Kini
media digemparkan dengan foto anak kecil yang bertingkah sebagaimana layaknya
orang dewasa. Konon, anak itu menurut salah satu media pemberitaan, berasal
dari salah satu daerah Jawa Barat. Ina si Nononk, nama akun facebook si pembuat
resah pengguna media sosial lain. Bahasa itu(si pembuat resah) saya kutip dari
banyaknya teman-teman facebook saya yang mengecam Ina si Nononk. Kecaman itu
dimulai dari tersebarnya foto Ina dengan lelaki seusianya di sebuah kamar. Ina dengan
si cowok dalam foto di facebooknya sedang tidur berduaan. Berpelukan di atas
kasur, dan lain-lain. Tak perlu saya jelaskan tingkah laku si Ina dalam
beberapa foto di facebooknya yang dianggap tidak sepantasnya dilakukan oleh
anak seusia Ina. Pada salah satu foto yang diunggah pada tahun dua ribu empat
belas, menggunakan seragam Sekolah Dasar. Dan media yang memberitakan si Ina
tersebut menjelaskan, kalau Ina kini sudah di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Dari
kegelisahan para pengguna akun media semacam facebook, saya ingin menyampaikan
beberapa penyadaran. Karena menurut hemat saya, kita sebagai pengguna media
sosial, menjadi makluk maya, juga harus menerapkan etika kita, sebagaimana
hidup di dunia nyata. Ketika saya melihat beberapa orang saling kecam terhadap
si Ina, dan bahkan media pemberitaan seperti tanpa ampun untuk tidak
memberitakan Ina, maka saya harus menjadi penengah.
Saya
bukan sahabat Ina. Saya juga bukan kenalan Ina. Facebook merupakan media sosial
yang sangat ampuh untuk menjadi sebuah panggung dimana orang yang berada di
facaebook banyak memiliki peluang untuk terkenal. Hanya saja kadang sang
pengguna facebook banyak dengan melakukan tindakan yang tidak wajar, demi
ketenaran dirinya. Berkaca kepada kasus Ina, kita harus bisa belajar menyerap
baiknya, bukan buruknya. Apalagi pengguna yang berasal dari daerah jauh, yang
belum tahu pasti siapa itu si Ina, dengan ceplas-ceplosnya langsung mencaci si
Ina. Mendosakan dan lain sebagainya. Lalu bagaimana kalau seandainya laki-laki
yang tidur bersama Ina dalam foto itu adalah suami sah Ina? Bahkan sejauh ini
kebebasan berekspresi di media sosial masih belum sungguh-sungguh terkontrol.
Orang terlalu mudah mempublikasikan hal-hal tidak wajar yang memancing orang
lain untuk berkomentar tidak baik terhadapnya atau bahkan berselisih, dan
banyak lagi.
Apapun
alasannya, sekalipun mereka yang mengecam Ina adalah atas nama sanksi sosial di
media sosial, bagi saya yang namanya kecaman tetaplah kecaman. Tidak begitu
baik dalam pandangan saya. Yang menarik untuk saya jelaskan kepada publik
adalah tentang akun facebook Ina. Beberapa jam sebelum saya mengetahui adanya
media pemberitaan yang mulai memberitaka Ina, saya sempat memantau akun asli
Ina. Dan dari pantauan saya tersebut, saya juga sempat membagikan juga kiriman
foto mesum Ina dan lelaki tersebut ke dinding akun facebook saya, dan menandai
salah satu teman facebook saya juga. Saya membagika kiriman foto dari facaebook
Ina bukan bermaksud mencaci Ina, saya hanya sekedar ingin mengajak sebagian
teman facebook saya mengkritisi secara bijak sebagai pengguna facebook. Hanya
saja kurang menguntungkan bagi saya. Beberapa komen di kolom komentar menuding
sayalah laki-laki yang bersama Ina. Wah, buru-buru saya hapus. Karena menghadapi
orang yang baru kemarin mengendali facebook itu sulit. Mereka tidak paham kalau
apa yang ada di dinding facebook saya itu hanyalah postingan orang lain yang
coba saya bagikan. Itu bukan saya.
Berselang
beberapa jam kemudian, setelah saya selesai menghapus kiriman yang saya bagikan
tentang Ina tersebut, tibalah saya melihat koar-koarnya media pemberitaan yang
seperti ikutan bernafsuh memberitakan tentang Ina. Atau karena melihat foto
gemes Ina, entah. Saat itu pula saya langsung mengetik nama akun facaebook Ina di
kolom pencarian facebook dengan terbawa penasaran yang sangat. Sayang, akun
facebook Ina yang asli sudah lenyap dari facebook. Entah di non aktif atau apa,
saya tidak tahu. Hanya yang menjadi saya tercengang kaget tingkat malaikat, di
kolom pencarian facebook terdapat banyak sekali nama Ina si Nononk. Dari yang
berbentuk halaman hingga pada akun pengguna. Padahal tadinya saya, saat bertemu
dengan facebook Ina, hanya satu nama Ina si Nononk.
