Sore yang matang aku telah tiba di pantai Depok Bantul dengan serombongan
teman-teman dari Fakultas Hukum. Ada acara Malam Keakraban, MAKRAB kami
menyebutnya. Setelah beberapa menit ban bus menggelinding di legam aspal hitam,
jam tiga kami berangkat dari tempat, akhirnya sampai juga. Aku yang bukan
penduduk asli tanah Jogja tentu hati sangatlah dirundung rasa penasaran.
Penasaran tentang bagaimanakah bentuk pantai Depok itu. Akankah ia sama seperti
bersihnya pantai di Madura, dengan pasir putihnya yang bersih. Setelah semua
telah sama-sama merapat di tempat makan pinggir pantai. Di tempat warung makan
ini aku dan teman-teman rombongan akan menginap. Mataku menggelayut atas awan
putih dan kecipak air laut yang menyenandung sumbang. Anak-anak kecil yang
berlarian di atas hamparan pasir hitam, sesekali mereka tertawa geli. Aku
meratap kosong ke arah laut. Ingin rasanya aku mendekati gulungan-gulungan
putih ombaknya yang seperti melambai memanggilku untuk mendekat.
Ku
susuri pinggir pantai sembari mencatat di buku catatan apa yang aku rasakan
selama tiba di pantai. Yang dihasilkan sungguh istimewah, ada angin, debur
ombak, kecipak air, tawa para pengunjung, tak luput kerudung hitam. Saat aku
menelusuri bibir pantai, tiba-tiba kaki tersangkut pada sehelai kain hitam. Aku
kenal sekali bentuk kain seperti ini, kerudung. Ku putar bola mata mengelilingi
pandangan arah sekitar. Melihat beberapa sosok wanita. Namun di antara mereka
tidak ada yang berkerudung. Batin mulai menerka. Adalah ketidak mungkinan jika
kerudung ini terlepas tanpa terasa dari kepala yang memakainya. Kerudung, bukan
kancing baju yang bisa terlepas tanpa terasa hingga orang yang memiliki akan
tercengang ketika melihat salah satu kancing bajunya hilang. Tapi ini kerudung.
Pasti sengaja wanita yang memakai melepasnya.
Ku
timang kerudung hitam. Kecipak riak air laut terus melantunkan nada tanya.
Matahari yang memerah tanpa menghirau hari, hingga melahirkan senja yang cukup
indah. Tenang mataku menatap senja. Siapa pemilik kerudung ini? Ku lihat di
ujung pojok kerudung yang tertulis sebuah nama seorang wanita. Nina Syafitri.
Nama itu tersulam benang yang cukup rapi dan indah. Seperti apa wajah pemilik kerudung ini? Aku membatin. Sebelum senja
benar-benar merenggut sisa sore. Aku memanfaatkan terang hari untuk tetap
berjalan di pinngiran pantai meski cahayanya sudah remang. Ku lilit kerudung
hitam itu di leher. Terkerbai ujungnya diterpa angin pantai. Aku berharap ada
orang yang mengakui kerudung ini miliknya. Aktivitas kaki yang tak letih
melangkah di bibir pantai. Sementara tangan juga terus mengukir kertas dengan
tulisan-tulisan apa yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan.
Kumandang
adzan maghrib bertalu dari pengeras suara masjid. Matahari tersenyum menatapku
yang masih mematung di pinggir pantai sebelum gelap sungguh-sungguh menyergap.
Setelah tiba saat bumi menelan tuntas matahari. Tidak ada lagi ufuk cakrawala
merah di barat. Aku harus kembali ke pos penginapan dengan langkah kaki yang
berat memikul tanda tanya. Masih soal penasaran terhadap wajah wanita pemilik
kerudung hitam.
Gelap
merajai suasana petang. Penerang dengan lampu neon yang menggantung takjub di
bubungan gubuk bambu penginapan, bercahaya putih cerah. Aktivitas para
mahasiswa yang muslim beramai-ramai memutar kran berair untuk mengambil wudhu’. Sholat maghrib. Aktivitas lain
dari para mahasiswa yang non muslim, mereka memilih memetik senar gitar yang
kencang. Bernyanyi. Arfan, dengan percaya dirinya menyanyi dengan suara keras
yang fals. Pembukaan acara MAKRAB akan segera dibuka oleh Ibu Lucia Cahaya.
