Saat sembilu cahaya mentari menyayat hati
Hingga luka bernana kerinduan pada setiap tetesnya
Mengalir pada imaji-imaji kepalsuan.
Sore itu aku masih ingin bertandang
pada pelukan-pelukan awan. Untuk sekedar melepas penat di wajah musim. Haus
akan hujan yang lama tidak turun pada bumi yang gersang ini. Lelaki dengan
tubuh yang kekar masih saja terlihat menimba air di sumur yang hanya tersisa
sedikit air di dalamnya. Memang begitu ngilu batin ini terasa, ketika merasakan
kemarau yang begitu panjang melanda masyarakat di Desa Tamidung dan sekitarnya
ini. Hingga kini masih tak usai perjamuan kami dengan kemarau, sampai terasa
banyak keluhan masyarakat terhadap matinya sumber-sumber air di desa Tamidung.
Hingga terasa betapa pekik kerinduan ini terhadap air hujan.
“Man, tolong ambilin Emak air ya?”
pinta Emak padaku yang sedih memikirkan masyarakat sekitar yang sangat
kekurangan air.
“Iya Mak, tapi kemana Parman harus
mencari air sedangkan sumur-sumur di desa kami sudah banyak yang mati
sumbernya.” Jawabku pada Emak.
“Iya emak sangat butuh Man, Emak mau
sholat mau ngambil wudhu’..” Dengan wajah memelas dan wajah yang tampak sedikit
kecewa terlihat jelas di wajah Emak.
“Iya mak, tenang saja Parman pasti
akan usahakan untuk mencari air buat Emak.” Aku berusaha menghapus kekecewaan
di wajah emak.
“Iya sudah sana kamu berangkat.”
Perintah pun telah dikumandangkan si Emak, orang yang aku segani dan aku hargai
keberadaan dan ketiadaannya itu.
“Iya mak..” Aku menjawab dengan
singkat pada Emak. Aku berangkat dengan membawa ember kecil sebagai alat untuk
menimba air yang berada di dalam sumur dan gembreng sebagai wadah air saat di
bawa mau apulang dari sumur kerumah nanti. Aku berjalan terus dan kuhampiri
beberapa sumur di desaku ini. Tapi ternyata sudah habis tanpa sisa setengah
liter pun di dalam sumur-sumur yang ku hampiri itu. Hingga aku berjalan skitar
5km, aku baru menemukan air yang tergenang di dalam sumur yang sudah tua . Yaitu
sumur Manjalin yang jaraknya kurang lebi 5km dari tempatku di Kampung Mojung.
Ku ambil air itu dengan penuh semangat demi orang tuaku. Lalu kubawa pulag dengan
keringat yang membasahi tubuhku sepanjang perjalanan pulang dan berangkatku.
Setibanya di rumah, ku jumpai emak telah siap menjemput aku yang tengah membawa
air, dan aku persembahkan air yang kubawa dari sumur untuk Emak tersayang.
“Mak ini airnya.” Ku sapa terlebih
dahulu Emakku yang terlihat tesenyum menyambut kedatanganku itu.
“Iya Man, kok lama banget. Memangnya
kamu ngambil air dimana?.” Kata emak padaku sembai menyambut air yang ku bawa.
“Ohh.. Ini Parman tadi mengambil
dari sumur manjalin di Kampung Mojung Mak.” Jawabku pada pertanyaan emak.
“Apa?? Jauh banget kamu mencari air
kalau sampek ke Kampung Mojung.” Kata emak sedikit kagum terhadap usahaku
mendapatkan air.
“Iya sudah mak, buat Parman itu
tidak terlalu jauh kok.” Aku berkata sambil memulai duduk manisku di kursi bambu.
“Iya sudah, mending kamu istirahat saja dulu sana ya nak,
pasti kamu capek kan..?” Emak menyuruhku untuk istirahat sejenak agar aku
melepaskan penat yang menggeluti. Waktu berjalan sesuai aturan dan hari pun
kini telah semakin siang. Ku mencari tempat yang aman dan sejuk untuk istirahat
di bawah pohon mangga yang daunnya sudah mulai runtuh satu persatu, sebab
akarnya sudah lama tak menyerap air.
Hujan kau hadir begitu indah di dalam mataku. Aku yang sangat
bernafsu pada tetesmu yang telanjang tanpa warnah itu. Hingga istisqa
kamidirikan di sepanjang hutan yang terlihat layu dan tanah yang gersang kerontang
menjadi tempat permintaan kami pada Allah untuk supaya menurunkan air hujan dri
istisqa yang kami dirikan itu. Memang pada musim ini kemarau begitu
panjang melanda Desa Tamidung dan sekitarnya. Hingga kami tak tahu harus
bagaimana lagi untuk menahan terik panas matahari yang semakin hari terasa
memebakar ubun-ubun. Mungkinkah ini adalah sebuah gambaran akan panasnya api
neraka yang disediakan untuk manusia-manusia berdosa. Tak jauh dari tempat
peristirahatanku, ku dapati seorang laki-laki tua berjalan di atas bumi yang
merekah kerontang sebab cahaya matahari terlalu panas. Dengan keringat yang
bercucuran di setiap langkahnya, betapa aku merasa iba padanya sebab sulit
kudapati seorang laki-laki se usianya masih terlihat bernafsu untuk mencari air,
demi memeberikan sebuah kesegaran pada setiap tenggorokan keluarganya.
