Kamis, 11 Februari 2016

PALUNG HATI NYA



Oleh: Wardi
            Bagaimana aku akan mengatakannya, kalau ini adalah rasa sayang kepada mu.....?”
            Kalimat itu terpotong kenangan dua tahun lalu. Menyudahi semua cinta yang bertengger sebagai duka dengan resah yang tidak terbawa pulang senja. Matahari sempurna menemani siang. Panasnya menawarkan gelasan haus untuk semua yang masih menunggu. Ya, ia yang menunggu dalam setiap jengkal detik waktu. Wajah kebas hari melambai menghapus langit kotor. Ranting tua pepohonan tak kunjung terjatuh. Gadis itu menatapi semua yang tersisa dalam kerinduan kerontang tegalan pada setetes hujan. Tubuhnya telah begitu kering dan keras-kurus.
            Jalanan semakin sempurna bersih dari rerumputan. Selalu dipijaki kakinya yang beralas sandal jepit. Nya menuju tempat biasa, dimana ia menuangkan gelisah dalam tulisan. Sungai yang mengalirkan air jernih. Batu-batu kecil indah yang tertata memanjang indah dilihat dari permukaan. Di atas jembatan bambu kering Nya menulis. Kertas kusam yang ia bawa berbahasa rindu.
            Bergetar tangan Nya untuk menuntaskan gelisah terbungkus tanda resah. Kebingungan serentak merajai jiwa wanita itu. Ia bahkan kehabisan kalimat untuk memulai bahasa dari mana. Andai ada Hujan di sisinya, pastilah ia akan merebahkan penat di bahunya yang kekar. Menunggu matahari hilang di pematang senja. Melarut naik bersama malam yang bertabur bintang-gemintang. Tapi, itu sesuatu yang rahasia sekali.
            Bagi Nya, menyayangi adalah menerima. Apapun yang akan ia dapat setelah pengagumannya kepada Hujan, selalu terbahasa dengan pasrah. Pasrah atas segala pencapaian. Pasrah jika harus kesedihan yang akan membawanya terhanyut bersama aliran sungai. Hujan adalah lelaki yang mulai ia ceritakan pada puisinya sejak dua tahun lalu. Hanya saja, sebagai seorang wanita, Nya tidak mungkin menawarkan terlebih dahulu, bukan?
            Nya hanya dapat menyaksikan aktivitas Hujan menyirami bunga di kebun miliknya dari jendela rumah. Begitulah mimpi pertama yang menjelma. Meredam rasa selama dua tahun, melebihi pahit menelan empedu. Ingin rasanya ia menyentuh getar bibirnya dengan bahasa puisi. Menyuratinya dengan setangkai mawar merah. Tapi Nya sadar, dia adalah wanita. Pada adat yang kental di desanya, tentulah Nya akan menyandang cerca dari mulut kampung.
            Jam di pergelangan tangan Nya menunjukkan waktu senja. Ia harus segera beranjak dari jembatan bambu kering yang membentang di atas sungai tempat Nya menulis.
***
            Malam terus naik. Isya’ lepas. Bintang sempurna bertabur di hamparan langit gelap. Bulan sabit menggantung. Aktivitas makan malam bersama keluarga baru saja usai. Nya membuka lembar demi lembar novel yang sudah tuntas dibacanya. Lembaran kertas yang disentuh bosan tangannya menghentikan sejenak laju waktu, saat suara di beranda rumah terdengar dengan percakapan serius. Nya menguping dari kamarnya. Mencoba memaknai jelas suara Ayahnya yang samar-samar tiba di ruang kamarnya.
            Bagai tersambar petir. Ayah Nya baru saja menjamu tamu tokoh masyarakat. Kiaji. Kiaji adalah kiai yang dipercaya sebagai tokoh masyarakat sebagai kiai kampung. Setiap malam Jum’at Kiaji akan selalu diundang ke rumah-rumah warga untuk mengaji Yasin. Tapi kedatangan Kiaji kerumah Nya malam itu bukan malam Jum’at. Setelah percakapan panjang selama dua jam itu, Kiaji memberi saran agar supaya Nya cepat-cepat dinikahkan. Nya sudah dewasa. Umurnya sudah 25 tahun. Akan menjadi fitnah jika anak seusianya belum juga bertunangan.
