Kamis, 11 Februari 2016

KEMATIAN JUHAR MANIK




            “Kenapa kau tidak hentikan saja Ghan?” Kata Sudar. Seorang sahabat yang tetap lekat dengan aku. Yang kedekatannya selekat tulang dan kulit. Dia yang tahu bagaimana aku seketika telanjang. Mengetahui semua sisi dari diriku. Siapa yang tidak kenal sosok seorang Ghani di Desa Tamidung ini? Seorang laki-laki yang sudah belasan kali menikah. Semua istriku pun adalah para wanita yang masih perawan. Tidak ada wanita yang aku nikahi dari mereka yang sudah pernah menikah. Mereka semua adalah kembang desa yang masih kuncup dan segar-segarnya. Dan siapa pula yang tidak kenal dengan Sudar. Dia adalah orang yang paling dekat dengan ku. Ghani si paling sering menikah. Sudar teman dekat Ghani. Begitu warga menjuluki diriku dan Sudar. Hanya saja Sudar tidak seperti diriku. Dia hanya memiliki satu isteri. Aku dan Sudar menikah bersamaan. Hanya berselang beberapa hari saja. Lebih dulu aku empat hari darinya. Tapi aku sudah pernah memiliki isteri tujuh belas sejauh ini. Sementara Sudar masih dengan Marwani, isteri pertamanya. Bahkan Sudar sudah memiliki satu anak. Maka wajah Sudar dan wajahku pun jauh berbeda. Sudar tampak lebih tua. Keriput dan uban putihnya menghiasi usianya yang sekarang. Sedang aku masih segar tak mengalahkan wajah para pemuda yang berusia delapan belas tahun.
            Riak air laut melantunkan kalam rahasianya. Perahu-perahu berjajar setertibnya. Tampak bergoyang-goyang dari kejauhan di usik ombak laut Bintaro. Seorang gadis dengan kulit menantang cuaca bersih pagi, berjalan di atas hamparan pasir putih bintaro. Kerbai kerudung merah jambunya seperti melambai memanggilku segera mendekat. Sekarang usiaku sudah empat puluh lima tahun. Dan dengan mantan isteri yang sudah sebanyak tujuh belas wanita perawan. Namun tidak juga membuat birahiku puas. Sepertinya wanita itu akan menjadi isteri yang kedelapan belas. Perasaan kembali menjalar menguasai mata dan merangsang urat syaraf. Hingga paling intimnya menasbihkan keinginan.
Ku perkirakan usia gadis yang melintas sepuluh meter di depanku berkisar lima belas tahun. Sungguh akal manusia yang bejat yang ingin menikahi gadis seusia dia. Suara bibir masyarakat pasti akan sedap hinggap di telinga bila demikian benar terjadi. Tapi aku sama sekali menganggap bukan hal yang baru. Demikian sudah menjadi hal biasa bagi ruang dengar ini.
            Langit perak keemasan memungkas waktu siang. Senja mengakhiri di ufuk cakrawala. Bulan sabit segera menggantung di langit. Merayap mengintai langit barat sampai selesai di ujung pagi yang tiba. Waktu sepagi ini, jam 01.30 dini hari, selesai sudah suasana senja dan malam yang tetap beradu. Seperti biasa aku terbangun. Dalam remang hayalan terlintas nama seorang gadis. Yani. Dialah gadis kampung yang masih perawan ting-ting. Dia masih siswa kelas akhir Madrasa Tsanawiyah. Bibir hitamku komat-kamit sembari mengelus-elus botol kecil yang aku genggang dengan jemari. Namanya terlintas pada kalimat sren-asren yang aku baca. Berharap minyak juhar manik malam ini kembali berpihak kepadaku. Dialah rahasia kenapa aku selalu laris untuk wanita perawan di kampung ini. Ketika aku colekkan minyak juhar manik pada sebagian kulit tubuhnya, pastilah si wanita akan kesengsem kepadaku. Malamnya akan terhantui oleh mimpi-mimpi bersamaku.
