Senin, 27 April 2015

“SYNDROME” From the Secret of Love

Oleh: Wardhy Liela
            Sepotong Kebersamaan
            Ragu mengulum  keberanian,
            Ketika cinta hanya terpental pada sujud tengadahku
            rintik hujan tak terhirau, bumi masih mengerutu
            semburat tak pendar, malam tetap gulita.
            Padahal kita telah lama melangkah
            menjajaki bukit dan laut sembari merinai sumbang.
            Dan pada ironi yang begitu jujur, kita masih bukan apa-apa
Jogjakarta 28 April.
            “Jamilah” SMS pertama dari nomor baru.
            “J.A. JA. M.I. MI. L.A. LAH.” SMS kedua yang di eja, setelah pesan pertama Jamilah hiraukan. Ternyata ada keinginan lain. Dia awalnya mengira pesan yang dikirimi oleh nomor baru yang belum terdaftar di kontak HP Jamilah, hanya sekedar pesan nyasar. Hatinya begitu saja dihujani penasaran. Keinginannya sudah kuyup untuk menanyakan “siapa dia pengirim pesan singkat itu?.”
            “Iya?” tak perlu waktu lama bagi Jamilah untuk membalasnya. Dengan pertanyaan itulah dia menitip harap. Joni menyeringai, hatinya sudah merasa bahagia menerima balasan SMS dari Jamilah. Sifat jamilah yang polos, hanya hijab yang menghiasi rona indah itu. Jiwa kemuslimahannya mengurung keinginan Jamilah untuk sembarangan berinteraksi dengan laki-laki. Dia hanya memperlihatkan rasa cuek-cuek bebek dengan sedatar-datarnya.
            Percakapan mereka berlanjut setelah Joni membalas dengan kalimat indah. Seindah perasaannya. Jamilah menemukan sesuatu yang magis dari sebuah teks yang hinggap dilayar Handphone miliknya. Yang menyudahi hanyalah larut malam yang memaksa tubuh mungil itu segera merebah pada badan kasur yang empuk. Sementara, dengan Joni sendiri tidak kuasa mengatupkan kelopak mata. Ia ingin malam itu hadir ke dalam mimpi Jamilah. Sekedar menjaga tidurnya hingga pulas. Joni lancar berbisik pada kesendirian malam, tentang dia yang menyukai Jamilah. Padahal Joni hanya tertusuk dua kali panah asmara Jamilah. Tusukan pertama menancap rapi di dada Joni. Saat itu bertepatan Joni berkunujung ke sekolah Jamilah. Ia berkunjung hanya sekedar mengikuti seminar. Seminar yang membuat hati Joni bersinar, matanya menjadi berbinar merasa tersapu oleh cinta samar-samar, namun itu benar. Tusukan kedua anak panah cinta Jamilah yang dilepas dari busur senyum yang syahdu, menancap tepat di hati Joni. Laki-laki yang memang sedang dilanda kasmaran pada pemanah cinta itu, si Jamilah. Dan ia harus kembali menjadi korban di tengah persuaannya dengan Jamilah di dalam sebuah toko swalayan di Gapura.
            Allah Yang Maha Benar, Maha Kuasa, dan Maha Segala Maha. Maka tidak ada yang tidak mungkin untuk terjadi, jika Ia berkehendak “jadilah” maka akan jadi sesuatu yang Allah kehendaki. Begitu pula dengan insan ciptaan-Nya. Mereka akan merasakan cinta secara tiba-tiba. Kadang tidak perlu pacaran pun, akan menjadi cinta dan pasangan yang kekal abadi selamanya. Setiap malam Joni hanya menulis. Ya, hanya sekedar menulis nama gadis mungil yang mengagumkan. Tempat segala semangatnya tumbuh. Dan seakan sudah menjadi desahan nafas lain bagi Joni.
