Jumat, 26 Februari 2016

KETIKA AKU HARUS TERHAPUS



Setiap detik yang berganti waktu. Setiap waktu yang harus berlalu. Demikian hati yang harus aku lawan memaksaku untuk berdiam. Semua itu, semakin membuatku tak tahu akan makna adaku dalam waktu. Hingga dari makna tahu sendiri harus terpaksa kubiarkan berlalu lagi setiap saat aku mencari tahu. Banyak sekali yang tidak aku tahu dari arti mendapatkan ketika datang begitu banyak, sementara begitu banyak datang ketika aku mulai mendapatkan. Akankah juga sama dengan kehilangan yang diciptakan oleh jalan berbeda, untuk menghilangkan perbedaan di jalan yang sama? Atau memang begitu kejam menikam kebaikan, sebaliknya kebaikan tiada kira menikam kejam. Tuhan, hati bagaimana yang dapat menerima hati yang memiliki tanpa begitu angkuh dengan masih. Aku di ujung jalan dan ia memaku sekuat urat lehernya pada sejarah sajadah. Ajarkan pula perihal-perihal menahan tabah, agar tabah dapat ku pelajari untuk menahannya.
Awal aku melangkahi kisah ini dengan Aay kekasihku yaitu, tepat di tanggal perkenalan yang juga mempertemukan hati yang putih. Kira-kira sudah satu tahun aku menemukan wajahnya dalam sketsa imajinasi. Dia gadis dalam bayang.
Keberanian mulai tumbuh baru seketika aku kerap memantaunya lewat dinding fesbuk miliknya. Penggalan kata dan kata dalam status yang ditetas dari getar tangannya menarikku lebih angkuh hingga terpental jauh aku ke dalam harapan. Kejadian itu membuat denyut nadi sejenak terhenti ketika Aay, gadis berwajah bulat, berkulit susu, berbibir madu itu menanyai siapa namaku. Aku bilang saja namaku adalah Rindu, dari suasana desa yang pergaulannya selalu dengan sawah pegunungan berbatu serta angin yang damai berderu, juga cericit dan siul kutilang sendu. Di sanalah aku dilahirkan untuk menempuri kehidupan.
Aku mulai pasrah menelanjangi kepribadian sesungguhnya pada diriku. Aay sebagai orang yang jauh di seberang kota, kehidupannya yang berbeda dengan kehidupanku tentu memang tak layak pakai atas seorang aku. Tapi entah kulitku yang jauh gelap dari kulit wajahnya yang tetap segar dengan bias-bias bedak mahal, masih saja terlalu seberani ini.
Banyak yang aku tanyakan tentang Aay dalam percakapan tanpa tatap wajah. Banyak pula yang Aay tanyakan dalam percakapan yang berbatas suara. Aku tidak paham dengan wanita yang baru saja aku kenal, yang sudah memiliki keberanian yang lebih berani dari semua keberanian yang aku beranikan. Ia begitu bugil menceritakan semua petala kejadian dalam hidupnya. Tak ditampik itu pahit atau manis, Aay tetap lancar mengalir dengan kisah-kisah hidupnya kepadaku. Aku yang mulai merasa tertantang dengan apa yang sudah wanita kenalanku sampaikan, gelisah apabila ambigu, diam dan hanya menyaksikan. Kenapa tidak bagiku untuk menyaingi kisah hidup Aay yang sangat miris menyedihkan? Sedang aku pun memiliki sejarah yang aku rasa lebih pedih di hati. Kita pun saling telanjang membagi kisah lalu.
Setiap itu aku dan Aay selalu menuangkan kisah-kisah pribadi. Rasanya waktu yang dimiliki telah berdua. Malam itu aku jauh lebih berani memangkas persahabatan. Aku nyatakan hati pada Aay. Segala pasrah berkumpul dalam benak. Mengabai yang akan terjadi perihal kepedihan.
“Rindu, sebelum kau seberani itu padaku, apakah kau siap menanggung masa lalu tentangku?” Ucapnya lirih di seberang telepon.
Sementara aku yang kejang dalam kamar sendirian tak tentu harus menjawab apa. Berat memang jika harus terkatung dengan masa lalu, sedang untuk menanggung tekanan dan seruan hati ini pun juga cukup jauh lebih berat. Tak ada yang dapat aku akhirkan kecuali dengan, “Iya, aku akan menganggapmu di masa sekarang ini,” ucapku.
Entahlah, sebagai penyandang rasa sayang, hati seketika pun melayang, jauh sekali terbang ke awang-awang. Pernyataan Aay dengan kebahagiaannya yang sangat katanya mendengar pernyataan dariku, telah membuat aku lena. Mulai saat itu panggilan nama dari kita masing-masing sudah tak lagi yang didagingkan oleh kedua orang tua. Ada yang berbeda, penyambutan kata Sayang, tiba-tiba saja pelan dan beralun lembut di gedang telinga, menyusup ke nun jauh di dalam hati sana.