            Juhar manik dengan aroma khasnya yang hendak merobohkan tiang hidung itu mulai beraksi diantara jari manis tanganku. Sebelum aku bertemu dengan Yani. Ku oleskan juhar manik pada bagian alis mata yang kanan, melanjutkannya ke yang kiri, kemudian membentuk huruf alif menjulang di pertengahan kedua mata. Tepatnya lurus dengan arah hidung. Aku membacakan mantra ampuh. Mantra mahabbah yang diberikan oleh guru pagaran ku dulu. Guru Suto, yang juga sang penemu minyak juhar manik pertama kali. Juhar manik ditemukan ditengah laut oleh guru Suto. Entah bagaimana proses pengambilannya aku juga tidak cukup paham. Hanya yang jelas aku merasakan manfaat yang sungguh membuatku bahagia dengan memiliki juhar manik. Khususnya dalam meraup banyak wanita perawan ke pelukanku. Mereka yang menikah denganku, sebenarnya bukan kehendak nurani hatinya yang suci. Mereka hanya sekedar terbius mantra ampuh yang dimiliki minyak juhar manik.
            Juhar manik tidak hanya dapat digunakan kepada perempuan saja. Ia juga dapat meluluh lantahkan kemarahan orang yang memiliki niat jahat kepada sang pemilik. Sudah tiga puluh tahun lebih aku menyembah, meyakini juhar manik. Karena sepanjang itu aku merasa tidak dikecewakan oleh nya. Pernah suatu ketika. Pada saat aku mencalonkan jadi kepala desa di Desa Tamidung. Saat aku terpilih, banyak orang yang memburuku. Para blater yang kebal tubuhnya, tak jarang mengintai leher untuk dipenggal. Berkat juhar manik. Ketika bertemu dengan musuh-musuh politikku, mereka jadi luluh dan memanuti apa yang aku ucapkan.
***
            Derrik jangkrik dan hewan kecil lainnya menjadi orkestra peralaman desa. Seperti piano yang dipetik dengan nada lembut sayapnya. Gerak getar kecepatannya menghasilkan nada yang indah, terkombinasi dengan beberapa pemain musik alam lainnya. Suasana pedesaan yang terpencil menjadikan banyak keunikan dibanding wilayah non desa di sana, yang sudah makmur dan maju. Saat pernikahan pertamaku dengan Sahrati ada nuansa sejarah yang terkait lekat sebagai bayang-bayang kehidupan.
            Usia pada saat itu masih lima belas tahun, aku resmi menjadi suami Sahrati. Aneh. Memang aneh bagi mereka yang tidak menjamah kondisi sosial di tempatku. Aku yang hanya menelan pil pendidikan sampai bangku SD. Selepasnya aku menjadi kuli cangkul di tegalan. Berperang keras dengan tanah Madura yang kerontang. Kulit mengkilap legam terbakar matahari. Selama itu aku mencari makna hidup. Hingga pada akhirnya bertemu dengan sosok sakti bernama Suto. Dialah guru pagaran ku. Berbagai ilmu aku petik darinya. Kekebalan, ilmu hitam, pencak silat, dan berbagai macamnya. Selama kurang lebih lima tahun aku berguru pada Guru Suto. Orang sakti mandraguna di desa sebelah.
            Tak jarang setelah selesai ritual penyerapan ilmu, aku berbincang hangat dengan Guru Suto. Kopi hitam dan rokok lintingan menjadi sahabat akrab kami selama itu. Jatuh suatu ketika aku mencurhatkan sebuah keinginan untuk menikah. Aku kesengsem pada Sahrati. Kembang desa, banyak orang berkicau. Tapi adalah ketidak mungkinan jika aku mampu merenda hidup dengan gadis seperti Sahrati. Seorang kuli cangkul dengan otot kekar, terus menggenggam kayu yang sehari-hari dihantamkan kuat pada tanah kerontang semusim kemarau. Namun hal demikian tidaklah sesulit yang terbayang. Guru Suto memberi sebuah pintu. Pintu yang akan membawa aku menjadi siapa saja. Menjadi apa saja. Menjadi bagaimana yang aku inginkan. Sebelum aku merajuk kembali ke gubuk reot. Tangannya meraup tanganku. Mencegat aku yang segera kembali untuk pulang.
