Rabu, 29 Oktober 2014

LUKA BANGSA

Mengalir air mata di tepi negeri ini
lantaran sumpahnya ;pemuda tak berjiwa.
belum juga ada yang nyata,
walau katanya telah berakhir tariantarian diatas darah
dan berlari mengecup sisa bendera.

jika langkah tak cukup sekedar derap,
perjelaskan saja bagi mereka.
lihatlah kedarat
kelaut kepulau, nun jauh disana
lambaian tangan bangsa mengajak penguasa
berderita sama dengannya.

tumpah jiwa raga menjadi ombak
menjadi badai
terumbu karang Indonesia retak,
badai datang karam pemuda
perahunya hilang dalam air mata.
kamilah bangsa yang ingin merdeka.


Yogyakarta 28


Senin, 27 Oktober 2014

Untuk Ibu

Ibu. Maaf bila aku kembali menanam rukam lebih legam didadamu.
Serta melubangi bendungan air matamu yang baru.
sampai hatimu terluka, jiwamu merapuh dan anganmu sirna.

Ibu. Tengadah tanganku menadahi maaf mu agar mengaliri dosadosaku.
sebab telah berlumut dan sulit ku cuci dengan air mata.
dari air susu Ibu lah aku menjadi pecandu doadoa.

Duh ibu,
kemarilah masuk kebalik detak jantungku. bersemayam dalam keinginanku.
biar kau tahu dibalik semua kelukaanku terpahat nama Ibu yang akan ku bahagiakan paling dahulu.




Jogja 27 Mei 2014

Selasa, 14 Oktober 2014

Derap langkah


Bila sejenak ku renungkan,
Kita hanya makhluk dan jalang
malah diantaranya berlari
mendaki sesobek kertas
adalah potret masa depan?
ku biarkan ;tannya
doa terus membadai/i dada.

Bila sejenak ku renungkan,
Kita adalah embanan bangsa
Menyadang sekaligus membawanya sempurna,
lantaran kita yang terlahir dari pulau
dan tersusu oleh asin laut.
;jadilah manusia bermoral

Bila sejenak ku renungkan,
Kita hidup untuk bangsa.!!
Ku pecut biru laut nusantara
menumpah air sejahtera
harap tak lagi ada yang terjajah.

;ini harap ku.


Minggu, 12 Oktober 2014

Bagimu


Vie..
sedih adalah tentang kamu
yang tak terelakan dengan doa,
sekalipun darah berhenti di tubuh
pun gerilyawan terpenggal lehernya
itu aku dengan kekar menahan senyum nanar.

vie..
bahagia itu karena kamu,
pelepas rasa lahap meneguk kecewa.
jika telah datang tetes air keabadian kelopak mata.
Telanlah, agar tuhan tdak murka,
Kelak bahagia pasti milik kita.

vie..
Dan masih tentang malam,
saat pendar wajah rembulan hilang
datang di hatiku lilin purnamamu.
layaknya ruang tak berpintu
di dalamnya, kau berbisik memanjaku
mengajak mendaki tebing surgawi..
merebah penat bersama di pangkuan waktu.
Andai,


CATATAN AGUSTUS

vie,
:laut sekaligus dadamu menelan jantan dari ku
tertunduk di hadapan kasih pujangga.
Walau, kau maisih sekedar cerita
Dan hidup dari nafas yang berbeda.
tapi bukan dengan birunya hati.

vie,
tak cukup sekedar rindu saja. Agustus ini adalah cakar mu yg telah mencabik keutuhan rasa. pun kau masih beku begitu saja, mengeja gejolak ini.
;kapan?

vie,
sekali lagi ini sudah Agustus yang kau ikhlaskan,
tentang laut akan mengaram perahu-perahu kesedihan di hati ku.
Kemudian sesekali membuat kita terberai,
karena ini bukan yang ingin aku kenal.
Cinta adalah sebidang sejarah tak ter-asa tanpa rasa Vie.


Bermimpilah sebelum mimpi menutup hatinya.

PERTEMUAN

Selepas percumbuan mataku dan matamu
Menetas rindu bertalu-talu.
Itu lah tanda, betapa detak jantung yang kau setubuhi diam-diam,
perlahan aku merasa jua
;belaian indah hati mu.
lalu aku berbisik pada sunyi,
bahawa telah terbang di kebiruan langit wajah mu.
Hanya sekedar itu saja.

