Senin, 27 April 2015

“SYNDROME” From the Secret of Love

Oleh: Wardhy Liela
            Sepotong Kebersamaan
            Ragu mengulum  keberanian,
            Ketika cinta hanya terpental pada sujud tengadahku
            rintik hujan tak terhirau, bumi masih mengerutu
            semburat tak pendar, malam tetap gulita.
            Padahal kita telah lama melangkah
            menjajaki bukit dan laut sembari merinai sumbang.
            Dan pada ironi yang begitu jujur, kita masih bukan apa-apa
Jogjakarta 28 April.
            “Jamilah” SMS pertama dari nomor baru.
            “J.A. JA. M.I. MI. L.A. LAH.” SMS kedua yang di eja, setelah pesan pertama Jamilah hiraukan. Ternyata ada keinginan lain. Dia awalnya mengira pesan yang dikirimi oleh nomor baru yang belum terdaftar di kontak HP Jamilah, hanya sekedar pesan nyasar. Hatinya begitu saja dihujani penasaran. Keinginannya sudah kuyup untuk menanyakan “siapa dia pengirim pesan singkat itu?.”
            “Iya?” tak perlu waktu lama bagi Jamilah untuk membalasnya. Dengan pertanyaan itulah dia menitip harap. Joni menyeringai, hatinya sudah merasa bahagia menerima balasan SMS dari Jamilah. Sifat jamilah yang polos, hanya hijab yang menghiasi rona indah itu. Jiwa kemuslimahannya mengurung keinginan Jamilah untuk sembarangan berinteraksi dengan laki-laki. Dia hanya memperlihatkan rasa cuek-cuek bebek dengan sedatar-datarnya.
            Percakapan mereka berlanjut setelah Joni membalas dengan kalimat indah. Seindah perasaannya. Jamilah menemukan sesuatu yang magis dari sebuah teks yang hinggap dilayar Handphone miliknya. Yang menyudahi hanyalah larut malam yang memaksa tubuh mungil itu segera merebah pada badan kasur yang empuk. Sementara, dengan Joni sendiri tidak kuasa mengatupkan kelopak mata. Ia ingin malam itu hadir ke dalam mimpi Jamilah. Sekedar menjaga tidurnya hingga pulas. Joni lancar berbisik pada kesendirian malam, tentang dia yang menyukai Jamilah. Padahal Joni hanya tertusuk dua kali panah asmara Jamilah. Tusukan pertama menancap rapi di dada Joni. Saat itu bertepatan Joni berkunujung ke sekolah Jamilah. Ia berkunjung hanya sekedar mengikuti seminar. Seminar yang membuat hati Joni bersinar, matanya menjadi berbinar merasa tersapu oleh cinta samar-samar, namun itu benar. Tusukan kedua anak panah cinta Jamilah yang dilepas dari busur senyum yang syahdu, menancap tepat di hati Joni. Laki-laki yang memang sedang dilanda kasmaran pada pemanah cinta itu, si Jamilah. Dan ia harus kembali menjadi korban di tengah persuaannya dengan Jamilah di dalam sebuah toko swalayan di Gapura.
            Allah Yang Maha Benar, Maha Kuasa, dan Maha Segala Maha. Maka tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi, jika Ia berkehendak “jadilah” maka akan jadi sesuatu yang Allah kehendaki. Begitu pula dengan insan ciptaan-Nya. Mereka akan merasakan cinta secara tiba-tiba. Kadang tidak perlu pacaran pun, akan menjadi cinta dan pasangan yang kekal abadi selamanya. Setiap malam Joni hanya menulis. Ya, hanya sekedar menulis nama gadis mungil yang mengagumkan. Tempat segala semangatnya tumbuh. Dan seakan sudah menjadi desahan nafas lain bagi Joni.
Malam itu, Joni mulai mengotak-atik akun facebooknya. Ia ingin mencari tahu tentang Jamilah. Pastilah anak MA Miftahul Uyun itu mpunya akun facebook. Joni terus mencari. Diketiknya sebuah nama, nama pertama yang ia ketik adalah JAMILAH. Namun tidak ada yang cocok seperti apa yang dia cari. Joni melanjutkan, JAMIELAH. Hasilnya pun juga sama, ia tidak menemukan gadis mungil berbingkai hijab yang Joni cari. Misi itu tak pupus di penghujun lelah, dia pun terus mencari lagi. Diketik kembali sebuah nama dengan huruf “alay tren terkini” JAMIELACH. Akhirnya keluar satu akun dengan foto profil lebih cerah dari yang lain. Kerudung kuning. Gemilap wajahnya Joni kenal, dia adalah Jamilah yang dia cari.
Joni sebenarnya masih merasa semu. Ia mencoba menyibak rasa ketidak jelasannya kepada Jamilah yang sudah mulai Joni sadari. Bagaimana tidak, itu adalah sesuatu yang tidak jelas. Sedang Joni hanya baru dua kali melihat Jamilah dan hanya baru dua minggu fikirannya menghafal wajah Jamilah. Entah karena apa, sepih yang meriak disetiap gulitanya malam Joni, hanya nama Jamilah yang terngiang indah. Hampir semua sudut kamar Joni terhias wajah Jamilah. “Punya sihir apa wanita itu?” hatinya berbisik menggiring senyumnya yang mulai mekar di bibir. Malam itu Joni sulit dibedakan dengan orang yang kurang waras akal. Ia menyisirkan jemarinya ke rambut, berharap tanda tanya yang berputar dikepala bisa gugur didepan Joni. Sebuah pertanyaan yang tidak tahu harus pada siapa dia tanyakan. Tentang wanita menggelisahkan.
Akun facebook Jamielach membias bahagia disetiap malam yang Joni kecup. Dia berharap dengan cengkerama di dunia maya akan menjadi nyata, dan menyatakan dirinya sebgai jodoh Jamilah. Walau hanya dengan sebuah perckapan publik disebuah komentar remeh, bagi Joni sudah lebih dari cukup indah.
Joni semakin berani. Ia mencari nomor telepon Jamilah, dirinya ingin berhubungan lebih akrab lagi. Tidak perlu waktu berhari-hari buat mendapatkan nomor telepon Jamilah. Seorang kerabat Joni yang bernama Imam menyulurkan nomor telepon dari pesan singkat yang Joni krim sebelumnya. Joni meminta pada Imam untuk dicarikan nomor telepon Jamilah. “Terima kasih bro!” SMS Joni terbang menuju HP Imam.
***
Senin pagi ditafsirkan gerimis. Mendung hitam menebal berarak dari barat. Wajah sang surya begitu tampak lesuh. Pagi ini sudah jelas dinyatakan tidak cerah. Suara Guntur bersahutan di balik langit. Bahkan kutilang yang biasa terbang menghinggapi dahan-dahan, kini sudah tidak dijumpai lagi. Jamilah tidak ingin kegiatan aktif masuk ke sekolahnya terganggu. Ia tidak ingin mendapat nilai C dari buku kerajinannya. Lantas, ia adalah siswi yang rajin. Jamilah sering mendapat peringkat satu mulai sejak SD.
