Minggu, 12 Oktober 2014

BULAN SEBELAS HUJAN DERAS

Saat sembilu cahaya mentari menyayat hati
Hingga luka bernana kerinduan pada setiap tetesnya
Mengalir pada imaji-imaji kepalsuan.
Sore itu aku masih ingin bertandang pada pelukan-pelukan awan. Untuk sekedar melepas penat di wajah musim. Haus akan hujan yang lama tidak turun pada bumi yang gersang ini. Lelaki dengan tubuh yang kekar masih saja terlihat menimba air di sumur yang hanya tersisa sedikit air di dalamnya. Memang begitu ngilu batin ini terasa, ketika merasakan kemarau yang begitu panjang melanda masyarakat di Desa Tamidung dan sekitarnya ini. Hingga kini masih tak usai perjamuan kami dengan kemarau, sampai terasa banyak keluhan masyarakat terhadap matinya sumber-sumber air di desa Tamidung. Hingga terasa betapa pekik kerinduan ini terhadap air hujan.
“Man, tolong ambilin Emak air ya?” pinta Emak padaku yang sedih memikirkan masyarakat sekitar yang sangat kekurangan air.
“Iya Mak, tapi kemana Parman harus mencari air sedangkan sumur-sumur di desa kami sudah banyak yang mati sumbernya.” Jawabku pada Emak.
“Iya emak sangat butuh Man, Emak mau sholat mau ngambil wudhu’..” Dengan wajah memelas dan wajah yang tampak sedikit kecewa terlihat jelas di wajah Emak.
“Iya mak, tenang saja Parman pasti akan usahakan untuk mencari air buat Emak.” Aku berusaha menghapus kekecewaan di wajah emak.
“Iya sudah sana kamu berangkat.” Perintah pun telah dikumandangkan si Emak, orang yang aku segani dan aku hargai keberadaan dan ketiadaannya itu.
“Iya mak..” Aku menjawab dengan singkat pada Emak. Aku berangkat dengan membawa ember kecil sebagai alat untuk menimba air yang berada di dalam sumur dan gembreng sebagai wadah air saat di bawa mau apulang dari sumur kerumah nanti. Aku berjalan terus dan kuhampiri beberapa sumur di desaku ini. Tapi ternyata sudah habis tanpa sisa setengah liter pun di dalam sumur-sumur yang ku hampiri itu. Hingga aku berjalan skitar 5km, aku baru menemukan air yang tergenang di dalam sumur yang sudah tua . Yaitu sumur Manjalin yang jaraknya kurang lebi 5km dari tempatku di Kampung Mojung. Ku ambil air itu dengan penuh semangat demi orang tuaku. Lalu kubawa pulag dengan keringat yang membasahi tubuhku sepanjang perjalanan pulang dan berangkatku. Setibanya di rumah, ku jumpai emak telah siap menjemput aku yang tengah membawa air, dan aku persembahkan air yang kubawa dari sumur untuk Emak tersayang.

“Mak ini airnya.” Ku sapa terlebih dahulu Emakku yang terlihat tesenyum menyambut kedatanganku itu.
“Iya Man, kok lama banget. Memangnya kamu ngambil air dimana?.” Kata emak padaku sembai menyambut air yang ku bawa.
“Ohh.. Ini Parman tadi mengambil dari sumur manjalin di Kampung Mojung Mak.” Jawabku pada pertanyaan emak.
“Apa?? Jauh banget kamu mencari air kalau sampek ke Kampung Mojung.” Kata emak sedikit kagum terhadap usahaku mendapatkan air.
“Iya sudah mak, buat Parman itu tidak terlalu jauh kok.” Aku berkata sambil memulai duduk manisku di kursi bambu.