            “Ada yang ingin aku berikan.” Ucapnya lirih dan takdzim. Aku terhenyak sesaat. Membaca lamat-lamat tentang artikulasi kalimat wajah sang Guru.
            “Iya Guru.” Tak banyak kalimat yang mengutara dari diriku. Cukup sederhana sebagaimana aku menjaga kesopanan kepada orang yang banyak menyublim diriku tentang makna menghargai keterbatasan. Keterbatasan dalam berfikir.
            Guru Suto kemudian memerintah diriku untuk membuka baju. Tepatnya hanya tersisa kain sarung kusut yang sudah bertahun-tahun usianya tidak aku ganti. Didudukkanlah aku di atas kursi bambu. Di sampingku terletak gentong yang berisi air yang dicampur bunga tujuh rupa. “Kau akan ku sah-kan malam ini Ghani.”
            Ku lirik bibir Guru Suto yang bergerak-gerak beraturan. Gerakannya sama saja, bibir atas ke bawah, bibir bawahnya ke atas, hingga bertemu sesekali di tengah lubang mulut rentanya. Aku tak paham apa yang guru baca. Kalimatnya terlalu cepat melesat antara getar bibirnya. Tanpa menyahut sekata saja, aku diam menuruti apa yang guru suruhkan. Saat mata hendak terpejam. Aku merasa jasat tertukar. Aku melihat tubuh disayat-sayat dengan celurit oleh sang guru. Tapi tidak ada darah bersimbah pada kejadian itu. Aku hanya terperangah di atas awang-awang. Terakhir aku lihat tubuhku disiram dengan air gentong yang bercampur dengan bunga tujuh rupa. Kemudian aku hilang entah ke mana. Seketika mata terbelalak aku telah menjadi diri sendiri. Tapi aku tidak menemukan guru Suto di sampingku. Kemana dia. Aku tidak tahu. Sesekali aku mencarinya. Memanggilnya. Tapi tidak ada yang aku hasilkan dari segala usaha. Sia-sia. Guru  tetap tidak ada.
            Langit masih dengan warna gelapnya. Purnama yang merayap sudah sedikit menjauh ke barat dari arah pandang. Bintang-gemintang masih utuh bertaburan di langit. Kokok ayam mulai bersahutan di penjuru kampung. Aku pulang menelusuri semak belukar rerimbun hutan. Karena berjam-jam mencari guru Suto yang hilang, lalu aku memutuskan untuk pulang saja. Remang pagi mulai terasa. Pancaran garis fajar pada kaki langit timur segera menjelma terang dari butanya disepagi ini. Ada yang menggelintur di dadaku. Aku sedikit terusik dengan sesuatu yang sepertinya terikat lekat di leher. Kalung. Juhar manik menggantung sebagai kalungku. Fikiran sedikit menerjang ke arah jauh. Menerka-menerka semampu ingatan. Mencoba memecah beraikan soal benda yang terikat di leher. Ya, ternyata ini kalung minyak juhar manik yang dipakai oleh guru Suto. Dan pada saat itu aku paham kalau kalung minyak juhar manik sah diwariskan kepadaku, sebagai muridnya. Soal penggunaan dan cara memberinya makan aku sudah cukup paham. Semua itu karena guru pernah menjelaskan padaku.
            Minyak sakti itu bukan sekedar benda biasa. Ia adalah jelmaan makhluk halus. Maka perlu ia diberi makan. Dan jangan sampai digunakan pada sesuatu yang kurang berguna. Karena bisa saja dia akan membawa pemiliknya kepada hal-hal yang tidak baik. Jangan sampai kelaparan.
