Kamis, 11 Februari 2016

SEPETAK SAWAH PERTARUHAN NYAWA




            Saat ini di daerahku dilanda penyakit harta yang mengakibatkan banyak terjadi penjualan tanah. Mesin-mesin tak berperasaan asik mencakar sawah-sawah yang sudah menjadi milik investor, yang dulu tempat padi menguning. Para warga hanya menjadi penonton yang gratis tanpa karcis. Menyaksikan kontraktor menanam benih gedung-gedung dan bangunan pabrik. Aku berfikir, tidak lama lagi desaku akan menjadi kota yang serba bangunan. Sepertinya daerah pesisir pantai, dan pebukitan seperti desaku, menjadi gula lezat yang lumayan mampu menarik semut-semut serupa investor asing. Mereka membeli tanah dengan harga yang cukup mahal, asal bersertifikat, berapapun harganya akan disikat.
            Aku yang hidup di wilayah timur Kabupaten Sumenep, di mana banyak terdapat jajaran pantai yang indah. Dan pelabuhan Dungkek yang katanya potensial sekali untuk dijadikan pelabuhan nasional, pun hendak digarap. Selain posisi Kecamatan Dungkek yang menjadi pelabuhan kecil saat ini, Dungkek memang bisa dianggap dekat dengan pulau-pulau seperti Bali, Sulawesi, Kalimantan dan lain-lainnya. Hampir seluruh areal persawahan warga sudah terjual. Dari pesisir pantai di Kecamatan Gapura, Kecamatan Dungkek, Kecamatan Batang-Batang, Kecamatan Batuputih, sampai kecamatan Ambunten yang memiliki pantai yang indah dan aset tambang pasir yang melimpah.
            Banyak yang berpendapat, katanya hal demikian terjadi karena jembatan Suramadu yang menghubugkan Surabaya dan Madura. Jembatan Suramadu yang dana pembangunanya dibantu cina atau berhutang kepada Cina, menjadi penyebab ramainya investor asing dari Cina yang masuk ke wilayah Madura, wilayah pesisir timur Sumenep khususnya.
            Ada juga yang bilang, itu karena persoalan ekonomi masyarakat yang sedang carut marut. Tidak dapat dipungkiri memang, banyak tetanggaku yang merantau ke Jakarta, ke Malaysia, bahkan ada yang ke Arab Saudi, adalah penyebab dijualnya tanah-tanah. Mereka yang meninggalkan kampung halaman, meninggalkan lahan persawahan, sehingga rasa memiliki atas tanah sendiri pun mengurang sebagai aktor penentu sirkulasi sosial  kehidupan selanjutnya.
            Sedang suara lain mengatakan tentang akibat maraknya penjualan tanah tak berperasaan itu disebabkan oleh digratiskannya Pajak Bumi dan Bangunan yang menjadi program Pemerintah Daerah. Selama lima tahun terakhir, masyarakat Sumenep memang dibuat lupa terhadap tanahnya dengan lahirnya kebijakan Pemerintah Daerah yang menggratiskan pajak Bumi dan Bangunan. Entahlah.
            Padahal aku masih ingat dulu waktu Kakek mewasiatkan tanah sangkol (tanah warisan/tanah tuah) kepada Bapak di atas langgar. Saat itu Kakek bilang bahwa tanah sangkol itu tidak boleh diperjual-belikan. Tanah sangkol harus dijaga sebagaimana mestinya. Tapi akhir-akhir ini, kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal tersebut sudah melemah. Yang penting melihat lipatan uang yang tebal, tanah sangkol pun dijual.
            Kakek juga menambahkan, bahwa menjaga tanah itu sama seperti menjaga kehidupan anak keturunannya. Kesakralan tanah memang seharunya sungguh-sungguh dijaga, jangan sampai dikuasai oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Bahkan pada dahulunya jika tanah mau dijual, biasanya dijual ke sesama famili. Karena akan lebih mudah jika hendak membelinya lagi dikemudian hari. Tapi lagi-lagi hal tersebut sudah tidak lagi aku kenali dari masyarakat saat ini.
            Hanya Bapak yang terus kuat mempertahankan tanah miliknya. Ia tidak pernah tergoda dengan lipatan tebal rupiah merah membiru. Bapak selalu kuat mempertahankan tanah milikya untuk tidak jatuh kepada orang yang tidak jelas, meski dalam himpitan ekonomi seperti apapun. Keluargaku bukan keluarga yang mewah. Kehidupan yang sederhana tidak pernah tergiur dengan iming-iming berlebihan, apalagi soal kekayaan seperti yang ditawarkan Seima kemarin sore pada Bapak.
            Sepetak sawah di pebukitan desaku mau dibeli oleh Seima. Hampir semua tanah yang ada di sekitar sawah Bapak sudah dibeli oleh sang bos dari Seima. Tepatnya Seima posisinya sebagai pangelar saja, orang yang punya uang sekaligus punya kepentingan itu adalah orang Cina, namanya Juhing. Juhing itulah yang menginginkan seluruh sawah di pebukitan Desa Tamidung. Sudah hampir semua sawah yang terjual di sekeliling sawah Bapak. Maka jika sawah Bapak tidak dijual, tentu akan menjadi pengganggu terhadap pembangunan yang telah direncanakan Juhing.
