Jumat, 09 September 2016

Puisi Wardi "UNTUK KAMPUNG KITA DI DUNIANYA"

Kugugat tengkorak di gubuk sederhana
Ketika tempat memetakan warna mata
Selalu membentuk hitungan sama
Dengan benakmu yang pelabuhan membalik masa

Tidakkah langit selalu rubuh
Dan mampus di pangkuan malam?
Tempat dulu kutemukan gerbang salam
Hari kepada perjanjian berdarah
Hidup dalam gigil yang tanpa celah

Kini, kampung kita punya kolam sastra air mata
Menyambut pasukan-pasukan yang berduka
Ia lebih dulu mengembarakan kesulitan
Meladang batu-batu yang terkutuk aroma busuk
Tidak pernah punya rumah untuk sebuah kenangan

Lalu jarak waktu memang sungguh menghakimi
Bagi pahlawan yang melepaskan tawanya di gigir pantai
Hanya peristiwa dari kitab suci yang diberkati
Tak pernah cemas meski kepada puisi
Adalah lukaku yang tak juga pulih

Dan, bila telah tiba pada kesungguhan itu
Maka biarkan aku datang menyusulmu
Membawa sebungkus putus asa
Untuk kampung kita yang barangkali berdosa

Jogjakarta, 2016

Kamis, 08 September 2016

Puisi-Puisi Wardi

PENTAS PAGI

Apakah hanya aku yang diterjang
Bila desaku adalah sketsa kota?
Melihat wajah burung-burung yang murung
Aku belum lupa bagaimana semesta
Pun ragam pengerasan jalan
Yang mengatakan aku cinta perkelahian
Telah terbuka dada-dada kepentingan

Di atas kepalaku yang batu
Ada hujan berlayar di langit biru

Dan di bawah kaki ibu
Terdapat pecahan air mata
Sebab lagu kemarau
Kali ini tenang dari percakapan tembakau

Apakah hanya aku yang diterjang
Bila pagi dipentasi bising mesin dan roda?
Mencoba merangkai kembali matahari
Dan membayangkan hutan
Pandang pun ditingkah pembangunan

Sungai tetap mengarus dari lubang-lubang
Kulit bapak yang terkelupas ke bumi
Keringatnya mencari muara
Atas anak-anak yang melayang di angkasa
Ia berkejaran searah dengan angin laut
Memburu peradaban-peradaban barat

O, betapa bapak hanya menggenggam pasir
Lehernya digantung di ranting cemara rindang
Ketika tambak pun membentang sepanjang Lombang
Anak mereka, menunggu di pantai membawa lapar

Rupanya tak hanya aku yang diterjang
Bila kita bersama yang menyalakan ingatan senja di atas ombak
Maka, mari kita pandangi doa perahu itu
Yang mulai dalam menyebut nama mendung
Yang mulai karam
Ditindih penjajahan tak berujung

Pantai Lombang, 2016

INI AKU

Di sini, kulepas rindu pada jari gadis kemayu
Mengikatkan masa silam yang lama hilang
Dan menyanyikan lagu paling syahdu
Kepada bibir yang saling lumat jantung

Engkau belum juga menua di lumbung kenangan
Semisal melepas ikatan akar yang dianyam
Aku pura-pura mampu melupakan

Di sini, aku pernah terjaring kain kerudung
Keringkan keringat yang menyimpan cinta begitu rapat
Dan rekaman tubuh penunggu yang mematung
Menjelma godaan sebagai isyarat

Ini aku, Dinda
Seorang pendatang yang diusir waktu
Bermimpi mengenai matahari di seberang
Selalu diusir makna-makna yang berpeluh dirimu
Maka, barangkali tiba dewa mengerti kata mati
Berdekatlah denganku beberapa abad
Kita akan merambat pada tumpukan kangen
Serta membuatkan rumah abadi bagi pertemuan

Pamekasan, 2016

Puisi-Puisi Wardi

LUKA LAUT

Laut masih biru di mataku
wajah dermaga dan bibir pantai yang sepi
kubaca dengan nada buih

Hatimu dipecah karang
saat bunga-bunga laut hening oleh ombak
kusemai dalam dada
menyerupai cemburu para nelayan
kepada ikan yang menjauhi sauh

Tamidung, 2016

MENANAM BATU

Sore tadi aku menanam batu di bahu ibu
Mencermati peristiwa sehari-hari
Berdialog dengan segala perwujudan dunia
Yang dimengerti burung dan sapi-sapi

Tanah tempat menyimpan kepergian
Juga menghidangkan rumah keabadian

Ketika tak menyangka, yang tumbuh sebagai nasib
Berupa tengkorak yang jelma dari sebuah bukit
Yang mencari jalan sama nuju lipatan gelap

Duh, berlarian burung-burung musim
Meneruskan waktu sebenarnya
Aku, hanya menanam batu
Di antara sungai-sungai matamu
Senyum dan tangis berkelok akal manusia

Kehabisan sawah
Pelebaran jalan raya
Kutanggung sebagai kutukan
Di sebuah rumah di mana aku pernah lahir
Untuk kisah-kisah padi serta kembang jagung
Yang sempat mekar

Tamidung, 2016

BERMAIN HUJAN

Kemarin, hujan memuntahkan tubuhmu
Air mata sejenis gerimis
Gigil di pinggir pantai dan sungai-sungai
Gelombang angin membawa asap bau kemenyan

Aku ziarahi tubuhmu per inci
Hingga kauberlumur bedak lumpur
Bertelanjang dada dengan kutang pita merah
; Cinta berjatuhan di gelembung sampo
Seperti lintah, aku terus menghabisimu
Mendaki ke dua gunung itu

Ah, engkau mengulur bulan di tengah hujan
Tubuh kita berdekatan
Lalu saling jalar seperti akar membuat saluran

Hujan telah reda
Kita bermain lagi di kamar mandi
Membuat risalah
Menyusuri lubang yang sedang engkau diamkan
Dan kutanam manusia di tembok
Di kasur, di pintu-pintu
Sebelum memar lehermu kembali mengering
Bersama lotion paling licin
Aku berhasil mengeruk tanah dengan bayang perempuan

Jepang,
Kota yang gelap kusangka
Wanitanya memataiku di sudut lampu
Sebagai lelaki sakau

Tamidung, 2016

WAJAH YANG MEMBUNGKUK MENUJU MATAMU

Ini tentang percintaan kita di pelupuk mata senja
Juga luka-luka penggantiku yang lebih setia

Jika memang doa yang berulang kita eja
Akulah lelaki yang disiksa
Dipukuli tangan-tangan sepi
Terkelupas kulitku menahan fitnah

Jujur saja ini bukan mengenai kepulangan
Ketika tangan-tangan saling urai
Menenteramkan hati
Tubuhku menghemat detak
Melihatmu ke uatara bersama pria
Melalui pintu gerbang
Yang menyambut jalan dan kendaraan
Lalu lalang, berderu di dadaku

Dan wajahku yang membungkuk menuju matamu
Telah mencium nyinyir getir penantiannya

Pamekasan, 2016

ANASIR RUMAH-RUMAH PASIR
Kepada Ema'-Eppa'

di sebuah malam yang pualam
kita bercerita perihal kematian
taman-taman kehilangan tempat bermain
hilang bunga yang menguntum

aku tak tahu bagaimana cara berguna
membacakan sekian misal yang sempal
sebagai penunggu yang rindu
dan kepergian segera berkuasa
atas kepala-kepala lelaki tua
; tanpa nyawa dan kata-kata

lalu aku berlalu, memahat seikat tatap
menetap dari matamu dari biru pun syahdu
selaksa bunga-bunga surga
yang sempat tumbuh di dadaku

adalah anasir rumah-rumah pasir

Tamidung, 2016

SEBUAH SORE DI PAMEKASAN

Jalanan kembali mengering di mataku
Sedang berkarat termakan rayap
Ritual bus-bus yang bersila di atas patahan rasa

"Sayang, lazuardi melingkar sampai hujan kutemukan begitu asin bergaram."

Sore itu tiba di Pamekasan
Aku mencakar punggung trotoar dekat terminal
Memeluk punggung jalan, menanam seribu alamat
Sampai celanaku basah dari gerimis hujan
Jarum jam di pagelangan membusuk di tulang rusuk

O, rindu biru!
Aku gelinjang ke matamu
Waktu-waktu jatuh dalam sekaleng susu
Aku melintas ke dadamu
Meremas malam dari belakang gedungmu

Dari tubuhku yang keluar melebihi pisau
Menjelajah kota tuhan tak bernama
Hanya sebuah wajah elastis
Dan raut agak meringis
Engkau pun habis aku lemas
Sebagai kelebat sajak penanam pisang
Bulan merah saga, dan jadah, tumbuh di perutmu

Aku, sebut kembali namamu
Menyerupai ibu, hujan di rumahku
Menghukumi sore di Pamekasan waktu itu

Tamidung, 2016

SEBUAH SORE DI PAMEKASAN

Jalanan kembali mengering di mataku
Sedang berkarat termakan rayap
Ritual bus-bus yang bersila di atas patahan rasa

"Sayang, lazuardi melingkar sampai hujan kutemukan begitu asin bergaram."