            Juhar manik memang bukan sekedar minyak atau benda. Setiap malam Jum’at legi pada kalender jawa, pemilik wajib membaca sholawat sebanyak minimal seribu kali. Dan jika ada emas, juhar manik juga bisa memakan emas. Makanan juhar manik hanya setiap malam Jum’at legi. Diantara makanannya yang paling gampang adalah dengan membacakan sholawat. Jika selama dua kali pada waktu makannya  tidak diberi makanan, maka juhar manik akan mati. Kematian juhar manik akan lebih bau dari bangkai binatang yang paling bau.
            Awal aku memanfaatkan minyak sakti itu, adalah pada saat ingin memikat hati Sahrati. Seorang gadis perawan, kembang desa, darah biru, bisa-bisanya tergila-gila dengan laki-laki yang jauh dari sempurna sepertiku. Aku menikahi Sahrati dengan menggunakan minyak juhar manik yang aku sentuhkan saat bersalaman dengannya pada saat acara pertunjukan ketoprak topeng di desa sebelah. Kemudian aku melanjutkan dengan mencolekkannya kepada kedua orang tua Sahrati. Sehingga tidak terpungkiri semua anggota keluarganya terpikat hatinya untuk menyegera menikahkan aku.
            Sejak pernikahanku dengan Sahrati, aku seperti menjelma menjadi sosok lelaki yang jauh lebih bermakna di mata warga. Keberhasilanku mengganti kerjaan bapak mertua menghasilkan sebuah rumah yang cukup megah. Ada dua rumah yang terbangun gagah di atas hamparan gersang bumi desa. Ukuran yang megah daripada rumah-rumah warga yang lain. Banyak uang yang mengalir tuntas ke kantongku. Hingga tidak jarang miliaran sanjungan dari masyarakat lain mengibasi sosok diriku. Usia pernikahan yang baru berumur tiga tahun dengan isteri pertamaku, aku mulai merasa tidak nyaman dengan kebersamaan yang terbangun dengan Sahrati. Ketulusan yang pernah tertata rapi dalam hati. Kini menjadi sajian keasinan. Hingga semua yang tersaji oleh isteriku tak cocok bagiku. Pada saat itu, aku memutuskan untuk talak tiga. Harta gonogini tersibak adil. Berantakan.
            Dari kejadian itu aku terbius bahkan teracuni hasrat bejat. Aku menikah berkali-kali. Dan yang demikian tidak terlepas dari keberadaan juhar manik di tanganku. Dunia gelap tanpa pintu, aku terjebak di dalamnya. Persoalan nafsu kepuasan merajai jiwa. Aku tidak paham dan tidak menghiraukan yang sudah resmi menjadi kesenangan tersendiri bagiku. Dan Sudar, termasuk orang yang selalu ada buat aku. Sahabat sejak kecil yang tidak pernah ada gurat lelah untuk menjadi penyedap rasa hambar kehidupan. Wajahnya selalu sumringah, walau sering aku mengabai terhadap apa yang ia sarankan kepada diriku. Tentang kebaikan.
***
            Ilalang menyibak purnama yang sempurna. Lancip tajam pucuknya merobek mesrah pagar ayu seorang wanita. Bahkan mawar, bunga tercantik yang berduri, luluh lantah. Kelopaknya berserakan antara ranjang dan bau kemenyan yang terbakar. Menyengat seluruh pengaruh jiwa. Tersanjung atas kembang-kembang imajinasi minyak sakti juhar manik. Gadis elok berparas muda. Berwajah ranum setengah matang. Si Yani, kini benar telah mendekap patuh dipelukan. Gadis yang aku kisahkan seketika terlibat pandang di hamparan pasir pantai. Dia telah resmi menjadi isteri ke delapan belas ku. Melayani seperti tanpa dosa. Desahan-desahan tidak aku hirau. Seperti hembusan udara yang belum aku syukuri sepanjang menetap hidup di bumi Tuhan ini.
