Gemuruh guntur dan hujan dimatanya mengalir menggenangi wajah
tampan itu, mematikan setiap percikan api cinta dari para wanita. Lantaran hatinya sudah terpatri pada kelopak bunga
desa yang disanjungnya dari setiap detak doa yang tulus. Ia tak takut akan
banjir anyir darah kian mengalir. Keinginan merenda kasih terus dipacuh dengan
tanduk logamnya sebagai laki-laki.
***
Angin menyelimuti
tubuhnya yang sudah kaku karena dingin, sebab seharian menikmati hujan di
sawah. Badan kurus itu melekuk bundar, supaya sarung mampu menutupi tubuhnya
dan memberinya kehangatan. Tidak terhitung malam yang dia nikmati dengan
kedinginan. Kedinginan yang bukan sekedar dingin. Ada yang lain dari dingin
yang dia rasakan. Tersebab selimut tidak mampu memberinya hangat seperti
hangatnya seorang wanita.
Kumandang adzan
subuh membangunkan dirinya untuk segera menunaikan kewajiban. Berdoa. Terselip
sebuah nama dari lawan jenis di dalam tengadah yang sahaja. Demikian segudang
niat tulus telah benar-benar rampung di pengharapannya. Jiwa jantan dan sekaligus
pembajak sawah akan menjadi modal untuk merenda kasih dengan Atmami. Menjadi
pekerja pembajak sawah adalah warisan dari almarhum Kampong Bapaknya. Kampong
mengajarkan bagaimana membajak sawah yang baik dengan menggunakan sepasang sapi
peliharaannya. Pekerjaan itu dia tekuni demi menghidupi Emak dan satu adik
laki-lakinya yang masih kelas tiga SD.
Dua ekor sapi dicangking
dan siap untuk diberangkatkan ke sawah. Pagi itu rintik hujan masih tersisa
sejak semalaman mengguyur dengan deras. Caping dipakainya supaya hujan tak
menganggu pandangan matanya. Penghasilan Satrono sebagai pekerja pembajak sawah
per harinya Rp. 25.000. Sebagai tulang punggung keluarga dia harus mencari
penghasilan lain untuk menambah pendapatan keluarganya. Sebab, bekerja menjadi
pembajak sawah tidak dilakukannya setiap hari. Ia bekerja ketika ada yang
menyuruhnya bekerja. Salah satu penghasilan untuk perekonomian keluarganya
adalah menjadi pedagang barang antik seperti pusaka-pusaka keris dan yang semacamnya.
***
Bulan alis
mengintip dari balik rerimbun janur. Pohon kelapa menjulang menutupi halaman rumah
Satrono dari semburat cahaya rembulan itu. Ingin sekali dia menghitung ribuan
bintang di langit beserta tetes embun yang tak terjumlah. Keinginan itu seperti
keinginan melihat mata Atmami dari jarak dekat yang kerap kali membias malam-malamnya.
Nun jauh disana perasaan Satrono bergulat dengan harapan merenda kasih abadi
dalam ikatan yang halal dengan Atmami. Embun menyadarkan Satrono, bahwa dia masih
di halaman rumah. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar. Setelah dingin merajai
tubuhnya.
Hampir saja kelopak
matanya terkatup.
“Assalamualaikum.”
Terdengar suara dari balik pintu.
“Waalaikumussalam.”
Sontak Satrono menjawab salam itu. Kemudia dibukanya pintu rumah yang sudah
ter-pakal1 rapi. “oh kamu Mat, ada perlu apa?” Dia menyalami
tangan Ahmat.
“aku mau jual
keris No kalau kamu berminat!” Ahmat meyodorkan benda itu. Dilihatnya pamor
keris itu. Lama kemudian mereka membuat kesepakatan harga. Satrono sendiri
cukup tertarik dengan benda kuno yang ditawarkan Ahmat. Dia beli dengan harga
kesepakatan.
