Kamis, 11 Februari 2016

KERUDUNG HITAM DI PANTAI SELATAN




            Sore yang matang aku telah tiba di pantai Depok Bantul dengan serombongan teman-teman dari Fakultas Hukum. Ada acara Malam Keakraban, MAKRAB kami menyebutnya. Setelah beberapa menit ban bus menggelinding di legam aspal hitam, jam tiga kami berangkat dari tempat, akhirnya sampai juga. Aku yang bukan penduduk asli tanah Jogja tentu hati sangatlah dirundung rasa penasaran. Penasaran tentang bagaimanakah bentuk pantai Depok itu. Akankah ia sama seperti bersihnya pantai di Madura, dengan pasir putihnya yang bersih. Setelah semua telah sama-sama merapat di tempat makan pinggir pantai. Di tempat warung makan ini aku dan teman-teman rombongan akan menginap. Mataku menggelayut atas awan putih dan kecipak air laut yang menyenandung sumbang. Anak-anak kecil yang berlarian di atas hamparan pasir hitam, sesekali mereka tertawa geli. Aku meratap kosong ke arah laut. Ingin rasanya aku mendekati gulungan-gulungan putih ombaknya yang seperti melambai memanggilku untuk mendekat.
            Ku susuri pinggir pantai sembari mencatat di buku catatan apa yang aku rasakan selama tiba di pantai. Yang dihasilkan sungguh istimewah, ada angin, debur ombak, kecipak air, tawa para pengunjung, tak luput kerudung hitam. Saat aku menelusuri bibir pantai, tiba-tiba kaki tersangkut pada sehelai kain hitam. Aku kenal sekali bentuk kain seperti ini, kerudung. Ku putar bola mata mengelilingi pandangan arah sekitar. Melihat beberapa sosok wanita. Namun di antara mereka tidak ada yang berkerudung. Batin mulai menerka. Adalah ketidak mungkinan jika kerudung ini terlepas tanpa terasa dari kepala yang memakainya. Kerudung, bukan kancing baju yang bisa terlepas tanpa terasa hingga orang yang memiliki akan tercengang ketika melihat salah satu kancing bajunya hilang. Tapi ini kerudung. Pasti sengaja wanita yang memakai melepasnya.
            Ku timang kerudung hitam. Kecipak riak air laut terus melantunkan nada tanya. Matahari yang memerah tanpa menghirau hari, hingga melahirkan senja yang cukup indah. Tenang mataku menatap senja. Siapa pemilik kerudung ini? Ku lihat di ujung pojok kerudung yang tertulis sebuah nama seorang wanita. Nina Syafitri. Nama itu tersulam benang yang cukup rapi dan indah. Seperti apa wajah pemilik kerudung ini? Aku membatin. Sebelum senja benar-benar merenggut sisa sore. Aku memanfaatkan terang hari untuk tetap berjalan di pinngiran pantai meski cahayanya sudah remang. Ku lilit kerudung hitam itu di leher. Terkerbai ujungnya diterpa angin pantai. Aku berharap ada orang yang mengakui kerudung ini miliknya. Aktivitas kaki yang tak letih melangkah di bibir pantai. Sementara tangan juga terus mengukir kertas dengan tulisan-tulisan apa yang aku lihat, aku dengar, dan aku rasakan.
            Kumandang adzan maghrib bertalu dari pengeras suara masjid. Matahari tersenyum menatapku yang masih mematung di pinggir pantai sebelum gelap sungguh-sungguh menyergap. Setelah tiba saat bumi menelan tuntas matahari. Tidak ada lagi ufuk cakrawala merah di barat. Aku harus kembali ke pos penginapan dengan langkah kaki yang berat memikul tanda tanya. Masih soal penasaran terhadap wajah wanita pemilik kerudung hitam.
