SUMENEP mulai dari sekotor perikanan, pertanian, perkebunan, hutan,
tembakau, garam, hingga pada potensi Minyak dan Gas seara faktual tidak bisa
disingkirkan dari bumi Sumenep. Melihat pagerungan di Pulau Kangean yang telah
dipercayakan oleh pemerntah kepada PT Energy Mega Persada(EMP) Kangean Limited,
dan Blok Maleo I yang terletak di Perairan Selatan Pulau Gili Genting Sumenep,
Minyak dan Gas di keruk dari bumi kita. Masih ada 6(enam) titik Minyak dan Gas
yang ditemukan dan rencana mau dieksplorasi. Pengeboran di titik-titik tersebut
akan dilakukan oleh 2(dua) investor dari luar negeri, yakni PT Anardako dan
Petronas Carigali.[dikutip dari DPM].
Kepulauan di Kabupaten
Sumenep terdiri dari wilayah daratan dengan pulau yang tersebar berjumlah 126
pulau(berdasarkan hasil sinkronisasi Lus Wilayah Kabupaten Sumenep) yang
terletak di antara 113º32'54''-116º16'48'' Bujur Timur dan diantara 4º55'-7º24'
Lintang Selatan.
Bagi saya tidak
ada alasan bagi masyarakat Sumenep untuk tidak sejahtera. Utamanya kepulauan.
Karena Sumenep sendiri sudah menyandang sebagai kabupaten penghasil Minyak dan
Gas terbesar di Madura. Setidaknya ada 8(delapan) perusahaan yang sudah
melakukan eksploitasi. Namun saya tidak mau berdebat masalah Minyak dan Gas
yang terkandung dalam bumi Sumenep, melainkan kepada Miskin Gagasan (MIGAS)
dari Sumber Daya Manusianya(SDM). Sebab kalau berbicara mengenai kekayaan alam di
Sumenep sudah tidak bisa disanggah lagi. Tinggal bagaimana kita sebagai manusia
yang berdomisili di Sumenep mengelolahnya.
Dibalik
kejengkelan fikiran saya mengenai masyarakat sumenep sejahtera, karena di tahun
2015 ini masyarakat Sumenep akan berpesta dengan pemilihan pemerintah daerah.
Dalam hal ini saya menyempatkan diri untuk melukis kembali warna Sumenep yang
baru. Maksudnya dalam pemberdayaan sumber daya manusianya. Sebagai warga
Sumenep pasti banyak tahu mengenai problematika politik di dalam masyarakat.
Mereka bisa menjadi pura-pura MIGAS ketika sudah uang masuk ke saku celana.
Atau bahkan pemerintahnya menjadi MIGAS terhadap pembangunan, yang sama sekali
tak seindah pada saat kampanye.
Tidak ada kawan
dalam dunia politik. Seperti itu kalimat yang familiar tentang politik. Bukan
tidak mungkin rakyat akan juga ikut dilahap dalam kekuasaannya. Politik
bergerak dalam keadaan bangsa yang merdeka, karena disana kebebasan bergerak.
Termasuk kebebasan politik. Salah satu opsi dari saya adalah menyamarataan
pendidikan yang harus diperkuat dari Sumenep. Masyarakat sendiri sudah tidak
dapat membedakan mana politik dan mana sosial. Bahkan demi mulusnya
penyeludupan politik keranah sosial tak jarang menggali dari tokoh sosial.
Bukan maksud
mengekang masyarakat Sumenep yang pluralistik untuk bersuara. Disini hanya
sekedar mengisyaratkan pada getar hati dari diri Masyarakat, bukan getar uang
yang disogokkan. Opsi lain untuk masa depan sumenep adalah memberikan sumbangsi
kekayaan pendidikan terhadap generasi. Maka saya kira dengan adanya gagasan
untuk mencerdaskan masyrakat, lambat laun MIGAS (Miskin Gagasan) di masyarakat
Sumenep akan berkurang. Pembangunan bukan sesuatu yang menakutkan jika dalam
keadaan derita masyarakat bisa bahagia. Kekayaan alam harus bisa dikembalikan
kemasyarakat.
Sumenep harus
berbenah dengan adanya pemilu KADA ini. Sebab Sumenep butuh sosok pemimpin yang
bijak sana, bukan yang bertindak semaunya. Keislaman yang tertanam dengan
landasan rahmatan lil’alamin harus bisa menjadi karasteristik tersendiri
dalam diri masyarakat yang berbudaya. Sama sekali tidak ada unsure diskriminasi
wilayah atau keadaan masyarakat yang sama-sama hidup dalam satu bendera Pulau
Madura. Namun faktanya di Sumenep masih tidak ditemukan adanya konflik
permasalahan yang disebabkan oleh perbedaan paham. Beda dengan Kabupaten
sebelah. Sumenep harus menjadi contoh dan kaca besar bagi bangsa lain yang
hidup dengan kedamaian, tentunya juga kesejahteraan. Semoga kita bisa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.