Berawal dari pertemuan yang sederhana. Meskpum sederhana, bagiku itu memiliki makna yang kaya raya. Ada sebuah kepentingan di dalamnya. Yang menghadirkan benih rindu. Pertemuan itu merupakan acara pelatihan OSIS setimur daya. Aku yang tengah menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahku. Juga ikut hadir di dalamnya. Aku sungguh berangkat dengan kekosongan rasa, kegundahan jiwa dan kegersangan hati. Tanpa setitik cahaya aku memasuki ruangan itu. Terasa gelap,. Karena perasaan yang tak pernah ku lalui dalam suasana seperti itu. Namun seiring langkah yang menyisakan jejak. Kini aku menjumpai setitik cahaya, cahaya yang perlahan menerangiku hingga akhirnya membuat pandanganku terang dan cerah melihat suasana ruangan itu. Matanya. Matanya yang bercahaya telah menerangi kehidupanku dan suasana yang serba tertib itu. Mata itu adalah mata seorang gadis yang dulu pernah aku sukai. Kini kegundahanku pun telah tenang. Kekosongan itu jua kini teah terlengkapi oleh bahasa tubuhnya. Dan kegersangan hati jua telah telah terasa sejuk, sebab aku telah mampu mencicipi peluhnya yang mengembun di keningnya. Sunguh kini aku telah tergeluti oleh api asmara yang terus bergejolak. Aku menyukainya.
Tersentak diriku ketika mendengarnya. Sebuah kisah yang itu terlalu kejam apabila diriku yang harus menjadi penikmatnya. Cerita dari seorang sahabat, kini sungguh telah mengiris hati. “Aku suka padanya, aku pun telah menyatakan cinta padanya. Akan tetapi sejauh kini dia masih tak menjawabnya. Hanya membisu.” Sungguh jauh dari dugaan. Seutas perasaan yang sama aku miliki dengan sahabatku itu. Rendi. Sahabat dari kecil yang ternyata juga tengah kasmaran pada Iis. Seorang gadis yang aku sukai dari dulu sampai sekarang. Kini aku pun jua ingin mengenang nostalgia dan ingin kuwujudkan cinta yang tak sampai dulu itu. Aku terbengkalai. Aku harus melanjutkan misi cintaku. Apapun itu. Siapapun itu penghalangnya. Maafkan akku sahabat.
***
Cericit burung pada ranting-ranting pohon mangga. Perkampungan masih hijau. Ku coba nikmati bersama bayangnya yang masih menjadi penyejuk di hari-hariku. Drrrrrt…Drrrrt… Drrrrrrt. Hp-ku tiba-tiba bergetar. Sepertinya ada satu pesan masuk. “ ini no. nya Iis, +6287850063372.” Ternyata Hawari temanku yang juga dekat denganku. Telah mengirimkan akku sebuah nomor yaitu nomornya Iis. Terselip di ruang hati sebuah senyum yang harus aku tunjukkan. Pada pohon manga juga pada burung-burung yang sedari tadi telah setia menemaniku membayangkan wajah sang bidadari siangku. Tanpa berfikir lebih jauh aku pun langsub\ng menyimpan nomor itu. Kurajut hikayat yang berbentuk puing-puing hayalan. Dari kata yang berserakan hingga menjadi sebuah kalimat ’Selamat siang.’ Ya itulah pesan singkat yang ku kirim pada Iis. Sembari ku tunggu balasan dari Iis. Dengan sejuta harap dia akan membalas pesanku itu. Semakin keraslah gemuruh dalam dada ini. Meski kucoba redam. Tapi, se,ua itu hanya sia-sia. Detak jantungku masih tak sampai pada taraf biasanya. Hingga pada akhirnya saluran darahku tertutup karena getar Hp-ku. “ Siang juga, maaf ini siapa ya.?” Ya… itulah SMS yang telah singgah di layer Hp-ku. Yang tak lain adaah balasan dari Iis. Sungguh aku tak kuasa untuk mendapati diri. Rasanya nadiku teah berhenti berdetak sebab kedatangan pesan itu. Namun ternyata, kini aku harus memaksa otakku untuk kembali berputar. Jemariku telah menari-nari diatas tombol Hand phone ku. Aku dan Iis kini memulai untuk bercengkrama di dalam layar.
