Selasa, 15 Desember 2015

BIN SABIN



Oleh: Wardi
            Saat usiaku masih sepuluh tahun, aku sering diajak bermain ke sawah oleh Emak. Tepatnya Emak memotong rumput di tabunan untuk makanan sapi-sapinya dan aku berlari-lari menangkap belalang kecil. Setiap pulang sekolah, setelah adzan ashar, itulah waktunya aku dan Emak bermain di sawah. Selain indah menunggu senja ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dari indahnya bermain di sawah. Aku sangat jarang bermain dengan kawan-kawan yang lain dari saking sudah terlenanya dengan kenyamanan sawah.
            Matahari siap tumbang di kaki barat. Menorehkan warna jingga yang belum sempurna. Ramai rombongan kepak sayap burung pipit berpindah dari pohon siwalan yang satu ke pohon siwalan yang lain. Emak sudah hampir selesai memotong rumput. Besok aku mau belajar juga mencari makanan sapi seperti yang Emak lakukan.
            Pulang dari sawah menuju rumah, menyusuri hutan rimba yang dinaungi pohon tiras dengan daunnya yang hijau-hijau. Tapi sore ini hijaunya tidak sempurna, lantaran pencahayaan matahari yang sudah siap tumbang di kaki cakrawala membuat suasana lebih suram. Tapi kalau pagi-pagi, suasana ini sangat menawan. Cahaya matahari menyiram lembut seluruh pepohonan yang ada, dendang siul burung menyulap rerimbunan menjadi istana kecil suasana desa.
            Adzam berkumandang dari masjid yang tak jauh dari rumah. Usia itu aku masih menjadi santri yang aktif mengaji. Menyetor bacaan Alqur’an yang Pak Husen ajarkan. Setelah selesai sholat isya’ berjamaah, biasanya aku dan teman-teman mendapat bimbingan pelajaran ilmu fiqih. Sebagai anak kampung aku tidak banyak berkeinginan. Cukuplah menjadi orang yang paham agama dan bisa merawat sapi. Itu cita-cita dasar.
            “Hodri” Papa menyapa. Dia adalah teman perempuanku. Ternyata dia memberiku kolak nangka buatan ibunya yang dititipkan untuk keluargaku. Kehidupan di rumah hanya sederhana. Rumah yang kecil terbuat dari bambu. Hanya ada tiga orang yang menjadi penghuninya. Aku, Bapak dan Emak. Meski sesederhanaan itu, aku dan keluarga mampu hidup bahagia. Sebagai anak seorang petani aku banyak bergaul dengan alam. Dengan sawah. Dengan hewan-hewan. Termasuk belajar membajak sawah.
            Bapak yang menjadi kulih pembajak sawah dengan bayaran dua puluh ribu setengah hari. Berangkat jam tujuh pagi pulang jam dua belas siang. Bapak membajak sawah menggunakan sapi betinanya. Bagi orang desa di desaku, sapi adalah emas yang tidak ternilai harganya. Sapi sangat berharga. Bahkan tidak jarang pertikaian terjadi hanya karena sapi.
            Sapi menjadi hewan yang multi fungsi. Bukan sekedar sebagai alat pembajak sawah. Di tempatku Madura, sapi bisa dijadikan penghasilan uang. Bukan seperti lazimnya sapi yang dijual karena diukur dari mahal harga dagingnya. Sapi betina yang terlatih sebagai sapi lotreng, ia akan akan menjadi sapi yang mahal. Karena ada lomba khusus untuk kompetisi sapi lotreng yang merebutkan hadiah puluhan juta.
            Untuk sapi jantan, ada karapan sapi. Sapi yang memiliki lari cukup cepat, harganya akan mahal juga. Karena untuk kompetisi karapan sapi sering digelar dengan memperebutkan hadiah puluhan juta rupiah. Sapi memiliki nilai tersendiri, bahkan sebagai nilai harga diri pemiliknya. Tiga bulan lalu saudara Bapak, Suahmad, mati di arena karapan. Ia mati bercarok karena merasa dicurangi saat pelepasan sapinya di garis start oleh Gani.