Dan
pada saat itu juga saya menarik kesimpulan, bahwa setelah tersebarnya tindakan
Ina di dunia maya, membuat banyak kalangan gereget, menggeretakkann giginya,
untuk mencaci prilaku Ina. Tak jarang dari sekian facebook yang bernama sama,
dengan menggunakan foto Ina, hadir dengan status di dindingnya yang
genit-genit. Padahal tadinya dinding facabook Ina pertama yang saya temui tidak
begitu. Bahkan pada salah satu halaman yang juga mengatasnamakan Ina, pada
kolom keterangan halaman itu terdapat tulisan “Penghibur.” Jika kita cermati
permasalahannya, Ina sudah banyak menerima kecaman. Dari saking tidak puasnya
orang-orang yang mengecam Ina si Nononk, sampai disempat-sempatkan untuk
membuat akun baru dengan kejelekan-kejelekan ditembakkan pada Ina.
Maka
dari ini saya ingin mengajak sekalian teman-teman pembaca tulisan ini, untuk
bersikap subjektif dulu kepada Ina. Kasihan anak kecil itu. Suda dicaci di
media, ditambah lagi dengan fitnah-fitnah. Kalau bahasa saya sudah terlalu
abnormal sekali bagi seorang manusia banyak, menghakimi manusia lain (si Ina).
Lagian, saya yakini orang yang memfitnah Ina, yang membuat Ina sekarang
(mungkin) gemetar ketakutan, belum tahu jelas duduk masalahnya bagaimana. Hanya
ikut-ikut bau bawang aja, tanpa berpikir lebih jernih dulu. Karena bisa jadi
menurut saya, laki-laki tersebut(yang berfoto dengan Ina) adalah suami sah Ina,
atau apalah kemungkinan lain yang baik-baik. Hemat saya, tidak elok menghakimi
apa yang belum kita ketahui secara jelas. Ketika Ina yang masih seusia itu,
kemudian dibuat resah dengan isu-isu media sosial seperti yang kita tahu
sekarang ini, akan terganggu psikologisnya dan akan lebih berat cara
menyadarkannya. Kita wajib tahu kalau dalam salah satu asas hukum Negeri kita
ada yang namanya asas praduga tidak bersalah.
Kasus
tersebut menurut saya adalah pembelajaran paling berharga bagi kita yang sering
suka update di facebook, utamanya kalangan muda nih yang maunya lepas kontrol dari
pendidikan orang taua. Orang tua, ketika dalam kejadian seperti ini tentu
sangat dipertanyakan perannya. Lebih-lebih yang menjadi pertanyaan saya adalah
kepada para guru dan lembaga pendidikan, yang maaf saja harus saya katakana
telah gagal mendidik generasi bangsa. Meski juga tidak akan tertutupi adanya
asumsi, “ semua dikembalikan pada diri sendiri.” Ok lah kalau memang maunya
dikembalikan kepada diri sendiri, saya harap diri sendiri bisa memperbaiki,
utamanya kepada para pengguna media facebook. Sebab menurut saya lagi, menggunakan
facebook bukan sekedar untuk ogal-ogalan, yang statusnya berisi aktivitas tidak
penting kita atau sudah familiar dalam sehari-hari. Seperti yang kerap saya
temui nih, mau makan aja disampaikan ke facebook, mau berak sekalipun juga
disampaikan, bahkan pada hal yang intim, seperti si Ina lakukan juga tak luput
dari dipublikasikannya ke facebook.
Jika
facebook dengan keserbaannya menyediakan segala, maka kita harus benar-benar
bisa memanfaatkannya ke suatu yang baik. Seperti yang terjadi juga di kalangan
orang pintar saat ini. Orang yang sama-sama mengatasnamakan dirinya orang
sosialis, politikus, penyair, penulis, dan apalah, tapi juga saling kecam lewat
akun sosial medianya yang bernama facebook. Lalu pikir saya, apa lagi si Ina,
anak SMP yang anggaplah gampangnya masih perlu dididik, dan banyak peluang
untuk sembuh dari penyakit over update-nya
ketimbang abang-abang yang saling kecam mengenai ilmunya dengan bahasa
“menggoblokkan satu sama lain.” Maka mari kita berpikir secara jernih, jadikan
kesalahan sebagai cermin pembelajaran kita untuk lebih dewasa. Tetaplah selalu
menjaga ketentraman dalam hidup bersosial di media sosial. Wallahua’lam..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.