Minggu, 26 April 2015

SENJA DI POHON CEMARA

Oleh: Wardhy Liela
            Indah pelangi ku pandang yang melengkung di kaki langit. Jam dinding menyita tubuhnya yang masih berbau keringat untuk segera mandi. Tersebab Anita akan menjalani ujian akhir nasional. Sebagai siswi yang duduk di bangku akhir, dan juga termasuk siswi yang sengat rajin dan cerdas. Sejak kelas satu SMA dia selalu mendapat peringkat satu. Di bangku kelas duanya, dia berhasil menjadi siswi teladan di sekolahnya. Maka dia harus mempertahankan pamor itu. Mantan  ketua osis di SMAN 1 Sumenep itu ternyata sudah siap untuk bertarung dengan teman-temannya. Dia sudah siap dengan segala bekal otak yang diasa sejak lama dengan pendidikan-pendidikan yang diajarkan oleh para guru di dalam kelas. Seperangkat alat sekolah dan alat ujian sudah tertata rapi di dalam tas sekolah yang biasa ia bawa setiap hari. Putih abu-abu membukusi tubuh putih Anita. Hijab sudah membingkai indah wajah Anita sebagai seorang muslimah.
            “Nita berangkat dulu ya Bu?” Pamitnya kepada sang Ibu yang masih berusia tidak terlalu tua itu.
            “Iya nak. Semoga lancar ujiannya, ibu bantu doa dari sini.” Anita pun menyalami tangan Ibu sembari menyelipkan pesan mulia dari sang Ibunda. Ibu yang tanpa lelah untuk memberi semangat kepada Anita. Ibu yang tidak pernah diam disaat dia punya masalah. Sangat jauh berbeda dengan Bapaknya. Anita hanya tinggal berdua di rumah yang berkeramik megah warisan dari neneknya. Bapak Anita menceraikan Ibu Anita, waktu dia masih berumur tujuh tahun.
            Udara pagi yang dingin begitu kejam menerobos masuk ketubuh wanita cantik itu. Kain putih yang ia pakai tidak mampu membohongi, bahwa dia benar-benar merasa dingin. Anita berangkat terlalu pagi hari ini. Bukan lantas karena apa, dia tidak ingin sedikitpun melibas menit untuk menjawab soal-soal ujian. Atau dia harus menghadapi wajah seram satpam penjaga pintu gerbang masuk sekolah. Darah terus mengepul dibalik kulitnya. Sedikit rasa sesal pun mendengung di hati Anita. Sesal karena tidak membawa jaket. Sementara Honda Supra-X125 terus memacu di atas lorong beraspal hitam. Embun berabu-abu di pepohonan sepanjang jalan. Pohon-pohon asam yang berlarian kebelakang di pinggir jalan, menggiring deru kendaraannya sampai tiba di sekolah.
            Jam 06:15. Anita sudah sampai di sekolah. Samar-samar sosok laki-laki berseragam putih abu-abu menduduki motornya di parkiran. Ia memandang dari balik tetes embun berkabut. Semakin Anita mendekat ke tempat peristirahatan motor itu. Dibelah teruslah kabut embun. Visual wajahnya sudah tidak samar lagi. Dia sudah melihat dengan jelas, sosok Anton yang tengah beristrahat menemani vixion putih yang juga merasa kedinginan.
            “Tumben kamu pagi Ton?” Celetuk Anita sembari membuka helm yang dipakai.
           “Iya, aku kan mau nungguin kamu. Masak pacarku rajin tapi aku tidak?” Candanya kepada wanita yang masih belum beranjak dari motornya itu.
            “Oh gitu? Kenapa baru sekarang? Dari dulu kemana aja?” Tawa Anita pun pecah menanggapi guyonan sanf kekasih.
            “Dari dulu aku masih belum sadar. Oh iya, ada yang mau aku omongin Nit sama kamu. Kapan kamu ada waktu?” Wajah laki-laki itu berubah menjadi agak sedikit menyerius.
            “Jangan bilang lu mau mutusin gua, terus lu mau nikah gituh. hehe” Anita masih tidak mau terpengaruh dengan wajah serius laki-lakinya.
            “Aku serius Nit.” Anton mempertajam kata-katanya, berharap kekasih cantik itu bisa percaya dan tidak meragukan lagi.
            “Apa kita perlu ketemu? Kalau mau ketemu ya.., nanti pulangnya sekolah saja.” Balasnya tidak disertai tawa lagi.
