Setiap
detik yang berganti waktu. Setiap waktu yang harus berlalu. Demikian hati yang
harus aku lawan memaksaku untuk berdiam. Semua itu, semakin membuatku tak tahu
akan makna adaku dalam waktu. Hingga dari makna tahu sendiri harus terpaksa kubiarkan
berlalu lagi setiap saat aku mencari tahu. Banyak sekali yang tidak aku tahu
dari arti mendapatkan ketika datang begitu banyak, sementara begitu banyak
datang ketika aku mulai mendapatkan. Akankah juga sama dengan kehilangan yang
diciptakan oleh jalan berbeda, untuk menghilangkan perbedaan di jalan yang
sama? Atau memang begitu kejam menikam kebaikan, sebaliknya kebaikan tiada kira
menikam kejam. Tuhan, hati bagaimana yang dapat menerima hati yang memiliki
tanpa begitu angkuh dengan masih. Aku di ujung jalan dan ia memaku sekuat urat
lehernya pada sejarah sajadah. Ajarkan pula perihal-perihal menahan tabah, agar
tabah dapat ku pelajari untuk menahannya.
Awal
aku melangkahi kisah ini dengan Aay kekasihku yaitu, tepat di tanggal
perkenalan yang juga mempertemukan hati yang putih. Kira-kira sudah satu tahun
aku menemukan wajahnya dalam sketsa imajinasi. Dia gadis dalam bayang.
Keberanian
mulai tumbuh baru seketika aku kerap memantaunya lewat dinding fesbuk miliknya.
Penggalan kata dan kata dalam status yang ditetas dari getar tangannya
menarikku lebih angkuh hingga terpental jauh aku ke dalam harapan. Kejadian itu
membuat denyut nadi sejenak terhenti ketika Aay, gadis berwajah bulat, berkulit
susu, berbibir madu itu menanyai siapa namaku. Aku bilang saja namaku adalah
Rindu, dari suasana desa yang pergaulannya selalu dengan sawah pegunungan
berbatu serta angin yang damai berderu, juga cericit dan siul kutilang sendu. Di
sanalah aku dilahirkan untuk menempuri kehidupan.
Aku
mulai pasrah menelanjangi kepribadian sesungguhnya pada diriku. Aay sebagai
orang yang jauh di seberang kota, kehidupannya yang berbeda dengan kehidupanku
tentu memang tak layak pakai atas seorang aku. Tapi entah kulitku yang jauh
gelap dari kulit wajahnya yang tetap segar dengan bias-bias bedak mahal, masih
saja terlalu seberani ini.
Banyak
yang aku tanyakan tentang Aay dalam percakapan tanpa tatap wajah. Banyak pula
yang Aay tanyakan dalam percakapan yang berbatas suara. Aku tidak paham dengan
wanita yang baru saja aku kenal, yang sudah memiliki keberanian yang lebih
berani dari semua keberanian yang aku beranikan. Ia begitu bugil menceritakan
semua petala kejadian dalam hidupnya. Tak ditampik itu pahit atau manis, Aay
tetap lancar mengalir dengan kisah-kisah hidupnya kepadaku. Aku yang mulai
merasa tertantang dengan apa yang sudah wanita kenalanku sampaikan, gelisah
apabila ambigu, diam dan hanya menyaksikan. Kenapa tidak bagiku untuk menyaingi
kisah hidup Aay yang sangat miris menyedihkan? Sedang aku pun memiliki sejarah
yang aku rasa lebih pedih di hati. Kita pun saling telanjang membagi kisah
lalu.
Setiap
itu aku dan Aay selalu menuangkan kisah-kisah pribadi. Rasanya waktu yang
dimiliki telah berdua. Malam itu aku jauh lebih berani memangkas persahabatan.
Aku nyatakan hati pada Aay. Segala pasrah berkumpul dalam benak. Mengabai yang
akan terjadi perihal kepedihan.
“Rindu,
sebelum kau seberani itu padaku, apakah kau siap menanggung masa lalu
tentangku?” Ucapnya lirih di seberang telepon.
Sementara
aku yang kejang dalam kamar sendirian tak tentu harus menjawab apa. Berat
memang jika harus terkatung dengan masa lalu, sedang untuk menanggung tekanan
dan seruan hati ini pun juga cukup jauh lebih berat. Tak ada yang dapat aku
akhirkan kecuali dengan, “Iya, aku akan menganggapmu di masa sekarang ini,”
ucapku.
Entahlah,
sebagai penyandang rasa sayang, hati seketika pun melayang, jauh sekali terbang
ke awang-awang. Pernyataan Aay dengan kebahagiaannya yang sangat katanya
mendengar pernyataan dariku, telah membuat aku lena. Mulai saat itu panggilan
nama dari kita masing-masing sudah tak lagi yang didagingkan oleh kedua orang
tua. Ada yang berbeda, penyambutan kata Sayang, tiba-tiba saja pelan dan
beralun lembut di gedang telinga, menyusup ke nun jauh di dalam hati sana.
