Oleh: Wardi
“Bagaimana aku akan mengatakannya, kalau ini
adalah rasa sayang kepada mu.....?”
Kalimat
itu terpotong kenangan dua tahun lalu. Menyudahi semua cinta yang bertengger
sebagai duka dengan resah yang tidak terbawa pulang senja. Matahari sempurna
menemani siang. Panasnya menawarkan gelasan haus untuk semua yang masih
menunggu. Ya, ia yang menunggu dalam setiap jengkal detik waktu. Wajah kebas
hari melambai menghapus langit kotor. Ranting tua pepohonan tak kunjung
terjatuh. Gadis itu menatapi semua yang tersisa dalam kerinduan kerontang tegalan
pada setetes hujan. Tubuhnya telah begitu kering dan keras-kurus.
Jalanan
semakin sempurna bersih dari rerumputan. Selalu dipijaki kakinya yang beralas
sandal jepit. Nya menuju tempat biasa, dimana ia menuangkan gelisah dalam
tulisan. Sungai yang mengalirkan air jernih. Batu-batu kecil indah yang tertata
memanjang indah dilihat dari permukaan. Di atas jembatan bambu kering Nya
menulis. Kertas kusam yang ia bawa berbahasa rindu.
Bergetar
tangan Nya untuk menuntaskan gelisah terbungkus tanda resah. Kebingungan
serentak merajai jiwa wanita itu. Ia bahkan kehabisan kalimat untuk memulai
bahasa dari mana. Andai ada Hujan di sisinya, pastilah ia akan merebahkan penat
di bahunya yang kekar. Menunggu matahari hilang di pematang senja. Melarut naik
bersama malam yang bertabur bintang-gemintang. Tapi, itu sesuatu yang rahasia
sekali.
Bagi
Nya, menyayangi adalah menerima. Apapun yang akan ia dapat setelah
pengagumannya kepada Hujan, selalu terbahasa dengan pasrah. Pasrah atas segala
pencapaian. Pasrah jika harus kesedihan yang akan membawanya terhanyut bersama
aliran sungai. Hujan adalah lelaki yang mulai ia ceritakan pada puisinya sejak
dua tahun lalu. Hanya saja, sebagai seorang wanita, Nya tidak mungkin menawarkan
terlebih dahulu, bukan?
Nya hanya
dapat menyaksikan aktivitas Hujan menyirami bunga di kebun miliknya dari
jendela rumah. Begitulah mimpi pertama yang menjelma. Meredam rasa selama dua
tahun, melebihi pahit menelan empedu. Ingin rasanya ia menyentuh getar bibirnya
dengan bahasa puisi. Menyuratinya dengan setangkai mawar merah. Tapi Nya sadar,
dia adalah wanita. Pada adat yang kental di desanya, tentulah Nya akan
menyandang cerca dari mulut kampung.
Jam di
pergelangan tangan Nya menunjukkan waktu senja. Ia harus segera beranjak dari
jembatan bambu kering yang membentang di atas sungai tempat Nya menulis.
***
Malam
terus naik. Isya’ lepas. Bintang sempurna bertabur di hamparan langit gelap.
Bulan sabit menggantung. Aktivitas makan malam bersama keluarga baru saja usai.
Nya membuka lembar demi lembar novel yang sudah tuntas dibacanya. Lembaran
kertas yang disentuh bosan tangannya menghentikan sejenak laju waktu, saat
suara di beranda rumah terdengar dengan percakapan serius. Nya menguping dari
kamarnya. Mencoba memaknai jelas suara Ayahnya yang samar-samar tiba di ruang
kamarnya.
Bagai
tersambar petir. Ayah Nya baru saja menjamu tamu tokoh masyarakat. Kiaji. Kiaji
adalah kiai yang dipercaya sebagai tokoh masyarakat sebagai kiai kampung.
Setiap malam Jum’at Kiaji akan selalu diundang ke rumah-rumah warga untuk
mengaji Yasin. Tapi kedatangan Kiaji kerumah Nya malam itu bukan malam Jum’at.
