Sebuah Cerpen Untukmu.
Pagi diramalkan gerimis. Mendung
mengundang risau matahari, sebab cahanya tak kuasa membias tebal awan yang hitam. Jam dinding mengajaknya
segera mencuci tubuh. Dingin mengguyur seluruh badan Roni dengan air yang sedingin salju
ketika ia timbah dari sumur dekat rumahnya. Sepatu, dan seperangkat alat
sekolah telah menunggu ditempat.
Dering Nokia tipe 3600 dari saku
celananya menjerit-jerit. Pertanda ada pesan yang masuk. Tangan Roni meraba, sang ibu
jari yang paling gemuk itu langsung memencet tombol open. “Nanti jangan telat, aku tunggu kamu disekolah.” Begitulah isi SMS Farel, seorang
sahabat yang dekat dengan
Roni. Tanggal itu 15 Maret, merupakan acara pembentukan struktur asosiasi OSIS
sekaligus pemilihan ketuanya. Roni yang menjadi ketua OSIS di MA AL-Ridha tahun
itu. Asosiasi organisasi intera sekolah setimur daya mengundang ketua dan wakil ketua OSIS dari sekolah-sekolah
di empat kecamatan. Ada Kecamatan Dungkek, Kecamatan Batang-batang, Kecamatan
Gapura, dan Kecamatan Batuputih. Bertepatan pada saat itu yang menjadi tuan
rumah adalah MA Miftahul Ulum di Kecamatan Batang-batang.
Ada sekitar lima belas sekolah yang
mendelegasikan ketua OSIS dan wakil ketuanya. Masing-masing ketua yang datang akan didampingi oleh wakil
ketua. Namun Roni pada saat itu, hadir tidak bersama dengan wakilnya. Dia
bersama Ibas yang merupakan sekretaris OSIS. Sekolah MA Miftahul Ulum menjadi
lautan bagi Roni. Dia tenggelam dengan alunan diskusi yang menjadikan
hatinya menjadi bermisi-misi. Entah apa yang dirangkai dalam setiap putaran
otak Roni, teman-temannya pun tak kuasa menerka.
Pemilihan ketua ASSADA itu bagi Roni
sama sekali tidak demokratis. Tersebab hak suara yang mendominasi adalah dari
suara tuan rumah sendiri. Farel dicalonkan menjadi ketua ASSADA. Kandidat
berikutnya adalah Roni. Karena suara terbanyak dari Miftahul Ulum, Farel pun
memenangkan pemilihan itu. Namun hati Roni sama sekali tidak ingin terhasut oleh kekuasaan untuk harus membenci
Farel sahabatnya. Kesepakatan forum ternyata menetapkan Farel sebagai ketua dan
Roni sebagai wakil ketua. Kebetulan yang dipilih oleh forum sebagai bendahara
adalah sahabat mereka sendiri, yaitu Farhan dari MA Al-Huda. Dan yang menempati
struktur sekretaris adalah saudari Atika dari SMA Al-In’am.
Nuansa forum berubah bukan menjadi
nuansa politik lagi
bagi hati Roni. Hatinya terlibas dengan pandangan wanita. Ada anak panah yang
terbuat dari mata seorang wanita mungil. Panah itu terlalu runcing, menancap
ikhlas dikedalaman hatinya. Di dalam forum Roni kerap menyempatkan pandang
untuk sekedar menyapa dengan lambaian bulu matanya. Seorang wanita yang juga
merupakan anggota OSIS di MA Miftahul Ulum telah merampok sosok bijak
sebagai ketua OSIS. Dia menawarkan senyum terindah saat sengaja menunggu palingan
wajah Fitri.
***
Gemintang bertabur di pekat tubuh
malam. Bulan sabit menyibak naluri lelaki yang fikirannya berkelana mencari
cahaya dari gelap yang begitu lama setia menemani. Semburat yang mencipata seribu
tanda tanya. Sebuah pertanyaan rasa yang ingin dia cicipi dengan doa. Fitri
menyita kelaki-lakian Roni yang normal. Sapaan tentang sosok Fitri bukan baru
saja terbit dari benak Roni. Perkenalan itu diawali dari sosial media ‘Facebook’, hingga pertemuan itu menampakkan sosok
sesungguhnya yang purnama. Maka tidak heran bila tatapan mereka sudah sama-sama
tajam, lantaran
sudah selalu
diasah dengan kebersamaan mereka di dunia maya.
