Saat ini di daerahku dilanda penyakit harta yang
mengakibatkan banyak terjadi penjualan tanah. Mesin-mesin tak berperasaan asik
mencakar sawah-sawah yang sudah menjadi milik investor, yang dulu tempat padi
menguning. Para warga hanya menjadi penonton yang gratis tanpa karcis. Menyaksikan
kontraktor menanam benih gedung-gedung dan bangunan pabrik. Aku berfikir, tidak
lama lagi desaku akan menjadi kota yang serba bangunan. Sepertinya daerah pesisir
pantai, dan pebukitan seperti desaku, menjadi gula lezat yang lumayan mampu
menarik semut-semut serupa investor asing. Mereka membeli tanah dengan harga
yang cukup mahal, asal bersertifikat, berapapun harganya akan disikat.
Aku yang
hidup di wilayah timur Kabupaten Sumenep, di mana banyak terdapat jajaran
pantai yang indah. Dan pelabuhan Dungkek yang katanya potensial sekali untuk
dijadikan pelabuhan nasional, pun hendak digarap. Selain posisi Kecamatan
Dungkek yang menjadi pelabuhan kecil saat ini, Dungkek memang bisa dianggap
dekat dengan pulau-pulau seperti Bali, Sulawesi, Kalimantan dan lain-lainnya.
Hampir seluruh areal persawahan warga sudah terjual. Dari pesisir pantai di
Kecamatan Gapura, Kecamatan Dungkek, Kecamatan Batang-Batang, Kecamatan Batuputih,
sampai kecamatan Ambunten yang memiliki pantai yang indah dan aset tambang
pasir yang melimpah.
Banyak
yang berpendapat, katanya hal demikian terjadi karena jembatan Suramadu yang
menghubugkan Surabaya dan Madura. Jembatan Suramadu yang dana pembangunanya dibantu
cina atau berhutang kepada Cina, menjadi penyebab ramainya investor asing dari
Cina yang masuk ke wilayah Madura, wilayah pesisir timur Sumenep khususnya.
Ada juga
yang bilang, itu karena persoalan ekonomi masyarakat yang sedang carut marut.
Tidak dapat dipungkiri memang, banyak tetanggaku yang merantau ke Jakarta, ke
Malaysia, bahkan ada yang ke Arab Saudi, adalah penyebab dijualnya tanah-tanah.
Mereka yang meninggalkan kampung halaman, meninggalkan lahan persawahan,
sehingga rasa memiliki atas tanah sendiri pun mengurang sebagai aktor penentu
sirkulasi sosial kehidupan selanjutnya.
Sedang
suara lain mengatakan tentang akibat maraknya penjualan tanah tak berperasaan
itu disebabkan oleh digratiskannya Pajak Bumi dan Bangunan yang menjadi program
Pemerintah Daerah. Selama lima tahun terakhir, masyarakat Sumenep memang dibuat
lupa terhadap tanahnya dengan lahirnya kebijakan Pemerintah Daerah yang
menggratiskan pajak Bumi dan Bangunan. Entahlah.
Padahal
aku masih ingat dulu waktu Kakek mewasiatkan tanah sangkol (tanah warisan/tanah tuah) kepada Bapak di atas langgar.
Saat itu Kakek bilang bahwa tanah sangkol
itu tidak boleh diperjual-belikan. Tanah sangkol harus dijaga sebagaimana
mestinya. Tapi akhir-akhir ini, kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal
tersebut sudah melemah. Yang penting melihat lipatan uang yang tebal, tanah sangkol
pun dijual.
Kakek
juga menambahkan, bahwa menjaga tanah itu sama seperti menjaga kehidupan anak
keturunannya. Kesakralan tanah memang seharunya sungguh-sungguh dijaga, jangan
sampai dikuasai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan pada dahulunya
jika tanah mau dijual, biasanya dijual ke sesama famili. Karena akan lebih mudah
jika hendak membelinya lagi dikemudian hari. Tapi lagi-lagi hal tersebut sudah
tidak lagi aku kenali dari masyarakat saat ini.