Aku
percaya antara jalan yang telah aku sepakati dengan wanita yang saat ini adalah
kekasihku, adalah arena pertempuran nafsuh dan rindu. Kelak akan ada yang
ditaklukan beriringan dengan salam perpisahan atau keberlanjutan yang
sebaliknya dari perkiraan. Sepanjang aku memilin rindu-rindu dan kasih sayang
darinya, selama itu pula aku menepis gelisah, berani saja menyemai cinta tanpa
paksa.
Usia
terus beradu dengan hati. Aku sudah setengah tahun berada di Kota Jogja,
menuntut pendidikan. Dan hubungan dengan Aay sudah hampir satu tahun. Selama
itu ia menjadi wanita yang malaikat sekali di hati. Dengan seruannya untuk
menjadikan aku lelaki bertaqwa tidak tanggung-tanggung, membuat semangat
terbakar berkobar-kobar. Aku hanya termangu menangkap indah kebersamaan.
Meski
ada walau yang harus aku jauhkan dari fikiran. Seperti halnya cemburu, perasaan
demikian menjadi lingkaran yang tak bisa aku lepaskan. Setiap detik ceritanya
lahir tentang kekasih yang pernah membuatnya terpikat kelilipan, semua itu
membuat aku bertanya tentang siapa posisi aku sebenarnya dalam hati wanita
pujaanku. Sudah, jangan dibahas terlalu panjang.
Ketakutan-ketakutan
yang begitu lama bersarang, dan sekuat kekuatan aku memalingkannya pada
perasaan lain, tapi tetap saja aku tak
bisa membuangnya. Aku rasa ini tak ubahnya kesengajaan yang Aay buat untuk
menguji keteguhan hatiku. Hanya saja ujian seperti itu akan melemahkan cinta
yang Aay yakini dari diriku.
Ok
lah, laki-laki mana di antara kalian pembaca cerita ini yang akan mampu
bertahan, kalau di setiap jengkal percakapan dengan sang kekakasih kalian,
kalian selalu dicekoki oleh masa lalunya. Bahkan sampai pada suatu ketika aku
tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang kekasihku tanyakan. Bukan karena
aku tidak bisa berpikir yang membuat aku tidak bisa menjawab, melainkan karena
hati sudah letih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Aay yang berkaitan dengan
kekasihnya yang dulu.
Mungkin
orang yang aku sayangi masih terlilit oleh kekasihnya yang dulu atau apa aku
pun tak tahu. Yang jelas lidah menjadi keluh ketika ingin mempermasalahkan
sebuah masalah dalam hatiku. Aku merasa akan menjadi besar jika masalah yang
hanya dirasakan hatiku, kemudian aku permasalahkan kepada Aay yang sebenarnya
tidak merasa bersalah sama sekali.
Aku
hanya mampu menjadi garis-garis diam di antara lelembaran kertas yang aku
tulis. Sejauh ini aku hanya berdoa semoga Tuhan Yang Maha Pencipta mampu
menjaga dan terus menanam kesabaran di hatiku.
“Ya
Allah, jika ia jodohku perdekatkanlah hamba dengan nya. Jika memang kami
ditakdirkan bersama oleh Engkau, ampuni segala kehilafan di hati hamba, dan
sirami kebersamaan kami dengan bunga-bunga kebahagiaan, serta mekarkanlah kepercayaan
di antara kami agar kecurigaan tak lagi semerbak. Namun jika kami bukan jodoh
yang Engkau kehendaki, peliharalah hamba dari kekecewaan, dan ambillah
kebahagiaan nya ketika hanya dengan hamba. Engkau yang maha segala, dan hanya
kepada-Mu tempat mencurah segala kesah.” Ucapku dalam doa setelah selesai
menunaikan sholat maghrib.
Malam
kembali datang menyergapku. Seharian Aay tanpa kabar, entah ke mana ia, aku pun
tak tahu. Beberapa kali aku sms tidak dibalas. Bahkan aku hubungi nomornya pun
tak aktif. Sungguh kabut malamku kali ini. Kekasih yang tanpa kabar membuat
jantung ikut berdebar. Padahal malam ini aku sangat membutuhkan kasih sayang
dari orang yang aku sayang. Perasaan yang kalang kabut karena banyak sekali
tugas di kepala yang belum kelar, dan kini ditambah lagi dengan tugas baru, Aay
sudah menghilang tanpa kabar.
Kutilang
tengah bersiulan di antara dahan-dahan yang masih gelap. Pagi begitu buta, aku
terbangun, samar-samar alam di luar rumah sudah mulai menampakkan dirinya. Aku
ambil wudhu’ kemudian menunaikan sholat subuh di rumah. Setelah ritual ibadah
selesai, kuambil HP yang sudah ku tinggal semalaman, entah mulai jam berapa aku
tertidur, yang jelas sudah lupa.
Atas
ketidak sadaran yang sudah aku lalui semalam, ternyata ada tiga pesan singkat
dan dua panggilan tak terjawab, semua itu dari Aay. Spontan jemariku pun menari
di atas layar HP, ingin menanyakan kemana saja ia semalam.