            Juga tidak jarang dari sekian banyak tetangga yang memiliki sapi, terjadi perselisihan sesama tetangga pula. Itu semua karena sapinya merasa dilecehkan. Termasuk soal pembahasan cara merawat sapi, kadang salahsatu pemilik akan sangat kecewa ketika tubuh sapinya tidak sesintal tubuh sapi sebelah. Dan soal-soal lain yang berhubungan dengan sapi.
            Setiap sepulang sekolah. Setelah sholat ashar, aku Ibu dan Bapak akan mengambil rumput buat makan sapi. Sudah lama aku belajar bagaimana memotong rumput dengan baik. Termasuk cara memberi makan sapi agar sapi lancar BAB. Karena untuk kelancaran pertumbuhan sapi, sehat atau tidak, bisa dilihat dari bagusnya kotoran yang keluar dari perut sapi.
            Dan untuk kelancaran semua itu bisa diatur dari caranya sang pemilik memberi makan. Seperti yang Emak ajarkan pada ku, kalau saat baru musim penghujan, biasanya rumput akan mengeluarkan pucuk-pucuk baru. Saat tanah pertama menerima air hujan, biasanya sawah akan tampak indah, karena pucuk rumput yang mulai tumbuh. Hijau-hijau. Maka jika sapi terlalu banyak memakan rumput yang masih muda biasanya ia akan sakit perut, kata Emak. Untuk itu pemilik sapi harus pandai-pandai. Biasanya peternak sapi akan menyimpan rumput kering di bagian angkor (bagian belakang kandang) sapinya.
            Selain menyimpan rumput atau jerami padi yang dikeringkan guna mengatasi mempermudah mencari rumput ketika kemarau datang, juga bisa menjadi salah satu antisipasi sapi sakit perut saat musim rumput muda. Ya, kalau musim kemarau, saat rumput di sawah-sawah banyak yang kering dan mati, maka pemilik sapi harus pintar-pintar mencarikan solusi untuk tetap menjaga makanan sapinya tidak berkurang dan sapi tetap gemuk.
            Maka biasanya kalau bapak akan mengeringkan rumput atau menggantinya dengan mencarikan daun pisang yang sengaja ditanam di sekitar pekarangan rumah. Ada juga yang memilih mengalirkan air ke sawahnya agar rumput tetap bisa bertahan hidup. Tapi biasanya itu hanya dilakukan oleh orang yang memiliki pompa dan sumber air sendiri. Dan tidak untuk keluargaku. Selain itu, ada juga yang memilih mencuri. Mereka seakan tidak bersalah mengambil rumput di sawah orang lain yang bukan miliknya demi kehidupan sapinya.
            Perbuatan-purbuatan seperti itu yang jika ketahuan banyak melahirkan konflik. Maka tak jarang watak keras kemaduraannya keluar. Hal-hal seperti itu yang Emak pesan kepadaku, agar aku tidak melakukan.
            “Kamu kalau sudah cakap mencari rumput, jangan sembarangan mengambil rumput di sawah orang. Jika kamu tidak ketahuan orangnya, bisa jadi kamu terkena Bin Sabin.”
            “Iya Mak. Hodri Insya Allah tidak akan melakukan hal-hal seperti itu.”
            Matahari pagi menyiram lembut Desa Tamidung. Itulah nama desa yang menjadi tempat pertumpahan darah kelahiranku. Suasana pagi di Desa Tamidung memang selalu indah. Apa lagi ditambah dengan cuaca musim penghujan seperti sekarang ini. Saat semua tumbuhan menghijau, dan embun terbang dari pucuk-pucuknya, menyambut matahari. Burung-burung kutilang girang mandi di antara sisa air hujan semalam, di daun-daun siwalan dan daun pisang. Bersiul-siul menambah sejuk suasana pagi.
            Hari Jum’at. Liburan sekolahku adalah hari Jum’at. Begitulah liburan sekolah yang dibawah naungan Departemen Agama atau tepatnya sekolahku adalah sekolah swasta. Semalam Bapak sudah menjanjikan bahwa aku akan diajari membajak sawah. Bapak akan menggarap sawahnya untuk penaburan gabah. Sebelum ditaburi gabah, maka sawah harus benar-benar diolah atau dibajak dulu tanah liatnya supaya gabah tumbuh bagus, kata Bapak.
            Tentu tidak ada akan ada yang lebih menyenangkan dari momen hari ini. Aku sudah semangat mengambil tampar sebagai tali menuntun sapi.