            Gelap merajai suasana petang. Penerang dengan lampu neon yang menggantung takjub di bubungan gubuk bambu penginapan, bercahaya putih cerah. Aktivitas para mahasiswa yang muslim beramai-ramai memutar kran berair untuk mengambil wudhu’. Sholat maghrib. Aktivitas lain dari para mahasiswa yang non muslim, mereka memilih memetik senar gitar yang kencang. Bernyanyi. Arfan, dengan percaya dirinya menyanyi dengan suara keras yang fals. Pembukaan acara MAKRAB akan segera dibuka oleh Ibu Lucia Cahaya. Peserta beserta para panitia dan para dosen mulai merapat membentuk formasi lingkaran besar di dalam gubuk bambu, tempat penginapan. Acara pembukaan berlangsung damai dan sukses. Pembawa acara membacakan beberapa rentetan tangga acara. Aku yang duduk di barisan paling jauh di belakang, memegang erat kerudung hitam.
            Tiba pada tangga acara bakar-bakar jagung. Panitia sudah menyiapkan tumpukan kayu yang siap dijadikan api unggun, sudah siap dibakar. Aku yang termasuk dari bagian jajaran panitia pelaksana ikut bergabung melingkar mengelilingi api unggun. Aku duduk bersila di atas hamparan pasir hitam, diapit oleh dua teman mahasiswa yang sama-sama berasal dari Madura. Muktazim dan Khairul. Aku menceritakan kepada mereka tentang penemuanku. Awalnya mereka tidak menghirau terhadap apa yang hendak aku ceritakan. Setelah aku bicara saja tanpa peduli mereka menghirau atau tidak, lalu aku perlihatkan barang temuanku. Tiba-tiba Khairul sigap mengambil kerudung hitam dari tanganku. Matanya melotot seperti orang yang sangat kenal saja dengan kerudung itu milik siapa.
            “Emang kamu tahu Rul itu kerudung siapa? Aku tadi menemukannya tadi sore di pinggir pantai sana.” Aku bertanya kepada Khairul sembari mengarahkan telunjuk ke arah tenggara dari tempatku duduk sekarang.
            “Aku tidak tahu. Tapi aku sangat yakin, kalau kerudung ini pasti milik seorang wanita Lie.” Khairul menanggapi pertanyaanku. Jawaban khairul pun membuat aku tertawa geli. Kucing pun pasti tahu kalau kerudung pasti yang memakainya adalah seorang wanita begitulah kira-kira maksud tawaanku pada Khairul. Sementara Muktazim juga ikut memerhatikan kerudung hitam yang aku temukan. Hingga kami bertiga melebur dalam pembicaraan dengan topik spesial kami, tuli terhadap apa yang dibicarakan oleh ketua panitia.
            “Ini ada namanya loh, coba lihat.” Nina Syafitri. Aku menunjukkan sebuah nama yang tertulis dengan sulaman benang berwarna putih. Nama yang patuh melekat di ujung pojok dari kerudung hitam. Kami terlalu asyik membicarakan perihal kerudung hingga sekretaris panitia meng-sssst pada kami bertiga yang tidak menghirau pembicaraan ketua. Hei Liela, Khairul, Muktazim kalian jangan bicara sendiri begitu maksud dai ssst-nya Dodyk, hingga aku dan kedua temanku pura-pura fokus terhadap penyampaian materi.
            Malam terus menua hingga pada usianya yang cukup tua, melahirkan pagi muda. Pagi dengan kegigilan di pantai. Jam 02:30 dini hari. Para peserta dan bapak ibu dosen ditambah sebagian dari panitia tertidur lelap. Dan sebagian lagi dari sisa panitia yang lain asik memaikan gitar. Begadang menjaga keamanan semua peserta yang ikut acara MAKRAB. Mereka yang tertidur tidak teratur serupa ikan tongkol yang baru selesai ditangkap nelayan. Sedang aku hanya terlentang di atas tikar, berusaha memaksa kelopak mata yang tak mau terkatup. Debur ombak dan dessis angin begitu ramai di kedua daun telinga. Aku masih bersama dengan kerudung hitam yang menimpa di atas dada.
