Kamis, 08 September 2016

SI (04)

Laut bisa basah
Langit bisa basah
Saat kotaku gagal menyusun wajahmu
Bahkan kemaluan pun semakin memadamkan diri
Nyenyak dalam tidur malam
Yang bertubi-tubi mengirim dingin

Aku terus berangkat dari sini, Si
Di bawah remang lampu warna senja
Padahal setitik cahayanya memadamkan
Kita saat bermukim di gubuk abadi
Sembari membaca daun yang terjatuh ke bumi

Laut bisa basah
Saat kita tak tahu cara membendung air mata
Keinginan pontang-panting memburu doa
Tumbuh bergiliran
Aroma laun dalam ruangan

Tiba-tiba kita tak saling mengulur pulang, Si
Serupa bunga kenangan yang bergeliat beku
Ke dadaku
Ke dadamu
Yang tak sempat terkabul
Adalah huruf-huruf juga

Sungguh, langit bisa basah
Sebasah lorong samping rumahmu
Memalam aku menuju tujuan
Lalu sesekali terpejam
Ketika kita bertukar senyum yang menikam
Jantungku dalam tidur hening

Tak ada yang pualam, Si
Selain rasa ini
Sampai yang berpuing
Tuhan sungguh memaksum

Tamidung, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.