Setelah percakapan panjang selama dua jam itu, Kiaji memberi saran agar supaya
Nya cepat-cepat dinikahkan. Nya sudah dewasa. Umurnya sudah 25 tahun. Akan
menjadi fitnah jika anak seusianya belum juga bertunangan.
Di desa
Nya, akan aneh memang kalau perempuan seusia itu belum menikah. Bayangkan, anak
dengan usia dua belas tahun sudah dinikahkan. Bahkan sejak baru lahir biasanya
sudah ditunangkan. Semua dilakukan agar menghindari fitnah. Hanya berbeda
dengan Nya. Seorang perempuan yang selalu menolak untuk dijodohkan. Dia selalu
berkata kepada orang tuanya akan memilih orang yang tepat dulu. Sebenarnya,
adalah Hujan orang itu.
Nya yang
mendengar perkataan Kiaji, wajahnya tersungkur di atas meja bersama tumpukan
novel. Kalimat itu sangat menikam. Bukan hanya untuk Nya saja. Juga bagi
seluruh keluarga Nya terkena imbas. Dianggap wanita tidak laku. Atau hanya lepele bukkol, dibudina teppak ka se bhingkol1.
Demikian akan sangat membuat batin ngilu. Pastilah esok pagi akan ada
pembicaraan serius dalam keluarga. Pembicaraan terkait seorang gadis yang mahal
dipinang laki-laki. Nya pasrah dengan doa.
Hujan, kapan engkau akan benar-benar hadir
untuk gadismu? Batin Nya.
Matahari
menyingkap embun di pucuk rerumputan. Pagi sempurna tiba. Kutilang berlarian
hinggap dari dahan ke dahan. Para petani sudah siap-siap menuju ladang. Mencari
rumput untuk makan sapi atau apa saja yang tidak diketahui. Sementara Nya
tangannya sudah sibuk mempersiapkan sarapan pagi di dapur. Ia sudah terbiasa
membantu ibunya. Dan sang Ayah, duduk manis di kursi bambu. Di beranda rumah.
Seperti biasa, ia ditemani kopi dan rokok lintingan. Tatapannya kosong. Gurat
wajahnya seperti menyimpan gelisah yang menggunung. Jauh di belukar rimba di
depan rumah. Ayah Nya terus menatap tidak berkedip.
“Duduk
Nya. Ayah ingin bicara.” Suaranya takzim. Dan Nya duduk tanpa sedikit terbeban.
Patuh kepada perintah sang Ayah. Mereka mengawali pagi dengan pembicaraan yang
cukup serius. Ayah Nya menyampaikan keluhan Kiaji. Sebagai tokoh masyarakat
yang dipatuhi banyak orang. Kiaji bisanya kalau bicara selalu dituruti. Dan
Ayah Nya dilema saat itu juga. Bagaimana tidak, sedang Nya tidak setujuh jika
masih mau dijodohkan. Ia tetap kokoh untuk mempertahankan perasaannya kepada
Hujan. Seorang laki-laki yang hanya bisa hadir di dalam mimpinya. Perjumpaan
dengannya pun hanya di dalam mimpi saja.
Namun
meski sekedar mimpi. Nya cukup yakin bahwa Hujan memang benar ada di dunia
nyata. Dia adalah laki-laki yang akan menemuinya. Hanya saja Nya masih belum tahu
kapan dia akan bertemu dengan Hujan. Penjelasan Nya tentang laki-laki yang
ditungguinya, menyulut bara amarah sang Ayah. Hujan hanya mimpi. Ayah Nya
bilang, kalau itu adalah setan yang sedang mengganggu dirinya.
***
Waktu
kaku menyapa. Matahari merayap di atas
langit biru yang cerah. Desau angin terus berbisik pada riak lambai janur
kelapa yang bergesekan. Penjelmaan kekasih di dalam mimpi adalah alasan kenapa
Nya tidak mau berjodoh denga laki-laki lain. Dia akan tetap menahan kuat
perasaan itu, sampai mimpi sungguh menjelma nyata.