Sore itu tiba di Pamekasan
Aku mencakar punggung trotoar dekat terminal
Memeluk punggung jalan, menanam seribu alamat
Sampai celanaku basah dari gerimis hujan
Jarum jam di pagelangan membusuk di tulang rusuk

O, rindu biru!
Aku gelinjang ke matamu
Waktu-waktu jatuh dalam sekaleng susu
Aku melintas ke dadamu
Meremas malam dari belakang gedungmu

Dari tubuhku yang keluar melebihi pisau
Menjelajah kota tuhan tak bernama
Hanya sebuah wajah elastis
Dan raut agak meringis
Engkau pun habis aku lemas
Sebagai kelebat sajak penanam pisang
Bulan merah saga, dan jadah, tumbuh di perutmu

Aku, sebut kembali namamu
Menyerupai ibu, hujan di rumahku
Menghukumi sore di Pamekasan waktu itu

Tamidung, 2016

Puisi-Puisi Wardi

SEBELUM AKU MAKAN

Landai rasanya ngarai yang bersungai. Ikan-ikan menyepikan dirinya pada bebatuan lintang. Sementara aku masih terbujur di atas sehampar puisi mujur tengah ladang. Orang menyeduh embun dan rerumputan. Siwalan bertanduk matahari di bahu Ibu. Babak belur tanah ini; tempat asal darah tumpah. Juga asal bahagia buncah, tumbuh di sana

dari dada seorang musyafir
aspal hitam yang legam
dahulu aku kumpulkan kerang yang terasing dari malam pualam
selesai pengaspalan jalan
dekat tikungan tanpa penerang

Dan sebelum aku makan jantung pisang serta teri mentah di atas nasi jagung, luka telah menamatkan salah seorang penjuru kampung. Tubuhnya bermandikan darah. Tangannya terlepas dari batas desa dan kota orang-orang bahagia. Bau anyir rupanya memikat hidung gagak. Hidupku yang lungkah di cakar deru hujan. Lidah mengais-ngais sauh yang menjangkar di dada Ibu. Langit turut menampilkan orang-orang senja

dari balik kelopak mata
kembali aku membaca kenyang dan lapar
serta caraku pulang yang membingungkan

dan bila masih belum aku makan,
hadiahi saja aku seiris pandan di atas makam

Tamidung, 2016

PESAN PERTAMA DARI SESEORANG

Aku sengaja mengubah arah pintu rumah menghadap laut
Biar mataku menjelma debur pada gaduh ombak
Dan ketika layar-layar putih mengembang di gelap
Mengingatmu aku sedang ditingkah buih lautan

Kelap-kelip cahaya lampu perahu itu berkedip malu
Sehampar air pun makin asin di bibirmu
Mungkin Tuhan sedang mengawinkan keindahan alam
Bagi bulat mata kita yang curi pandang memperhatikan keindahan

Di sanalah, aku pendam sebuah surat saudara perempuan
Di setumpak sawah berukuran laut
Menjadi renangan menerima malang
Nasib-nasib dari sengat ekor pari

Tamidung 2016

MENCINTAIMU SEBAGAI BAGIAN HUJAN

"Sebelum pulang, kemaslah mendung di mataku." Katamu kepada kursi kayu. Aku
Duduk di situ, sekali mengakui tentang benci.
Juga mengenai pelangi. Yang berdiri
Memaksa cinta agar pergi. Bersama sayatan cemburu
Di dadaku bukan tak mengadu. Apa lagi engkau
Semalam telah bertandang. Membawa harapan
Ke dalam yang tak berkesudahan. Kunamai
Dirimu. Diriku yang keliru

Kemudian, mencintaimu sebagai bagian hujan. Mengantarkan getar Pameksan
Pada perpisahan yang kita rencanakan. Tanpa puisi
Yang menginginkan seperempat luka
Kembali. Sebab melihatmu
Gerimis menghuni ceruk-ceruk mataku. Mewacanakan kesedihan
Dengan kalimat bergincu.

Aku harus pulang. Sebelum engkau
Tersakiti bijak kata kenang. Akan kurawat
Aroma bedak-bedakmu. Akan kucium
Dalam hening. Akan kurindu
Sebagaimana telah kauajarkan cara keabadian dan kesetiaan.

Pamekasan, 2016

INI AKU

Di sini, kulepas rindu pada jari gadis kemayu
Mengikatkan masa silam yang lama hilang
Dan menyanyikan lagu paling syahdu
Kepada bibir yang saling lumat jantung

Engkau belum juga menua di lumbung kenangan
Semisal melepas ikatan akar yang dianyam
Aku pura-pura mampu melupakan

Di sini, aku pernah terjaring kain kerudung
Keringkan keringat yang menyimpan cinta begitu rapat
Dan rekaman tubuh penunggu yang mematung
Menjelma godaan sebagai isyarat

Ini aku, Dinda
Seorang pendatang yang diusir waktu
Bermimpi mengenai matahari di seberang
Selalu diusir makna-makna yang berpeluh dirimu
Maka, barangkali tiba dewa mengerti kata mati
Berdekatlah denganku beberapa abad
Kita akan merambat pada tumpukan kangen
Serta membuatkan rumah abadi bagi pertemuan

Pamekasan, 2016

PENYAIR

Pada kesibukan mesin dan roda-roda. Penyair menulis
Gelisah tentang anak manusia. Bertukar ode dengan pantai
Yang dahulu hingga kini dibantai. Kekuasaan
Punya suatu cerita abadi. Tapi bagi penyair
Tak akan pernah mengamini. Ia pura-pura
Rendah hati. Dengan menulis puisi sebagai hakikat basa-basi

Pada desa yang berbicara tentang bahtera luka. Hidupnya
Tak ingin lambat atas sisa masa yang menua. Ia tulis melalui selembar laut
Tentang keterasingan yang menjangkar ribuan maut. Ke tubuhnya
Mata penguasa selalu berdiri. Isyarat merenggut
Nasib akan menyelimuti

O, Penyair. Di mana nafsu yang berlipat rindu Itu?  Di sini
Aku hanya melayani waktu. Mengurung kesunyian
Di tahun yang berguguran. Aku rindu puisi yang dimakamkan tanpa nisan. Dan kepalan
Dosa-dosa yang tempo hari. Masih berziarah
Membawa wewangian alam ke dalam diri. Dirimu
Penyair, yang barangkali tak mengenal mati. Tapi
Bila tak saat ini, mungkin nanti.

Sumenep, 2016

PETANI

Kami catat takdir pada ladang padi
Sebab bagi senyum mengawini ilalang
Tak perlu kami tunggu hujan datang

Kami bajak mimpi di bawah langit
Sebab menabur biji iman
Selalu subur bersama manis keringat

Di atas sebidang tanah
Kami semai kekhawatiran melalui doa
Takut tembakau menjadi anak jadah
Bagi kami yang kembali berpesta sengketa

Pun kepada terik matahari
Mata mengorak kerontang kemarau
Kecuali kepada puncak ketenangan
Kami selalu antar pantai dan taman-taman
Penuh peri-peri pandai menari

Sumenep, 2016

PEREMPUANKU (04)

Telah kulipat segala kalimat dalam jarak dekat
Yang kembali menjadi batu
Saat kaumerah muda tiada mati
Mata pun kuanggap keliru menatapmu

Pulanglah, ikut dengan malam
Yang letih menahan perih
Yang terjerat di bibir rekah
Wasiat ibu, menuai di tepi gincu

Perlakukan aku, Dinda
Layaknya kekasih yang engkau madah
Ketika luka-luka bertubi ke dada
Biarkan rinduku dengan sendirinya mengadu
Serupa rejam air mata
Tak akan mampu aku mengeja bahagia

Sekali lagi
Engkau masih kekasih yang bersengketa
Dengan jutaan kisah
Sesaat sebelum
Waktu berulang menghitung jeda doa
Juga tipu daya

Pamekasan, 2016

KITA MESRAH

Yang kutulis adalah huruf-huruf juga
Sejak bercawan keringat dari kurun penantian
Kembali pulang merengkuh rindu yang linglung
Dan sepenggal tanah gersang
Sepadan sendirian dalam janji penantian

Andai pun benar
Aku ruh yang ditiup jibril ke dalam kehidupan
Maka izinkan aku memintal malam
Atau menimbang jawaban diam
Ketika dunia tanpa tanda baca

Hendaknya, kepada yang kita lupa
Ciciplah persembahan surga
Bukan mengenai separuh ruh
Atau senyatanya kata mesrah

Sebab yang akan aku kirim
Menuju telaga kering
Adalah terik api
Seperti surat matahari yang kutemui lagi
Untuk puisiku kali ini

Sumenep, 2016

Puisi-Puisi Wardi

PAGI II

Aku rapal sisa doa semalam, bersama bercak merah ingatan dan memar namamu. Tembakau tak jadi dirajam musim, serupa kita yang berziarah ke dalam pencarian. Lalu, ada yang menemuiku semacam aroma dupa saat rindu menjadi kekasihmu.

Jemputlah, andai pagi terus melipat hujan dan perjumpaan tak kunjung reda di ujung asmara.

Aku bukan pemberani yang kerap memadi sawah-sawah dingin, melumpur tubuhku hingga buah siwalan berjatuhan. Sebab hanya engkau, Adinda, yang semalam padamkan pelita; Sepinya tak pergi pagi ini.

Tamidung, 2016

PESTA MIRAS

Engkau perempuan terakhir
Yang menenggak darahku
Mematikan amarah setiap kali detak
Mencari wajah lain
Selain denyut namamu di bunga dada

Mari tambah lagi, Vi
Seteko miras bau amis
Engkau akan merasakan dunia pesta
Lampu-lampu lamin yang pernak
Aku samarkan dengan gaun pengantin
Setiap kali angin mencurigai
Ismail yang gagal dipenggal

Hahaha

Semua akan mati mengikuti kita
Lebih dahulu sedikit dari aku yang kaugamit
Ke bawah matahari
Yang pohon terbunuh
Serupa terbunuhnya seekor domba

Maka jadikan aku tokoh dalam pewayangan ini
Yang menceritakan seorang nabi berkasih
Supaya aku dapat mencintaimu
Ketika aku tak dapat mencium aroma parfum
Yang perempuan pakai di kedai malam
Bersama semiras darah
Kita akan amis berpesta ria
Melalui desahmu yang pingsan
Cinta, aku coba abadikan

Tamidung, 2016

CAHAYA RENTA DARI SEBUAH PANTAI

di celah cadas waktu. mulutku berlumut. batubatu pantai menyusup tubuh yusuf. aku meniru mimpi di sana. duduk bersila meramal pantai; airnya 'kan berkilau-kilau. hingga yang tidak sebatas air itu menyiram ubunku. menodai cahaya berbaju sobek sebagian.

tibatiba kulihat juga anak cemara terinjak kaki kuda. dalam sebuah jeritan yang bermain di setiap lengking saronen. aku bersiutsiut. setelah malai bunga di keningmu jatuh. di atas pasir yang menganasir sebuah gerimis. kemudian miliar gemi mengurai tulangtulangnya kepada kita.

dan. setelah malam nyalang. pantai itu mengerami tubuhmu. tak ada yang tahu. bulan jatuh. cahaya renta. diasingkan tawa-gelak. tertimbun oleh rimbun cabangcabang cemara udang lombang. bulan. langit. malam itu kembali menemukan sebuah jurang mirip mulut.