Guratan mimpi akan
seorang wanita yang selalu didoakan kembali terniang dalam putaran otak di pekik
malam. Kulitnya yang celleng seddhe’2 tak menggelapkan
harapan. Walau malam sudah semakin gelap lantaran mendung menutupi cahaya
gemintang. Tapi tidak dengan harapan kepada Atmami. Sama sekali itu tak
tercita-citakan untuk bercinta dengan gelimangan harta. Banyak diantara bunga
di taman desa yang semerbak nan elok. Namun Satrono tidak bisa menjadi kumbang bagi
bunga-bunga indah itu. Satrono telah terbaiat menjadi kumbang bagi Atmami.
Begitu juga dengan bunga harapan hati Atmami. Dia sudah meyakinkan bahwa putik
sarinya hanya Santrono yang pantas membuahkan kehidupan. Kedua insan telah
menempatkan pada satu pergantungan, yaitu pergantungan cinta sejati. Satrono
sudah mulai gerah menyegerahkan keinginan
syahdu itu kepada orang tua Atmami.
***
Padi menguning
dengan warna keemasan terlihat di sepanjang persawahan desa Tamidung. Tidak
lama lagi masyarakat akan memanen buah emas itu. Gabah yang tua siap dirapikan
dari sawah. Jerami pun akan terpisah dengan buahnya setelah berbulan bersama
diatas hamparan bumi subur Madura. Keluarga Satrono menerima beras dari para
tani yang pernah menyuruh membajak sawahnya beberapa bulan lalu. Sebagai bentuk
kearifan sosial masyarakat desa, selamatan hasil panen masih tertanam di dalam
kesadaran mereka.
Belajar dari hidup
sederhana dengan jiwa besar akan lebih hebat dari belajar hidup mewah namun
berjiwa kerdil. Satrono dengan jiwa besar yang dimiliki, mulai menceritakan
keinginannya untuk melamar Atmami. Berjalan dengan halus apa yang di inginkan
Satrono. Emaknya sudah merestui bila dia berniat tulus untuk menyunting Atmami.
Capung-capung tebang
liar diantara tumpukan jerami di sawah-sawah, memburu serangga kecil. Siul
kutilang mengirama, Lalulalang menghinggapi dahan dengan sekawanannya. Dedaunan
melambai diterpa angin memanggil Satrono untuk mempercepat langkah kakinya ke
rumah Atmami.
“Assalamualaikum!!”
Dengan salam yang ikhlas dan suci dia lepas secara halus.
“Waalaikumussalam!!”. Satrono menyalami tangan
Rikso, orang tua dari Atmami. Kemudian laki-laki sepuh bermahkotakan uban itu
mempersilahkan untuk masuk dan duduk. Teh dan rokok menghias meja, tuan rumah mempersilahkan
suguhannya untuk dinikmati. Hening memberi waktu bagi otak Satrono merangkai
susunan kata yang pantas untuk mengawali pembicaraan dengan sang calon mertua.
“Sebenarnya saya
datang ke sini untuk melamar puteri Bapak.” Itulah kata paling kuas a yang
mampu ia lepas. Satrono tidak ingin berbelit.
Gemuruh guntur musim penghujan
beserta petirnya menyambar kelaki-lakiannya. Lamaran Satrono ditolak karena
Atmami sudah diincar oleh seorang laki-laki. Ada satu kalimat yang membuat
hatinya teriris. Kalimat yang melebihi tajamnya samurai. Satrono dibandingkan
dengan laki-laki itu dari sisi fnansial. Hatinya menangis menggenang kenangan
janji ikhlas dengan Atmami yang terlahir dari kesucian jiwa.
Senja yang jingga
di ufuk cakrawala menanti kepastian bahagia. Akankah nyata gelap menutup
matanya tanpa rembulan? Remuk tulang rusuk yang dimimpikan. Menjadi abu, hilang
bagai angan ditelan hujan nestapa. Rumah Satrono terisi dengan jeritan-jeritan
doa. Keputusan yang memenggal pengharapan kebahagian, menuai tangis dari sang
Emak. Keprihatinan dan luka hati anaknya juga dirasakan oleh Mak Satrono.
