Selasa, 15 Desember 2015

AYAH, MAAF AKU TERLAMBAT MENULIS



Oleh: Wardi
            Dapur yang lengang, hanya dengan suara kressak daun siwalan yang biasa Ayah anyam menjadi tikar. Elas dan janget terlihat menutup lelah gurat di wajahnya. Ayah sudah dari dulu aku kenal sebagai penganyam tikar daun siwalan. Sebagai seorang yang ulet menekuni profesinya sebagai penganyam tikar, ia tetap komitmen. Sedang Ibu, aku kenal ia sebagai seorang yang cukup sayang terhadap ternak sapinya. Keduanya memang cukup membuat aku merasa terdidik selama berada bersamanya, di dunia ini. Entah kenapa, sebagai anak seorang penganyam tikar, dan peternak sapi, aku tidak begitu cakap menekuni profesi kedua orang tua. Aku lebih senang menulis. Menulis apa saja yang menurut keinginan perlu ditulis.
            Pernah pada suatu malam, di mana rembulan takjub menatap dari atas langit. Terhampar miliaran bintang. Aku duduk bertiga di lincak bangko. Ayah sedang istirahat, jemarinya menghimpit rokok lintingan yang dibungkus dari kulit jagung yang sudah dikeringkan. Sementara Ibu, duduk dengan memutar-mutar tasbih yang dibawanya dari langgar usai sholat isya’.
            Kami bertiga sibuk dengan fikiran masing-masing. Mungkin Ayah memikirkan bagaimana membuat tikar yang bagus sehingga bisa dibeli dengan harga mahal. Sedangkan Ibu, mungkin dia sedang memikirkan keselamatan sapinya yang sedang hamil bulan tua, yang sebentar lagi akan melahirkan. Walau kadang-kadang mereka terlibat dalam pemikiran yang sama, yaitu tentang aku. Aku yang seharusnya dan semoga tidak sama menyandang nasib, sebagaimana nasib mereka.
            Aku tidak pernah mengganggu pembicaraan orang tua, apa lagi melibatkan diriku. Menyimaknya dengan baik-baik, adalah cara sempurna menurutku. Kadang hati merasa iba, karena sejauh ini, seorang Liela belum juga bisa memberi sumbangsi materi kepada orang tua. Aku hanya bermodal tulisan yang bisa dimuat oleh media cetak. Jika kebetulan tidak dimuat, aku akan menjadi terlantar dan merengek lagi meminta uang.
            Usaha Ayah dan Ibu untuk penghidupanku sejauh ini memang tidak akan terbalas hanya dengan aku mencuilkan separuh uang yang aku ambil dari setiap cerpen yang termuat di media. Akan tetapi, ada yang lebih berharga dari pada membalas. Senyum dari Ayah dan Ibu-lah ketika mendengar tulisanku dimuat. Senyum itu bahkan bukan senyum biasa. Ibu dengan wajah tuanya, hilang seketika senyum merekah bagai bunga mawar yang cukup ranum.
            Juga dengan Ayah, ketika dia mendengar bahwa tulisanku termuat di media cetak, ikutlah ia tersenyum. Senyum Ayah, bagiku adalah senyum yang termahal di dunia. Aku tidak bisa membelinya dengan usaha canda dan tawa. Ayah tidak pernah suka anaknya berlawak di depan orang tuanya. Ia akan di cap tidak sopan. Perilaku seorang anak harus selalu sopan, ungkap Ayah. Maka demikian dapat aku lihat dari kedua bibir hitamnya yang sangat susah tersungging senyum. Mahal sekali.
            Akan tetapi, semahal apapun itu senyum Ayah, saat ini aku telah bisa membelinya. Setelah dari dulu aku berusaha membuat Ayah tersenyum dengan mendapat peringkat satu di kelas, membelikan Ayah rokok Gudang Garam Surya, membantu Ayah mengambil daun siwalan, tidak juga membuatnya tersenyum. Duh, mahalnya senyum itu. Akan tetapi, dengan tulisan aku bisa membuat Ayah tersenyum. Entah apa maksud Ayah?.
***
            Pernah pada suatu malam. Saat aktivitas manusia di samping rumah sudah sungguh-sungguh diam. Dan bahkan Ibu saja, sudah satu jam yang lalu terlelap. Malam itu seperti hanya aku dan Ayah yang mengisi malam. Aku dengan hamparan lelembaran buku tulis di atas meja. Ayah dengan tangannya yang sibuk merakit tikar dengan helaian daun siwalan. Tiba-tiba Ayah menghampiriku, hingga membuatku kaget seketika.
            “Lie, karena iqro’ bacalah, maka kau, menulislah. Ayah akan senang melihatmu menulis.” Kalimat Ayah dengan memakai wajah yang masih sama seperti sedia-kala. Aku belum cukup paham kalimat demikian. Hanya saja aku memaknai kalau Ayah senang melihatku belajar malam itu.