            Bapak mempertahankan tanahnya bukan karena apa, ia tidak mau kelak dibangun bangungan yang tidak bermoral Islam. Tidak Bapak yang merasakan, anak cucu Bapak yang merasakan. Mujur kalau-kalau sawah itu tidak dibangun bangunan prostitusi. Tapi kalau sampai demikian bertolak belakang, otomatis budaya Islam yang masih kental tertanam di tatanan sosial masyarakat akan terpental. Bapak merasa bertanggung jawab dalam hal seperti itu. Maka sekuat apapun Seima menggoda Bapak, ia masih tetap dalam pendiriannya.
            Matahari menyiram lembut pohon-pohon. Embun pagi yang terbang perlahan menyudahi cengkerama dengan pucuk-pucuk. Aktivitas para petani mulai ramai mengunjungi sisa sawah miliknya hanya tersisa beberapa petak. Aku masih ingat bagaimana hutan di kaki bukit Tolobang. Untuk masuk ke dalam tubuh hutan, perlu mengibas-ngibas rimba yang menghalangi jalan dan tubuh. Tapi sekarang sudah sirna lapang sebagaimana lapangan sepak bola. Dulu sarang burung ulat bergelantungan di ranting pepohonan. Kini berganti sedih yang bergantung melihat bukit Tolobang yang sudah tidak rindang.
            Pagi masih tidak jauh beranjak. Aku takzim menatap batu hitam yang duduk di atas ketinggian bukit tanpa gerak. Matahari sempurna memanfaatkan celah lubang-lubangnya. Kutilang dan burung ulat bersahutan di antara dahan yang tersisa satu dua. Di luar, aku mendengar suara Bapak dan Emak yang tampak berdiskusi. Ya, itu soal tanah persawahan di kaki bukit Tolobang yang masih belum sudi Bapak menjualnya.
            “Saya cuman takut akan terjadi sesuatu kepada Bapak jika tetap  mempertahankan tanah kita.”
            “Emak tenang aja, Bapak itu sudah siap apapun konsekuensinya. Sawah itu milik kita kok..!” Jawab Bapak kepada Emak seperti tidak ada beban yang tersimpan di wajahnya yang berlipat karena usia.
            Emak mungkin yang kenal siapa Juhing, tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Bapak. Tetapi Bapak, dia juga orang yang tidak mudah dilemahkan. Meski Bapak tidak pernah mengenyam pendidikan formal, hanya keluaran pesantren Salafiah, ia tidak pernah kalah ketika berdiplomasi. Berdiplomasi dengan tokoh-tokoh masyarakat adalah kebiasaan Bapak. Setiap katanya-katanya dianggap tuah yang kerap diangguk oleh sekalian masyarakat Desa Tamidung.
            Sikap Juhing, orang keturunan Cina yang tapi telah berumah di kecamatan sebelah sejak puluhan tahun lalu, cukup dikenali oleh banyak orang. Selain dia terkenal kaya, Juhing juga sebagai seorang rentenir yang cakap. Ia memberi hutangan gabah kepada masyarakat yang memiliki sawah namun tak punya benih, tapi nanti bayarnya harus dengan beras yang wajib dilebihi lima puluh kilo dari gabah yang dihutangkannya. Juhing menganggap hal demikian halal. Sementara masyarakat yang dalam posisi terhimpit perekonomian, akan menghampiri Juhing secara otomatis.
            Juhing memang berbeda dengan dua saudaranya yang sosialis itu. Sang Min yang bukan muslim, tapi sering membagi kebaikan dengan mengatasnamakan infaq, beda jauh dengan Juhing. Entah bagaimana cara Bapak akan menghadapi rentenir itu.
            Setelah harapan Juhing dan Seima tanggal karena Bapak tetap tidak mau menjual tanahnya, maka segala cara ia lakukan untuk membuat Bapak merelakan sawahnya dijual kepadanya. Kemarin Seima menawarkan pinjaman uang kepada Bapak. Karena Seima tahu Bapak sedang butuh uang untuk mengobati Nenek yang sedang sakit. Lagi-lagi Bapak masih tetap tidak menerima uang dari Seima. Aku kagum kepada Bapak. Ditengah ramainya warga menjual sawah dan ladangnya, Bapak sendiri malah tidak sudi jika tanah jatuh kepada tangan orang yang dianggapnya tidak baik. Bagi bapak tanah itu tak ubahnya kaca, porselen, dan nama baik. Ia adalah sesuatu yang tidak boleh sembarangan dijatuhkan, karena sekali saja pecah, dan tak akan dapat direkatkan kembali tanpa bekas yang menutupinya. Setidaknya harus hati-hati menjual tanah, begitulah maksud Bapak.
