Sabtu, 18 April 2015

BILA DIA DAN KAMU CINTAKU


Sebuah Cerpen Untukmu.
            Pagi diramalkan gerimis. Mendung mengundang risau matahari, sebab cahanya tak kuasa membias tebal awan yang hitam. Jam dinding mengajaknya segera mencuci tubuh. Dingin mengguyur seluruh badan Roni dengan air yang sedingin salju ketika ia timbah dari sumur dekat rumahnya. Sepatu, dan seperangkat alat sekolah telah menunggu ditempat.
            Dering Nokia tipe 3600 dari saku celananya menjerit-jerit. Pertanda ada pesan yang masuk. Tangan Roni meraba, sang ibu jari yang paling gemuk itu langsung memencet tombol open. “Nanti jangan telat, aku tunggu kamu disekolah.” Begitulah isi SMS Farel, seorang sahabat yang dekat dengan Roni. Tanggal itu 15 Maret, merupakan acara pembentukan struktur asosiasi OSIS sekaligus pemilihan ketuanya. Roni yang menjadi ketua OSIS di MA AL-Ridha tahun itu. Asosiasi organisasi intera sekolah setimur daya mengundang ketua dan wakil ketua OSIS dari sekolah-sekolah di empat kecamatan. Ada Kecamatan Dungkek, Kecamatan Batang-batang, Kecamatan Gapura, dan Kecamatan Batuputih. Bertepatan pada saat itu yang menjadi tuan rumah adalah MA Miftahul Ulum di Kecamatan Batang-batang.
            Ada sekitar lima belas sekolah yang mendelegasikan ketua OSIS dan wakil ketuanya. Masing-masing ketua yang datang akan didampingi oleh wakil ketua. Namun Roni pada saat itu, hadir tidak bersama dengan wakilnya. Dia bersama Ibas yang merupakan sekretaris OSIS. Sekolah MA Miftahul Ulum menjadi lautan bagi Roni. Dia tenggelam dengan alunan diskusi yang menjadikan hatinya menjadi bermisi-misi. Entah apa yang dirangkai dalam setiap putaran otak Roni, teman-temannya pun tak kuasa menerka.
            Pemilihan ketua ASSADA itu bagi Roni sama sekali tidak demokratis. Tersebab hak suara yang mendominasi adalah dari suara tuan rumah sendiri. Farel dicalonkan menjadi ketua ASSADA. Kandidat berikutnya adalah Roni. Karena suara terbanyak dari Miftahul Ulum, Farel pun memenangkan pemilihan itu. Namun hati Roni sama sekali tidak ingin terhasut oleh kekuasaan untuk harus membenci Farel sahabatnya. Kesepakatan forum ternyata menetapkan Farel sebagai ketua dan Roni sebagai wakil ketua. Kebetulan yang dipilih oleh forum sebagai bendahara adalah sahabat mereka sendiri, yaitu Farhan dari MA Al-Huda. Dan yang menempati struktur sekretaris adalah saudari Atika dari SMA Al-In’am.
            Nuansa forum berubah bukan menjadi nuansa politik lagi bagi hati Roni. Hatinya terlibas dengan pandangan wanita. Ada anak panah yang terbuat dari mata seorang wanita mungil. Panah itu terlalu runcing, menancap ikhlas dikedalaman hatinya. Di dalam forum Roni kerap menyempatkan pandang untuk sekedar menyapa dengan lambaian bulu matanya. Seorang wanita yang juga merupakan anggota OSIS di MA Miftahul Ulum telah merampok sosok bijak sebagai ketua OSIS. Dia menawarkan senyum terindah saat sengaja menunggu palingan wajah Fitri.
***

            Gemintang bertabur di pekat tubuh malam. Bulan sabit menyibak naluri lelaki yang fikirannya berkelana mencari cahaya dari gelap yang begitu lama setia menemani. Semburat yang mencipata seribu tanda tanya. Sebuah pertanyaan rasa yang ingin dia cicipi dengan doa. Fitri menyita kelaki-lakian Roni yang normal. Sapaan tentang sosok Fitri bukan baru saja terbit dari benak Roni. Perkenalan itu diawali dari sosial media Facebook, hingga pertemuan itu menampakkan sosok sesungguhnya yang purnama. Maka tidak heran bila tatapan mereka sudah sama-sama tajam, lantaran sudah selalu diasah dengan kebersamaan mereka di dunia maya.