Peserta beserta para panitia dan para dosen mulai merapat membentuk formasi
lingkaran besar di dalam gubuk bambu, tempat penginapan. Acara pembukaan
berlangsung damai dan sukses. Pembawa acara membacakan beberapa rentetan tangga
acara. Aku yang duduk di barisan paling jauh di belakang, memegang erat
kerudung hitam.
Tiba
pada tangga acara bakar-bakar jagung. Panitia sudah menyiapkan tumpukan kayu
yang siap dijadikan api unggun, sudah siap dibakar. Aku yang termasuk dari
bagian jajaran panitia pelaksana ikut bergabung melingkar mengelilingi api
unggun. Aku duduk bersila di atas hamparan pasir hitam, diapit oleh dua teman
mahasiswa yang sama-sama berasal dari Madura. Muktazim dan Khairul. Aku
menceritakan kepada mereka tentang penemuanku. Awalnya mereka tidak menghirau
terhadap apa yang hendak aku ceritakan. Setelah aku bicara saja tanpa peduli
mereka menghirau atau tidak, lalu aku perlihatkan barang temuanku. Tiba-tiba Khairul
sigap mengambil kerudung hitam dari tanganku. Matanya melotot seperti orang
yang sangat kenal saja dengan kerudung itu milik siapa.
“Emang
kamu tahu Rul itu kerudung siapa? Aku tadi menemukannya tadi sore di pinggir
pantai sana.” Aku bertanya kepada Khairul sembari mengarahkan telunjuk ke arah
tenggara dari tempatku duduk sekarang.
“Aku
tidak tahu. Tapi aku sangat yakin, kalau kerudung ini pasti milik seorang
wanita Lie.” Khairul menanggapi pertanyaanku. Jawaban khairul pun membuat aku
tertawa geli. Kucing pun pasti tahu kalau
kerudung pasti yang memakainya adalah seorang wanita begitulah kira-kira
maksud tawaanku pada Khairul. Sementara Muktazim juga ikut memerhatikan
kerudung hitam yang aku temukan. Hingga kami bertiga melebur dalam pembicaraan
dengan topik spesial kami, tuli terhadap apa yang dibicarakan oleh ketua
panitia.
“Ini ada
namanya loh, coba lihat.” Nina Syafitri.
Aku menunjukkan sebuah nama yang tertulis dengan sulaman benang berwarna putih.
Nama yang patuh melekat di ujung pojok dari kerudung hitam. Kami terlalu asyik
membicarakan perihal kerudung hingga sekretaris panitia meng-sssst pada kami
bertiga yang tidak menghirau pembicaraan ketua. Hei Liela, Khairul, Muktazim kalian jangan bicara sendiri begitu
maksud dai ssst-nya Dodyk, hingga aku dan kedua temanku pura-pura fokus
terhadap penyampaian materi.
Malam
terus menua hingga pada usianya yang cukup tua, melahirkan pagi muda. Pagi
dengan kegigilan di pantai. Jam 02:30 dini hari. Para peserta dan bapak ibu
dosen ditambah sebagian dari panitia tertidur lelap. Dan sebagian lagi dari
sisa panitia yang lain asik memaikan gitar. Begadang menjaga keamanan semua
peserta yang ikut acara MAKRAB. Mereka yang tertidur tidak teratur serupa ikan
tongkol yang baru selesai ditangkap nelayan. Sedang aku hanya terlentang di
atas tikar, berusaha memaksa kelopak mata yang tak mau terkatup. Debur ombak
dan dessis angin begitu ramai di kedua daun telinga. Aku masih bersama dengan
kerudung hitam yang menimpa di atas dada.
Pagi
menyapa dengan nyamur beningnya. Disusul semburat matahari yang mulai menyibak
embun di pucuk dedaunan. Suasana pantai sepagi ini masih lengang. Belum ada
kegiatan pengunjung yang mengisi bibir pantai. Hari ini Minggu. Aku yakin
pantai ini akan segera ramai dengan pengunjung. Air mengucur tubuh, dingin. Aku
mandi untuk membersihkan diri, setelah dari kemarin tubuh tidak tersentuh air.