Pantai Lombang Sumenep 2016

ANDAI AKU DAPAT MEMINTA

Vi, rupanya Tuhan bersama pohon tua
yang batangnya tertulis sepasang nama
sekaligus setulus doa

Dan aku dalam kamar gelap saat ini
dimana hanya ketukan pintu
dan detak jarum jam
yang menusuk dada
aku cari asal suaranya
kemudian kubuka, oh, jam telah tiada

Andai dapat aku meminta
di embun nan sahaja
pagi ini, namamu kuabadikan
tanganmu kuingat
bagaimana pernah dengan pukulan manja

Tapi, Vi, siapa aku siapa dirimu
Tuhan sembunyi di helai rambutmu
di helai rambut ini anai-anai menyanyi
berkidung elegi
mengawal langkahmu ke sebuah negeri
tempat cintaku dipenggal, di sini

Tamidung, 2016

KUPU-KUPU DI ATAS RUMPUT
:kepada Amir

Aku masih memeras embun di antara kening-kening dingin
Hingga pecahnya mengira sebuah siang lengang di sini
Lalu aku lari seperti anak ayam ditinggal induknya

Entah kepada siapa semalam aku menyapa?
Dalam barisan mimpi yang pagi ini berkecamba kata-kata
Adalah pencarianku yang menganak sungai tanpa muara

Sebelum rumput itu kering di sela baris mimpi yang menjadi batu
Sebuah bunga menjadi tempat kupu bertumpu
Lalu menyusu pada sisa asi yang kuperah dari seorang ibu

Tamidung 2016

KEBERANGKATAN I

Aroma pandan dan kenanga, aku menulismu di atas keranda. Dan puisi pertemuan yang mendadak menikam dengan sekepal kepergian,  aku tak jadi membaca setelah sepi ditandai tubuhmu yang patung. Kertas naskah kehidupan pucat. Memayat aku dalam drama yang kehilangan kesannya.

Tamidung, 2016

SI (04)

Laut bisa basah
Langit bisa basah
Saat kotaku gagal menyusun wajahmu
Bahkan kemaluan pun semakin memadamkan diri
Nyenyak dalam tidur malam
Yang bertubi-tubi mengirim dingin

Aku terus berangkat dari sini, Si
Di bawah remang lampu warna senja
Padahal setitik cahayanya memadamkan
Kita saat bermukim di gubuk abadi
Sembari membaca daun yang terjatuh ke bumi

Laut bisa basah
Saat kita tak tahu cara membendung air mata
Keinginan pontang-panting memburu doa
Tumbuh bergiliran
Aroma laun dalam ruangan

Tiba-tiba kita tak saling mengulur pulang, Si
Serupa bunga kenangan yang bergeliat beku
Ke dadaku
Ke dadamu
Yang tak sempat terkabul
Adalah huruf-huruf juga

Sungguh, langit bisa basah
Sebasah lorong samping rumahmu
Memalam aku menuju tujuan
Lalu sesekali terpejam
Ketika kita bertukar senyum yang menikam
Jantungku dalam tidur hening

Tak ada yang pualam, Si
Selain rasa ini
Sampai yang berpuing
Tuhan sungguh memaksum

Tamidung, 2016

RAIB

di sini, di sejarah kematian. aku menghitung jarak. melempar hati ke tepian.

kupahami matamu. pada pucuk-pucuk luka menganga. rasa cinta di beranda rumah. merayu angin. supaya memecah kesepian.

di bagian sisi yang hidup. kutiup detak ombak. suara pasir. gemuruh yang tahu hari lahir. kemudian mengumpulkan sesal dari lajur air mata. segala pun mengalir dan terkembang bersama layar derita.

siapa tertikam jantung sendiri? selain aku. ada ujung gabah menusuk harga--mati. bibir pantai dan bintang terang-redup. menjadi saksi bagi sepasang mata raib. hingga aku terus merangkai waktu, mengisahkan sujud yusuf betapa sunyi.

Tamidung, 2016

DARI LIDAHKU YANG MEMBIARKAN PRASANGKA

Sebaiknya aku wasiatkan bisik sunyi kepada kesepian. Biarkan ia mendua dalam bait puisi cinta yang terluka. Menghitami lara untuk sebidang jantung, yang nestapa mengeja air mata terbata-bata. Sekali engkau senyapkan saling sayang, selalu berharap ada penyair di antara kita. Dan membangun kamar di dadamu-dadaku. Bersama dipan yang berdiri atas luka pecemburu, koyak setelah permainan kuda lumping di atasnya--kita seabad lalu rancu merebut kata. Dan kepulangan, pada akhirnya kekasihku.

Perempuan, tentang cinta, akulah yang kautumbuhkan tunas hasrat, menyamakan percintaan dengan deras hujan. Karena kerontang, senantiasa henyak sekalipun mengerti mengenai musim buta. Karena doa-doa yang terjaga, senantiasa menjadi dosa kepada kita yang engkau dusta. Karena bibir, yang sempat engkau berikan di pojok taman, senantiasa terbaca sebagai sandiwara.

Duh, begitu mahir jemarimu memainkan kabut. Malam itu, lidahmu berputar di mulutku. Ia belajar membaca gelap dari kebiasaan yang terkadang lupa memejam mata. Sehingga siwalan yang berdiri di balik nadi, lancang menyentuh bibirmu. Hingga dingin yang jantungan, terlanjur menikmati beberapa tusuk puisi Tuhan.

Aku kembali menawarkan pagi. Merajut sarang laba-laba dari yang paling intim di tubuh wanita. Angin mulai menutupi kenyataannya dengan selimut penyesalan. Sebagaimana lelaki yang datang kepadamu, ia telah terasing dari ruang dada--tempatnya memeluk dua rahasia. Memasuki sepasang hening dosa, sebagai dukana yang menikmati kesakitan dengan dekapan serupa bulan.

Dan dari lidahku yang membiarkan prasangka, telah wangi menerima kesalahan, melumat tentang basah bibirmu sebagai rindu. Juga menimbang mimpi yang bersamamu.