Hanya
Bapak yang terus kuat mempertahankan tanah miliknya. Ia tidak pernah tergoda
dengan lipatan tebal rupiah merah membiru. Bapak selalu kuat mempertahankan
tanah milikya untuk tidak jatuh kepada orang yang tidak jelas, meski dalam
himpitan ekonomi seperti apapun. Keluargaku bukan keluarga yang mewah.
Kehidupan yang sederhana tidak pernah tergiur dengan iming-iming berlebihan,
apalagi soal kekayaan seperti yang ditawarkan Seima kemarin sore pada Bapak.
Sepetak
sawah di pebukitan desaku mau dibeli oleh Seima. Hampir semua tanah yang ada di
sekitar sawah Bapak sudah dibeli oleh sang bos dari Seima. Tepatnya Seima
posisinya sebagai pangelar saja, orang yang punya uang sekaligus punya
kepentingan itu adalah orang Cina, namanya Juhing. Juhing itulah yang
menginginkan seluruh sawah di pebukitan Desa Tamidung. Sudah hampir semua sawah
yang terjual di sekeliling sawah Bapak. Maka jika sawah Bapak tidak dijual,
tentu akan menjadi pengganggu terhadap pembangunan yang telah direncanakan
Juhing.
Bapak
mempertahankan tanahnya bukan karena apa, ia tidak mau kelak dibangun bangungan
yang tidak bermoral Islam. Tidak Bapak yang merasakan, anak cucu Bapak yang
merasakan. Mujur kalau-kalau sawah itu tidak dibangun bangunan prostitusi. Tapi
kalau sampai demikian bertolak belakang, otomatis budaya Islam yang masih
kental tertanam di tatanan sosial masyarakat akan terpental. Bapak merasa bertanggung
jawab dalam hal seperti itu. Maka sekuat apapun Seima menggoda Bapak, ia masih
tetap dalam pendiriannya.
Matahari
menyiram lembut pohon-pohon. Embun pagi yang terbang perlahan menyudahi
cengkerama dengan pucuk-pucuk. Aktivitas para petani mulai ramai mengunjungi
sisa sawah miliknya hanya tersisa beberapa petak. Aku masih ingat bagaimana
hutan di kaki bukit Tolobang. Untuk masuk ke dalam tubuh hutan, perlu
mengibas-ngibas rimba yang menghalangi jalan dan tubuh. Tapi sekarang sudah
sirna lapang sebagaimana lapangan sepak bola. Dulu sarang burung ulat
bergelantungan di ranting pepohonan. Kini berganti sedih yang bergantung
melihat bukit Tolobang yang sudah tidak rindang.
Pagi
masih tidak jauh beranjak. Aku takzim menatap batu hitam yang duduk di atas
ketinggian bukit tanpa gerak. Matahari sempurna memanfaatkan celah
lubang-lubangnya. Kutilang dan burung ulat bersahutan di antara dahan yang
tersisa satu dua. Di luar, aku mendengar suara Bapak dan Emak yang tampak
berdiskusi. Ya, itu soal tanah persawahan di kaki bukit Tolobang yang masih
belum sudi Bapak menjualnya.
“Saya
cuman takut akan terjadi sesuatu kepada Bapak jika tetap mempertahankan tanah kita.”
“Emak
tenang aja, Bapak itu sudah siap apapun konsekuensinya. Sawah itu milik kita
kok..!” Jawab Bapak kepada Emak seperti tidak ada beban yang tersimpan di
wajahnya yang berlipat karena usia.
Emak
mungkin yang kenal siapa Juhing, tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Bapak.