Begitu juga dengan fanatisme agamanya. Jamilah bukan wanita yang liberal. Dia adalah wanita yang memegang kental ajaran agama Islam Indonesia. Jamilah ketika beropini dengan sejumlah teman-temannya di sekolah, pastilah terselip argumen yang dambil dari Ayat Suci Al-Qur’an. Jamilah mencoba meneladani ajaran Al-Qur’an di dalam kehidupannya. Ia sama sekali sangat tidak pernah berpenampilan ketat, apa lagi sampai terbuka. Sangat tidak pernah ia lakukan. Foto-foto di akun facebook Jamilah tidak ada yang tidak berkerudung, berbingkai kerudunglah wajahnya.
Gelisah, penasaran, takut, tercampur diaduk dalam wadah otak Jamilah. Takut yang seiring penasaran. Ia pun bertanya dalam setiap otaknya “Siapa sih laki-laki itu. Ia selalu mengirimi sms romantis setiap hari?.” Jamilah memang sering mendapat sms yang romantis. Ia bahkan tidak tahu siapa orang itu. Sejak pertama dia berdialektika dalam kata di sebuah pesan singkat, sampai sekarang masih saja semu. Hanya diberi nama XL di dafatar kontak HP Jamilah. Padahal ia belum tahu. Apakah itu adalah seorang laki-laki atau perempuan. Sebagai wanita yang normal, harapan Jamilah adalah laki-laki. Aneh. Jamilah sudah mulai tersanjung hatinya. Kata-kata yang dikirm oleh Joni begitu bermakna. Dan mampu mendenyutkan cinta dihati Jamilah. Jamilah merasakan seperti sudah berpacaran dengan nomor XL itu. Semakin aneh. Jamilah belum tahu siapa pengirim SMS indah dengan kata-kata yang merenyuhkan hati. “Atau jangan-jangan Fadil?” Gumam hatinya kembali bertanya-tanya.
            Berawaal dari sebuah ketidak yakinan itulah, akhirnya Jamilah mengirim SMS ke Fadil. Ya, dia adalah sahabat lama Jamilah yang kadang juga suka jail.
Pangeran, kamu kah yang mengirimi saya dengan kata-kata?” SMS Jamliah menuju Fadil.
“Ninit.. ninit.. ninit..” Suara HP Jamilah yang menandakan bahwa ada satu pesan yang diterima.
Nggak puteri, aku nggak sms kamu kok. #serius” Pesan singkat dari Fadil.
Ternyata memang bukan. Orang itu bukan Fadil. Pengirim pesan singkat itu adalah Joni. Seorang siswa dari MA Nasut. Sang laki-laki penikmat rona dan sikap halus berakhlaknya Jamilah. Joni tidak bisa berbohong akan perasaan itu. Hanya saja ia takut, karena Jamilah menurut penuturan teman-temannya, dia bukan wanita yang sembarangan. Sikap Jamilah yang bisa jadi cuek pada laki-laki yang baru saja dia kenal. Dia tidak akan mudah akrab. Maka bisa saja firasat Joni bila dia berkenalan secara jelas-jelasan, ia akan tersingkir dari hadapan Jamilah. Sikap Jamilah yang suka membenci laki-laki berpaham gombalisme seperti Joni. Tentu berangkat dari hal itu Joni menepis jauh-jauh keinginan untuk mendekati Jamilah secara terang-terangan.
            Sikap Jamilah yang membenci laki-laki, bukan berarti ia tidak dikaruniahi perasaan cinta kasih oleh Tuhannya. Jamilah adalah wanita normal. Dia bisa merasakan sakit hati. Dia bisa mengagumi laki-laki tertentu yang dianggapnya adalah seorang imam yang pas bagi diri Jamilah. Bahkan Jamilah pernah mengalami kejadian terburuk. Kecelakaan dalam perjalanan cintanya dengan Wardhy. Hati Jamilah remuk. Ia tersungkur dari ketulusannya sendiri, dari sebuah penilaian baiknya sendiri terhadap laki-laki. Jamilah merasa diperlakukan bagaimana wanita lieberal. Sedang Wardhy sendiri, dia adalah seorang laki-laki yang sangat kejam dan begitu bejat. Laki-laki pengecut itu sudah banyak mempermainkan wanita. Salah satunya adalah Jamliah. Itu adalah salah satu bukti kecil bahwa Jamilah bisa jatuh cinta.
            Angin membelai wajah cantik itu. Disapu dengan tulus dan ikhlas. Kenangan masa lalu tidak ingin dia putar ulang. Biar disapu bersih oleh angin musim penghujan. Kini dia kembali menjadi wanita yang biasa. Sederhana. Wajah indahnya yang tidak pernah terpoles oleh bedak bermerk internasional. Jamilah hanya berbedak air yang suci seketika hendak bersholat. Ia begitu rutin membasuh wajahnya dengan air wudhu’ hingga segemilau itu. Sungguh mengalahkan make up orang korea. Alisnya pun tidak pernah luntur meski sudah berkali-kali dibasuh dengan air suci.
            Seorang puteri dari adat Madura, Jamilah mampu menyandang gelar wanita bunga desa. Yang dimaksudkan adalah dia menjadi wanita tercantik menurut adat bukan menurut juri miss universe 2015. Rona yang langka itulah yang memikat hati Joni. Wajah yang tidak pasaran. Bagi Joni kecantikan Jamilah sudah bertaraf internasional di hatinya.
***
            Ketika mimpi Jamilah yang begitu diinginkan kenyataanya, kini tiba pada pelabuhan kasih yang diam-diam diharapkan dari sang pengirim pesan misterius. Jamilah juteru mengikuti alur ombang pesan sang singkat. Tak jarang wajanya berseri ketika membaca segombal kata-kata indah yang masuk ke HP Jamilah.
            “Aku Tanya ya sama kamu peri, perasaan mana yang kamu inginkan. Kebersamaan atau cinta?” Itu adalah pesan yang dikirm oleh Joni sang pengirim SMS misterius.
            Jamilah merasa hatinya ter-upgrade lagi oleh laki-laki misterius itu. Dia merasa ada yang berbeda dari sang pengirim SMS dengan laki-laki lain. Atau bahkan dengan Wardhy. Jemarinya yang lentik pun kian menari-nari datas tombol qwerty samsungnya.
            “Andai kuasa memilih keduanya, maka keduanyalah yang saya harapkan. Namun jika tidak memungkinkan memilih semua, maka aku lebih memilih cinta. Untuk apa sebuah kebersamaan bila rasa cinta tidak pernah ada. Atau bahkan mirisnya, cinta hanya tumbuh disebelah hati. Maka, saya yakin kecemburuan dari perselingkuhan lah yang akan dinikmati. Realistis saja ya, bahwa tidak ada yang lebih bahagia selain tertanamnya sifat cinta dalam diri manusia.
            Pesan Jamilah dibaca oleh Joni. Darah mengepul di balik kulitnya. Detak jantung Joni berantakan. Rasanya perlu didatangkan dokter syaraf, biar Joni bisa langsung konsultasi. Siapa tahu ada yang salah dari salah satu syaraf Joni. Ia semakin tidak sabar untuk melanjutkan diskusi indah dengan pergantungan jiwanya yang begitu semu.
            “Betul sekali peri. Maka tidak perlulah kebersamaan itu, apa bila cinta sudah jelas tumbang. Saya harap apa yang saya tulis dan apa yang peri rasakan, adalah cinta yang jangan pernah dipungkiri. Aku adalah sosok laki-laki pengintip rembulan setiap malam, kulihat pipinya yang memerah setelah ku pandang begitu lama. Entah dengan mu yang nyata? Aku harap ada seorang yang melakukan aktivitas yang sama sepertiku. Jikalau berkenan, mari kita pandangi purnama itu bersama, keluarlah peri.