            “Ok, sampai jumpa. Ayo kita msuk, sebentar lagi kayaknya sudah masuk ini.” Kedua tubuh itu meningalkan parkiran. Parkiran sudah tidak lagi sunyi seperti saat Anita baru tiba, kini sudah dipenuhi dengan motor yang tertata rapi. Anak-anak sudah memadati halaman sekolah. Tubuh Anton dan Anita ditelan oleh banyaknya tubuh siswa. Mereka sudah melebur menjadi satu. Menjadi siswa dan siswi yang sulit dibedakan. Dua orang sudah menjadi puluhan orang, lantaran mereka dipalsukan oleh seragam putih abu-abu. Pagi ini mereka akan menikmati sajian soal-soal dengan pilihan gandanya yang menyita kebingungan. Jangan dikira Anita yang dianggap sebagai siswa paling cerdas disekolah akan lulus seratus persen. Atau dia jauh dari jamahan rasa pusing dan takut. Dia sama. Anita tidak pernah yakin kepada nilai para guru dan teman-teman sekelasnya bahwa dia adalah siswi yang pintar. Lantas, ia adalah anak yang selalu haus terhadap ilmu. Begitu juga ketika dia menghadapi ujian nasioanal, kecemasannya sudah tidak kuasa diberontak. Ia terus merajai dirinya. Sampai dia harus memutuskan komunikasi dengan Anton sejak setengah bulan yang lalu. Karena dia ingin fokus pada kelulusan. Anita tidak ingin mempunyai nilai yang jelek.
            Bel sekolah berdenting dengan nyaring. Adalah pertanda sekolah memperbolehkan anak didiknya untuk pulang, dan kembali kepada orang tua masing-masing. Ruang kelas Anita ternyata tidak sama dengan Anton. Anton di ruang A sedang Anita di ruangan C. Anita bersyukur dipisah tempat duduk dengan Anton. Dia akan lebih konsentrasi pada soal. Matanya hanya akan melototi rentetan pertanyaan-pertanyaan di kertas ujian itu. Mata Anton dan Anita tidak bisa berpeluk pandang. Otomatis otak cukup serius untuk menanggapi soal-soal.
            Drrrtt.. Drrrtt.. Drrrtt..
            Hp Anita bergetar, pertanda ada satu pesan yang masuk.
            Sorry Nit. Aku nggak bisa hari ini. Mungkin besok, atau entar malam aku ke rumahmu. Soalnya motorku mau di pake kakak katanya, terus disuruh cepat pulang.
            Selesai membaca pesan singkat Anton, ia pun langsung membalas.
            Iya nggak apa-apa kok Ton. Santai aja, kamu sudah pulang ?
            Dibalas pesan itu tanpa mengernyitkan rasa kesal pada kekasihnya. Dia hanya menuruti kemauan Anton. Namun bukan lantas dia tidak gelisah. Hati Anita tetap sangat digerogoti penasaran. Gelisah berjalan seiring ritme langkah kaki. Menuruti arah awan yang sedikit mengelabu.
***
            Ujian sudah mereka selesaikan dengan baik, hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja. Jam berputar tanpa ada keluh lelah sedikitpun. Musim secara bergantian melukis dunia. Setelah sekian lama bergelut dengan hujan, hadirlah kemarau dengan teriknya yang tidak memberi ampun. Begitu juga dengan sebuah kebersaman. Kadang harus terpenggal karena terjadi sebuah musim. Adakalanya musim saat mereka bersama. Menukar seagala tawa dengan ikhlas. Geliat resah sudah pasti menyentuh hati para siswa. Lantaran tidak akan lama lagi mereka akan menelanjangi tubuh mereka dari seragam abu-abu.
            Anita merajut kembali cita-citanya untuk kuliah. Setelah beberapa hari ia coba lupakan untuk sekedar meluruskan kearah ujian nasionalnya. Ia menasbihkan untuk mencapai sebuah keinginan yang sudah ia tanam sejak dahulu kala. Menjadi seorang mahasiswa. Ibunya pun juga sudah merestui keinginan Anita untuk kuliah. Lantas Anita bukan termasuk orang dengan penghasilan menengah ke bawah. Ia cukup kaya dengan perekonomian orang Anita. Ibunya yang menjadi seorang PNS. Dia juga memiliki dua toko besar. Dia mempunyai pabrik kerupuk, yang bisa menghasilkan uang lima ratus ribu perhari.
            Kemilau jingga di ufuk cakrawala sore itu semakin berarak mendekati tubuh malam. Berarti tidak akan lama lagi, siang sudah akan berakhir. Dan akan ada lagi esok, bila kiamat tidak menemuinya di subuh hari. Segala kemungkinan tidak bisa dipungkiri keterjadinya. Asal Allah berkehendak, semua yang diramalkan tidak terjadi pasti akan terjadi.
