PAGI II
Aku rapal sisa doa semalam, bersama bercak merah ingatan dan memar namamu. Tembakau tak jadi dirajam musim, serupa kita yang berziarah ke dalam pencarian. Lalu, ada yang menemuiku semacam aroma dupa saat rindu menjadi kekasihmu.
Jemputlah, andai pagi terus melipat hujan dan perjumpaan tak kunjung reda di ujung asmara.
Aku bukan pemberani yang kerap memadi sawah-sawah dingin, melumpur tubuhku hingga buah siwalan berjatuhan. Sebab hanya engkau, Adinda, yang semalam padamkan pelita; Sepinya tak pergi pagi ini.
Tamidung, 2016
PESTA MIRAS
Engkau perempuan terakhir
Yang menenggak darahku
Mematikan amarah setiap kali detak
Mencari wajah lain
Selain denyut namamu di bunga dada
Mari tambah lagi, Vi
Seteko miras bau amis
Engkau akan merasakan dunia pesta
Lampu-lampu lamin yang pernak
Aku samarkan dengan gaun pengantin
Setiap kali angin mencurigai
Ismail yang gagal dipenggal
Hahaha
Semua akan mati mengikuti kita
Lebih dahulu sedikit dari aku yang kaugamit
Ke bawah matahari
Yang pohon terbunuh
Serupa terbunuhnya seekor domba
Maka jadikan aku tokoh dalam pewayangan ini
Yang menceritakan seorang nabi berkasih
Supaya aku dapat mencintaimu
Ketika aku tak dapat mencium aroma parfum
Yang perempuan pakai di kedai malam
Bersama semiras darah
Kita akan amis berpesta ria
Melalui desahmu yang pingsan
Cinta, aku coba abadikan
Tamidung, 2016
CAHAYA RENTA DARI SEBUAH PANTAI
di celah cadas waktu. mulutku berlumut. batubatu pantai menyusup tubuh yusuf. aku meniru mimpi di sana. duduk bersila meramal pantai; airnya 'kan berkilau-kilau. hingga yang tidak sebatas air itu menyiram ubunku. menodai cahaya berbaju sobek sebagian.
tibatiba kulihat juga anak cemara terinjak kaki kuda. dalam sebuah jeritan yang bermain di setiap lengking saronen. aku bersiutsiut. setelah malai bunga di keningmu jatuh. di atas pasir yang menganasir sebuah gerimis. kemudian miliar gemi mengurai tulangtulangnya kepada kita.
dan. setelah malam nyalang. pantai itu mengerami tubuhmu. tak ada yang tahu. bulan jatuh. cahaya renta. diasingkan tawa-gelak. tertimbun oleh rimbun cabangcabang cemara udang lombang. bulan. langit. malam itu kembali menemukan sebuah jurang mirip mulut.
Pantai Lombang Sumenep 2016
ANDAI AKU DAPAT MEMINTA
Vi, rupanya Tuhan bersama pohon tua
yang batangnya tertulis sepasang nama
sekaligus setulus doa
Dan aku dalam kamar gelap saat ini
dimana hanya ketukan pintu
dan detak jarum jam
yang menusuk dada
aku cari asal suaranya
kemudian kubuka, oh, jam telah tiada
Andai dapat aku meminta
di embun nan sahaja
pagi ini, namamu kuabadikan
tanganmu kuingat
bagaimana pernah dengan pukulan manja
Tapi, Vi, siapa aku siapa dirimu
Tuhan sembunyi di helai rambutmu
di helai rambut ini anai-anai menyanyi
berkidung elegi
mengawal langkahmu ke sebuah negeri
tempat cintaku dipenggal, di sini
Tamidung, 2016
KUPU-KUPU DI ATAS RUMPUT
:kepada Amir
Aku masih memeras embun di antara kening-kening dingin
Hingga pecahnya mengira sebuah siang lengang di sini
Lalu aku lari seperti anak ayam ditinggal induknya
Entah kepada siapa semalam aku menyapa?
Dalam barisan mimpi yang pagi ini berkecamba kata-kata
Adalah pencarianku yang menganak sungai tanpa muara
Sebelum rumput itu kering di sela baris mimpi yang menjadi batu
Sebuah bunga menjadi tempat kupu bertumpu
Lalu menyusu pada sisa asi yang kuperah dari seorang ibu
Tamidung 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.