Tetapi Bapak, dia juga orang yang tidak mudah dilemahkan. Meski Bapak tidak
pernah mengenyam pendidikan formal, hanya keluaran pesantren Salafiah, ia tidak
pernah kalah ketika berdiplomasi. Berdiplomasi dengan tokoh-tokoh masyarakat
adalah kebiasaan Bapak. Setiap katanya-katanya dianggap tuah yang kerap
diangguk oleh sekalian masyarakat Desa Tamidung.
Sikap
Juhing, orang keturunan Cina yang tapi telah berumah di kecamatan sebelah sejak
puluhan tahun lalu, cukup dikenali oleh banyak orang. Selain dia terkenal kaya,
Juhing juga sebagai seorang rentenir yang cakap. Ia memberi hutangan gabah
kepada masyarakat yang memiliki sawah namun tak punya benih, tapi nanti
bayarnya harus dengan beras yang wajib dilebihi lima puluh kilo dari gabah yang
dihutangkannya. Juhing menganggap hal demikian halal. Sementara masyarakat yang
dalam posisi terhimpit perekonomian, akan menghampiri Juhing secara otomatis.
Juhing
memang berbeda dengan dua saudaranya yang sosialis itu. Sang Min yang bukan
muslim, tapi sering membagi kebaikan dengan mengatasnamakan infaq, beda jauh
dengan Juhing. Entah bagaimana cara Bapak akan menghadapi rentenir itu.
Setelah
harapan Juhing dan Seima tanggal karena Bapak tetap tidak mau menjual tanahnya,
maka segala cara ia lakukan untuk membuat Bapak merelakan sawahnya dijual
kepadanya. Kemarin Seima menawarkan pinjaman uang kepada Bapak. Karena Seima
tahu Bapak sedang butuh uang untuk mengobati Nenek yang sedang sakit. Lagi-lagi
Bapak masih tetap tidak menerima uang dari Seima. Aku kagum kepada Bapak.
Ditengah ramainya warga menjual sawah dan ladangnya, Bapak sendiri malah tidak
sudi jika tanah jatuh kepada tangan orang yang dianggapnya tidak baik. Bagi
bapak tanah itu tak ubahnya kaca, porselen, dan nama baik. Ia adalah sesuatu
yang tidak boleh sembarangan dijatuhkan, karena sekali saja pecah, dan tak akan
dapat direkatkan kembali tanpa bekas yang menutupinya. Setidaknya harus
hati-hati menjual tanah, begitulah maksud Bapak.
Bulan
merayap di atas bubungan rumah. Cahayanya purnama kurang sedikit untuk
sempurna. Di luar hujan sudah beberapa hari tak lagi membasahi keringnya bumi
Tamidung. Mungkin sungkan untuk bertegur lagi dengan orang-orang atau
mesin-mesin tak berperasaan itu yang mencakar beringas sawah-sawah. Atau juga,
mungkin karena langit angkuh, hingga enggan melepas hujan di genggamannya yang
erat. Tapi apapun itu yang menjadi penghias malam, tidak pernah membuat Bapak
jengah untuk tidak keluar menunggui padi di sawah yang sudah hendak menguning.
Karena kalau tidak dijaga, ia bisa habis dimakan tikus.
“Lie,
kamu ikut Bapak malam ini.” Suara Bapak menggelenggung memanggilku yang duduk
di kursi bambu dekat pintu. Malam itu aku bersama Bapak ke sawah. Ini sudah
biasa aku lakukan untuk menemani Bapak bermalam di sawah. Jarak sawah tidak
terlalu jauh, berkisar tiga ratus meter dari rumah. Cerek kecil yang berisi
kopi, dan kalobut yang siap dihisap, menyatu dalam timba daun siwalan yang
sudah kering yang Bapak anyam menjadi Bajut Rakara. Bajut Rakara itu seperti
tas yang dapat meringankan barang bawaan.
Celurit
yang terselip di pinggang Bapak, nampak menonjol dilihat dari luar bajunya.