            Pagi menyapa dengan nyamur beningnya. Disusul semburat matahari yang mulai menyibak embun di pucuk dedaunan. Suasana pantai sepagi ini masih lengang. Belum ada kegiatan pengunjung yang mengisi bibir pantai. Hari ini Minggu. Aku yakin pantai ini akan segera ramai dengan pengunjung. Air mengucur tubuh, dingin. Aku mandi untuk membersihkan diri, setelah dari kemarin tubuh tidak tersentuh air. Kran mengeluarkan sesuatu yang dingin serupa cairan bening. Mandi pagi memang adalah kebiasaanku. Aku terbiasa melawan dingin, aku senang bertarung dengan kemalasan. Hanya saja untuk saat ini, air di kamar mandi terasa berbeda. Dinginnya menyengat terlalu gigil. Apa mungkin karena pengaruh alam. Baru terlintas di benak, bahwa aku tidak sedang di kamar mandi kos. Ya, aku sedang di pantai selatan. Jangan coba-coba menyamakan suasana dingin di pinggir pantai dengan dingin di daratan.
            Sepatu melekat patuh membungkus kaki. Semua pakaian sudah melekat patut di badan. Keren. Aku tersenyum sendiri sembari menatap cermin yang melekat di dinding. Aku masih ada waktu untuk berjalan-jalan di pantai selama dua jam. Tugas yang diberikan kepadaku oleh teman-teman panitia terjadwal. Aku hanya disuruh mengajari mereka bagaimana memilih sebuah cita-cita. Entah itu sesi acara apa istilahnya, aku abai saja.
            Pasir hitam, ombak yag bergulung putih, para pengunjung yang mulai ramai. Suasa pantai sudah tidak lengang seperti yang terjadi pada kemarin sore, tadi malam, serta pagi buta tadi. Kini wajah pantai dipenuhi warna-warni cat sampan yang segar. Baju-baju bersih harum dengan parfum mahal, telah mengalahkan bau ikan yang menyengat hidung. Aku terus menyusuri bibir pantai menuju keramaian orang-orang dengan tangan membawa sehelai kerudung hitam. Siapa tahu aku dapat bertemu dengan sang pemilik kerudung ini dengan nama Nina Syafitri. Sedikit heran terhadap kegelisahan ini, kenapa aku sangat berkeinginan sekali untuk bertemu dengan pemilik krudung. Sekali lagi, padahal hanya kerudung bukan kancing baju atau barang lain yang terdapat kemungkinan besar jatuh terlepas tanpa diketahui. Karena kerudung, ia pasti terlilit pada kepala seorang wanita. Mana mungkin jatuhnya tidak terasa? Yang mempunyai pasti sengaja melepasnya, atau bahkan memang sudah sengaja untuk membuangnya. Jika benar, berarti sang pemilik sudah tidak lagi membutuhkan kerudung, bukan? Namun kenapa aku masih begitu yakin dan sangat ingin bertemu dengan pemiliknya.
            Waktu untuk menikmati suasana pantai akan tersisa satu jam lagi. Sejauh ini aku masih belum juga bertemu dengan pemilik sah kerudung hitam. Tidak satupun dari para pengunjung pantai menanyakan kerudung yang aku ikat pada lengan tangan kanan. Aku tidak mungkin menawarkannya kepada mereka satu-satu. Karena bisa jadi mereka mengaku sebagai pemilik kerudung indah ini. Kerudung hitam yang pinggirannya tersulam manik-manik. Matahari sudah tinggi. Panas mulai terasa mengelus ubun-ubun. Keringat yang keluar dari pori-pori kulit terasa pedih menyengit. Hampir putus asa aku mencari siapa sebenarnya pemilik kerudung. Atau memang benar yang memiliki kerudung ini sudah tidak lagi mempunyai rasa memiliki. Padahal kalau di daerahku, kerudung menjadi simbolis seorang wanita. Kerudung adalah mahkota berikutnya dari seorang wanita. Tapi ini?
            “Mas, maaf permisi?” Suara lembut membelai daun telinga, merasuk ke dalam gendang pendengaran. Aku berbalik badan dan dua sosok wanita berjilbab hitam menatapku dengan senyum yang sama-sama manis.
            “Iya mbak?” Aku.
            “Maaf sebelumnya. Apakah kerudung itu milik anda?” Kembali nada suara lembutnya merangsang.
            “Oh tidak mbak. Ini kemarin sore saya menemukan kerudung hitam ini di sekitar bibir pantai. Dan saya langsung mencari pemiliknya, namun tidak bertemu juga. Sekarang saya juga lagi mencari si pemilik, apakah salah satu di antara mbak adalah pemilik kerudung ini?” Aku menjelaskan panjang lebar dengan rasa prihatin penuh percaya diri.