Detik terkelupas menjadi menit,
menit melahirkan jam. Musim tanggal di wilayah kalender telah berguguran. Masa
sudah tidak prematur untuk menulis hikayat di ujung pena. Demikian juga dengan
hati Roni yang menyatakan cinta telah kuncup untuk Fitri. Lantas kebersamaan
diantara mereka sudah tidak dapat dihitung canda dan tawa yang selalu menetas
setiap waktu. Kini Roni diam-diam menyemai bibit kasih di balik ritme detak jantung
Fitri. Entah, ia begitu berani yakin pada wanita barunya. Seorang wanita yang
telah membangkitkan lagi senyumnya,
setelah sekian lama
menyantap kelabunya hidup dan nasib dia ketika dilibas luka sejarah kelam.
Keindahan yang Roni nikmati seketika
berlabuh ditengah malam dalam senyum Fitri, ia lalui secara diam-diam. Dirinya
mencoba bertahan dalam cinta yang terselip disela nafasnya yang kembang kempis.
Maghrib pun terlepas dari waktun, malam kembali bertamu di sehampar tikar
yang biasa Roni tempati. Setiap malam Roni setia di atas tikar itu. Hanya
sekedar menyaksikan diskusi bintang atau dian yang tiada usang. Roni mengubah
posisi bola matanya, hingga titik hitam ditengah putih menyamping. Ia melirik
kearah hapenya yang sunyi. Padahal tiada harapan hape kesayangan itu bungkam.
“Rel. Kamu dimana sekarang?” Roni pun menelfon sahabatnya.
“Ada di rumah Ron.” Sahut Farel dari balik hapenya.
“Aku menyukai temenmu Rel. Si Fitri.
Bantuin aku lah..” Lidah Roni seperti dipenuhi oli, begitu licin kata yang terlepas tak terkontrol. Begitulah suara hati,
yang setiap waktu memasung dirinya.
“hehe. Dia itu cuek Ron. Sulit
kayaknya kalau cita-citamu mau berpacaran dengan dia.” Suara Farel agak sedikit tersendat-sendat, karena
mungkin sinyal dirumahnya lemah. Namun bahasanya masih bisa ditangkap dengan
jelas di telinga Roni.
“Tapi dia ke aku perhatian kok Rel.” Nada suara Roni sudah mulai lemah,
tak ubahnya radio yang daya batrenya sudah mulai habis. Ia merasa tidak punya
pegangan untuk melintasi jembatan menuju hati Fitri. Padahal keinginan Roni
mengalir damai untuk dapat bermuara di hati Fitri. Harapan yang tak rentan begitu
kokoh mencipta
keinginan yang meriak-riak segera memiliki Fitri.
***
Kupu-kupu terbang kesana kemari,
menghampiri bunga-bunga yang cantik bertangkai lentik. Sepanjang jalan pulang,
hanya terniang rona Fitri di mata Roni. Ingin rasanya jalan dari Gapura ke Batang-batang ia lipat.
Supaya dari sekolah ke rumahnya tidak terlalu miliaran menikmati letih.
Fikirannya tetap memutar di sekeliling wajah wanita yang ia kagumi. Dia tetap
mengingat-ngingat kata lembut yang terucap dari Fitri. Batinnya bertanya lewat
semu, apakah tumbuh cinta dihatinya?
Air wudhu’ membelai sebagian wajah
sampai kakinya dengan kesejukan tiada banding. Hatinya seperti menelan AC,
dingin. Niatnya sudah tulus untuk segera ditunaikan dihadapan-Nya. Kiblat yang
coba ia dekatkan dengan hati, biar kerinduan semakin manja bergelora. Lantas dengan jarak dirinya dengan ka’bah,
semakin menambah kerinduannya seketika bersholat. Tidak mungkin dia lupa,
tentang doa pengharapan kepada wanita. Doa yang berisi nama Fitri begitu
manja kepada Sang Maha Pencipta.
Roni membentuk sila di atas kain
sajadah lusuh yang setia menemani dirinya tengadah. Setelah putaran doa dan
tasbih berhenti dibulirnya, Roni mengganti tangan dengan Nokia tipe 3600 itu
lagi. Kebiasaan menyapa Fitri dengan Assalamualaikum ataupun sekedar ucapan
selamat siang,sudah tertasbih disetiap detak kehidupan Roni. Roni mencoba memilih
ribuan kata yang berputar bertebangan dikeningnya, hanya untuk menjadikan sebuah kalimat saja. Setelah lama dia
mencari-cari, kumpulan kata pun terbentuk.