            Jejal keramaian mulut kampung mulai ku dengar. Ramai berdesakan menyulitkan langkah nafas. Hal yang sudah biasa. Toh, mereka jika perlu pinjaman uang saat ditekan hutang dari para rentenir desa, memerlukan bantuan dari aku juga. Mereka kerap membicarakan tentang aku yang tidak menghargai status seorang wanita. Pergeseran zaman di modern ini rupanya mengancam keberadaanku. Para warga yang sudah sedikit cerdas. Terdoktrin oleh pengetahuan masa modern, dan terus mengucil memudarkan status diriku yang lalu mereka nilai sombong. Sungguh kategori yang menjengkelkan hati. Madura yang terkenal kuat menjaga perasaan terhadap seorang isteri atau wanita, rupanya tidak berlaku untukku. Para warga menggugatku untuk tidak memperlakukan wanita dengan keji. Menindas perasaannya.
            Memang siapa yang tidak tahu kalau Madura terkenal dengan tradisi carok. Sebuah penyelesaian masalah dengan menggunakan cara kekerasan. Karena menganggap dengan melakukan pembantaian masalah menjadi usai. Tuntas tak berbekas. Alasan dari para kaum blateran yang suka bercarok adalah jika isterinya diganggu. Tersinggung secara status sosial. Persoalan pamor kelaki-lakian menuntut ketat mereka untuk menjadi keras. Bahkan ketika persoalan isteri diganggu laki-laki lain, seluruh keluarga serentak mendukung untuk bercarok. Namun bukan tidak ada masyarakat Madura yang religius. Bahkan siapa tidak kenal dengan pulau yang tersandang sebagai daerah sentral kepondokpesantrenan itu.  
            Hati yang hangus karena kucilan para warga yang tidak bisa membuatku tenang sejenak. Selalu tegang dengan prinsip apapun. Aku hendak nekat untuk menjadikan mereka sebagai jalang. Dengan uang yang tidak berkurang. Dengan kemampuan ilmu hitam. Amalan-amalan islam yang kultural aku gunakan. Termasuk juhar manik yang terpaksa aku manfaatkan untuk hal-hal terbejat. Menikahi banyak wanita perawan sudah bejat. Tapi akan lebih bejat lagi jika mereka banyak yang terbunuh. Saling membunuh sesama warga. Minyak sakti milikku yang diwarisi guru Suto akan aku gunakan untuk membunuh warga. Sebagaimana multi fungsi minyak itu, dapat menjadi jahat jika yang menggunakannya orang yang jahat. Kandungan minyak juhar manik yang dapat diniatkan terhadap hal-hal buruk akan menjadi tujuan utama untuk menghancurkan kehidupan warga.
            Kemarau panjang melanda musim ini. Tanah-tanah sepanjang pesisir semakin kerontang. Buminya melonggar memanjang selebar telapak kaki, terjadi hampir seluruh tegalan pulau Madura. Kalau diperhatikan lebih lekat seperti baru saja terjadi gempa bumi. Saat seperti inilah masyarakat akan kebingungan mencari air minum. Sumur-sumur banyak yang mengering. Sungai-sungai terhenti mengalir. Sangat sulit sumber air yang bertahan pada situasi serunyam kemarau panjang. Dan kesusahan air itu akan sangat dirasa bagi mereka yang tidak memiliki pompa air sendiri. Mereka harus menimba, menguras tuntas keringat kuning. Hanya ada sumur yang belum sepenuhnya mengering. Adalah sumur manjalin yang  dekat dengan perkampungan tempatku tinggal. Para warga akan merapatkan barisan ke sumur manjalin untuk menimba air.
