Kamis, 08 September 2016

RAIB

di sini, di sejarah kematian. aku menghitung jarak. melempar hati ke tepian.

kupahami matamu. pada pucuk-pucuk luka menganga. rasa cinta di beranda rumah. merayu angin. supaya memecah kesepian.

di bagian sisi yang hidup. kutiup detak ombak. suara pasir. gemuruh yang tahu hari lahir. kemudian mengumpulkan sesal dari lajur air mata. segala pun mengalir dan terkembang bersama layar derita.

siapa tertikam jantung sendiri? selain aku. ada ujung gabah menusuk harga--mati. bibir pantai dan bintang terang-redup. menjadi saksi bagi sepasang mata raib. hingga aku terus merangkai waktu, mengisahkan sujud yusuf betapa sunyi.

Tamidung, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.