#Batang-batang 17


BULAN SEBELAS HUJAN DERAS

Saat sembilu cahaya mentari menyayat hati
Hingga luka bernana kerinduan pada setiap tetesnya
Mengalir pada imaji-imaji kepalsuan.
Sore itu aku masih ingin bertandang pada pelukan-pelukan awan. Untuk sekedar melepas penat di wajah musim. Haus akan hujan yang lama tidak turun pada bumi yang gersang ini. Lelaki dengan tubuh yang kekar masih saja terlihat menimba air di sumur yang hanya tersisa sedikit air di dalamnya. Memang begitu ngilu batin ini terasa, ketika merasakan kemarau yang begitu panjang melanda masyarakat di Desa Tamidung dan sekitarnya ini. Hingga kini masih tak usai perjamuan kami dengan kemarau, sampai terasa banyak keluhan masyarakat terhadap matinya sumber-sumber air di desa Tamidung. Hingga terasa betapa pekik kerinduan ini terhadap air hujan.
“Man, tolong ambilin Emak air ya?” pinta Emak padaku yang sedih memikirkan masyarakat sekitar yang sangat kekurangan air.
“Iya Mak, tapi kemana Parman harus mencari air sedangkan sumur-sumur di desa kami sudah banyak yang mati sumbernya.” Jawabku pada Emak.
“Iya emak sangat butuh Man, Emak mau sholat mau ngambil wudhu’..” Dengan wajah memelas dan wajah yang tampak sedikit kecewa terlihat jelas di wajah Emak.
“Iya mak, tenang saja Parman pasti akan usahakan untuk mencari air buat Emak.” Aku berusaha menghapus kekecewaan di wajah emak.
“Iya sudah sana kamu berangkat.” Perintah pun telah dikumandangkan si Emak, orang yang aku segani dan aku hargai keberadaan dan ketiadaannya itu.
“Iya mak..” Aku menjawab dengan singkat pada Emak. Aku berangkat dengan membawa ember kecil sebagai alat untuk menimba air yang berada di dalam sumur dan gembreng sebagai wadah air saat di bawa mau apulang dari sumur kerumah nanti. Aku berjalan terus dan kuhampiri beberapa sumur di desaku ini. Tapi ternyata sudah habis tanpa sisa setengah liter pun di dalam sumur-sumur yang ku hampiri itu. Hingga aku berjalan skitar 5km, aku baru menemukan air yang tergenang di dalam sumur yang sudah tua . Yaitu sumur Manjalin yang jaraknya kurang lebi 5km dari tempatku di Kampung Mojung. Ku ambil air itu dengan penuh semangat demi orang tuaku. Lalu kubawa pulag dengan keringat yang membasahi tubuhku sepanjang perjalanan pulang dan berangkatku. Setibanya di rumah, ku jumpai emak telah siap menjemput aku yang tengah membawa air, dan aku persembahkan air yang kubawa dari sumur untuk Emak tersayang.

“Mak ini airnya.” Ku sapa terlebih dahulu Emakku yang terlihat tesenyum menyambut kedatanganku itu.
“Iya Man, kok lama banget. Memangnya kamu ngambil air dimana?.” Kata emak padaku sembai menyambut air yang ku bawa.
“Ohh.. Ini Parman tadi mengambil dari sumur manjalin di Kampung Mojung Mak.” Jawabku pada pertanyaan emak.
“Apa?? Jauh banget kamu mencari air kalau sampek ke Kampung Mojung.” Kata emak sedikit kagum terhadap usahaku mendapatkan air.
“Iya sudah mak, buat Parman itu tidak terlalu jauh kok.” Aku berkata sambil memulai duduk manisku di kursi bambu.

