DI BALIK KETIAK BUKU-BUKU
Kacamatanya semakin rabunkan huruf kaku
setelah terbelalak dia sudah tak awas─soal lembaran kitab
berbalik wajah menuntun lagi bola matanya
Pada setengah runcing menatap harus lihat
berapa harap rupiah menggodanya, bisik.
Lazimnya membaca, jutaan angka nomor halaman
dalam
buku telah ia hafalkan
Afiliasi ilmu pendidikan memakan tuntas pengetahuan
Sisanya menjadi daftar isi yang ia sediakan
di balik
saku celana
Sementara lipatan dompet tertulis nama “bau ketiak”
Mungkin baru saja tersengal marah, hingga
lupa keringatnya sembunyi ketakutan
kemudian melurus lagi posisi bahunya yang tak sedap di
foto
Hanya sebab bau adalah ketiak yang terbukukan sejarah.
Jogjakarta
TANGAN-TANGAN KASAR
Wanita di jilbabnya melukis hijaiyah
Berserakan
kaf dan nun pada kutub perpisahan,
Terpisah seusai pesta rakyat, lalu membawa berkas yang
terdiri
dari kertas yang didirikan tepat lurus di ubun-ubunnya.
Terlipat kepada ku.
Tangan-tangan kasar seperti pemukul jagung yang lantak
Biji-bijinya di dalam karung, Terjual ke pasar-pasar yang
dimakan lagi
Dengan
bentuk dan rasa lain,
Tanpa sadar kalau agama bukan pamor moralnya
Selama hari petasan masih redam
Menunggu terompet di titik dua belas malam,
Denting waktu akan membawa angka nol penghapusan dosa
Pendeta yang mengajaknya damai ditantang berjilbab
Duh, apa kehendak kekuasaan tidak terpilih?
Mungkin butuh berlembar kertas─untuk diam.
Jogjakarta
SALAH
Pertanyaan yang jangan ditanyakan
Karena lazim salah bersama
Manusia.
Jogjakarta
BANJIR
Semua banjir mengalir dari sungai
Ada yang
coklat kekuningan
Yang bening seperti embun tertutup
Ditumbangkan
gerak kaku kebijakan
“kuning seperti tai” pembawa acara meremot kasus mata ke
satu cerita
Sampah belum pernah bersumpah untuk menimbun banjir
Butuh bendungan politik untuk menimpa hukum yang terbawa
lelah
mabuk miras dan judi halal
Sementara guling dan kasur diam terhanyut
;mungkin sebagai alat atau palu gabus yang senyap diketuk
Jogjakarta
KEPALA HUJAN
Seperti air aku berfikir
Menantang materi membuat agama, Kafir
Dan para dosen yang jasnya basah
Meludahi
bangku
tempat duduk dengan keringat
Usai berguling menuntun mahasiswa kehujanan
Belum dibuatkan musim yang lebih gigil dari nimbara’
Sehingga seluruh cucian tuhan membuat marah jajaran
malaikat bersujud
Atau jilbab dan serban politik terhanyut banjir jua
Lalu tanggal sembilan menjadi kayu tua
Selesai
ditebang lima tahun lalu
Tanpa dau dan buah berbunga─sebagai kepala
Dan saat berita di televisi menonton dewan
rakyat berperang
mewakili kepala suku
yang lupa rimba tempat kemenangan suaranya
Komisi seperti gerimis, Pemilihan menjadi tangis, Umum
cipta nepotis
Apa bedanya bila deras redah sejenak
Menyakitkan
kepala di tengah hujan.
Jogjakarta
BERHITUNG
1 tidak aku sebutkan namanya
2 akan ada pasal selanjutnya
3 kumandang adzan
4 nyanyian rohani
5 keadilan yang dipertanyakan
Jogjakarta
KE HORMAT HORMATAN
Visual menampakkan diri berbaju merah
Di tengah bayi berkumis uban
Kopyah dan Alqur’an basi di dalam kulkas
Entah apa itu hormat yang kehormatannya dinamakan dewan
Di balik jendela kabar berita rakyat mengintip
Sosok
koruptor mencari makan
Membalik telapak tangan di atas
Menagih kepalsuan sebagai telanjang tanpa salah
Sedang pada jendela berbeda, redaksi kabar
Perihal
yang sama timpang membenarkan
Bibir dan lidahnya terpintal menegur segudang kebohongan
Tapi mata masyarakat lebih tertutup kabut hujan bulan
pilkada
Yang tertukar alasa “dia kan bekerja”.
Jogjakarta
PASIR
Usahanya menggenggang lepas. kakinya dijilat ombak
berjingkrakan
dan
menghindar lebih jauh.
Laut lepas tepat di dada penunggang kuda
Membentuk ikan, lengkap serta badai kemaraunya
Tidak pada buritan kapal yang baling-balingnya berputar
melotre siapa yang menang
Untuk bugil pada kecipak, lalu merebah bagai genit dingin
yang jumpalitan seperti tempias hujan di cekung talapak
tangan
Redam gemuruh laut, lengang dengan kilat sejenak
Memutar kaset kusut
Melintasi otak pemikir ;sekilas laut
Yang
bermulut pasir.
Dan dua kepala bergelimpangan tertimbun pemilu
Pinggir pantai─Tahun. lalu?
Jogjakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.