            Di desa Nya, akan aneh memang kalau perempuan seusia itu belum menikah. Bayangkan, anak dengan usia dua belas tahun sudah dinikahkan. Bahkan sejak baru lahir biasanya sudah ditunangkan. Semua dilakukan agar menghindari fitnah. Hanya berbeda dengan Nya. Seorang perempuan yang selalu menolak untuk dijodohkan. Dia selalu berkata kepada orang tuanya akan memilih orang yang tepat dulu. Sebenarnya, adalah Hujan orang itu.
            Nya yang mendengar perkataan Kiaji, wajahnya tersungkur di atas meja bersama tumpukan novel. Kalimat itu sangat menikam. Bukan hanya untuk Nya saja. Juga bagi seluruh keluarga Nya terkena imbas. Dianggap wanita tidak laku. Atau hanya lepele bukkol, dibudina teppak ka se bhingkol1. Demikian akan sangat membuat batin ngilu. Pastilah esok pagi akan ada pembicaraan serius dalam keluarga. Pembicaraan terkait seorang gadis yang mahal dipinang laki-laki. Nya pasrah dengan doa.
            Hujan, kapan engkau akan benar-benar hadir untuk gadismu? Batin Nya.
            Matahari menyingkap embun di pucuk rerumputan. Pagi sempurna tiba. Kutilang berlarian hinggap dari dahan ke dahan. Para petani sudah siap-siap menuju ladang. Mencari rumput untuk makan sapi atau apa saja yang tidak diketahui. Sementara Nya tangannya sudah sibuk mempersiapkan sarapan pagi di dapur. Ia sudah terbiasa membantu ibunya. Dan sang Ayah, duduk manis di kursi bambu. Di beranda rumah. Seperti biasa, ia ditemani kopi dan rokok lintingan. Tatapannya kosong. Gurat wajahnya seperti menyimpan gelisah yang menggunung. Jauh di belukar rimba di depan rumah. Ayah Nya terus menatap tidak berkedip.
            “Duduk Nya. Ayah ingin bicara.” Suaranya takzim. Dan Nya duduk tanpa sedikit terbeban. Patuh kepada perintah sang Ayah. Mereka mengawali pagi dengan pembicaraan yang cukup serius. Ayah Nya menyampaikan keluhan Kiaji. Sebagai tokoh masyarakat yang dipatuhi banyak orang. Kiaji bisanya kalau bicara selalu dituruti. Dan Ayah Nya dilema saat itu juga. Bagaimana tidak, sedang Nya tidak setujuh jika masih mau dijodohkan. Ia tetap kokoh untuk mempertahankan perasaannya kepada Hujan. Seorang laki-laki yang hanya bisa hadir di dalam mimpinya. Perjumpaan dengannya pun hanya di dalam mimpi saja.
            Namun meski sekedar mimpi. Nya cukup yakin bahwa Hujan memang benar ada di dunia nyata. Dia adalah laki-laki yang akan menemuinya. Hanya saja Nya masih belum tahu kapan dia akan bertemu dengan Hujan. Penjelasan Nya tentang laki-laki yang ditungguinya, menyulut bara amarah sang Ayah. Hujan hanya mimpi. Ayah Nya bilang, kalau itu adalah setan yang sedang mengganggu dirinya.
***
            Waktu kaku menyapa.  Matahari merayap di atas langit biru yang cerah. Desau angin terus berbisik pada riak lambai janur kelapa yang bergesekan. Penjelmaan kekasih di dalam mimpi adalah alasan kenapa Nya tidak mau berjodoh denga laki-laki lain. Dia akan tetap menahan kuat perasaan itu, sampai mimpi sungguh menjelma nyata.