Sepuluh
menit masih tanpa balasan apa-apa dari Aay. Aku mulai tak sabar. Hendak saja
aku memanggilnya, ternyata ada satu pesan masuk. Kulihat dan kubaca pesan yang
dikirim oleh Dedy. Ya, dia sahabatku yang sudah lama aku kenal. Kepribadiannya
sudah juga aku kenal dari dulu. Dia orang yang terkenal jujur menurut akal
sehatku.
“Cie, cie, kamu kemaren
jalan-jalan kemana aja sama si Aay. Kok kayak romantis gitu makan pentolnya
berduaan.” Pesan dari Dedy membuat aku kaget. Seperti ada
petir yang menyambar di dada.
Aku
hirau pesan singkat yang dikirim oleh Dedy. Secepat kilat jemariku liar mencari
tombol-tombol HP untuk kemudian menelepon Aay. Hanya tersambung dan tanpa
jawaban. Aku memaksanya lagi hingga tiga kali. Kemudian baru ada jawaban dari
Aay.
“Halo,
iya kenapa Sayang?” Suaranya masih agak parau.
“Kamu
kemarin jalan sama siapa ke warung pentol? Cowok itu siapa kamu? Jujur aja aku
nggak bakal marah.” Ucapku dengan nada yang santai dan rendah.
“Ooh...
itu si Rifki mantan aku..uups..ada apa Sayang? Kamu tumben kamu menghubungi aku
pagi-pagi?” Aay seperti salah tingkah di seberang sana.
“Rifki
ya Sayang? Hehe. Ya nggak papa kok, kamu kayaknya emang romantis banget kemarin
sama dia. Yaudah ya, aku mau makan, mau mandi dulu. Assalamualaikum..” Kututup
telepon tanpa mendengar jawaban atas salamku dari Aay.
Aku
tak tahu harus bagaimana lagi untuk memaafkan kekecewaan yang rasanya semakin
ingin memenangkan pertarungan dengan kesabaran. Aku harus kuat ketika
menghadapi masalah seperti ini, tanpa harus memperdulikan apa yang masih belum
ku lihat sendiri. Beberapa jam kemudian hati yang berkeping, aku satukan
satu-persatu puingnya yang patah berserakan itu. Aku harus tetap merangkul apa
yang akan membuat kebersamaanku dengan Aay menjadi kacau.
Kutukar
fikiran yang hancur untuk kembali fokus. Kebiasaan yang biasa aku lakukan
ketika menghadapi masalah seperti ini biasanya akan lari ke sawah-sawah untuk
mencurahkan kepedihan pada kertas kosong. Mendung tebal yang menjadi membuatku
harus mengalah. Tapi bukan berarti aku tidak harus menulis hari ini. Tanpa sawah
aku masih punya fesbuk yang kerap aku manfaatkan untuk menuai segala kepedihan.
Beberapa
detik menunggu proses internet yang segera menghubungkan HPku ke fesbuk. Dan
akhirnya terbukalah fesbukku. Kembali gemuruh menghujam dada. Hampir saja dada
meledak, aku tersungkur di pojok kamar sendirian. Ada salah satu akun fesbuk
yang menandai foto berduaan dengan Aay. Dia adalah seorang laki-laki dari masa
lalunya. Seorang yang baru saja aku cakapkan dengan kekasihku.
Aku
berusaha untuk menghampiri dinding profil fesbuk Aay, ternya dia pun juga
sedang aktif. Tapi ada yang aneh, foto yang baru saja aku lihat, sudah lenyap
dari dinding fesbuk Aay. Aku tahu, kalau kiriman itu disembunyikan oleh Aay
dari dindingnya. Petir kembali menyambar. Rasanya sudah menang kekecewaan ini.
Aku lihat kesabaran telah lantak.
“Ay,
tidak perlu kau tawar lagi wajah cantik yang asin dengan air sungaiku yang
keruh. Setidaknya aku paham makna kata tiada dalam ada ketika engkau
menghilangkan jejak dalam hidupmu. Seperti nafas yang kulepas dari kantung
dada, tersengal aku menyibak cinta yang tulus dan kamu pun abai akan semuanya,”
suaraku parau dalam telepon.
“Rindu,
maafkan aku yang mungkin saja terlalu karam di masa lalu. Jujur cinta bagiku
adalah budaya, ia selalu dibawah oleh tetuah lalu. Aku harap hilangmu bukan
semata karena kebaruan, melainkan masa yang terlalu menikam indah di belakang.
Aku menyayangi dengan cara sendiri, termasuk harus menghapus engkau saat
ketakutan merajai aku yang wanita.”
“Ay,
pahami budaya cintamu. Di sini aku tetap untuk sehelai saja. Biar hujan dan
musim kemarau kelak membuktikan sendiri akan teduh serta nikmat kekeringan
jiwa. Aku cukup mengerti, kalau angin yang engkau telanjangi bukan nafas yang
dahulu ditasbih atas sajadah, juga sendiri rintih air matamu yang mengekang
malam hilang. Selamat indah sayang...”
Sekian...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.