekolahnya terganggu. Ia tidak ingin
mendapat nilai C dari buku kerajinannya. Lantas, ia adalah siswi yang rajin. Jamilah
sering mendapat peringkat satu mulai sejak SD.
Begitu juga dengan fanatisme agamanya. Jamilah bukan wanita yang
liberal. Dia adalah wanita yang memegang kental ajaran agama Islam Indonesia. Jamilah
ketika beropini dengan sejumlah teman-temannya di sekolah, pastilah terselip argumen yang dambil dari Ayat Suci Al-Qur’an. Jamilah mencoba meneladani ajaran Al-Qur’an
di dalam kehidupannya. Ia sama sekali sangat tidak pernah berpenampilan ketat,
apa lagi sampai terbuka. Sangat tidak pernah ia lakukan. Foto-foto di akun
facebook Jamilah tidak ada yang tidak berkerudung, berbingkai kerudunglah
wajahnya.
Gelisah, penasaran, takut, tercampur diaduk dalam wadah otak
Jamilah. Takut yang seiring penasaran. Ia pun bertanya dalam setiap otaknya “Siapa sih
laki-laki itu. Ia selalu mengirimi sms romantis setiap hari?.” Jamilah memang
sering mendapat sms yang romantis. Ia bahkan tidak tahu siapa orang itu. Sejak
pertama dia berdialektika dalam kata di sebuah pesan singkat, sampai sekarang
masih saja semu. Hanya diberi nama XL di dafatar kontak HP Jamilah. Padahal ia
belum tahu. Apakah itu adalah seorang laki-laki atau perempuan. Sebagai
wanita yang normal, harapan Jamilah adalah laki-laki. Aneh. Jamilah sudah mulai
tersanjung hatinya. Kata-kata yang dikirm oleh Joni begitu bermakna. Dan mampu
mendenyutkan cinta dihati Jamilah. Jamilah merasakan seperti sudah berpacaran
dengan nomor XL itu. Semakin aneh. Jamilah belum tahu siapa pengirim SMS indah
dengan kata-kata yang merenyuhkan hati. “Atau jangan-jangan Fadil?” Gumam
hatinya kembali bertanya-tanya.
Berawaal dari
sebuah ketidak yakinan itulah, akhirnya Jamilah mengirim SMS ke Fadil. Ya, dia
adalah sahabat lama Jamilah yang kadang juga suka jail.
“Pangeran, kamu kah yang mengirimi saya dengan kata-kata?” SMS Jamliah menuju Fadil.
“Ninit.. ninit.. ninit..”
Suara HP Jamilah yang menandakan bahwa ada satu pesan yang diterima.
“Nggak puteri, aku nggak sms kamu kok. #serius” Pesan singkat dari Fadil.
Ternyata memang bukan. Orang itu bukan Fadil. Pengirim pesan
singkat itu adalah Joni. Seorang siswa dari MA Nasut. Sang laki-laki penikmat
rona dan sikap halus berakhlaknya Jamilah. Joni tidak bisa berbohong akan
perasaan itu. Hanya saja ia takut, karena Jamilah menurut penuturan
teman-temannya, dia bukan wanita yang sembarangan. Sikap Jamilah yang bisa jadi
cuek pada laki-laki yang baru saja dia kenal. Dia tidak akan mudah akrab. Maka
bisa saja firasat Joni bila dia berkenalan secara jelas-jelasan, ia akan
tersingkir dari hadapan Jamilah. Sikap Jamilah yang suka membenci laki-laki
berpaham gombalisme seperti Joni. Tentu berangkat dari hal itu Joni menepis
jauh-jauh keinginan untuk mendekati Jamilah secara terang-terangan.
Sikap Jamilah yang
membenci laki-laki, bukan berarti ia tidak dikaruniahi perasaan cinta kasih
oleh Tuhannya. Jamilah adalah wanita normal. Dia bisa merasakan sakit hati. Dia
bisa mengagumi laki-laki tertentu yang dianggapnya adalah seorang imam yang pas
bagi diri Jamilah. Bahkan Jamilah pernah mengalami kejadian terburuk. Kecelakaan
dalam perjalanan cintanya dengan Wardhy. Hati Jamilah remuk. Ia tersungkur dari
ketulusannya sendiri, dari sebuah penilaian baiknya sendiri terhadap laki-laki.