            Bulan merayap di atas bubungan rumah. Cahayanya purnama kurang sedikit untuk sempurna. Di luar hujan sudah beberapa hari tak lagi membasahi keringnya bumi Tamidung. Mungkin sungkan untuk bertegur lagi dengan orang-orang atau mesin-mesin tak berperasaan itu yang mencakar beringas sawah-sawah. Atau juga, mungkin karena langit angkuh, hingga enggan melepas hujan di genggamannya yang erat. Tapi apapun itu yang menjadi penghias malam, tidak pernah membuat Bapak jengah untuk tidak keluar menunggui padi di sawah yang sudah hendak menguning. Karena kalau tidak dijaga, ia bisa habis dimakan tikus.
            “Lie, kamu ikut Bapak malam ini.” Suara Bapak menggelenggung memanggilku yang duduk di kursi bambu dekat pintu. Malam itu aku bersama Bapak ke sawah. Ini sudah biasa aku lakukan untuk menemani Bapak bermalam di sawah. Jarak sawah tidak terlalu jauh, berkisar tiga ratus meter dari rumah. Cerek kecil yang berisi kopi, dan kalobut yang siap dihisap, menyatu dalam timba daun siwalan yang sudah kering yang Bapak anyam menjadi Bajut Rakara. Bajut Rakara itu seperti tas yang dapat meringankan barang bawaan.
            Celurit yang terselip di pinggang Bapak, nampak menonjol dilihat dari luar bajunya. Bapak biasa kalau keluar malam membawa celurit. Bagi orang Madura laki-laki ibarat ayam jantan yang harus berjalu. Artinya laki-laki harus membawa senjata tajam untuk menjaga diri. Di tengah perjalanan menuju sawah, pas di bawah pohon asam yang daunnya lebat, satu laki-laki menghadang jalan Bapak. Laki-laki itu menutupi wajahnya dengan sarung. Yang terlihat hanya matanya saja. Bapak mengarahkan tangannya ke belakang meminta aku menjauh.
            “Siapa kamu? Apa maumu?” Suara Bapak yang besar tiba-tiba memecah hening malam.
            “Jangan banyak tanya kamu Omar. Kamu terlalu angkuh, seberapa besar kekuatanmu hah?” Suara laki bertopeng sarung itu tak kala keras dan besar.
            “Memang kenapa? Aku tidak punya urusan denganmu. Jangan mengganggu aku.”
            “Akan ku bunuh kamu malam ini. Akan tamat riwayatmu malam ini.”
            Kemudian laki-laki yang berada di hadapan Bapak mengeluarkan sebilah celurit yang mengkilap-kilap diterpa cahaya rembulan. Sementara Bapak juga tidak mau kalah cepat, dia langsung menarik celurit yang diselipnya di bagian pinggang belakang. Keduanya mengambil posisi siap siaga. Malam itu carok terjadi antara Bapak dan laki-laki bertopeng kain sarung.
            Aku melihat jelas dengan mata wajah sendiri. Betapa sengit pertempuran keduanya. Bapak dengan gesit melangkah mencari aman dari sabitan celurit lawan. Karena kalah langkah dengan Bapak, laki-laki itu meringis kesakitan setelah Bapak berhasil melukai bagian bahu belakangnya dengan celurit. Ada peluang. Bapak terus melukai bagian tubuh laki-laki itu. Termasuk paha, lengan, dan betis agar ia tidak bisa lari. Bapak tidak mungkin membunuhnya.
            Aku berlari mencari bantuan sambil berteriak. Masduki yang mendengar lengkingan suaraku langsung ikut bersamaku ke tempat kejadian perkara. Disusul kemudian warga lainnya. Tidak lama kemudian tempat kejadian perkara carok penuh dengan orang-orang. Dan Bapak yang bersandar di warung sawah, kelelahan, terus memegang lengannya yang luka berdarah. Sementara laki-laki yang bertompeng sarung sudah terkulai tak berdaya. Ia lebih parah daripada luka yang dialami Bapak. Bahkan Bapak sudah membuka topeng dan mengamankan senjatanya. Laki-laki itu ternyata adalah Seima.
            Seusai kejadian itu, aku dan Bapak pulang. Ada yang aneh memang, kemana Emak? kok dia tidak menemui Bapak yang bercarok malam itu. Aku mulai gelisah. Jangan-jangan Juhing juga menyakiti Emak. Sontak aku bilang kepada Bapak mengenai hal itu. Bapak spontan terbelalak. Bola matanya bulat penuh. Aku dan Bapak menuju rumah. Dan sesampainya di rumah, ternyata Emak pingsan. Dia tidak bisa menerima kalau baru saja nyawa anak dan Sumainya masih akan selamat.
            Marwati isteri Masduki yang mengabarkan kepada Emak. Emak pun langsung pingsan, katanya. Dan rumah dipenuhi para warga yang menjaga dan mencoba menyadarkan Emak. Setelah kami datang, dan berbicara di telinganya, sadarlah ia. Emak menjerit menangis sambil memeluk aku dan Bapak, “aku kan sudah bilang Pak. Aku tidak mau bapak mempertaruhkan nyawa demi sepetak sawah itu.” Suara emak sesenggukan dalam tangisnya.


Jogjakarta 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.