            Tengadah doa Nya terus menggiring setiap waktu ibadahnya. Tuhan memiliki seribu cara untuk memberi kebahagiaan pada hambanya yang benar mengharapkan. Itu keyakinan yang Nya tetap pegang sejauh ini. Pastilah ada bahagia yang akan membuat atau setidaknya sesuai dengan apa yang diimpikan.
            Kepercayaan Nya kepada lelaki bernama Hujan memang lebih dari pada kepercayaan laki-laki yang sudah jelas ada di dunia nyata. Bukan dunia mimpi. Ribuan puisi berdiksi Hujan. Ia akan menulis sejauh mungkin tentang jatuh cintanya kepada Hujan selagi tetap memiliki ruang di hatinya. Sebelum ia benar dinikahkan dengan laki-laki desa yang lain. Setidaknya, Nya sudah sungguh mengagumi Hujan. Akan ia buktikan kelak jika sosok Hujan sungguh hadir, bahwa hatinya penuh harap kepadanya. Bahwa dahulu doa selalu terpanjat baginya. Jiwanya selalu berharap kehadirannya.
            Nya seperti biasa. Setelah urusan rumah selesai, ia akan menulis. Nya akan mengunjungi tempat menulisnya di atas jembatan bambu kring yang membentang di atas aliran sungai. Di tempat itulah segala pengharapan Nya menggantung. Pada sejuk yang tidak terkalahkan panas kemarau. Pada rerimbun pohon bambu yang tinggi-tinngi. Ngaroek ketika angin menyambar, membuat batang-batang itu bergesek. Bahkan suara burung-burung yang saling bersahutan. Orkestra alam telah membuat imajinasi Nya liar menelanjangi perasaan kepada laki-laki bernama Hujan−yang dipujanya selama ini.
            Kertas demi kertas sudah hampir tuntas. Tinta pena Nya terus terkelupas, melahirkan kisah yang tidak mau jua lepas−menjelmakan rindu yang tak tuntas. Nya selalu dihadiri sosok Hujan dalam mimpinya. Timangan cinta dan kasih sayang itu yang membuat Nya merasa nyaman. Walau sekedar mimpi.
            Seperti mimpinya tadi malam. Hujan hadir dengan membawa bunga mawar. Memakai peci hitam dan baju putih. Memberikan bunga mawar berwarna biru kepada Nya. Senyum lelaki itu memang tajam. Sampai pada terakhir perpisahan di dalam mimpi, Nya cukup sedih ketika hendak berpisah dengan senyum itu.
            Entah di mana keberadaan Hujan sebenarnya. Nya selalu bertanya lewat doa. Bahkan di dalam mimpi, Nya juga sempat menanyakan tempat tinggal Hujan. Jawaban laki-laki itu mengatakan tidak jauh dari rumah Nya. Tapi, sungguh, kalau hanya di desa Nya sendiri hampir semua laki-laki ia tahu. Namun, tidak ada yang sama wajahnya seperti Hujan. Putih. Bersih. Ketampanannya tidak dapat ditanding dengan bintang film di televisi sekalipun.
            Ranting berguguran. Musim akan segera berakhir. Akan berganti musim yang baru. Kini wanita kembang desa itu sudah mulai memasrah bahagia seyakin mungkin. Keyakinan yang akan membuatnya tersanjung ribuan bunga bahagia, kelak. Hanya saja pengharapan kepada Hujan, tetap tidak pasrah begitu saja. Meski hanya dalam puisi.
***
            Hari ini akan ada yang merubah bau tanah. Padi akan segera berpindah dari sawah ke lumbung penyimpanan petani. Sawah akan lengang sementara. Ia akan sangat merasa kesepian tanpa tanaman yang menemani. Semua akan berubah. Termasuk aktivitas menulis. Orang tua Nya mulai berfikir untuk mencari calon menantu yang sekiranya baik untuk anaknya. Mereka sudah tidak kuat dengan kicau bibir masyarakat yang menggunjing keluarganya. Entah apa yang akan terjadi pada hati Nya, jika demikian sungguh terjadi.