            Begitu teduh SMS yang dibaca oleh Jamilah. Hatinya begitu sejuk. Lucunya sebuah perasaan yang tulus, Jamilah mau dan keluar hanya untuk memandangi purnama demi perintah laki-laki misterriusnya. Ya, seperti itulah cinta yang tidak bisa disamakan dengan sebuah kebersamaan. Apapun akan dilakukan dengan atas nama cinta. Kisah gadis yang sederhana yang sangat sederhana untuk merasakan sindrom kasih dari laki-laki. Tidak butuh laki-laki hebat untuk menggugah bahagianya, menerima dia dengan segala hal sudah melebihi cukup. Ia sudah merasa bahagia, dan semoga abadi. Sekian..

Minggu, 26 April 2015

SENJA DI POHON CEMARA

Oleh: Wardhy Liela
            Indah pelangi ku pandang yang melengkung di kaki langit. Jam dinding menyita tubuhnya yang masih berbau keringat untuk segera mandi. Tersebab Anita akan menjalani ujian akhir nasional. Sebagai siswi yang duduk di bangku akhir, dan juga termasuk siswi yang sengat rajin dan cerdas. Sejak kelas satu SMA dia selalu mendapat peringkat satu. Di bangku kelas duanya, dia berhasil menjadi siswi teladan di sekolahnya. Maka dia harus mempertahankan pamor itu. Mantan  ketua osis di SMAN 1 Sumenep itu ternyata sudah siap untuk bertarung dengan teman-temannya. Dia sudah siap dengan segala bekal otak yang diasa sejak lama dengan pendidikan-pendidikan yang diajarkan oleh para guru di dalam kelas. Seperangkat alat sekolah dan alat ujian sudah tertata rapi di dalam tas sekolah yang biasa ia bawa setiap hari. Putih abu-abu membukusi tubuh putih Anita. Hijab sudah membingkai indah wajah Anita sebagai seorang muslimah.
            “Nita berangkat dulu ya Bu?” Pamitnya kepada sang Ibu yang masih berusia tidak terlalu tua itu.
            “Iya nak. Semoga lancar ujiannya, ibu bantu doa dari sini.” Anita pun menyalami tangan Ibu sembari menyelipkan pesan mulia dari sang Ibunda. Ibu yang tanpa lelah untuk memberi semangat kepada Anita. Ibu yang tidak pernah diam disaat dia punya masalah. Sangat jauh berbeda dengan Bapaknya. Anita hanya tinggal berdua di rumah yang berkeramik megah warisan dari neneknya. Bapak Anita menceraikan Ibu Anita, waktu dia masih berumur tujuh tahun.
            Udara pagi yang dingin begitu kejam menerobos masuk ketubuh wanita cantik itu. Kain putih yang ia pakai tidak mampu membohongi, bahwa dia benar-benar merasa dingin. Anita berangkat terlalu pagi hari ini. Bukan lantas karena apa, dia tidak ingin sedikitpun melibas menit untuk menjawab soal-soal ujian. Atau dia harus menghadapi wajah seram satpam penjaga pintu gerbang masuk sekolah. Darah terus mengepul dibalik kulitnya. Sedikit rasa sesal pun mendengung di hati Anita. Sesal karena tidak membawa jaket. Sementara Honda Supra-X125 terus memacu di atas lorong beraspal hitam. Embun berabu-abu di pepohonan sepanjang jalan. Pohon-pohon asam yang berlarian kebelakang di pinggir jalan, menggiring deru kendaraannya sampai tiba di sekolah.
            Jam 06:15. Anita sudah sampai di sekolah. Samar-samar sosok laki-laki berseragam putih abu-abu menduduki motornya di parkiran. Ia memandang dari balik tetes embun berkabut. Semakin Anita mendekat ke tempat peristirahatan motor itu. Dibelah teruslah kabut embun. Visual wajahnya sudah tidak samar lagi. Dia sudah melihat dengan jelas, sosok Anton yang tengah beristrahat menemani vixion putih yang juga merasa kedinginan.
            “Tumben kamu pagi Ton?” Celetuk Anita sembari membuka helm yang dipakai.
           “Iya, aku kan mau nungguin kamu. Masak pacarku rajin tapi aku tidak?” Candanya kepada wanita yang masih belum beranjak dari motornya itu.
            “Oh gitu? Kenapa baru sekarang? Dari dulu kemana aja?” Tawa Anita pun pecah menanggapi guyonan sanf kekasih.
            “Dari dulu aku masih belum sadar. Oh iya, ada yang mau aku omongin Nit sama kamu. Kapan kamu ada waktu?” Wajah laki-laki itu berubah menjadi agak sedikit menyerius.
            “Jangan bilang lu mau mutusin gua, terus lu mau nikah gituh. hehe” Anita masih tidak mau terpengaruh dengan wajah serius laki-lakinya.
            “Aku serius Nit.” Anton mempertajam kata-katanya, berharap kekasih cantik itu bisa percaya dan tidak meragukan lagi.
            “Apa kita perlu ketemu? Kalau mau ketemu ya.., nanti pulangnya sekolah saja.” Balasnya tidak disertai tawa lagi.
            “Ok, sampai jumpa. Ayo kita msuk, sebentar lagi kayaknya sudah masuk ini.” Kedua tubuh itu meningalkan parkiran. Parkiran sudah tidak lagi sunyi seperti saat Anita baru tiba, kini sudah dipenuhi dengan motor yang tertata rapi. Anak-anak sudah memadati halaman sekolah. Tubuh Anton dan Anita ditelan oleh banyaknya tubuh siswa. Mereka sudah melebur menjadi satu. Menjadi siswa dan siswi yang sulit dibedakan. Dua orang sudah menjadi puluhan orang, lantaran mereka dipalsukan oleh seragam putih abu-abu. Pagi ini mereka akan menikmati sajian soal-soal dengan pilihan gandanya yang menyita kebingungan. Jangan dikira Anita yang dianggap sebagai siswa paling cerdas disekolah akan lulus seratus persen. Atau dia jauh dari jamahan rasa pusing dan takut. Dia sama. Anita tidak pernah yakin kepada nilai para guru dan teman-teman sekelasnya bahwa dia adalah siswi yang pintar. Lantas, ia adalah anak yang selalu haus terhadap ilmu. Begitu juga ketika dia menghadapi ujian nasioanal, kecemasannya sudah tidak kuasa diberontak. Ia terus merajai dirinya. Sampai dia harus memutuskan komunikasi dengan Anton sejak setengah bulan yang lalu. Karena dia ingin fokus pada kelulusan. Anita tidak ingin mempunyai nilai yang jelek.
            Bel sekolah berdenting dengan nyaring. Adalah pertanda sekolah memperbolehkan anak didiknya untuk pulang, dan kembali kepada orang tua masing-masing. Ruang kelas Anita ternyata tidak sama dengan Anton. Anton di ruang A sedang Anita di ruangan C. Anita bersyukur dipisah tempat duduk dengan Anton. Dia akan lebih konsentrasi pada soal. Matanya hanya akan melototi rentetan pertanyaan-pertanyaan di kertas ujian itu. Mata Anton dan Anita tidak bisa berpeluk pandang. Otomatis otak cukup serius untuk menanggapi soal-soal.
            Drrrtt.. Drrrtt.. Drrrtt..
            Hp Anita bergetar, pertanda ada satu pesan yang masuk.
            Sorry Nit. Aku nggak bisa hari ini. Mungkin besok, atau entar malam aku ke rumahmu. Soalnya motorku mau di pake kakak katanya, terus disuruh cepat pulang.
            Selesai membaca pesan singkat Anton, ia pun langsung membalas.
            Iya nggak apa-apa kok Ton. Santai aja, kamu sudah pulang ?
            Dibalas pesan itu tanpa mengernyitkan rasa kesal pada kekasihnya. Dia hanya menuruti kemauan Anton. Namun bukan lantas dia tidak gelisah. Hati Anita tetap sangat digerogoti penasaran. Gelisah berjalan seiring ritme langkah kaki. Menuruti arah awan yang sedikit mengelabu.
***
            Ujian sudah mereka selesaikan dengan baik, hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja. Jam berputar tanpa ada keluh lelah sedikitpun. Musim secara bergantian melukis dunia. Setelah sekian lama bergelut dengan hujan, hadirlah kemarau dengan teriknya yang tidak memberi ampun. Begitu juga dengan sebuah kebersaman. Kadang harus terpenggal karena terjadi sebuah musim. Adakalanya musim saat mereka bersama. Menukar seagala tawa dengan ikhlas. Geliat resah sudah pasti menyentuh hati para siswa. Lantaran tidak akan lama lagi mereka akan menelanjangi tubuh mereka dari seragam abu-abu.
            Anita merajut kembali cita-citanya untuk kuliah. Setelah beberapa hari ia coba lupakan untuk sekedar meluruskan kearah ujian nasionalnya. Ia menasbihkan untuk mencapai sebuah keinginan yang sudah ia tanam sejak dahulu kala. Menjadi seorang mahasiswa. Ibunya pun juga sudah merestui keinginan Anita untuk kuliah. Lantas Anita bukan termasuk orang dengan penghasilan menengah ke bawah. Ia cukup kaya dengan perekonomian orang Anita. Ibunya yang menjadi seorang PNS. Dia juga memiliki dua toko besar. Dia mempunyai pabrik kerupuk, yang bisa menghasilkan uang lima ratus ribu perhari.