Nyamur yang suci. Bersahaja di pucuk daun. Hingga rasa yang msih bergejolak ini aku tusukkan pada keindahan pagi. Pada senyum. Suasana anyar yang menyulapku. Merubah mentari yang redup menjadi cerah. Seakan tiada bercak sisa dari embun. Telah lenyap seiring hadirnya mentari. Meski sejuknya yang suci dan luhur. Akan tetapi, rasa ini tak dapat aku pungkiri. Kini dirku tak lagi mencintainya. Seorang kekasih yang mencintaiku. Namun penuh kejujuran sejauh kini aku masih belum bisa mencintainya. Hanya saja aku dari dulu mencoba untuk bisa mencintainya. Akan tetapi aku masih tak bisa. Kehadiran Iis telah menjelma menjadi purnam di hati. Allah hu akbar Allah hu akbar… suara adzan telah berkumandang diantara speker-speker masjid. Hingga masyarakat perkampungan menjawabnya dengan penuh khidmat. Juga diriku. Menjawab panggilan Allah Swt. Kuluruskan niat di hati untuk segera menunaikan kewajiban. Sebab dzuhur telah mengajakku untuk bersholat. Kuambil sarung, baju taqwa beserta kopyah. Kutimbah air di sumur dengan penuh semangat. Meskipun matahari membakar sebagian tubuhku dengan teeriknya. Namun semua itu tak akan pernah melunakkan besi iman ku untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.
***
Senja dengan warna peraknya kini telah menyingsing di ufuk cakrawala. Burung kutilang jua mulai riuh bertebangan kesana kemari mencari tempat teraman untuk melepas penatnya. Agar sepanjang malam tidak ada yang mengganggunya. Begitu juga dengan diriku, yang masih tak usai memutar-mutar otak kananku. Agar aku dapat menemukan sebuah kalimat yang tepat yang akan aku ungkapkn pada Anis. Bahwa aku memang tak pernah mencintainya, dan kini diriku pun telah menemukan cinta sejati. Beribu-ribu bahasa yang ku semaikan dari halusinasi ke otak ku untuk mendapatkan sebuah kalimat yang damai dan tentram diantara aku dan Anis nanti. Kadang terlintas di alam sadarku tentang Anis. Itu pun yang menjadi penghambat cara berfikirku. Sebab sejauh kini, diriku masih belum pernah mengatakan kata ‘Putus’ sama pacarku. Ya, mungkin demi Iis. Kali ini aku harus berdusta. Sebab hanya dengan caraku seperti ini. Menyendiri. Aku akan mendapatkan Iis. Aku bisa bersama dengan Iis. Racun asmara yang telah Iis tusukkan dari pandangan matanya. Hanya dengan berdua dan bersama dengannya penawarnya. Karena kini aku benar-benar tak kuasa terhadap perasaa yang membelengui hati. Aku harus miliki dia.
Maafkan aku...
Yang tak bisa menunggu hatimu…
Lupakan saja...
Diriku untuk selama-lamnya…
Ku harus pergi…
Meninggalkanmu di dalam sepiku…
Maafkan aku…
“ kau benar-benar jahat. Tak punya hati..!” dengan nada serak dan gemetar, Anis mencercaku. Lalu tangisnya pun pecah.
“ bukan seperti itu. Aku hanya tak ingin kau nanti tak mendapat kebahagiaan dengan kebersamaan ini.” Aku mencoba meredamnya.
“ kini aku sudah bahagia denganmu. Mungkin kamnya itu yang telah bosan denganku. Dan tak pernah merasa bahagia dengan kehadiranku di kehidupanmu.” Nada suara Amis semakin meninggi. Seiring air matanya yang masih tetap mengalir di wajahnya. Hingga membuatku tak mempunyai alasan utuk membantahnya.