Kran mengeluarkan sesuatu yang dingin serupa cairan bening. Mandi pagi memang
adalah kebiasaanku. Aku terbiasa melawan dingin, aku senang bertarung dengan
kemalasan. Hanya saja untuk saat ini, air di kamar mandi terasa berbeda.
Dinginnya menyengat terlalu gigil. Apa mungkin karena pengaruh alam. Baru
terlintas di benak, bahwa aku tidak sedang di kamar mandi kos. Ya, aku sedang
di pantai selatan. Jangan coba-coba menyamakan suasana dingin di pinggir pantai
dengan dingin di daratan.
Sepatu
melekat patuh membungkus kaki. Semua pakaian sudah melekat patut di badan.
Keren. Aku tersenyum sendiri sembari menatap cermin yang melekat di dinding.
Aku masih ada waktu untuk berjalan-jalan di pantai selama dua jam. Tugas yang
diberikan kepadaku oleh teman-teman panitia terjadwal. Aku hanya disuruh
mengajari mereka bagaimana memilih sebuah cita-cita. Entah itu sesi acara apa
istilahnya, aku abai saja.
Pasir
hitam, ombak yag bergulung putih, para pengunjung yang mulai ramai. Suasa
pantai sudah tidak lengang seperti yang terjadi pada kemarin sore, tadi malam,
serta pagi buta tadi. Kini wajah pantai dipenuhi warna-warni cat sampan yang
segar. Baju-baju bersih harum dengan parfum mahal, telah mengalahkan bau ikan
yang menyengat hidung. Aku terus menyusuri bibir pantai menuju keramaian
orang-orang dengan tangan membawa sehelai kerudung hitam. Siapa tahu aku dapat
bertemu dengan sang pemilik kerudung ini dengan nama Nina Syafitri. Sedikit
heran terhadap kegelisahan ini, kenapa aku sangat berkeinginan sekali untuk
bertemu dengan pemilik krudung. Sekali lagi, padahal hanya kerudung bukan
kancing baju atau barang lain yang terdapat kemungkinan besar jatuh terlepas
tanpa diketahui. Karena kerudung, ia pasti terlilit pada kepala seorang wanita.
Mana mungkin jatuhnya tidak terasa? Yang mempunyai pasti sengaja melepasnya,
atau bahkan memang sudah sengaja untuk membuangnya. Jika benar, berarti sang
pemilik sudah tidak lagi membutuhkan kerudung, bukan? Namun kenapa aku masih
begitu yakin dan sangat ingin bertemu dengan pemiliknya.
Waktu untuk
menikmati suasana pantai akan tersisa satu jam lagi. Sejauh ini aku masih belum
juga bertemu dengan pemilik sah kerudung hitam. Tidak satupun dari para
pengunjung pantai menanyakan kerudung yang aku ikat pada lengan tangan kanan.
Aku tidak mungkin menawarkannya kepada mereka satu-satu. Karena bisa jadi
mereka mengaku sebagai pemilik kerudung indah ini. Kerudung hitam yang
pinggirannya tersulam manik-manik. Matahari sudah tinggi. Panas mulai terasa
mengelus ubun-ubun. Keringat yang keluar dari pori-pori kulit terasa pedih
menyengit. Hampir putus asa aku mencari siapa sebenarnya pemilik kerudung. Atau
memang benar yang memiliki kerudung ini sudah tidak lagi mempunyai rasa
memiliki. Padahal kalau di daerahku, kerudung menjadi simbolis seorang wanita.
Kerudung adalah mahkota berikutnya dari seorang wanita. Tapi ini?
“Mas,
maaf permisi?” Suara lembut membelai daun telinga, merasuk ke dalam gendang
pendengaran. Aku berbalik badan dan dua sosok wanita berjilbab hitam menatapku
dengan senyum yang sama-sama manis.
“Iya
mbak?” Aku.
“Maaf
sebelumnya. Apakah kerudung itu milik anda?” Kembali nada suara lembutnya
merangsang.
“Oh
tidak mbak. Ini kemarin sore saya menemukan kerudung hitam ini di sekitar bibir
pantai. Dan saya langsung mencari pemiliknya, namun tidak bertemu juga.