            Kemilau jingga di ufuk cakrawala sore itu semakin berarak mendekati tubuh malam. Berarti tidak akan lama lagi, siang sudah akan berakhir. Dan akan ada lagi esok, bila kiamat tidak menemuinya di subuh hari. Segala kemungkinan tidak bisa dipungkiri keterjadinya. Asal Allah berkehendak, semua yang diramalkan tidak terjadi pasti akan terjadi.
            “Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang. Di antara beribu cinta, pilihanku hanya kau sayang. Tak ‘kan ada selain kamu, dalam segala keadaan ku. Cuma kamu dan hanya kamu, yang s’lalu ada…untukku.” Lagu Hello Band, Di Antara Bintang, tiba-tiba berbunyi dari HP milik Anita. Sepertinya ada sebuah panggilan yang masuk. Ia pun menyegerahkan sekali untuk menganggkat telfon itu.
            “Halo, iya Ton ada apa?” Sapa Anita kepada sang penelfon yang ternyata adalah Anton.
            “Sekarang kita bisa ketemu nggak. Aku jemput kamu ya?” Suaranya agak sedikit tergesa-gesa. Tidak seperti biasanya. Anita sedikit terkejut dengan bahasa Anton yang rupanya banyak menyita kaget bagi perasaannya yang wanita sekali.
            “Ini kan sudah sore loh.. emang kita mau kemana dan mau ngapain sih?” Tanya Anita untuk sedikit memperjelas maksud tujuan Anton yang mengajaknya bertemu secara dadakan itu.
            “Kita ke Pantai Lombang aja yang dekat. Iya nggak masalah meskipun sudah sore. Bisa ya? Ayolah pliiss..” Pintanya agak sedikit memelas. Ia sangat memohon kepada Anita sang kekasih pujaan.
            “Iya deh ok. Jemput aku langsung jangan lama-lama. Kalau masih mau make up dulu kamunya, aku gagal. Ok ?” Candanya untuk menepis rasa takut Anita. Ia tidak ingin ada kata pisah. Sebab Anton pernah bilang kalau dia disuruh kerja di perusahaan milik Pamannya di Jawa Barat. Kalau saat ini, jelas Anita tidak sanggup. Meski sampai kapanpun ia tidak akan pernah sanggup. Apalagi, Anita juga mau kuliah ke Malang. Keduanya sudah pasti akan semakin senjang. Keduanya akan pasti sama-sama sibuk.
            “Yeee.. seneng punya pacar banci? Udah tungguin aja. Assalamualaikum..” Salam Anton terselip disela-sela mikrofon HPnya.
            “Ok Sayang. Waalaikumussalam..” Jawab Anita dari seberang.
            Langit memancarkan rona yang sudah hendak layu. Ia tidak lagi secerah siang yang berlalu. Anita menunggu pergantungan harapannya itu di depan rumah. Dia begitu setia dengan kesetiaan yang menjadi keharusan.
***
            Debur ombak mengerutu di tubuh laut. Pasir yang putih terhampar di sepanjang mata memandang. Angin membelai tubuh sepasang manusia yang tampak bercengkerama di bawah rindang pohon cemara. Sering kali tempak senyum yang mengembang dari bibir Anita dan juga Anton. Nuansa sore yang juga tidak kalah menyumbangkan segala keindahan. Antara siul kutilang dan burung laut yang berpadu, sungguh menggema bak irama biola yang berdawai. Anton memberikan kalung dengan gantungannya yang berhuruf “A”. Ia begitu berbara menjalani hubungan itu dengan Anita. Bahkan jangan ditanya kalau sekedar masalah ketulusan. Keduanya pun sudah cukup serasi. Bagai kedua merpati yang bercucur parunya diatas hamparan pasir putih bermutiara. Namun, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setelah ini aka nada senja yang menutup aktifitas siang. Sebentar lagi pula malam angkat merenggut hak cerahnya. Ia akan cerah bila rembulan benar-benar purnama. Akan Nampak terang jika kabut hitam dilangit tidak juga melanda.
            “Ini kalung buat kamu, simpan ya. Aku kayaknya besok pagi harus berangkat Nit.” Nada suara Anton melemas serius.
            “Lah, kok besok sih sayang? Kamu jadi yang mau kerja. Tapi kan ijazah masih belum keluar. Lalu aku juga masih belum mempersiapkan segalanya untuk berjarak dengan mu. Aku gimana?” Cemberut wajah Anita. Hatinya sudah mulai sedikit tersentak. Dia merasa tidak sanggup dengan cara perpisahan yang begitu mendadak seperti itu. Sebagai seorang wanita, pastilah hatinya akan terenyuh. Ia tidak akan mungkin mampu menahan laju alir air mata. Sebantar lagi dia akan terkapar di atas kasur dengan rasa sedih yang melanda.
            “Aku disuruh berangkat besok. Masalahnya lusa pendaftaran udah mau ditutup kata Om. Kalau masalah ijazah, kayaknya Ayah sanggup untuk nganterin. Aku masih disuru magang dulu disana. Udah nggak usah menangis. Aku kan cuman mau kerja, dan nggak mau ninggalin cintaku ke kamu. Jangan nangis ya?” Jelas Anton sembari menyentuh dagu kekasihnya yang selaksa sarang tawon dengan madu yang sangat manis. Pipi yang putih sudah lembab dengan derai mata air yang suci. Yang mengalir dari bendungan mata yang indah.
            “Aku nggak sanggup Ton. Kamu terlalu dadakan bilangnya ke aku.” Tidak terlalu panjang kalimat yang terlontar dari lidah Anita. Lidah sudaah keluh dengan perasaan. Ketidak relaan untuk melepas kekasihnya sudah dibahasakan dengan aliran air mata yang tidak terbendung.
            “Kita berpisah untuk bertemu kembali. Kamu kuliahnya nanti mudah-mudahan diterima ya?. Perpisahan ini adalah ajang untuk memupuk rindu bagi sebidang kasih yang kita semai dengan cinta sejak dahulu. Kelak kita akan memetiknya berdua dengan buah kebahagiaan.” Nyanyian pantai semakin sumbang. Lantaran dua kasih yang akan berpisah.
“Kamu naik apa besok.” Nada suara Anita beradu dengan sendat tangis yang pecah.
“Naik becak. Ya nai bis lah..” Anton mencoba mengajak tangis anita untuk sedikit merubah wujudnya menjadi tawa.
            “Serius aku. Kamu ini 'ah..” Namun Anita masih belum cukup kekar hati untuk menepis segala sedih yang merajam jiwa.
Berpisah memang bukan berarti tidak akan ada lagi pertemuan berikutnya. Selagi mereka masih dapat memandang langit yang sama, segenap doa pasti akan tetap jujur terpanjant dari ketulusan lidah yang suci. Hanya saja bagi gadis yang seperti Anita, perpisahan ini tidak sekedar luka. Ia pasti akan menerima hujanan rindu yang tiada tara. Disaat senja sudah gugur. Siang akan menepis dengan mimpi yang berbintang-bintang. Sang surya sudah ikhlas dengan segala raut kesedihan. Lantas ia tidak akan lama lagi kembali menyelipkan wajahnya ke tubuh bumi. Namun itu bukan karena mentari tidak setia terhadap bumi. Ia skedar mengatur rindu. Biarlah siang merindukan malam dan malam tetap setia menghadirkan mimpi baginya.
            Sementara lagu milik Adista Band mengalun indah ditelinga Anita dan Anton. “Tiba saatnya kita kan berpisah.. Aku akan pergi.. Aku pergi tuk kembali lagi.. Ku harap kau relakan ku pergi..” Headset Samsung yang menempel di telinga mereka menambah dalam luka perpisahan. Senja tidak bisa berbohong. Senja adalah takdir tuhan. Dan bukan siapa yang harus mengindahkan takdir, Anita dan Anton lah yang harus menengadah kepada Yang Maha Segala Maha supaya dikekalkannya cinta. Anita harus merajut sunyi. Dia akan mencurahkan kekosongan hidup kepada kalung yang dititipkan oleh kekasihnya itu. Dia tidak akan menjadi wanita pendusta. Anita akan semakin berketulusan. Perpisahan bukan kekalahan hati ketika menempuri karang yang keras dalam kehidupan.
“Sampai kapanpun, kalung ini akan kupakai. Sampai kusut sekalipun akan tetap terjaga. Kecuali ini sudah tidak lagi berbentuk sebuah kalung sayang…” Bulir air mata Anita.
Kepada Vie.
Entah berapa juta gemintang terlepas dari tangkai langit
Jujur tidak ada yang memadamkam mimpi ini.
Dikau, mungkin sudah tidak terlintas oleh kemarau kasih?
Sedang disini kerontang hati masih ku pelihara
selalu ku lembapi dengan air mata
Hanya dengan satu harap, kau menjadi melati dikala penghujan nanti.
Atau mungkin diseberang wajahmu, alisku saja tak terbias
di segala kekosongan pandanganmu?
Vie, kita adalah dua manusia yang sama-sama perih.
Jangan sampai kau menjadi sutera sedang laki-lakimu masih benang kusut
Aku juga sama. Bukan hanya kau yang kau bilang
“Bermimpi menjadi permata.”
Aku pun juga..

