Kamis, 03 Maret 2016

Kasihani Ina si Nononk



            Kini media digemparkan dengan foto anak kecil yang bertingkah sebagaimana layaknya orang dewasa. Konon, anak itu menurut salah satu media pemberitaan, berasal dari salah satu daerah Jawa Barat. Ina si Nononk, nama akun facebook si pembuat resah pengguna media sosial lain. Bahasa itu(si pembuat resah) saya kutip dari banyaknya teman-teman facebook saya yang mengecam Ina si Nononk. Kecaman itu dimulai dari tersebarnya foto Ina dengan lelaki seusianya di sebuah kamar. Ina dengan si cowok dalam foto di facebooknya sedang tidur berduaan. Berpelukan di atas kasur, dan lain-lain. Tak perlu saya jelaskan tingkah laku si Ina dalam beberapa foto di facebooknya yang dianggap tidak sepantasnya dilakukan oleh anak seusia Ina. Pada salah satu foto yang diunggah pada tahun dua ribu empat belas, menggunakan seragam Sekolah Dasar. Dan media yang memberitakan si Ina tersebut menjelaskan, kalau Ina kini sudah di bangku Sekolah Menengah Pertama.
            Dari kegelisahan para pengguna akun media semacam facebook, saya ingin menyampaikan beberapa penyadaran. Karena menurut hemat saya, kita sebagai pengguna media sosial, menjadi makluk maya, juga harus menerapkan etika kita, sebagaimana hidup di dunia nyata. Ketika saya melihat beberapa orang saling kecam terhadap si Ina, dan bahkan media pemberitaan seperti tanpa ampun untuk tidak memberitakan Ina, maka saya harus menjadi penengah.
            Saya bukan sahabat Ina. Saya juga bukan kenalan Ina. Facebook merupakan media sosial yang sangat ampuh untuk menjadi sebuah panggung dimana orang yang berada di facaebook banyak memiliki peluang untuk terkenal. Hanya saja kadang sang pengguna facebook banyak dengan melakukan tindakan yang tidak wajar, demi ketenaran dirinya. Berkaca kepada kasus Ina, kita harus bisa belajar menyerap baiknya, bukan buruknya. Apalagi pengguna yang berasal dari daerah jauh, yang belum tahu pasti siapa itu si Ina, dengan ceplas-ceplosnya langsung mencaci si Ina. Mendosakan dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kalau seandainya laki-laki yang tidur bersama Ina dalam foto itu adalah suami sah Ina? Bahkan sejauh ini kebebasan berekspresi di media sosial masih belum sungguh-sungguh terkontrol. Orang terlalu mudah mempublikasikan hal-hal tidak wajar yang memancing orang lain untuk berkomentar tidak baik terhadapnya atau bahkan berselisih, dan banyak lagi.
            Apapun alasannya, sekalipun mereka yang mengecam Ina adalah atas nama sanksi sosial di media sosial, bagi saya yang namanya kecaman tetaplah kecaman. Tidak begitu baik dalam pandangan saya. Yang menarik untuk saya jelaskan kepada publik adalah tentang akun facebook Ina. Beberapa jam sebelum saya mengetahui adanya media pemberitaan yang mulai memberitaka Ina, saya sempat memantau akun asli Ina. Dan dari pantauan saya tersebut, saya juga sempat membagikan juga kiriman foto mesum Ina dan lelaki tersebut ke dinding akun facebook saya, dan menandai salah satu teman facebook saya juga. Saya membagika kiriman foto dari facaebook Ina bukan bermaksud mencaci Ina, saya hanya sekedar ingin mengajak sebagian teman facebook saya mengkritisi secara bijak sebagai pengguna facebook. Hanya saja kurang menguntungkan bagi saya. Beberapa komen di kolom komentar menuding sayalah laki-laki yang bersama Ina. Wah, buru-buru saya hapus. Karena menghadapi orang yang baru kemarin mengendali facebook itu sulit. Mereka tidak paham kalau apa yang ada di dinding facebook saya itu hanyalah postingan orang lain yang coba saya bagikan. Itu bukan saya.
            Berselang beberapa jam kemudian, setelah saya selesai menghapus kiriman yang saya bagikan tentang Ina tersebut, tibalah saya melihat koar-koarnya media pemberitaan yang seperti ikutan bernafsuh memberitakan tentang Ina. Atau karena melihat foto gemes Ina, entah. Saat itu pula saya langsung mengetik nama akun facaebook Ina di kolom pencarian facebook dengan terbawa penasaran yang sangat. Sayang, akun facebook Ina yang asli sudah lenyap dari facebook. Entah di non aktif atau apa, saya tidak tahu. Hanya yang menjadi saya tercengang kaget tingkat malaikat, di kolom pencarian facebook terdapat banyak sekali nama Ina si Nononk. Dari yang berbentuk halaman hingga pada akun pengguna. Padahal tadinya saya, saat bertemu dengan facebook Ina, hanya satu nama Ina si Nononk.
