Namaku Dunia. Aku terlahir dari
seorang ibu Siapa dan ayah yang sudah sepuh bernama Dimana. Sebagai seorang
wanita, aku tidak pernah mencoba menangis. Karena aku memang tidak tahu
bagaimana cara menangis. Tak jarang aku membaca beberapa artikel yang
menggambarkan kelemahan wanita dari air matanya. Tapi aku tidak. Pernah sekali
aku mencoba mengeluarkan air mata secara paksa. Namun, lagi-lagi aku gagal
menangis. Entah makhluk apa yang merasuki tubuhku sehingga tak tahu cara
menangis. Aku hidup sebatang diri sampai kedewasaan merajai usia. Aku tak tahu
kepada wujud orang tuaku. Sejak lahir aku disangkar sebagaimana burung, atau
hewan jinak lainnya. Silih berganti orang yang memberiku makan ketika makanan
di sangkarku sudah habis. Kadang laki-laki berwajah tampan. Kadang laki-laki
bertubuh hitam kekar. Aku takut.
Sejauh ini aku tak mampu mengingat
bagaimana aku bisa besar. Sekedar saat seorang wanita dengan keriput di
wajahnya yang berusaha dipoles bedak tebal memasukkanku ke sangkar ini. Itu
yang aku ingat. Semua itu masih melekat kental dalam kehidupanku. Kala
memberontak mau keluar, semua pintu tertutup dan batin terasa ngilu. Dalam
sendiri aku menangis. Tak ada satupun manusia sewujud untuk menjadi tempat
pertumpahan keluh kesah. Hanya cermin persegi empat yang melekat patuh di
dinding kamar. Demikian ia dan diriku sering bertukar cerita. Aku bercerita
kepada orang di dalam cermin yang menyerupai persis diriku. Aku suka kepadanya.
Dari sifatnya yang selalu ada untukku ketika aku butuh kepadanya. Bahkan ia tak
pergi sebelum aku yang mendahului.
Sejauh langkah nafas. Entah ini
tahun keberapa berada di dalam sangkar megah. Penuh dengan duka dan air mata.
Ku lirik tubuh dan buah dada yang membesar. Kelaminku pun sering mengeluarkan
darah. “Ini apa?” tanya ku pada cermin. Dia yang berkian tahun menjadi teman ku
di sangkar ini menjawab dengan bahasa senyum sinis. Aku hanya mengangguk
mengerti meski kurang paham. Aku yang mulai terbiasa dengan hidup sendiri di
sangkar. Berdua dengan cermin. Makan dan minum dari apapun orang yang dihantar
ke dalam sangkar. Suatu hari pernah ada seorang pengantar makanan yang tampan.
Berkulit putih. Matanya indah. Dan hidungnya mancung. Bagiku dia cocok untuk
pergantungan pandang mata. Elok. Namun sudah lama ia tak mengantar makanan
lagi. Padahal aku sudah mulai tidak bernafsu dengan apa yang disajikan
laki-laki lain akhir-akhir ini, setelah memakan sajian dari laki-laki menarik
itu. Karena aku tak bernafsu, pria pengantar makanan memperlakukanku kasar. Ia
memaksa aku melahap sajiannya. Meringkus tubuhku samapai aku kesakitan. Aku
benci. Karena laki-laki bertubuh kekar itu seolah tak peduli ngilu kelaminku.
Malam menjelma gelisah menunggui
pagi segera tiba. Langit mencipta kunang-kunang disepertiganya dengan gigil
yang raja atas segala tubuh. Selimut menyelinap seketika tersingkap semburat
matahari dari balik jendela. Tiba-tiba cahanya membentu sebuah tanda tanya yang
tak ku temui namanya. Kamar mandi masih lengang. Botol shampo dan seperangkat
alat mandi lainnya jua diam mematung. Seperti menungguiku membasuh kotor tubuh
semalam. Air mengucur dingin menyeluruh tubuh. Aku menikmati takdzim dalam
kamar mandi.
***
Hari masih belum terlalu tua. Aku
kembali bercerita kepada cermin sahabat baikku. Aku kembali mengajaknya
berdialektika. Ku ceritakan tentang bagaimana hatiku yang mulai terangsang
gelisah. Gelisah karena pertemuan dengan pria tampan yang memingsut hati.
Betapa ingin diulangi pertemuan itu. Bila andai dapat berjalan keluar ruangan
ini. Mungkin sudah kucari sosok indah itu. Hanya entah bagaimana seluruh pintu
melarangku berjalan keluar. Aku hany mendekap atas bantal-bantal dan kasur
empuk. Meski sesekali wajib untukku menatap cermin. Memoles wajah seindah
mungkin.
Tok
tok tok… suara di balik pintu mengentok pintu kamar. Baru kesempatan ini
ada orang yang mencoba masuk ke kamar ini siang-siang. Tak berselang begitu
lama pintu terbuka. Bola mataku melebar. Terbelalak takjub tak percaya sosok di
ambang pintu.
“Selamat pagi menjelang siang gadis
cantik. Apa aku boleh masuk dan duduk di sampingmu?” Laki-laki indah. Aku tak
mampu berkata apa-apa. Aku mematung menyaksikan tubuhnya yang mulai melangkah
dan mendekatiku. Aku masih dengan sikap mematung. Tiada terlintas difikir
tentang orang yang sedari tadi terdiskusikan di hati kini datang menghampiri.
“Boleh aku duduk?” Suaranya lembut
melnjutkan pertanyaan yang ku jawab dengn lidah kelu. Aku hanya bisa mengangguk
tak menyangka. Kemuda laki-laki indah itu duduk di dekatku. Tangannya
menyingkirkan bantal di sampingku.
“Namamu siapa? Aku Andre!” Sembari
menjulurkan tangannya, berharap aku meraihnya.
“A..aa..aku Dunia.” Nama yang aneh maksud kernyit alis pria di
depanku. Ya, karena itulah nama yang terdoakan oleh orang yang menamaiku.
Sebagai sangkulan aku mengargainya saja. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan
santai dengan laki-laki bernama Andre itu. Sepoi angin dingin yang entah dari
mana asalnya mendadak menyelimuti keringat dingin.
***
Jarum jam terus melirik pada sosok
pria yang asing namun mengagumkan. Ia tidak sekedar inndah. Bahkan karenanya
aku merasa tidak lagi seperti burung dalam sangkar yang selalu berhadapan
dengan laki-laki tidak jelas. Andre mengeluarkan aku dari tempat prostitusi dan
menikahiku. Sebagai seorang gadis kotor aku jujur merasa malu kepada dia. Namun
akal sehatnya mengalahkan pendapatku yang jujur terselubung keinginan. Andre
mengajak mencari orang tuaku. Tapi aku tidak mau. Mereka ada di desa. Mereka
pula yang telah menjualku ke tempat di mana keperawananku direnggut laki-laki tidak
bertanggung jawab. Aku benci hal demikian. Masa lalu akan menikam lebih kejam
bila aku bertemu dengan Ibu yang secara sengaja telah menjual anaknya. Maka aku
putuskan saja untuk tidak menemuinya dan berharap kebersamaan baru dengan Andre
adalah awal hidup yang indah.
BIODATA:
Nama Wardi,
lahir di Sumenep Madura 1996. Penulis adalah Mahasiswa aktif Kampus Swasta
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, dan selaku Pimred Lembaga Pers Mahasiswa
UP 45 Yogyakarta. Penulis dapat di hubungi melalui no. HP 09199009798 atau di
e-mail: lielawardhy@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.