Tengadah
doa Nya terus menggiring setiap waktu ibadahnya. Tuhan memiliki seribu cara
untuk memberi kebahagiaan pada hambanya yang benar mengharapkan. Itu keyakinan
yang Nya tetap pegang sejauh ini. Pastilah ada bahagia yang akan membuat atau
setidaknya sesuai dengan apa yang diimpikan.
Kepercayaan
Nya kepada lelaki bernama Hujan memang lebih dari pada kepercayaan laki-laki
yang sudah jelas ada di dunia nyata. Bukan dunia mimpi. Ribuan puisi berdiksi
Hujan. Ia akan menulis sejauh mungkin tentang jatuh cintanya kepada Hujan
selagi tetap memiliki ruang di hatinya. Sebelum ia benar dinikahkan dengan
laki-laki desa yang lain. Setidaknya, Nya sudah sungguh mengagumi Hujan. Akan
ia buktikan kelak jika sosok Hujan sungguh hadir, bahwa hatinya penuh harap
kepadanya. Bahwa dahulu doa selalu terpanjat baginya. Jiwanya selalu berharap
kehadirannya.
Nya
seperti biasa. Setelah urusan rumah selesai, ia akan menulis. Nya akan
mengunjungi tempat menulisnya di atas jembatan bambu kring yang membentang di
atas aliran sungai. Di tempat itulah segala pengharapan Nya menggantung. Pada
sejuk yang tidak terkalahkan panas kemarau. Pada rerimbun pohon bambu yang
tinggi-tinngi. Ngaroek ketika angin menyambar, membuat batang-batang itu
bergesek. Bahkan suara burung-burung yang saling bersahutan. Orkestra alam
telah membuat imajinasi Nya liar menelanjangi perasaan kepada laki-laki bernama
Hujan−yang dipujanya selama ini.
Kertas
demi kertas sudah hampir tuntas. Tinta pena Nya terus terkelupas, melahirkan
kisah yang tidak mau jua lepas−menjelmakan rindu yang tak tuntas. Nya selalu
dihadiri sosok Hujan dalam mimpinya. Timangan cinta dan kasih sayang itu yang
membuat Nya merasa nyaman. Walau sekedar mimpi.
Seperti
mimpinya tadi malam. Hujan hadir dengan membawa bunga mawar. Memakai peci hitam
dan baju putih. Memberikan bunga mawar berwarna biru kepada Nya. Senyum lelaki
itu memang tajam. Sampai pada terakhir perpisahan di dalam mimpi, Nya cukup
sedih ketika hendak berpisah dengan senyum itu.
Entah di
mana keberadaan Hujan sebenarnya. Nya selalu bertanya lewat doa. Bahkan di
dalam mimpi, Nya juga sempat menanyakan tempat tinggal Hujan. Jawaban laki-laki
itu mengatakan tidak jauh dari rumah Nya. Tapi, sungguh, kalau hanya di desa
Nya sendiri hampir semua laki-laki ia tahu. Namun, tidak ada yang sama wajahnya
seperti Hujan. Putih. Bersih. Ketampanannya tidak dapat ditanding dengan
bintang film di televisi sekalipun.
Ranting
berguguran. Musim akan segera berakhir. Akan berganti musim yang baru. Kini
wanita kembang desa itu sudah mulai memasrah bahagia seyakin mungkin. Keyakinan
yang akan membuatnya tersanjung ribuan bunga bahagia, kelak. Hanya saja
pengharapan kepada Hujan, tetap tidak pasrah begitu saja. Meski hanya dalam
puisi.
***
Hari ini
akan ada yang merubah bau tanah. Padi akan segera berpindah dari sawah ke
lumbung penyimpanan petani. Sawah akan lengang sementara. Ia akan sangat merasa
kesepian tanpa tanaman yang menemani. Semua akan berubah. Termasuk aktivitas
menulis. Orang tua Nya mulai berfikir untuk mencari calon menantu yang
sekiranya baik untuk anaknya. Mereka sudah tidak kuat dengan kicau bibir
masyarakat yang menggunjing keluarganya. Entah apa yang akan terjadi pada hati
Nya, jika demikian sungguh terjadi.
Gurat
wajah Nya sudah mulai berubah. Menyimbolkan duka karena sikap tegas sang Ayah.