            Jogjakarta 27 April 2015.

Kamis, 23 April 2015

HUKUM ADAT TENGKA DI MADURA

Sekilas Untuk Maduraku
Oleh Wardi.
            Setiap manusia sejak lahir memiliki kepentingan. Kepentingan adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi atau dilindungi. Dalam bermasyarakat manusia yang satu dengan yang lain berinteraksi dan saling kontak. Berangkat dari keinginan itulah, sekelompok masyarakat membentuk yang namanya aturan atau norma. Dari ketetapan masyarakat yang disebabkan jenuh dengan penindasan dan peperangan, maka dibentuklah hukum. Karena berbicara tujuan hukum itu sendiri, adalah semata-mata untuk mencapai keadilan. Sedangkan isi hukum semata-mata ditentukan oleh kesadaran etika kita mengenai apa yang adil dan apa yang tidak adil.
            Hukum ada yang tertulis dan ada yang tidak tertulis. Hukum adat termasuk hukum yang tidak tertulis, dan hukum adat menjadi pedoman sebagian besar asyarakat Indonesia. Di Indonesia masih dikatakan ajaib, karena hukum adatnya yang masih dipertahankan dalam pergaulan hidup, baik di kota maupun di desa. Bertahannya hukum adat pun disebabkan karena hukum adat  masih terikat sebagai sebagian komponen sumber hukum. Dan hukum adat tumbuh dari kebutuhan hidup yang nyata, pandangan hidup dan cara hidup yang merupakan kebudayaan masyarakat. Menurut Van Vollenhoven hukum adat tidak identik dengan hukum islam, hukum adat boleh dihilangkan, hukum adat adalah hukum yang hidup sendiri, hukum adat memiliki jiwa dan sistem sendiri. Karena dalam hukum adat lebih mengutamakan kebersamaan, kerukunan sebagai dasar ikatan, kelumrahan sebagai ukurannya, dan adanya pengorbanan untuk semua atau pengabdian.
            Hukum adat ternyata sangat terikat dengan kebudayaan. Namun yang masih perlu diketahui, bahwa hukum adat tidak sama dengan kebiasaan. Dalam pandangannya pun kerap terjadi pencampuradukan pengertian mengenai hukum adat dan kebiasaan. Sebab keduanya sama-sama terjadi di kehidupan sosial masyarakat. Perbedaannya atara hukum adat dan kebiasaan adalah terletak pada sanksi. Maksudnya adalah, hukum adat memiliki sanksi, sedangkan kebiasaan tidak ada sanksi dalam penerapannya di masyarakat. Sanksi dalam hukum adat tidak sama, dan bahkan sangat berbeda dengan sanksi hukum nasional. Kalau di dalam penerapan hukum nasional kita biasa mengenal sanksi yang berupa pidana atau denda, maka kalau dihukum adat saksinya adalah rata-rata sanksi moral. Sangat jarang hukum adat ditemukan sanksi pidananya. Sanksi yang ada di dalam hukum adat hanya semata-mata upaya untuk mengembalikan ketertiban masyarakat. Hukum adat berwatak melindungi bukan memerintah, keadilannya pun bukan semata-mata tujuan, melainkan juga pegangan konkret dan mengandung sifat kerakyatan. Hal itu sesuai dengan pandangan hukum adat menurut Moh. Koesnoe, sang bapak hukum adat Indonesia.
            Posisi hukum adat di Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan tidak ada dasar hukum nasionalnya. Atau dengan kata lain, posisi hukum adat ini masih lemah posisinya di Negara Indonesia. Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28I Ayat 3 disebutkan bahwa hukum adat adalah identitas kita, yang berbunyi “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. Hukum adat setara dengan undang-undang nasional, hal itu tertuang dalam UUD 1945 Pasal 18B Ayat 2 yang berbunyi “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.”
            Indonesia masih dibilang ajaib dengan kehidupan bangsanya yang bersuku-suku dan terbagi atas jutaan wilayah, masing-masing wilayah memiliki beragam kebudayaan dan hukum adat tersendiri. Salah satunya adalah Madura, yang merupakan suatu wilayah kepulauan di Jawa Timur yang terdiri atas empat kabupaten, memiliki hukum adat yang sangat unik dan penuh kearifan. Hukum itu biasa disebut dengan istilah Tengka (baca: madura). Tengka dalam arti bahasa Indonesianya, kira-kira sama seperti tingkah. Kalau bahasa Indonesia ada bahasa “tingkah laku” maka di Madura “tengka lako, tengka guli, tengka pola (baca: madura)”. Tiga kata itu sebenarnya memiliki makna yang sama, yaitu perilaku atau tatakrama. Namun bagi orang Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep daratan bagian timur daya, tengka ini dipakai untuk praktek ketika seseorang melakukan resepsi pernikahan atau akan melangsungkan resepsi pernikahan.
            Tengka biasanya lebih di kerucutkan pada barang atau benda yang diberikan oleh masyarakat kepada orang yang melakukan hajat resepsi pernikahan. Bagi orang Madura pemberian barang itu bisa berupa jajan, gula, beras, uang, partisipasi kehadirannya pada saat acara berlangsung, dll. Biasanya orang yang memberi barang atau segala macam yang bisa dimanfaatkan pada saat acara resepsi akan dicatat oleh si tuan rumah atau orang yang tengah melakukan resepsi pernikahan. Catatan itu akan tetap berumur selama ratusan tahun. Yang dicatat biasanya adalah nama orangnya dan bentuk pemberiannya. Terkecuali orang yang hadir, tidak termasuk ke dalam buku catatan. Buku catatan itu dijaga supaya tidak hilang, bahkan ada yang sampai diwariskan kepada keturunannya dari saking banyaknya orang yang memberi tengka. Karena, fungsi buku itu adalah untuk membalas kebaikan orang yang membantu dengan wujud benda atau barang yang sama. Meski ada juga yang dibentuk berupa kesepakatan antara orang yang akan membalas kebaikan itu dengan penerima barang kalau misalkan mau dikembalikan dengan bentuk barang yang berbeda.
            Kalau saya melihat dari praktek tengka tersebut, tak ubahnya seperti orang yang menitipkan barang kepada orang lain dan harus dikembalikan ketika sang penitip barang sudah membutuhkan. Istilah tengka ini ternyata tidak sama dengan hutang, yang jika tidak dibayar harus diperkarakan dengan bungkusan kasus. Praktek tengka lebih kepada hukum adat, karena jika seseorang tidak membalas kebaikan orang lain yang pernah membantu menyumbang untuk keringanan saat merayakan resepsi pernikahan, maka dia akan meneria sanksi moral dari masyarakat berupa pembicaraan banyak orang dan perendahan martabat di mata masyarakat. Karena bagi masyarakat Madura, melakukan tengka dan ketika hendak membalasnya, seakan sudah menjadi tuntutan tersendiri bagi dirinya. Merasa berkeharus dan wajib membalas sebagai masyarakat yang berkearifan sosial.