            “Iya mas, itu kerudung saya.” Katanya serentak. Dua wanita itu kemudian menjawab dengan kalimat yang sama. Nada yang sama juga. Tidak ada yang terdahului, dan tidak lewat sedikit nada suara saja. Aku menjadi terbelalak. Mataku yang sipit susah memang untuk terbuka bulat selebar-lebarnya. Tapi aku rasa demikian sudah paling lebar. Bagaimana keduanya sama mengaku sebagai sang pemilik kerudung. Jangan sampai terjadi pertengkaran di antara mereka. Kalau begitu aku tidak akan memberikan kerudung hitam ini saja. Aku akan membuangnya ke laut bila perlu, dari pada mereka hanya bertengkar soal satu kerudung hitam.
            “Maksudnya? Ini hanya ada satu nama di kerudung ini, Ninan Syafitri. Kalian jangan mempermainkan saya.” Aku menekan mereka agar bisa menjelaskan secara jelas kepadaku. Mana boleh hati memberikan satu kerudung kepada dua wanita. Harus ada kejelasan dan dapat meyakinkan diriku.
            “Aduh. Kenapa tidak yakin juga? Kami berdua adalah pemilik sah kerudung hitam itu. Lihat nama kami di pojok kerudung itu. Dua nama, Nina Syafitri.” Jelasnya kepadaku.
            “Iya ini kan nama satu−”
            “Itu nama saya Nina mas. Betul kan Fit?” Belum selesai aku bicara sudah ditimpal oleh satu wanita yang ada di depan ku. Ia menjelaskan terkait nama di kerudung hitam.
            “Iya Nin. Dan yang satu itu adalah namaku mas, Syafitri. Sudah jelas?” Aku hanya bisa mematung. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mereka memberiku kejelasan yang benar-benar jelas. Aku baru tahu jika nama Nina Syafitri di pojok kerudung hitam itu, adalah gabungan nama dari dua orang wanita yang sama-sama cantik. Ombak melanjutkan aktivitasnya yang bergulung menghias indah suasana laut, setelah sejenak tadi ikut diam menyimak penjelasan dua orang wanita berwajah purnama.
            Tidak ada keringat yang serasa gerah saat ini. Walau matahari dengan ganasnya menyiram rambut hingga menusuk nyengit di ubun-ubun. Aku sama sekali tidak merasakan panas matahari. Malah sebaliknya, peluh yang mengucur di tubuh menjadi dingin. Aku tidak paham. Kemudian tangan kedua wanita itu bersamaan melepas kerudung yang aku ikat pada lengan tangan kanan. Jemarinya sama lentik dan lembut menyentuh kulit. Tatapan matanya sama-sama indah. Wajahnya tidak ada yang dapat menjadi sasaran kritik tidak sempurna. Mereka seperti dua purnama yang menerangi malam gelap. Cahayanya sempurna, tergantung indah dan takjub di langit-langit doaku.
            Kerudung hitam sudah jelas siapa pemiliknya. Hanya saja aku tidak habis fikir kenapa harus laki-laki seperti aku yang menemukan kerudung hitam itu. Aku menyeka keringat bercampur air mata. Pemilik itu sama-sama indah dan cantik menurut tutur hati. Semoga Tuhan paham tentang kerudung dan dua wanita itu, kemudian menjelaskan kepada salah satunya, bahwa sesungguhnya keinginan tidak pernah tertukar dengan birahi. Bahkan tulus kini benar-benar menejelma doa yang halal baginya. Semoga..

Jogjakarta 2015
Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Saat ini tengah belajar di Fak. Hukum Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Penulis adalah Pimred LPM Gema Proklamasi, penggiat sastra di Halaman Imajinasi UP 45, penulis blog Emas Pa’lekoran. Beberapa puisi dan cerpennya telah di antologikan di antologi puisi Creative Student Day 2014, Biru Laut Madura 2014. Penulis dapat dihubungi melalui NO. 082302555498 e-mail: lielawardhy@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.