            Detik terkelupas menjadi menit, menit melahirkan jam. Musim tanggal di wilayah kalender telah berguguran. Masa sudah tidak prematur untuk menulis hikayat di ujung pena. Demikian juga dengan hati Roni yang menyatakan cinta telah kuncup untuk Fitri. Lantas kebersamaan diantara mereka sudah tidak dapat dihitung canda dan tawa yang selalu menetas setiap waktu. Kini Roni diam-diam menyemai bibit kasih di balik ritme detak jantung Fitri. Entah, ia begitu berani yakin pada wanita barunya. Seorang wanita yang telah membangkitkan lagi senyumnya, setelah sekian lama menyantap kelabunya hidup dan nasib dia ketika dilibas luka sejarah kelam.
            Keindahan yang Roni nikmati seketika berlabuh ditengah malam dalam senyum Fitri, ia lalui secara diam-diam. Dirinya mencoba bertahan dalam cinta yang terselip disela nafasnya yang kembang kempis. Maghrib pun terlepas dari waktun, malam kembali bertamu di sehampar tikar yang biasa Roni tempati. Setiap malam Roni setia di atas tikar itu. Hanya sekedar menyaksikan diskusi bintang atau dian yang tiada usang. Roni mengubah posisi bola matanya, hingga titik hitam ditengah putih menyamping. Ia melirik kearah hapenya yang sunyi. Padahal tiada harapan hape kesayangan itu bungkam.
            “Rel. Kamu dimana sekarang?” Roni pun menelfon sahabatnya.
            “Ada di rumah Ron.” Sahut Farel dari balik hapenya.
            “Aku menyukai temenmu Rel. Si Fitri. Bantuin aku lah..” Lidah Roni seperti dipenuhi oli, begitu licin kata yang terlepas tak terkontrol. Begitulah suara hati, yang setiap waktu memasung dirinya.
            “hehe. Dia itu cuek Ron. Sulit kayaknya kalau cita-citamu mau berpacaran dengan dia.” Suara Farel agak sedikit tersendat-sendat, karena mungkin sinyal dirumahnya lemah. Namun bahasanya masih bisa ditangkap dengan jelas di telinga Roni.
            “Tapi dia ke aku perhatian kok Rel.” Nada suara Roni sudah mulai lemah, tak ubahnya radio yang daya batrenya sudah mulai habis. Ia merasa tidak punya pegangan untuk melintasi jembatan menuju hati Fitri. Padahal keinginan Roni mengalir damai untuk dapat bermuara di hati Fitri. Harapan yang tak rentan begitu kokoh mencipta keinginan yang meriak-riak segera memiliki Fitri.
***

            Kupu-kupu terbang kesana kemari, menghampiri bunga-bunga yang cantik bertangkai lentik. Sepanjang jalan pulang, hanya terniang rona Fitri di mata Roni. Ingin rasanya jalan dari Gapura ke Batang-batang ia lipat. Supaya dari sekolah ke rumahnya tidak terlalu miliaran menikmati letih. Fikirannya tetap memutar di sekeliling wajah wanita yang ia kagumi. Dia tetap mengingat-ngingat kata lembut yang terucap dari Fitri. Batinnya bertanya lewat semu, apakah tumbuh cinta dihatinya?
            Air wudhu’ membelai sebagian wajah sampai kakinya dengan kesejukan tiada banding. Hatinya seperti menelan AC, dingin. Niatnya sudah tulus untuk segera ditunaikan dihadapan-Nya. Kiblat yang coba ia dekatkan dengan hati, biar kerinduan semakin manja bergelora. Lantas dengan jarak dirinya dengan ka’bah, semakin menambah kerinduannya seketika bersholat. Tidak mungkin dia lupa, tentang doa pengharapan kepada wanita. Doa yang berisi nama Fitri begitu manja kepada Sang Maha Pencipta.
            Roni membentuk sila di atas kain sajadah lusuh yang setia menemani dirinya tengadah. Setelah putaran doa dan tasbih berhenti dibulirnya, Roni mengganti tangan dengan Nokia tipe 3600 itu lagi. Kebiasaan menyapa Fitri dengan Assalamualaikum ataupun sekedar ucapan selamat siang,sudah tertasbih disetiap detak kehidupan Roni. Roni mencoba memilih ribuan kata yang berputar bertebangan dikeningnya, hanya untuk menjadikan sebuah kalimat saja. Setelah lama dia mencari-cari, kumpulan kata pun terbentuk.