Aku percaya antara jalan yang telah aku sepakati dengan wanita yang saat ini adalah kekasihku, adalah arena pertempuran nafsuh dan rindu. Kelak akan ada yang ditaklukan beriringan dengan salam perpisahan atau keberlanjutan yang sebaliknya dari perkiraan. Sepanjang aku memilin rindu-rindu dan kasih sayang darinya, selama itu pula aku menepis gelisah, berani saja menyemai cinta tanpa paksa.
Usia terus beradu dengan hati. Aku sudah setengah tahun berada di Kota Jogja, menuntut pendidikan. Dan hubungan dengan Aay sudah hampir satu tahun. Selama itu ia menjadi wanita yang malaikat sekali di hati. Dengan seruannya untuk menjadikan aku lelaki bertaqwa tidak tanggung-tanggung, membuat semangat terbakar berkobar-kobar. Aku hanya termangu menangkap indah kebersamaan.
Meski ada walau yang harus aku jauhkan dari fikiran. Seperti halnya cemburu, perasaan demikian menjadi lingkaran yang tak bisa aku lepaskan. Setiap detik ceritanya lahir tentang kekasih yang pernah membuatnya terpikat kelilipan, semua itu membuat aku bertanya tentang siapa posisi aku sebenarnya dalam hati wanita pujaanku. Sudah, jangan dibahas terlalu panjang.
Ketakutan-ketakutan yang begitu lama bersarang, dan sekuat kekuatan aku memalingkannya pada perasaan lain, tapi  tetap saja aku tak bisa membuangnya. Aku rasa ini tak ubahnya kesengajaan yang Aay buat untuk menguji keteguhan hatiku. Hanya saja ujian seperti itu akan melemahkan cinta yang Aay yakini dari diriku.
Ok lah, laki-laki mana di antara kalian pembaca cerita ini yang akan mampu bertahan, kalau di setiap jengkal percakapan dengan sang kekakasih kalian, kalian selalu dicekoki oleh masa lalunya. Bahkan sampai pada suatu ketika aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan yang kekasihku tanyakan. Bukan karena aku tidak bisa berpikir yang membuat aku tidak bisa menjawab, melainkan karena hati sudah letih untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Aay yang berkaitan dengan kekasihnya yang dulu.
Mungkin orang yang aku sayangi masih terlilit oleh kekasihnya yang dulu atau apa aku pun tak tahu. Yang jelas lidah menjadi keluh ketika ingin mempermasalahkan sebuah masalah dalam hatiku. Aku merasa akan menjadi besar jika masalah yang hanya dirasakan hatiku, kemudian aku permasalahkan kepada Aay yang sebenarnya tidak merasa bersalah sama sekali.
Aku hanya mampu menjadi garis-garis diam di antara lelembaran kertas yang aku tulis. Sejauh ini aku hanya berdoa semoga Tuhan Yang Maha Pencipta mampu menjaga dan terus menanam kesabaran di hatiku.
“Ya Allah, jika ia jodohku perdekatkanlah hamba dengan nya. Jika memang kami ditakdirkan bersama oleh Engkau, ampuni segala kehilafan di hati hamba, dan sirami kebersamaan kami dengan bunga-bunga kebahagiaan, serta mekarkanlah kepercayaan di antara kami agar kecurigaan tak lagi semerbak. Namun jika kami bukan jodoh yang Engkau kehendaki, peliharalah hamba dari kekecewaan, dan ambillah kebahagiaan nya ketika hanya dengan hamba. Engkau yang maha segala, dan hanya kepada-Mu tempat mencurah segala kesah.” Ucapku dalam doa setelah selesai menunaikan sholat maghrib.
Malam kembali datang menyergapku. Seharian Aay tanpa kabar, entah ke mana ia, aku pun tak tahu. Beberapa kali aku sms tidak dibalas. Bahkan aku hubungi nomornya pun tak aktif. Sungguh kabut malamku kali ini. Kekasih yang tanpa kabar membuat jantung ikut berdebar. Padahal malam ini aku sangat membutuhkan kasih sayang dari orang yang aku sayang. Perasaan yang kalang kabut karena banyak sekali tugas di kepala yang belum kelar, dan kini ditambah lagi dengan tugas baru, Aay sudah menghilang tanpa kabar.
Kutilang tengah bersiulan di antara dahan-dahan yang masih gelap. Pagi begitu buta, aku terbangun, samar-samar alam di luar rumah sudah mulai menampakkan dirinya. Aku ambil wudhu’ kemudian menunaikan sholat subuh di rumah. Setelah ritual ibadah selesai, kuambil HP yang sudah ku tinggal semalaman, entah mulai jam berapa aku tertidur, yang jelas sudah lupa.
Atas ketidak sadaran yang sudah aku lalui semalam, ternyata ada tiga pesan singkat dan dua panggilan tak terjawab, semua itu dari Aay. Spontan jemariku pun menari di atas layar HP, ingin menanyakan kemana saja ia semalam.
