Kamis, 11 Februari 2016

Si Dhamar




Gemuruh guntur dan hujan dimatanya mengalir menggenangi wajah tampan itu, mematikan setiap percikan api cinta dari para wanita. Lantaran  hatinya sudah terpatri pada kelopak bunga desa yang disanjungnya dari setiap detak doa yang tulus. Ia tak takut akan banjir anyir darah kian mengalir. Keinginan merenda kasih terus dipacuh dengan tanduk logamnya sebagai laki-laki.
***
            Angin menyelimuti tubuhnya yang sudah kaku karena dingin, sebab seharian menikmati hujan di sawah. Badan kurus itu melekuk bundar, supaya sarung mampu menutupi tubuhnya dan memberinya kehangatan. Tidak terhitung malam yang dia nikmati dengan kedinginan. Kedinginan yang bukan sekedar dingin. Ada yang lain dari dingin yang dia rasakan. Tersebab selimut tidak mampu memberinya hangat seperti hangatnya seorang wanita.
            Kumandang adzan subuh membangunkan dirinya untuk segera menunaikan kewajiban. Berdoa. Terselip sebuah nama dari lawan jenis di dalam tengadah yang sahaja. Demikian segudang niat tulus telah benar-benar rampung di pengharapannya. Jiwa jantan dan sekaligus pembajak sawah akan menjadi modal untuk merenda kasih dengan Atmami. Menjadi pekerja pembajak sawah adalah warisan dari almarhum Kampong Bapaknya. Kampong mengajarkan bagaimana membajak sawah yang baik dengan menggunakan sepasang sapi peliharaannya. Pekerjaan itu dia tekuni demi menghidupi Emak dan satu adik laki-lakinya yang masih kelas tiga SD.
            Dua ekor sapi dicangking dan siap untuk diberangkatkan ke sawah. Pagi itu rintik hujan masih tersisa sejak semalaman mengguyur dengan deras. Caping dipakainya supaya hujan tak menganggu pandangan matanya. Penghasilan Satrono sebagai pekerja pembajak sawah per harinya Rp. 25.000. Sebagai tulang punggung keluarga dia harus mencari penghasilan lain untuk menambah pendapatan keluarganya. Sebab, bekerja menjadi pembajak sawah tidak dilakukannya setiap hari. Ia bekerja ketika ada yang menyuruhnya bekerja. Salah satu penghasilan untuk perekonomian keluarganya adalah menjadi pedagang barang antik seperti pusaka-pusaka keris dan yang semacamnya.
***
            Bulan alis mengintip dari balik rerimbun janur. Pohon kelapa menjulang menutupi halaman rumah Satrono dari semburat cahaya rembulan itu. Ingin sekali dia menghitung ribuan bintang di langit beserta tetes embun yang tak terjumlah. Keinginan itu seperti keinginan melihat mata Atmami dari jarak dekat yang kerap kali membias malam-malamnya. Nun jauh disana perasaan Satrono bergulat dengan harapan merenda kasih abadi dalam ikatan yang halal dengan Atmami. Embun menyadarkan Satrono, bahwa dia masih di halaman rumah. Ia pun bergegas masuk ke dalam kamar. Setelah dingin merajai tubuhnya.
            Hampir saja kelopak matanya terkatup.
            “Assalamualaikum.” Terdengar suara dari balik pintu.
            “Waalaikumussalam.” Sontak Satrono menjawab salam itu. Kemudia dibukanya pintu rumah yang sudah ter-pakal1 rapi. “oh kamu Mat, ada perlu apa?” Dia menyalami tangan Ahmat.
            “aku mau jual keris No kalau kamu berminat!” Ahmat meyodorkan benda itu. Dilihatnya pamor keris itu. Lama kemudian mereka membuat kesepakatan harga. Satrono sendiri cukup tertarik dengan benda kuno yang ditawarkan Ahmat. Dia beli dengan harga kesepakatan.