“Iya sudah, mending kamu istirahat saja dulu sana ya nak, pasti kamu capek kan..?” Emak menyuruhku untuk istirahat sejenak agar aku melepaskan penat yang menggeluti. Waktu berjalan sesuai aturan dan hari pun kini telah semakin siang. Ku mencari tempat yang aman dan sejuk untuk istirahat di bawah pohon mangga yang daunnya sudah mulai runtuh satu persatu, sebab akarnya sudah lama tak menyerap air.
Hujan kau hadir begitu indah di dalam mataku. Aku yang sangat bernafsu pada tetesmu yang telanjang tanpa warnah itu. Hingga istisqa kamidirikan di sepanjang hutan yang terlihat layu dan tanah yang gersang kerontang menjadi tempat permintaan kami pada Allah untuk supaya menurunkan air hujan dri istisqa yang kami dirikan itu. Memang pada musim ini kemarau begitu panjang melanda Desa Tamidung dan sekitarnya. Hingga kami tak tahu harus bagaimana lagi untuk menahan terik panas matahari yang semakin hari terasa memebakar ubun-ubun. Mungkinkah ini adalah sebuah gambaran akan panasnya api neraka yang disediakan untuk manusia-manusia berdosa. Tak jauh dari tempat peristirahatanku, ku dapati seorang laki-laki tua berjalan di atas bumi yang merekah kerontang sebab cahaya matahari terlalu panas. Dengan keringat yang bercucuran di setiap langkahnya, betapa aku merasa iba padanya sebab sulit kudapati seorang laki-laki se usianya masih terlihat bernafsu untuk mencari air, demi memeberikan sebuah kesegaran pada setiap tenggorokan keluarganya.
“Pak Amir dimana mendapatkan air.?” Ku mencoba menyapanya hingga harus menambah lelah dan letih pada setiap gerak bibirnya.
“Ooh, ini saya dapatkan dari Sumur Cangkreng nak, kalau nak Parmana ingin menambil air juga. Cepetan nanti kalau telat bisa-bisa harus menunggu dulu.” Jawabnya begitu tegas atas setiap jawabanku yang tidak sesuai dngan perasaan ketidak sanggupannya membawa air. Itulah rahasia yang kudapati dari raut laki-laki tua itu.
“iya pak Amir tenang saja saya akan segera berangkat. Dan makasih pula sebelumnya..?” Jawabku lemah lembut pada pak Amir. Kulihat dia melangkah dari hadapanku dengan gembreng yang tersandang di pundaknya berayun-ayun mengikuti gerak tubuh Pak Amir. Semakin lama semakin jauh terlihat hingga kemudian menghilang dari kekuatan pandangan mataku. Lalu ku ambil gembreng dan ember yang sudah ku buatkan tali pada tangkainya sebagai alat untuk membawa air. Ku langkahakan kaki di bawah panasnya cahaya mentari dan bumi yang terlihat kering dan kasar ku pijaki dengan penuh semangat untuk mendapatkan air, Sampai di Sumur Cangkreng.
Doaku-dan doa masyarakat sepertinya akan terkabulkan oleh yang Maha Kuasa. Ku lihat segumpal awan yang menghitam dari arah barat desaku. Bergerak ketimur dengan desiran angin yang mencipta senyum pada setiap bibir kerinduan masyarakat akan air hujan. Dan memang apa yang di tunggu-tunggu diriku dan masyarakat tentunya. Tepat dibulan sebelas hujan turun begitu deras. Hingga syukur jua ku panjatkan pada-Nya, ku selipakan di setiap tetes yang membuatku tersenyum dan lalu menangis sebab bahagia menyambut tetes air hujan ini. Dan kini masyarakat tidak akan jauh-jauh lagi untuk mencari air karena sebentar lagi air di sumur-sumur dekat rumahku akan segera terisi.