            Namun pada perkembangan kemajuan ekonomi pada saat ini, tengka hampir mendekati ranah ­“panas-panasa-an”. Yang dimaksud adalah orang melakukan tengka hanya untuk ingin terpandang di mata msyarakat dengan cara memperbanyak nilai pemberiannya. Bagaimana tidak, jika misal ada orang yang memberi uang atau barang senilai 30 juta, dan itu nantinya ketika sang pemberi merayakan pernikahan anaknya maka, 30 juta tersebut harus kembali. Bahkan sekarang dikalangan masyarakat Batang-batang, Dungkek, dan Talango yang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sumenep, orang yang memberikan tengka dengan nilai besar berarti dia adalah orang yang hebat atau akan terpandang di kaca mata masyarakat. Maka tak jarang keluhan dari masyarakat golongan menengah kebawah menggerutu dengan adanya foya-foya praktek tengka itu. Mereka mengistilahkan tengka dengan celoteh lucu mereka yaitu, e kateng-kateng temmu bengkah, yang dalam arti bahasa Indonesianya “dijinjing-jinjing bisa jadi mati”. Karena bagi mereka ketika semakin banyak resepsi pernikahan, akan semakin banyak pula pengeluaran uang.
            Tengka sulit untuk dihindari atau dicegah. Karena itu sudah turun temurun, dan catatan tengka itu yang menjadikan tradisi ini semakin kuat dan abadi. Mereka tidak mau tercemar nama baiknya bila sudah terikat dengan tengka. Mau tidak mau, harus membalasnya demi tidak diasingkan posisi pamor dirinya dimata masyarakat sekitar. Dalam praktek resepsi pernikahan pun, masyarakat Madura sangat jarang yang melakukan resepsi pernikahan di gedung nasional yang hanya bisa dihadiri oleh sebagian keluarga besar atau undangan. Masyarakat madura lebih memilih merayakannya di rumah mereka, sehingga orang yang hadir untuk merayakan dengan membawa beras bagi kaum wanitanya pun banyak. Ini Masih belum termasuk orang-orang yang diundang secara pribadi, seperti famili atau tetangga terdekat. Nah, biasanya bagi orang yang diundang secara pribadi ini akan terikat dengan tengka. Karena posisinya sebagai panjek, yang berarti pelayan tamu undangan yang hadir. Orang yang sudah terikat tengka dalam buku catatan meski bukan tetangga atau famili, hanya sekedar kerabat dekat dia akan diundang secara peribadi untuk menjadi panjek dalam acara resepsi pernikahan itu. Maka hal tersebut semakin mempersulit mereka untuk pura-pura lupa tidak memiliki tengka.
            Sedangkan partisipan yang hadir, tidak termasuk tengka sebagai mana yang dipaparkan secara jelas dari atas. Namun lebih kepada pencitraannya untuk menghargai orang yang sudah pernah berpartisipasi hadir dalam acara besarnya, dan berarti ia (orang yang pernah merayakan resepsi pernikahan) juga harus hadir ketika ada resepsi pernikahan. Seperti itulah yang tidak tercatat ke dalam buku tengka. Wassalam..
           

Sabtu, 18 April 2015

BILA DIA DAN KAMU CINTAKU


Sebuah Cerpen Untukmu.
            Pagi diramalkan gerimis. Mendung mengundang risau matahari, sebab cahanya tak kuasa membias tebal awan yang hitam. Jam dinding mengajaknya segera mencuci tubuh. Dingin mengguyur seluruh badan Roni dengan air yang sedingin salju ketika ia timbah dari sumur dekat rumahnya. Sepatu, dan seperangkat alat sekolah telah menunggu ditempat.
            Dering Nokia tipe 3600 dari saku celananya menjerit-jerit. Pertanda ada pesan yang masuk. Tangan Roni meraba, sang ibu jari yang paling gemuk itu langsung memencet tombol open. “Nanti jangan telat, aku tunggu kamu disekolah.” Begitulah isi SMS Farel, seorang sahabat yang dekat dengan Roni. Tanggal itu 15 Maret, merupakan acara pembentukan struktur asosiasi OSIS sekaligus pemilihan ketuanya. Roni yang menjadi ketua OSIS di MA AL-Ridha tahun itu. Asosiasi organisasi intera sekolah setimur daya mengundang ketua dan wakil ketua OSIS dari sekolah-sekolah di empat kecamatan. Ada Kecamatan Dungkek, Kecamatan Batang-batang, Kecamatan Gapura, dan Kecamatan Batuputih. Bertepatan pada saat itu yang menjadi tuan rumah adalah MA Miftahul Ulum di Kecamatan Batang-batang.
            Ada sekitar lima belas sekolah yang mendelegasikan ketua OSIS dan wakil ketuanya. Masing-masing ketua yang datang akan didampingi oleh wakil ketua. Namun Roni pada saat itu, hadir tidak bersama dengan wakilnya. Dia bersama Ibas yang merupakan sekretaris OSIS. Sekolah MA Miftahul Ulum menjadi lautan bagi Roni. Dia tenggelam dengan alunan diskusi yang menjadikan hatinya menjadi bermisi-misi. Entah apa yang dirangkai dalam setiap putaran otak Roni, teman-temannya pun tak kuasa menerka.
            Pemilihan ketua ASSADA itu bagi Roni sama sekali tidak demokratis. Tersebab hak suara yang mendominasi adalah dari suara tuan rumah sendiri. Farel dicalonkan menjadi ketua ASSADA. Kandidat berikutnya adalah Roni. Karena suara terbanyak dari Miftahul Ulum, Farel pun memenangkan pemilihan itu. Namun hati Roni sama sekali tidak ingin terhasut oleh kekuasaan untuk harus membenci Farel sahabatnya. Kesepakatan forum ternyata menetapkan Farel sebagai ketua dan Roni sebagai wakil ketua. Kebetulan yang dipilih oleh forum sebagai bendahara adalah sahabat mereka sendiri, yaitu Farhan dari MA Al-Huda. Dan yang menempati struktur sekretaris adalah saudari Atika dari SMA Al-In’am.
            Nuansa forum berubah bukan menjadi nuansa politik lagi bagi hati Roni. Hatinya terlibas dengan pandangan wanita. Ada anak panah yang terbuat dari mata seorang wanita mungil. Panah itu terlalu runcing, menancap ikhlas dikedalaman hatinya. Di dalam forum Roni kerap menyempatkan pandang untuk sekedar menyapa dengan lambaian bulu matanya. Seorang wanita yang juga merupakan anggota OSIS di MA Miftahul Ulum telah merampok sosok bijak sebagai ketua OSIS. Dia menawarkan senyum terindah saat sengaja menunggu palingan wajah Fitri.
***