Malam itu, Joni mulai mengotak-atik akun facebooknya. Ia ingin mencari tahu tentang Jamilah. Pastilah anak MA Miftahul Uyun itu mpunya akun facebook. Joni terus mencari. Diketiknya sebuah nama, nama pertama yang ia ketik adalah JAMILAH. Namun tidak ada yang cocok seperti apa yang dia cari. Joni melanjutkan, JAMIELAH. Hasilnya pun juga sama, ia tidak menemukan gadis mungil berbingkai hijab yang Joni cari. Misi itu tak pupus di penghujun lelah, dia pun terus mencari lagi. Diketik kembali sebuah nama dengan huruf “alay tren terkini” JAMIELACH. Akhirnya keluar satu akun dengan foto profil lebih cerah dari yang lain. Kerudung kuning. Gemilap wajahnya Joni kenal, dia adalah Jamilah yang dia cari.
Joni sebenarnya masih merasa semu. Ia mencoba menyibak rasa ketidak jelasannya kepada Jamilah yang sudah mulai Joni sadari. Bagaimana tidak, itu adalah sesuatu yang tidak jelas. Sedang Joni hanya baru dua kali melihat Jamilah dan hanya baru dua minggu fikirannya menghafal wajah Jamilah. Entah karena apa, sepih yang meriak disetiap gulitanya malam Joni, hanya nama Jamilah yang terngiang indah. Hampir semua sudut kamar Joni terhias wajah Jamilah. “Punya sihir apa wanita itu?” hatinya berbisik menggiring senyumnya yang mulai mekar di bibir. Malam itu Joni sulit dibedakan dengan orang yang kurang waras akal. Ia menyisirkan jemarinya ke rambut, berharap tanda tanya yang berputar dikepala bisa gugur didepan Joni. Sebuah pertanyaan yang tidak tahu harus pada siapa dia tanyakan. Tentang wanita menggelisahkan.
Akun facebook Jamielach membias bahagia disetiap malam yang Joni kecup. Dia berharap dengan cengkerama di dunia maya akan menjadi nyata, dan menyatakan dirinya sebgai jodoh Jamilah. Walau hanya dengan sebuah perckapan publik disebuah komentar remeh, bagi Joni sudah lebih dari cukup indah.
Joni semakin berani. Ia mencari nomor telepon Jamilah, dirinya ingin berhubungan lebih akrab lagi. Tidak perlu waktu berhari-hari buat mendapatkan nomor telepon Jamilah. Seorang kerabat Joni yang bernama Imam menyulurkan nomor telepon dari pesan singkat yang Joni krim sebelumnya. Joni meminta pada Imam untuk dicarikan nomor telepon Jamilah. “Terima kasih bro!” SMS Joni terbang menuju HP Imam.
***
Senin pagi ditafsirkan gerimis. Mendung hitam menebal berarak dari barat. Wajah sang surya begitu tampak lesuh. Pagi ini sudah jelas dinyatakan tidak cerah. Suara Guntur bersahutan di balik langit. Bahkan kutilang yang biasa terbang menghinggapi dahan-dahan, kini sudah tidak dijumpai lagi. Jamilah tidak ingin kegiatan aktif masuk ke sekolahnya terganggu. Ia tidak ingin mendapat nilai C dari buku kerajinannya. Lantas, ia adalah siswi yang rajin. Jamilah sering mendapat peringkat satu mulai sejak SD.
Begitu juga dengan fanatisme agamanya. Jamilah bukan wanita yang liberal. Dia adalah wanita yang memegang kental ajaran agama Islam Indonesia. Jamilah ketika beropini dengan sejumlah teman-temannya di sekolah, pastilah terselip argumen yang dambil dari Ayat Suci Al-Qur’an. Jamilah mencoba meneladani ajaran Al-Qur’an di dalam kehidupannya. Ia sama sekali sangat tidak pernah berpenampilan ketat, apa lagi sampai terbuka. Sangat tidak pernah ia lakukan. Foto-foto di akun facebook Jamilah tidak ada yang tidak berkerudung, berbingkai kerudunglah wajahnya.