“Fit, salah nggak sih kalau aku suka
sama kamu. Sebenarnya aku sangat mengharapkanmu menjadi pacarku. Jawab ya Fit, bila kamu sudi merenda bahagia
dengan ku.” Itulah SMS yang dia kirim ke Fitri sebagai perwakilan suara hatinya
yang sudah sejak lama meronta-ronta.
Risau tiba-tiba merajai Roni. Ia
mulai bertanya pada putaran jarum jam di dinding kamarnya. Entah Fitri akan
mengirim ribuan paragraf sebagai bentuk luapan bahagianya. Sehingga dia perlu
lama untuk menulis balasan SMS Roni. Atau Fitri masih kesulitan merangkai
kata-kata yang indah, seindah bintang di langit? Menit pun terhitung delapan
puluh terlepas. Dering hape Roni mendeburkan hati yang sedari tadi kerisauan
menunggu balasan SMS Fitri.
“Maaf Ron, aku baru pulang dari
pengajian. Jadi aku telat balesnya. Kamu lagi apa ?” Roni pun mencoba membaca
ulang isi SMS itu. Diulangnya entah keberapa ulangan yang diulang-ulang oleh
Roni. Pesan itu pendek, dan bahkan tak ada satu kata pun yang disingkat. Roni
bukan tidak bisa membaca SMS Fitri. Bahkan dia sudah kelas akhir di bangku MA.
Hanya saja dia tidak percaya akan ada jawban yang bersimpangan dengan pertanyaan
yang Roni tanyakan.
Percakapan mereka terus berlanjut. Roni
terus berusaha membedah dan mencari kepastian jawaban dari Fitri. Begitu sangat
tidak mudah menembus belukar dengan tekad yang lemah. Bukit terjal harus Roni daki, biar tahu apa
yang bersembunyi di puncaknya. Memang tidak ada yang salah, wanita adalah
samudera. Tapi samudera dengan badainya yang besar telah menenggelamkan
harapan yang tulus. Fitri tidak ingin memiliki pacar. Roni sendiri juga
masih egois. Dia tetap berlari mengejar cintanya yang tertancap di sosok indah
Fitri. Hatinya terlalu rapat dengan miliaran ketulusan yang berdesakan, sampai
sulit ditemukan letih dalam perjuangannya.
Pagi buta basah dengan embun air
mata yang bertengger di pucuk-pucuk doa. Semilir angin sendu mengirama di
dedaunan. Kupu-kupu entah dimana bersembunyi. Nyanian camar semakin sumbang
warnai kehidupan Roni. Ia ingin sekali menceritakan kepada sahabatnya, Farel. Kalau ia sedang terluka, bahwa hatinya
dilanda lara, ia cemburu pada ritme jarum jam yang setia berputar tanpa lelah.
Ia ingin sekali mencurahkan, menumpahkan semangkok racun yang terlanjur dia
telan dari tatapan wanita miftahul ulum.
“Aku dulu pernah nembak dia juga
Ron. Tapi aku ditolak. Makanya aku sahabatan aja sama dia sekarang. Fitri
memang begitu.” Farel
berkicau panjang kali lebar, sampai Roni kebingungan mencari titik dimensinya.
Padahal Roni meminta solusi. Bukan malah semakin memukulnya dibekas luka memar
yang masih bara. Risau hati Roni tak bertebing kala itu. Dirinya merenda luka
yang mendalam.
“Aku tidak perduli Rel. Tapi kamu tidak apa-apa kan, kalau
semisal nanti aku bisa jadian dengan Fitri?” Mimpi Roni masih tinggi untuk
mendapatkan wanita pujaannya. Kalimat itu memang sedikit menyenggol hati. Sebab
lahirnya perpaduan kesal dan luka yang tertambat cinta.
“Aku yakin kamu nggak bakalan bisa
pacaran dengan dia.” Begitu vertikal kalimat Farel yang berdasar keyakinan hatinya. Hati
Roni masih berlinang dengan genangan air mata. Bagi Roni itu adalah kalimat rangsangan yang
dikeluarkan sahabatnya supaya tetap mau berjuang. Roni mencoba menyemai kembali
perasaannya.
***
Sendu sedan kicau camar dilembaran
lain fajar April. Ada daya yang menyungging di awal Mei. Meski Roni pernah
lapuk di deras air matanya. Kini cinta sudah legam terbakar terik cita-cita.
