Ibu. Maaf bila aku kembali menanam rukam lebih legam didadamu.
Serta melubangi bendungan air matamu yang baru.
sampai hatimu terluka, jiwamu merapuh dan anganmu sirna.
Ibu. Tengadah tanganku menadahi maaf mu agar mengaliri dosadosaku.
sebab telah berlumut dan sulit ku cuci dengan air mata.
dari air susu Ibu lah aku menjadi pecandu doadoa.
Duh ibu,
kemarilah masuk kebalik detak jantungku. bersemayam dalam keinginanku.
biar kau tahu dibalik semua kelukaanku terpahat nama Ibu yang akan ku bahagiakan paling dahulu.
Jogja 27 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.