“Man kamu sekarang tidak usah bersusah payah lagi mencari air, karena sebentar lagi sumur ini airnya akan segera menggenang.” Kata Emak padaku dengan senyum yang yang tak pernah aku dapati indahnya saat musim kemarau kemarin. Sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sumur di sebelah rumahku.
“iya mak, pasti sekarang masyarakat bahagia sekali menyambut turunnya air hujan ini yang sangat deras.?” Kataku pada Emak sambil teririg senyum yang membingkai di wajahku.
“iya Man, kamu betul. Manusia itu sangat butuh terhadap air.” Kata emak padaku. Dengan nada penjelasan yang mengulas sedikit bagaimana pentingnya air. Dan itu memang sangat benar apa yang di katakan emak tadi padaku
“Ya sudah mak, Parman mau istirahat dulu ya? Sudah tidak sabar ingin merasakan AC alami dari kekayaan ala ini Mak.” Ungkapku pada Emak.
“Ya sana. Yang nyenyak tidurnya ya?” Kata Emak padaku sembari berlalu dari tempat di sampingku. Memang sangat menyenangkan dan sangat nyaman bagiku kalau tidur di saat hujan-hujan seperti ini. Hingga rasanya aku tak ingin lagi bangun untuk mencicipi sisa kemarau. Sebelum mata ku tertutup, aku mencoba merenungkan dan memikirkan tentang perkataan Emak tadi. Yaitu bagaimana pentingnya air bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Dan makhluk-makhluk yang berada di bumi ini juga butuh terhadap air, seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sehingga kekuasaan Allah wajib kita syukuri, seperti adanya udara, air dan cahaya matahari. Itu semu telah di padukan sebaik mungkin oleh-Nya untuk memenuhi keberlangsungan hidup makhluk hidup di atmosfer bumi ini. Dan juga manusia, sebagai mana yang pada hakikatnya sangat butuh terhadap oksigen untuk kita hirup sehari-hari demi keberlangsungan hidup. Karena pada sejatinya manusia itu mampu bertahan hidup berhari-hari dengan tidak makan dan tidak minum, akan tetapi kalau sudah tidak bernafas maka di situlah puncak akhir dari kehidupan kita sebagai manusia atau makhluk penghuni bumi. Oksigen itu sangat penting bagi organ pernafasan kita. maka karenanya kalau kita tidak dapat menghirup oksigen yang di hasilkan alam selama 3-4 menit saja.Sel-sel otak kita akan mati atau rusak, dan oksigen itu bisa di hasilkan oleh air, tumbuhan, bakteri dan cahaya matahari. Atau yang sering kita dengar dengan istilah fotosintesis. Dan kita harus tahu kalau oksigen yang di hasilkan oleh fotosintesis itu sangatlah penting dan itu terdapat pada atmosfir bumi. Begitula penjelasan guru biologiku semasa duduk di bangku sekolah. Hingga rasanya mata ini sudah tak sanggup lagi menahan rasa kantuk dan kini aku terlelap di tengah irama rintik air hujan.