            Guratan mimpi akan seorang wanita yang selalu didoakan kembali terniang dalam putaran otak di pekik malam. Kulitnya yang celleng seddhe’2 tak menggelapkan harapan. Walau malam sudah semakin gelap lantaran mendung menutupi cahaya gemintang. Tapi tidak dengan harapan kepada Atmami. Sama sekali itu tak tercita-citakan untuk bercinta dengan gelimangan harta. Banyak diantara bunga di taman desa yang semerbak nan elok. Namun Satrono tidak bisa menjadi kumbang bagi bunga-bunga indah itu. Satrono telah terbaiat menjadi kumbang bagi Atmami. Begitu juga dengan bunga harapan hati Atmami. Dia sudah meyakinkan bahwa putik sarinya hanya Santrono yang pantas membuahkan kehidupan. Kedua insan telah menempatkan pada satu pergantungan, yaitu pergantungan cinta sejati. Satrono sudah mulai gerah  menyegerahkan keinginan syahdu itu kepada orang tua Atmami.
***
           
            Padi menguning dengan warna keemasan terlihat di sepanjang persawahan desa Tamidung. Tidak lama lagi masyarakat akan memanen buah emas itu. Gabah yang tua siap dirapikan dari sawah. Jerami pun akan terpisah dengan buahnya setelah berbulan bersama diatas hamparan bumi subur Madura. Keluarga Satrono menerima beras dari para tani yang pernah menyuruh membajak sawahnya beberapa bulan lalu. Sebagai bentuk kearifan sosial masyarakat desa, selamatan hasil panen masih tertanam di dalam kesadaran mereka.
            Belajar dari hidup sederhana dengan jiwa besar akan lebih hebat dari belajar hidup mewah namun berjiwa kerdil. Satrono dengan jiwa besar yang dimiliki, mulai menceritakan keinginannya untuk melamar Atmami. Berjalan dengan halus apa yang di inginkan Satrono. Emaknya sudah merestui bila dia berniat tulus untuk menyunting Atmami.
            Capung-capung tebang liar diantara tumpukan jerami di sawah-sawah, memburu serangga kecil. Siul kutilang mengirama, Lalulalang menghinggapi dahan dengan sekawanannya. Dedaunan melambai diterpa angin memanggil Satrono untuk mempercepat langkah kakinya ke rumah Atmami.
            “Assalamualaikum!!” Dengan salam yang ikhlas dan suci dia lepas secara halus.
             “Waalaikumussalam!!”. Satrono menyalami tangan Rikso, orang tua dari Atmami. Kemudian laki-laki sepuh bermahkotakan uban itu mempersilahkan untuk masuk dan duduk. Teh dan rokok menghias meja, tuan rumah mempersilahkan suguhannya untuk dinikmati. Hening memberi waktu bagi otak Satrono merangkai susunan kata yang pantas untuk mengawali pembicaraan dengan sang calon mertua.
            “Sebenarnya saya datang ke sini untuk melamar puteri Bapak.” Itulah kata paling kuas a yang mampu ia lepas. Satrono tidak ingin berbelit.
Gemuruh guntur musim penghujan beserta petirnya menyambar kelaki-lakiannya. Lamaran Satrono ditolak karena Atmami sudah diincar oleh seorang laki-laki. Ada satu kalimat yang membuat hatinya teriris. Kalimat yang melebihi tajamnya samurai. Satrono dibandingkan dengan laki-laki itu dari sisi fnansial. Hatinya menangis menggenang kenangan janji ikhlas dengan Atmami yang terlahir dari kesucian jiwa.
            Senja yang jingga di ufuk cakrawala menanti kepastian bahagia. Akankah nyata gelap menutup matanya tanpa rembulan? Remuk tulang rusuk yang dimimpikan. Menjadi abu, hilang bagai angan ditelan hujan nestapa. Rumah Satrono terisi dengan jeritan-jeritan doa. Keputusan yang memenggal pengharapan kebahagian, menuai tangis dari sang Emak. Keprihatinan dan luka hati anaknya juga dirasakan oleh Mak Satrono. Harapan bahagia masih berusaha disemai oleh Satrono biar batinnya kuat, dan hatinya kembali berbunga seperti sediakala. “Lalake’ roa emas pa’lekoran”3 gumamnya dalam hati.