            Sejak kejadian itu. Saat pertama Ayah menemuiku menulis cerita. Dan kalimat Ayah yang berakhir dicerna, sebagai tombak cita-cita sejak saat itu juga. Aku mulai menulis. Entah bagaima, sejak saat itu aku sudah merasa cinta kepada tulisan. Ratusan kali aku mencari teman untuk menyokong semangatku dalam menulis. Ku mintai mereka pendapat tentang menulis. Di antara mereka, bahkan sangat bervariasi dalam memotivasi diriku.
            “Kalau kamu mau jadi penulis, kamu harus kirim ke media cetak, seperti koran, biar kamu cepat terkenal Lie.” Ucap Junaidi salah satu temanku.
            “Kalau kamu mau jadi penulis Lie, kamu seharusnya juga perlu mendapatkan uang, buatlah tulisanmu menjadi uang, dengan cara menjualnya ke media cetak.” Ucap Ridwan tetanggaku.
            Aku semakin tidak mengerti bagaimana maksud kalimat teman-teman. Aku tidak mengerti karena semua yang mereka katakan tidak sama seperti keinginan dasarku menulis. Sebagaimana aku yang suka membaca. Aku membaca hanya karena aku ingin tahu, apa itu membaca. Dan menulis, apa yang terjadi pada mereka ketika membaca tulisanku?
            Sungguh, bagiku menulis adalah membuat dunia orang yang membacanya, orang yang merasakannya, dan bahkan yang mendengarkannya. Mereka yang membaca setiap tulisanku, mereka akan melebur, akan masuk ke dalam dunia yang aku bangun dengan kata-kata. Juga seperti aku yang menemukan dunia baru. Yaitu, senyum seorang Ayah yang sangat sulit aku temui dalam dunia yang sudah jauh aku lalui.
***
            Matahari menembus tirai pagi. Embun tanpa poles, bening, menawan takzim di pepucuk rumput sawah. Kicau kutilang mengiring desau angin di antara dahan-dahan. Itulah pagi yang sangat bersejarah. Sejarah di mana aku menemukan senyum Ayah pertama kali. Cangkir kopi dan rokok lintingan yang dijepit jemarinya, mengepulkan asap yang cukup beraroma. Suasana pagi yang takjup mengiringi senyumnyaa yang sungguh mahal itu.
            “Ayah bangga sama kamu Lie. Aku terharu membaca cerita dalam tulisanmu ini.” Ayah tersenyum  sambil menjulurkan selembar koran. Tulisan? Aku bertanya sendiri. Tulisan yang mana, aku fikir. Seingatku, sudah beratus-ratus tulisan yang aku kirim pada media cetak koran, yang dibaca oleh Ayah itu. Dan sebanyak pengiriman naskah itu pula aku belum pernah melihat tulisanku dimuat. Aduh, apa lagi senyum Ayah itu.
            Entah kesambet di mana redaksi dan editor media sehingga akhirnya memuat tulisanku. Sehingga Ayahku bisa tersenyum karenanya. Ayah tersenyum bukan soal nominal yang tiba di tanganku. Bahakan pada saat itu memang tidak ada nominal yang aku dapat.
            Cericit burung pipit yang menyenandung di atas ranting kering yang jatuhnya hanya menunggu angin. Padi menguning kemudian menunduk. Persawahan dihias dengan panorama alamiah. Aku tidak tahu dari mana semua harus ku maafkan. Sedang keindahan yang sebenarnya, dan benar-benar aku damba sedari dahulu baru ku kecap sekarang ini. Saat di mana senyum Ayah benar-benar tersungging indah. Kenapa tidak dari dulu aku belajar menulis. Kenapa aku terlambat menulis. Hanya lima bulan aku mendapatkan senyum Ayah. Kini ia telah tiada lagi di sisiku. Perpisahan ini yang tidak membuatku senang.
            Mata meledak mencairkan air mata. Rindu mulai merekah dari lokan-lokan pulau yang terbentang. Semutiara itu doa mengalir untuk senyum kedua orang tua. Aku terlambat menulis. Jujur andaikan sejak pertama masuk SMA aku menulis, mungkin akan lebih banyak waktu yang terluang bersama senyum Ayah yang mahal itu. Kini aku yang menempuh kuliah di luar kota. Jogja. Telah tersudut seluruh kemampuan ini, kemampuanku menulis kalah dengan karya mereka yang sudah lama dikenal oleh media. Mungkinkah Ayah masih tersenyum di sana? Ataukah ia kembali meredupkan senyumnya, karena sejauh ini tulisanku tidak dimuat-muat oleh media cetak di kota ini.
            “Ayah doakan aku agar bisa mengejar keterlambatan ini. Aku sudah berusaha menulis di sini, demi senyum Ayah. Ayah, kumohon jangan bersedih.” Lirihku dalam tarikan doa sepanjang malam kepada Yang Maha Kuasa.

Jogjakarta 2015

Wardi, lahir di Batang-batang Sumenep 1996. Pernah belajar di MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, sekarang menjadi mahasiswa aktif Fakultas Hukum UP 45 Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.