NAMA: WARDI

ALAMAT: TAMIDUNG BATANG-BATANG SUMENEP

No, Hp: 081939009798            

Penulis alumni

Nasy’atul Muta’allimin Gapura Sumenep










EKSTRAKSI TENTANG KITA

Bermula dari kecupan senja dibibirmu
Yang lahirkan luka rindu ;membisu.
katamu akulah nafas jantung tubuh,
justru aku merapikan sisa janji
engkau hilang dan aku kembali sepi.

#tamidung


SKETSA TUBUHMU

Gelung rambutmu Himalaya
Dengan diam ku daki dengan hati
Walau ada sepi ada janji
terpatri kasih nan sejati
menikmati dari keindahan tak berduri.

Lalu wajah mu taman berbunga
Bibir mu memawar merah
Pun sejuk lebat alis 
rindang danau susu pipi mu.
demikian semai rindu bercandu
yang perlahan menyesatkan ku.

gemulai tubuh mu,
menyapa diam-diam dari lekik pinggul
Yang kau taburkan di altar mata
memintal denyut demi denyut doa
Dari rindu nan bersyahdu.
Aku tak akan berakhir,
Sesampai nya puisi melingkar di jemari imajinasi.
masih menikmati mu...


SEBUAH MIMPI YANG TABU

   Berawal dari pertemuan yang sederhana. Meskpum sederhana, bagiku itu memiliki makna yang kaya raya. Ada sebuah kepentingan di dalamnya. Yang menghadirkan benih rindu. Pertemuan itu merupakan acara pelatihan OSIS setimur daya. Aku yang tengah menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahku. Juga ikut hadir di dalamnya. Aku sungguh berangkat dengan kekosongan rasa, kegundahan jiwa dan kegersangan hati. Tanpa setitik cahaya aku memasuki ruangan itu. Terasa gelap,. Karena perasaan yang tak pernah ku lalui dalam suasana seperti itu. Namun seiring langkah yang menyisakan jejak. Kini aku menjumpai setitik cahaya, cahaya yang perlahan menerangiku hingga akhirnya membuat pandanganku terang dan cerah melihat suasana ruangan itu. Matanya. Matanya yang bercahaya telah menerangi kehidupanku dan suasana yang serba tertib itu. Mata itu adalah mata seorang gadis yang dulu pernah aku sukai. Kini kegundahanku pun telah tenang. Kekosongan itu jua kini teah terlengkapi oleh bahasa tubuhnya. Dan  kegersangan hati jua telah telah terasa sejuk, sebab aku telah mampu mencicipi peluhnya yang mengembun di keningnya. Sunguh kini aku telah tergeluti oleh api asmara yang terus bergejolak. Aku menyukainya.

            Tersentak diriku ketika mendengarnya. Sebuah kisah yang itu terlalu kejam apabila diriku yang harus menjadi penikmatnya. Cerita dari seorang sahabat, kini sungguh telah mengiris hati. “Aku suka padanya, aku pun telah menyatakan cinta padanya. Akan tetapi sejauh kini dia masih tak menjawabnya. Hanya membisu.” Sungguh jauh dari dugaan. Seutas perasaan yang sama aku miliki dengan sahabatku itu. Rendi. Sahabat dari kecil yang ternyata juga tengah kasmaran pada Iis. Seorang gadis yang aku sukai dari dulu sampai sekarang. Kini aku pun jua ingin mengenang nostalgia dan ingin kuwujudkan cinta yang tak sampai dulu itu. Aku terbengkalai. Aku harus melanjutkan misi cintaku. Apapun itu. Siapapun itu penghalangnya. Maafkan akku sahabat.

***

            Cericit burung pada ranting-ranting pohon mangga. Perkampungan masih hijau. Ku coba nikmati bersama bayangnya yang masih menjadi penyejuk di hari-hariku. Drrrrrt…Drrrrt… Drrrrrrt. Hp-ku tiba-tiba bergetar. Sepertinya ada satu pesan masuk. “ ini no. nya Iis, +6287850063372.”  Ternyata Hawari temanku yang juga dekat denganku. Telah mengirimkan akku sebuah nomor yaitu nomornya Iis. Terselip di ruang hati sebuah senyum yang harus aku tunjukkan. Pada pohon manga juga pada burung-burung yang sedari tadi telah setia menemaniku membayangkan wajah sang bidadari siangku. Tanpa berfikir lebih jauh aku pun langsub\ng menyimpan nomor itu. Kurajut hikayat yang berbentuk puing-puing hayalan. Dari kata yang berserakan hingga menjadi sebuah kalimat ’Selamat siang.’ Ya itulah pesan singkat yang ku kirim pada Iis. Sembari ku tunggu balasan dari Iis. Dengan sejuta harap dia akan membalas pesanku itu. Semakin keraslah gemuruh dalam dada ini. Meski kucoba redam. Tapi, se,ua itu hanya sia-sia. Detak jantungku masih tak sampai pada taraf biasanya. Hingga pada akhirnya saluran darahku tertutup karena getar Hp-ku. “ Siang juga, maaf ini siapa ya.?” Ya… itulah SMS yang telah singgah di layer Hp-ku. Yang tak lain adaah balasan dari Iis. Sungguh aku tak kuasa untuk mendapati diri. Rasanya nadiku teah berhenti berdetak sebab kedatangan pesan itu. Namun ternyata, kini aku harus memaksa otakku untuk kembali berputar. Jemariku telah menari-nari diatas tombol Hand phone ku. Aku dan Iis kini memulai untuk bercengkrama di dalam layar.