***
            Nibula dimata Atmami yang terbiasa melukis keindahan sudah tidak ada lagi malam itu. Dirinya sudah dibalut kecewa dan luka. Dialektika dalam batinnya berkoar-koar. Memaksa untuk menikmati keindahan. Bukan keindahan orang tuanya. Atmami mengugkapkan ketidak sudihannya bila harus menjadi pendamping hidup Ahmat.
            Setelah lama bercengkerama dalam pembahasan tentang perjodohan Atmami dengan Ahmat. Hasil yang berhadiahkan senyum bagi Atmami. Karena persoalan jodoh orang tuanya sudah dipasrahkan penuh padanya. Hati sudah mulai sejuk setelah berkelana di tengah gurun dengan mengharap ada setetes belas dari kebijakan orang tua. Wajah Atmami bagai mentari dengan cahaya hangat di kelopak bunga. Namun kesetiaan embun tak terpental. Semakin melekat dan tampak elok sang bunga desa itu. Atmami ingin mengabarkan bahagia itu kepada Satrono. Akan ada dua hati yang sama-sama bening bersatu dalam satu kerang keabadian. Cinta tidak akan menjadi sampah yang terlantar dijalanan. Ia akan menjadi sebuah mutiara murni. Sebab cinta sejati hanya ada satu seumur hidup. Walau seseorang berkali-kali menikah atau memiliki banyak pacar.
            Kabar duka berbalik arah. Ahmat mendengar kabar bahwa pernikahannya dengan Atmami tidak bisa dilanjutkan. Tidak tanggung-tanggung dia mengancam Satrono. Semua teman-teman Ahmat dari kelompok maling dan kaum blater-an di berbagai penjuru desa akan membunuh Satrono. “Berengsek! Baru tahu itu Satrono sama aku. Ahmat si bujang merana!” Sembari memukuli dadanya dengan kepalan tangan yang kasar.
            Pagi masih buta. Tak ada burung yang beranjak dari tempat tidurnya. Selesai sholat subuh Satrono menyiapkan alat-alat untuk mencari rumput buat makanan dua ekor sapinya. Bersamaan dengan kutilang mencari makan, berarak ke pohon-pohon pisang di sawah dekat rumah Satrono. Liuk jalan kecil seperti ular bila dilihat dari jauh. Keindahan kampung yang terisolasi dari kapitalis industrialisasi masih kaya dengan oksigen yang berguna untuk keberlangsungan hidup manusia. Tepat di tapak dhang-dhang4 dia bertemu dengan Sudileb. Dia adalah teman dekat Ahamat. Jenggot yang hampir menutupi wajahnya. Kulit yang hitam juga tidak kala menakutkan Satrono.
            “Kamu diancam sama Ahmat” Celetuknya kepada Satrono.
            “Ancam??” Raut kebingungan tampak sekali diwajah Satrono.
            “Iya. Dia mau mencegat kamu. Dia akan membunuh kamu karena kamu sudah mengacaukan pernikahannya dengan Atmami. Teman-teman sekomplotannya mau mencarimu.” Dengan nada keras menakutkan. Ia membayangkan bagaimana bila dirinya berhadapan dengan wajah beringas itu. Ahmad.