“Iya sudah, mending kamu istirahat saja dulu sana ya nak, pasti kamu capek kan..?” Emak menyuruhku untuk istirahat sejenak agar aku melepaskan penat yang menggeluti. Waktu berjalan sesuai aturan dan hari pun kini telah semakin siang. Ku mencari tempat yang aman dan sejuk untuk istirahat di bawah pohon mangga yang daunnya sudah mulai runtuh satu persatu, sebab akarnya sudah lama tak menyerap air.
Hujan kau hadir begitu indah di dalam mataku. Aku yang sangat bernafsu pada tetesmu yang telanjang tanpa warnah itu. Hingga istisqa kamidirikan di sepanjang hutan yang terlihat layu dan tanah yang gersang kerontang menjadi tempat permintaan kami pada Allah untuk supaya menurunkan air hujan dri istisqa yang kami dirikan itu. Memang pada musim ini kemarau begitu panjang melanda Desa Tamidung dan sekitarnya. Hingga kami tak tahu harus bagaimana lagi untuk menahan terik panas matahari yang semakin hari terasa memebakar ubun-ubun. Mungkinkah ini adalah sebuah gambaran akan panasnya api neraka yang disediakan untuk manusia-manusia berdosa. Tak jauh dari tempat peristirahatanku, ku dapati seorang laki-laki tua berjalan di atas bumi yang merekah kerontang sebab cahaya matahari terlalu panas. Dengan keringat yang bercucuran di setiap langkahnya, betapa aku merasa iba padanya sebab sulit kudapati seorang laki-laki se usianya masih terlihat bernafsu untuk mencari air, demi memeberikan sebuah kesegaran pada setiap tenggorokan keluarganya.
“Pak Amir dimana mendapatkan air.?” Ku mencoba menyapanya hingga harus menambah lelah dan letih pada setiap gerak bibirnya.
“Ooh, ini saya dapatkan dari Sumur Cangkreng nak, kalau nak Parmana ingin menambil air juga. Cepetan nanti kalau telat bisa-bisa harus menunggu dulu.” Jawabnya begitu tegas atas setiap jawabanku yang tidak sesuai dngan perasaan ketidak sanggupannya membawa air. Itulah rahasia yang kudapati dari raut laki-laki tua itu.
“iya pak Amir tenang saja saya akan segera berangkat. Dan makasih pula sebelumnya..?” Jawabku lemah lembut pada pak Amir. Kulihat dia melangkah dari hadapanku dengan gembreng yang tersandang di pundaknya berayun-ayun mengikuti gerak tubuh Pak Amir. Semakin lama semakin jauh terlihat hingga kemudian menghilang dari kekuatan pandangan mataku. Lalu ku ambil gembreng dan ember yang sudah ku buatkan tali pada tangkainya sebagai alat untuk membawa air. Ku langkahakan kaki di bawah panasnya cahaya mentari dan bumi yang terlihat kering dan kasar ku pijaki dengan penuh semangat untuk mendapatkan air, Sampai di Sumur Cangkreng.
Doaku-dan doa masyarakat sepertinya akan terkabulkan oleh yang Maha Kuasa. Ku lihat segumpal awan yang menghitam dari arah barat desaku. Bergerak ketimur dengan desiran angin yang mencipta senyum pada setiap bibir kerinduan masyarakat akan air hujan. Dan memang apa yang di tunggu-tunggu diriku dan masyarakat tentunya. Tepat dibulan sebelas hujan turun begitu deras. Hingga syukur jua ku panjatkan pada-Nya, ku selipakan di setiap tetes yang membuatku tersenyum dan lalu menangis sebab bahagia menyambut tetes air hujan ini. Dan kini masyarakat tidak akan jauh-jauh lagi untuk mencari air karena sebentar lagi air di sumur-sumur dekat rumahku akan segera terisi.
“Man kamu sekarang tidak usah bersusah payah lagi mencari air, karena sebentar lagi sumur ini airnya akan segera menggenang.” Kata Emak padaku dengan senyum yang yang tak pernah aku dapati indahnya saat musim kemarau kemarin. Sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sumur di sebelah rumahku.
“iya mak, pasti sekarang masyarakat bahagia sekali menyambut turunnya air hujan ini yang sangat deras.?” Kataku pada Emak sambil teririg senyum yang membingkai di wajahku.
“iya Man, kamu betul. Manusia itu sangat butuh terhadap air.” Kata emak padaku. Dengan nada penjelasan yang mengulas sedikit bagaimana pentingnya air. Dan itu memang sangat benar apa yang di katakan emak tadi padaku
“Ya sudah mak, Parman mau istirahat dulu ya? Sudah tidak sabar ingin merasakan AC alami dari kekayaan ala ini Mak.” Ungkapku pada Emak.
“Ya sana. Yang nyenyak tidurnya ya?” Kata Emak padaku sembari berlalu dari tempat di sampingku. Memang sangat menyenangkan dan sangat nyaman bagiku kalau tidur di saat hujan-hujan seperti ini. Hingga rasanya aku tak ingin lagi bangun untuk mencicipi sisa kemarau. Sebelum mata ku tertutup, aku mencoba merenungkan dan memikirkan tentang perkataan Emak tadi. Yaitu bagaimana pentingnya air bagi kehidupan makhluk hidup di bumi. Dan makhluk-makhluk yang berada di bumi ini juga butuh terhadap air, seperti manusia, hewan dan tumbuhan. Sehingga kekuasaan Allah wajib kita syukuri, seperti adanya udara, air dan cahaya matahari. Itu semu telah di padukan sebaik mungkin oleh-Nya untuk memenuhi keberlangsungan hidup makhluk hidup di atmosfer bumi ini. Dan juga manusia, sebagai mana yang pada hakikatnya sangat butuh terhadap oksigen untuk kita hirup sehari-hari demi keberlangsungan hidup. Karena pada sejatinya manusia itu mampu bertahan hidup berhari-hari dengan tidak makan dan tidak minum, akan tetapi kalau sudah tidak bernafas maka di situlah puncak akhir dari kehidupan kita sebagai manusia atau makhluk penghuni bumi. Oksigen itu sangat penting bagi organ pernafasan kita. maka karenanya kalau kita tidak dapat menghirup oksigen yang di hasilkan alam selama 3-4 menit saja.Sel-sel otak kita akan mati atau rusak, dan oksigen itu bisa di hasilkan oleh air, tumbuhan, bakteri dan cahaya matahari. Atau yang sering kita dengar dengan istilah fotosintesis. Dan kita harus tahu kalau oksigen yang di hasilkan oleh fotosintesis itu sangatlah penting dan itu terdapat pada atmosfir bumi. Begitula penjelasan guru biologiku semasa duduk di bangku sekolah. Hingga rasanya mata ini sudah tak sanggup lagi menahan rasa kantuk dan kini aku terlelap di tengah irama rintik air hujan.

NAMA: WARDI

ALAMAT: TAMIDUNG BATANG-BATANG SUMENEP

No, Hp: 081939009798            

Penulis alumni

Nasy’atul Muta’allimin Gapura Sumenep










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.