Harapan bahagia masih berusaha disemai oleh Satrono biar batinnya kuat, dan
hatinya kembali berbunga seperti sediakala. “Lalake’ roa emas pa’lekoran”3
gumamnya dalam hati.
***
Nibula dimata
Atmami yang terbiasa melukis keindahan sudah tidak ada lagi malam itu. Dirinya
sudah dibalut kecewa dan luka. Dialektika dalam batinnya berkoar-koar. Memaksa
untuk menikmati keindahan. Bukan keindahan orang tuanya. Atmami mengugkapkan
ketidak sudihannya bila harus menjadi pendamping hidup Ahmat.
Setelah lama
bercengkerama dalam pembahasan tentang perjodohan Atmami dengan Ahmat. Hasil
yang berhadiahkan senyum bagi Atmami. Karena persoalan jodoh orang tuanya sudah
dipasrahkan penuh padanya. Hati sudah mulai sejuk setelah berkelana di tengah gurun
dengan mengharap ada setetes belas dari kebijakan orang tua. Wajah Atmami bagai
mentari dengan cahaya hangat di kelopak bunga. Namun kesetiaan embun tak
terpental. Semakin melekat dan tampak elok sang bunga desa itu. Atmami ingin
mengabarkan bahagia itu kepada Satrono. Akan ada dua hati yang sama-sama bening
bersatu dalam satu kerang keabadian. Cinta tidak akan menjadi sampah yang
terlantar dijalanan. Ia akan menjadi sebuah mutiara murni. Sebab cinta sejati
hanya ada satu seumur hidup. Walau seseorang berkali-kali menikah atau memiliki
banyak pacar.
Kabar duka
berbalik arah. Ahmat mendengar kabar bahwa pernikahannya dengan Atmami tidak
bisa dilanjutkan. Tidak tanggung-tanggung dia mengancam Satrono. Semua
teman-teman Ahmat dari kelompok maling dan kaum blater-an di berbagai penjuru
desa akan membunuh Satrono. “Berengsek! Baru tahu itu Satrono sama aku. Ahmat
si bujang merana!” Sembari memukuli dadanya dengan kepalan tangan yang kasar.
Pagi masih buta. Tak
ada burung yang beranjak dari tempat tidurnya. Selesai sholat subuh Satrono
menyiapkan alat-alat untuk mencari rumput buat makanan dua ekor sapinya.
Bersamaan dengan kutilang mencari makan, berarak ke pohon-pohon pisang di sawah
dekat rumah Satrono. Liuk jalan kecil seperti ular bila dilihat dari jauh.
Keindahan kampung yang terisolasi dari kapitalis industrialisasi masih kaya
dengan oksigen yang berguna untuk keberlangsungan hidup manusia. Tepat di tapak
dhang-dhang4 dia bertemu dengan Sudileb. Dia adalah teman dekat
Ahamat. Jenggot yang hampir menutupi wajahnya. Kulit yang hitam juga tidak kala
menakutkan Satrono.
“Kamu diancam sama
Ahmat” Celetuknya kepada Satrono.
“Ancam??” Raut
kebingungan tampak sekali diwajah Satrono.
“Iya. Dia mau
mencegat kamu. Dia akan membunuh kamu karena kamu sudah mengacaukan
pernikahannya dengan Atmami. Teman-teman sekomplotannya mau mencarimu.” Dengan
nada keras menakutkan. Ia membayangkan bagaimana bila dirinya berhadapan dengan
wajah beringas itu. Ahmad.
Sesampainya di rumah.
Satrono termenung di depan kandang sapinya. Membayangkan nasibnya ditangan
kawan-kawan Ahmat. Dia pasti ditumpas. Bagi sebagian orang Madura, persoalan
perempuan memang tidak bisa direndahkan. Mereka harus melayani bila ada yang
mengajaknya bertarung. Bertepatan malam itu adalah malam jum’at manis. Aroma
dupa menyeruap dan dibawanya ke setiap penjuru rumah. Termasuk pada keris-keris
yang dipajang di dinding kamarnya. Kemudian hati Satrono tertuju pada satu
keris yang hampir dia lupakan. Keris warisan almarhum Bapaknya, dengan panjang
25cm. Dahulu Pak Kampong berpesan pada Satrono supaya tidak menjual keris itu.
