Sebaiknya aku wasiatkan bisik sunyi kepada kesepian. Biarkan ia mendua dalam bait puisi cinta yang terluka. Menghitami lara untuk sebidang jantung, yang nestapa mengeja air mata terbata-bata. Sekali engkau senyapkan saling sayang, selalu berharap ada penyair di antara kita. Dan membangun kamar di dadamu-dadaku. Bersama dipan yang berdiri atas luka pecemburu, koyak setelah permainan kuda lumping di atasnya--kita seabad lalu rancu merebut kata. Dan kepulangan, pada akhirnya kekasihku.
Perempuan, tentang cinta, akulah yang kautumbuhkan tunas hasrat, menyamakan percintaan dengan deras hujan. Karena kerontang, senantiasa henyak sekalipun mengerti mengenai musim buta. Karena doa-doa yang terjaga, senantiasa menjadi dosa kepada kita yang engkau dusta. Karena bibir, yang sempat engkau berikan di pojok taman, senantiasa terbaca sebagai sandiwara.
Duh, begitu mahir jemarimu memainkan kabut. Malam itu, lidahmu berputar di mulutku. Ia belajar membaca gelap dari kebiasaan yang terkadang lupa memejam mata. Sehingga siwalan yang berdiri di balik nadi, lancang menyentuh bibirmu. Hingga dingin yang jantungan, terlanjur menikmati beberapa tusuk puisi Tuhan.
Aku kembali menawarkan pagi. Merajut sarang laba-laba dari yang paling intim di tubuh wanita. Angin mulai menutupi kenyataannya dengan selimut penyesalan. Sebagaimana lelaki yang datang kepadamu, ia telah terasing dari ruang dada--tempatnya memeluk dua rahasia. Memasuki sepasang hening dosa, sebagai dukana yang menikmati kesakitan dengan dekapan serupa bulan.
Dan dari lidahku yang membiarkan prasangka, telah wangi menerima kesalahan, melumat tentang basah bibirmu sebagai rindu. Juga menimbang mimpi yang bersamamu.
Jogjakarta, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.