            Sesampainya di rumah. Satrono termenung di depan kandang sapinya. Membayangkan nasibnya ditangan kawan-kawan Ahmat. Dia pasti ditumpas. Bagi sebagian orang Madura, persoalan perempuan memang tidak bisa direndahkan. Mereka harus melayani bila ada yang mengajaknya bertarung. Bertepatan malam itu adalah malam jum’at manis. Aroma dupa menyeruap dan dibawanya ke setiap penjuru rumah. Termasuk pada keris-keris yang dipajang di dinding kamarnya. Kemudian hati Satrono tertuju pada satu keris yang hampir dia lupakan. Keris warisan almarhum Bapaknya, dengan panjang 25cm. Dahulu Pak Kampong berpesan pada Satrono supaya tidak menjual keris itu. Sebab keris itu dapat melindungi keselamatan penggunanya, tentu dengan seizin Allah katanya. Jika ia di dalam rumah, dan ada maling yang hendak berbuat sengaja mencuri. Maka dengan sendirinya keris itu akan bergerak tergoncang. Jika dibawah untuk menemui musuh atau orang yang hendak berbuat jahat pada pemiliknya, keris itu akan menyelamatkan. Akan merubah hati musuh menjadi lemah lembut dan tidak jadi yang mau berbuat jahat. Itu pun juga dengan seizin Allah Yang Maha Kuasa. Keris itu diberi nama Si Dhamar. Si Dhamar sudah lama berada dalam rumah Satrono. Ciri-ciri pusaka itu ditengahnya ada besi kuningan.
            Perlahan Satrono mengambil Si Dhamar dan mulai menyelipkan di pinggangnya. Mulai saat itu dia meruncingkan keyakinan untuk Si Dhamar agar dapat mengawal keselamatannya. Selain itu, jika tiba-tba ditodong dengan senjata tajam, setidaknya Satrono punya senjata yang bisa dia gunakan untuk membela diri. Bagi Satrono Si Dhamar adalah azimah yang dimilikinya untuk menjaga keselamatan.
            Tepat malam Sabtu Jam 21:00 WIB. Satrono ada acara pengajian di kampung sebelah. Dengan jarak yang cukup lumayan jauh. Pada saat itu semua kawan-kawan Ahmat memang sudah diutus untuk mengawasi pergerakan Satrono. Kemudian pas di Tapak dhang-dhang. Ahmat mencegat langkah Satrono. Kemarahan yang sudah membara sejak beberapa hari sebelumnya terpenjara dalam hati. Saat itu waktu yang tepat untuk klimaks atas kemarahannya.
            Aneh. Ada sebuah keajaiban yang tidak disangka dari kawan-kawan Ahmat. Kekecewaan lahir dari mereka yang sudah menjadi kompor bagi otak Ahmat yang mendidih. Ahmat menyalami tangan Satrono. Kemudian dia meminta maaf kepada Satrono sambil berkata, bahwa dia merelakan Atmami pada Satrono.
            “Aku relakan Atmami sama kamu le’, jaga dia dengan baik ya?”5 Ucapnya dengan nada halus, sampai Satrono mengangah dan tidak menyangkah hal demikian akan terjadi. Benar-benar rahasia Allah Yang Maha Kuasa. Satrono merasakan ada keteduhan dalam batin ketika membawa Si Dhamar. Masyarakat Madura kepercayaan terhadap sesuatu yang mistis memang masih banyak berkembang, utamanya yang hidup di pedesaan. Sekian.!
CATATAN:
[1]Pakal: Alat pengunci pintu terbuat dari kayu. Menyilang dipintu.
[2] Celleng seddhe’: hitam dan pas takaran. Seddhe’ diartikan dengan masakan yang asinnya pas.
[3] Lalake’ roa emas pa’lekoran: laki-laki ibarat emas 24 karat.
[4] Tapak dhang-dhang: jalan simpang tiga yang dipercaya memiliki nilai keramat.
[5] Le’: panggilan kepada yang lebih mudah. Sama seperti Adik.

            Bio : Nama Wardi, lahir di Sumenep pada 01-02-1996, SMA di MA Nasa Gapura, sekarang masih menempuh pendidikan di Unversitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Kontak yang bisa dihubungi di 081939009798. Beberapa tulisannya bisa dibaca di www.tolesanate.blogspot.com
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.