Laut bisa basah
Langit bisa basah
Saat kotaku gagal menyusun wajahmu
Bahkan kemaluan pun semakin memadamkan diri
Nyenyak dalam tidur malam
Yang bertubi-tubi mengirim dingin
Aku terus berangkat dari sini, Si
Di bawah remang lampu warna senja
Padahal setitik cahayanya memadamkan
Kita saat bermukim di gubuk abadi
Sembari membaca daun yang terjatuh ke bumi
Laut bisa basah
Saat kita tak tahu cara membendung air mata
Keinginan pontang-panting memburu doa
Tumbuh bergiliran
Aroma laun dalam ruangan
Tiba-tiba kita tak saling mengulur pulang, Si
Serupa bunga kenangan yang bergeliat beku
Ke dadaku
Ke dadamu
Yang tak sempat terkabul
Adalah huruf-huruf juga
Sungguh, langit bisa basah
Sebasah lorong samping rumahmu
Memalam aku menuju tujuan
Lalu sesekali terpejam
Ketika kita bertukar senyum yang menikam
Jantungku dalam tidur hening
Tak ada yang pualam, Si
Selain rasa ini
Sampai yang berpuing
Tuhan sungguh memaksum
Tamidung, 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berbagilah walau melalui kolom sederhana ini.