Jamilah merasa diperlakukan bagaimana wanita lieberal. Sedang Wardhy
sendiri, dia adalah seorang laki-laki yang sangat kejam dan begitu bejat. Laki-laki
pengecut itu sudah banyak mempermainkan wanita. Salah satunya adalah Jamliah. Itu
adalah salah satu bukti kecil bahwa Jamilah bisa jatuh cinta.
Angin membelai
wajah cantik itu. Disapu dengan tulus dan ikhlas. Kenangan masa lalu tidak
ingin dia putar ulang. Biar disapu bersih oleh angin musim penghujan. Kini dia
kembali menjadi wanita yang biasa. Sederhana. Wajah indahnya yang tidak pernah
terpoles oleh bedak bermerk internasional. Jamilah hanya berbedak air yang suci
seketika hendak bersholat. Ia begitu rutin membasuh wajahnya dengan air wudhu’
hingga segemilau itu. Sungguh mengalahkan make up orang korea. Alisnya pun
tidak pernah luntur meski sudah berkali-kali dibasuh dengan air suci.
Seorang puteri
dari adat Madura, Jamilah mampu menyandang gelar wanita bunga desa. Yang dimaksudkan
adalah dia menjadi wanita tercantik menurut adat bukan menurut juri miss
universe 2015. Rona yang langka itulah yang memikat hati Joni. Wajah yang
tidak pasaran. Bagi Joni kecantikan Jamilah sudah bertaraf internasional
di hatinya.
***
Ketika mimpi
Jamilah yang begitu diinginkan kenyataanya, kini tiba pada pelabuhan kasih
yang diam-diam diharapkan dari sang pengirim pesan misterius. Jamilah juteru
mengikuti alur ombang pesan sang singkat. Tak jarang wajanya berseri ketika
membaca segombal kata-kata indah yang masuk ke HP Jamilah.
“Aku Tanya ya
sama kamu peri, perasaan mana yang kamu inginkan. Kebersamaan atau cinta?” Itu adalah pesan yang dikirm oleh Joni sang pengirim SMS
misterius.
Jamilah merasa
hatinya ter-upgrade lagi oleh laki-laki misterius itu. Dia merasa ada
yang berbeda dari sang pengirim SMS dengan laki-laki lain. Atau bahkan dengan
Wardhy. Jemarinya yang lentik pun kian menari-nari datas tombol qwerty
samsungnya.
“Andai kuasa memilih keduanya, maka keduanyalah yang
saya harapkan. Namun jika tidak memungkinkan memilih semua, maka aku lebih
memilih cinta. Untuk apa sebuah kebersamaan bila rasa cinta tidak pernah ada. Atau
bahkan mirisnya, cinta hanya tumbuh disebelah hati. Maka, saya yakin kecemburuan
dari perselingkuhan lah yang akan dinikmati. Realistis saja ya, bahwa tidak ada
yang lebih bahagia selain tertanamnya sifat cinta dalam diri manusia.”
Pesan Jamilah
dibaca oleh Joni. Darah mengepul di balik kulitnya. Detak jantung Joni
berantakan. Rasanya perlu didatangkan dokter syaraf, biar Joni bisa langsung
konsultasi. Siapa tahu ada yang salah dari salah satu syaraf Joni. Ia semakin
tidak sabar untuk melanjutkan diskusi indah dengan pergantungan jiwanya yang
begitu semu.
“Betul
sekali peri. Maka tidak perlulah kebersamaan itu, apa bila cinta sudah jelas
tumbang. Saya harap apa yang saya tulis dan apa yang peri rasakan, adalah cinta
yang jangan pernah dipungkiri. Aku adalah sosok laki-laki pengintip rembulan
setiap malam, kulihat pipinya yang memerah setelah ku pandang begitu lama. Entah
dengan mu yang nyata? Aku harap ada seorang yang melakukan aktivitas yang sama
sepertiku. Jikalau berkenan, mari kita pandangi purnama itu bersama, keluarlah
peri.”
Begitu teduh SMS
yang dibaca oleh Jamilah. Hatinya begitu sejuk. Lucunya sebuah perasaan yang
tulus, Jamilah mau dan keluar hanya untuk memandangi purnama demi perintah
laki-laki misterriusnya. Ya, seperti itulah cinta yang tidak bisa disamakan
dengan sebuah kebersamaan. Apapun akan dilakukan dengan atas nama cinta. Kisah gadis
yang sederhana yang sangat sederhana untuk merasakan sindrom kasih dari
laki-laki. Tidak butuh laki-laki hebat untuk menggugah bahagianya, menerima dia
dengan segala hal sudah melebihi cukup. Ia sudah merasa bahagia, dan semoga
abadi. Sekian..