Jogjakarta, 2016

Kamis, 25 Agustus 2016

BULAN REBAH DI HUTAN


Sudah lama aku menunggu kenyataan. Perihal bulan rebah di hutan. Sebagaimana dulu Emak mendapat cerita dari Kakek. Bulan suka rebah di hutan, katanya. Cerita itu bertolak belakang dengan yang disampaikan Bapak. Bapak bilang, Kakek adalah pelaut hebat. Lalu bagaimana Kakek bisa bilang melihat bulan rebah di hutan? Bukankah seorang pelaut hidupnya di laut? Hutan dan laut adalah dua tempat yang berbeda. Kakek pasti tidak suka berada di hutan. Ya, karena dia adalah seorang pelaut.
Bulan rebah di hutan akan mandi cahaya. Mengisi seluruh ceruk, pohon, kolam-kolam, bahkan laut. Itu dalam bayangku tentang bulan rebah di hutan. Ada lagi. Langit kesepian, dan bintang akan mencoba menenangkan. Semua itu menandakan betapa sungguh: langit, bintang, dan bulan adalah kebersamaan yang sama saling membutuhkan. Semua tidak bisa ditinggal satu sama lain. Mereka akan menanggung kesepiannya dengan berat hati. Dan pada saat kejadian bulan meninggalkan langit, juga bintang, pada saat itu bulan mandi air mata di hutan. Kakek mengira adalah embun yang basah di daun-daun, ternyata adalah air mata bulan. Kalau ada yang tahu mengenai air mata bulan, kata Kakek, pasti dia akan suka menangis. Mereka pastilah akan meniru bagaimana indah sesenggukan bulan menangis.
Tapi biasanya bulan tidak akan lama tinggal di hutan. Rebah di hutan. Dia memiliki banyak tanggungan di atas langit. Dia hanya akan berbagi cahaya dengan beberapa benda di bumi yang jarang tersentuh sewaktu keberadaannya di langit. Itu pun bulan hanya akan rebah ke hutan beberapa tahun sekali. Buktinya dari zaman Kakek hingga zamanku saat ini, bulan tidak juga rebah di hutan. Padahal aku begitu ingin melihat bagaimana bulan rebah di hutan. Meski Kakek dan orangtua melarang aku untuk berdoa mendambakan bulan tiba di bumi, 'rebah di hutan', hingga itu membuat aku berdoa semoga bulan turun. Tapi orangtuaku melarang aku berdoa seperti itu, mereka takut. Misal, takut aku sama seperti Kakek. Semenjak Kakek melihat bulan rebah di hutan, pada zaman mudanya dulu, Kakek menjadi orang yang tidak disenangi masyarakat lagi. Kakek menjadi pemain perempuan, Kakek suka membuat perempuan menangis, dan Kakek suka bermalam-malam di warung kopi berbagi cerita, juga berpuisi. Kakek suka menarik perempuan melalui puisi-puisinya. Puisi Kakek menjadi puisi itu sendiri, yang indah di mata perempuan, sebab imajinasinya liar saat melihat semburat cahaya bulan yang rebah di hutan itu. Tapi bukan hanya tentang imajinasi.
Meskipun Kakek suka bermain perempuan menggunakan puisinya, Kakek tetap seorang pelaut yang hebat. Pernah suatu ketika, Kakek dimarahi oleh Nenek gara-gara hasil lautnya sedikit. Dan setelah melihat bulan rebah di hutan itu, Nenek pun tidak lagi marah-marah, dan hasil laut Kakek banyak. Nenek menjadi puas dengan ikan tongkol yang dihasilkan Kakek. Nenek yang masih muda pada saat itu suka mengulumnya dengan liar. Bayangkan, ikan tongkol yang agak kehitaman dan besar itu Nenek menyantapnya dengan semangat. Dengan cara mengulum. Mulut Nenek sampai berliur-liur. Dan sepertinya bulan yang rebah di hutan membuat Kakek  mendapat keberuntungan. Hanya saja, meski demikian, orangtuaku tetap melarang aku berdoa, atau melihat bulan rebah di hutan, jika suatu saat terjadi.
Ini tahun kedua puluh, semenjak aku lahir ke dunia. Aku begitu berharap dapat melihat bulan rebah di hutan. Di usia dua puluh tahun ini aku yang benar-benar sungguh berharap turunnya bulan dari langit. Tidak ada harapan segelisah saat ini dalam mendamba bulan rebah di hutan. Ada beberapa harapan yang ingin aku lakukan jika benar-benar melihat bulan rebah di hutan. Pertama, aku ingin menjadi pemuisi hebat. Aku ingin berimajinasi di dekat bulan. Akan aku lahirkan jutaan puisi yang indah untuk menaklukkan hati Fitri. Dia adalah seorang perempuan yang telah meninggalkan aku. Anak seorang pejabat hebat. Selain itu, Fitri dari golongan darah biru. Aku yang hanya anak pelaut, dan Emak seorang petani, jelas ditolak melamarnya oleh orangtua Fitri. Meski penolakan itu dengan cara, dan alasan lain. Dia kini sudah bertunangan dengan seorang pria, putra Kepala Desanya sendiri. Aku akan membuat puisi hanya untuk Fitri melalui bulan yang rebah di hutan nanti.
Kedua, aku ingin melihat bagaimana reaksi perempuan yang menistakan aku. Aku akan mengisi warung-warung kopi sembari membaca puisi. Akan kubuat meleleh hati perempuan yang beberapa hari ini mengkerdilkan kelaki-lakianku. Bahwa aku bukan seorang laki-laki yang tidak laku. Bahwa aku bukan orang yang menentang pernikahan dengan pura-pura memilih pendidikan. Dan aku tidak lagi ditertawakan di hari lebaran karena masih sendirian. Hanya dengan beberapa puisi indah yang kuhasilkan dari bulan rebah di hutan. Selain itu, akan kubuat banyak perempuan jatuh cinta, lalu akan kupermainkan. Itu, biar juga menjadi suatu tanda: bahwa betapa aku bisa mempermainkan seorang perempuan. Tidak hanya aku yang dipermainkan. Biar perempuan-perempuan kampungan itu tahu kalau sakit hati rasanya lebih sakit daripada sakit gigi.
Tapi kenapa orangtuaku masih melarang aku melihat bulan rebah di hutan? Akankah semua cerita-cerita yang diceritakan Emak, yang datang dari Kakek, itu hanya bohongan? Tapi tidak mungkin. Itu hampir sama dengan cerita yang aku baca di buku beberapa hari lalu. Betapa seorang Sulaiman dalam buku cerita itu ditempatkan sebagai tokoh laki-laki yang sering disakiti oleh perempuan. Sulaiman adalah seorang perantau dari desa. Empat tahun dia hidup di kota. Kuliah di kota. Sebagai seorang lelaki, Sulaiman, tentu memiliki rasa sebagaimana manusia normal. Tapi aku agak tidak senang dengan Sulaiman dalam tokoh buku tersebut. Tidak senang juga dengan penulisnya, yang menjadikan lemah tidak memiliki keinginan balas dendam kepada perempuannya. Dia terlalu lugu. Seperti yang diceritakan dalam buku itu: sewaktu Sulaiman menyatakan cintanya kepada Desi, dia disuruh membeli kipas angin, kompor gas, dan kasur empuk. Semua itu katanya, untuk kepentingan Desi di kosannya. Dengan begitu, Sulaiman manut saja kepada apa yang diminta Desi. Akibatnya, tidak sampai satu bulan, hanya satu minggu dua hari, Sulaiman pacaran dengan Desi, sudah putus. Dan kipas angin, kasur empuk, juga kompor gas, secara otomatis menjadi milik Desi. Aku begitu kesal membaca kisah cinta Sulaiman pada bagian lembar itu. Dan juga kepada beberapa perempuan kota yang selalu membuat Sulaiman sakit hati, dalam cerita buku itu.
