Oleh: Wardi
Dapur
yang lengang, hanya dengan suara kressak daun siwalan yang biasa Ayah anyam
menjadi tikar. Elas dan janget terlihat menutup lelah gurat di wajahnya. Ayah
sudah dari dulu aku kenal sebagai penganyam tikar daun siwalan. Sebagai seorang
yang ulet menekuni profesinya sebagai penganyam tikar, ia tetap komitmen.
Sedang Ibu, aku kenal ia sebagai seorang yang cukup sayang terhadap ternak sapinya.
Keduanya memang cukup membuat aku merasa terdidik selama berada bersamanya, di
dunia ini. Entah kenapa, sebagai anak seorang penganyam tikar, dan peternak
sapi, aku tidak begitu cakap menekuni profesi kedua orang tua. Aku lebih senang
menulis. Menulis apa saja yang menurut keinginan perlu ditulis.
Pernah
pada suatu malam, di mana rembulan takjub menatap dari atas langit. Terhampar
miliaran bintang. Aku duduk bertiga di lincak bangko. Ayah sedang istirahat,
jemarinya menghimpit rokok lintingan yang dibungkus dari kulit jagung yang
sudah dikeringkan. Sementara Ibu, duduk dengan memutar-mutar tasbih yang
dibawanya dari langgar usai sholat isya’.
Kami
bertiga sibuk dengan fikiran masing-masing. Mungkin Ayah memikirkan bagaimana
membuat tikar yang bagus sehingga bisa dibeli dengan harga mahal. Sedangkan
Ibu, mungkin dia sedang memikirkan keselamatan sapinya yang sedang hamil bulan
tua, yang sebentar lagi akan melahirkan. Walau kadang-kadang mereka terlibat
dalam pemikiran yang sama, yaitu tentang aku. Aku yang seharusnya dan semoga tidak
sama menyandang nasib, sebagaimana nasib mereka.
Aku
tidak pernah mengganggu pembicaraan orang tua, apa lagi melibatkan diriku.
Menyimaknya dengan baik-baik, adalah cara sempurna menurutku. Kadang hati
merasa iba, karena sejauh ini, seorang Liela belum juga bisa memberi sumbangsi
materi kepada orang tua. Aku hanya bermodal tulisan yang bisa dimuat oleh media
cetak. Jika kebetulan tidak dimuat, aku akan menjadi terlantar dan merengek
lagi meminta uang.
Usaha
Ayah dan Ibu untuk penghidupanku sejauh ini memang tidak akan terbalas hanya
dengan aku mencuilkan separuh uang yang aku ambil dari setiap cerpen yang
termuat di media. Akan tetapi, ada yang lebih berharga dari pada membalas.
Senyum dari Ayah dan Ibu-lah ketika mendengar tulisanku dimuat. Senyum itu
bahkan bukan senyum biasa. Ibu dengan wajah tuanya, hilang seketika senyum
merekah bagai bunga mawar yang cukup ranum.
Juga
dengan Ayah, ketika dia mendengar bahwa tulisanku termuat di media cetak, ikutlah
ia tersenyum. Senyum Ayah, bagiku adalah senyum yang termahal di dunia. Aku
tidak bisa membelinya dengan usaha canda dan tawa. Ayah tidak pernah suka
anaknya berlawak di depan orang tuanya. Ia akan di cap tidak sopan. Perilaku
seorang anak harus selalu sopan, ungkap Ayah. Maka demikian dapat aku lihat
dari kedua bibir hitamnya yang sangat susah tersungging senyum. Mahal sekali.
Akan
tetapi, semahal apapun itu senyum Ayah, saat ini aku telah bisa membelinya.
Setelah dari dulu aku berusaha membuat Ayah tersenyum dengan mendapat peringkat
satu di kelas, membelikan Ayah rokok Gudang Garam Surya, membantu Ayah
mengambil daun siwalan, tidak juga membuatnya tersenyum. Duh, mahalnya senyum
itu. Akan tetapi, dengan tulisan aku bisa membuat Ayah tersenyum. Entah apa
maksud Ayah?.
***
Pernah
pada suatu malam. Saat aktivitas manusia di samping rumah sudah sungguh-sungguh
diam. Dan bahkan Ibu saja, sudah satu jam yang lalu terlelap. Malam itu seperti
hanya aku dan Ayah yang mengisi malam. Aku dengan hamparan lelembaran buku
tulis di atas meja. Ayah dengan tangannya yang sibuk merakit tikar dengan
helaian daun siwalan. Tiba-tiba Ayah menghampiriku, hingga membuatku kaget
seketika.
“Lie,
karena iqro’ bacalah, maka kau, menulislah. Ayah akan senang melihatmu
menulis.” Kalimat Ayah dengan memakai wajah yang masih sama seperti sedia-kala.
Aku belum cukup paham kalimat demikian. Hanya saja aku memaknai kalau Ayah
senang melihatku belajar malam itu.