Gelisah, penasaran, takut, tercampur diaduk dalam wadah otak Jamilah. Takut yang seiring penasaran. Ia pun bertanya dalam setiap otaknya “Siapa sih laki-laki itu. Ia selalu mengirimi sms romantis setiap hari?.” Jamilah memang sering mendapat sms yang romantis. Ia bahkan tidak tahu siapa orang itu. Sejak pertama dia berdialektika dalam kata di sebuah pesan singkat, sampai sekarang masih saja semu. Hanya diberi nama XL di dafatar kontak HP Jamilah. Padahal ia belum tahu. Apakah itu adalah seorang laki-laki atau perempuan. Sebagai wanita yang normal, harapan Jamilah adalah laki-laki. Aneh. Jamilah sudah mulai tersanjung hatinya. Kata-kata yang dikirm oleh Joni begitu bermakna. Dan mampu mendenyutkan cinta dihati Jamilah. Jamilah merasakan seperti sudah berpacaran dengan nomor XL itu. Semakin aneh. Jamilah belum tahu siapa pengirim SMS indah dengan kata-kata yang merenyuhkan hati. “Atau jangan-jangan Fadil?” Gumam hatinya kembali bertanya-tanya.
            Berawaal dari sebuah ketidak yakinan itulah, akhirnya Jamilah mengirim SMS ke Fadil. Ya, dia adalah sahabat lama Jamilah yang kadang juga suka jail.
Pangeran, kamu kah yang mengirimi saya dengan kata-kata?” SMS Jamliah menuju Fadil.
“Ninit.. ninit.. ninit..” Suara HP Jamilah yang menandakan bahwa ada satu pesan yang diterima.
Nggak puteri, aku nggak sms kamu kok. #serius” Pesan singkat dari Fadil.
Ternyata memang bukan. Orang itu bukan Fadil. Pengirim pesan singkat itu adalah Joni. Seorang siswa dari MA Nasut. Sang laki-laki penikmat rona dan sikap halus berakhlaknya Jamilah. Joni tidak bisa berbohong akan perasaan itu. Hanya saja ia takut, karena Jamilah menurut penuturan teman-temannya, dia bukan wanita yang sembarangan. Sikap Jamilah yang bisa jadi cuek pada laki-laki yang baru saja dia kenal. Dia tidak akan mudah akrab. Maka bisa saja firasat Joni bila dia berkenalan secara jelas-jelasan, ia akan tersingkir dari hadapan Jamilah. Sikap Jamilah yang suka membenci laki-laki berpaham gombalisme seperti Joni. Tentu berangkat dari hal itu Joni menepis jauh-jauh keinginan untuk mendekati Jamilah secara terang-terangan.
            Sikap Jamilah yang membenci laki-laki, bukan berarti ia tidak dikaruniahi perasaan cinta kasih oleh Tuhannya. Jamilah adalah wanita normal. Dia bisa merasakan sakit hati. Dia bisa mengagumi laki-laki tertentu yang dianggapnya adalah seorang imam yang pas bagi diri Jamilah. Bahkan Jamilah pernah mengalami kejadian terburuk. Kecelakaan dalam perjalanan cintanya dengan Wardhy. Hati Jamilah remuk. Ia tersungkur dari ketulusannya sendiri, dari sebuah penilaian baiknya sendiri terhadap laki-laki. Jamilah merasa diperlakukan bagaimana wanita lieberal. Sedang Wardhy sendiri, dia adalah seorang laki-laki yang sangat kejam dan begitu bejat. Laki-laki pengecut itu sudah banyak mempermainkan wanita. Salah satunya adalah Jamliah. Itu adalah salah satu bukti kecil bahwa Jamilah bisa jatuh cinta.
