Kamis, 11 Februari 2016

MENYIKAPI CINTA KEKINIAN


  Perindu*

Entah kenapa hatiku gelisah dengan beberapa lontaran kata cinta yang seperti mudah saja dikeluarkan oleh teman-temanku. Banyak di antara mereka mengatakan kata cinta, dan aku merasa sangat tak asing dengan kata-kata cinta seperti yang sering dikeluarkan oleh teman-teman itu. Mungkin karena aku dulu dan sekarang juga tanpa kontrol mengatakan cinta dengan mudah.
Oh iya aku lupa kalau akhir-akhir ini cinta yang sering aku dengar dari mereka yang mengucapkannya bukan dari teman-teman yang se usiaku ding, mereka kebanyakan masih duduk di bangku SMP dan SMA gitu deh. Hmm.. jangan miring dulu, aku orangnya emang sering bergaul dengan mereka-mereka, bahkan dari mereka itulah aku bisa menemukan banyak arti dari ketenangan dalam bergurau. Memang sih aku sekarang sudah semester empat di bangku kuliah. Tapi menurutku tak salah jika aku bergabung dengan sekelas mereka yang sudah mau setia menjadi teman dalan keseharianku saat aku pulang kampung.
Kalian nggak boleh sinis menanggapi pertemanan aku dengan mereka anak-anak SMP dan SMA itu hanya karena perbedaan kelas, juga jangan heran kalau aku mengatakan mereka sudah dewasa versi orang desa yang harmonisasi sosialnya menurut aku tinggi. Teman-temanku itu, cuman sekolahnya aja yang SMP dan SMA, sedangkan mereka sudah menikah, ada yang bertunangan, bahkan ada yang sudah bercerai dengan suaminya atau isterinya. Jadi menurut aku dia sudah lebih dewasa dibanding aku yang masih belum pernah mencicipi manisnya madu pernikahan. Hehe
Nah, aku jadi banyak ngomongin teman sepermainan kan...sampek lupa kalau aku mau mengulas tentang cinta. Cinta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sayang benar, suka sekali, dah gitu lah intinya menurut kamus yang besar dalam bahasa kita. Kalau masih penasaran boleh di cek sendiri. Hehe
Sebenarnya aku tidak mengukur dari pemaknaan suka dan sayang seperti apa yang dijelaskan oleh KBBI, hanya saja aku ingin menerangkan beberapa tingkah laku anak bau bawang yang sering sekali menyatakan cinta, utamanya wanita yang mengungkapkan cinta lebih dulu kepada seorang pria. Apakah itu salah? Aku tidak mau menjawab dari segi agama, aku akan menjawab dari segi perasaan, dan secara perasaan itu tidak salah. So, cinta tanpa status kalau aku memandang, yang berstatus itu adalah orang yang merasakan cinta.
Ya, jadi kalau semisal ada cewek yang menyatakan cintanya pada cowok di akhir-akhir ini, nggak usah lah kalian menegur mereka dengan kecaman tidak punya perasaan atau gak punya rasa gengsi gingsul dan semacamnya. Coba deh fikir secara halus, orang yang berani berkata atau bahkan sudah berbentuk doktrin kepada kalian wahai kaum hawa, apakah mereka bisa mengukur kedalaman rasa dalam hatimu? Jawabannya sudah pasti tidak.
Bagiku juga terlalu gombal kalau semisal ada pasangan yang berpacaran lalu bilang pada pasangannya, “Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan,” dududududuh... aku gak yakin, toh hatinya bukan cabang hatimu kok. Hatimu itu berada di balik dadamu sendiri. Hatinya juga sebaliknya. Jadi kalau begitu gak usah menyerap kata-kata orang tentang kecintaan yang kamu rasakan ukhty.
Oh iya ada yang hampir lupa. Biar tidak ada yang luka maka sekiranya penting juga untuk aku sampaikan mengenai bagaimana kita menjadi diri sendiri utamanya dalam implementasi cinta pada masa saat ini. Cinta yang dilakoni oleh sepasang manusia yang lain jenis sangat akan berakibat keliru jika ia tidak terbentengi oleh kemauan belajar. Belajarnya bagaimana? Pelajari semua dalam hidup selama bercinta.
Menurut aku cinta adalah salah satu bagian dari organ kehidupan. Kehidupan diibaratkan sebuah tubuh, maka cinta adalah salah satu organ terpenting. Jika salah satu organ dalam tubuh tidak lengkap, cacatlah tubuh tersebut. Demikian dengan kehidupan, mari kita lengkapi dengan cinta, sempurnakan dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap kehidupan ini.
Karena cinta tidak mengenal masa, maka tidak ada persepsi seperti pertama judul celotehan aku ini. Judul tulisan ini bohong, cinta dari pertama dilahirkan sampai sekarang tidak pernah berubah, ia tetap cinta sebagaimana dulu pertama ada. Tergantung orang yang menyentuhnya, apakah akan menggunakan cinta sebagai perebutan kekuasaan, pencurian, pembunuhan dan sebagai macamnya.
Tapi mari kita jaga kebersihan, kesucian cinta. Sebagai remaja yang rentan dimabukkan oleh cinta dan cinta, perlu kiranya membentengi diri dengan ilmu pengetahuan. Serta tak lupa, jangan pernah lupakan agama yang posisinya sebagai sistem yang mengajari kita bagaimana bisa terhubung dengan Tuhan dengan tatacara berdoa yang baik dan benar.
Semangat bercinta dan tetaplah menjadi pecinta agar dunia tak hampa...!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.