Sebab keris itu dapat melindungi keselamatan penggunanya, tentu dengan seizin
Allah katanya. Jika ia di dalam rumah, dan ada maling yang hendak berbuat
sengaja mencuri. Maka dengan sendirinya keris itu akan bergerak tergoncang. Jika
dibawah untuk menemui musuh atau orang yang hendak berbuat jahat pada
pemiliknya, keris itu akan menyelamatkan. Akan merubah hati musuh menjadi lemah
lembut dan tidak jadi yang mau berbuat jahat. Itu pun juga dengan seizin Allah
Yang Maha Kuasa. Keris itu diberi nama Si Dhamar. Si Dhamar sudah lama berada
dalam rumah Satrono. Ciri-ciri pusaka itu ditengahnya ada besi kuningan.
Perlahan Satrono mengambil
Si Dhamar dan mulai menyelipkan di pinggangnya. Mulai saat itu dia meruncingkan
keyakinan untuk Si Dhamar agar dapat mengawal keselamatannya. Selain itu, jika
tiba-tba ditodong dengan senjata tajam, setidaknya Satrono punya senjata yang
bisa dia gunakan untuk membela diri. Bagi Satrono Si Dhamar adalah azimah yang
dimilikinya untuk menjaga keselamatan.
Tepat malam Sabtu
Jam 21:00 WIB. Satrono ada acara pengajian di kampung sebelah. Dengan jarak
yang cukup lumayan jauh. Pada saat itu semua kawan-kawan Ahmat memang sudah
diutus untuk mengawasi pergerakan Satrono. Kemudian pas di Tapak dhang-dhang.
Ahmat mencegat langkah Satrono. Kemarahan yang sudah membara sejak beberapa
hari sebelumnya terpenjara dalam hati. Saat itu waktu yang tepat untuk klimaks
atas kemarahannya.
Aneh. Ada sebuah
keajaiban yang tidak disangka dari kawan-kawan Ahmat. Kekecewaan lahir dari
mereka yang sudah menjadi kompor bagi otak Ahmat yang mendidih. Ahmat menyalami
tangan Satrono. Kemudian dia meminta maaf kepada Satrono sambil berkata, bahwa
dia merelakan Atmami pada Satrono.
“Aku relakan
Atmami sama kamu le’, jaga dia dengan baik ya?”5 Ucapnya
dengan nada halus, sampai Satrono mengangah dan tidak menyangkah hal demikian
akan terjadi. Benar-benar rahasia Allah Yang Maha Kuasa. Satrono merasakan ada
keteduhan dalam batin ketika membawa Si Dhamar. Masyarakat Madura kepercayaan
terhadap sesuatu yang mistis memang masih banyak berkembang, utamanya yang
hidup di pedesaan. Sekian.!
CATATAN:
[1]Pakal: Alat pengunci pintu terbuat dari kayu. Menyilang
dipintu.
[2] Celleng seddhe’: hitam dan pas takaran. Seddhe’
diartikan dengan masakan yang asinnya pas.
[3] Lalake’ roa emas pa’lekoran: laki-laki ibarat emas 24
karat.
[4] Tapak dhang-dhang: jalan simpang tiga yang dipercaya
memiliki nilai keramat.
[5] Le’: panggilan kepada yang lebih mudah. Sama seperti
Adik.
Bio : Nama Wardi,
lahir di Sumenep pada 01-02-1996, SMA di MA Nasa Gapura, sekarang masih
menempuh pendidikan di Unversitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Kontak yang bisa
dihubungi di 081939009798. Beberapa tulisannya bisa dibaca di
www.tolesanate.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.