“Pak Amir dimana mendapatkan air.?” Ku mencoba menyapanya
hingga harus menambah lelah dan letih pada setiap gerak bibirnya.
“Ooh, ini saya dapatkan dari Sumur Cangkreng nak, kalau nak
Parmana ingin menambil air juga. Cepetan nanti kalau telat bisa-bisa harus
menunggu dulu.” Jawabnya begitu tegas atas setiap jawabanku yang tidak
sesuai dngan perasaan ketidak sanggupannya membawa air. Itulah rahasia yang
kudapati dari raut laki-laki tua itu.
“iya pak Amir tenang saja saya akan segera berangkat. Dan
makasih pula sebelumnya..?” Jawabku lemah lembut pada pak Amir. Kulihat dia
melangkah dari hadapanku dengan gembreng yang tersandang di pundaknya
berayun-ayun mengikuti gerak tubuh Pak Amir. Semakin lama semakin jauh terlihat
hingga kemudian menghilang dari kekuatan pandangan mataku. Lalu ku ambil
gembreng dan ember yang sudah ku buatkan tali pada tangkainya sebagai alat untuk
membawa air. Ku langkahakan kaki di bawah panasnya cahaya mentari dan bumi yang
terlihat kering dan kasar ku pijaki dengan penuh semangat untuk mendapatkan
air, Sampai di Sumur Cangkreng.
Doaku-dan doa masyarakat sepertinya akan terkabulkan oleh
yang Maha Kuasa. Ku lihat segumpal awan yang menghitam dari arah barat desaku.
Bergerak ketimur dengan desiran angin yang mencipta senyum pada setiap bibir
kerinduan masyarakat akan air hujan. Dan memang apa yang di tunggu-tunggu diriku
dan masyarakat tentunya. Tepat dibulan sebelas hujan turun begitu deras. Hingga
syukur jua ku panjatkan pada-Nya, ku selipakan di setiap tetes yang membuatku
tersenyum dan lalu menangis sebab bahagia menyambut tetes air hujan ini. Dan
kini masyarakat tidak akan jauh-jauh lagi untuk mencari air karena sebentar
lagi air di sumur-sumur dekat rumahku akan segera terisi.
“Man kamu sekarang tidak usah bersusah payah lagi mencari
air, karena sebentar lagi sumur ini airnya akan segera menggenang.” Kata Emak padaku
dengan senyum yang yang tak pernah aku dapati indahnya saat musim kemarau
kemarin. Sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sumur di sebelah rumahku.
“iya mak, pasti sekarang masyarakat bahagia sekali menyambut
turunnya air hujan ini yang sangat deras.?” Kataku pada Emak sambil teririg
senyum yang membingkai di wajahku.
“iya Man, kamu betul. Manusia itu sangat butuh terhadap air.”
Kata emak padaku. Dengan nada penjelasan yang mengulas sedikit bagaimana
pentingnya air. Dan itu memang sangat benar apa yang di katakan emak tadi
padaku
“Ya sudah mak, Parman mau istirahat dulu ya? Sudah tidak
sabar ingin merasakan AC alami dari kekayaan ala ini Mak.” Ungkapku pada Emak.
“Ya sana. Yang nyenyak tidurnya ya?” Kata Emak padaku sembari
berlalu dari tempat di sampingku. Memang sangat menyenangkan dan sangat nyaman
bagiku kalau tidur di saat hujan-hujan seperti ini. Hingga rasanya aku tak
ingin lagi bangun untuk mencicipi sisa kemarau. Sebelum mata ku tertutup, aku
mencoba merenungkan dan memikirkan tentang perkataan Emak tadi. Yaitu bagaimana
pentingnya air bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Dan makhluk-makhluk yang
berada di bumi ini juga butuh terhadap air, seperti manusia, hewan dan
tumbuhan. Sehingga kekuasaan Allah wajib kita syukuri, seperti adanya udara,
air dan cahaya matahari. Itu semu telah di padukan sebaik mungkin oleh-Nya
untuk memenuhi keberlangsungan hidup makhluk hidup di atmosfer bumi ini. Dan
juga manusia, sebagai mana yang pada hakikatnya sangat butuh terhadap oksigen
untuk kita hirup sehari-hari demi keberlangsungan hidup. Karena pada sejatinya manusia
itu mampu bertahan hidup berhari-hari dengan tidak makan dan tidak minum, akan
tetapi kalau sudah tidak bernafas maka di situlah puncak akhir dari kehidupan
kita sebagai manusia atau makhluk penghuni bumi. Oksigen itu sangat penting
bagi organ pernafasan kita. maka karenanya kalau kita tidak dapat menghirup
oksigen yang di hasilkan alam selama 3-4 menit saja.Sel-sel otak kita akan mati
atau rusak, dan oksigen itu bisa di hasilkan oleh air, tumbuhan, bakteri dan
cahaya matahari. Atau yang sering kita dengar dengan istilah fotosintesis. Dan
kita harus tahu kalau oksigen yang di hasilkan oleh fotosintesis itu sangatlah
penting dan itu terdapat pada atmosfir bumi. Begitula penjelasan guru biologiku
semasa duduk di bangku sekolah. Hingga rasanya mata ini sudah tak sanggup lagi
menahan rasa kantuk dan kini aku terlelap di tengah irama rintik air hujan.
NAMA: WARDI
ALAMAT: TAMIDUNG BATANG-BATANG SUMENEP
No, Hp: 081939009798
Penulis alumni
Nasy’atul Muta’allimin Gapura Sumenep

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.