            Nyamur yang suci. Bersahaja di pucuk daun. Hingga rasa yang msih bergejolak ini aku tusukkan pada keindahan pagi. Pada senyum. Suasana anyar yang menyulapku. Merubah mentari yang redup menjadi cerah. Seakan tiada bercak sisa dari embun. Telah lenyap seiring hadirnya mentari. Meski sejuknya yang suci dan luhur. Akan tetapi, rasa ini tak dapat aku pungkiri. Kini dirku tak lagi mencintainya. Seorang kekasih yang mencintaiku. Namun penuh kejujuran sejauh kini aku masih belum bisa mencintainya. Hanya saja aku dari dulu mencoba untuk bisa mencintainya. Akan tetapi aku masih tak bisa. Kehadiran Iis telah menjelma menjadi purnam di hati. Allah hu akbar Allah hu akbar… suara adzan telah berkumandang diantara speker-speker masjid. Hingga masyarakat perkampungan menjawabnya dengan penuh khidmat. Juga diriku. Menjawab panggilan Allah Swt. Kuluruskan niat  di hati untuk segera menunaikan kewajiban. Sebab dzuhur telah mengajakku untuk bersholat. Kuambil sarung, baju taqwa beserta kopyah. Kutimbah air di sumur dengan penuh semangat. Meskipun matahari membakar sebagian tubuhku dengan teeriknya. Namun semua itu tak akan pernah melunakkan besi iman ku untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.

***

          

            Senja dengan warna peraknya kini telah menyingsing di ufuk cakrawala. Burung kutilang jua mulai riuh bertebangan kesana kemari mencari tempat teraman untuk melepas penatnya. Agar sepanjang malam tidak ada yang mengganggunya. Begitu juga dengan diriku, yang masih tak usai memutar-mutar otak kananku. Agar aku dapat menemukan sebuah kalimat yang tepat yang akan aku ungkapkn pada Anis. Bahwa aku memang tak pernah mencintainya, dan kini diriku pun telah menemukan cinta sejati. Beribu-ribu bahasa yang ku semaikan dari halusinasi ke otak ku untuk mendapatkan sebuah kalimat yang damai dan tentram diantara aku dan Anis nanti. Kadang terlintas di alam sadarku tentang Anis. Itu pun yang menjadi penghambat cara berfikirku. Sebab sejauh kini, diriku masih belum pernah mengatakan kata ‘Putus’ sama pacarku. Ya, mungkin demi Iis. Kali ini aku harus berdusta. Sebab hanya dengan caraku seperti ini. Menyendiri. Aku akan mendapatkan Iis. Aku bisa bersama dengan Iis. Racun asmara yang telah Iis tusukkan dari pandangan matanya. Hanya dengan berdua dan bersama dengannya penawarnya. Karena kini aku benar-benar tak kuasa terhadap perasaa yang membelengui hati. Aku harus miliki dia.

                                    Maafkan aku...

                                    Yang tak bisa menunggu hatimu…

                                    Lupakan saja...

 Diriku untuk selama-lamnya…

Ku harus pergi…

Meninggalkanmu di dalam sepiku…

Maafkan aku…

            “ kau benar-benar jahat. Tak punya hati..!” dengan nada serak dan gemetar, Anis mencercaku. Lalu tangisnya pun pecah.

            “ bukan seperti itu. Aku hanya tak ingin kau nanti tak mendapat kebahagiaan dengan kebersamaan ini.” Aku mencoba meredamnya.

            “ kini aku sudah bahagia denganmu. Mungkin kamnya itu yang telah bosan denganku. Dan tak pernah merasa bahagia dengan kehadiranku di kehidupanmu.” Nada suara Amis semakin meninggi. Seiring air matanya yang masih tetap mengalir di wajahnya. Hingga membuatku tak mempunyai alasan utuk membantahnya.

            “ ya, udah aku salah. Tapi maaf, aku harus meninggalkanmu.” Ku tinggalkan wanita yang masih berderai air mata itu. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Anis. Aku penghianat. Aku pecundan, mata keranjang. Biarlah. Aku tak menghiraukannya. Kini hatiu hanya untuk orang yang aku cintai sesungguhnya. Iis.

