Selasa, 15 Desember 2015

PUISI



DI BALIK KETIAK BUKU-BUKU

Kacamatanya semakin rabunkan huruf kaku
setelah terbelalak dia sudah tak awas─soal lembaran kitab
berbalik wajah menuntun lagi bola matanya
Pada setengah runcing menatap harus lihat
berapa harap rupiah menggodanya, bisik.

Lazimnya membaca, jutaan angka nomor halaman
            dalam buku telah ia hafalkan
Afiliasi ilmu pendidikan memakan tuntas pengetahuan
Sisanya menjadi daftar isi yang ia sediakan
            di balik saku celana
Sementara lipatan dompet tertulis nama “bau ketiak”
Mungkin baru saja tersengal marah, hingga
lupa keringatnya sembunyi ketakutan
kemudian melurus lagi posisi bahunya yang tak sedap di foto
Hanya sebab bau adalah ketiak yang terbukukan sejarah.

Jogjakarta

TANGAN-TANGAN KASAR

Wanita di jilbabnya melukis hijaiyah
            Berserakan kaf dan nun pada kutub perpisahan,
Terpisah seusai pesta rakyat, lalu membawa berkas yang terdiri
dari kertas yang didirikan tepat lurus di ubun-ubunnya.

Terlipat kepada ku.

Tangan-tangan kasar seperti pemukul jagung yang lantak
Biji-bijinya di dalam karung, Terjual ke pasar-pasar yang dimakan lagi
            Dengan bentuk dan rasa lain,
Tanpa sadar kalau agama bukan pamor moralnya

Selama hari petasan masih redam
Menunggu terompet di titik dua belas malam,
Denting waktu akan membawa angka nol penghapusan dosa
Pendeta yang mengajaknya damai ditantang berjilbab
Duh, apa kehendak kekuasaan tidak terpilih?
Mungkin butuh berlembar kertas─untuk diam.

Jogjakarta

SALAH
Pertanyaan yang jangan ditanyakan
Karena lazim salah bersama
            Manusia.

Jogjakarta

BANJIR

Semua banjir mengalir dari sungai
            Ada yang coklat kekuningan
Yang bening seperti embun tertutup
            Ditumbangkan gerak kaku kebijakan
“kuning seperti tai” pembawa acara meremot kasus mata ke satu cerita

Sampah belum pernah bersumpah untuk menimbun banjir
Butuh bendungan politik untuk menimpa hukum yang terbawa lelah
mabuk miras dan judi halal
Sementara guling dan kasur diam terhanyut
;mungkin sebagai alat atau palu gabus yang senyap diketuk

Jogjakarta

KEPALA HUJAN

Seperti air aku berfikir
Menantang materi membuat agama, Kafir
Dan para dosen yang jasnya basah
            Meludahi bangku
tempat duduk dengan keringat
Usai berguling menuntun mahasiswa kehujanan

Belum dibuatkan musim yang lebih gigil dari nimbara’
Sehingga seluruh cucian tuhan membuat marah jajaran malaikat bersujud
Atau jilbab dan serban politik terhanyut banjir jua
Lalu tanggal sembilan menjadi kayu tua
            Selesai ditebang lima tahun lalu
Tanpa dau dan buah berbunga─sebagai kepala

Dan saat berita di televisi menonton  dewan 
            rakyat berperang mewakili kepala suku
yang lupa rimba tempat kemenangan suaranya
Komisi seperti gerimis, Pemilihan menjadi tangis, Umum cipta nepotis
Apa bedanya bila deras redah sejenak
            Menyakitkan kepala di tengah hujan.

Jogjakarta

BERHITUNG

1 tidak aku sebutkan namanya
2 akan ada pasal selanjutnya
3 kumandang adzan
4 nyanyian rohani
5 keadilan yang dipertanyakan

Jogjakarta
KE HORMAT HORMATAN

Visual menampakkan diri berbaju merah
Di tengah bayi berkumis uban
Kopyah dan Alqur’an basi di dalam kulkas
Entah apa itu hormat yang kehormatannya dinamakan dewan

Di balik jendela kabar berita rakyat mengintip
            Sosok koruptor mencari makan
Membalik telapak tangan di atas
Menagih kepalsuan sebagai telanjang tanpa salah

Sedang pada jendela berbeda, redaksi kabar
            Perihal yang sama timpang membenarkan
Bibir dan lidahnya terpintal menegur segudang kebohongan
Tapi mata masyarakat lebih tertutup kabut hujan bulan pilkada
Yang tertukar alasa “dia kan bekerja”.


Jogjakarta
PASIR

Usahanya menggenggang lepas. kakinya dijilat ombak
berjingkrakan
            dan menghindar lebih jauh.
Laut lepas tepat di dada penunggang kuda
Membentuk ikan, lengkap serta badai kemaraunya

Tidak pada buritan kapal yang baling-balingnya berputar melotre siapa yang menang
Untuk bugil pada kecipak, lalu merebah bagai genit dingin
yang jumpalitan seperti tempias hujan di cekung talapak tangan

Redam gemuruh laut, lengang dengan kilat sejenak
Memutar kaset kusut
Melintasi otak pemikir ;sekilas laut
            Yang bermulut pasir.
Dan dua kepala bergelimpangan tertimbun pemilu
Pinggir pantai─Tahun. lalu?

Jogjakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.