Sekarang saya juga lagi mencari si pemilik, apakah salah satu di antara mbak
adalah pemilik kerudung ini?” Aku menjelaskan panjang lebar dengan rasa
prihatin penuh percaya diri.
“Iya
mas, itu kerudung saya.” Katanya serentak. Dua wanita itu kemudian menjawab
dengan kalimat yang sama. Nada yang sama juga. Tidak ada yang terdahului, dan
tidak lewat sedikit nada suara saja. Aku menjadi terbelalak. Mataku yang sipit
susah memang untuk terbuka bulat selebar-lebarnya. Tapi aku rasa demikian sudah
paling lebar. Bagaimana keduanya sama mengaku sebagai sang pemilik kerudung.
Jangan sampai terjadi pertengkaran di antara mereka. Kalau begitu aku tidak akan
memberikan kerudung hitam ini saja. Aku akan membuangnya ke laut bila perlu,
dari pada mereka hanya bertengkar soal satu kerudung hitam.
“Maksudnya?
Ini hanya ada satu nama di kerudung ini, Ninan Syafitri. Kalian jangan
mempermainkan saya.” Aku menekan mereka agar bisa menjelaskan secara jelas
kepadaku. Mana boleh hati memberikan satu kerudung kepada dua wanita. Harus ada
kejelasan dan dapat meyakinkan diriku.
“Aduh.
Kenapa tidak yakin juga? Kami berdua adalah pemilik sah kerudung hitam itu.
Lihat nama kami di pojok kerudung itu. Dua nama, Nina Syafitri.” Jelasnya
kepadaku.
“Iya ini
kan nama satu−”
“Itu
nama saya Nina mas. Betul kan Fit?” Belum selesai aku bicara sudah ditimpal
oleh satu wanita yang ada di depan ku. Ia menjelaskan terkait nama di kerudung
hitam.
“Iya
Nin. Dan yang satu itu adalah namaku mas, Syafitri. Sudah jelas?” Aku hanya
bisa mematung. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mereka memberiku kejelasan yang
benar-benar jelas. Aku baru tahu jika nama Nina Syafitri di pojok kerudung
hitam itu, adalah gabungan nama dari dua orang wanita yang sama-sama cantik.
Ombak melanjutkan aktivitasnya yang bergulung menghias indah suasana laut,
setelah sejenak tadi ikut diam menyimak penjelasan dua orang wanita berwajah
purnama.
Tidak
ada keringat yang serasa gerah saat ini. Walau matahari dengan ganasnya
menyiram rambut hingga menusuk nyengit di ubun-ubun. Aku sama sekali tidak
merasakan panas matahari. Malah sebaliknya, peluh yang mengucur di tubuh
menjadi dingin. Aku tidak paham. Kemudian tangan kedua wanita itu bersamaan
melepas kerudung yang aku ikat pada lengan tangan kanan. Jemarinya sama lentik
dan lembut menyentuh kulit. Tatapan matanya sama-sama indah. Wajahnya tidak ada
yang dapat menjadi sasaran kritik tidak sempurna. Mereka seperti dua purnama
yang menerangi malam gelap. Cahayanya sempurna, tergantung indah dan takjub di
langit-langit doaku.
Kerudung
hitam sudah jelas siapa pemiliknya. Hanya saja aku tidak habis fikir kenapa
harus laki-laki seperti aku yang menemukan kerudung hitam itu. Aku menyeka
keringat bercampur air mata. Pemilik itu sama-sama indah dan cantik menurut
tutur hati. Semoga Tuhan paham tentang kerudung dan dua wanita itu, kemudian
menjelaskan kepada salah satunya, bahwa sesungguhnya keinginan tidak pernah
tertukar dengan birahi. Bahkan tulus kini benar-benar menejelma doa yang halal
baginya. Semoga..
Jogjakarta 2015
Wardi,
lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Saat ini tengah belajar di Fak. Hukum
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Penulis adalah Pimred LPM Gema
Proklamasi, penggiat sastra di Halaman Imajinasi UP 45, penulis blog Emas Pa’lekoran. Beberapa puisi dan cerpennya telah di
antologikan di antologi puisi Creative Student Day 2014, Biru Laut Madura 2014. Penulis dapat dihubungi melalui NO. 082302555498 e-mail:
lielawardhy@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.