Selasa, 05 Januari 2016

Epitaf Kerinduan

Seperti kecipak laut menulis nama di pasir. Bila rindu mengubur sarang merpati di rumah ku. Aku ingin padamkan matahari agar kita tak lagi terang, layaknyapembunuh orang kafir di zaman nya.Dinda, antar aku pulang pada sebuah danau bila kau tak temukan hujan, yang air nya mengalir di mataku dan dingin bekukan tubuhmu. Lalu bangunlah sebuah ranjang yg terbuat dari rusukku. Biar tak mudah koyak saat kita bermain kuda lumping di atasnya. Juga bawakan aku selimut yg kau ambil dari lukaku, Kita akan bermimpi mengejar silsilah di dalam ruang berdua.Jemputlah dinda, aku tak mau ada luka. Sebelum waktu bertandang membawa darah dan diminumkannya ke ronggaku. Kemudian jadilah aku seorang prajurit yg terpenggal kepalanya tanpa satu orang pun membaiatku sebagai pahlawan. Tunggu apa lagi? Sebelum aku benar-benar menjadi sebuah senja. Lalu sunyi dan gelap merajaiku dengan segala rindu. Atau kita selamanya akan menjadi kalimat dalam katayg terpental sampai puisi? Oh dinda...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.