            Angin membelai wajah cantik itu. Disapu dengan tulus dan ikhlas. Kenangan masa lalu tidak ingin dia putar ulang. Biar disapu bersih oleh angin musim penghujan. Kini dia kembali menjadi wanita yang biasa. Sederhana. Wajah indahnya yang tidak pernah terpoles oleh bedak bermerk internasional. Jamilah hanya berbedak air yang suci seketika hendak bersholat. Ia begitu rutin membasuh wajahnya dengan air wudhu’ hingga segemilau itu. Sungguh mengalahkan make up orang korea. Alisnya pun tidak pernah luntur meski sudah berkali-kali dibasuh dengan air suci.
            Seorang puteri dari adat Madura, Jamilah mampu menyandang gelar wanita bunga desa. Yang dimaksudkan adalah dia menjadi wanita tercantik menurut adat bukan menurut juri miss universe 2015. Rona yang langka itulah yang memikat hati Joni. Wajah yang tidak pasaran. Bagi Joni kecantikan Jamilah sudah bertaraf internasional di hatinya.
***
            Ketika mimpi Jamilah yang begitu diinginkan kenyataanya, kini tiba pada pelabuhan kasih yang diam-diam diharapkan dari sang pengirim pesan misterius. Jamilah juteru mengikuti alur ombang pesan sang singkat. Tak jarang wajanya berseri ketika membaca segombal kata-kata indah yang masuk ke HP Jamilah.
            “Aku Tanya ya sama kamu peri, perasaan mana yang kamu inginkan. Kebersamaan atau cinta?” Itu adalah pesan yang dikirm oleh Joni sang pengirim SMS misterius.
            Jamilah merasa hatinya ter-upgrade lagi oleh laki-laki misterius itu. Dia merasa ada yang berbeda dari sang pengirim SMS dengan laki-laki lain. Atau bahkan dengan Wardhy. Jemarinya yang lentik pun kian menari-nari datas tombol qwerty samsungnya.
            “Andai kuasa memilih keduanya, maka keduanyalah yang saya harapkan. Namun jika tidak memungkinkan memilih semua, maka aku lebih memilih cinta. Untuk apa sebuah kebersamaan bila rasa cinta tidak pernah ada. Atau bahkan mirisnya, cinta hanya tumbuh disebelah hati. Maka, saya yakin kecemburuan dari perselingkuhan lah yang akan dinikmati. Realistis saja ya, bahwa tidak ada yang lebih bahagia selain tertanamnya sifat cinta dalam diri manusia.
            Pesan Jamilah dibaca oleh Joni. Darah mengepul di balik kulitnya. Detak jantung Joni berantakan. Rasanya perlu didatangkan dokter syaraf, biar Joni bisa langsung konsultasi. Siapa tahu ada yang salah dari salah satu syaraf Joni. Ia semakin tidak sabar untuk melanjutkan diskusi indah dengan pergantungan jiwanya yang begitu semu.
            “Betul sekali peri. Maka tidak perlulah kebersamaan itu, apa bila cinta sudah jelas tumbang. Saya harap apa yang saya tulis dan apa yang peri rasakan, adalah cinta yang jangan pernah dipungkiri. Aku adalah sosok laki-laki pengintip rembulan setiap malam, kulihat pipinya yang memerah setelah ku pandang begitu lama. Entah dengan mu yang nyata? Aku harap ada seorang yang melakukan aktivitas yang sama sepertiku. Jikalau berkenan, mari kita pandangi purnama itu bersama, keluarlah peri.

            Begitu teduh SMS yang dibaca oleh Jamilah. Hatinya begitu sejuk. Lucunya sebuah perasaan yang tulus, Jamilah mau dan keluar hanya untuk memandangi purnama demi perintah laki-laki misterriusnya. Ya, seperti itulah cinta yang tidak bisa disamakan dengan sebuah kebersamaan. Apapun akan dilakukan dengan atas nama cinta. Kisah gadis yang sederhana yang sangat sederhana untuk merasakan sindrom kasih dari laki-laki. Tidak butuh laki-laki hebat untuk menggugah bahagianya, menerima dia dengan segala hal sudah melebihi cukup. Ia sudah merasa bahagia, dan semoga abadi. Sekian..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.