Tentang Sulaiman, adalah buku terakhir yang kubaca dari buku tentang kisah cinta yang menyakiti seorang lelaki. Kisah Sulaiman agak sedikit  berbeda dengan kisahku dengan perempuan-perempuan kampung(an) itu. Mereka tidak terlalu materialistis seperti Desi, pacar Sulaiman. Meski ada yang materialistis dari perempuan kampung, itu hanya akibat dari menyebarnya televisi ke seluruh penjuru desa. Dulu di desaku, satu desa hanya ada satu tivi, itu pun yang hanya dua warna—hitam dan putih. Berbeda dengan sekarang, hampir seluruh rumah memiliki benda elektronik itu. Kecuali rumahku yang anti tivi. Bukan berarti aku tidak suka menonton tivi, hanya aku belum siap berbentur dengan modern. Dan belum memiliki uang untuk membelinya. Anis-lah, seorang mantan pacar yang pernah putusin aku hanya karena masalah aku tidak bisa memberi materi yang dia inginkan. Dan tidak ada tivi di rumah. Dari itu Anis, aku golongkan pada perempuan kampungan yang agak matre. Dulu, waktu aku pacaran dengannya, dia meminta aku membelikan HP Nokia 1202. Aku yang tidak punya kerjaan, masih menjadi seorang siswa kelas akhir, otomatis aku tidak bisa membelikannya, Nokia 1202 itu. Anis pun langsung dan meminta putus. Bagi Anis, mungkin hati itu tidak ada apa-apanya. Sama dengan bahan daur ulang. Dia main putus begitu saja. Tak lagi ingin tahu sakit hatiku, waktu itu. Dan itu membuat aku hampir mati gara-gara diputusin Anis. Untung ketahuan tetangga sebelah rumah saat aku mau coba bunuh diri—menceburkan diri ke laut.
Dan kisah dengan Anis, berbeda lagi dengan cerita cintaku dengan Fitri. Dia perempuan terakhir yang masih membekaskan rasa sayang di hatiku. Sulit rasanya melupakannya. Aku dan Fitri terputus hanya karena orangtua Fitri memiliki janji, dulu, dengan Kepala Desa bahwa anaknya akan dijodohkan. Itu yang aku tahu. Dan jika tidak dituruti, tentu persahabatan mereka akan terputus juga. Fitri tidak bisa menentang itu semua. Mungkin rasa cinta Fitri juga tidak terlalu besar kepadaku. Sebab, andai aku yang dijodohkan seperti itu, hingga leher dipisah dari badan sekali pun, aku akan tetap memilih Fitri dan tetap memperjuangkannya. Bukan malah menyerah begitu saja, dengan alasan tidak kuasa menentang orangtua. Namun mau bagaimana lagi, semua telah terjadi. Benar lidah memang tidak bertulang. Sekuat apa pun kita berjanji, ujungnya pasti teringkari. Ludah yang jatuh ke tanah, akan dijilat lagi.
Sakit hatilah, pada intinya, yang membuat aku sangat ingin melihat bulan rebah di hutan. Aku ingin tahu bagaimana nantinya jika benar aku melihat bulan yang rebah di hutan. Dan perempuan-perempuan yang mengkhianatiku, menjadi berbalik mencintaiku. Dia akan mengejar-ngejar aku kemana pun aku pergi. Semisal, Fitri akan berpaling dari tunangannya dan mengejar aku. Ya, sebab aku pada saat itu—melihat bulan rebah di hutan, aku telah memiliki jutaan puisi indah, yang ketika dibaca di hadapan perempuan, siapa pun dia, pastilah leleh hatinya. Semakin hari, aku semakin membantin dan merindukan bulan. Tak ada kerjaanku setiap malam, selain menatap bulan yang cahayanya berpendar-pendar. Kadang aku sedih menandai tanggal satu kalender jawa, di mana bulan pada saat itu cahayanya begitu tipis. Tapi aku akan sangat bahagia ketika tanggal lima belas, di mana cahaya bulan pada saat itu benar-benar penuh. Purnama.
Malam ini hujan turun, langit berkabut, aku nangis, sebab bulan tidak tampak. Sebagai penggantinya aku lari ke kamar tengah, kuhampiri sebuah ruang gelap yang tidak ditiduri dan tidak ditempati siapa-siapa. Di sana adalah tempat Kakek menulis, dulu. Banyak buku-buku yang sudah berdebu. Aku mencoba mencari buku puisi milik Kakek yang dihasilkan dari melihat bulan rebah di hutan. Siapa tahu di sana terdapat sebuah kisah tentang bulan dan Kakek ketika berjumpa di hutan. Setelah hampir setengah jam aku mencari dengan penerang celupak di tangan, akhirnya buku itu kutemukan. Diam-diam kubawa masuk ke dalam kamar. Aku takut kedua orangtuaku tahu kalau aku membawa buku ini.
Kulempar tubuhku ke kasur yang sudah tidak lagi empuk. Usianya sudah terlalu tua. Kapuk di dalamnya sudah semakin liat. Kubuka lembar pertama buku puisi milik Kakek. Kubaca dalam hati. Aku tersenyum, meski bahasa sastra yang digunakan begitu sulit, tapi bagiku itu adalah puisi indah. Puisi adalah indah ketika aku dibuat tidak paham maknanya. Itu menurutku. Setelah hampir di pertengahan lembar-lembar buku itu, hujan semakin deras, tanpa terasa aku membaca buku itu dengan keras. Dan itu di luar alam sadarku. Akibatnya Emak terbangun dan mengetuk-ngetuk pintu. Aku tetap tidak hirau kepada yang mengetuk pintu. Aku tetap saja melanjutkan bacaan puisi demi puisi dari buah tangan Kakek itu. Tangan begitu erat meremas buku. Kudengar pintu didobrak oleh Bapak. Dan Emak memelukku, namun aku tidak merasa ada pelukan di sana. Bapak memukul-mukul aku, namun aku tidak merasa dipukul. Emak kemudian menangis, namun tak ada tangisan bagiku. Bahagia. Hanya bahagia yang dapat kurasa dari bait-bait puisi Kakek.
Sudah satu minggu aku membaca puisi Kakek. Tidak makan tidak minum. Buat apa melakukannya, kalau aku tidak merasa haus dan tidak merasa lapar. Inilah kebahagiaan sesungguhnya, membuat orang lupa makan dan lupa minum. Aku terus menari-nari dengan gerakan yang berubah-ubah menggiring lantunan suara sendiri dalam membaca puisi Kakek. Puisi Kakek tidak pernah mau usai kubaca. Bagaimana mau usai, ketika sampai pada lembar terakhir, aku mengulanginya kembali dari depan. Bapak tidak kuasa melepas buku puisi itu dari tanganku. Seperti dua hari lalu, Bapak memisahkannya dari tanganku, aku langsung sakit. Hatikulah yang paling sakit. Siapa yang tidak sakit hati, ketika bertemu kebahagiaan, kemudian dipisah paksa begitu saja. Melihat sakitku, Bapak tidak tega, maka buku puisi itu dikembalikan. Dan aku kembali membaca puisi itu dengan bahagia.
Hari ke sepuluh aku tidak makan dan tidak minum, hanya membaca puisi. Bapak memanggil seorang Tabib, dia juga seorang penyair. Betapa aku bertambah bahagia ketika mendengar kata-kata Tabib itu, kalau aku disuruh menunggu bulan rebah di hutan. Artinya, itu adalah kesempatan emas untukku, untuk melihat bulan rebah di hutan. Tabib itu bilang, bulan akan rebah di hutan besok malam, tepat tanggal lima belas, purnama, pukul dua belas malam. Mendengar penjelasan Tabib, buku yang kubaca kulepas begitu saja, dan kuhampiri Bapak yang sedang berbincang dengan Tabib.
“Aku ingin menemui bulan rebah di hutan,” Kataku kepada dua orang yang duduk saling tatap itu.
“Iya, Nak, bulan itu juga menunggumu. Hanya pada zaman mudamu ini, Nak Rahman, bulan purnama akan rebah di hutan. Dulu, zaman kakekmu, bulan rebah di hutan pada tanggal tiga, itu berarti cahaya bulan tidak sempurna,” jelas Pak Tabib dalam Madura.
Air mataku tiba-tiba tumpah mendengar penjelasan Tabib, “Benarkah itu, Bib? Betapa aku ingin sekali melihatnya. Kalau begitu, dengan purnamanya bulan yang rebah di hutan, apakah berarti pula keindahan bulan akan lebih indah dari bulan yang dulu kakek lihat di hutan?” tanyaku.
“Iya. Jika kamu membaca puisi kakekmu itu indah dengan posisi bulan tidak sempurna. Nanti puisimu akan lebih indah dari itu. Sebab bulan yang akan kamu lihat cahayanya penuh. Purnama, Nak Rahman. Jangan sampai kaulewatkan.” Tabib itu mengimbuhi bicaranya dengan senyum. Aku semakin tidak sabar menunggu bulan rebah di hutan. Menunggu kelahiran puisi indah. Dan perempuan-perempuan yang siap tergila-gila, dan akan kubuat gila. Bulan rebah di hutan adalah sebuah kebahagiaan dengan segala keindahan menawan. Cahayanya akan mengisi ceruk dan sesuatu yang sulit terjangkau. Bulan akan menangis setiba di hutan, dan tangis itulah yang akan ditiru oleh setiap perempuan. Air mata bulan berbentuk dingin embun. Laki-laki akan merasa sejuk hidup dalam tangis tulus perempuan. Dan setiap bulan rebah di hutan dengan cahaya menawan adalah keindahan jiwa pecinta dalam kisah percintaan. Sekian!