Bapak biasa kalau keluar malam membawa celurit. Bagi orang Madura laki-laki
ibarat ayam jantan yang harus berjalu. Artinya laki-laki harus membawa senjata
tajam untuk menjaga diri. Di tengah perjalanan menuju sawah, pas di bawah pohon
asam yang daunnya lebat, satu laki-laki menghadang jalan Bapak. Laki-laki itu
menutupi wajahnya dengan sarung. Yang terlihat hanya matanya saja. Bapak
mengarahkan tangannya ke belakang meminta aku menjauh.
“Siapa
kamu? Apa maumu?” Suara Bapak yang besar tiba-tiba memecah hening malam.
“Jangan
banyak tanya kamu Omar. Kamu terlalu angkuh, seberapa besar kekuatanmu hah?”
Suara laki bertopeng sarung itu tak kala keras dan besar.
“Memang
kenapa? Aku tidak punya urusan denganmu. Jangan mengganggu aku.”
“Akan ku
bunuh kamu malam ini. Akan tamat riwayatmu malam ini.”
Kemudian
laki-laki yang berada di hadapan Bapak mengeluarkan sebilah celurit yang
mengkilap-kilap diterpa cahaya rembulan. Sementara Bapak juga tidak mau kalah
cepat, dia langsung menarik celurit yang diselipnya di bagian pinggang
belakang. Keduanya mengambil posisi siap siaga. Malam itu carok terjadi antara
Bapak dan laki-laki bertopeng kain sarung.
Aku
melihat jelas dengan mata wajah sendiri. Betapa sengit pertempuran keduanya.
Bapak dengan gesit melangkah mencari aman dari sabitan celurit lawan. Karena
kalah langkah dengan Bapak, laki-laki itu meringis kesakitan setelah Bapak
berhasil melukai bagian bahu belakangnya dengan celurit. Ada peluang. Bapak
terus melukai bagian tubuh laki-laki itu. Termasuk paha, lengan, dan betis agar
ia tidak bisa lari. Bapak tidak mungkin membunuhnya.
Aku
berlari mencari bantuan sambil berteriak. Masduki yang mendengar lengkingan
suaraku langsung ikut bersamaku ke tempat kejadian perkara. Disusul kemudian
warga lainnya. Tidak lama kemudian tempat kejadian perkara carok penuh dengan
orang-orang. Dan Bapak yang bersandar di warung sawah, kelelahan, terus
memegang lengannya yang luka berdarah. Sementara laki-laki yang bertompeng
sarung sudah terkulai tak berdaya. Ia lebih parah daripada luka yang dialami
Bapak. Bahkan Bapak sudah membuka topeng dan mengamankan senjatanya. Laki-laki
itu ternyata adalah Seima.
Seusai
kejadian itu, aku dan Bapak pulang. Ada yang aneh memang, kemana Emak? kok dia
tidak menemui Bapak yang bercarok malam itu. Aku mulai gelisah. Jangan-jangan
Juhing juga menyakiti Emak. Sontak aku bilang kepada Bapak mengenai hal itu.
Bapak spontan terbelalak. Bola matanya bulat penuh. Aku dan Bapak menuju rumah.
Dan sesampainya di rumah, ternyata Emak pingsan. Dia tidak bisa menerima kalau
baru saja nyawa anak dan Sumainya masih akan selamat.
Marwati
isteri Masduki yang mengabarkan kepada Emak. Emak pun langsung pingsan, katanya.
Dan rumah dipenuhi para warga yang menjaga dan mencoba menyadarkan Emak.
Setelah kami datang, dan berbicara di telinganya, sadarlah ia. Emak menjerit
menangis sambil memeluk aku dan Bapak, “aku kan sudah bilang Pak. Aku tidak mau
bapak mempertaruhkan nyawa demi sepetak sawah itu.” Suara emak sesenggukan
dalam tangisnya.
Jogjakarta 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.