            “Fit, salah nggak sih kalau aku suka sama kamu. Sebenarnya aku sangat mengharapkanmu menjadi pacarku. Jawab ya Fit, bila kamu sudi merenda bahagia dengan ku.” Itulah SMS yang dia kirim ke Fitri sebagai perwakilan suara hatinya yang sudah sejak lama meronta-ronta.
            Risau tiba-tiba merajai Roni. Ia mulai bertanya pada putaran jarum jam di dinding kamarnya. Entah Fitri akan mengirim ribuan paragraf sebagai bentuk luapan bahagianya. Sehingga dia perlu lama untuk menulis balasan SMS Roni. Atau Fitri masih kesulitan merangkai kata-kata yang indah, seindah bintang di langit? Menit pun terhitung delapan puluh terlepas. Dering hape Roni mendeburkan hati yang sedari tadi kerisauan menunggu balasan SMS Fitri.
            “Maaf Ron, aku baru pulang dari pengajian. Jadi aku telat balesnya. Kamu lagi apa ?” Roni pun mencoba membaca ulang isi SMS itu. Diulangnya entah keberapa ulangan yang diulang-ulang oleh Roni. Pesan itu pendek, dan bahkan tak ada satu kata pun yang disingkat. Roni bukan tidak bisa membaca SMS Fitri. Bahkan dia sudah kelas akhir di bangku MA. Hanya saja dia tidak percaya akan ada jawban yang bersimpangan dengan pertanyaan yang Roni tanyakan.
            Percakapan mereka terus berlanjut. Roni terus berusaha membedah dan mencari kepastian jawaban dari Fitri. Begitu sangat tidak mudah menembus belukar dengan tekad yang lemah. Bukit terjal harus Roni daki, biar tahu apa yang bersembunyi di puncaknya. Memang tidak ada yang salah, wanita adalah samudera. Tapi samudera dengan badainya yang besar telah menenggelamkan harapan yang tulus. Fitri tidak ingin memiliki pacar. Roni sendiri juga masih egois. Dia tetap berlari mengejar cintanya yang tertancap di sosok indah Fitri. Hatinya terlalu rapat dengan miliaran ketulusan yang berdesakan, sampai sulit ditemukan letih dalam perjuangannya.
            Pagi buta basah dengan embun air mata yang bertengger di pucuk-pucuk doa. Semilir angin sendu mengirama di dedaunan. Kupu-kupu entah dimana bersembunyi. Nyanian camar semakin sumbang warnai kehidupan Roni. Ia ingin sekali menceritakan kepada sahabatnya, Farel. Kalau ia sedang terluka, bahwa hatinya dilanda lara, ia cemburu pada ritme jarum jam yang setia berputar tanpa lelah. Ia ingin sekali mencurahkan, menumpahkan semangkok racun yang terlanjur dia telan dari tatapan wanita miftahul ulum.
            “Aku dulu pernah nembak dia juga Ron. Tapi aku ditolak. Makanya aku sahabatan aja sama dia sekarang. Fitri memang begitu.” Farel berkicau panjang kali lebar, sampai Roni kebingungan mencari titik dimensinya. Padahal Roni meminta solusi. Bukan malah semakin memukulnya dibekas luka memar yang masih bara. Risau hati Roni tak bertebing kala itu. Dirinya merenda luka yang mendalam.
            “Aku tidak perduli Rel. Tapi kamu tidak apa-apa kan, kalau semisal nanti aku bisa jadian dengan Fitri?” Mimpi Roni masih tinggi untuk mendapatkan wanita pujaannya. Kalimat itu memang sedikit menyenggol hati. Sebab lahirnya perpaduan kesal dan luka yang tertambat cinta.
            “Aku yakin kamu nggak bakalan bisa pacaran dengan dia.” Begitu vertikal kalimat Farel yang berdasar keyakinan hatinya. Hati Roni masih berlinang dengan genangan air mata. Bagi Roni itu adalah kalimat rangsangan yang dikeluarkan sahabatnya supaya tetap mau berjuang. Roni mencoba menyemai kembali perasaannya.
***
            Sendu sedan kicau camar dilembaran lain fajar April. Ada daya yang menyungging di awal Mei. Meski Roni pernah lapuk di deras air matanya. Kini cinta sudah legam terbakar terik cita-cita. Kejadian lima bulan yang silam, terpaksa dia telan. Komunikasi dengan Fitri sejauh langkah nafasnya, masih tak terhambat ruang dan waktu. Entah, dia seperti sudah terpatri dikelopak bunga Desa Pacinan itu. Hatinya menjelma menjadi arus yang besar, maka pula tidak akan ada bendungan yang bisa menahannya menuju muara hati Fitri. Roni ingin mencoba untuk mengungkapkan lagi perasaan yang masih suci dan tak layu karena waktu.