“ ya, udah aku salah. Tapi maaf, aku harus meninggalkanmu.” Ku tinggalkan wanita yang masih berderai air mata itu. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Anis. Aku penghianat. Aku pecundan, mata keranjang. Biarlah. Aku tak menghiraukannya. Kini hatiu hanya untuk orang yang aku cintai sesungguhnya. Iis.
***
Doaku menetas di sudut malam. Diatas sajadah yang lusuh ini aku menengadah. Mengutarakan seluruh maaf dan harapanku pada sang Ilahi Robbi. Karena aku sadar hanya pada-Nyalah aku dapat menemukan ketenanga hati. Hingga jam dinding yang runtuh di angka dua pagi. Aku masih tak dapat membuat sekala kasih pada dua bayanan perempuan itu. Terkadang aku merasa menyesal karena telah meninggalkan Anis. Akan tetapi di lain sisi aku merasakan ada ruang yang mesti ku lengkapi pada Iis. Sampai pagi buta ini lenyap, dan mentari pun telah mengusir embun di pucuk daun. Aku tidak dapat terlelap sama sekali. Munkin hari ini aku akan menemukan jawaban dari teka-teki hidupku. Hari inilah akan aku lunasi hutangku pada hati sebagai perjaka. Aku harus menyatakan cintaku pada Iis. Sekarang aku bukan milik siapa-siapa.
“ hey..?” sapakau pada Iis.
“ Assalamualaikum..” denga di iringi senyumnya yang manis. Aku merasa tersalahkan. Dan memang salah.
“ hehe.. iya ya. Waalaikum salam.” Rasanya sangat sungkan sekali mengucapka kalimat itu.
“ hemm.. ada apa Di ?”
“ heh.. boleh ngomong sebentar nggak?”
“ iya boleh…”
Ku awali pembicaraan dari yang mudah hingga pada persoalan yang runyam sekalipu. Akan tetapi Iis sama sekali tk menemukan sedikit kesulitan untuk memecahkannya. Memang sangat renyah percakapanku dengan Iis. “ Is, aku suka sama kamu” sunyi..seketika aku menyatakan kalimat yang mewakli perasaanku. Memang ini terasa sangat nyeleneh diantara ribuan kalimat yang sedari tadi telah ku semai bersama Iis. “ iyam aku suka sama kamu. Dan mungkin aku harus minta maaf sama kamu. Atas perasaan yang tak sewajarnya aku miliki ini. Karna jujur saja itu tulus dari lubuk hati yang paling dalam.” Sambungku.
“ maaf Di. Bukannya aku ingin menolakmu. Tapi aku udah punya tunangan. Dan sebentar lagi aku akan menikah. Dan sebenarnya aku juga sayag padamu. Tapi aku tidak bisa. Karena tunanganku adalah sepupuku. Dan itu juga pilihan orang tuaku, aku tak bisa menolak pilihan orang tuaku. Sekali lagi maaf.?” Betapa remuknya hatiku. Aku sungguh tak menyangka. Takdir memang tak sinah mimpi. Aku harus sadar siapa diriu. Maafkan hambaumu ini ya Allah.!
Senja telah menyusup. Mentari kembali pada perut bumi. Tenggelam bersama harapan semu ini. Tak akan ada lagi matahari yang indah pad pagiku. Semua telah sirnah. Kini malam telah merangkulku melangkah. Sungguh terasa sunyi dan sepi yang menghiasi malamku. Aku telah terbengkalai diantara cinta suci ini. Akankah ini yang kau rahasiakan wahai ya Rbb.? Hambamu ini memang penghianat. Kini rasa bersalahku pada Anis telah kembali hadir setelah semuanya imsak.
Cinta sejati adalah ketika kau melihat orang yang kamu cintai
Bersma orang lain. Dan kamu masaih mampu berkata sambil
Tersenyum ‘Aku turut bahagia karenamu’ itulah cinta sejati.
Memilih orang yang mencintai kita. Itu lebih baik. Daripada
Memilih orang orang yang kita cintai. Karena merubah pendirian
Diri sendiri itu lebih mudah dari pada merubah pendirian seseorang.
The end