Sejak
kejadian itu. Saat pertama Ayah menemuiku menulis cerita. Dan kalimat Ayah yang
berakhir dicerna, sebagai tombak cita-cita sejak saat itu juga. Aku mulai
menulis. Entah bagaima, sejak saat itu aku sudah merasa cinta kepada tulisan.
Ratusan kali aku mencari teman untuk menyokong semangatku dalam menulis. Ku
mintai mereka pendapat tentang menulis. Di antara mereka, bahkan sangat bervariasi
dalam memotivasi diriku.
“Kalau
kamu mau jadi penulis, kamu harus kirim ke media cetak, seperti koran, biar
kamu cepat terkenal Lie.” Ucap Junaidi salah satu temanku.
“Kalau
kamu mau jadi penulis Lie, kamu seharusnya juga perlu mendapatkan uang, buatlah
tulisanmu menjadi uang, dengan cara menjualnya ke media cetak.” Ucap Ridwan
tetanggaku.
Aku
semakin tidak mengerti bagaimana maksud kalimat teman-teman. Aku tidak mengerti
karena semua yang mereka katakan tidak sama seperti keinginan dasarku menulis.
Sebagaimana aku yang suka membaca. Aku membaca hanya karena aku ingin tahu, apa
itu membaca. Dan menulis, apa yang terjadi pada mereka ketika membaca
tulisanku?
Sungguh,
bagiku menulis adalah membuat dunia orang yang membacanya, orang yang
merasakannya, dan bahkan yang mendengarkannya. Mereka yang membaca setiap
tulisanku, mereka akan melebur, akan masuk ke dalam dunia yang aku bangun
dengan kata-kata. Juga seperti aku yang menemukan dunia baru. Yaitu, senyum
seorang Ayah yang sangat sulit aku temui dalam dunia yang sudah jauh aku lalui.
***
Matahari
menembus tirai pagi. Embun tanpa poles, bening, menawan takzim di pepucuk
rumput sawah. Kicau kutilang mengiring desau angin di antara dahan-dahan.
Itulah pagi yang sangat bersejarah. Sejarah di mana aku menemukan senyum Ayah
pertama kali. Cangkir kopi dan rokok lintingan yang dijepit jemarinya,
mengepulkan asap yang cukup beraroma. Suasana pagi yang takjup mengiringi
senyumnyaa yang sungguh mahal itu.
“Ayah
bangga sama kamu Lie. Aku terharu membaca cerita dalam tulisanmu ini.” Ayah
tersenyum sambil menjulurkan selembar
koran. Tulisan? Aku bertanya sendiri. Tulisan yang mana, aku fikir. Seingatku,
sudah beratus-ratus tulisan yang aku kirim pada media cetak koran, yang dibaca
oleh Ayah itu. Dan sebanyak pengiriman naskah itu pula aku belum pernah melihat
tulisanku dimuat. Aduh, apa lagi senyum Ayah itu.
Entah
kesambet di mana redaksi dan editor media sehingga akhirnya memuat tulisanku.
Sehingga Ayahku bisa tersenyum karenanya. Ayah tersenyum bukan soal nominal yang
tiba di tanganku. Bahakan pada saat itu memang tidak ada nominal yang aku
dapat.
Cericit
burung pipit yang menyenandung di atas ranting kering yang jatuhnya hanya
menunggu angin. Padi menguning kemudian menunduk. Persawahan dihias dengan
panorama alamiah. Aku tidak tahu dari mana semua harus ku maafkan. Sedang
keindahan yang sebenarnya, dan benar-benar aku damba sedari dahulu baru ku
kecap sekarang ini. Saat di mana senyum Ayah benar-benar tersungging indah.
Kenapa tidak dari dulu aku belajar menulis. Kenapa aku terlambat menulis. Hanya
lima bulan aku mendapatkan senyum Ayah. Kini ia telah tiada lagi di sisiku.
Perpisahan ini yang tidak membuatku senang.
Mata
meledak mencairkan air mata. Rindu mulai merekah dari lokan-lokan pulau yang
terbentang. Semutiara itu doa mengalir untuk senyum kedua orang tua. Aku
terlambat menulis. Jujur andaikan sejak pertama masuk SMA aku menulis, mungkin
akan lebih banyak waktu yang terluang bersama senyum Ayah yang mahal itu. Kini
aku yang menempuh kuliah di luar kota. Jogja. Telah tersudut seluruh kemampuan ini,
kemampuanku menulis kalah dengan karya mereka yang sudah lama dikenal oleh
media. Mungkinkah Ayah masih tersenyum di sana? Ataukah ia kembali meredupkan
senyumnya, karena sejauh ini tulisanku tidak dimuat-muat oleh media cetak di
kota ini.
“Ayah
doakan aku agar bisa mengejar keterlambatan ini. Aku sudah berusaha menulis di
sini, demi senyum Ayah. Ayah, kumohon jangan bersedih.” Lirihku dalam tarikan
doa sepanjang malam kepada Yang Maha Kuasa.
Jogjakarta 2015
Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Pernah belajar di
MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, sekarang menjadi mahasiswa aktif Fakultas
Hukum UP 45 Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.