            Bapak yang membawa peralatan membajak sawah nampak tersenyum dibelakangku juga dibelakang sapi yang aku tuntun. Kebetulan sapi-sapi ini sudah cukup jinak. Ia mengerti tujuan pemiliknya mau dibawah ke mana. Jadi tidak perlu mengarahkan dengan terlalu sulit. Sapi yang ada di depan sudah hafal pada jalan menuju sawah, sedangkan sapi yang di belakang cukup mengikuti kemana aku menarik tali tamparnya. Sapi dituntun depan belakang, dan aku ada di tengah-tengahnya.
            Setiba di sawah, proses belajarku membajak sawah berjalan cukup sempurna, kata Bapak. Sampai Bapak yang duduk di pinggir sawah mengacungkan kedua jempolnya, menyuruh lanjutkan. Sepertinya Bapak memiliki bahasa sendiri untuk mengendalikan sapi. Bahasa itu bukan bahasa Madura. Aku tidak paham dari mana asal muasal bahasa itu. Tapi yang jelas itu digunakan oleh orang-orang untuk mengendalikan sapi.
            Seperti Lili berarti ke kanan. Jecjhe’ berarti ke kiri. Bhuu berarti berhenti. Koh berarti kakinya harus dibenarkan, semisal ada tali yang membelit ke bagian betis sapi. Sungguh itu semua membuat aku tertarik untuk menjadi pembajak sawah, sebagaimana profesi yang bapak tekuni bertahun-tahun.
            Sepulang dari sawah, sapi-sapi tidak langsung di masukkan ke dalam kandang, ia harus dimandikan terlebih dahulu. Saat itu adalah tugas Emak untuk memandikan sapi, karena aku dan Bapak harus buru-buru pergi ke masjid menunaikan kewajiban. Emak lebih hebat daripada Bapak kalau soal memandikan sapi. Sifatnya yang telaten akan benar-benar memanja sapi-sapi itu. Maka tidak heran kalau sapi yang dipelihara Bapak dan Emak lebih terawat, lebih sehat, dari sapi-sapi tetangga kebanyakan. Entahlah.
            Adzan ashar berkumandang. Itu berarti aku sekeluarga akan melakukan aktivitas rutin, yaitu mengambil rumput ke sawah bersama-sama. Matahari indah menyemburat dari celah-celah janur kelapa. Di sebagian naungnya membentuk lukisan bayang-bayang pepohonan. Awan berarak berkejaran melintas di atas jauh sana. Aku yang membawa celurit jahil menyabit daun-daun sembarangan. Hingga Bapak menegurku, jangan sembarangan tanganmu Hodri, itu nyawa seekor sapi.
            Sejauh ini aku memang sulit menafsirkan bahasa orang tua. Aduh! Nyawa seekor sapi? Hanya setangkai daun kelor yang kecil, aku membatin. Aku memang tidak biasa membantah terhadap setiap perkataan Bapak. Itu sangat tidak biasa aku lakukan selama ini.
            Mata kami semua terbelalak saat melihat kondisi rumput di sawah yang sudah kacau. Ada pencuri yang berani mengambil rumput di sawah kami pada saat  itu. Aku menatap wajah Bapak, kecewa. Menatap wajah Emak, terlipat menahan marah. Aku tidak tahu dengan air wajah sendiri, yang jelas hati ganjal melihat kenyataan yang telah terjadi. Rumput yang sudah hijau-hijau dan tumbuh subur di sawah, kini telah teracak-acak tidak teratur.
            Sebenarnya Emak sering bercerita kepadaku kalau di sawah rumputnya sering dicuri orang. Sudah puluhan kali Emak dan Bapak membiarkan tanpa menegur, karena posisi yang tidak tahu siapa pencurinya. Aktivitas mengambil rumput berjalan lesu. Lengang tanpa percakapan yang biasanya tidak sesunyi saat ini. Aku mengerti, maksud dari diam kedua orang tua adalah bentuk protes diri karena rumput yang telah dicuri orang.
            Akhirnya hening itu terpecah oleh suara Emak, “Kita harus membuat Bin Sabin saja sepertinya Ri,” ucapnya kepada Bapak.