            Gurat wajah Nya sudah mulai berubah. Menyimbolkan duka karena sikap tegas sang Ayah. Dia sangat tidak mau kehilangan Hujan. Dia masih ingin menunggu Hujan. Samapai kapanpun waktu tibanya. Keyakinan akan kehadiran laki-laki dalam mimpinya mengalahkan apa saja yang meyakin jelas di hadapannya.
            Ia tidak akan mungkin bisa berbuat lebih terhadap apa yang akan digariskan hidup. Sebagai kemampuan yang terakhir, Nya akan menulis surat kepada Hujan. Hanya saja Nya tidak tahu kepada siapa ia harus memberikan surat itu. Sejauh ini yang bisa mengerti hatinya hanya aliran air sungai dan puisi-puisi itu.
“Tersayangku Hujan...! Sepanjang jalan pengharapan ini beralur. Tapak rindu akan selalu menuntun ku tanpa lelah. Engkau, jauh di palung hati terdalam, akan tetap tenggelam sebagai cinta yang ku ucap pada sunyi. Walau aku tahu, engkau hanya lelaki yang mengapusi kesendirian ketika malam menyergap. Dan hadir mu yang sebatas mimpi, setidaknya telah banyak menyanjung hati lebih dari indah.
Hujan, dari hati gurun ini aku memanjat doa yang terus tinggi. Mendaki tiada peduli terjal belukar menghambat menjelma lelah. Tuhan memberikan aku malaikat pengangkis resah. Menjelmakan dirimu sebagai manusia, aku telah bersyukur, setidaknya hutan yang kering dengan dedaunan tidak terbakar asmara sepanjang hari. Demikian indah saat semua gerah kau redam, kau sudahi, walau sekadar bayang yang semu.
Laki-lakiku Hujan, diam tak bergeming adalah kelakuan hati yang bingung menyibak peta yang harus aku langkahi untuk mencarimu. Andai di antara jengkal kejadian kau tunjukkan di mana engkau menetap, mengitari benua pun, akan aku temui dirimu. Sungguh, engkau telah banyak menyita lelah ini, Hujan. Dan jangan pernah kau fikir bahwa aku adalah gadis yang akan mudah menyerah, mengangkat tangan. Karena sebesar apapun putus asa hadir, dan setuntas apapun semangat terkuras, semua itu tidak akan mampu mencuilkan keinginan hati untuk menemui dirimu, kasih.
Demi kekuasaan Tuhan sejagad raya, aku berjanji, selagi air mampu mengalir, selagi udara tetap mendesis, dalam ketidak pastian ini aku akan  menjadi gadis yang siap menjadi pendamping hidupmu. Aku akan tetap menjadi aku yang pernah terjanjikan dalam mimpi, sebagaimana awal kau menyemai cinta. Aku akan selalu seperti gadis yang pertama engkau jumpai di pelataran khayal.
Beginikah resah kerinduan yang kau buat dengan doa-doa keinginan mu di seberang jauh sana?
Tolonglah kekasihku Hujan, yang jauh dari pandang mata, yang tak teraba kulit tangan, dengar jerit ini. Yang terus mengaung memanggil pergantungan jiwa. Yang tidak usai menuliskan indah sosok dirimu. Jangan usaikan kisah kita dengan sikap dinginmu yang pasrah menyerahkan diri ini begitu saja kepada para lelaki yang tidak aku cintai. Aku menantimu tanpa henti.. Hadirlah sebagai kenyataan, agar ketidak pastian kita tertawakan berdua di pelaminan.
Nya, kekasih dalam mimpi.”
            Begitulah surat terakhir yang Nya tulis dan terhanyut bersama deras air sungai beralir. Kristal di matanya sebagai bukti kecanduan rindu atas yang dinanti. Kepercayaan akan semua hal indah, walau sekedar bermimpi. Menghanyut ke muara entah.

Jogjakarta 2015

Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996.
CATATAN: 1. Falsafah Madura yang diperuntukkan kepada seseorang yang suka memilah-milih jodoh, akhirnya akan mendapatkan yang tidak sempurna.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.