LUKA LAUT
Laut masih biru di mataku
wajah dermaga dan bibir pantai yang sepi
kubaca dengan nada buih
Hatimu dipecah karang
saat bunga-bunga laut hening oleh ombak
kusemai dalam dada
menyerupai cemburu para nelayan
kepada ikan yang menjauhi sauh
Tamidung, 2016
MENANAM BATU
Sore tadi aku menanam batu di bahu ibu
Mencermati peristiwa sehari-hari
Berdialog dengan segala perwujudan dunia
Yang dimengerti burung dan sapi-sapi
Tanah tempat menyimpan kepergian
Juga menghidangkan rumah keabadian
Ketika tak menyangka, yang tumbuh sebagai nasib
Berupa tengkorak yang jelma dari sebuah bukit
Yang mencari jalan sama nuju lipatan gelap
Duh, berlarian burung-burung musim
Meneruskan waktu sebenarnya
Aku, hanya menanam batu
Di antara sungai-sungai matamu
Senyum dan tangis berkelok akal manusia
Kehabisan sawah
Pelebaran jalan raya
Kutanggung sebagai kutukan
Di sebuah rumah di mana aku pernah lahir
Untuk kisah-kisah padi serta kembang jagung
Yang sempat mekar
Tamidung, 2016
BERMAIN HUJAN
Kemarin, hujan memuntahkan tubuhmu
Air mata sejenis gerimis
Gigil di pinggir pantai dan sungai-sungai
Gelombang angin membawa asap bau kemenyan
Aku ziarahi tubuhmu per inci
Hingga kauberlumur bedak lumpur
Bertelanjang dada dengan kutang pita merah
; Cinta berjatuhan di gelembung sampo
Seperti lintah, aku terus menghabisimu
Mendaki ke dua gunung itu
Ah, engkau mengulur bulan di tengah hujan
Tubuh kita berdekatan
Lalu saling jalar seperti akar membuat saluran
Hujan telah reda
Kita bermain lagi di kamar mandi
Membuat risalah
Menyusuri lubang yang sedang engkau diamkan
Dan kutanam manusia di tembok
Di kasur, di pintu-pintu
Sebelum memar lehermu kembali mengering
Bersama lotion paling licin
Aku berhasil mengeruk tanah dengan bayang perempuan
Jepang,
Kota yang gelap kusangka
Wanitanya memataiku di sudut lampu
Sebagai lelaki sakau
Tamidung, 2016
WAJAH YANG MEMBUNGKUK MENUJU MATAMU
Ini tentang percintaan kita di pelupuk mata senja
Juga luka-luka penggantiku yang lebih setia
Jika memang doa yang berulang kita eja
Akulah lelaki yang disiksa
Dipukuli tangan-tangan sepi
Terkelupas kulitku menahan fitnah
Jujur saja ini bukan mengenai kepulangan
Ketika tangan-tangan saling urai
Menenteramkan hati
Tubuhku menghemat detak
Melihatmu ke uatara bersama pria
Melalui pintu gerbang
Yang menyambut jalan dan kendaraan
Lalu lalang, berderu di dadaku
Dan wajahku yang membungkuk menuju matamu
Telah mencium nyinyir getir penantiannya
Pamekasan, 2016
ANASIR RUMAH-RUMAH PASIR
Kepada Ema'-Eppa'
di sebuah malam yang pualam
kita bercerita perihal kematian
taman-taman kehilangan tempat bermain
hilang bunga yang menguntum
aku tak tahu bagaimana cara berguna
membacakan sekian misal yang sempal
sebagai penunggu yang rindu
dan kepergian segera berkuasa
atas kepala-kepala lelaki tua
; tanpa nyawa dan kata-kata
lalu aku berlalu, memahat seikat tatap
menetap dari matamu dari biru pun syahdu
selaksa bunga-bunga surga
yang sempat tumbuh di dadaku
adalah anasir rumah-rumah pasir
Tamidung, 2016
SEBUAH SORE DI PAMEKASAN
Jalanan kembali mengering di mataku
Sedang berkarat termakan rayap
Ritual bus-bus yang bersila di atas patahan rasa
"Sayang, lazuardi melingkar sampai hujan kutemukan begitu asin bergaram."
Sore itu tiba di Pamekasan
Aku mencakar punggung trotoar dekat terminal
Memeluk punggung jalan, menanam seribu alamat
Sampai celanaku basah dari gerimis hujan
Jarum jam di pagelangan membusuk di tulang rusuk
O, rindu biru!
Aku gelinjang ke matamu
Waktu-waktu jatuh dalam sekaleng susu
Aku melintas ke dadamu
Meremas malam dari belakang gedungmu
Dari tubuhku yang keluar melebihi pisau
Menjelajah kota tuhan tak bernama
Hanya sebuah wajah elastis
Dan raut agak meringis
Engkau pun habis aku lemas
Sebagai kelebat sajak penanam pisang
Bulan merah saga, dan jadah, tumbuh di perutmu
Aku, sebut kembali namamu
Menyerupai ibu, hujan di rumahku
Menghukumi sore di Pamekasan waktu itu
Tamidung, 2016
SEBUAH SORE DI PAMEKASAN
Jalanan kembali mengering di mataku
Sedang berkarat termakan rayap
Ritual bus-bus yang bersila di atas patahan rasa
"Sayang, lazuardi melingkar sampai hujan kutemukan begitu asin bergaram."
Sore itu tiba di Pamekasan
Aku mencakar punggung trotoar dekat terminal
Memeluk punggung jalan, menanam seribu alamat
Sampai celanaku basah dari gerimis hujan
Jarum jam di pagelangan membusuk di tulang rusuk
O, rindu biru!
Aku gelinjang ke matamu
Waktu-waktu jatuh dalam sekaleng susu
Aku melintas ke dadamu
Meremas malam dari belakang gedungmu
Dari tubuhku yang keluar melebihi pisau
Menjelajah kota tuhan tak bernama
Hanya sebuah wajah elastis
Dan raut agak meringis
Engkau pun habis aku lemas
Sebagai kelebat sajak penanam pisang
Bulan merah saga, dan jadah, tumbuh di perutmu
Aku, sebut kembali namamu
Menyerupai ibu, hujan di rumahku
Menghukumi sore di Pamekasan waktu itu
Tamidung, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.