Sumenep 2016

Selasa, 23 Agustus 2016

JANGAN MAIN-MAIN DENGAN NANIN


Oleh: Wardi

“Kamu semakin hari semakin dekat dengan perempuan hewan itu,” ucap Suhartini, mama Refa.
“Masya Allah, Ma, Nanin itu juga wanita. Dia tidak seburuk yang Mama dengar dari tetangga,” nada lembut Refa kepada mamanya.
“Ah, pokoknya Mama kaga mau tahu. Kamu harus jauhin dia, mama sayang sama kamu, Ref,” nada suara Suhartini semakin tinggi menandai perasaan sayangnya pada Refa.
Refa Nuuran Widiwiguna duduk di kursi yang berbahan pering. Kursi itu dibuat oleh almarhum bapaknya dua tahun silam. Tapi meski sudah berusia sedemikian tua, kursi itu masih gagak memancang keempat kakinya di lantai. Sembari duduk di kursi berbahan pering itu, Refa, terngiang pula pada perkataan mamanya satu tahun lalu. Saat ia akhirnya sungguh dipisahkan dengan Nanin. Refa kini hidup di Bantul Jogjakarta dengan mamanya. Rumah ayahnya yang dulu mereka tempati, di Jember, sudah dijual. Tanah-tanah warisan ayahnya pun ikut dijual oleh Suhartini. Tak ada harta tersisa yang mereka miliki di bumi Jember Jawa Timur, kecuali nisan Sang Ayah dan kenangannya dengan Nanin.
Pernah terbesit di benak Refa untuk pulang ke kampung halamannya dulu, ke Jember, untuk menemui Nanin. Tapi berita di koran pagi itu mencegatnya untuk ke sana. Sebuah berita tentang konflik Ormas Islam terbesar di Indonesia dan Ormas Islam yang baru-baru ini buming. Berita itulah yang berhasil membuatnya urung mengunjungi Jember.
Begitu pula dengan Nanin. Batinnya ingin terbebas. Tapi tidak bisa untuk melakukannya. Semuanya sudah terlanjur. Hampir satu tahun dia menjadi orang yang benar-benar hewan. Indoktrinasi paham agama radikal, sukses membuatnya menjadi wanita garang. Hanya garangnya seperti bara di tumpukan sekam. Bukan hanya Nanin, banyak para remaja perempuan masuk ke dalam paham gelap itu. Sudah setengah tahun Nanin meninggalkan rumahnya. Meninggalkan Marwati, ibu satu-satunya. Juga meninggalkan semua sanak keluarganya. Bagi Nanin, mereka yang tidak sungguh-sungguh mematuhi Hadis dan Al-qur’an sudah lebih buruk dari setan. Lebih najis dari anjing. Entah, paham apa yang Nanin miliki sekarang, sehingga orang yang melahirkannya pun dikafirkan. Tindakannya begitu radikal.
Pada saat kejadian konflik dua Ormas Islam di Jember itu, Nanin berada di garda terdepan melawan Ormas Islam terbesar di Indonesia. Satu-satunya perempuan yang memiliki keberanian. Bermodal kecantikan. Kelihaian dalam berbicara. Tubuh yang eksotik, menjadi aset utama bagi kelompok radikal itu untuk menarik banyak massa bergabung. Sebagaimana paham radikal, selalu menghalalkan segala cara dalam keinginannya untuk merubah pemahaman sosial atau politik secara drastis, berkedok agama, dengan cara-cara kekerasan. Tidak memiliki peri manusia sama sekali. Untuk menumpasnya, pemerintah selalu gagal. Kecerdikan pola pikir kelompok tersebut membuat kebijakan pemerintah kerap tanggal.
Tindakan kejam Nanin terbukti dengan kekejamannya pada saat sebelum muncul konflik  Ormas tersebut. Nanin diperintah untuk mendekati salah satu tokoh penggerak dari Ormas Islam, sekaligus lawan tanding dari kelompoknya. Nanin berhasil meracuni salah satu Kiai yang sudah sepuh dan terkenal memiliki banyak karomah. Beliau juga dari Jember. Nanin nekat pun seteganya, memasuki pondok pesantren yang diasuh oleh Kiai Lukman--menyamar menjadi santri putri. Menuangkan racun sianida dengan ke dalam teko kopi Sang Kiai, sekaligus pengasuh dari pondok pesantren Al-is’af, yang dianggap membahayakan bagi keberadaan Nanin dan teman-temannya.
Kiai Lukman akan menjadi senjata yang bisa menumpas kelompok Nanin. Keilmuannya tentang kitab-kitab kuning, kehafalannya tentang Tafsir Al-qur’am dan Tafsir Hadis tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka untuk melancarkan misi indoktrinasi radikalisme agama di Jember, salah satu caranya adalah dengan harus dibunuhnya kiai ulung berilmu itu. Berkat siasat Nanin, Kiai Lukman wafat pada saat itu juga.
“Astaughfirullah ... Ini tidak mungkin,” gerutu Refa saat membaca berita di situs online hapenya. Sebuah berita tentang kematian Kiai Lukman. Ternyata apa yang disampaikan temannya di Jember tidak sengeri apa yang dia baca di berita. Kematian yang tragis.
Kemudia Suhartini datang membawa segelas teh, “Ada apa Ref? Kamu jadi sekarang yang mau ke Jember? Minta temani sama Harun, ya?” menanyakan apa yang menjadi beban raut wajah Refa, sembari menanyakan keinginannya untuk melayat. Sebagai seorang mama, Suhartini, bisa menebak-nebak wajah anaknya. Wajah yang seperti menyimpan pertanyaan. Termasuk tentang Kiai Lukman yang meninggal beberapa hari lalu.
“Iya, ma, aku mau berangkat sebentar lagi,” balas Refa pada mamanya, pendek. Kemudian menyembunyikan koran yang memberitakan Nanin di bawah pahanya.
Jember. Malam itu suasana Pondok Pesantren Al-is’af ramai dengan lalulalang para santri. Biasanya para santri setelah selesai salat isyak di masjid, mereka mengaji kitab kuning, dan baru kemudian kembali ke kamar pondok masing-masing. Hanya saja, tidak pada malam itu. Beberapa malam kegiatan pondok diganti dengan memanjatkan doa-doa untuk mengiring sang pengasuh pondok. Tujuh malam setelah kepergian Kiai Lukman ke Rahmatullah, santri dari berbagai utusan pondok ramai memenuhi halaman pesantren. Mereka berjamaah bertahlil. Refa dan Harun yang ikut membaur dengan masyarakat pesantren, khidmat membaca doa tahlilan.
Hampir tiga jam waktu tersita untuk mengumandangkan doa. Pula untuk mengenang kepergian Kiai Lukman. Refa dan Harun berpamitan kepada para gurunya di Pesantren Al-is’af Jember. Refa adalah alumni Pondok Pesantren itu. Enam tahun dia menjadi santri. Maka wawasan keilmuan agamanya tidak bisa diragukan. Malam terus menyerang. Perjalanan dari pesantren ke rumah nenek Refa sekitar dua kilometer. Refa akan menetap satu dua hari di rumah neneknya. Suasana jalan malam remang dengan lampu penerang jalan, yang rata-rata berkekuatan lima watt. Terlihat beberapa warga yang memenuhi panggilan warung kopi, menatapnya yang berjalan kaki sebagai orang asing di kampung itu. Refa berjalan kaki. Warga desa itu bermain kartu di warung kopi. Lengkap dengan lintingan keretek yang diapit salah satu kedua jemari tangan kanannya.
“Ayo Ref, kita ngopi dulu bentar!”
“Ok, Run. Tapi cari warung kopi yang sepi.”
Sekitar seratus meter dari warung kopi yang ditempati warga main kartu, Refa dan Harun akhirnya menemukan juga warung kopi yang sepi pelanggan. Warung kopi yang ini pun memiliki penerang lampu yang lebih cerah daripada warung kopi yang tadi dia temui. Sembari menyeruput kopi dan memakan beberapa hidang pisang goreng, Refa teringat sesuatu—rumah orang yang dicintainya. Dulu, sebelum dia hidup di Bantul, warung kopi ini masih belum ada. Bahkan wajah penjual kopi ini, seorang ibu-ibu, wajahnya tidak asing bagi Refa. Refa malu mau menanyakan tentang pribadi si ibu penjual kopi. Refa cukup dipenuhi tanya dalam hatinya—penasaran kepada si penjual kopi.
“Oia, Bu, boleh saya menanyakan sesuatu kepada ibu?” sapa Refa mengawali pembicaraan.
“Boleh, Nak, mau menanyakan apa?” suara ibu penjual kopi itu parau. Seperti banyak menanggung beban.
“Tapi maaf sebelumnya kalau saya lancang. Kenapa warung ini tidak seramai warung di selatan itu, ya, Bu? Maaf kalau menyinggung perasaan, saya tidak ada maksud lain,” santun Refa menjaga nada bicara kepada yang lebih tua.
“Oh, tidak apa-apa, Nak. Warung kopi ibu ini baru. Orang-orang di sini membenci ibu, Nak,” katanya, seperti ada suara yang ditekan dan air mata yang ditahan linangannya.
Nada bicara ibu penjual kopi sepertinya semakin tidak asing di ruang dengar Refa. Dia mulai ingat, kalau ibu itu ternyata adalah ibu kandung Nanin. Tapi Refa tidak melanjutkan pertanyaannya—tentang anak perempuan ibu si penjual kopi. Refa lebih memilih memendamnya. Dia akan lebih sopan jika besok menanyakan kepada Nanin jika bertemu, dengungnya dalam hati.
Kota Jember sudah mulai menampakkan perubahannya. Sudah tidak seperti bagaimana dulu Refa tinggal. Kini banyak bangunan-bangunan toko yang besar. Otonomi daerah benar-benar sukses dimanfaatkan oleh pemerintah setempat. Jember, tanah pertumpahan darah dan makam dari ari-arinya, sudah banyak yang berubah. Masyarakatnya sudah semakin modern. Bahkan mendekati hedonis. Suasana pagi yang sudah tidak lagi harmoni. Pagi Refa disita dengan banyak pertanyaan tentang lengang jalanan. Sudah jarang orang-orang yang sibuk berjamaah mencari rumput ke sawah.
Dan pagi yang mengembun kerinduan-kerinduan. Mengungkit puing-puing ingatan masa lalu tentang seorang perempuan. Dia yang dahulu pernah menjadi pengharapannya untuk merenda bahagia di pelaminan. Tapi sayang, apa yang ia doakan, kini tidak seindah kenyataan. Nanin dinikahkan paksa oleh bapaknya dengan salah satu laki-laki ketua blater terpercaya di desanya. Usia Nanin yang masih kelas dua Madrasah Tsaniwiyah, sudah dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga. Suaminya yang tidak seusia dengannya membuatnya tersiksa. Selain Nanin tidak cinta, dia pun kerap disiksa. Hingga akhirnya perpisahan dengan suami yang tidak dia cintai itu tercapai pada usia ke lima bulan pernikahannya.
Karena Nanin meminta cerai kepada suaminya, ayahnya langsung memberinya imbalan untuk tidak pernah kembali ke pondok. Nanin harus bekerja. Di usianya yang masih haus akan ilmu, membuat Nanin dilema. Nanin masih ingin banyak belajar ilmu agama. Meski dirinya sudah tak perawan, tapi semangatnya sebagai manusia pencari ilmu tetap perawan. Akhirnya, Nanin menemukan pekerjaan di salah satu Kantor Pos di Kecamatan Sumbersari. Dengan caranya bekerja, bapaknya pun berhenti memarahinya.
Suatu ketika, Nanin mendapat pamflet yang disebarkan oleh salah seorang wanita bercadar. Pamfelt itu berwarna hitam. Nanin mencoba membcanya dengan teliti. Singkatnya pamflet itu berisi tentang ajakan mengaji, belajar mendalami ilmu islam, sekaligus dapat menghasilkan uang. Pada saat itulah Nanin merasa apa yang ditawarkan dalam selembaran pamflet itu cocok dengan keinginan dan tuntutan ayahnya. Keingannya untuk mendalami ilmu agama, sekaligus tuntutan ayahnya agar ia menghasilkan uang. Nanin langsung mengundurkan diri dari tempat kerjanya—di Kantor Pos, demi berkonsentrasi di organisasi pengajian yang kini dia ikuti.
Hari ke hari Nanin tampak berubah. Penampilannya yang mulai tertutup. Pakaiannya serba hitam. Dari kerudung, rok, baju dan semacamnya yang bertengger di badannya berwarna hitam. Bukan hanya berubah dari cara berpakaian. Nanin juga berubah secara sikap. Nanin mengkafirkan kedua orangtuanya. Nanin begitu menjadi gadis yang kuat. Dalil-dalil yang Nanin sampaikan kepada orangtuanya yang tidak begitu paham soal agama, membuat bapak-ibunya hanya manggut-manggut nurut. Nanin pergi dari rumahnya. Dia tidak pernah kembali meski sekali, hingga lama sekali. Rumahnya tempat dia menjadi manusia, tiba-tiba menjadi neraka yang jika ia memasukinya akan terbakar putih kulitnya.
Refa dan Harun duduk di pinggir jalan. Ada satu masjid yang sepi pengunjung. Tatapan mata Refa tak berkedip ke arah bangunan yang berkubah atasnya. Baru kemudian datang seorang perempuan yang seluruh badannya tertutup dengan kain hitam. Perempuan yang sebenarnya sangat dikenalnya. Nanin. Refa berseru dalam hatinya; Maha Suci Allah. Dia tidak menyangka, bahwa Nanin telah menjadi seorang wanita yang luar biasa. Wanita yang menjaga auratnya dari pandangan pria. Dengan berani Refa mendekatinya dan menyapa.
“Assalamualaikum ....” Sapa Refa sopan.
“Waalaikum salam akhi ....” Balasnya ke-Arab-an. Kemudian disambung dengan wajah semringahnya, “Hei, kamu Refa ‘kan? Apa kabar? Lama kita tidak bertemu.”
“Alhamdulillah sehat zahiron wa batinan ukhti,” Refa mencoba mengkolaborasikan bahasa Indonesia dan Arab yang amburadul, sehingga membuat perempuan yang berdiri di depannya tersenyum semakin semringah.
Setelah keduanya bercerita panjang lebar mengenai senggang waktu yang selama ini menyekat mereka berjumpa, saling tukar nomor hape masing-masing, kemudian mereka memutuskan untuk berpisah dari tempat itu. Refa bahagia bisa berjumpa dengan Nanin. Demikian pula dengan Nanin, yang seperti mendapat kiriman bunga berkuntum-kuntum bahagia dari Tuhan.
Semenjak pertemuan itulah, Nanin dan Refa semakin dekat. Bahkan Refa tidak kembali lagi ke rumah mamanya di Bantul. Refa memilih menetap bersama nenek dari ayahnya itu, di Jember. Berkali-kali mamanya memnghubungi lewat telepon, memaksa Refa untuk pulang. Bahkan, Suhartini, pernah menyuruh Harun untuk mengajak Refa kembali ke Jogja. Tapi usaha Suhartini nihil. Refa sudah bergabung dengan kelompok radikal bersama Nanin.
Malam datang. Sebuah malam yang akan menjadi bukti kecintaan Refa kepada Nanin. Nanin akan menagih setiap kata-kata Refa yang mengatakan, ‘mau melakukan apa saja untuknya.’
“Calon imamku yang baik. Jika sungguh dirimu mencintaiku. Mari lakukan apa yang diperintahkan guru, demi cinta kita,” suara Nanin mengalun syahdu di balik cadar hitamnya. Angin malam semilir. Menambah suasana semakin mesrah.
“Aku akan melakukannya demi kamu Jamila-ku. Tapi izinkanlah aku, sekali saja, mengecup keningmu dengan bismillah. Biar menjadi bukti, bahwa selama hidup di dunia ini,  aku adalah orang yang mencintaimu. Dan bibirku, adalah bibir yang pernah singgah di keningmu.”
“Lakukanlah imamku. Dan tunggulah aku di surga. Kita akan sahid di jalan kebenaran,” ucap Nanin kepada Refa.
Malam semakin pekik. Besok adalah hari peringatan Maulid Nabi. Bupati Jember mengajak para warga untuk menghadiri. Undangan sudah tersebar dua minggu sebelumnya. Dan Refa akan menghadiri acara itu. Refa akan hadir bukan untuk meramaikan, melainkan untuk mengacaukan acara peringatan Maulid Nabi tersebut. Pagi jam 08.45, bom bunuh diri terjadi di masjid Jami’ Jember. Seratus orang tewas. Seratus lima puluh, luka parah. Dan yang selamat tiga ratus lima belas orang. Mereka semua adalah para jamaah yang hadir mengikuti acara Peringatan Maulid Nabi.
Itulah bukti kecintaan Refa kepada Nanin, yang telah terbuktikan dengan kematian. Ia telah meremukkan dirinya dengan bahan peledak bernama bom. Refa sudah entah benar menunggu Nanin di surga, atau justru di neraka, hanya Yang Maha Kuasa yang bisa menjelaskannya. Sedang Nanin, apakah sungguh akan menemuinya di Surga, masih menjadi misteri paling rahasia yang dirahasiakan Tuhan semesta alam. Sekian!