            Gemintang bertabur di pekat tubuh malam. Bulan sabit menyibak naluri lelaki yang fikirannya berkelana mencari cahaya dari gelap yang begitu lama setia menemani. Semburat yang mencipata seribu tanda tanya. Sebuah pertanyaan rasa yang ingin dia cicipi dengan doa. Fitri menyita kelaki-lakian Roni yang normal. Sapaan tentang sosok Fitri bukan baru saja terbit dari benak Roni. Perkenalan itu diawali dari sosial media Facebook, hingga pertemuan itu menampakkan sosok sesungguhnya yang purnama. Maka tidak heran bila tatapan mereka sudah sama-sama tajam, lantaran sudah selalu diasah dengan kebersamaan mereka di dunia maya.
            Detik terkelupas menjadi menit, menit melahirkan jam. Musim tanggal di wilayah kalender telah berguguran. Masa sudah tidak prematur untuk menulis hikayat di ujung pena. Demikian juga dengan hati Roni yang menyatakan cinta telah kuncup untuk Fitri. Lantas kebersamaan diantara mereka sudah tidak dapat dihitung canda dan tawa yang selalu menetas setiap waktu. Kini Roni diam-diam menyemai bibit kasih di balik ritme detak jantung Fitri. Entah, ia begitu berani yakin pada wanita barunya. Seorang wanita yang telah membangkitkan lagi senyumnya, setelah sekian lama menyantap kelabunya hidup dan nasib dia ketika dilibas luka sejarah kelam.
            Keindahan yang Roni nikmati seketika berlabuh ditengah malam dalam senyum Fitri, ia lalui secara diam-diam. Dirinya mencoba bertahan dalam cinta yang terselip disela nafasnya yang kembang kempis. Maghrib pun terlepas dari waktun, malam kembali bertamu di sehampar tikar yang biasa Roni tempati. Setiap malam Roni setia di atas tikar itu. Hanya sekedar menyaksikan diskusi bintang atau dian yang tiada usang. Roni mengubah posisi bola matanya, hingga titik hitam ditengah putih menyamping. Ia melirik kearah hapenya yang sunyi. Padahal tiada harapan hape kesayangan itu bungkam.
            “Rel. Kamu dimana sekarang?” Roni pun menelfon sahabatnya.
            “Ada di rumah Ron.” Sahut Farel dari balik hapenya.
            “Aku menyukai temenmu Rel. Si Fitri. Bantuin aku lah..” Lidah Roni seperti dipenuhi oli, begitu licin kata yang terlepas tak terkontrol. Begitulah suara hati, yang setiap waktu memasung dirinya.
            “hehe. Dia itu cuek Ron. Sulit kayaknya kalau cita-citamu mau berpacaran dengan dia.” Suara Farel agak sedikit tersendat-sendat, karena mungkin sinyal dirumahnya lemah. Namun bahasanya masih bisa ditangkap dengan jelas di telinga Roni.
            “Tapi dia ke aku perhatian kok Rel.” Nada suara Roni sudah mulai lemah, tak ubahnya radio yang daya batrenya sudah mulai habis. Ia merasa tidak punya pegangan untuk melintasi jembatan menuju hati Fitri. Padahal keinginan Roni mengalir damai untuk dapat bermuara di hati Fitri. Harapan yang tak rentan begitu kokoh mencipta keinginan yang meriak-riak segera memiliki Fitri.
***