Dia sangat tidak mau kehilangan Hujan. Dia masih ingin menunggu Hujan. Samapai
kapanpun waktu tibanya. Keyakinan akan kehadiran laki-laki dalam mimpinya
mengalahkan apa saja yang meyakin jelas di hadapannya.
Ia tidak
akan mungkin bisa berbuat lebih terhadap apa yang akan digariskan hidup.
Sebagai kemampuan yang terakhir, Nya akan menulis surat kepada Hujan. Hanya
saja Nya tidak tahu kepada siapa ia harus memberikan surat itu. Sejauh ini yang
bisa mengerti hatinya hanya aliran air sungai dan puisi-puisi itu.
“Tersayangku
Hujan...! Sepanjang jalan pengharapan ini beralur. Tapak rindu akan selalu menuntun
ku tanpa lelah. Engkau, jauh di palung hati terdalam, akan tetap tenggelam
sebagai cinta yang ku ucap pada sunyi. Walau aku tahu, engkau hanya lelaki yang
mengapusi kesendirian ketika malam menyergap. Dan hadir mu yang sebatas mimpi,
setidaknya telah banyak menyanjung hati lebih dari indah.
Hujan, dari
hati gurun ini aku memanjat doa yang terus tinggi. Mendaki tiada peduli terjal
belukar menghambat menjelma lelah. Tuhan memberikan aku malaikat pengangkis
resah. Menjelmakan dirimu sebagai manusia, aku telah bersyukur, setidaknya
hutan yang kering dengan dedaunan tidak terbakar asmara sepanjang hari.
Demikian indah saat semua gerah kau redam, kau sudahi, walau sekadar bayang
yang semu.
Laki-lakiku
Hujan, diam tak bergeming adalah kelakuan hati yang bingung menyibak peta yang
harus aku langkahi untuk mencarimu. Andai di antara jengkal kejadian kau tunjukkan
di mana engkau menetap, mengitari benua pun, akan aku temui dirimu. Sungguh,
engkau telah banyak menyita lelah ini, Hujan. Dan jangan pernah kau fikir bahwa
aku adalah gadis yang akan mudah menyerah, mengangkat tangan. Karena sebesar
apapun putus asa hadir, dan setuntas apapun semangat terkuras, semua itu tidak
akan mampu mencuilkan keinginan hati untuk menemui dirimu, kasih.
Demi kekuasaan
Tuhan sejagad raya, aku berjanji, selagi air mampu mengalir, selagi udara tetap
mendesis, dalam ketidak pastian ini aku akan
menjadi gadis yang siap menjadi pendamping hidupmu. Aku akan tetap menjadi
aku yang pernah terjanjikan dalam mimpi, sebagaimana awal kau menyemai cinta.
Aku akan selalu seperti gadis yang pertama engkau jumpai di pelataran khayal.
Beginikah
resah kerinduan yang kau buat dengan doa-doa keinginan mu di seberang jauh
sana?
Tolonglah
kekasihku Hujan, yang jauh dari pandang mata, yang tak teraba kulit tangan, dengar
jerit ini. Yang terus mengaung memanggil pergantungan jiwa. Yang tidak usai
menuliskan indah sosok dirimu. Jangan usaikan kisah kita dengan sikap dinginmu
yang pasrah menyerahkan diri ini begitu saja kepada para lelaki yang tidak aku
cintai. Aku menantimu tanpa henti.. Hadirlah sebagai kenyataan, agar ketidak
pastian kita tertawakan berdua di pelaminan.
Nya, kekasih
dalam mimpi.”
Begitulah surat terakhir yang Nya tulis
dan terhanyut bersama deras air sungai beralir. Kristal di matanya sebagai
bukti kecanduan rindu atas yang dinanti. Kepercayaan akan semua hal indah,
walau sekedar bermimpi. Menghanyut ke muara entah.
Jogjakarta
2015
Wardi,
lahir di Batang-batang Sumenep 1996.
CATATAN:
1. Falsafah Madura yang diperuntukkan kepada seseorang yang suka memilah-milih
jodoh, akhirnya akan mendapatkan yang tidak sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.