            Dan pada saat itu juga saya menarik kesimpulan, bahwa setelah tersebarnya tindakan Ina di dunia maya, membuat banyak kalangan gereget, menggeretakkann giginya, untuk mencaci prilaku Ina. Tak jarang dari sekian facebook yang bernama sama, dengan menggunakan foto Ina, hadir dengan status di dindingnya yang genit-genit. Padahal tadinya dinding facabook Ina pertama yang saya temui tidak begitu. Bahkan pada salah satu halaman yang juga mengatasnamakan Ina, pada kolom keterangan halaman itu terdapat tulisan “Penghibur.” Jika kita cermati permasalahannya, Ina sudah banyak menerima kecaman. Dari saking tidak puasnya orang-orang yang mengecam Ina si Nononk, sampai disempat-sempatkan untuk membuat akun baru dengan kejelekan-kejelekan ditembakkan pada Ina.
            Maka dari ini saya ingin mengajak sekalian teman-teman pembaca tulisan ini, untuk bersikap subjektif dulu kepada Ina. Kasihan anak kecil itu. Suda dicaci di media, ditambah lagi dengan fitnah-fitnah. Kalau bahasa saya sudah terlalu abnormal sekali bagi seorang manusia banyak, menghakimi manusia lain (si Ina). Lagian, saya yakini orang yang memfitnah Ina, yang membuat Ina sekarang (mungkin) gemetar ketakutan, belum tahu jelas duduk masalahnya bagaimana. Hanya ikut-ikut bau bawang aja, tanpa berpikir lebih jernih dulu. Karena bisa jadi menurut saya, laki-laki tersebut(yang berfoto dengan Ina) adalah suami sah Ina, atau apalah kemungkinan lain yang baik-baik. Hemat saya, tidak elok menghakimi apa yang belum kita ketahui secara jelas. Ketika Ina yang masih seusia itu, kemudian dibuat resah dengan isu-isu media sosial seperti yang kita tahu sekarang ini, akan terganggu psikologisnya dan akan lebih berat cara menyadarkannya. Kita wajib tahu kalau dalam salah satu asas hukum Negeri kita ada yang namanya asas praduga tidak bersalah.
            Kasus tersebut menurut saya adalah pembelajaran paling berharga bagi kita yang sering suka update di facebook, utamanya kalangan muda nih yang maunya lepas kontrol dari pendidikan orang taua. Orang tua, ketika dalam kejadian seperti ini tentu sangat dipertanyakan perannya. Lebih-lebih yang menjadi pertanyaan saya adalah kepada para guru dan lembaga pendidikan, yang maaf saja harus saya katakana telah gagal mendidik generasi bangsa. Meski juga tidak akan tertutupi adanya asumsi, “ semua dikembalikan pada diri sendiri.” Ok lah kalau memang maunya dikembalikan kepada diri sendiri, saya harap diri sendiri bisa memperbaiki, utamanya kepada para pengguna media facebook. Sebab menurut saya lagi, menggunakan facebook bukan sekedar untuk ogal-ogalan, yang statusnya berisi aktivitas tidak penting kita atau sudah familiar dalam sehari-hari. Seperti yang kerap saya temui nih, mau makan aja disampaikan ke facebook, mau berak sekalipun juga disampaikan, bahkan pada hal yang intim, seperti si Ina lakukan juga tak luput dari dipublikasikannya ke facebook.
            Jika facebook dengan keserbaannya menyediakan segala, maka kita harus benar-benar bisa memanfaatkannya ke suatu yang baik. Seperti yang terjadi juga di kalangan orang pintar saat ini. Orang yang sama-sama mengatasnamakan dirinya orang sosialis, politikus, penyair, penulis, dan apalah, tapi juga saling kecam lewat akun sosial medianya yang bernama facebook. Lalu pikir saya, apa lagi si Ina, anak SMP yang anggaplah gampangnya masih perlu dididik, dan banyak peluang untuk sembuh dari penyakit over update-nya ketimbang abang-abang yang saling kecam mengenai ilmunya dengan bahasa “menggoblokkan satu sama lain.” Maka mari kita berpikir secara jernih, jadikan kesalahan sebagai cermin pembelajaran kita untuk lebih dewasa. Tetaplah selalu menjaga ketentraman dalam hidup bersosial di media sosial. Wallahua’lam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.