Sepuluh menit masih tanpa balasan apa-apa dari Aay. Aku mulai tak sabar. Hendak saja aku memanggilnya, ternyata ada satu pesan masuk. Kulihat dan kubaca pesan yang dikirim oleh Dedy. Ya, dia sahabatku yang sudah lama aku kenal. Kepribadiannya sudah juga aku kenal dari dulu. Dia orang yang terkenal jujur menurut akal sehatku.
“Cie, cie, kamu kemaren jalan-jalan kemana aja sama si Aay. Kok kayak romantis gitu makan pentolnya berduaan.” Pesan dari Dedy membuat aku kaget. Seperti ada petir yang menyambar di dada.
Aku hirau pesan singkat yang dikirim oleh Dedy. Secepat kilat jemariku liar mencari tombol-tombol HP untuk kemudian menelepon Aay. Hanya tersambung dan tanpa jawaban. Aku memaksanya lagi hingga tiga kali. Kemudian baru ada jawaban dari Aay.
“Halo, iya kenapa Sayang?” Suaranya masih agak parau.
“Kamu kemarin jalan sama siapa ke warung pentol? Cowok itu siapa kamu? Jujur aja aku nggak bakal marah.” Ucapku dengan nada yang santai dan rendah.
“Ooh... itu si Rifki mantan aku..uups..ada apa Sayang? Kamu tumben kamu menghubungi aku pagi-pagi?” Aay seperti salah tingkah di seberang sana.
“Rifki ya Sayang? Hehe. Ya nggak papa kok, kamu kayaknya emang romantis banget kemarin sama dia. Yaudah ya, aku mau makan, mau mandi dulu. Assalamualaikum..” Kututup telepon tanpa mendengar jawaban atas salamku dari Aay.
Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk memaafkan kekecewaan yang rasanya semakin ingin memenangkan pertarungan dengan kesabaran. Aku harus kuat ketika menghadapi masalah seperti ini, tanpa harus memperdulikan apa yang masih belum ku lihat sendiri. Beberapa jam kemudian hati yang berkeping, aku satukan satu-persatu puingnya yang patah berserakan itu. Aku harus tetap merangkul apa yang akan membuat kebersamaanku dengan Aay menjadi kacau.
Kutukar fikiran yang hancur untuk kembali fokus. Kebiasaan yang biasa aku lakukan ketika menghadapi masalah seperti ini biasanya akan lari ke sawah-sawah untuk mencurahkan kepedihan pada kertas kosong. Mendung tebal yang menjadi membuatku harus mengalah. Tapi bukan berarti aku tidak harus menulis hari ini. Tanpa sawah aku masih punya fesbuk yang kerap aku manfaatkan untuk menuai segala kepedihan.
Beberapa detik menunggu proses internet yang segera menghubungkan HPku ke fesbuk. Dan akhirnya terbukalah fesbukku. Kembali gemuruh menghujam dada. Hampir saja dada meledak, aku tersungkur di pojok kamar sendirian. Ada salah satu akun fesbuk yang menandai foto berduaan dengan Aay. Dia adalah seorang laki-laki dari masa lalunya. Seorang yang baru saja aku cakapkan dengan kekasihku.
Aku berusaha untuk menghampiri dinding profil fesbuk Aay, ternya dia pun juga sedang aktif. Tapi ada yang aneh, foto yang baru saja aku lihat, sudah lenyap dari dinding fesbuk Aay. Aku tahu, kalau kiriman itu disembunyikan oleh Aay dari dindingnya. Petir kembali menyambar. Rasanya sudah menang kekecewaan ini. Aku lihat kesabaran telah lantak.
“Ay, tidak perlu kau tawar lagi wajah cantik yang asin dengan air sungaiku yang keruh. Setidaknya aku paham makna kata tiada dalam ada ketika engkau menghilangkan jejak dalam hidupmu. Seperti nafas yang kulepas dari kantung dada, tersengal aku menyibak cinta yang tulus dan kamu pun abai akan semuanya,” suaraku parau dalam telepon.
“Rindu, maafkan aku yang mungkin saja terlalu karam di masa lalu. Jujur cinta bagiku adalah budaya, ia selalu dibawah oleh tetuah lalu. Aku harap hilangmu bukan semata karena kebaruan, melainkan masa yang terlalu menikam indah di belakang. Aku menyayangi dengan cara sendiri, termasuk harus menghapus engkau saat ketakutan merajai aku yang wanita.”
“Ay, pahami budaya cintamu. Di sini aku tetap untuk sehelai saja. Biar hujan dan musim kemarau kelak membuktikan sendiri akan teduh serta nikmat kekeringan jiwa. Aku cukup mengerti, kalau angin yang engkau telanjangi bukan nafas yang dahulu ditasbih atas sajadah, juga sendiri rintih air matamu yang mengekang malam hilang. Selamat indah sayang...”
Sekian...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.