            “Di antara beribu bintang, hanya kaulah yang paling terang. Di antara beribu cinta, pilihanku hanya kau sayang. Tak ‘kan ada selain kamu, dalam segala keadaan ku. Cuma kamu dan hanya kamu, yang s’lalu ada…untukku.” Lagu Hello Band, Di Antara Bintang, tiba-tiba berbunyi dari HP milik Anita. Sepertinya ada sebuah panggilan yang masuk. Ia pun menyegerahkan sekali untuk menganggkat telfon itu.
            “Halo, iya Ton ada apa?” Sapa Anita kepada sang penelfon yang ternyata adalah Anton.
            “Sekarang kita bisa ketemu nggak. Aku jemput kamu ya?” Suaranya agak sedikit tergesa-gesa. Tidak seperti biasanya. Anita sedikit terkejut dengan bahasa Anton yang rupanya banyak menyita kaget bagi perasaannya yang wanita sekali.
            “Ini kan sudah sore loh.. emang kita mau kemana dan mau ngapain sih?” Tanya Anita untuk sedikit memperjelas maksud tujuan Anton yang mengajaknya bertemu secara dadakan itu.
            “Kita ke Pantai Lombang aja yang dekat. Iya nggak masalah meskipun sudah sore. Bisa ya? Ayolah pliiss..” Pintanya agak sedikit memelas. Ia sangat memohon kepada Anita sang kekasih pujaan.
            “Iya deh ok. Jemput aku langsung jangan lama-lama. Kalau masih mau make up dulu kamunya, aku gagal. Ok ?” Candanya untuk menepis rasa takut Anita. Ia tidak ingin ada kata pisah. Sebab Anton pernah bilang kalau dia disuruh kerja di perusahaan milik Pamannya di Jawa Barat. Kalau saat ini, jelas Anita tidak sanggup. Meski sampai kapanpun ia tidak akan pernah sanggup. Apalagi, Anita juga mau kuliah ke Malang. Keduanya sudah pasti akan semakin senjang. Keduanya akan pasti sama-sama sibuk.
            “Yeee.. seneng punya pacar banci? Udah tungguin aja. Assalamualaikum..” Salam Anton terselip disela-sela mikrofon HPnya.
            “Ok Sayang. Waalaikumussalam..” Jawab Anita dari seberang.
            Langit memancarkan rona yang sudah hendak layu. Ia tidak lagi secerah siang yang berlalu. Anita menunggu pergantungan harapannya itu di depan rumah. Dia begitu setia dengan kesetiaan yang menjadi keharusan.
***
            Debur ombak mengerutu di tubuh laut. Pasir yang putih terhampar di sepanjang mata memandang. Angin membelai tubuh sepasang manusia yang tampak bercengkerama di bawah rindang pohon cemara. Sering kali tempak senyum yang mengembang dari bibir Anita dan juga Anton. Nuansa sore yang juga tidak kalah menyumbangkan segala keindahan. Antara siul kutilang dan burung laut yang berpadu, sungguh menggema bak irama biola yang berdawai. Anton memberikan kalung dengan gantungannya yang berhuruf “A”. Ia begitu berbara menjalani hubungan itu dengan Anita. Bahkan jangan ditanya kalau sekedar masalah ketulusan. Keduanya pun sudah cukup serasi. Bagai kedua merpati yang bercucur parunya diatas hamparan pasir putih bermutiara. Namun, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa setelah ini aka nada senja yang menutup aktifitas siang. Sebentar lagi pula malam angkat merenggut hak cerahnya. Ia akan cerah bila rembulan benar-benar purnama. Akan Nampak terang jika kabut hitam dilangit tidak juga melanda.
            “Ini kalung buat kamu, simpan ya. Aku kayaknya besok pagi harus berangkat Nit.” Nada suara Anton melemas serius.
            “Lah, kok besok sih sayang? Kamu jadi yang mau kerja. Tapi kan ijazah masih belum keluar. Lalu aku juga masih belum mempersiapkan segalanya untuk berjarak dengan mu. Aku gimana?” Cemberut wajah Anita. Hatinya sudah mulai sedikit tersentak. Dia merasa tidak sanggup dengan cara perpisahan yang begitu mendadak seperti itu. Sebagai seorang wanita, pastilah hatinya akan terenyuh. Ia tidak akan mungkin mampu menahan laju alir air mata. Sebantar lagi dia akan terkapar di atas kasur dengan rasa sedih yang melanda.