            “Itu memang sudah aku rencanakan. Aku ingin tahu siapa pencurinya. Karena tidak mungkin orang yang jauh. Dia pasti orang yang dekat dengan kita, karena dia pasti tahu kapan aku akan mengambil rumput ke sawah ini, sehingga dia bebas mengambil tanpa sepengetahuan kita.”
            Lagi-lagi bahasa itu yang terulang. Bin Sabin. Itu adalah bahasa yang pernah Emak ucapkan kepada ku. Hingga sejauh ini otakku ganjal dengan Bin Sabin. “Nama orang itu?” aku memutus tidak sopan pembicaraan kedua orang tua. Serentak mereka menertawakan aku.
            Emak menjelaskan apa itu Bin Sabin. Ternyata ia adalah semacam benda ajaib yang bisa membuat orang gatal-gatal. Bin Sabin diletakkan di sawah, di padang rumput. Jika rumputnya selalu ada yang mencuri, biasanya pemilik sawah akan melindungi rumputnya dengan meletakkan Bin Sabin secara sembunyi. Gatal-gatal yang disebabkan Bin Sabin tidak sekedar gatal-gatal, biasanya kulitnya akan membengkak, melepuh berisi air. Orang di desa sudah bisa menebak dengan sendirinya kalau itu adalah gatal-gatal karena Bin Sabin.
            Malam menabur bintang-gemintangnya. Bulan menyabit di balik janur kelapa. Kunang-kunang berhamburan di persawahan. Derrik jangkrik bersahutan dengan suara kodok ditengah genangan sisa air hujan di sawah. Nun jauh di sana, di langit tenggara, kilat berkedip sejenak membuat cerah alam sekitar. Bapak datang dengan membawa daun gebang yang kering.
            Daun gebang yang Bapak bawa masih lengkap dengan tangkainya. Bentuknya yang seperti kipas itu berarti daun pohon gebang yang masih muda. Ternyata pada saat itu aku juga tahu, kalau untuk membuat Bin Sabin harus dengan daun pohon gebang kecil, yang tingginya baru selutut, dan daun itu harus sudah kering di pohonnya. Bapak membawa itu ke rumah malam-malam.
            Aku yang belum tahu soal apa-apa, hanya diam menatap ke arah Emak yang tampak menyirami daun gebang dengan air yang baru saja dikomat-kamitinya. Kemudian selesai daun gebang dibacakan mantra, disirami air, Emak lalu mengikatnya dengan tiga tali, seperti tali tiga pada kafan mayat. Selanjutnya, adalah tugas Bapak untuk meletakkannya ke sawah yang rumputnya sering dicuri. Malam Bapak terobos dengan keyakinan bahwa malam itu hujan tidak akan turun, lantaran guntur terlalu banyak gemuruhnya.
            Tiga hari setelah pemasangan Bin Sabin oleh Bapak, rupanya tidak sia-sia. Bersamaan dengan rumput di sawah hilang, kakaknya Bapak sendiri terkena gatal-gatal yang persis karena akibat Bin Sabin. Betapa tidak semakin menikam, kalau ternyata yang mencuri rumput di sawah Bapak adalah saudara Bapak sendiri. Ribehnan.
            Bapak tidak menuduh ia pencurinya, juga Emak. Tapi Ribehnan sendiri yang datang ke rumah meminta maaf dan minta dicabut Bin Sabinnya. Ya, orang yang terkena penyakit akibat Bin Sabin, hanya orang yang membuat Bin Sabin itu yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya, Emak dengan murah hati langsung mengambil empat puluh lima buah lidi dan kopyah rabunan, yaitu kopyah yang dibuat dari daun siwalan. Kopyah rabunan bentuknya kerucut ke atas, dan menjadi kopyah untuk membuang sial seseorang.
            Kopyah rabunan yang dipakai oleh Ribehnan, kemudian dijatuhkan oleh Emak dari kepala Ribehnan dengan menggunakan lidi yang Emak pegang di tangan kirinya.
            Bin Sabin masih dipercaya oleh masyarakat pedesaan Madura untuk menjaga tumbuhan atau pertanian di sawahnya. Menjaga pohon kelapa. Menjaga rumput dan berbagai macam tumbuhan yang dirasa perlu dilindungi dari para pencuri. Sekian.



Jogjakarta 2015



Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Aktivitasnya selain kuliah adalah menulis. Dan sekarang masih menjadi mahasiswa aktif Fak. Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta.
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.