            Kupu-kupu terbang kesana kemari, menghampiri bunga-bunga yang cantik bertangkai lentik. Sepanjang jalan pulang, hanya terniang rona Fitri di mata Roni. Ingin rasanya jalan dari Gapura ke Batang-batang ia lipat. Supaya dari sekolah ke rumahnya tidak terlalu miliaran menikmati letih. Fikirannya tetap memutar di sekeliling wajah wanita yang ia kagumi. Dia tetap mengingat-ngingat kata lembut yang terucap dari Fitri. Batinnya bertanya lewat semu, apakah tumbuh cinta dihatinya?
            Air wudhu’ membelai sebagian wajah sampai kakinya dengan kesejukan tiada banding. Hatinya seperti menelan AC, dingin. Niatnya sudah tulus untuk segera ditunaikan dihadapan-Nya. Kiblat yang coba ia dekatkan dengan hati, biar kerinduan semakin manja bergelora. Lantas dengan jarak dirinya dengan ka’bah, semakin menambah kerinduannya seketika bersholat. Tidak mungkin dia lupa, tentang doa pengharapan kepada wanita. Doa yang berisi nama Fitri begitu manja kepada Sang Maha Pencipta.
            Roni membentuk sila di atas kain sajadah lusuh yang setia menemani dirinya tengadah. Setelah putaran doa dan tasbih berhenti dibulirnya, Roni mengganti tangan dengan Nokia tipe 3600 itu lagi. Kebiasaan menyapa Fitri dengan Assalamualaikum ataupun sekedar ucapan selamat siang,sudah tertasbih disetiap detak kehidupan Roni. Roni mencoba memilih ribuan kata yang berputar bertebangan dikeningnya, hanya untuk menjadikan sebuah kalimat saja. Setelah lama dia mencari-cari, kumpulan kata pun terbentuk.
            “Fit, salah nggak sih kalau aku suka sama kamu. Sebenarnya aku sangat mengharapkanmu menjadi pacarku. Jawab ya Fit, bila kamu sudi merenda bahagia dengan ku.” Itulah SMS yang dia kirim ke Fitri sebagai perwakilan suara hatinya yang sudah sejak lama meronta-ronta.
            Risau tiba-tiba merajai Roni. Ia mulai bertanya pada putaran jarum jam di dinding kamarnya. Entah Fitri akan mengirim ribuan paragraf sebagai bentuk luapan bahagianya. Sehingga dia perlu lama untuk menulis balasan SMS Roni. Atau Fitri masih kesulitan merangkai kata-kata yang indah, seindah bintang di langit? Menit pun terhitung delapan puluh terlepas. Dering hape Roni mendeburkan hati yang sedari tadi kerisauan menunggu balasan SMS Fitri.
            “Maaf Ron, aku baru pulang dari pengajian. Jadi aku telat balesnya. Kamu lagi apa ?” Roni pun mencoba membaca ulang isi SMS itu. Diulangnya entah keberapa ulangan yang diulang-ulang oleh Roni. Pesan itu pendek, dan bahkan tak ada satu kata pun yang disingkat. Roni bukan tidak bisa membaca SMS Fitri. Bahkan dia sudah kelas akhir di bangku MA. Hanya saja dia tidak percaya akan ada jawban yang bersimpangan dengan pertanyaan yang Roni tanyakan.
            Percakapan mereka terus berlanjut. Roni terus berusaha membedah dan mencari kepastian jawaban dari Fitri. Begitu sangat tidak mudah menembus belukar dengan tekad yang lemah. Bukit terjal harus Roni daki, biar tahu apa yang bersembunyi di puncaknya. Memang tidak ada yang salah, wanita adalah samudera. Tapi samudera dengan badainya yang besar telah menenggelamkan harapan yang tulus. Fitri tidak ingin memiliki pacar. Roni sendiri juga masih egois. Dia tetap berlari mengejar cintanya yang tertancap di sosok indah Fitri. Hatinya terlalu rapat dengan miliaran ketulusan yang berdesakan, sampai sulit ditemukan letih dalam perjuangannya.
            Pagi buta basah dengan embun air mata yang bertengger di pucuk-pucuk doa. Semilir angin sendu mengirama di dedaunan. Kupu-kupu entah dimana bersembunyi. Nyanian camar semakin sumbang warnai kehidupan Roni. Ia ingin sekali menceritakan kepada sahabatnya, Farel. Kalau ia sedang terluka, bahwa hatinya dilanda lara, ia cemburu pada ritme jarum jam yang setia berputar tanpa lelah. Ia ingin sekali mencurahkan, menumpahkan semangkok racun yang terlanjur dia telan dari tatapan wanita miftahul ulum.
            “Aku dulu pernah nembak dia juga Ron. Tapi aku ditolak. Makanya aku sahabatan aja sama dia sekarang. Fitri memang begitu.” Farel berkicau panjang kali lebar, sampai Roni kebingungan mencari titik dimensinya. Padahal Roni meminta solusi. Bukan malah semakin memukulnya dibekas luka memar yang masih bara. Risau hati Roni tak bertebing kala itu. Dirinya merenda luka yang mendalam.
            “Aku tidak perduli Rel. Tapi kamu tidak apa-apa kan, kalau semisal nanti aku bisa jadian dengan Fitri?” Mimpi Roni masih tinggi untuk mendapatkan wanita pujaannya. Kalimat itu memang sedikit menyenggol hati. Sebab lahirnya perpaduan kesal dan luka yang tertambat cinta.
            “Aku yakin kamu nggak bakalan bisa pacaran dengan dia.” Begitu vertikal kalimat Farel yang berdasar keyakinan hatinya. Hati Roni masih berlinang dengan genangan air mata. Bagi Roni itu adalah kalimat rangsangan yang dikeluarkan sahabatnya supaya tetap mau berjuang. Roni mencoba menyemai kembali perasaannya.
***
            Sendu sedan kicau camar dilembaran lain fajar April. Ada daya yang menyungging di awal Mei. Meski Roni pernah lapuk di deras air matanya. Kini cinta sudah legam terbakar terik cita-cita. Kejadian lima bulan yang silam, terpaksa dia telan. Komunikasi dengan Fitri sejauh langkah nafasnya, masih tak terhambat ruang dan waktu. Entah, dia seperti sudah terpatri dikelopak bunga Desa Pacinan itu. Hatinya menjelma menjadi arus yang besar, maka pula tidak akan ada bendungan yang bisa menahannya menuju muara hati Fitri. Roni ingin mencoba untuk mengungkapkan lagi perasaan yang masih suci dan tak layu karena waktu.
            Aktivitas malam roni terkontrak untuk berceloteh dengan Fitri. Sekedar saling mengisi sepi. Ia tersenyum ketika sedang menatap layar nokia miliknya. Dia terhipnotis dengan diksi pesan singkat Fitri. Roni tak ubahnya seperti orang gila yang merayu-rayu karet kecil. Karet itu pasti ia senyumi. Masih dengan senyuman yang kosong, hingga tidak sadar bahwa malam telah membawanya jauh. Namun, malam pekik tak kuasa memungkas percakapan mereka dari balik hape masing-masing.
            “Kita taruhan yuk?” Pesan singkat Fitri hinggap di hape Roni.
            “Mau taruhan gimana? Boleh.” SMS Roni terbang menuju hape Fitri.
            “Pokoknya siapa yang tidur duluan, dia kalah.” Fitri dengan jengkelnya menantang laki-laki yang dipenuhi asmara itu.
            “Ok. Siapa takut. Tapi apa taruhanmu.” Pesan singkat Roni.
            “Kalau kamu kalah. Kamu besok jalan kaki ke sekolah.” Fitri pun tidak segan-segan mengancam Roni.
            “Ok siap. Tapi kalau kamu yang kalah, kamu harus siap untuk menjadi pacarku. Aku akan mengalahkanmu.” Roni mencari kesempatan dalam taruhan. Senyumnya menyeringai. Obrolan mereka dari hape ke hape masing-masing masih berjalan lancar. Tak disangkanya jarum jam sudah menandakan tiba di pukul 02:00 dini hari.
            Fajar menyibak butanya pagi. Mentari menyingsing di ufuk timur. Gelora menjadi warna bahagia. Bianglala menyempurnakan keindahan suasana. Fitri dinyatakan kalah. Roni pun tersenyum saat membaca alur percakan dengan Fitri di hapenya. Bunga bertaburan di pelataran hati. Bagaimana tidak? Sedang cinta yang dimimpikan, kini terbangun dan memeluknya. Fitri membendung air mata Roni. Roni mensbihkan namanya pada setiap putaran doa.
***
            Empat Bulan Kemudian.
            Kenapa bisa dua merpati putih menjadi lusuh? Mungkin ia kelaparan saat disandera rindu. Kerontang tubuhnya menggambarkan bahwa dia kurang makan. Atau sengaja ka’bah dijauhkan dari hadapan ummat ketika bersholat? Biar dengan jarak, ia mengerti tentang makna rindu. Kecurigaan yang lain, jangan-jangan mereka tak tergaris ditangan dengan liuk yang sama. Hampir sulit tak tercium harmonis keduanya, yang dahulu sempat sangat semerbak. Pertengkaran kerap terjadi.
            Rindu yang menggunung dihati Roni sudah berapi. Entah, wanitanya memohon jangan segera meledak. Kehendak sua sudah tak berhak menyandang kalimat keinginian lagi. Itu adalah bentuk sikap keyakinan yang berani. Roni merapikan semua ketulusan untuk merenda diistana suci. Bukan lantas dia akan menjadi pengecut. Adat menuntutnya untuk jangan berdosa. Fanatisme keagamaan di dalam tubuh masyarakatnya melarang untuk tidak suci. Jangan haram. Harus halal. Jangan melanggar adat. Hargai masyarakat. Ini kehidupan bersama, bukan dua orang. Kecipak kalimat itu terlontar dari lucirnya mulut masyarakat. Sungguh terlalu bising.
            Masa kelam tersulut kembali. Rasa takut kepada seorang wanita menjelma hitam dalam kepala. Senja di ufuk cakrawala tidak akan segan-segan memenggal kebersamaan dua manusia. Roni masih seperti diawal cerita ini. Roni masih dengan sejuta ketulusannya. Begitu juga mengenai rasa kecewa yang pernah ditelannya, perlahan-lahan ia sudah mulai bisa memuntahkan. Keberanian bajah itu hanya tumbuh pada saat tinta kasih Fitri mewarnainya. Pernyataan yang sakral dari Roni, bukan celoteh anekdot. Ia sekali lagi tulus…

Bersambung…