Kejadian lima bulan yang silam, terpaksa dia telan. Komunikasi dengan Fitri
sejauh langkah nafasnya, masih tak terhambat ruang dan waktu. Entah, dia
seperti sudah terpatri dikelopak bunga Desa Pacinan itu. Hatinya menjelma
menjadi arus yang besar, maka pula tidak akan ada bendungan yang bisa menahannya menuju muara hati Fitri. Roni ingin
mencoba untuk mengungkapkan lagi perasaan yang masih suci dan tak layu
karena waktu.
Aktivitas malam roni terkontrak
untuk berceloteh dengan Fitri. Sekedar saling mengisi sepi. Ia tersenyum ketika
sedang menatap layar nokia miliknya. Dia terhipnotis dengan diksi pesan singkat
Fitri. Roni tak ubahnya seperti orang gila yang merayu-rayu karet kecil. Karet
itu pasti ia senyumi. Masih dengan senyuman yang kosong, hingga tidak sadar
bahwa malam telah membawanya jauh. Namun, malam pekik tak kuasa memungkas
percakapan mereka dari balik hape masing-masing.
“Kita taruhan yuk?” Pesan singkat
Fitri hinggap di hape Roni.
“Mau taruhan gimana? Boleh.” SMS
Roni terbang menuju hape Fitri.
“Pokoknya siapa yang tidur duluan,
dia kalah.” Fitri dengan jengkelnya menantang laki-laki yang dipenuhi asmara
itu.
“Ok. Siapa takut. Tapi apa
taruhanmu.” Pesan singkat Roni.
“Kalau kamu kalah. Kamu besok jalan
kaki ke sekolah.” Fitri pun tidak segan-segan mengancam Roni.
“Ok siap. Tapi kalau kamu yang
kalah, kamu harus siap untuk menjadi pacarku. Aku akan mengalahkanmu.” Roni
mencari kesempatan dalam taruhan. Senyumnya menyeringai. Obrolan mereka dari
hape ke hape masing-masing masih
berjalan lancar. Tak disangkanya jarum jam sudah menandakan tiba di pukul 02:00
dini hari.
Fajar menyibak butanya pagi. Mentari
menyingsing di ufuk timur. Gelora menjadi warna bahagia. Bianglala
menyempurnakan keindahan suasana. Fitri dinyatakan kalah. Roni pun tersenyum
saat membaca alur percakan dengan Fitri di hapenya. Bunga bertaburan di
pelataran hati. Bagaimana tidak? Sedang cinta yang dimimpikan, kini terbangun
dan memeluknya. Fitri membendung air mata Roni. Roni mensbihkan namanya pada
setiap putaran doa.
***
Empat Bulan Kemudian.
Kenapa bisa dua merpati putih
menjadi lusuh? Mungkin ia kelaparan saat disandera rindu. Kerontang tubuhnya
menggambarkan bahwa dia kurang makan. Atau sengaja ka’bah dijauhkan dari
hadapan ummat ketika bersholat? Biar dengan jarak, ia mengerti tentang makna
rindu. Kecurigaan yang lain, jangan-jangan mereka tak tergaris ditangan dengan
liuk yang sama. Hampir sulit tak tercium harmonis keduanya, yang dahulu sempat
sangat semerbak. Pertengkaran kerap terjadi.
Rindu yang menggunung dihati Roni
sudah berapi. Entah, wanitanya memohon jangan segera meledak. Kehendak sua
sudah tak berhak menyandang kalimat keinginian lagi. Itu adalah bentuk sikap
keyakinan yang berani. Roni merapikan semua ketulusan untuk merenda diistana
suci. Bukan lantas dia akan menjadi pengecut. Adat menuntutnya untuk jangan
berdosa. Fanatisme keagamaan di dalam tubuh masyarakatnya melarang untuk tidak
suci. Jangan haram. Harus halal. Jangan melanggar adat. Hargai masyarakat. Ini
kehidupan bersama, bukan dua orang. Kecipak kalimat itu terlontar dari lucirnya mulut
masyarakat. Sungguh terlalu bising.
Masa kelam tersulut kembali. Rasa
takut kepada seorang wanita menjelma hitam dalam kepala. Senja di ufuk
cakrawala tidak akan segan-segan memenggal kebersamaan dua manusia. Roni masih
seperti diawal cerita ini. Roni masih dengan sejuta ketulusannya. Begitu juga
mengenai rasa kecewa yang pernah ditelannya, perlahan-lahan ia sudah mulai bisa
memuntahkan. Keberanian bajah itu hanya tumbuh pada saat tinta kasih Fitri mewarnainya.
Pernyataan yang sakral dari Roni, bukan celoteh anekdot. Ia sekali lagi tulus…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.