Wardi, lahir di Sumenep Batang-batang 1996. Kini menempuh pendidikan di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Aktif menulis puisi dan cerpen. Antologi cerpennya di Bulan April 2016 “Keajaiban Cinta”.
Penulis dapat dihubungi melalui email: lielawardhy@gmail.com Tlp.: 082302555498

Jumat, 10 Juni 2016

Demokrasi Dalam Konfigurasi Politik




Oleh: Wardi
Mengenai istilah-istilah konfigurasi politik demokratis dan otoriter serta produk hukum yang berkarakter responsif/populistik dan ortodoks/konservatif/elistis ini perlu penjelasan teoritis lebih lanjut agar dapat dipahami secara proporsional. Hal ini penting karena dalam ilmu-ilmu sosial suatu istilah memiliki berbagai definisi dan konsep yang bervariasi. Istiliah demokrasi merupakan istilah ambiguous,1 pengertiannya tidak tunggal, sehingga berbagai negara yang mengklaim diri sebagai negara demokrasi telah menempuh rute-rute yang berbeda. Amerika yang liberal dan (bekas) negara Uni Soviet yang totaliter sama-sama mengklaim diri sebagai negara demokrasi.
Dengan demikian menunjukkan tidak ada suatu negara yang betul-betul (sepenuhnya) demokratis, dan tidak ada negara yang betul-betul (sepenuhnya) otoriter.2 Dalam demokrasi liberal dan konstitusional ditandai oleh adanya pembatasan-pembatasan terhadap tindakan pemerintah untuk memberikan perlindungan bagi individu dan kelompok-kelompok dengan menyusun pergantian pimpinan secara berskala, tertib, dan damai melalui alat-alat perwakilan rakyat yang bekerja efektif. Demokrasi juga memberi toleransi terhadap sikap yang berlawanan, menurut keluwesan, dan kesedihan untuk bereksperimen.
Perjalanan Demokrasi Indonesia
            Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah menjadi gong penutup bagi kehidupan demokrasi liberal yang menganut sistem demokrasi parlementer. Sejak dikeluarkan dekrit itu, dimulailah langgam otoritarian dalam kehidupan politik Indonesia di bawah bendera demokrasi terpimpin. Demokrasi terpimpin akan mengolah proses pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat dan berdasarkan semangat gotong royong. Implikasi ini dijabarkan dalam amanat presiden tangga 17 Agustus 1959 yang diberi nama Manifesto Politik (Manipol) yang riciannya secara sistemis dikenal dengan akronim USDEK. USDEK merupakan singkatan dari UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia.3
Pada tanggal 17 Agustus 1950  Negara Republik Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dengan UUDS 1950 sebagai konstitusi tertulisnya.  Perubahan ini didahului dengan penandatanganan Piagam Persetujuan antara Republik Indonesia Serikat dengan Republik Indonesia pada tanggal 19 Mei 1950 yang kemudian diberi dasar hukum dengan dikeluarkannya UU Federal No. 7 Tahun 1950. Dengan berlakunya UUDS 1950, maka secara konstitusional Indonesia menganut sistem demokrasi parlementer penuh, baik dalam arti pemberian dasar dalam konstitusi maupun praktik ketatanegaraannya.
Secara konstitusional penganutan atas sistem parlementer dicantumkan dalam pasal 83 yang menyantakan bahwa presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu-gugat dalam penyelenggaraan pemerintahan, tetapi yang harus bertangung jawab adalah menteri-menteri, baik secara bersama-sama untuk seluruhnya maupun masing-masing untuk bagian-bagiannya sendiri. Secara praktis konfigurasi liberal demokrasi ini ditandai oleh dominannya parlemen dalam spektrum politik, sehingga selama kurun waktu berlakunya UUDS 1950 yang terjadi adalah instabilitas pemerintahan karena pemerintah sering kali dijatuhkan oleh parlemen melalui mosi. Kehidupan kepartaian pada periode ini tetap didasarkan pada Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 yang menganut sistem banyak partai yang kemudian tercermin dari kekuatan-kekuatan yang ada di dalam parlemen (DPR). Demikian dikenal dengan era Demokrasi Liberal.
Selanjutnya konfigurasi politik pada era Demokrasi Terpimpin. Pada era ini ditandai oleh tarik tambang antara tiga kekuatan politik utama, yaitu Soekarno, Angkatan Darat, dan PKI yang di antara ketiganya sekaligus saling memanfaatkan. Soekarno memerlukan PKI untuk menghadapi kekuatan Angkatan Darat yang gigih menyainginya, PKI memerlukan Soekarno untuk mendapatkan perlindungan dari presiden dalam melawan Angkatan Darat, sedangkan Angkatan Darat membutuhkan Soekarno untuk mendapatkan legitimasi bagi keterlibatannya dalam politik.4 Tapi dari tarik tambang itu posisi Soekarno nampak menjelmakan dirinya seperti pemimpin yang otoriter.
Pada era demokrasi terpimpin dapat memberikan kualifikasi konfigurasi yang otoriter, sentralistik, dan di tangan Presiden Soekarno. Jika dilihat dari kreteria bekerjanya pilar-pilar demokrasi, maka akan tampak jelas bahwa kehidupan kepartaian dan legislatif adalah lemah, sebaliknya presiden sebagai kepala eksekutif sangat kuat, dan kebebasan pers dapat dikatakan tidak ada. Jauh sebelum demokrasi terpimpin itu diberi jalan konstitusional melalui Dekrit 5 Juli 1959. Soekarno sudah menyatakan obsesinya secara terang-terangan untuk menguburkan partai-partai politik yang dianggapnya menjadi penyakit bagi bangsa Indonesia.5

Pada era ini pula kebebasan pers berada pada kondisi yangs angat buruk. Edward C. Smith, mencatat sebanyak 480 tindakan antipers sejak tahun 1957 (ketika Soekarno mulai terang-terangan melontarkan gagasan demokrasi terpimpin) sampai tahun 1965. Tindakan anti pers itu mencakup tiga puluh kasus penahanan, tiga puluh kasus pemnjarahan, dan seratus delapan puluh empat kasus pemberedelan.
Selanjutnya masa Demokrasi Orde Baru atau demokrasi Pancasila. G30S/PKI tahun 1965 merupakan kudeta yang gagal menyebabkan merosotnya Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya secara tajam. Krisis politik yang terjadi menyusul G30S/PKI membawa Soekarno untuk mengeluarkan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) pada tahun 1966 yang berisi perlimpahan kekuasaan kepada Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk menjamin keamanan dan stabilitas pemerintahan serta keselamatan pribadi presiden. Supersemar inilah yang memberi jalan lapang bagi tampilnya militer, terutama Angkatan Darat, sebagai pemeran utama dalam politik di Indonesia pada masa pasca G30S/PKI. Pemerintah Soeharto yang tampil menggantikan Soekarno sejak tahun  1967, menamakan pemerintahannya sebagai pemerintahan Orde Baru.
Pemerintah Orde Baru bertekad untuk mengoreksi penyimpangan politik yang terjadi pada era Orde Lama dengan memulihkan tertib politik berdasarkan Pancasila sekaligus meletakkan program rehabilitasi dan konsolidasi ekonomi. Pada awal eksistensinya jelas sekali bahwa Orde Baru memberi bobot lebih besar terhadap perkembangan ekonomi dalam kerangka pembangunan nasionalnya. Penegasan bahwa stabilitas politik menjadi prasyarat bagi pembangunan ekonomi secara tidak langsung dapat merimplikasi pada pengurangan pluralisme kehidupan politik atau pembatasan pada sistem politik yang demokratis.
Dalam perjalanan sejarah Orde Baru yang penting juga untuk dicatat bahwa pada awalnya diterapkan langgam yang agak libertarian, sehingga relatif masih ada kebebasan bagi parpol maupun media massa untuk melancarkan kritik dan pengungkapan realita di dalam masyarakat. Tapi ternyata langgam liberal itu hanya berlangsung sampai tahun 1969/1971, yakni sampai ditemukan lagi format baru politik Indonesia yang dikristalisasikan dalam UU No. 15 dan No. 16 Tahun 1969 (masing-masing) tentang Pemilu dan Susduk MPR/DPR/DPRD. Ini berarti gagasan demokrasi liberal mendapat momentum singkat pada era Orde Baru, karena ia ditimpang oleh slogan antidemokrasi terpimpin, anntikomunis, dan anti-Soekarnois.