            Ritual malam mulai aku panjat. Menggelantung asa atas pohon siwalan. Pengharapan gelap, segelap malam ini. Purnama pas-lurus di bubungan rumah. Cahanya tidak membuat bayang-bayang. Ritual kegelapan aku mulai. Munajat kepada sang penguasa kejahatan bertumpah ruah dengan kalimat-kalimat hitam. Aku akan menyihir para warga menggunakan juhar manik. Ku elus lagi botol seksinya juhar manik. Menyeruak aroma harum yang meruntuhkan tiang hidung. Semoga berpihak lagi kepadaku segala keinginan. Selesai sudah penjelmaan siasat yang terselubung antara harum bau minyak juhar manik. Aku dekati Sumur manjalin. Tepat di pinggirnya aku menyatukan konsentrasi. Melihat segala penjuru. Memastikan tidak ada yang mengetahui apa yang akan aku lakukan. Air sumur manjalin sudah teracuni dengan tiga tetes minyak sakti.
            Sepulang dari sumur manjalin. Terseok-seok langkah menyegera sampai ke rumah. Berharap semua berhasil. Sisa malam sudah tuntas menjadi pagi muda. Aku mengatupkan kelopak mata. Secepat itu aku nyenyak. Hilang semua yang aku lihat serta apa yang aku lakukan. Sementara sosok sang guru kembali hadir. Ia menjelma mimpi, tapi kesungguhannya seperti di alam nyata. Girang perasaan karena selama itu aku tidak pernah berjumpa dengan guru. Dan sekarang ia datang. Ada yang aneh dari gurat wajahnya. Setelah ku hampiri lebih dekat, guru menjauh tidak mau menyambar tangan yang aku tawarkan untuk bersalaman.
***
            Semua warga banyak yang mati. Mereka seperti ikan pindang yang baru saja ditangkap oleh para nelayan. Bergelimpangan tidak menentu. Riuh tangis selesai menjadi pelengkap suasana duka. Dari sisa mereka yang belum mati aku coba mengobati. Aku berpura-pura baik hati kepada warga yang memelas meminta bantuanku. Karena memang hanya aku yang tahu penawar racun itu. Racun yang disebabkan minyak juhar manik. Banyak uang mereka yang berhasil aku raup. Bahkan redah pula kicau para warga yang sempat mengusik kehidupan. Tapi ada yang ganjil atas hati. Soal jelmaan sosok guru dalam mimpi yang mencipta gunda-gunda pertanyaan. Dan bahkan ketakutan menetas ribuan miliar, memenuhi jalan-jalan fikiran. Kali ini bahkan lebih membuat aku tersiksa daripada perkataan masyarakat kepada diriku.
            Juhar akan segera manik mati, karena kamu telah banyak menyalah gunakannya. Kau telah memanfaatkan terhadap hal-hal kerusakan. Kau tidak menghargai nyawaku. Aku memberikannya padamu, adalah nyawaku sendiri sebagai gantinya kepada penguasa laut. Dan asal kau ingat Ghani, setelah juhar manik tiada, kau pun akan menyusul. Nyawamu akan melayang. Maka jika kau ingin hidup, amalkan sholawat setiap waktu. Kamu harus melaksanakan lagi sembahyangmu yang lima waktu. Akui pula kesalahanmu kepada banyak warga, bahwa kau telah meracuni mereka. Tapi juhar manik, ia akan tetap mati. Pilihan hidup ada pada dirimu, kini aku sudah tiada. Aku kembalikan pada dirimu, demikian sekedar saran dariku.” Itulah perkataan guru Suto dalam mimpi, yang selalu terngiang sejauh ini.
            Uban sudah mulai tumbuh satu dua. Hendak menguasi rambut hitam di kepala. Aku yang dilema, terpaksa harus menceritakannya kepada Sudar. Aku akan menerima apapun saran dia. Aku mau mendengarkan perkataannya. Sejauh ini Sudar mulai renggang dengan diriku. Semenjak aku kesampingkan pendapatnya yang menyuruh aku berhenti, dan tidak menikahi Yani si gadis muda. Keras tanah akur menyatu dengan kaki yang kasar karena selalu beradu dengan suasana alam panas. Sekemarau ini memang masih terkutuk gersang. Hujan seperti enggan menyapa. Aku menantang keras bumi yang kering untuk menemui Sudar.