***

            Doaku menetas di sudut malam. Diatas sajadah yang lusuh ini aku menengadah. Mengutarakan seluruh maaf dan harapanku pada sang Ilahi Robbi. Karena aku sadar hanya pada-Nyalah aku dapat  menemukan ketenanga hati. Hingga jam dinding yang runtuh di angka dua pagi. Aku masih tak dapat membuat sekala kasih pada dua bayanan perempuan itu. Terkadang aku merasa menyesal karena telah meninggalkan Anis. Akan tetapi di lain sisi aku merasakan ada ruang yang mesti ku lengkapi pada Iis. Sampai pagi buta ini lenyap, dan mentari pun telah mengusir embun di pucuk daun. Aku tidak dapat terlelap sama sekali. Munkin hari ini aku akan menemukan jawaban dari teka-teki hidupku. Hari inilah akan aku lunasi hutangku pada hati sebagai perjaka. Aku harus menyatakan cintaku pada Iis. Sekarang aku bukan milik siapa-siapa.

            “ hey..?” sapakau pada Iis.

            “ Assalamualaikum..” denga di iringi senyumnya yang manis. Aku merasa tersalahkan. Dan memang salah.

            “ hehe.. iya ya. Waalaikum salam.” Rasanya sangat sungkan sekali mengucapka kalimat itu.

            “ hemm.. ada apa Di ?”

            “ heh.. boleh ngomong sebentar nggak?”

            “ iya boleh…”

Ku awali pembicaraan dari yang mudah hingga pada persoalan yang runyam sekalipu. Akan tetapi Iis sama sekali tk menemukan sedikit kesulitan untuk memecahkannya. Memang sangat renyah percakapanku dengan Iis. “ Is, aku suka sama kamu” sunyi..seketika aku menyatakan kalimat yang mewakli perasaanku. Memang ini terasa sangat nyeleneh diantara ribuan kalimat yang sedari tadi telah ku semai bersama Iis. “ iyam aku suka sama kamu. Dan mungkin aku harus minta maaf sama kamu. Atas perasaan yang tak sewajarnya aku miliki ini. Karna jujur saja itu tulus dari lubuk hati yang paling dalam.” Sambungku.

“ maaf Di. Bukannya aku ingin menolakmu. Tapi aku udah punya tunangan. Dan sebentar lagi aku akan menikah. Dan sebenarnya aku juga sayag padamu. Tapi aku tidak bisa. Karena tunanganku adalah sepupuku. Dan itu juga pilihan orang tuaku, aku tak bisa menolak pilihan orang tuaku. Sekali lagi maaf.?” Betapa remuknya hatiku. Aku sungguh tak menyangka. Takdir memang tak sinah mimpi. Aku harus sadar siapa diriu. Maafkan hambaumu ini ya Allah.!



            Senja telah menyusup. Mentari kembali pada perut bumi. Tenggelam bersama harapan semu ini. Tak akan ada lagi matahari yang indah pad pagiku. Semua telah sirnah. Kini malam telah merangkulku melangkah. Sungguh terasa sunyi dan sepi yang menghiasi malamku. Aku telah terbengkalai diantara cinta suci ini. Akankah ini yang kau rahasiakan wahai ya Rbb.? Hambamu ini memang penghianat. Kini rasa bersalahku pada Anis telah kembali hadir setelah semuanya imsak.







                        Cinta sejati adalah ketika kau melihat orang yang kamu cintai

                        Bersma orang lain. Dan kamu masaih mampu berkata sambil

                        Tersenyum ‘Aku turut bahagia karenamu’ itulah cinta sejati.



                        Memilih orang yang mencintai kita. Itu lebih baik. Daripada

                        Memilih orang orang yang kita cintai. Karena merubah pendirian

                        Diri sendiri itu lebih mudah dari pada merubah pendirian seseorang.





                                                            The end

PEMBUNUH SEPIH

;sebuah rasa untukmu
Telah kau bakar mimpi
dalam mataku
Bau kemenyan ritual kerinduan malam
kau hunus senyum
setelah maghrib berlalu.

Sebelum aku terlahir
menjadi  kapalkapal yang akan karam
di lautmu,
Izinkanlah berdoa
sebiru langit untuk sang Purnama

Setelah kau berlalu. 
Kini malam beradu pilu,
tersebab pembantaian rindu
gelimpang disepanjang jalan
;aku bertanya tentang kata tanpa makna.
Sebiji canda ditelan malam
Segelintir rasa terdampar kelam

Aku harus kembali
berbenah
Sebelum tubuhku senja
petang lalu gelap
menyaksikan senyummu dari nafas yang berbeda.
                                                                #tamidung 08