            “Aku disuruh berangkat besok. Masalahnya lusa pendaftaran udah mau ditutup kata Om. Kalau masalah ijazah, kayaknya Ayah sanggup untuk nganterin. Aku masih disuru magang dulu disana. Udah nggak usah menangis. Aku kan cuman mau kerja, dan nggak mau ninggalin cintaku ke kamu. Jangan nangis ya?” Jelas Anton sembari menyentuh dagu kekasihnya yang selaksa sarang tawon dengan madu yang sangat manis. Pipi yang putih sudah lembab dengan derai mata air yang suci. Yang mengalir dari bendungan mata yang indah.
            “Aku nggak sanggup Ton. Kamu terlalu dadakan bilangnya ke aku.” Tidak terlalu panjang kalimat yang terlontar dari lidah Anita. Lidah sudaah keluh dengan perasaan. Ketidak relaan untuk melepas kekasihnya sudah dibahasakan dengan aliran air mata yang tidak terbendung.
            “Kita berpisah untuk bertemu kembali. Kamu kuliahnya nanti mudah-mudahan diterima ya?. Perpisahan ini adalah ajang untuk memupuk rindu bagi sebidang kasih yang kita semai dengan cinta sejak dahulu. Kelak kita akan memetiknya berdua dengan buah kebahagiaan.” Nyanyian pantai semakin sumbang. Lantaran dua kasih yang akan berpisah.
“Kamu naik apa besok.” Nada suara Anita beradu dengan sendat tangis yang pecah.
“Naik becak. Ya nai bis lah..” Anton mencoba mengajak tangis anita untuk sedikit merubah wujudnya menjadi tawa.
            “Serius aku. Kamu ini 'ah..” Namun Anita masih belum cukup kekar hati untuk menepis segala sedih yang merajam jiwa.
Berpisah memang bukan berarti tidak akan ada lagi pertemuan berikutnya. Selagi mereka masih dapat memandang langit yang sama, segenap doa pasti akan tetap jujur terpanjant dari ketulusan lidah yang suci. Hanya saja bagi gadis yang seperti Anita, perpisahan ini tidak sekedar luka. Ia pasti akan menerima hujanan rindu yang tiada tara. Disaat senja sudah gugur. Siang akan menepis dengan mimpi yang berbintang-bintang. Sang surya sudah ikhlas dengan segala raut kesedihan. Lantas ia tidak akan lama lagi kembali menyelipkan wajahnya ke tubuh bumi. Namun itu bukan karena mentari tidak setia terhadap bumi. Ia skedar mengatur rindu. Biarlah siang merindukan malam dan malam tetap setia menghadirkan mimpi baginya.
            Sementara lagu milik Adista Band mengalun indah ditelinga Anita dan Anton. “Tiba saatnya kita kan berpisah.. Aku akan pergi.. Aku pergi tuk kembali lagi.. Ku harap kau relakan ku pergi..” Headset Samsung yang menempel di telinga mereka menambah dalam luka perpisahan. Senja tidak bisa berbohong. Senja adalah takdir tuhan. Dan bukan siapa yang harus mengindahkan takdir, Anita dan Anton lah yang harus menengadah kepada Yang Maha Segala Maha supaya dikekalkannya cinta. Anita harus merajut sunyi. Dia akan mencurahkan kekosongan hidup kepada kalung yang dititipkan oleh kekasihnya itu. Dia tidak akan menjadi wanita pendusta. Anita akan semakin berketulusan. Perpisahan bukan kekalahan hati ketika menempuri karang yang keras dalam kehidupan.
“Sampai kapanpun, kalung ini akan kupakai. Sampai kusut sekalipun akan tetap terjaga. Kecuali ini sudah tidak lagi berbentuk sebuah kalung sayang…” Bulir air mata Anita.
Kepada Vie.
Entah berapa juta gemintang terlepas dari tangkai langit
Jujur tidak ada yang memadamkam mimpi ini.
Dikau, mungkin sudah tidak terlintas oleh kemarau kasih?
Sedang disini kerontang hati masih ku pelihara
selalu ku lembapi dengan air mata
Hanya dengan satu harap, kau menjadi melati dikala penghujan nanti.
Atau mungkin diseberang wajahmu, alisku saja tak terbias
di segala kekosongan pandanganmu?
Vie, kita adalah dua manusia yang sama-sama perih.
Jangan sampai kau menjadi sutera sedang laki-lakimu masih benang kusut
Aku juga sama. Bukan hanya kau yang kau bilang
“Bermimpi menjadi permata.”
Aku pun juga..

            Jogjakarta 27 April 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.