Setelah format baru politik Indonesia dikristalisasikan melalui UU No. 15 Tahun 1969 yang memberi landasan bagi pemerintah untuk mengangkat 1/3 anggota MPR dan lebih dari 1/5 anggota DPR, langgam sistem politik mulai bergeser lagi ke arah otoritarian. Gagasan demokrasi liberal dicap sebagai gagasan yang bertentangan dengan demokrasi Pancasila dan karenanya harus ditolak. Hasil pemilu 1971 yang memberikan 62,8 kursi DPR kepada Golkar semakin memberi jalan bagi tampilnya eksekutif yang kuat. Betapapun Orde Baru dicirikan sebagai sistem yang nondemokratis, jika dipandang dari perspektif demokrasi politik dan bukan dari perspektif demokrasi sosial dan ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakatnya.
Di bidang politik, dominasi Presiden Soeharto telah membuat presiden menjadi penguasa mutlak karena tidak ada satu institusi yang dapat menjadi pengawas presiden dan mencegahnya melakukan penyelewengan kekuasaan. Menjelang berakhirnya Orde Baru, elit politik semakin tidak peduli dengan aspirasi rakyat dan semakin banyak membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan para kroni dan merugikan negara dan rakyat banyak. Namun dalam kepempimpinan Presiden Soeharto, pada pertengahan dasawarsa 1980-an pernah menjadikan Indonesia sebagai swasembada beras. Namun kemewahan pembangunan ekonomi pada masa itu membuat peluang untuk melakukan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Praktek KKN yang dilakukan oleh para anggota keluarga dan kroni para penguasa, baik di pusat maupun di daerah.6
Pelaksanaan demokrasi di era Reformasi (1998–sekarang). Berakhirnya masa Orde Baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998. Demokrasi yang dikembangkan pada masa Reformasi pada dasarnya adalah demokrasi dengan mendasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, dengan penyempurnaan pelaksanaannya dan perbaikan peraturan-peraturan yang tidak demokratis, dengan meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan kekuasaan dan tata hubungan yang jelas antara lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pelaksanaan demokrasi Pancasila pada masa Orde Reformasi dilandasi semangat Reformasi, di mana paham demokrasi berdasar atas kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dilaksanakan dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang adil dan beradab, selalu memelihara persatuan Indonesia dan untuk mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Pelaksanaan demokasi Pancasila pada masa Reformasi telah banyak memberi ruang gerak kepada parpol dan komponen bangsa lainnya termasuk lembaga permusyawaratan rakyat dan perwakilan rakyat mengawasi dan mengontrol pemerintah secara kritis sehingga dua kepala negara tidak dapat melaksanakan tugasnya sampai akhir masa jabatannya selama 5 tahun karena dianggap menyimpang dari garis Reformasi. Ciri-ciri umum demokrasi Pancasila Pada Masa Orde Reformasi: (1) Mengutamakan musyawarah mufakat; (2) Mengutamakan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara; (3) Tidak memaksakan kehendak pada orang lain; (4) Selalu diliputi oleh semangat kekeluargaan; (5) Adanya rasa tanggung jawab dalam melaksanakan keputusan hasil musyawarah; (6) Dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati yang luhur; (7) Keputusan dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Sebagaimana demokrasi di era Reformasi sekarang ini, kedudukan MPR tidak lagi lembaga tertinggi negara (sebagaimana pada era Orde Baru) melainkan lembaga negara yang kedudukannya sama dengan Presiden, MA, dan BPK. Dengan berarti kedaulatan rakyat tidak lagi di tangan MPR melainkan menurut UUD.
UU politik yang meliputi UU Partai Politik, UU Pemilu, dan UU Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPRD yang baru disahkan pada awal 1999. UU Politik ini jauh lebih demokratis dibandigkan dengan UU Politik sebelumnya sehingga Pemilu 1999 menjadi pemilu yang demokratis yang diakui oleh dunia internasional. Penghapusan dwifungsi ABRI, sehingga fungsi sosial-politik ABRI, yang sekarang menjadi Tentara Nasional Indonesia, dihilangkan. Dalam artian TNI hanya memiliki fungsi pertahanan saja.
Namun pada zaman Reformasi ini pelaksanaan demokrasi mengalami suatu pergeseran yang mencolok walaupun sistem demokrasi yang dipakai, yaitu Demokrasi Pancasila, seperti yang disebutkan di atas, tetapi sangatlah mencolok dominasi sistem liberal, contohnya aksi demonstrasi yang besar-besaran di seluru lapisan masyarakat. Memang pada zaman Reformasi peranan presiden tidak mutlak dan lahirnya sistem multi partai sehingga peranan partai cukup besar, akan tetapi dalam melaksanakan pemungutan suara juga pernah menggunakan voting berarti peranan demokrasi Pancasila belumlah terealisasi. Dengan melihat hal tersebut di atas maka kesimpulan daripada pelaksanaan demokrasi di Indonesia belum mencapai titik yang pasti dan masih belajar untuk memulai Demokrasi Pancasila yang sudah dilakukan selama 40 tahun sampai sekarang masih belum bisa dilaksanakan secara baik dan benar.

Kehidupan Politik Era Reformasi
            Sistem pemerintahan pada hakekatnya merupakan relasi antara kekuasaan eksekutif dan kekuasaan legislatif. Dari relasi kekuasaan itu dikenal dengan sistem pemerintahan presidensial dan pemerintahan parlementer. Dari bentuk sistem pemerintahan presidensial dan parlementer, menimbulkan debat di kalangan ilmuwan politik yang mempertentangkan antara bentuk pemerintahan presidensial versus pemerintahan parlementer dapat ditemukan dalam banyak literatur. Kedua sistem pemerintahan ini pun dapat diukur dari stabilitas dan efektifitasnya, yakni stabilitas pemerintahan parlementer diukur dari apakah ada perubahan komposisi partai politik di kabinet dan juga Perdana Menteri tidak berhenti secara paksa. Stabilitas pemerintahan presidensial diukur dari kelangsungan presiden, sekalipun kabinet mengalami perubahan.
            Akhir sebuah pemerintahan adalah bila terjadi pemilihan, atau masuk atau keluarnya sebuah partai dari kabinet, serta intervensi meliter. Sedangkan efektifitas sistem parlementer lebih murah diukur dari pada sistem presidensial. Dalam sistem parlementer, selama mayoritas parlemen tetap dikuasai kabinet, maka pemerintahan tersebut dapat dikaakan stabil. Ditinjau dari ukuran ini maka Amerika Serikat tidak tergolong ke dalam pemerintahan yang efektif. Karena Kongres dikuasai partai lawan dalam jangka waktu lama.
            Lalu bagaimana dengan sistem presidensial di Indonesia? Reformasi terhadap lembaga kepresidenan itu membawa implikasi politik kenegaraan pada bentuk pertanggungjawaban presiden. Di masa lalu, presiden bertanggungjawab kepada MPR, karena MPR-lah yang memiliki kewenangan untuk memilih dan mengangkat Presiden. Dengan dilembagakannya sistem pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat, Presiden tidak bertanggungjawab  kepada MPR. Menurut Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) dalam kajiannya menjelaskan ada dua alasan yang mendasari pemikiran, bahwa sistem pertanggungjawaban eksekutif tidak berlaku dalam sistem pemerintahan presidensial, yakni: (1) Bertolak dari prinsip sistem pemerintahan presidensial untuk membentuk pemerintahan yang stabil dalam periode waktu yang tertentu (fixed term of office), lembaga-lembaga kekuasaan negara tidak memiliki wewenang untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Oleh sebab itu, pertanggungjawaban politik dari satu lembaga negara kepada lembaga negara yang lain tidak relevan untuk dilembagakan; (2) Pemisahan kekuasaan yang tegas dalam sistem pemerintahan presidensial membawa implikasi pada tidak terjadinya peleburan antara eksekutif dan legislatif.
            Memang dalam sepanjang sejarah Negara Republik Indonesia telah terjadi perubahan-perubahan politik secara bergantian (berdasar periode sistem politik) antara konfigurasi politik yang demokratis dan konfigurasi politik yang otoriter. Sejalan dengan perubahan-perubahan konfigurasi politik itu, karakter produk hukum juga berubah. Pada saat konfigurasi politik tampil secara demokratis, maka produk-produk hukum yang dilahirkannya berkarakter responsif, sebaliknya ketika konfigurasi politik tampil secara otoriter, hukum-hukum yang dilahirkannya berkarakter ortodoks. Hubungan kausalitas tersebut berlaku untuk hukum-hukum publik yang berkaitan dengan gezagsverhouding dengan tingkat sentivitas yang berbeda-beda. Semakin kenal muatan hukum dengan masalah hubungan kekuasaan, semakin kuat pula pengaruh konfigurasi politik terhadap hukum tersebut.
            Dengan demikian demokratisasi bisa menjadi syarat untuk menetas hukum yang sebagaimana dijelaskan di atas. Sebab untuk mencetuskan hukum yang responsif maka syarat utama yang harus dipenuhi lebih dulu adalah demokrasi dalam kehidupan politik. Sebab demokrasi merupakan suatu bentuk pemerintahan yang ditata dan diorganisasikan berdasarkan prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (popular soveregnty), kesamaan politik (political equality), konsultasi atau dialog dengan rakyat (political consultation), dan berdasarkan pada aturan mayoritas (Ranny).9  Wallahu A’alam Bisshawab.

                                                                       
1.        Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Edisi Revisi (Jakarta: PT Gramedia, 2008), hlm. 105
2.        Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2014), hlm. 23
3.        Lihat dalam Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi, DPA, Jakarta, hlm. 97-152.
4.        Lihat juga dalam Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, hlm. 299
5.        Herbert Feith & Lance Castles (eds.), Pemikiran Politk Indonesia 1945-1965, (Jakarta: LP3ES, 1988), hlm. 63-64.
6.        Lihat juga Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Edisi Revisi (Jakarta: PT Gramedia, 2008), hlm. 133
7.        Mifttah Thaha hl. 99 dalam Efriza, Ilmu Politik, (Bandung: Penerbit Alfabeta), hlm. 110