            Aktivitas malam roni terkontrak untuk berceloteh dengan Fitri. Sekedar saling mengisi sepi. Ia tersenyum ketika sedang menatap layar nokia miliknya. Dia terhipnotis dengan diksi pesan singkat Fitri. Roni tak ubahnya seperti orang gila yang merayu-rayu karet kecil. Karet itu pasti ia senyumi. Masih dengan senyuman yang kosong, hingga tidak sadar bahwa malam telah membawanya jauh. Namun, malam pekik tak kuasa memungkas percakapan mereka dari balik hape masing-masing.
            “Kita taruhan yuk?” Pesan singkat Fitri hinggap di hape Roni.
            “Mau taruhan gimana? Boleh.” SMS Roni terbang menuju hape Fitri.
            “Pokoknya siapa yang tidur duluan, dia kalah.” Fitri dengan jengkelnya menantang laki-laki yang dipenuhi asmara itu.
            “Ok. Siapa takut. Tapi apa taruhanmu.” Pesan singkat Roni.
            “Kalau kamu kalah. Kamu besok jalan kaki ke sekolah.” Fitri pun tidak segan-segan mengancam Roni.
            “Ok siap. Tapi kalau kamu yang kalah, kamu harus siap untuk menjadi pacarku. Aku akan mengalahkanmu.” Roni mencari kesempatan dalam taruhan. Senyumnya menyeringai. Obrolan mereka dari hape ke hape masing-masing masih berjalan lancar. Tak disangkanya jarum jam sudah menandakan tiba di pukul 02:00 dini hari.
            Fajar menyibak butanya pagi. Mentari menyingsing di ufuk timur. Gelora menjadi warna bahagia. Bianglala menyempurnakan keindahan suasana. Fitri dinyatakan kalah. Roni pun tersenyum saat membaca alur percakan dengan Fitri di hapenya. Bunga bertaburan di pelataran hati. Bagaimana tidak? Sedang cinta yang dimimpikan, kini terbangun dan memeluknya. Fitri membendung air mata Roni. Roni mensbihkan namanya pada setiap putaran doa.
***
            Empat Bulan Kemudian.
            Kenapa bisa dua merpati putih menjadi lusuh? Mungkin ia kelaparan saat disandera rindu. Kerontang tubuhnya menggambarkan bahwa dia kurang makan. Atau sengaja ka’bah dijauhkan dari hadapan ummat ketika bersholat? Biar dengan jarak, ia mengerti tentang makna rindu. Kecurigaan yang lain, jangan-jangan mereka tak tergaris ditangan dengan liuk yang sama. Hampir sulit tak tercium harmonis keduanya, yang dahulu sempat sangat semerbak. Pertengkaran kerap terjadi.
            Rindu yang menggunung dihati Roni sudah berapi. Entah, wanitanya memohon jangan segera meledak. Kehendak sua sudah tak berhak menyandang kalimat keinginian lagi. Itu adalah bentuk sikap keyakinan yang berani. Roni merapikan semua ketulusan untuk merenda diistana suci. Bukan lantas dia akan menjadi pengecut. Adat menuntutnya untuk jangan berdosa. Fanatisme keagamaan di dalam tubuh masyarakatnya melarang untuk tidak suci. Jangan haram. Harus halal. Jangan melanggar adat. Hargai masyarakat. Ini kehidupan bersama, bukan dua orang. Kecipak kalimat itu terlontar dari lucirnya mulut masyarakat. Sungguh terlalu bising.
            Masa kelam tersulut kembali. Rasa takut kepada seorang wanita menjelma hitam dalam kepala. Senja di ufuk cakrawala tidak akan segan-segan memenggal kebersamaan dua manusia. Roni masih seperti diawal cerita ini. Roni masih dengan sejuta ketulusannya. Begitu juga mengenai rasa kecewa yang pernah ditelannya, perlahan-lahan ia sudah mulai bisa memuntahkan. Keberanian bajah itu hanya tumbuh pada saat tinta kasih Fitri mewarnainya. Pernyataan yang sakral dari Roni, bukan celoteh anekdot. Ia sekali lagi tulus…

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.