            “Aku tidak mau membantumu lagi Ghan. Mending aku ngurus bini dan anak-anakku saja.” Sakit batin ini. Mendengar kalimat yang terlalu asing keluar dari orang terbaik yang aku kenal selama ini. Terlontar pas seperti tombak yang menusuk ulu hati. Sudar mengusirku jauh-jauh. Ia tidak lagi mau bersahabat denganku. Demikian itu memang murni kesalahanku yang sudah menyepelekan penting keberadaannya di hidupku sedari dulu.
            Hari segera menuntaskan aktifitasnya sebagai pencerah pandang dengan senjanya yang kesekian. Kaki langit melukis berat duka yang terpikul. Sendu siul kutilang mencari dahan untuk melindungi tubuhnya dari gelap malam. Anak-anak kampung dengan kopyah nunnya berhamburan mendatangi langgar ngaji. Maghrib memanggil para dermawan tuhan untuk menengadah. Menunaikan ibadahnya, yang aku sudah lama melupakan. Genting rumah yang sendu ku tatap dari jauh. Neon-neon menyala tidak seputih biasanya. Warnanya keperak kuning-kuningan. Ada aroma yang menyegat hidung. Sebuah aroma bau bangkai binantang yang mati sudah beberapa hari. Aku tak paham mengenai apa yang terjadi di sana. Semakin ku mendekati rumah. Semakin kejam pula bau bangkai itu menerobos tidak sopan ke hidungku. Batuk-batuk. Ku lekaskan langkah kaki. Menuju tanpa fikir ulang ke sebuah tempat di ruang rumah. Lemari yang berdiri kokoh setegaknya. Di situlah tempat juhar manik aku simpan. Setelah aku lihat juhar manik sudah tidak di tempatnya. Mata terbelalak selebar-lebarnya. Sementara lengan sibuk bergantian menutupi lubang hidung yang terbelenggu aroma bau bangkai. Juhar manik telah mati. Kematiannya lebih bau dari bangkai binatang.
            Persoalan kematian juharmanik, semakin tak tertanggulangi bendungan keringatku yang resah. Tiada henti se-isya’ ini tubuh yang terus terguyur kecemasan-kecemasan seperti beling-beling runcing yang berarak menusukku. Dan penyesalan melaju tak menghirau besar dosa yang ingin aku sesali. Lengkap sudah ending jalan hidupku. Betapa kini ingin tetirah. Mencari muara keselamatan jiwa yang dipenuhi rerimbun ketakutan berbaur kesenduan. Setelah tubuh merebah pada ranjang yang lengang terbingkai kesedihan mendalam. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an samar-samar ku tangkap. Itu Surah Yasin. Aku ingat dulu saat guru ngaji di langgar kerap membacakan surah itu. Kemudian aku tersadar, bahwa aku sudah tidak di sana. Dan sosok laki-laki tampan berwajah cerah seperti matahari. Matanya bercahaya bulan. Aku menatap takjub. Ia mengajakku berkenalan dan mengatkan kalau namanya adalah Yusuf. Aku tidak mengerti kenapa laki-laki itu menemuiku. Setelah menjelaskan sepanjang-panjangnya, aku baru paham maksud kejadian ini. Aku telah mati. Dan laki-aki yang menemuiku adalah juhar manik yang pernah menjadikanku tampak setampan laki-laki bernama Yusuf. Sekian..

CATATAN:
            Cerpen ini dikutip dari sebuah keberadaan masyarakat Madura yang stereotip kultural. Kentalnya kepercayaan masyarakat desa terhadap hal-hal yang berbau mistis dan kereligiusan menjadi sebuah komponen tak tercerai beraikan, namun tetap akur berupa kesatuan yang harmonis.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.