Kamis, 11 Februari 2016

GADIS DAN TUBUH-TUBUH




            Namaku Dunia. Aku terlahir dari seorang ibu Siapa dan ayah yang sudah sepuh bernama Dimana. Sebagai seorang wanita, aku tidak pernah mencoba menangis. Karena aku memang tidak tahu bagaimana cara menangis. Tak jarang aku membaca beberapa artikel yang menggambarkan kelemahan wanita dari air matanya. Tapi aku tidak. Pernah sekali aku mencoba mengeluarkan air mata secara paksa. Namun, lagi-lagi aku gagal menangis. Entah makhluk apa yang merasuki tubuhku sehingga tak tahu cara menangis. Aku hidup sebatang diri sampai kedewasaan merajai usia. Aku tak tahu kepada wujud orang tuaku. Sejak lahir aku disangkar sebagaimana burung, atau hewan jinak lainnya. Silih berganti orang yang memberiku makan ketika makanan di sangkarku sudah habis. Kadang laki-laki berwajah tampan. Kadang laki-laki bertubuh hitam kekar. Aku takut.
            Sejauh ini aku tak mampu mengingat bagaimana aku bisa besar. Sekedar saat seorang wanita dengan keriput di wajahnya yang berusaha dipoles bedak tebal memasukkanku ke sangkar ini. Itu yang aku ingat. Semua itu masih melekat kental dalam kehidupanku. Kala memberontak mau keluar, semua pintu tertutup dan batin terasa ngilu. Dalam sendiri aku menangis. Tak ada satupun manusia sewujud untuk menjadi tempat pertumpahan keluh kesah. Hanya cermin persegi empat yang melekat patuh di dinding kamar. Demikian ia dan diriku sering bertukar cerita. Aku bercerita kepada orang di dalam cermin yang menyerupai persis diriku. Aku suka kepadanya. Dari sifatnya yang selalu ada untukku ketika aku butuh kepadanya. Bahkan ia tak pergi sebelum aku yang mendahului.
            Sejauh langkah nafas. Entah ini tahun keberapa berada di dalam sangkar megah. Penuh dengan duka dan air mata. Ku lirik tubuh dan buah dada yang membesar. Kelaminku pun sering mengeluarkan darah. “Ini apa?” tanya ku pada cermin. Dia yang berkian tahun menjadi teman ku di sangkar ini menjawab dengan bahasa senyum sinis. Aku hanya mengangguk mengerti meski kurang paham. Aku yang mulai terbiasa dengan hidup sendiri di sangkar. Berdua dengan cermin. Makan dan minum dari apapun orang yang dihantar ke dalam sangkar. Suatu hari pernah ada seorang pengantar makanan yang tampan. Berkulit putih. Matanya indah. Dan hidungnya mancung. Bagiku dia cocok untuk pergantungan pandang mata. Elok. Namun sudah lama ia tak mengantar makanan lagi. Padahal aku sudah mulai tidak bernafsu dengan apa yang disajikan laki-laki lain akhir-akhir ini, setelah memakan sajian dari laki-laki menarik itu. Karena aku tak bernafsu, pria pengantar makanan memperlakukanku kasar. Ia memaksa aku melahap sajiannya. Meringkus tubuhku samapai aku kesakitan. Aku benci. Karena laki-laki bertubuh kekar itu seolah tak peduli ngilu kelaminku.
            Malam menjelma gelisah menunggui pagi segera tiba. Langit mencipta kunang-kunang disepertiganya dengan gigil yang raja atas segala tubuh. Selimut menyelinap seketika tersingkap semburat matahari dari balik jendela. Tiba-tiba cahanya membentu sebuah tanda tanya yang tak ku temui namanya. Kamar mandi masih lengang. Botol shampo dan seperangkat alat mandi lainnya jua diam mematung. Seperti menungguiku membasuh kotor tubuh semalam. Air mengucur dingin menyeluruh tubuh. Aku menikmati takdzim dalam kamar mandi.
***
            Hari masih belum terlalu tua. Aku kembali bercerita kepada cermin sahabat baikku. Aku kembali mengajaknya berdialektika. Ku ceritakan tentang bagaimana hatiku yang mulai terangsang gelisah. Gelisah karena pertemuan dengan pria tampan yang memingsut hati. Betapa ingin diulangi pertemuan itu. Bila andai dapat berjalan keluar ruangan ini. Mungkin sudah kucari sosok indah itu. Hanya entah bagaimana seluruh pintu melarangku berjalan keluar. Aku hany mendekap atas bantal-bantal dan kasur empuk. Meski sesekali wajib untukku menatap cermin. Memoles wajah seindah mungkin.
            Tok tok tok… suara di balik pintu mengentok pintu kamar. Baru kesempatan ini ada orang yang mencoba masuk ke kamar ini siang-siang. Tak berselang begitu lama pintu terbuka. Bola mataku melebar. Terbelalak takjub tak percaya sosok di ambang pintu.
            “Selamat pagi menjelang siang gadis cantik. Apa aku boleh masuk dan duduk di sampingmu?” Laki-laki indah. Aku tak mampu berkata apa-apa. Aku mematung menyaksikan tubuhnya yang mulai melangkah dan mendekatiku. Aku masih dengan sikap mematung. Tiada terlintas difikir tentang orang yang sedari tadi terdiskusikan di hati kini datang menghampiri.
            “Boleh aku duduk?” Suaranya lembut melnjutkan pertanyaan yang ku jawab dengn lidah kelu. Aku hanya bisa mengangguk tak menyangka. Kemuda laki-laki indah itu duduk di dekatku. Tangannya menyingkirkan bantal di sampingku.
            “Namamu siapa? Aku Andre!” Sembari menjulurkan tangannya, berharap aku meraihnya.
            “A..aa..aku Dunia.”  Nama yang aneh maksud kernyit alis pria di depanku. Ya, karena itulah nama yang terdoakan oleh orang yang menamaiku. Sebagai sangkulan aku mengargainya saja. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan santai dengan laki-laki bernama Andre itu. Sepoi angin dingin yang entah dari mana asalnya mendadak menyelimuti keringat dingin.
***
            Jarum jam terus melirik pada sosok pria yang asing namun mengagumkan. Ia tidak sekedar inndah. Bahkan karenanya aku merasa tidak lagi seperti burung dalam sangkar yang selalu berhadapan dengan laki-laki tidak jelas. Andre mengeluarkan aku dari tempat prostitusi dan menikahiku. Sebagai seorang gadis kotor aku jujur merasa malu kepada dia. Namun akal sehatnya mengalahkan pendapatku yang jujur terselubung keinginan. Andre mengajak mencari orang tuaku. Tapi aku tidak mau. Mereka ada di desa. Mereka pula yang telah menjualku ke tempat di mana keperawananku direnggut laki-laki tidak bertanggung jawab. Aku benci hal demikian. Masa lalu akan menikam lebih kejam bila aku bertemu dengan Ibu yang secara sengaja telah menjual anaknya. Maka aku putuskan saja untuk tidak menemuinya dan berharap kebersamaan baru dengan Andre adalah awal hidup yang indah.

BIODATA:
Nama Wardi, lahir di Sumenep Madura 1996. Penulis adalah Mahasiswa aktif Kampus Swasta Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, dan selaku Pimred Lembaga Pers Mahasiswa UP 45 Yogyakarta. Penulis dapat di hubungi melalui no. HP 09199009798 atau di e-mail: lielawardhy@gmail.com
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.